Anda di halaman 1dari 84

SKRIPSI

STUDI KEMAMPUAN PENGIKATAN KOLESTEROL OLEH EKSTRAK


DAUN SUJI (Pleomele angustifolia N. E. Brown) DALAM SIMULASI
SISTEM PENCERNAAN IN VITRO

Oleh :
KURNIAWATI WULAN SARI
F24101008

2005
DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR

STUDI KEMAMPUAN PENGIKATAN KOLESTEROL OLEH EKSTRAK


DAUN SUJI (Pleomele angustifolia N. E. Brown) DALAM SIMULASI
SISTEM PENCERNAAN IN VITRO

SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN
Pada Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan
Fakultas Teknologi Pertanian
Institut Pertanian Bogor

Oleh:
KURNIAWATI WULAN SARI
F24101008

2005
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR

INSTITUT PERTANIAN BOGOR


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
STUDI KEMAMPUAN PENGIKATAN KOLESTEROL OLEH EKSTRAK
DAUN SUJI (Pleomele angustifolia N. E. Brown) DALAM SIMULASI
SISTEM PENCERNAAN IN VITRO

SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN
Pada Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan
Fakultas Teknologi Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Oleh:
KURNIAWATI WULAN SARI
F24101008
Dilahirkan pada tanggal 4 Juli 1983
di Kudus
Tanggal lulus : 27 Oktober 2005
Bogor,

Menyetujui,
November 2005

Ir. Endang Prangdimurti, M.Si.


Dosen Pembimbing
Mengetahui,

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc


Ketua Departeman ITP

Kurniawati Wulan Sari. F24101008. Studi Kemampuan Pengikatan Kolesterol


oleh Ekstrak Daun Suji (Pleomele angustifolia N. E. Brown) dalam Simulasi
Sistem Pencernaan In vitro. Di bawah bimbingan Ir. Endang Prangdimurti, M.Si.
RINGKASAN
Penyakit degeneratif merupakan penyakit yang dapat disebabkan karena
pola konsumsi yang salah. Tingginya konsumsi lemak dan kolesterol akan
berakibat tingginya kolesterol darah dan memicu terjadinya aterosklerosis. Upaya
penanggulangan penyakit degeneratif ini dapat dilakukan dengan mengkonsumsi
senyawa-senyawa bioaktif yang memiliki kemampuan hipokolesterolemik.
Meskipun masih sangat terbatas dan belum jelas mekanismenya, namun beberapa
penelitian mengindikasikan adanya kemampuan hipokolesterol dari klorofil.
Studi atau hasil penelitian mengenai efek penurunan kolesterol oleh klorofil
secara in vivo telah dikemukakan oleh Vlad et al (1995). Penelitiannya
menunjukkan bahwa pemberian cuprofilin selama 90 hari secara nyata
menurunkan kadar kolesterol, trigliserida dan lipida serum darah tikus yang
sebelumnya memperlihatkan indikasi terkena aterosklerosis. Penelitian
Alsuhendra (2002) menunjukkan bahwa konsumsi zinkofilin atau seng-feofitin
dari daun singkong dengan dosis sebanyak 100.2 mg/hari/ekor bersama-sama
dengan kolesterol 0.1% secara nyata menurunkan kadar total kolesterol dan LDL
serum kelinci New Zealand White jantan setelah 4 minggu diintervensi. Diduga
bahwa klorofil atau derivatnya dapat berikatan dengan kolesterol maupun garam
empedu dalam saluran pencernaan.
Oleh karena itu perlu penelitian untuk membuktikan dugaan adanya
pengikatan antara kolesterol dengan klorofil. Dalam penelitian ini akan pelajari
mengenai kemampuan pengikatan kolesterol oleh ekstrak daun suji sebagai
sumber klorofil. Dari penelitian ini diharapkan diperoleh data tentang kemampuan
pengikatan kolesterol oleh ekstrak daun suji sehingga dapat dimanfaatkan sebagai
pencegahan aterosklerosis. Sebagai pembanding digunakan SCC (Sodium Copper
Chlorophyllin) yang merupakan klorofil larut air yang telah diteliti memiliki
aktivitas biologis.
Dalam penelitian ini ekstrak suji sebesar 0.1 g/ ml dan SCC 2.35 mM
dilalukan dalam simulasi sistem pencernaan secara in vitro pada dua taraf
konsentrasi kolesterol murni ( 0 % dan 2 %). Parameter yang diukur yaitu kadar
klorofil, kadar kolesterol dan separasi pigmen menggunakan TLC (Thin Layer
Chromatography) masing-masing pada fraksi awal, fraksi gastric, fraksi digesta
dan fraksi dialisat. Banyaknya klorofil dan kolesterol yang tidak terserap ke dalam
kantung dialisis menunjukkan dugaan adanya kapasitas pengikatan kolesterol oleh
klorofil.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama proses pencernaan in vitro,
kadar klorofil dari ekstrak daun suji dan SCC mengalami penurunan. Hasil
pengukuran klorofil pada fraksi dialisat menunjukkan bahwa klorofil terdialisis
dari ekstrak daun suji lebih rendah bila dibandingkan SCC baik dengan perlakuan
tanpa kolesterol maupun dengan penambahan kolesterol. Pada perlakuan tanpa
kolesterol, diketahui bahwa rata-rata persentase klorofil terdialisis dari ekstrak

daun suji sebesar 5.76 %. Adapun persentase klorofil terdialisis dari SCC dengan
perlakuan tanpa kolesterol lebih tinggi dibanding suji yaitu rata-rata sekitar
19.78% (p < 0.05).
Pada perlakuan dengan penambahan kolesterol, nilai klorofil yang terdialisis
kedua sampel yaitu ekstrak daun suji dan SCC menurun bila dibandingkan
perlakuan tanpa kolesterol. Namun, secara statistik pada ekstrak daun suji tidak
terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.05) sedangkan pada SCC signifikan
(p<0.05). Nilai klorofil yang terdialisis dari ekstrak daun suji dengan penambahan
kolesterol lebih rendah bila dibandingkan dengan klorofil yang terdialisis dari
SCC (p>0.05).
Hasil analisis kadar kolesterol diperoleh keterangan bahwa baik sampel
ekstrak daun suji maupun sampel larutan SCC keduanya menunjukkan adanya
fitosterol pada fase awal. Hal ini karena reagen kit kolesterol dapat mengukur
fitosterol juga. Pengukuran kadar kolesterol dialisat dari ekstrak daun suji yang
ditambah kolesterol menunjukkan tidak ada kolesterol yang terukur (0%).
Sedangkan untuk SCC yang ditambah kolesterol, banyaknya kolesterol terdialisis
ke dalam kantung dialisis rata-rata sebesar 3.92%. Sebagai pembanding,
kolesterol terdialisis pada sampel pelarut suji (0.75 % Tween 80 dalam Na sitrat)
sangat besar dibandingkan ekstrak suji ataupun SCC yaitu 112 %. Hal ini adanya
penambahan kolesterol dari ekstrak bile. Diduga bahwa terdapat komponen dalam
ekstrak daun suji maupun SCC yang mampu menahan penyerapan kolesterol.
Hasil separasi pigmen menunjukkan bahwa pada fase awal komponen yang
teridentifikasi pada sampel ekstrak daun suji diduga adalah klorofil a, lutein,
feofitin a dan beta karoten. Pada fase gastric, pigmen yang teridentifikasi
diantaranya adalah lutein, feofitin a dan feofitin b serta beta karoten. Terdapatnya
feofitin a dan feofitin b pada fase ini diduga karena pengaruh dari perlakuan asam
pada pH 2 yang ada di lambung. Pigmen yang teridentifikasi pada fase ketiga
yaitu fase digesta adalah changed klorofil b-1 bebas Mg, changed klorofil a-1
bebas Mg, changed klorofil b-2 bebas Mg, feofitin a dan b, lutein serta beta
karoten. Pada fase akhir yaitu fase dialisat, tidak terdapat satu pigmenpun yang
teridentifikasi. Pada fase awal sampai fase digesta diketahui bahwa beta karoten
dan lutein selalu teridentifikasi keberadaanya.

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di salah satu kota kecil di Jawa Tengah yaitu
Kudus tepatnya pada tanggal 4 Juli 1983. Penulis merupakan anak
pertama dari tiga bersaudara pasangan Ibunda Sularni dan Ayahanda
Sukis Djasimin, BSc. Penulis mengawali karir akademiknya di TK
Pertiwi Kedungdowo pada tahun 1988-1989. Kemudian dilanjutkan dengan
menempuh pendidikan dasar di SDN Kedungdowo I Kaliwungu Kudus pada
tahun 1989-1995. Jenjang pendidikan menengah penulis tempuh di SMP
Muhammadiyah I Kudus hingga tahun 1998. Pada tahun tersebut juga, penulis
kemudian melanjutkan pendidikan ke SMU Muhammadiyah I Kudus.
Pada tahun 2001 penulis mendapatkan kesempatan belajar sebagai
mahasiswa di Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fakultas Teknologi Pertanian,
Institut Pertanian Bogor yang diterima melalui jalur USMI. Selama menempuh
pendidikan di IPB, penulis aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan baik
intra maupun ekstra kampus. Diantaranya di DPM TPB IPB (2001-2002), DPM
Fateta IPB (2002-2003), Badan Pengawas HIMITEPA (2002-2003) dan anggota
UKM Tapak Suci IPB. Hingga saat ini penulis masih aktif di Pimpinan Cabang
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kab./Kota Bogor (2004-2006) sebagai
ketua

bidang

kader,

Komunitas

Pendidikan

Pemberdayaan

Masyarakat

Mustadhafiin PERAMU (2004-sekarang) dan juga masih tercatat sebagai staf


pengajar Kimia di SMA Muhammadiyah Ciampea Bogor.
Penulis pernah mengikuti lomba Program Kreativitas Mahasiswa (PKM)
tingkat IPB sebagai finalis di bidang penelitian (2003) dengan judul Efektivitas
Campuran Komponen Bioaktif Katekin Teh Hijau dan Minyak Kayu Putih sebagai
Obat Kumur Untuk Menghambat Aktifitas Bakteri Streptococcus mutans Penyebab
Plak Gigi dan sebagai semi finalis pada PKM Dikti tingkat nasional (2002) dalam
bidang kewirausahaan. Pada tahun 2004 penulis melakukan praktek lapang di PT
Palur Raya Surakarta dengan judul Mempelajari Proses Produksi dan Pengawasan
Mutu MSG. Penulis menyelesaikan pendidikan sarjananya dengan skripsi
berjudul Studi Kemampuan Pengikatan Kolesterol oleh ekstrak Daun Suji
(Pleomele angustifolia N. E. Brown) dalam Simulasi Sistem Pencernaan In
vitro, dibawah bimbingan Ir. Endang Prangdimurti, M.Si.

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah SWT yang telah
memberikan kekuatan Islam, iman dan ukhuwah sehingga terselesaikannya karya
kecil ini. Shalawat dan salam kepada nabi Muhammad SAW sebagai panutan dan
ikutan terbaik bagi umat yang membawa cahaya Islam. Selama penelitian sampai
dengan tersusunnya skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bantuan baik moral
maupun material dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini dengan hati yang tulus
dan ikhlas penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Ibu dan Bapak atas segala cinta kasih dan doa yang tak pernah putus
diberikan, semangat dan pengertian serta perjuangan yang telah dilakukan.
2. Ibu Ir. Endang Prangdimurti, MSi selaku dosen pembimbing yang telah
meluangkan waktu dan pikiran dalam membimbing dan mengarahkan hingga
terselesaikannya skripsi ini.
3. Ir. Sutrisno Koswara, Msi dan Antung Sima, STP selaku dosen penguji yang
telah memberikan masukan dan evaluasi.
4. Laboran Departemen ITP (Pak Wahid, Pak Sobirin, Pak Gatot, Bu Rubiah,
Teh Ida, Pak Yahya, Pak Rozak, Pak Sidik dan mbak Darsi) atas segala ilmu
dan bantuannya demi kelancaran penelitian ini.
5. Keluarga tercinta di Kudus dan Surabaya, dik Ulil dan dik Abid, Mbak Yanti,
Mas Ayik, Mas Ed dan Mas Andik serta mbah putri yang selalu memberikan
semangat dan dukungan.
6. Teman seperjuangan Immawan/Immawati Rini, Nunik, Tito, Fikri dan Torik
atas indahnya ukhuwah kebersamaan selama ini (we are a great team).
7. Kakak-kakakku dalam Keluarga kecil di Bogor yang penuh kekeluargaan
dan selalu mengayomi, Mas Topik, Mas supreh, Mbak rifa, Mbak kus, Mbak
Mutia dan Mbak Susi atas semua pengertian dan bimbingannya.
8. Rekan-rekan TPGers 38 semuanya, teman-teman penelitian, Lina, Wulan,
Nita, Meli, Tantri, Okta, Inggrid, Maya, Wanda, Mimi, Sanjung, Derry, Irus,
Anita, Sigit, Gesit, Umi, Gilang, Hendri dan yang lainnya atas kerjasama,
bantuan, pengertian dan semangatnya. Khususnya kawan-kawan A2 (Riyadi,
Wewen dan Ningrum) atas kebersamaannya dalam perjuangan menuntut ilmu

menggapai ridho-Nya di TPG. Tidak lupa juga, Kakak dan adik kelas TPG 36,
37, 39 dan 40.
9. Adik-adikku di IMM Ayu, Iin, Ambar, Citta, Didik, Icha, Vebi, Muad, Udin
dan Budi (Youre all the inspiration). Selamat berfastabiqul khoirot.
10. Keluarga besarku di KKB (Keluarga Kudus-Bogor) khususnya Dasa, Avi,
Zule, Itok, Heni dan Udin serta adik-adik KKBers.
11. Kawan-kawan di PERAMU yang telah menunjukkan realitas sosial.
12. Palma family dan Sausan atas kebersamaan, keceriaan dan gangguan selama
ini.
13. Saudara jauhku, Fia, Ita, Leli, Evi, Mbak Lela, Adnan dan Rudi. Terimakasih
atas doanya.
14. Ustadz Prapto dan kawan-kawan PIR XXI dan XXII serta Kawan-kawan di
JIMM-PTN, milis yang selalu membawa pencerahan. Semoga Bangsa ini
semakin beradab.
15. Bapak dan Ibuku di Bogor, Pak Muhyidin, Pak Adang dan Bu Pri, terimakasih
atas segala nasehatnya.
Hanya karya kecil ini yang bisa penulis persembahkan untuk Bangsaku
dalam rangka ikut membangun peradaban ilmu pengetahuan. Penulis hanya
berharap semoga karya kecil ini mendapatkan ridho-Nya dan bermanfaat bagi
semua pihak yang membutuhkan. Akhirnya hanya ucapan terima kasih yang dapat
penulis haturkan kepada semua pihak yang mungkin terlupa untuk disebutkan.
Sesungguhnya Allah-lah sebaik-baik pembalas segala kebaikan kalian.
Fastabiqul khoirot
Jazakumullahu khairan katsiran.
Bogor, November 2005
Penulis

DAFTAR ISI
Hal
KATA PENGANTAR.................................................................................

DAFTAR ISI...............................................................................................

iii

DAFTAR TABEL.......................................................................................

DAFTAR GAMBAR..................................................................................

vi

DAFTAR LAMPIRAN...............................................................................

vii

I. PENDAHULUAN.................................................................................

A. LATAR BELAKANG......................................................................

B. TUJUAN...........................................................................................

C. HIPOTESIS.......................................................................................

II. TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................

A. DAUN SUJI.....................................................................................

B. KLOROFIL.....................................................................................

1. Klorofil dan Turunannya.........................................................

2. Pencernaan dan Penyerapan Klorofil......................................

14

3. Manfaat dan Aktivitas Biologis Klorofil.................................

16

C. KOLESTEROL...............................................................................

18

D. SEPARASI PIGMEN.....................................................................

21

III. METODOLOGI PENELITIAN............................................................

23

A. BAHAN DAN ALAT.....................................................................

23

B. METODE PENELITIAN................................................................

24

1. Pembuatan Ekstrak Daun Suji.............................................

24

2. Pembuatan Sampel SCC......................................................

24

3. Uji Klorofil dan Kolesterol Terdialisis Secara in vitro

25

C. PROSEDUR
ANALISIS..................................................................

28
28

1. Analisis Kadar Klorofil.......................................................

28

2. Analisis Total Kolesterol....................................................

29

3. Analisis Separasi Pigmen....................................................

30

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN.............................................................

