Anda di halaman 1dari 5

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Destilasi Azeotrop
Distilasi (penyulingan) adalah proses pemisahan komponen dari suatu campuran yang
berupa larutan cair-cair dimana karakteristik dari campuran tersebut adalah mampu-campur
dan mudah menguap, selain itu komponen-komponen tersebut mempunyai perbedaan tekanan
uap dan hasil dari pemisahannya menjadi komponen-komponennya atau kelompok-kelompok
komponen. Karena adanya perbedaan tekanan uap, maka dapat dikatakan pula proses
penyulingan merupakan proses pemisahan komponen-komponennya berdasarkan perbedaan
titik didihnya. Distilasi juga merupakan metode pemisahan campuran berdasarkan perbedaan
volatilitas mereka dalam campuran cairan mendidih. Distilasi adalah unit operasi, atau proses
pemisahan fisik, dan bukan reaksi kimia.
Dalam distilasi azeotropik volatilitas komponen yang ditambahkan sama dengan
campuran, dan azeotrop terbentuk dengan satu atau lebih komponen berdasarkan perbedaan
polaritas. Jika agen pemisahan bahan yang dipilih untuk membentuk azeotrop dengan lebih
dari satu komponen pada umpan maka disebut sebagai entrainer. Penambahkan entrainer
harus dipulihkan dengan distilasi, dekantasi, atau metode pemisahan yang lain dan
dikembalikan ke bagian atas kolom.
Distilasi azeotrop digunakan untuk campuran yang sulit dipisahkan melalui proses
distilasi biasa, karena membentuk azeotrop, di mana komposisi komponen di fasa uap
maupun cair tidak berubah lagi oleh pemanasan (Widagdo dan Seader, 1996). Prosesnya
dilakukan dengan penambahan extraneous mass-separating agent yang dikenal sebagai
entrainer ke dalam campuran azeotrop sehingga entrainer akan membentuk azeotrop terner
dengan kedua komponen kunci tersebut. Entrainer harus memenuhi syarat: murah dan
mudah diperoleh, stabil secara kimia (tidak reaktif selama pemisahan berlangsung), tidak
korosif, tidak beracun, memiliki panas penguapan yang rendah, viskositas rendah untuk
memberikan efisiensi tinggi pada tray (Treybal, 1981).
Azeotrop merupakan campuran dari dua atau lebih larutan (kimia) dengan
perbandingan tertentu , dimana komposisi ini tetap / tidak bisa diubah lagi dengan cara
destilasi sederhana. Kondisi ini terjadi karena ketika azeotrop di didihkan, uap yang
dihasilkan juga memiliki perbandingan konsentrasi yang sama dengan larutannya semula
akibat ikatan antar molekul pada kedua larutannya. Campuran azeotrop ini sering disebut juga

constant boiling mixture karena komposisinya yang senantiasa tetap jika campuran tersebut
didihkan.
Distilasi Azeotrop digunakan dalam memisahkan campuran azeotrop (campuran
campuran dua atau lebih komponen yang sulit di pisahkan), biasanya dalam prosesnya
digunakan senyawa lain yang dapat memecah ikatan azeotrop tersebut, atau dengan
menggunakan tekanan tinggi.
2.2 Prinsip Dasar Destilasi Azeotrop
Destilasi Azeotrop merupakan teknik pemisahan dari campuran azeotrop ( yang terdiri dari
Alkohol yang berkadar 96%, dimana sekitar 4%-nya adalah air membentuk suatu
kondisi/campuran ). Campuran tersebut saling terikat dan sulit untuk dipisahkan dan salah
satu cara untuk memisahkan 2 komponen tersebut yaitu dengan cara penambahan komponen
lain untuk menghasilkan azeotrop heterogen yang dapat mendidih pada suhu lebih rendah,
misalnya dengan penambahan benzena bisa juga dengan garam, kedalam campuran air dan
alcohol. Benzena berfungsi untuk memisahkan ikatan antara metanol dan air, sehingga ketika
dipanaskan maka methanol akan menguap terlebih dahulu, hal ini dikarenakan methanol
memiliki titik didih yang rendah, sedangkan benzene dan air memiliki titik didih yang
berdekatan dengan menggunakan destilasi bertingkat methanol, air dan benzene dapat
dipisahkan secara sempurna. Hal ini disebabkan bentuk fisik kolom fraksional yang mampu
menampung senyawa-senyawa yang mengalami penguapan dan pencairan dengan baik,
sehingga ketika etanol menguap dan siap untuk dikondensasi, baik benzena maupun air dapat
lebih dahulu dicairkan oleh kolom fraksional dan ditampung dengan baik di kolom ini,
sehingga etanol yang didapat akan murni.
Banyak metode yang bisa digunakan untuk menghilangkan titik azeotrop pada
campuran heterogen. Contoh campuran heterogen yang mengandung titik azeotrop yang
paling popular adalah campuran ethanol-air, campuran ini dengan metode distilasi biasa tidak
bisa menghasilkan ethanol teknis (99% lebih) melainkan maksimal hanya sekitar 96,25 %.
Hal ini terjadi karena konsentrasi yang lebih tinggi harus melewati terlebih dahulu titik
azeotrop, dimana komposisi kesetimbangan cair-gas ethanol-air saling bersilangan. Beberapa
metode yang populer digunakan adalah :
1. Pressure Swing Distillation
2. Extractive Distillation