30

A. PEMBUATAN EKSTRAK DAUN SUJI........................................

30

B. PEMBUATAN LARUTAN SCC....................................................

32

C. PROFIL EKSTRAK DAUN SUJI DAN SCC SELAMA


PENCERNAAN IN VITRO............................................................

33

1. Profil Kadar Klorofil Selama Pencernaan in vitro..............

35

2. Profil Kadar Kolesterol Selama Pencernaan in vitro..........

41

3. Persentase Klorofil dan Kolesterol Terdialisis Secara in


vitro.....................................................................................

44

D. SEPARASI PIGMEN....................................................................

48

V. KESIMPULAN DAN SARAN...............................................................

52

A. KESIMPULAN..................................................................................

52

B. SARAN..............................................................................................

53

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................

55

LAMPIRAN.................................................................................................

59

DAFTAR TABEL

Hal
Tabel 1.

Kandungan klorofil beberapa jenis daun..............................

Tabel 2.

Jenis-jenis senyawa turunan klorofil.....................................

Tabel 3.

Standar nilai Rf dan posisi relatif tiap-tiap komponen pada


plate TLC selulosa................................................................

Tabel 4.

22

Persentase penurunan kadar klororil terhadap fraksi awal


selama pencernaan in vitro ...................................................

37

Tabel 5.

Rata-rata persentase klorofil terdialisis.................................

45

Tabel 6.

Persentase kolesterol terdialisis.............................................

47

DAFTAR GAMBAR
Hal
Gambar 1.

Tanaman suji jenis minor.....................................................

Gambar 2.

Daun tanaman suji jenis minor..............................................

Gambar 3.

Rumus bangun klorofil a dan b.............................................

Gambar 4.

Perubahan klorofil menjadi beberapa senyawa turunannya..

Gambar 5.

Reaksi feofitinisasi................................................................

11

Gambar 6.

Pengaruh pH terhadap kadar klorofil....................................

15

Gambar 7.

Struktur kimia kolesterol.......................................................

19

Gambar 8.

Skema pembuatan ekstrak daun suji.....................................

25

Gambar 9.

Skema pencernaan in vitro ...................................................

27

Gambar 10. Kurva standar SCC................................................................

33

Gambar 11. Histogram kandungan klorofil ekstrak daun suji dan SCC
tanpa perlakuan penambahan kolesterol selama pencernaan
in vitro ..................................................................................

35

Gambar 12. Histogram kandungan klorofil ekstrak daun suji dan SCC
dengan perlakuan penambahan kolesterol selama
pencernaan in vitro..............................................................

36

Gambar 13. Ekstrak daun suji selama pencernaan in vitro .....................

38

Gambar 14. Larutan SCC selama pencernaan in vitro ............................

40

Gambar 15. Histogram kadar kolesterol ekstrak daun suji dan SCC
tanpa perlakuan penambahan kolesterol selama pencernaan
in vitro ..................................................................................

42

Gambar 16. Histogram kadar kolesterol ekstrak daun suji dan SCC
dengan perlakuan penambahan kolesterol selama
pencernaan in vitro ...............................................................

42

DAFTAR LAMPIRAN
Hal
Lampiran 1.

Contoh cara perhitungan kadar klorofil......

57

Lampiran 2.

Cara perhitungan persentase penurunan kadar klorofil

58

terhadap fraksi awal........... ....................

59

Lampiran 3.

Contoh cara perhitungan persentase klorofil terdialisis.....

60

Lampiran 4.

Contoh cara perhitungan persentase kolesterol terdialisis..

61

Lampiran 5.

Uji statistik data klorofil terdialisis....................................

62

Lampiran 6.

Nilai Rf separasi pigmen.....................................................

63

Lampiran 7.

Separasi pigmen ekstrak daun suji selama pencernaan in


vitro dengan TLC..............................................................

69

I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penyakit degeneratif merupakan penyakit yang dapat disebabkan karena
pola konsumsi yang salah. Saat ini tingkat kejadian penyakit degeneratif
semakin tinggi. Salah satu penyakit degeneratif yang ditakuti orang adalah
PJK (penyakit jantung koroner). Data pada tahun 1999 menunjukkan
prevalensi penyakit jantung koroner tercatat sedikitnya 55,9 juta kematian di
seluruh dunia disebabkan oleh penyakit jantung atau setara dengan 30,3% dari
total kematian di dunia. Di Indonesia sendiri, angka kematian dan kesakitan
karena penyakit jantung cenderung terus meningkat. Menurut hasil Survey
Kesehatan Nasional tahun 2001, tiga dari 1.000 penduduk, menderita penyakit
jantung koroner atau 4% dari masyarakat.
Sebagian besar PJK terjadi akibat penurunan suplai oksigen pada otot
jantung lantaran penyempitan pembuluh koroner oleh pengerasan di dinding
dalam pembuluh koroner yang disebut plak aterosklerosis. Telah diketahui
bahwa aterosklerosis disebabkan oleh kadar LDL (lipoprotein berdensitas
rendah) serum yang tinggi (>130 mg/dl) dan diperparah oleh kondisi stress
oksidatif. Dalam tahapan aterogenesis, makrofag melakukan endositosis
terhadap LDL yang teroksidasi dan berubah menjadi sel busa, yang
merupakan cikal bakal ateroma. Oleh karena itu, upaya pencegahan
aterosklerosis akan lebih efektif apabila upaya penurunan kadar LDL atau
kolesterol secara umum dilakukan bersamaan dengan upaya peningkatan
kapasitas antioksidan dalam tubuh. Berkaitan dengan hal tersebut, klorofil
dalam beberapa studi dilaporkan memiliki kapasitas antioksidan dan
hipokolesterol, sehingga diperkirakan suplemen pangan kaya klorofil dapat
membantu mengurangi potensi aterosklerosis.
Studi atau hasil penelitian mengenai efek penurunan kolesterol oleh
klorofil dikemukakan oleh Vlad et al (1995). Penelitiannya menunjukkan
bahwa

pemberian Cuprofilin (kompleks Cu (II)-klorofil) selama 90 hari

secara nyata menurunkan kadar kolesterol, trigliserida dan lipida serum darah

tikus yang sebelumnya telah memperlihatkan indikasi terkena aterosklerosis.


Selain itu pada aorta tikus yang diberi cuprofilin juga menampakkan infiltrasi
lipid yang berkurang secara nyata. Hal ini menunjukkan bahwa klorofil atau
derivatnya

berpengaruh

terhadap

metabolisme

kolesterol.

Penelitian

Alsuhendra (2002) menunjukkan bahwa konsumsi zinkofilin atau sengfeofitin (turunan klorofil yang ion Mg2+ pada inti porfirinnya telah digantikan
oleh Zn2+) pada dosis 100,2 mg/hari/ekor bersama-sama dengan kolesterol
0.1% secara nyata menurunkan kadar total kolesterol dan LDL serum kelinci
New Zealand White jantan setelah 4 minggu diintervensi.
Studi mengenai mekanisme penurunan kolesterol darah belum jelas,
karena itu perlu lebih banyak diteliti. Diduga bahwa klorofil atau derivatnya
dapat berikatan dengan kolesterol maupun garam empedu dalam saluran
pencernaan. Ma dan Dolphin (1999) menemukan adanya struktur ester klorinkolesterol di sedimen permukaan danau. Strukturnya memperlihatkan posisi
kolesterol menggantikan gugus fitol dalam berikatan dengan klorin.
Sedangkan Ferruzi et al (2001) menduga adanya kemampuan pengikatan
derivat klorofil dengan garam empedu. Klorofilin adalah derivat klorofil yang
telah kehilangan gugus fitol.
Penelitian ini dilakukan untuk melihat kemungkinan terjadinya
pengikatan kolesterol oleh klorofil dalam sistem pencernaan yang dilakukan
secara in vitro. Sebagai sumber klorofil digunakan daun suji. Daun suji
memiliki

keunggulan

yaitu

merupakan

produk

lokal

yang

mudah

dibudidayakan dan biasa digunakan sebagai pewarna hijau alami untuk pangan
sehingga aman dikonsumsi, memiliki flavor yang mild sehingga dapat
diaplikasikan dengan konsentrasi tinggi pada produk, serta secara tradisional
berkhasiat sebagai obat.
Menurut Prangdimurti (2005), proses ekstraksi daun suji dengan
menggunakan pelarut

Tween 80 dalam Na-sitrat dapat meningkatkan

kapasitas antioksidan dan kadar klorofil terlarut ekstrak yang dihasilkan. Oleh
karena itu, dalam penelitian ini digunakan ekstrak tersebut.

B. TUJUAN
Tujuan dari penelitian ini adalah meneliti secara in vitro kemampuan
pengikatan kolesterol oleh ekstrak daun suji dibandingkan dengan SCC
(Sodium Copper Chlorophyllin), suatu turunan klorofil.
C. HIPOTESIS
Derivat klorofil dari ekstrak daun suji memiliki kemampuan mengikat
kolesterol sehingga dapat menurunkan kadar kolesterol yang terserap dalam
tubuh yang diuji secara in vitro.

II. TINJAUAN PUSTAKA


A. DAUN SUJI (Pleomele angustifolia N. E. Brown)
Tanaman Suji (Pleomele angustifolia, N. E. Brown) merupakan tanaman
perdu atau pohon kecil tegak dengan tinggi berkisar antara 2 hingga 8 meter.
Tanaman suji biasa tumbuh secara liar atau ditanam disekitar halaman dan
untuk pagar-pagar. Tanaman suji dapat tumbuh dengan baik pada daerah
dengan ketinggian sampai 1200 m diatas permukaan laut. Berdasarkan
klasifikasi botaninya, tanaman suji termasuk ke dalam divisi Spermatophyta,
sub divisi Angiospermai, kelas Monocotiledoneae, ordo Liliflorae, famili
Liliaceae, genus Pleomele, dan jenis Pleomele angustifolia N. E. Brown
(Keng, 1969).

Jenis lain dari suji adalah Cordyline Rumphii MIQ dan

Dracaena angustifolia ROXB (Heyne, 1987).

Gambar 1. Tanaman suji jenis minor (Pleomele angustifolia,


N.E.Brown)
Daun tanaman suji berbentuk lancet-garis, agak kaku, berwarna hijau
gelap, meruncing atau sangat runcing dengan panjang 10 sampai 25 cm dan
lebar 0.9 sampai 1.5 cm. Jenis bunga termasuk bunga majemuk, berbentuk
malai dengan banyak bunga yang panjangnya 8 sampai 30 cm. Pada tiap
kelopak terdapat 1-4 bunga, tangkai bunga pendek (2.5-2.7 cm). Mahkota
bunga berwarna putih kekuningan, dan kalau malam hari berbau harum. Buah
yang matang berwarna jingga dengan diameter 1-2 cm.

Gambar 2. Daun tanaman suji jenis minor


Jenis-jenis tanaman suji yang ditemukan di Jawa dikelompokkan
menjadi dua forma pokok yaitu forma typica dan forma minor. Ciri dari forma
typica yaitu memiliki malai bunga yang besar dan berdaun panjang hingga 60
cm serta lebar. Forma minor memiliki ciri dengan malai bunga yang kecil dan
daun-daun yang lebih pendek serta ciut. Forma pertama ditemukan tumbuh
liar di Jawa di bawah ketinggian 500 m, terutama di bagian sebelah barat
pulau Jawa. Jenis forma minor didapat liar atau menjadi liar di daerah-daerah
kediaman, tetapi terutama ditanam orang di daerah dengan ketinggian hingga
1000 m diatas permukaan laut, ditanam dipagar-pagar dan di sekitar perigiperigi. Di Sulawesi telah ditemukan forma-forma alihan dengan malai-malai
bunga yang besar dan daun-daun kecil (Heyne, 1987). Tanaman suji dapat
diperbanyak dengan stek atau bisa juga dengan biji.
Di setiap daerah di Indonesia, tanaman suji mempunyai nama daerah
yang berbeda antara lain Jejuang bukit atau Pendusta utan (Ambon); Ngase
kolotide (Ternate); Jingkang, Hanjuwang merak atau Suji (Jawa Barat); Semar
(Jawa Tengah dan Jawa Timur); Kopoi (Ponos), Popopok im bolai,
Rereindeng im bolai, Tawaang im bolai (Minahasa) (Heyne, 1987)
Secara tradisional, tanaman suji telah dimanfaatkan baik untuk bidang
pangan, kosmetika maupun pengobatan. Di bidang pangan, ekstrak daun suji
dalam medium air telah biasa digunakan sebagai pewarna berbagai makanan
tradisional. Sedangkan pucuk-pucuk mudanya dapat dibuat sayur. Selain
sebagai pewarna pangan, daun suji diketahui juga dapat digunakan sebagai
pewarna kertas, minyak jarak dan minyak kelapa. Di bidang kosmetika,
ekstrak daun suji dapat digunakan sebagai penyubur rambut.

Selain sebagai pewarna dan penyubur rambut, tanaman suji juga dapat
digunakan di bidang pengobatan. Air rebusan akar tanaman suji dapat
digunakan sebagai campuran obat sakit gonorrhoe. Di Ambon, daun tanaman
suji dimanfaatkan untuk mengobati penyakit beri-beri dengan cara
menggosokkan kuat-kuat daun yang telah dipanaskan pada anggota tubuh
penderita. (Heyne, 1987).
B.

KLOROFIL
1. Klorofil dan Turunannya
Klorofil (chlorophyll) adalah zat pembawa warna hijau pada
tumbuh-tumbuhan. Klorofil berasal dari bahasa Yunani: khloros (hijau
kekuningan) dan phullon (daun). Nama klorofil pada mulanya diberikan
pada pigmen-pigmen hijau yang berperan pada proses fotosintesis tanaman
tingkat tinggi, yang kemudian diperluas kepada semua golongan pigmen
porfirin fotosintetik (Francis, 1985).
Secara kimiawi, klorofil adalah porfirin yang mengandung cincin
dasar tetrapirol, dimana keempat cincin berikatan dengan ion Mg2+. Cincin
isosiklik yang kelima berada dekat dengan cincin pirol ketiga. Dalam
cincin keempat, subtituen asam propionat diesterifikasi oleh diterpen
alkohol fitol (C20H39OH) yang bersifat hidrofobik, dan jika dihilangkan
menjadi hidrofilik (Gross, 1991). Molekul klorofil terdiri dari sebuah
porfirin sebagai kepala, yang bersifat polar (larut dalam air), yang
terbentuk dari cincin tetrapirol dengan sebuah atom Mg dan sebuah fitol
sebagai ekor (Hall dan Rao, 1986).
Klorofil dapat ditemukan pada daun dan permukaan batang, yaitu
di dalam lapisan spongi di bawah kutikula. Menurut Clydesdale dan
Francis (1976), klorofil terletak dalam badan-badan plastid yang disebut
kloroplas. Kloroplas memiliki bentuk yang teratur, di bawah mikroskop
lensa lemah tampak sebagai lempengan berwarna hijau dengan panjang
sekitar 5-10 mikrometer dan lebar 1-2 mikrometer. Klorofil berikatan erat
dengan lipid, protein dan lipoprotein. Kloroplas kering mengandung
sekitar 10% klorofil dan 60% protein (Hutchings, 1994).

Beberapa jenis klorofil telah diketahui seperti klorofil a, b, c, d,


bakterioklorofil a dan b, dan klorobium klorofil (Clydesdale et al., 1976).
Beberapa tipe klorofil tersebut distribusinya kecil. Hanya dua yang perlu
diperhatikan karena peranannya dalam warna hijau daun pada tanaman
yaitu klorofil-a dan b.
Klorofil a adalah suatu struktur tetrapirol melalui ikatan Mg,
dengan subtitusi metil pada posisi 1, 3, 5 dan 8, vinil pada posisi 2, etil
pada posisi 4, propionat yang diesterifikasi dengan fitil alkohol (fitol)
pada posisi 7, keto pada posisi 9 dan karbometoksi pada posisi 10. Rumus
molekul klorofil-a adalah C55H72N4O5Mg. Klorofilb memiliki struktur
yang sama dengan klorofil-a, kecuali pada posisi 3 terdapat gugus formil,
bukan gugus metil yang dimiliki klorofil a. Rumus empiris dari klorofil-b
adalah C55H70N4O6Mg. Rumus struktur dari klorofil ditentukan oleh
Fischer (1940) di Jerman dan ditegaskan melalui sintesis molekul yang
lengkap oleh Woodward (1960) di Harvard. Struktur molekul klorofil-a
dan b dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Rumus bangun klorofil a (R = CH3) dan klorofil b (R = CHO)


(Hutchings, 1994).
Perbedaan kecil dalam struktur dari dua klorofil menghasilkan
perbedaan dalam penyerapan spektrum, biru-hijau untuk klorofil-a dan
kuning-hijau untuk klorofil-b. Posisi penyerapan maksimum bervariasi
sesuai dengan pelarut yang digunakan. Klorofil merupakan ester dan larut
pada pelarut organik.

Kandungan klorofil pada beberapa tanaman sekitar 1% basis


kering. Pada semua tanaman hijau, sebagian besar klorofil berada dalam
dua bentuk yaitu klorofil-a dan klorofil-b dengan perbandingan 3:1
(Robinson, 1991). Tabel 1. memperlihatkan kandungan klorofil dari
beberapa jenis daun. Klorofil-a terdapat sekitar 75% dari pigmen hijau
tanaman. Dengan analisis yang sama, Hakim (2005) menyebutkan bahwa
total klorofil daun suji sebesar 3773 g/g bahan dengan rasio klorofil a dan
klorofil b sebesar 2:1.
Tabel 1. Kandungan klorofil beberapa jenis daun (Alsuhendra, 2004)
Jenis

Kandungan klorofil (g/g bahan)


a

Total

Rasio a:b

Daun singkong

2853.2

1114.3

3967.5

2.6:1

Daun katuk

1688.1

513.9

2202.0

3.3:1

Daun poh-pohan

1495.4

587.1

2013.5

2.9:1

Daun kangkung

1493.6

519.9

2013.5

2.9:1

Daun bayam

1205.0

255.9

1460.9

4.7:1

Daun kemangi

842.9

479.8

1322.7

1.8:1

Caisin

815.0

393.1

1208.1

2.1:1

Selada

482.7

148.6

631.3

3.2:1

Alang-alang

1831.2

495.1

2326.3

3.7:1

Rumput gajah

2123.7

549.5

2673.2

3.9:1

Salah satu sifat kimia klorofil yang penting adalah kelabilan yang
ekstrim, seperti sensitif terhadap cahaya, panas, oksigen, dan degradasi
kimia. Oleh karena itu, untuk menjaga agar tidak terjadi perubahan pada
klorofil, maka berbagai faktor tersebut harus diperhatikan. Klorofil dapat
diubah baik secara in vivo maupun in vitro ke dalam bentuk derivatnya
(Gross, 1991). Pada Tabel 2. dibawah ini disajikan jenis-jenis senyawa
turunan klorofil.

Tabel 2. Jenis-jenis senyawa turunan klorofil (Robinson, 1991)


Jenis

Keterangan

Turunan
Klorin

Dihidroporfirin

Rodin

Dihidroporfirin dengan karbonil berdampingan dengan


cincin pirol

Forbin

Dihidroporfirin dengan cincin karboksilik tambahan

Forbida

Ester dari forbin

Feoforbida

Ester metil dari forbin

Fitin

Ester fitil dari forbin

Feofitin

Ester metil dan fitil dari forbin

Filin

Turunan magnesium dari salah satu senyawa diatas

Klorofilin

Turunan magnesium dari fitin

Klorofilida

Turunan magnesium dari feoforbida

Perubahan klorofil menjadi senyawa derivatnya terjadi akibat


ketidakstabilan senyawa klorofil sehingga terdegradasi. Menurut Eskin
(1979) secara umum senyawa klorofil dapat terdegradasi secara kimia
menjadi turunannya melalui salah satu atau lebih dari proses-proses
berikut yaitu reaksi feofitinisasi, reaksi pembentukan klorofilid dan reaksi
oksidasi. Hubungan dari reaksi-reaksi perubahan klorofil menjadi senyawa
turunannya digambarkan dengan skema pada Gambar 4.
Klorofil + H2O
Klorofil
-Mg2+
Feofitin
-CH2CH3
Pirofeofitin

klorofilase

- fitol

- fitol

- fitol

Klorofilid + Fitol
Klorofilid
-Mg2+
Feoforbid
-CH2CH3
Pirofeoforbid

Gambar 4. Perubahan klorofil menjadi beberapa senyawa turunannya


(Clydesdale et al., 1976).

Reaksi feofitinisasi adalah reaksi pembentukan feofitin yang


berwarna hijau kecoklatan. Reaksi feofitinisasi disebut juga dengan
demetalasi atau reaksi pelepasan ion Mg. Reaksi ini terjadi karena ion Mg
di pusat molekul klorofil terlepas dan diganti oleh ion H. Denaturasi
protein pelindung dalam kloroplas mengakibatkan ion magnesium mudah
terlepas dan diganti ion hidrogen membentuk feofitin. Ion magnesium dari
klorofil akan semakin banyak lepas dengan proses pemanasan serta
pengaruh keasaman. Menurut Gross (1991), feofitin adalah derivat klorofil
bebas magnesium. Feofitin-a dan b mudah didapat dari klorofil dengan
perlakuan asam, sehingga melepaskan magnesium. Reaksi terjadi 1 sampai
2 menit dan konsentrasi HCl yang digunakan 13 % . Mac Kinney dan
Joslyn (1938) menemukan bahwa kecepatan pembentukan feofitin
merupakan reaksi ordo pertama terhadap konsentrasi asam.
Reaksi feofitinisasi yang biasa terjadi dapat dilihat pada proses
perebusan sayuran yang mengandung klorofil. Klorofil terdapat dalam
bentuk terikat secara kompleks dengan molekul protein. Pada proses
perebusan tersebut, protein dari senyawa kompleks tersebut akan
mengalami denaturasi, sehingga klorofil akan dibebaskan. Klorofil yang
bebas ini sangat tidak stabil, dan ion magnesium yang terdapat didalamnya
dapat dengan mudah digantikan oleh ion hidrogen. Akibatnya warna
sayuran yang semula hijau berubah menjadi kecoklatan karena
terbentuknya feofitin (Muchtadi, 1992). Disamping itu, bila pada proses
perebusan tersebut wadahnya tertutup, maka asam-asam volatil dari
sayuran yang dikeluarkan pada awal perebusan tidak dapat keluar dan
akhirnya bereaksi dengan klorofil. Hal inilah yang mengakibatkan
terjadinya perubahan klorofil menjadi feofitin.
Reaksi feofitinasi yang secara kinetika merupakan reaksi
pseudomono-molekular digambarkan secara skematis oleh Kyzlink (1990)
seperti terlihat pada Gambar 5. Energi aktivasi yang dibutuhkan untuk
perubahan klorofil a menjadi feofitin a adalah sebesar 25.2 kkal/mol dan
untuk klorofil b sebesar 22.5 kkal/mol (Schwartz dan Von Elbe, 1983).

Gambar 5. Reaksi feofitinasi (Kyzlink, 1990)


Beberapa peneliti melaporkan bahwa klorofil-a mengalami
perubahan menjadi feofitin-a sebesar 5-10 kali lebih cepat dibandingkan
dengan kecepatan perubahan klorofil-b menjadi feofitin-b. Mac Kinney
dan Joslyn (1940) melaporkan bahwa dalam pelarut aseton, pelepasan
magnesium dari klorofil-a lebih cepat sembilan kali lipat dibandingkan
dengan klorofil-b.
Reaksi pembentukan klorofilid dapat terjadi melalui hidrolisis
klorofil menjadi klorofilid dan fitol baik dalam kondisi asam maupun basa.
Oleh karena itu, reaksi pembentukan klorofilid disebut juga dengan reaksi
pelepasan fitol. Pembentukan klorofilid dikatalisis secara enzimatik oleh
adanya enzim klorofilase. Enzim klorofilase biasa ditemukan dalam
jaringan tanaman hijau. Enzim klorofilase dapat menghidrolisis gugus fitol
dari klorofil sehingga terlepas membentuk klorofilid. Penghilangan gugus
fitol dari klorofil akan menghasilkan molekul klorofilid yang bersifat polar
dan larut dalam air. Klorofilid juga dapat kehilangan ion magnesium yang
diganti dengan ion hidrogen membentuk feoforbid (Clydesdale et al.,
1976).
Enzim klorofilase (klorofil klorofilid hidrolase, E.C.3.1.1.14)
termasuk jenis enzim esterase. Enzim ini memiliki sifat dapat
mengkatalisis hidrolisis ikatan ester antara residu asam 7-propionat pada
cincin IV makrosiklik dengan fitol, baik pada klorofil maupun feofitin.
Pada suhu kamar enzim ini hanya aktif jika ada pelarut-pelarut
organik. Sedangkan dalam pelarut air, fungsi enzim akan optimum pada
kisaran suhu 65-750C. Diduga hal ini diakibatkan oleh keadaan enzim

yang secara fisik terikat kuat pada lipoprotein lamela. Menurut laporan
Mac Kinney dan Weast (1940) bahwa aktifitas maksimum dari enzim
klorofilase adalah 750C. Jones et al. (1963) melaporkan bahwa blansir
pada suhu 1000C selama 4 detik secara nyata menginaktivasi enzim
klorofilase. Hal ini ditandai dengan sedikitnya atau tidak ada perubahan ke
arah pembentukan klorofilid atau feoforbid.
Salah satu upaya untuk mempertahankan warna hijau dari jaringan
tanaman antara lain dilakukan dengan cara mengubah klorofil menjadi
klorofilid. Clydesdale et al. (1976) menggunakan digitonin 0.1% pada
pure bayam untuk membebaskan klorofil dan klorofilase dari ikatannya
dengan lipoprotein dalam kloroplas. Surfaktan atau detergen non-ionik ini
mampu melindungi warna hijau seperti halnya penambahan MgCO3
0.35% untuk membuat suasana alkali.
Enzim klorofilase hanya mampu menghidrolisis klorofil 40%
dalam kompleks klorofil-protein bayam. Namun, dengan adanya detergen
hampir semua klorofil dapat dihidrolisis (Gross, 1991). Jika reaksi
hidrolisa gugus fitol oleh enzim klorofilase terjadi dalam pelarut-pelarut
tertentu seperti etanol atau metanol, maka akan terjadi penukaran gugus
fitol oleh pelarut, misalnya membentuk etil klorofilid (Aronof, 1958).
Feoforbid a dan b adalah klorofilid yang juga kehilangan
magnesium, jadi tidak memiliki gugus fitol maupun Mg. Senyawa ini
dapat dibuat dengan cara memperlakukan klorofil dengan asam pekat (HCl
30%) atau dengan memberi perlakuan asam pada klorofilid (Gross, 1991).
Reaksi oksidasi klorofil terjadi pada grup fungsionalnya yaitu
cincin isosiklik yang membentuk klorofil teralomerasi dan pecahnya
cincin tetrapirol sehingga membentuk produk yang tidak berwarna
(Clydasdale et al., 1976). Menurut Gross (1991), proses ini dinamakan
alomerisasi karena produk oksidasi tersebut mempunyai absorbsi spektra
yang identik dengan senyawa induknya. Klorofil dioksidasi secara spontan
oleh oksigen atmosfer meskipun dalam kondisi gelap. Alomerisasi klorofil
dapat diperoleh dengan melewatkan O2 selama 72 jam pada larutan
klorofil dalam metanol. Senyawa ini juga dapat terbentuk selama

perebusan dedaunan. Proses otoksidasi klorofil dapat dihambat dengan


karotenoid.
Reaksi oksidasi dapat dibagi menjadi reaksi oksidasi non enzimatik
dan reaksi oksidasi enzimatik.

Reaksi oksidasi non enzimatik terjadi

karena pemanasan dan selama penyimpanan. Menurut Eskin (1979),


kecepatan degradasi oksidatif meningkat sejalan dengan lamanya
pertambahan waktu blansir dan penyimpanan. Pengaruh blansir tampak
dalam dua hal.

Pertama, blansir menginaktivasi enzim-enzim yang

membantu degradasi klorofil sehingga klorofil lebih stabil selama


penyimpanan.

Kedua, blansir dalam waktu yang lama, meskipun

menginaktivasi

enzim,

tetapi

merangsang

reaksi

oksidasi

yang

mengakibatkan kehilangan klorofil. Waktu blansir yang paling optimum


adalah 45 detik sampai satu menit, dimana aktivitas enzim dan perangsang
reaksi oksidasi dihambat.
Reaksi

oksidasi

enzimatik

terjadi

dengan

adanya

enzim

lipoksigenase (linoleat oksidoreduktase) yang terdapat di sebagian besar


sayuran dan buah-buahan.

Enzim lipoksigenase diidentifikasi sebagai

enzim yang memberikan pengaruh pemucatan pada klorofil a dan klorofil


b dengan kehadiran lemak dan oksigen. Enzim ini mengkatalisa reaksi
oksidasi klorofil jika diinkubasi dengan asam linoleat atau linolenat.
Klorofil sangat peka terhadap cahaya. Sinar dalam ruangan lemah,
jika mengenai klorofil kurang dari satu detik dapat mengakibatkan reaksi
protopigmen (Holden, 1976) yang dikutip oleh Oktaviani (1987).
Pengerjaan klorofil dan penyimpanan zat warna harus dilakukan dalam
ruang gelap atau ruang redup dengan cahaya yang aman dan sejuk.
Klorofil-a dan feofitin-a larut dalam alkohol, eter dan aseton.
Dalam keadan murni sedikit larut dalam petroleum eter dan tidak larut
dalam air. Klorofilid dan feoforbida tidak larut dalam pelarut organik
tetapi larut dalam air (Clydesdale et al., 1976)
Pemanasan merupakan proses fisika yang dapat mengakibatkan
kerusakan klorofil. Klorofil terdapat dalam bentuk ikatan kompleks
dengan protein yang diduga menstabilkan molekul klorofil dengan cara

memberikan ligan tambahan. Pemanasan dapat mengakibatkan denaturasi


protein sehingga klorofil menjadi tidak terlindung lagi yang dikutip oleh
Oktaviani (1987). Selama pemanasan, asam-asam organik dalam jaringan
dibebaskan yang mengakibatkan pembentukan feofitin. Pemanasan juga
memberi pengaruh terhadap aktivitas enzim klorofilase dan enzim
lipoksigenase. Pengaruh blansir pada sayuran hijau terhadap pembentukan
klorofilid dan feoforbid menunjukkan bahwa blansir pada suhu 82.20C
meningkatkan aktivitas enzim klorofilase, tetapi blansir pada suhu 1000C
membuat klorofilase inaktif.
2. Pencernaan dan Penyerapan Klorofil
Hasil penelitian Ferruzi et al (2001) menyatakan bahwa studi
mengenai absorbsi dan metabolisme klorofil belum banyak dilakukan.
Sifat klorofil yang mudah terdegradasi oleh asam, panas, cahaya dan
oksigen menjadi salah satu kendala dalam studi-studi absorpsi klorofil.
Dikatakannya bahwa hanya dalam waktu jam pada fase lambung (pH 2)
lebih dari 95% klorofil-a dan klorofil-b berubah menjadi bentuk
feofitinnya. Selanjutnya feofitin dimetabolisme oleh mikroflora usus
antara lain menjadi feoforbid.
Pengaruh pH lambung pada perubahan klorofil menjadi feofitin
selama fase gastric dalam sistem pencernaan telah dikemukakan oleh
Ferruzi et al (2001). Berdasarkan penelitiannya dengan menggunakan
pure bayam segar diketahui bahwa kandungan awal klorofil a dari pure
bayam segar tersebut adalah sekitar 77% dan klorofil b sekitar 23%.
Dengan perlakuan pH 2 ternyata keduanya berubah mnenjadi feofitin a
dan b dengan persentase masing-masing 70% dan 30%. Kemudian pada
pH 4 kecenderungan klorofil a dan b stabil dengan persentase klorofil a
72% dan klorofil b 22% sedangkan sisanya adalah feofitin a dan feofitin b.
Pada perlakuan pH 6, selama pencernaan klorofil a dan klorofil b relatif
stabil.

pH 2

Ek s tr ak
Bayam s e gar
klorof il
b, 23%

f e of itin
b, 30%

f e of itin
a, 70%

klorof il
a , 77%

pH 4

feo a,
klorofil 5%
b, 22%

pH 6

feo b,
1%
klorofil
a,
72%

klorofil
b,
23%
klorofil
a,
77%

Gambar 6. Pengaruh pH terhadap kandungan klorofil (Ferruzi et al, 2001)


Bukti bahwa klorofil dapat diserap oleh sel usus dikemukakan oleh
Ferruzi et al (2001). Dalam penelitiannya secara in vitro, mereka
menggunakan pure bayam yang dicerna menggunakan enzim-enzim
pencernaan dan diinkubasi bersama sel Caco-2 sebagai model sel enterosit
manusia untuk melihat penyerapannya. Klorofil alami terdegradasi selama
pencernaan. Derivat-derivat klorofil terakumulasi dalam sel sebanyak 510%.
Egner et al (2001) berhasil membuktikan adanya penyerapan
derivat klorofil dalam darah. Mereka melakukan studi intervensi SCC
(sodium copper chlorophyllin) terhadap subyek manusia, dengan
kandungan utamanya Cu(II)klorin e4 (CuCle4) dan Cu(II)klorin e6
(CuCle6). Setelah diintervensi dengan dosis 100 mg selama 3 kali sehari
selama 4 bulan, dalam serum darah subyek ditemukan bentuk CuCle4 dan
CuCle4 etil ester, bahkan ditemukan warna hijau dalam sampel serum
subyek. Hal ini belum pernah dikemukakan sebelumnya dan penemuan
awal ini menunjukkan adanya penyerapan in vivo derivat klorofil.