a. Pressure Swing Distillation


Dalam pemisahan campuran propanol-ethyl acetate, digunakan metode pressure swing
distillation. Prinsip yang digunakan pada metode ini yaitu pada tekanan yang berbeda,
komposisi azeotrop suatu campuran akan berbeda pula. Berdasarkan prinsip tersebut, distilasi
dilakukan bertahap menggunakan 2 kolom distilasi yang beroperasi pada tekanan yang
berbeda. Kolom distilasi pertama memiliki tekanan operasi yang lebih tinggi dari kolom
distilasi kedua. Produk bawah kolom pertama menghasilkan ethyl acetate murni sedangkan
produk atasnya ialah campuran propanol-ethyl acetate yang komposisinya mendekati
komposisi azeotropnya. Produk atas kolom pertama tersebut kemudian didistilasi kembali
pada kolom yang bertekanan lebih rendah (kolom kedua). Produk bawah kolom kedua
menghasilkan propanol murni sedangkan produk atasnya merupakan campuran propanolethyl acetate yang komposisinya mendekati komposisi azeotropnya. Jadi, dengan metode
pressure swing distillation ini, dapat diperoleh propanol dan ethyl acetate dengan kemurnian
yang tinggi. Dan untuk lebih mengoptimasi proses, distilat keluaran kolom 2 dapat direcycle
dan dicampur dengan aliran umpan untuk didistilasi kembali.
b. Extractive Distillation
Distilasi ekstraktif didefinisikan sebagai distilasi dalam kehadiran miscible, mendidih
tinggi, komponen yang relatif non-volatile, pelarut, bahwa tidak ada bentuk azeotrop dengan
komponen lain dalam campuran. Metode yang digunakan untuk campuran memiliki nilai
volatilitas relatif rendah, mendekati kesatuan. Campuran tersebut tidak dapat dipisahkan
dengan penyulingan sederhana, karena volatilitas dari dua komponen dalam campuran adalah
hampir sama, membuat mereka menguap pada suhu yang sama hampir pada tingkat yang
sama, membuat penyulingan normal tidak praktis.
Metode penyulingan ekstraktif menggunakan pemisahan pelarut, yang umumnya
nonvolatile, memiliki titik didih tinggi dan miscible dengan campuran, namun tidak
merupakan campuran azeotrop. Berinteraksi pelarut berbeda dengan komponen campuran
sehingga menyebabkan volatilitas relatif mereka untuk berubah. Hal ini memungkinkan
campuran tiga bagian baru yang dipisahkan oleh distilasi normal. Komponen asli dengan
volatilitas terbesar memisahkan keluar sebagai produk atas. Produk bawah terdiri dari
campuran pelarut dan komponen lainnya, yang sekali lagi dapat dipisahkan dengan mudah
karena pelarut tidak membentuk sebuah azeotrop dengan itu. Produk bawah dapat dipisahkan
oleh salah satu metode yang tersedia. Sangat penting untuk memilih pemisahan pelarut yang
cocok untuk jenis distilasi. Pelarut harus mengubah volatilitas relatif dengan selisih yang
cukup lebar untuk hasil yang sukses. Kuantitas, biaya dan ketersediaan pelarut harus