SCC merupakan campuran berwarna hijau terang yang berasal dari


klorofil alami yang telah digunakan sebagai suplemen pangan dan
pewarna. SCC komersial dibuat dari ekstrak klorofil menggunakan NaOHmetanol dan diikuti dengan penggantian atom Mg oleh logam Cu.
Didasari oleh penelitian Egner et al. tersebut, maka Ferruzi et al
(2002a) melanjutkan studi absorbsi klorofil menggunakan SCC. SCC
komersial yang digunakan terdiri dari komponen utama Cu(II)klorin e4
(81%), Cu(II)klorin e6 (10%), Cu(II)rhodin g7 (3%) dan Cu(II)feoforbid
(1%). Untuk melihat tingkat ketersediaan SCC digunakan sel Caco-2. SCC
diinkubasi dalam kultur sel dengan konsentrasi 0.5-60 ppm (atas dasar
pertimbangan konsumsi SCC: 1,0-100 mg SCC dalam 2 liter cairan usus
dan lambung) pada 370C selama 4 jam. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa 45-60% SCC terserap dalam sel. Rasio Cu(II)klorin e4 terhadap
Cu(II)klorin e6 yang terserap intrasel sama dengan rasionya didalam media
uji. Dengan kata lain penyerapan derivat-derivat klorofil berlangsung
proporsional dengan konsentrasi didalam media. Transpor porfirin ke
dalam sel enterosit diduga dimediasi oleh suatu reseptor.
Selain itu dari studi tersebut diketahui bahwa Cu(II)klorin e4
merupakan komponen utama dalam fraksi digesta. Cu(II)klorin e6
memiliki kestabilan yang rendah selama pencernaan, namun dapat
ditingkatkan kestabilannya apabila berada dalam matriks saus apel. Hal ini
diduga karena adanya antioksidan lain dan matriks apel yang melindungi
keberadaannya.
3. Manfaat dan Aktivitas Biologis Klorofil
Telah lama diketahui bahwa pigmen yang terdapat dalam bahan
pangan dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami dalam pembuatan
produk-produk pangan. Pewarna alami ini dinilai lebih aman untuk
dikonsumsi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pigmen alami tersebut
tidak hanya dimanfaatkan sebagai pewarna pada bahan pangan saja, tetapi
juga mempunyai peranan fungsional dalam bidang kesehatan.

Dari berbagai studi yang telah dilakukan, aktivitas biologis klorofil


umumnya diperlihatkan oleh klorofilin yaitu derivat klorofil yang telah
kehilangan gugus fitol dan metil sehingga memiliki kelarutan yang tinggi
dalam air. Klorofilin komersial yang banyak digunakan dalam berbagai
studi yang telah dilakukan adalah SCC yang sebagian besar berisi senyawa
klorin. Baik klorin maupun rhodin adalah bentuk derivat klorofil yang
teroksidasi yang ditandai dengan putusnya cincin isosiklik (cincin kelima).
Hal ini mengindikasikan dugaan bahwa oksidasi klorofil belum tentu
menurunkan aktivitas biologis klorofil.
Telah dilaporkan bahwa klorofil dan derivatnya memiliki
kemampuan

antimutagenik,

antikarsinogenik,

antioksidan

dan

hipokolesterolemik. Dalam kaitannya dengan pencegahan aterosklerosis


diperlukan

data-data

mengenai

kapasitas

antioksidan

dan

hipokolesterolemik.
Kemampuan hipokolesterolemik dikemukakan oleh Vlad et al
(1995) yaitu pemberian Cuprofilin (kompleks Cu (II)-klorofil) selama 90
hari yang secara nyata dapat menurunkan kadar kolesterol, trigliserida dan
lipida serum darah tikus yang sebelumnya telah memperlihatkan indikasi
terkena aterosklerosis. Selain itu pada aorta tikus yang diberi cuprofilin
juga menampakkan infiltrasi lipid yang berkurang secara nyata. Hal ini
menunjukkan bahwa klorofil atau derivatnya berpengaruh terhadap
metabolisme kolesterol. Penelitian Alsuhendra (2002) menunjukkan
bahwa konsumsi zinkofilin atau seng-feofitin (turunan klorofil yang ion
Mg2+ pada inti porfirinnya telah digantikan oleh Zn2+) pada dosis 100,2
mg/hari/ekor bersama-sama dengan kolesterol 0.1% secara nyata
menurunkan kadar total kolesterol dan LDL serum kelinci New Zealand
White jantan setelah 4 minggu diintervensi. Akibat lebih lanjut adalah
pembentukan plak aterosklerosis aorta kelinci dapat dicegah, sehingga luas
plak yang terbentuk relatif kecil serta frekuensi kejadian relatif rendah.
Dugaan adanya kemampuan derivat klorofil, terutama yang telah
kehilangan gugus fitolnya, berikatan dengan kolesterol adalah berdasarkan
artikel yang ditulis oleh Ma dan Dolphin (1999). Mereka menyebutkan

ditemukannya beberapa ester klorin-kolesterol di sedimen permukaan


danau. Strukturnya memperlihatkan posisi kolesterol menggantikan gugus
fitol dalam berikatan dengan klorin.
C.

KOLESTEROL
Kolesterol merupakan komponen essensial dari membran sel dan
merupakan komponen utama sel-sel otak dan jaringan syaraf (Krause dan
Mahan, 1984). Sedangkan menurut Mayes et al., (1987) kolesterol adalah
produk khas dari metabolisme hewan dan oleh karenanya terdapat dalam
makanan yang berasal dari hewan seperti daging, hati, otak dan kuning telur.
Sebagian besar kolesterol berasal dari sintesis (kira-kira 1 g/hari) sedangkan
sekitar 0.3 g/hari dilengkapi dari konsumsi makanan. Menurut Sitepoe (1993)
bila ditinjau dari sudut kimiawi, kolesterol diklasifikasikan ke dalam golongan
lipid (lemak), berkomponen alkohol steroid, sebagian besar berfungsi sebagai
sumber kalori serta memberikan nilai tambah terhadap cita rasa makanan.
Kolesterol diperlukan oleh tubuh antara lain untuk (a) sintesis
asam/garam empedu yang diperlukan untuk proses pencernaan lemak atau
minyak, (b) sintesis vitamin D dan (c) sebagai komponen membran sel
(Muchtadi, 1996). Page (1989) menyatakan bahwa kolesterol mempunyai
fungsi yang sangat penting dalam tubuh karena tidak hanya merupakan
pembentuk membran sel, tetapi juga merupakan pelopor biosintesa umum
lain, termasuk hormon steroid dan asam empedu. Selanjutnya Muchtadi et al
(1993) menambahkan bahwa kolesterol juga sebagai prekursor dari
pengeluaran asam empedu yang disintesa dalam hati dan berfungsi untuk
menyerap trigliserida (triasilgliserol) dan vitamin larut lemak dari makanan,
serta sebagai prekursor dari hormon steroid, estrogen dan testosteron.
Menurut Martin et al (1984) kolesterol di dalam tubuh manusia dapat
berasal dari dua sumber yaitu dari makanan dan biosintesa de novo. Kolesterol
yang bersumber dari makanan berasal dari bahan pangan hewani. Kolesterol
yang berasal dari makanan memegang peranan penting, karena merupakan
sterol utama didalam tubuh manusia serta komponen permukaan sel dan
membran intraseluler. Biosintesa de novo kolesterol terjadi hampir pada

semua sel yang mengandung nukleus, tetapi yang terbesar terjadi pada hati,
usus, korteks, adrenal dan jaringan reproduktif (Martin et al., 1984). Pada
kondisi normal kolesterol disintesa dalam tubuh sejumlah dua kali dari kadar
kolesterol di dalam makanan yang dimakan (Sitepoe, 1993). Muchtadi et al
(1993) menyatakan bahwa jumlah laju sintesis kolesterol de novo
berhubungan dengan jumlah kolesterol yang berasal dari makanan, jika jumlah
kolesterol di dalam diet meningkat maka sintesis kolesterol dalam hati dan
usus akan menurun, sebaliknya jika jumlah kolesterol dari makanan berkurang
maka sintesis kolesterol di dalam hati dan usus akan meningkat.
Kolesterol yang disintesa diubah menjadi jaringan, hormon dan vitamin
yang kemudian beredar ke dalam tubuh melalui darah (Sitepoe, 1993). Namun
demikian, kolesterol ada yang kembali ke hati untuk diubah menjadi asam
empedu dan garam. Sitepoe (1993) menyatakan bahwa dalam keadaan normal
bila terjadi gangguan konsumsi kolesterol, maka akan terjadi mekanisme
untuk mempertahankan keseimbangan kolesterol dengan semua faktor sebagai
mekanisme pertahanan.
Linder (1992) menyatakan bahwa orang dewasa rata-rata membutuhkan
1.1 gram kolesterol untuk kebutuhan tubuhnya Dari jumlah itu, 25-40% atau
200-300 mg secara normal berasal dari makanan dan selebihnya dari endogen
(biosintesis) terutama oleh hati kemudian oleh usus kecil. Kadar kolesterol
normal dalam plasma pada orang dewasa normal sebesar 3.1 sampai 5.7
mmol/l (120-220 mg/dl). Biasanya kadar kolesterol yang melebihi batas ini
dianggap sebagai hiperkolesterolemia.

Gambar 7. Struktur kimia kolesterol


Menurut Sitepoe (1993), terdapat beberapa faktor yang dapat
menurunkan kolesterol dalam darah. Beberapa faktor tersebut diantaranya

adalah penurunan kalori yang dikonsumsi, penurunan konsumsi lemak jenuh


dan lemak tidak jenuh, penurunan konsumsi kolesterol, pengaruh penurunan
kadar lipoprotein, pengaruh konsumsi serat pangan larut air (SDF) serta akibat
dari beberapa jenis bahan kimia. Beberapa bahan kimia yang diindikasikan
memiliki potensi hipokolesterolemik tersebut adalah sitosterol, niasin, vitamin
C, vitamin E dan karoten.
Adapun mekanisme penurunan kolesterol oleh serat pangan adalah :
kolesterol yang disintesa maupun yang yang berasal dari makanan beredar
dalam darah. Sebagian kolesterol akan diubah menjadi asam empedu, masuk
ke dalam usus dan berubah menjadi feses, kemudian diekskresikan ke luar.
Semakin banyak kolesterol tubuh yang diekskresikan melalui empedu,
semakin banyak pula kolesterol dikurangi dari darah. Hal inilah yang
menyebabkan penurunan kadar kolesterol di dalam darah. Peranan serat
pangan adalah meningkatkan produksi asam empedu dan mengeliminasi ke
dalam usus untuk diekskresikan sebagai feses. Pengaruh serat pangan terhadap
penurunan kadar kolesterol apabila telah terjadi peningkatan kolesterol di
dalam darah. Linder (1992) menyatakan bahwa peningkatan ekskresi asam
empedu dalam feses dapat menyebabkan penurunan kadar kolesterol plasma
sekitar 10-25%.
Orten dan Neuhaus (1975), menyatakan bahwa defisiensi vitamin C dapat
menurunkan produksi asam empedu pada guinea pig. Hal ini akibat dari reaksi
hidroksilasi mikrosom derivat-derivat kolesterol pada lintasan untuk sintesis
asam empedu yang mungkin melibatkan vitamin C. Pada vitamin E, fungsi
yang paling utama adalah sebagai antioksidan dan anti radikal bebas. Bila
defisiensi vitamin E terjadi pada hewan dan manusia, maka akan terjadi proses
oksidasi lipid, terutama peroksidasi antara lain asam-asam lemak tidak jenuh
dan kolesterol dalam membran sel dan ditempat lain dimana ada akumulasi
lemak (Linder, 1992).
Fitosterol merupakan sterol yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan.
Mekanisme kerja fitosterol dalam menurunkan kadar kolesterol di dalam darah
manusia yaitu dengan membentuk kompleks dengan kolesterol diet yang tidak
dapat diserap oleh alat pencernaan. Selain itu juga mengurangi kolesterol

darah dengan jalan mengikatnya dan diekskresikan melalui alat pencernaan


(Sitepoe, 1993).
Menurut Ikeda dan Sugano (1998) bahwa mekanisme fitosterol dalam
menurunkan kolesterol darah yaitu dengan menurunkan kelarutan kolesterol
dalam fase minyak, dan menggantikan kolesterol di asam empedu. Selanjutnya
dibuang ke feses sehingga asam empedu yang terserap sedikit. Oleh karena
itu, dibutuhkan kolesterol darah untuk membuat asam empedu yang pada
akhirnya kolesterol darah mengalami penurunan. Heinemann et al (1991)
menyatakan bahwa sitostanol lebih efisien dalam mengurangi penyerapan
kolesterol dari pada sitosterol. Ditambahkan oleh Becker et al (1993) yang
menunjukkan bahwa 1.5 g/hari sitostanol meningkatkan ekskresi feses dan
asam steroid lebih efisien (88%) dibandingkan dengan sitosterol sebanyak 6
g/hari (45%). Ester sitostanol pada level 2-3 g/hari menunjukkan mengurangi
LDL kolesterol sebesar 10-15% (Nguyen, 1999).
D. SEPARASI PIGMEN
Pemisahan dan pemurnian ekstrak dapat dilakukan dengan menggunakan
salah satu dari empat teknik kromatografi atau gabungan teknik tersebut.
Keempat teknik kromatografi tersebut adalah kromatografi kertas (PC),
kromatografi lapis tipis (TLC), kromatografi gas cair (GLC), dan kromatografi
cairan kerja tinggi (HPLC) (Harborne, 1987). Pada penelitian klorofil untuk
tujuan kualitatif maupun kuantitatif, kromatografi lapis tipis (TLC) dan
kromatografi cairan kerja tinggi (HPLC) sering digunakan , terutama HPLC.
Hal ini karena efisiensi dan dan selektifnya teknik tersebut. Selain itu juga
metode HPLC memungkinkan pemisahan yang cepat dengan resolusi dan
sensitivitas yang tinggi. Keuntungan lainnya yaitu dimungkinkan untuk
mengumpulkan sampel yang telah di elusi dari kolom kromatografi (Nur dan
Adijuwana, 1989).
Meskipun pemisahan senyawa klorofil dengan HPLC lebih banyak
digunakan untuk analisis klorofil, caranya agak rumit (Holden, 1976) sehingga
TLC merupakan cara pilihan. Pemisahan senyawa klorofil dengan TLC telah
dilakukan oleh beberapa peneliti antara lain seperti Daley et al., dan Cavaleiro

dan smith (di dalam Mosquera dan Fernandez, 1989). TLC dapat dilakukan
pada selulosa MN 300 dalam gelap memakai eter minyak bumi-aseton-n
propanol (90:10:0.45) dengan perambatan selama 30 menit (Bacon, 1967).
Identifikasi pigmen setelah dilakukan separasi dengan TLC selulosa, yaitu
dengan menggunakan standar nilai Rf dan panjang gelombang maksimum
seperti yang tertera pada Tabel 3.
Tabel 3. Standar nilai Rf dan posisi relatif tiap-tiap komponen pada plate TLC
selulosa
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.

Komponen
-karoten
Feofitin a
Changed klorofil a-1 bebas Mg
Lutein
Feofitin b
Changed klorofil a-2 bebas Mg
Changed klorofil b-1 bebas Mg
Klorofil a
Violasantin
Klorofil a
Changed klorofil b-2 bebas Mg
Changed klorofil a-1
Klorofil b
Etil klorofilid a
Klorofil b
Changed klorofil a-2
Metil klorofilid a
Changed klorofil b-1
Etil klorofilid b
Neosantin
Feoforbid a
Changed klorofil b-2
Metil klorofilid b
Feoforbid b
Klorofilid a
Klorofilid b
a
Bacon et al (1967) *
b
Stahl (1969) *
* yang dikutip oleh Oktaviani (1987)

Warna
orange, kuning
abu-abu
abu-abu
kuning
kuning
abu-abu
kuning
biru-hijau
kuning
biru-hijau
kuning
biru-hijau
kuning-hijau
biru-hijau
kuning-hijau
biru-hijau
biru-hijau
kuning-hijau
kuning-hijau
kuning
abu-abu
kuning-hijau
kuning-hijau
kuning, coklat
biru-hijau
kuning

Nilai Rf
Ia
IIb
0.98
0.90
0.93
0.73

0.80

0.54

0.60

0.31

0.35

0.18
0.08
0.03
0.01

III. METODOLOGI PENELITIAN


A. BAHAN DAN ALAT
1. Bahan
Bahan baku yang digunakan untuk pembuatan ekstrak adalah daun
suji yang diperoleh dari pekarangan rumah di Bogor. Sebagai pelarut
digunakan Tween 80 dan larutan Tri Na-sitrat dihidrat. Untuk pengujian
kapasitas pengikatan kolesterol secara in vitro diantaranya dipakai enzim
pepsin (P-7000) yang berasal dari mukosa lambung babi dengan aktivitas
enzim 2200 unit/mg protein; enzim pankreatin (P-1750) yang berasal dari
pankreas babi, dengan aktivitas ekuivalen dengan 4X U.S.P; ekstrak bile
(B-8631) yang berasal dari babi dan lipase yang kesemuanya didapat dari
Sigma Chemical Company, USA. Bahan lain yang digunakan juga adalah
kolesterol (Sigma), kit kolesterol, SCC (Sodium Copper Chlorophyllin),
CaCO3, aseton, NaHCO3, aquades, air bebas ion, HCl, plate TLC selulosa
(Merck), petroleum eter, 1-propanol dan diethyl eter serta bahan-bahan
kimia lainnya yang diperoleh dari stock room Departemen Ilmu dan
Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
2. Alat
Alat-alat yang dipergunakan dalam pembuatan ekstrak daun suji
yaitu gunting stainless steel, blender stainless steel, penangas air, kain
saring, sentrifuse besar, aluminium foil, dan botol gelap. Alat-alat untuk
analisis kimia seperti sentrifuse, penangas air bergoyang (shaker
waterbath), Spektrofotometer jenway, vorteks, kuvet kuarsa, pH-meter),
kantung dialisis 6000-8000 MWCO, neraca analitik, kertas label,
refrigerasi, gelas piala, pipet tetes, pipet mohr, gelas ukur, labu takar,
tabung reaksi dan tutup, spatula, serta alat-alat gelas lainnya yang
menunjang dalam kegiatan analisis.

B. METODE PENELITIAN
Penelitian diawali dengan pembuatan ekstrak daun suji dan persiapan
sampel lainnya. Dilanjutkan dengan uji klorofil dan kolesterol terdialisis
secara in vitro dan analisis kadar klorofil serta kadar kolesterol dari tiap fraksi.
1. Pembuatan Ekstrak Daun Suji
Pembuatan ekstrak daun suji mengikuti prosedur Prangdimurti et al
(2005). Proses pembuatan ekstrak daun suji diawali dengan pencucian
daun suji dengan menggunakan air. Daun yang telah dicuci kemudian
dibersihkan dengan lap dan dikering-anginkan. Proses selanjutnya adalah
pemotongan daun suji dalam bentuk yang kecil-kecil dengan ukuran + 1
cm. Potongan daun suji tersebut ditambah larutan Tween 80 0.75% dalam
Na sitrat 12 mM dengan perbandingan 1:10 kemudian dihancurkan atau
diekstrak dengan menggunakan blender selama beberapa menit. Setelah
itu, hancuran daun suji diinkubasi pada suhu 750C selama 30 menit. Proses
berikutnya adalah penyaringan ekstrak daun suji yang masih kasar dengan
menggunakan kain saring. Ampas daun suji dibuang, sedangkan filtratnya
disentrifuse selama 10 menit dengan kecepatan 3500 rpm sehingga
diperoleh ekstrak daun suji.
2. Pembuatan Sampel SCC
Sejumlah SCC dalam bentuk serbuk ditimbang dan kemudian
dilarutkan dengan akuades sehingga diperoleh seri konsentrasi larutan
SCC secara berurut dari 0.10 mM, 0.20 mM, 0.30 mM, 0.40 mM dan 0.50
mM. Kemudian masing-masing konsentrasi tersebut diukur absorbansinya
pada panjang gelombang 652 nm. Berikutnya dibuat kurva standar SCC
untuk mendapatkan konsentrasi SCC yang setara dengan kadar klorofil
ekstrak daun suji. Konsentrasi SCC yang setara dengan kadar klorofil
ekstrak daun suji selanjutnya digunakan sebagai sampel SCC.

Daun Suji
Dicuci
Dikering-anginkan
Dipotong kecil-kecil
Ditimbang
cuci

Tween 80 0.75% dalam


Na-sitrat 12 mM (1:10)

Dihancurkan menggunakan blender


Diinkubasi 75oC, 30 menit
Disaring dengan kain saring
Ampas
Disentrifuse 3500 rpm, 10 menit
Endapan
Ekstrak Daun Suji

Gambar 8. Skema pembuatan ekstrak daun suji


3. Uji Klorofil dan Kolesterol Terdialisis Secara in vitro
a. Persiapan bahan
1. Suspensi pepsin
Pepsin sebanyak 1.6 gram dilarutkan dalam 10 ml 0.1 N HCl.
Suspensi dibuat sewaktu akan digunakan.
2. Pankreatin - bile
Pankreatin sebanyak 1.0 gram dan 6.25 gram ekstrak bile
didispersikan dalam NaHCO3 0.1 M dan ditepatkan volumenya
menjadi 250 ml. Campuran ini dibuat sewaktu akan digunakan.

3. Kantung dialisis
Kantung dialisis yang digunakan adalah Spectrapor I yang
berukuran 6000-8000 MWCO dipotong dengan panjang 15 cm
kemudian direndam dalam air bebas ion sampai akan digunakan.
b. Persiapan sampel
Disiapkan masingmasing sampel sebanyak 100 ml meliputi 2
jenis sampel yaitu ekstrak daun suji dan sampel larutan SCC serta
sebagai kontrol atau pembanding adalah larutan Tween 80 dalam Nasitrat (pelarut ekstrak daun suji).
c. Prosedur
Sampel suji dan SCC masing-masing sebanyak 100 ml mulamula dianalisis kadar klorofil maupun kadar total kolesterolnya (dalam
hal ini fitosterol). Masing-masing sampel diberi dua perlakuan yaitu
tanpa penambahan kolesterol dan dengan penambahan kolesterol
sebanyak 2%. Untuk menyerupai kondisi di lambung, diatur menjadi
pH 2 dengan HCl 4 N dan ditambah pepsin. Selanjutnya larutan
sampel diinkubasi di penangas air bergoyang selama 1 jam pada 370C.
Setelah 1 jam diinkubasi, diambil cuplikan dari fraksi gastric ini.
Berikutnya kantung dialisis yang berisi 20 ml NaHCO3 0.1 M
dimasukkan ke dalam larutan sampel. Kemudian diinkubasi lagi dalam
penangas air bergoyang sampai pH 7 atau kurang lebih selama 30
menit. Setelah larutan sampel mencapai pH 7, maka ditambahkan
larutan pankreatin-bile 5 ml dan lipase sebanyak 0.01 ml. Larutan
sampel tersebut kemudian diinkubasi lagi selama 2 jam dalam
penangas air bergoyang pada suhu 370C. Setelah 2 jam kemudian,
maka dipisahkan antara fraksi digesta dan fraksi dialisat (yang terdapat
dalam kantung dialisis). Masing-masing sampel dari tiap fraksi
kemudian disentrifuse dan disaring dengan penyaring mikro (0.2 m)
untuk mendapatkan filtrat bebas padatan. Selanjutnya masing-masing
fraksi dianalisis kadar klorofil dan kadar kolesterol serta dilakukan

separasi pigmen. Selain itu dilakukan perhitungan persentase klorofil


dan kolesterol terdialisis dengan perhitungan sebagai berikut :
%Klorofil terdialisis = kadar klorofil fraksi dialisat
X 100 %
kadar klorofil fraksi awal (F0)
% Kolesterol terdialisis = kadar kolesterol fraksi dialisat
X 100%
kadar kolesterol fraksi awal+kolesterol (F1)

Gambar 9. Skema pencernaan in vitro

C. PROSEDUR ANALISIS
1. Analisis Kadar Klorofil (Yoshida et al., 1976)
Sampel dihomogenisasi dengan 100 ml aseton 85% dengan
penambahan 0.01 g CaCO3 dan kemudian didiamkan di ruang gelap
selama 1 malam untuk memperoleh kelarutan klorofil yang lebih baik.
Setelah itu disentrifuse dengan 3500 rpm selama 10 menit. Berikutnya
dilakukan pembacaan absorbansi filtrat pada 663,0 nm dan 645,0 nm atau
652 nm. Karena kurva serapan kuantitatif klorofil a dan b dalam aseton
80% saling potong pada 652 nm.
Perhitungan kadar klorofil dilakukan dengan menggunakan rumus:
Total Klorofil (mg/L) = 0.0202 A645.0 nm + 0.00802 A663.0 nm
Klorofil a

= 0.0127 A663.0 nm 0.00269 A645.0 nm

Klorofil b
atau
Total klorofil

= 0.0229 A645.0 nm 0.00468 A663.0 nm


= A652 nm x 1000 /34.5

2. Analisis Total Kolesterol (Randox Kits)


Kadar kolesterol total diukur dengan metode CHOD-PAP dengan
prinsip pengujian secara enzimatis kalorimetri berdasarkan reaksi :
Kolesterol ester + H2O
Kolesterol + O2

kolesterol esterase

kolesterol oksidase

2 H2O2 + fenol+ 4-aminoanthipyrine

kolesterol + asam lemak

kolesterol-3-one + H2O2
peroksidase

red quinine + 4 H2O

Prosedur analisis:
Sampel atau standar diambil sebanyak 0.01 ml dan dicampurkan
dengan 1.00 ml reagent (kit komersial) kemudian dimasukkan ke dalam
tabung lalu dicampurkan sampai homogen. Setelah campuran homogen
kemudian diinkubasi pada suhu 370C selama 5 menit. Setelah itu dibaca
absorbansinya pada panjang gelombang 500 nm. Perhitungan kadar
kolesterol total dilakukan dengan menggunakan rumus :
Kadar kolesterol (mg/dl): [absorbansi sampel] X 200 mg/dl
[absorbansi standar]

3. Separasi Pigmen
Separasi pigmen dilakukan dengan metode TLC menggunakan plate
TLC selulosa (Bacon dan Holden, 1967).

Larutan pengembang yang

digunakan adalah petroleum eter ringan-aseton-n-propanol dengan


perbandingan volume 90:10:0.45. Plate diaktifkan dalam oven bersuhu
105oC selama minimal 45 menit. Ekstrak diteteskan (dispot) pada plate
sebanyak 20 l kemudian dimigrasi dalam ruang gelap
Pigmen yang telah diseparasi dengan plate TLC selulosa akan
membentuk spot-spot terpisah. Identifikasi pigmen setelah dilakukan
separasi dengan TLC selulosa, yaitu dengan menggunakan standar nilai Rf
Tiap spot dicatat nilai Rf-nya dan digambar posisinya, kemudian
dibandingkan dengan nilai standar Rf seperti pada Tabel 3.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. PEMBUATAN EKSTRAK DAUN SUJI
Jenis daun suji yang digunakan pada pembuatan ekstrak daun suji adalah
daun suji tipe minor. Proses pembuatan ekstrak daun suji diawali dengan
pembersihan daun suji dari kotoran dengan cara dicuci menggunakan air
bersih. Daun suji yang telah dibersihkan dan dikeringanginkan kemudian
dipotong kecil-kecil sebesar 1 cm. Hal ini dilakukan untuk memudahkan proses
penghancuran daun suji, sehingga waktu yang dibutuhkan lebih singkat.
Proses penghancuran daun suji dilakukan dengan menggunakan blender
stainless steel. Penggunaan blender jenis tersebut dimaksudkan untuk
meminimalisir klorofil yang terdegradasi oleh cahaya. Karena sifat klorofil
yang sangat rentan terhadap cahaya. Menurut Holden (1976) yang dikutip oleh
Oktaviani (1987) menyatakan bahwa sinar dalam ruangan yang lemah, jika
mengenai klorofil kurang dari satu detik dapat mengakibatkan reaksi
protopigmen. Daun suji diekstrak dengan menggunakan blender.
Daun suji diekstrak dengan menggunakan pelarut Tween-Na sitrat
dengan perbandingan 1: 10 (daun suji : larutan pengekstrak). Penggunaan
larutan pengekstrak tersebut adalah berdasarkan hasil penelitian dari
Prangdimurti et al. (2005). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh
Prangdimurti et al. (2005) tersebut dinyatakan bahwa penggunaan Tween 80
0.75 % dalam larutan Na-sitrat 12 mM dan proses inkubasi pada suhu 75oC
selama 30 menit menghasilkan ekstrak cair yang memiliki kadar klorofil dan
kapasitas antioksidan tertinggi di antara larutan pengekstrak lain yang diuji
(Na2CO3 0-0.5%, NaHCO3 0-0.5%, Tween 80 0-1% dalam larutan Na-sitrat
12 mM).
Fungsi Tween 80 sebagai emulsifier sangat membantu dalam proses
ekstraksi tersebut. Keberadaan Tween 80 diduga membantu klorofil yang
bersifat hidrofobik sehingga dapat tersuspensi dalam air. Penggunaan Nasitrat 12 mM ditujukan untuk meningkatkan aktivitas enzim klorofilase dalam
menghidrolisis rantai fitol. Menurut Sibarani (1994), laju hidrolisis klorofil
dapat ditingkatkan dengan adanya aseton (35%) dan Na- sitrat 12 mM. Tanpa

kehadiran Na-sitrat dalam uji aktivitas enzim klorofilase, aktivitasnya turun


sampai 50% (Lopez et al, 1992). Pelepasan gugus fitol akan mengubah
hidrofobisitas klorofil menjadi hidrofilik (Gross, 1991) dan disinyalir dapat
meningkatkan aktivitas antioksidan klorofil (Ferruzi, 2002).
Daun suji yang telah diekstrak kemudian diinkubasi dalam penangas air
selama 30 menit dengan suhu 750 C. Tahap ini dilakukan untuk mengaktifkan
enzim klorofilase. Aktifitas enzim klorofilase tersebut dapat membantu
menghidrolisis rantai fitol dari klorofil yang membentuk klorofilid. Enzim
klorofilase merupakan jenis enzim esterase yang aktif pada suhu kamar dan
hanya aktif jika ada pelarut-pelarut organik. Menurut hasil penelitian Sibarani
(1994), diperoleh keterangan bahwa suhu optimum enzim klorofilase daun suji
yang diekstrak dengan pelarut organik (aseton) adalah 39oC.

Sedangkan

dalam pelarut air, menurut Isabel et al (1993) fungsi enzim akan optimum
pada kisaran suhu 70oC selama 45 menit.
Garcia et al (1980) dan Lopez et al (1992) melaporkan bahwa pada
selang waktu 30 menit, laju reaksi klorofilase dapat dianggap sebagai laju
awal. Reaksi yang melibatkan enzim klorofilase ini merupakan reaksi yang
berlangsung lambat (Klein dan Vishniac, 1961).