dipertimbangkan. Pelarut harus mudah dapat dipisahkan dari produk dasar, dan tidak harus
bereaksi secara kimia dengan komponen atau campuran, atau menyebabkan korosi di dalam
peralatan. Sebuah contoh klasik yang akan dikutip di sini adalah pemisahan campuran
azeotrop benzena dan cyclohexane, di mana anilina adalah salah satu pelarut yang cocok.
2.3 Mekanisme Kerja Destilasi Azeotrop
Adapun mekanisme kerja destilasi azeotrop adalah :
1. Pasang peralatan distilasi , dengan memasang labu bundar 100 mL yang diklem dan
disimpan diatas kawat kasa dan pembakar bunsen. Ujung kondensor dilengkapi dengan
adaptor dan penampungnya gelas ukur.
2. Alirkan air pada pendingin (kondensor) dengan arah aliran dari bawah ke atas. Masukkan
40 mL campuran metanol-air (1 :1) ke dalam labu ( jumlah maksimum larutan adalah
setengan volume labu).
3. Masukkan beberapa potong batu didih ke dalam labu. Mulai lakukan pemanasan dengan
api yang diatur perlahan naik sampai mendidih. Atur pemanasan agar supaya distilat
menetes secara teratur dengan kecepatan satu tetes per detik.
4. Amati dan catat dimana tetesan pertama mulai jatuh. Penampung diganti dengan yang
bersih, kering dan berlabel untuk menampung distilat murni, yaitu distilat yang suhunya
sudah mendekati suhu didih sebenarnya sampai suhunya konstan.
5. Catatlah suhu dan volume distilat secara teratur setiap selang jumlah penampungan
distilat tertentu, misalnya setiap 5 mL penampungan distilat sampai sisa yang ddidistilasi
tinggal sedikit ( jangan sampai kering).
6. Masukkan kira-kira 25 mL metanol-air hasil distilasi biasa ke dalam labu bunder 100 mL
dan tambah benzena sebanyak setengah dari volume tersebut.
7. Pasang peralatan untuk distilasi bertingkat, lalu lakukan distilasi secara teratur, dengan
mencatat suhu dan volume distilat, dan hentikan apabila sisa campuran dalam labu tinggal
3 4 mL lagi. Jangan sampai labu kering!.ganti penampung setiap saat anda mengira
sudah mencapai titik didih zat murni.

2.4 Contoh Penerapan Destilasi Azeotrop


Adapun contoh penerapan dari destilasi Azeotrop adalah di terapkan contohnya pada
pemisahan air-ethanol. Secara komersial, destilasi azeotrop memiliki beberapa manfaat. Hal

ini digunakan untuk memisahkan minyak mentah menjadi fraksi yang lebih untuk keperluan
tertentu seperti transportasi, pembangkit listrik dan pemanas. Air suling untuk menghilangkan
kotoran, seperti garam dari air laut. Udara didistilasi untuk memisahkan komponen-nya
terutama oksigen, nitrogen, dan argon untuk keperluan industri. Distilasi solusi fermentasi
telah digunakan sejak zaman kuno untuk menghasilkan minuman suling dengan kadar
alcohol yang lebih tinggi. Tempat di mana distilasi dilakukan, terutama distilasi alkohol,
dikenal sebagai penyulingan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Azeotrop merupakan campuran dari dua atau lebih larutan (kimia) dengan
perbandingan tertentu , dimana komposisi ini tetap / tidak bisa diubah lagi dengan cara
destilasi sederhana. Kondisi ini terjadi karena ketika azeotrop di didihkan, uap yang
dihasilkan juga memiliki perbandingan konsentrasi yang sama dengan larutannya semula
akibat ikatan antar molekul pada kedua larutannya. Campuran azeotrop ini sering disebut juga
constant boiling mixture karena komposisinya yang senantiasa tetap jika campuran tersebut
didihkan.
Distilasi Azeotrop digunakan dalam memisahkan campuran azeotrop (campuran campuran
dua atau lebih komponen yang sulit di pisahkan), biasanya dalam prosesnya digunakan
senyawa lain yang dapat memecah ikatan azeotrop tersebut, atau dengan menggunakan
tekanan tinggi. Destilasi Azeotrop merupakan teknik pemisahan dari campuran azeotrop
( yang terdiri dari Alkohol yang berkadar 96%, dimana sekitar 4%-nya adalah air membentuk
suatu kondisi/campuran ). Campuran tersebut saling terikat dan sulit untuk dipisahkan dan
salah satu cara untuk memisahkan 2 komponen tersebut yaitu dengan cara penambahan
komponen lain untuk menghasilkan azeotrop heterogen yang dapat mendidih pada suhu lebih