Salah satu faktor yang

mempengaruhi adalah ukuran molekul enzim yang besar sehingga


membutuhkan waktu yang lebih lama agar terjadi interaksi antara substrat dan
molekul enzim (Scopes, 1982). Waktu inkubasi yang lebih lama dapat
menurunkan laju reaksi karena salah satu produk hidrolisis yaitu fitol dapat
bertindak sebagai inhibitor reaksi terutama pada tahap awal berlangsungnya
reaksi sehingga akan terjadi penyimpangan terhadap aktivitas yang diperoleh
(Garcia et al, 1980).
Ekstrak daun suji yang telah diinkubasi kemudian disaring dengan kain
saring 2 lapis. Proses penyaringan ini dilakukan untuk menghasilkan ekstrak
daun suji bebas padatan kasar. Setelah disaring, filtrat yang dihasilkan
kemudian disentrifuse selama 10 menit dengan kecepatan 3500 rpm. Tujuan
dari perlakuan ini adalah untuk memisahkan endapan halus. Filtrat hasil
sentrifuse inilah yang digunakan dalam penelitian ini sebagai ekstrak daun suji.

Dalam penelitian ini, upaya untuk menghindari sinar yang berlebihan


yang akan merusak klorofil dilakukan dengan membungkus wadah dengan
kertas aluminium foil selama proses pembuatan ekstrak.

Demikian pula

penyimpanan ekstrak daun suji ini dalam ruangan yang sejuk dan gelap.
B. PEMBUATAN LARUTAN SCC
Penggunaan larutan SCC (Sodium Copper Chlorophyllin) dalam
penelitian ini dimaksudkan sebagai pembanding untuk larutan ekstrak daun
suji. Telah diketahui bahwa SCC merupakan ekstrak klorofil komersial yang
selama ini dimanfaatkan pada bahan pangan sebagai pewarna maupun
suplemen pangan. SCC memiliki penampakan warna hijau terang yang
berasal dari klorofil alami. Pada umumnya SCC komersial dibuat dari ekstrak
klorofil dengan menggunakan NaOH-metanol dan diikuti dengan penggantian
atom Mg oleh logam seperti Cu.
Pada penelitian ini larutan SCC digunakan sebagai pembanding bagi
ekstrak daun suji. Oleh karena itu, kandungan klorofil di fraksi awal pada SCC
disetarakan dengan kandungan klorofil di fraksi awal pada ekstrak daun suji.
Penentuan konsentrasi SCC perlu dilakukan agar perbedaan kadar klorofil
antara SCC dengan daun suji tidak terlalu jauh.
Penentuan konsentrasi SCC yang memiliki kandungan klorofil awal
setara dengan kandungan klorofil awal dari ekstrak daun suji dilakukan
dengan pembuatan kurva standar SCC. Nilai kadar klorofil awal pada ekstrak
daun suji yang telah diukur kemudian diplotkan pada kurva standar SCC yang
telah dibuat sehingga didapatkan nilai konsentrasi SCC yang setara dengan
kadar klorofil ekstrak daun suji.
Pembuatan kurva standar SCC dengan membuat beberapa konsentrasi
larutan SCC secara berurut dari 0.10 mM, 0.20 mM, 0.30 mM, 0.40 mM dan
0.50 mM. Kemudian masing-masing konsentrasi diukur absorbansinya pada
panjang gelombang 652 nm. Panjang gelombang ini merupakan panjang
gelombang untuk mengukur kadar klorofil. Selain panjang gelombang 652
nm, untuk mengukur klorofil juga bisa digunakan panjang gelombang 645 dan
663 nm. Kurva serapan kuantitatif klorofil a dan b dalam aseton 80% saling

potong pada 652 nm, sehingga jumlah keseluruhan klorofil juga bisa
diperoleh dengan menghitung konsentrasinya pada panjang gelombang 652
nm (Harborne, 1987). Hasil pembacaan absorbansi larutan SCC dan kurva
standar SCC diperlihatkan pada Gambar 10 di bawah ini.

K urva S tandar S C C

Nilai Absorbansi

0 .3 5

y = 0 .5 7 3 x + 0 .0 0 3 1
R 2 = 0 .9 9 4

0 .3
0 .2 5
0 .2
0 .1 5
0 .1
0 .0 5
0
0 .0 0

0 .1 0

0 .2 0

0 .3 0

0 .4 0

0 .5 0

0 .6 0

Konse ntrasi SCC (mM )

Gambar 10. Kurva standar SCC


Berdasarkan kurva standar SCC, ekstrak daun suji memiliki kesetaraan
kadar klorofil dengan SCC 2.35 mM.

Untuk memastikan kesetaraan

konsentrasi SCC sebesar 2.35 mM dengan kadar klorofil awal ekstrak daun
suji maka dilakukan pengukuran kembali kadar klorofil dari SCC dengan
konsentrasi 2.35 mM. Larutan SCC dengan konsentrasi sebesar 2.35 mM
tersebut yang selanjutnya digunakan sebagai sampel larutan SCC dalam
penelitian ini.
C. PROFIL EKSTRAK DAUN SUJI DAN SCC SELAMA PENCERNAAN
IN VITRO
Studi kemampuan pengikatan kolesterol oleh ekstrak daun suji selama
pencernaan diuji dengan simulasi sistem pencernaan menggunakan teknik in
vitro dengan melihat banyaknya klorofil dan kolesterol yang terdialisis ke
dalam kantung. Metode ini dipakai untuk pengukuran ketersediaan Fe.
Banyaknya Fe yang terdialisis berkorelasi positif terhadap Fe yang terserap.

Simulasi sistem pencernaan ini terdiri dari dua fase yaitu fase lambung dan
fase usus halus. Pengujian dilakukan berdasarkan sistem pencernaan in vitro
yang dikembangkan oleh Barbara et al. (1998) dan Ferruzi et al. (2002) yang
telah dimodifikasi dengan penggunaan kantung dialisis sebagai model
penyerapan.
Perlakuan yang diberikan pada penelitian ini adalah sampel dengan
penambahan kolesterol dan tanpa penambahan kolesterol. Kolesterol yang
ditambahkan sebanyak 2% dari sampel yaitu 200 mg. Hal ini berdasarkan
konsumsi kolesterol diet maksimum pada bahan pangan telur. Simulasi sistem
pencernaan pada fase lambung atau fase gastric yaitu dengan mengatur
kondisinya menjadi pH 2 seperti kondisi pH yang terdapat di lambung.
Penambahan asam klorida (HCl 4 N) dilakukan untuk mengatur pH menjadi
pH 2. Selain dengan pengaturan pH, pada fase lambung juga ditambahkan
enzim pepsin. Penambahan enzim ini dilakukan agar sesuai dengan kondisi di
lambung. Kemudian, setelah dilakukan pengaturan pH 2 dan penambahan
enzim pepsin, selanjutnya sampel diinkubasi selama 1 jam pada suhu 370C di
dalam penangas air bergoyang. Proses inkubasi ini dilakukan untuk memberi
kesempatan enzim pepsin bekerja.
Pada fase kedua pencernaan yaitu fase usus halus, simulasi sistem
pencernaannya dimulai dengan netralisasi fase gastric dengan NaHCO3.
Proses netralisasi dilakukan dengan memasukkan kantung dialisis yang telah
berisi NaHCO3 dan kemudian diinkubasi lagi sampai pH sampel di luar
kantung menjadi 7. Proses inkubasi ini berlangsung selama kurang lebih
sekitar 30 menit. Penggunaan kantung dialisis berisi NaHCO3 0.1 M selain
berguna untuk netralisasi digesta secara gradual, juga untuk memperkirakan
permeabilitas klorofil. Prosedur permeabilitas seperti ini telah digunakan
untuk memperkirakan bioavaibilitas senyawa zat besi dalam bahan pangan
dengan menggunakan kantung dialisis 6000-8000 MWCO. Namun, teknik in
vitro yang memiliki korelasi tertinggi untuk memperkirakan tingkat absorbsi
suatu senyawa yaitu dengan menggunakan sel Caco-2 yang ditumbuhkan
pada membran. (Onofrey et al, 2004).

Setelah

proses

netralisasi

berlangsung,

selanjutnya

dilakukan

penambahan enzim pankreatin, lipase dan bile ekstrak serta perlakuan


inkubasi selama 2 jam pada suhu 370C. Penambahan enzim-enzim tersebut
adalah enzim enzim yang terdapat dalam usus.
1. Profil Kadar Klorofil Selama Pencernaan in vitro
Berdasarkan hasil analisis kandungan total klorofil selama
pencernaan in vitro pada ekstrak daun suji maupun SCC dengan perlakuan
tanpa kolesterol dapat dilihat pada Gambar 11 dan 12. Adapun cara
perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 1. Pada perlakuan tanpa
penambahan kolesterol tidak dilakukan perhitungan kadar klorofil pada
fraksi kolesterol karena tidak ada pemberian kolesterol.
3

kadar klorofil (mg/g)

2.5

2.534

2.457

2
1.522 1.45

1.5

1.193

1
0.381

0.5

0.384
0.041

F0

F2
F3
Suji

Gambar 11. Kandungan

F4

F0

F2

F3

SCC

F4

klorofil ekstrak daun suji dan SCC tanpa

perlakuan penambahan kolesterol selama pencernaan in


vitro. Keterangan : F0 = fraksi awal, F2 = fraksi gastric, F3 =
fraksi digesta, F4 = fraksi dialisat

3.5

Kadar Klorofil (m g/g)

2.928 2.882
2.61
2.282

2.5
2

1.489

1.5

1.356

1.181

1
0.5
0

0.14
F0

F1
S uji

F2

F3

F4

0.235

0.107
F0

F1

F2

F3

F4

S CC

Gambar 12. Kandungan klorofil ekstrak daun suji dan SCC dengan
perlakuan penambahan kolesterol selama pencernaan in vitro.
Keterangan : F0 = fraksi awal, F1 = fraksi awal+kolesterol, F2
= fraksi gastric, F3 = fraksi digesta, F4 = fraksi dialisat
Pada fraksi awal baik sampel ekstrak suji maupun sampel SCC
memiliki kadar klorofil yang hampir setara yaitu 2.534 mg/g untuk ekstrak
suji dan 2.457 mg/g untuk larutan SCC. Pengukuran tersebut dilakukan
secara spektrofotometri. Kesetaraan nilai kadar klorofil pada fraksi awal
tersebut didapatkan karena sebelumnya telah dilakukan kesetaraan. Pada
fraksi selanjutnya kadar klorofil mengalami penurunan baik pada
perlakuan pemberian kolesterol maupun tanpa kolesterol. Diduga sebagian
besar klorofil terdegradasi menjadi turunannya. Persentase penurunan
kadar klorofil dari tiap fraksi terhadap fraksi awal secara keseluruhan dapat
dilihat pada Tabel 4 dan cara perhitungannya dapat dilihat pada Lampiran
2.

Tabel 4. Persentase penurunan kadar klorofil terhadap fraksi awal selama


pencernaan in vitro
Sampel

Suji-Fraksi awal (F0)


Suji-Fraksi awal + kolesterol (F1)
Suji-Fraksi gastric (F2)
Suji-Fraksi digesta (F3)
Suji-Fraksi dialisat (F4)
SCC-Fraksi awal (F0)
SCC-Fraksi awal + kolesterol (F1)
SCC-Fraksi gastric (F2)
SCC-Fraksi digesta (F3)
SCC-Fraksi dialisat (F4)

Persentase Penurunan Kadar


klorofil Terhadap Fraksi Awal
(%)
Dengan
Tanpa
Kolesterol
Kolesterol
0
0
12.57
42.95
39.94
54.75
42.78
94.64
84.96
0
0
1.57
96.35
98.33
53.69
51.45
91.97
84.37

Pengaturan kondisi pH 2 pada fase gastric sulit dicapai pada sampel


ekstrak daun suji dibandingkan sampel SCC.

Diduga komponen-

komponen yang terdapat pada sampel ekstrak daun suji memiliki kapasitas
buffer. Akibatnya asam yang harus ditambahkan untuk mengatur kondisi
menjadi pH 2 pada sampel ekstrak daun suji lebih banyak dibandingkan
dengan SCC. Diduga pada kondisi in vivo, hal ini akan memberi efek
positif yaitu menahan degradasi klorofil menjadi feofitin.
Pada fraksi gastric atau fraksi lambung, kadar klorofil ekstrak daun
suji mengalami penurunan berkisar 39-42% dari kadar klorofil fraksi awal.
Diduga sebagian besar klorofil terdegradasi menjadi turunannya akibat
perlakuan pemberian HCl dan pepsin. Kondisi asam pada pH 2 tersebut
sangat mempercepat degradasi klorofil. Perubahan klorofil menjadi
turunannya ditandai dengan perubahan warna yang semakin coklat.
Perubahan warna menjadi sangat jelas terlihat pada sampel ekstrak daun
suji dibandingkan sampel larutan SCC. Diduga klorofil berubah menjadi
feofitin. Perubahan ekstrak daun suji selama pencernaan dapat dilihat pada
Gambar 13.
Menurut hasil penelitian Ferruzi et al (2001), dikatakannya bahwa
hanya dalam waktu jam pada fase lambung (pH 2) lebih dari 95%

kandungan klorofil dari pure daun bayam segar menjadi bentuk


feofitinnya. Selanjutnya feofitin dimetabolisme oleh mikroflora usus antara
lain menjadi feoforbid.

Gambar 13. Ekstrak daun suji selama pencernaan in vitro


A = fraksi awal, B = fraksi gastric, C = fraksi digesta, D =
fraksi dialisat
Menurut Gross (1991), feofitin adalah klorofil bebas magnesium.
Feofitin a dan b secara mudah didapat dari klorofil dengan perlakuan
asam, sehingga melepaskan magnesium. Dalam asam lemah ion Mg yang
ada dalam klorofil akan disubstitusi oleh ion H+ yang akan menyebabkan
berubahnya warna hijau menjadi coklat yaitu warna feofitin. Di samping
itu, pengaruh pemanasan akan menyebabkan denaturasi protein sehingga
memudahkan terjadinya reaksi terhadap gugusan fitol, yang bila bereaksi
dengan asam mengakibatkan terlepasnya fitol dari molekul klorofil
(Hutchings, 1994).
Pengaruh pH lambung pada perubahan klorofil menjadi feofitin
selama fase gastric dalam sistem pencernaan telah dikemukakan oleh
Ferruzi et al (2001). Berdasarkan penelitiannya dengan menggunakan
pure bayam segar diketahui bahwa kandungan awal klorofil a dari pure
bayam segar tersebut adalah sekitar 77% dan klorofil b sekitar 23%
(Gambar 6). Dengan perlakuan pH 2 ternyata keduanya berubah menjadi
feofitin a dan b dengan persentase masing-masing 70% dan 30%.

Kemudian pada pH 4 kecenderungan klorofil a dan b stabil dengan


persentase klorofil a 72% dan klorofil b 22% sedangkan sisanya adalah
feofitin a dan feofitin b. Pada perlakuan pH 6, selama pencernaan klorofil
a dan klorofil b relatif stabil. Hal ini menunjukkan bahwa klorofil sensitif
terhadap kondisi asam.
Berbeda dengan ekstrak daun suji, pada larutan SCC penurunan
kadar klorofil pada fase gastric sangat tajam sekali yaitu 96-98%. Hal
tersebut tampak sekali pada Gambar 14 yang memperlihatkan perubahan
warna dari larutan SCC selama pencernaan in vitro. Penurunan kadar
klorofil yang sangat rendah ini mungkin disebabkan karena kondisi asam
yang terjadi. Kondisi yang sangat asam tersebut tidak mengakibatkan
perubahan kadar klorofil secara keseluruhan menjadi feofitin. Hal ini bisa
dibuktikan dengan naiknya kembali kadar klorofil pada fraksi digesta.
Kondisi yang terjadi pada fraksi gastric di SCC adalah terjadinya gumpalan
klorofil yang bersifat reversible dimana gumpalan tersebut dapat larut
kembali pada pH usus di fraksi digesta (Gambar 14). Pengukuran kadar
klorofil maupun kolesterol dilakukan secara spektrofotometri. Untuk itu
dilakukan tahap sentrifuse dan penyaringan sebelum pengukuran. Dengan
kata lain yang diukur adalah kadar klorofil yang terlarut. Pada fraksi
gastric setelah disentrifuse dan disaring berwarna bening, sedangkan fraksi
digesta kembali berwarna hijau. Oleh karena itu, kadar klorofil pada fraksi
gastric tersebut rendah. Kemungkinan yang terjadi pada larutan SCC fraksi
gastric tersebut adalah terbentuknya garam NaCl dari HCl dan SCC yang
mengandung Natrium sehingga mengalami pengendapan.

Gambar 14. Larutan SCC selama pencernaan in vitro


A = fraksi awal, B = fraksi gastric, C = fraksi digesta, D =
fraksi dialisat
Setelah melalui fase lambung, digesta kemudian dinetralisasi secara
gradual oleh NaHCO3 yang berdifusi keluar kantung. Kondisi netral
tercapai setelah 1 jam diinkubasi bergoyang. Setelah kondisi netral tercapai
digesta kemudian diberi enzim pankreatin, ekstrak bile dan lipase.
Netralisasi diperlukan agar enzim-enzim pankreatin dapat bekerja optimum
seperti halnya yang terjadi didalam tubuh. Pada fase intestinal ini,
degradasi klorofil masih tetap berlangsung hingga sekitar 44-56% dari
fraksi awal. Namun, persentasenya lebih kecil dibandingkan dengan fase
gastric yaitu sekitar 20.68% dari kandungan klorofil fase lambung.
Penurunan masih tetap terjadi diduga karena perlakuan inkubasi.
Studi mengenai stabilitas SCC dalam pencernaan secara in vitro
telah dilakukan oleh Ferruzi et al (2002). Dari studi tersebut diketahui
bahwa Cu(II)klorin e4 merupakan komponen utama dalam fraksi digesta.
Cu(II)klorin e6 memiliki kestabilan yang rendah selama pencernaan,
namun dapat ditingkatkan kestabilannya apabila berada dalam matriks
saus apel. Hal ini diduga karena adanya antioksidan lain dan matriks apel
yang melindungi keberadaannya.

Pada fraksi dialisat, kadar klorofil yang terhitung menunjukkan


adanya penyerapan klorofil dan derivatnya dalam kantung dialisis sebagai
model penyerapan. Kadar klorofil terdialisis dari ekstrak daun suji
perlakuan tanpa kolesterol hampir sama dengan kadar klorofil SCC
terdialisis yaitu sebesar 0.38 mg/g (Gambar 11).

Sedangkan pada

perlakuan dengan penambahan kolesterol kadar klorofil ekstrak daun suji


yang terdialisis lebih rendah bila dibandingkan dengan kadar klorofil
terdialisis dari SCC (Gambar 12). Apabila dibandingkan kadar klorofil
yang terdialisis dari ekstrak daun dengan perlakuan tanpa kolesterol dan
dengan perlakuan penambahan kolesterol diperoleh keterangan bahwa
kadar klorofil yang terdialisis dari ekstrak daun suji dengan perlakuan
penambahan kolesterol lebih sedikit. Rendahnya kadar klorofil terdialisis
dari ekstrak daun suji pada perlakuan dengan penambahan kolesterol
diduga karena adanya interaksi antara klorofil ekstrak daun suji dan
kolesterol. Selain itu kemungkinan ekstrak daun suji memiliki komponen
yang bisa mengikat kolesterol dibandingkan dengan SCC. Sedikitnya kadar
klorofil yang terhitung menunjukkan bahwa tidak semua klorofil dan
derivatnya terserap oleh kantung dialisis.
2. Profil Kadar Kolesterol Selama Pencernaan in vitro
Selama proses pencernaan in vitro juga dilakukan pengamatan
terhadap kadar kolesterol sampel dari tiap-tiap fase. Analisis dilakukan
dengan menggunakan kit kolesterol dan kandungan kolesterol dihitung
berdasarkan metode spektrofotometri pada panjang gelombang 500 nm.
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kandungan
kolesterol terdialisis. Profil kadar kolesterol selama pencernaan in vitro
baik pada perlakuan tanpa kolesterol maupun dengan penambahan
kolesterol dapat dilihat pada Gambar 15 dan 16 dibawah ini.

Kadar kolesterol (mg/dl)

60
48.467

50
40.356
40

35.017
30.663

30

26.113

20
10
0

6.33

F0

F2

F3

F4

3.759

F0

F2

Suji

1.387

F3

F4

SCC

Gambar 15. Perubahan kadar kolesterol ekstrak daun suji dan SCC dengan
perlakuan tanpa penambahan kolesterol selama pencernaan in
vitro. Keterangan : F0 = fraksi awal, F2 = fraksi gastric, F3 =
fraksi
digesta, F4 = fraksi dialisat
300
257.567

Kadar Kolesterol (m g/dl)

250

235.608

200
150

124.629

109.792

100
50
0

55.489

32.938

46.291

46.291
3.561

F0

F1

F2
S uji

F3

F4

F0

F1

F2

F3

F4

S CC

Gambar 16. Perubahan kadar kolesterol ekstrak daun suji dan SCC dengan
perlakuan penambahan kolesterol selama pencernaan in vitro.
Keterangan : F0 = fraksi awal, F1 = fraksi awal+kolesterol, F2
= fraksi gastric, F3 = fraksi digesta, F4 = fraksi dialisat

Berdasarkan hasil analisis seperti yang ditampilkan pada Gambar


15 dan 16 di atas, diperoleh keterangan bahwa baik sampel ekstrak daun
suji maupun sampel larutan SCC keduanya menunjukkan adanya kolesterol
pada fase awal. Hal ini tampaknya tidak logis karena kedua sampel baik
ekstrak daun suji maupun SCC termasuk golongan nabati yang
diidentifikasi tidak mengandung kolesterol. Namun, kit kolesterol dapat
digunakan untuk

menghitung fitosterol (Moreau, 2003). Karena itu,

diduga tingginya kadar kolesterol dari kedua sampel adalah karena adanya
fitosterol yaitu sejenis steroid yang terdapat pada tanaman atau nabati.
Dugaan terhadap adanya kandungan fitosterol dalam ekstrak daun suji
dicoba diamati dengan menganalisis kandungan fitosterol dalam daun suji.
Hasil analisis kandungan fitosterol dalam ekstrak daun suji yang dilakukan
dengan metode spektrofotometri membuktikan adanya kadar fitosterol
dalam ekstrak tersebut. Walaupun begitu, nilai absorbansi yang dihasilkan
lebih rendah bila dibandingkan dengan sampel uji lainnya yaitu bayam dan
kangkung (data tidak dicantumkan).

Hal ini menunjukkan bahwa

kandungan fitosterol dalam ekstrak daun suji sebenarnya tidak terlalu


tinggi dibandingkan daun hijau lain.
Pada fraksi gastric dari sampel perlakuan tanpa kolesterol baik
pada ekstrak daun suji maupun SCC juga diduga yang terukur adalah
komponen fitosterol.

Sedangkan pada sampel dengan perlakuan

penambahan kolesterol pada fraksi awal+kolesterol (F1), terdapat dua


kemungkinan yang terukur yaitu kolesterol yang telah ditambahkan dan
juga komponen fitosterol yang mungkin ada. Namun, nilai kadar kolesterol
fraksi F1 pada ekstrak daun suji lebih tinggi dibandingkan pada larutan
SCC. Hal ini karena kolesterol susah larut dalam larutan SCC karena
pelarut SCC adalah air, sehingga ketika mengalami sentrifuse dan
penyaringan sebelum di ukur kadar kolesterolnya banyak kolesterol yang
tidak larut sehingga tidak terukur. Oleh karena itu nilai kadar kolesterol
pada F0 dan F1 dari larutan SCC perlakuan dengan penambahan kolesterol
hampir sama (Gambar. 16). Selain itu juga, rendahnya kadar kolesterol
pada fraksi gastric setelah diberi penambahan kolesterol kemungkinan

akibat kondisi yang asam ataupun juga belum terhidrolisisnya kolesterol.


Berbeda dengan yang terjadi pada sampel ekstrak daun suji, dimana nilai
kadar kolesterol yang terukukr pada F1 lebih tinggi. Hal ini karena
kolesterol mudah larut dalam pelarut ekstrak daun suji karena pelarutnya
Tween 80 dalam Na sitrat merupakan emulsifier.
Pada fraksi digesta, nilai kadar kolesterol dari kedua sampel baik
pada perlakuan tanpa kolesterol maupun dengan penambahan kolesterol
meningkat tajam. Hal ini diduga karena adanya pemberian ekstrak bile
pada fase digesta, sehingga meningkatkan kadar kolesterol yang terukur.
Jadi, pada sampel tanpa perlakuan penambahan kolesterol, kolesterol yang
terukur adalah hanya yang berasal dari ekstrak bile.
Adanya kandungan kolesterol pada fraksi dialisat menunjukkan
adanya kemungkinan penyerapan kolesterol atau fitosterol dari digesta ke
dalam kantung dialisis. Pada fraksi dialisat dari sampel ekstrak daun suji
tanpa perlakuan penambahan kolesterol, terdapat kadar kolesterol yang
terserap dalam kantung dialisis. Sebenarnya yang terukur dan terserap
dalam kantung tersebut kemungkinan adalah ekstrak bile atau komponen
fitosterol, bukan kolesterol. Begitu juga yang terjadi pada larutan SCC.
Perbedaan nilai terdialisis dari sampel ekstrak daun suji dan SCC, dimana
SCC lebih rendah nilainya kemungkinan adalah perbedaan komponen
fitosterol pada kedua sampel. Pada fraksi dilaisat dari sampel ekstrak daun
suji dengan perlakuan penambahan kolesterol tidak terdapat kadar
kolesterol yang terukur. Berarti tidak terdapat kolesterol yang terdialisis ke
dalam

kantung. Tetapi pada sampel larutan SCC, walaupun nilainya

rendah tetap ada kadar kolesterol yang terukur.


3. Persentase Klorofil dan Kolesterol Terdialisis Secara in vitro
Banyaknya

klorofil

yang

terdialisis

dapat

menggambarkan

banyaknya klorofil yang terserap. Hal ini seperti apa yang telah dilakukan
terhadap bioavaibilitas Fe.

Proses penyerapan klorofil digambarkan

dengan simulasi kantung dialisis sebagai model usus.

Klorofil dan

derivatnya yang terdapat di fraksi digesta akan masuk ke dalam kantung

dialisis. Semakin banyak klorofil yang dapat masuk (lolos) ke dalam


kantung dialisis diduga berkolerasi positif dengan tingkat penyerapan
klorofil. Dalam eksperimen ini, estimasi kasar tingkat penyerapan klorofil
dilakukan dengan mengukur kadar klorofil dalam kantung dialisis terhadap
kadar klorofil ekstrak awal yang telah dikoreksi dengan masing-masing
pelarut (Lampiran 3). Rata-rata persentase klorofil terdialisis disajikan
pada Tabel 5.
Tabel 5. Rata-rata persentase klorofil terdialisis
Sampel
Suji
SCC

Perlakuan (%)
Tanpa Kolesterol (-)
Dengan kolesterol (+)
5.76
19.78

4.74
8.05

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh keterangan bahwa rata-rata


klorofil terdialisis sampel ekstrak daun suji dari kedua perlakuan 5-6%.
Klorofil terdialisis lebih tinggi pada perlakuan tanpa kolesterol
dibandingkan dengan perlakuan dengan penambahan kolesterol.
Pada perlakuan tanpa kolesterol, diketahui bahwa rata-rata
persentase klorofil terdialisis ekstrak daun suji sebesar 5.76 %. Hal ini
sesuai dengan yang dinyatakan oleh Ferruzi et al bahwa penyerapan
derivat-derivat klorofil dari pure bayam berkisar 5-10 %. Namun, pada
penelitian Ferruzi tersebut untuk melihat penyerapannya digunakan sel
Caco-2 sebagai model sel enterosit manusia.
Adapun persentase SCC terdialisis dengan perlakuan tanpa
kolesterol lebih tinggi dibanding suji yaitu rata-rata sekitar 19 %. Nilai
signifikansi perbedaan klorofil terdialisis ekstrak daun suji dan SCC lebih
kecil dari 0.05 (p<0.05) (Lampiran 4). Hal ini menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan secara nyata klorofil terdialisis dari kedua sampel.
Berdasarkan hasil penelitian Ferruzi et al (2002) tentang studi absorbsi
menggunakan SCC, dikemukakan bahwa SCC yang terserap dalam sel
sebesar 45-60%. Penelitian tersebut juga masih menggunakan sel Caco-2
untuk melihat tingkat penyerapannya. Tingginya klorofil SCC yang

terdialisis dibandingkan klorofil dari ekstrak daun suji diduga akibat


kelarutan SCC yang tinggi dalam digesta karena adanya komponen polar
dalam SCC sehingga memudahkan klorofil terdialisis.
Pada perlakuan dengan penambahan kolesterol, nilai klorofil
terdialisis kedua sampel yaitu ekstrak daun suji dan SCC tampak menurun
bila dibandingkan perlakuan tanpa kolesterol. Namun, setelah diolah
secara statistik, klorofil dari ekstrak daun suji dengan penambahan
kolesterol tidak berbeda bila dibandingkan dengan ekstrak daun suji tanpa
kolesterol (p>0.05). Hal tersebut menunjukkan dugaan bahwa klorofil
ekstrak daun suji kurang mampu mengikat kolesterol.
Klorofil terdialisis yang terjadi pada SCC dengan penambahan
kolesterol lebih rendah dibandingkan SCC tanpa kolesterol (p<0.05). Hal
ini menunjukkan bahwa dengan adanya penambahan kolesterol terjadi
perbedaan secara nyata klorofil terdialisis dari SCC ke dalam kantung
dialisis. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa komponen klorofil SCC
diduga mampu mengikat kolesterol. Kemungkinan komponen klorofil dan
derivatnya dari sampel SCC berinteraksi atau berikatan dengan kolesterol
sehingga berat molekulnya menjadi lebih besar. Hal ini menyulitkan
klorofil terdialisis ke dalam kantung dialisis, akibatnya klorofil yang
terdialisis lebih sedikit. Berbeda halnya dengan perlakuan tanpa kolesterol,
karena tidak adanya kolesterol maka tidak ada ikatan antara kolesterolklorofil sehingga klorofil lebih banyak terdialisis.
Dugaan adanya kemampuan derivat klorofil, terutama yang telah
kehilangan gugus fitolnya, berikatan dengan kolesterol adalah berdasarkan
artikel yang ditulis oleh Ma dan Dolphin (1999). Mereka menyebutkan
ditemukannya beberapa ester klorin-kolesterol di sedimen permukaan
danau. Strukturnya memperlihatkan posisi kolesterol menggantikan gugus
fitol dalam berikatan dengan klorin. SCC merupakan derivat klorofil yang
telah kehilangan gugus fitol, sehingga kemampuan mengikat kolesterol
lebih besar. Hal tersebut dibuktikan dengan jumlah klorofil terdialisis dari
SCC berbeda nyata. Pada ekstrak suji diduga belum banyak kehilangan

gugus fitol, oleh karena itu kemampuan mengikat kolesterol lebih kecil
dari SCC sehingga jumlah klorofil terdialisis tidak berbeda.
Nilai klorofil terdialisis ekstrak daun suji dengan perlakuan
penambahan kolesterol lebih rendah bila dibandingkan dengan SCC
terdialisis dengan penambahan kolesterol. Namun, perbedaan tersebut
menghasilkan nilai signifikansi lebih besar dari 0.05 (p>0.05). Artinya
bahwa perbedaan klorofil terdialisis antara ekstrak daun suji dengan
perlakuan

penambahan

kolesterol

dan

SCC

dengan

perlakuan

penambahan kolesterol tidak berbeda secara nyata. Perbedaan klorofil


terdialisis dari kedua sampel karena adanya perbedaan komponen dari
kedua sampel.
Untuk melihat tingkat kemampuan pengikatan kolesterol oleh
ekstrak daun suji, maka perlu dilihat seberapa besar kolesterol terdialisis
dari sampel. Persentase kolesterol terdialisis dari masing-masing sampel
dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Persentase kolesterol terdialisis
Ulangan
ke1
0
2
0
Rata-rata 0

Suji

Sampel (%)
SCC
4.97
2.86
3.92

Pelarut Suji
109.7
114.3
112

Berdasarkan data Tabel 6 di atas tentang kolesterol terdialisis, maka


diperkirakan bahwa pada sampel ekstrak daun suji tidak terdapat
kolesterol maupun fitosterol terdialisis dalam kantung dialisat. Sedangkan
pada SCC, kolesterol dan fitosterol terdialisis ke dalam kantung dialisis
rata-rata sebesar 3.92%. Adapun nilai kolesterol terdialisis pada sampel
pelarut suji sangat besar dibandingkan suji ataupun SCC yaitu lebih dari
100 % yaitu 112 %. Dari data ini bisa diambil kesimpulan bahwa
rendahnya kolesterol terdialisis dari ekstrak daun suji dan SCC diduga
karena adanya suatu komponen yang terdapat pada ekstrak daun suji dan
SCC yang mampu menahan kolesterol tedialisis. Diduga karena peran

fitosterol dari ekstrak daun suji dan SCC berikatan kompleks dengan
kolesterol.
Berdasarkan data klorofil terdialisis ekstrak daun suji yang tidak
berbeda nyata, maka diduga kemampuan pengikatan kolesterol oleh
ekstrak daun suji

adalah karena peran fitosterol bukan klorofil.

Sedangkan pada SCC yang berperan adalah fitosterol dan klorofil, karena
berdasarkan data klorofil terdialisis SCC berbeda nyata. Berdasarkan hal
tersebut, maka SCC lebih berpotensi menahan kolesterol terdialisis.
Namun, berdasarkan data kolesterol terdialisis oleh ekstrak daun suji lebih
rendah dibandingkan SCC, meski lebih rendah tapi tidak berbeda
dibandingkan tanpa kolesterol.
berpotensi

menahan

Maka diduga ekstrak daun suji lebih

penyerapan

kolesterol

dibandingkan

SCC.

Kemungkinan jenis fitosterol pada ekstrak daun suji berbeda dengan SCC
sehingga berbeda terhadap kapasitas pengikatan kolesterol.

D. SEPARASI PIGMEN
Separasi pigmen dilakukan hanya pada sampel ekstrak daun suji.
Separasi dilakukan terhadap masing-masing fase. Tidak dilakukannya separasi
pigmen pada sampel SCC, karena pada awal penelitian, ditemukan bahwa
SCC tidak dapat bermigrasi dalam plate TLC. Hal ini mungkin disebabkan
karena SCC merupakan larutan polar. Komponen yang teridentifikasi pada
sampel ekstrak daun suji fase awal diduga adalah klorofil a, lutein, feofitin a
dan beta karoten (Lampiran 5). Gambar separasi pigmen dapat dilihat pada
Lampiran 6.
Pembentukan feofitin pada fase awal sesuai dengan yang dikemukakan
oleh Bacon et al (1967) yang dikutip oleh Oktaviani (1987), bahwa perubahan
klorofil yang segera terjadi sebagai akibat dari pemanasan adalah
pembentukan feofitin. Pemanasan tersebut mungkin akibat dari perlakuan
inkubasi enzim pada waktu proses ekstraksi. Pada fase awal ini feofitin a telah
terbentuk sedangkan feofitin b belum teridentifikasi kemunculannya. Hal ini
sesuai dengan apa yang dilaporkan oleh beberapa peneliti bahwa klorofil a
lima sampai sepuluh kali lebih cepat berubah menjadi feofitin a dibandingkan

dengan kecepatan perubahan klorofil b menjadi feofitin b. Dalam pelarut


aseton, pelepasan magnesium dari klorofil a lebih cepat sembilan kali lipat
dibandingkan dengan klorofil b.
Lutein yang teridentifikasi pada fase awal berwarna kuning dan
memiliki nilai Rf 0.929. Lutein termasuk dalam golongan karotenoid. Lutein
berperan sangat penting dalam melindungi mata. Seperti -karoten, lutein juga
merupakan antioksidan yang dapat melindungi tubuh dari serangan radikal
bebas.

Namun, lutein tidak ditemukan dalam konsentrasi tinggi di sayuran

kuning/orange seperti wortel.


Komponen yang juga teridentifikasi dari sampel ekstrak daun suji pada
fase awal adalah -karoten. Berdasarkan Tabel 3, -karoten pada plate TLC
selulosa memiliki warna orange- kuning dengan nilai Rf 0.98. Pada penelitian
ini, -karoten memiliki nilai Rf berkisar 0.97 1.00 dengan warna orange atau
kuning.
-karoten termasuk golongan karotenoid.

Karotenoid adalah suatu

kelompok pigmen yang berwarna kuning, oranye atau merah-oranye,


mempunyai sifat larut lemak atau pelarut organik lain, tetapi tidak larut dalam
air (Muchtadi, 2000). Sayur-sayuran dan buah-buahan yang berwarna hijau
atau kuning biasanya banyak mengandung karoten.
Menurut Winarno (1997), karotenoid terdapat dalam kloroplas (0.5%)
bersama-sama dengan klorofil (9.3 %), terutama pada bagian permukaan atas
daun, dekat dengan dinding sel-sel palisade.

Karotenoid tidak selalu

berdampingan dengan klorofil, tetapi sebaliknya klorofil selalu disertai oleh


karotenoid.

Pada saat klorofil dan turunan-turunannya telah terdegradasi,

karotenoid mulai muncul. Hal ini terlihat dengan jelas pada daun hijau yang
mulai layu, maka warnanya berubah menjadi kuning.
Beberapa diantaranya juga teridentifikasi adanya pigmen changed
klorofil b-1 bebas Mg dan changed klorofil a-1 bebas Mg pada fase awal
ekstrak daun suji. Bentuk changed klorofil a-1 dan b-1 diduga adalah bentuk
isomer optis dari changed klorofil a-2 dan b-2. Sampai sekarang belum
diketahui struktur yang tepat dari changed klorofil. Dari berbagai uji yang
dilakukan oleh beberapa peneliti akhirnya diduga bahwa changed klorofil

adalah turunan klorofil yang mengalami penggantian pada atom C10 dengan
gugus hidroksi (Strain, 1954 & Bacon et al, 1967 yang dikutip oleh Oktaviani
(1987)). Dengan adanya gugus hidroksi ini changed klorofil menjadi lebih
polar dari klorofil, sehingga memiliki nilai Rf yang lebih rendah pada selulosa
yang merupakan adsorben polar.
Hasil separasi pigmen dan identifikasi pigmen pada fase gastric
menunjukkan bahwa klorofil a dan klorofil b dari ekstrak daun suji telah
terdegradasi. Pada fase gastric, pigmen yang

teridentifikasi diantaranya

adalah lutein, feofitin a dan feofitin b serta beta karoten. Terdapatnya feofitin
a dan feofitin b pada fase ini diduga karena pengaruh dari perlakuan asam
pada pH 2 yang ada di lambung. Hal tersebut sesuai yang dilaporkan bahwa
feofitin merupakan derivat klorofil bebas magnesium yang mudah didapat dari
klorofil dengan perlakuan asam, sehingga melepaskan magnesium. Reaksi
terjadi 1 sampai 2 menit dan konsentrasi HCl yang digunakan 13 %. Seperti
yang dilaporkan oleh Mac Kinney dan Joslyn (1938) bahwa kecepatan
pembentukan feofitin merupakan reaksi ordo pertama terhadap konsentrasi
asam.
Pigmen yang teridentifikasi pada fase ketiga yaitu fase digesta adalah
changed klorofil b-1 bebas Mg, changed klorofil a-1 bebas Mg, changed
klorofil b-2 bebas Mg, feofitin a dan b, lutein serta beta karoten. Pada fase
akhir yaitu fase dialisat, tidak terdapat satu pigmenpun yang teridentifikasi.
Hal ini diduga karena pada fase dialisat mungkin pigmen yang ada adalah
pigmen yang polar, sehingga tidak terbaca pada plate TLC. Hal seperti ini
juga terjadi pada sampel SCC.
Klorofilid yang diharapkan ada, ternyata tidak terbentuk (tidak
teridentifikasi pada TLC). Padahal pada saat pengujian klorofil, kadar klorofil
yang ditunjukkan oleh absorbansi fase aseton cukup tinggi. Kemungkinan ini
disebabkan adanya Tween 80 yang merupakan emulsifier yang dapat
membantu

kelarutan

klorofil

(Prangdimurti et al., 2005)

sehingga

larut

dalam

pelarut

aseton

Hal ini juga menimbulkan dugaan enzim

klorofilase belum berperan (aktivitasnya rendah) dalam ekstrak daun suji.

Larutan Na-sitrat 12 mM yang diharapkan dapat meningkatkan aktivitas


enzim klorofilase, belum memperlihatkan efeknya meskipun dilakukan
inkubasi pada suhu optimum bagi enzim klorofilase (suhu 65-75 oC) selama
45 menit. Dengan kurang aktifnya enzim klorofilase, rantai fitol klorofil tidak
dapat terhidrolisis sehingga klorofil a maupun b tidak berubah menjadi
klorofilid.
Pada fase awal sampai fase digesta diketahui bahwa beta karoten dan
lutein selalu teridentifikasi keberadaanya. Pada ekstrak daun suji, -karoten
dan lutein muncul pada kromatogram, karena sebelumnya tidak dilakukan
pemisahan lebih dahulu untuk menghilangkan senyawa karotenoid. Senyawa
karotenoid memang larut dalam lemak, namun dengan adanya Tween 80 dapat
membantu karotenoid sehingga dapat larut dalam pelarut air (larutan Nasitrat). Dengan demikian, karotenoid juga ikut dalam ekstrak daun suji.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis kandungan total klorofil selama pencernaan
in vitro pada ekstrak daun suji maupun SCC dengan perlakuan tanpa
kolesterol dan perlakuan penambahan kolesterol bisa disimpulkan bahwa
kandungan total klorofil mengalami penurunan selama proses pencernaan in
vitro dari fase awal sampai fase dialisat. Hasil perhitungan klorofil terdialisis
diperoleh keterangan bahwa klorofil terdialisis ekstrak daun suji lebih rendah
bila dibandingkan SCC baik dengan perlakuan tanpa kolesterol maupun
dengan penambahan kolesterol. Pada perlakuan tanpa kolesterol, diketahui
bahwa rata-rata persentase klorofil terdialisis ekstrak daun suji sebesar 5.76
%. Adapun persentase klorofil terdialisis dari SCC dengan perlakuan tanpa
kolesterol lebih tinggi (p<0.05) dibanding suji yaitu rata-rata sekitar 19 %.
Pada perlakuan dengan penambahan kolesterol, nilai klorofil
terdialisis kedua sampel yaitu ekstrak daun suji dan SCC tampak menurun bila
dibandingkan perlakuan tanpa kolesterol. Namun,

secara statistik tidak

terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.05). Klorofil terdialisis yang terjadi


pada SCC perlakuan penambahan kolesterol lebih rendah bila dibandingkan
SCC tanpa kolesterol. (p<0.05). Nilai klorofil terdialisis ekstrak daun suji
perlakuan penambahan kolesterol tidak berbeda bila dibandingkan dengan
klororfil terdialisis dari SCC penambahan kolesterol (p>0.05).
Rendahnya nilai klorofil terdialisis dengan perlakuan penambahan
kolesterol dibandingkan perlakuan tanpa kolesterol diduga bahwa ada
kemungkinan komponen klorofil dan derivatnya dari sampel berinteraksi atau
berikatan dengan kolesterol sehingga berat molekulnya menjadi lebih besar.
Hal ini menyulitkan klorofil terdialisis ke dalam kantung dialisis, akibatnya
klorofil yang terdialisis lebih sedikit.
Hasil analisis pada fase awal dari sampel ekstrak daun suji maupun
sampel larutan SCC diketahui keduanya menunjukkan adanya fitosterol.
Berdasarkan hasil kolesterol terdialisis, maka bisa disimpulkan bahwa pada
sampel ekstrak daun suji, tidak terdapat kolesterol yang terdialisis dalam

kantung dialisat (0%). Sedangkan pada SCC, kolesterol yang terdialisis oleh
kantung dialisis rata-rata sebesar 3.92%. Adapun kolesterol terdialisis pada
sampel pelarut suji sangat besar dibandingkan suji ataupun SCC. Dari data ini
dapat disimpulkan bahwa komponen yang terdapat pada ekstrak daun suji
maupun SCC mampu menahan kolesterol terdialisis.
Berdasarkan data klorofil terdialisis ekstrak daun suji yang tidak
berbeda nyata, maka diduga kemampuan pengikatan kolesterol oleh ekstrak
daun suji adalah karena peran fitosterol bukan klorofil. Sedangkan pada SCC
yang berperan adalah fitosterol dan klorofil, karena berdasarkan data klorofil
terdialisis SCC berbeda nyata. Berdasarkan hal tersebut, maka SCC lebih
berpotensi menahan kolesterol terdialisis. Namun, berdasarkan data kolesterol
terdialisis oleh ekstrak daun suji lebih rendah dibandingkan SCC, meski lebih
rendah tapi tidak berbeda dibandingkan tanpa kolesterol.
ekstrak daun suji lebih

Maka diduga

berpotensi menahan penyerapan kolesterol

dibandingkan SCC. Kemungkinan jenis fitosterol pada ekstrak daun suji


berbeda dengan SCC sehingga berbeda terhadap kapasitas pengikatan
kolesterol.
Hasil separasi pigmen menunjukkan bahwa pada fase awal komponen
yang teridentifikasi pada sampel ekstrak daun suji diduga adalah klorofil a,
lutein, feofitin a dan beta karoten. Pada fase gastric, pigmen yang
teridentifikasi diantaranya adalah lutein, feofitin a dan feofitin b serta beta
karoten. Pigmen yang teridentifikasi pada fase ketiga yaitu fase digesta adalah
changed klorofil b-1 bebas Mg, changed klorofil a-1 bebas Mg, changed
klorofil b-2 bebas Mg, feofitin a dan b, lutein serta beta karoten. Pada fase
akhir yaitu fase dialisat, tidak terdapat satu pigmenpun yang teridentifikasi.
B. SARAN
1. Perlu dipelajari lebih lanjut komposisi dari komponen fitosterol pada
ekstrak daun Suji dan SCC
2. Pada separasi pigmen (TLC), tidak ditemukan adanya klorofilid sehingga
perlu penelitian lebih lanjut untuk mengaktifkan enzim klorofilase yang
dapat menghidrolisis rantai fitol klorofil sehingga dapat berubah menjadi

klorofilid yang lebih stabil dan memiliki kemampuan mengikat kolesterol


lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Alsuhendra. 2004. Daya Anti-Aterosklerosis Zn-Turunan Klorofil dari Daun
Singkong (Manihot esculenta Crantz) pada Kelinci Percobaan. Disertasi.
Program Studi Ilmu Pangan, Sekolah Pascasarjana, IPB. Bogor.
Alsuhendra, D. Muchtadi, D. Sastradipradja, dan T. Wresdiyati. 2002. Kajian
Daya Antihiperkolesterolemimia Zinkofilin. Seminar Nasional PATPI,
Malang 30-31 Juli 2002.
Aronoff, S. 1958. The Chemistry of Chlorophyll (with Special Reference to
Foods) Didalam E. M. Mrak dan G. F. Stewart (eds). Advance in Food
Research IV.
Bacon, M.F. dan M. Holden. 1967. Changes in chlorophylls resulting from
various chemical and physical treatments of leaves and leaf extracts.
Phytochem. 6 ; 193 210.
Barbara, R., M. J. Roig, A. Alegria, R. Farre dan M. J. Lagarda. 1998. Calcium
dialysability as an estimation of bioavailaibility in human milk, cow milk
and infant formulas. Food Chemistry. 64:403-405.
Becker, M., Staab, D. dan von Bergmann, K. 1993. Treatment of severe famillial
hypercholesterolemia in chillhood with sitosterol and sitostanol. J. Pediatr.
122:292-296.
Clydesdale, F. M. dan F. J. Francis. 1976. Pigments Didalam O.R. Fennema.
Principles of Food Science. Marcel Dekker, Inc. New York.
Egner, P.A., J.B. Wang, Y.R zhu, B.C. Zhang, Y. Wu, Q.N. Zhang, G.S. Qian,
S.Y. Kuang, S.J. Gange, L.P. Jacobson, K.J. Helzisouer, G.S. Bailey, J.D.
Groopman dan T. W. Kensler. 2001. Chloropyllin Intervention Reduce
Aflatoxin-DNA Adducts In Individuals at high Risk For Liver Cancer.
Proc.Natl. Acad. Sci. 98 (25):14601-14606.
Eskin, N. A. M. 1979. Plant Pigments, Flavor and Texture. The Chemistry and
Biochemistry of Selected Compound. Academic Press. New York.
Ferruzi, M. G., M. L. Failla, dan S. J. Schwartz. 2001. Assessment of degradation
and intestinal cell uptake of carotenoid and chlorophyll derivates from
spinach puree using an in vitro digestion and caco-2 human cell model.
J.Agric. Food Chem (49): 2082-2089.
Ferruzi, M. G., M. L. Failla, dan S. J. Schwartz. 2002a. Sodium copper
chlorophyllin: In vitro digestive stability and accumulation by caco-2
human intestinalcells. J.Agric.Food Chem. 50: 2173-2179.

Francis, F. J. 1985. Pigments and Other Colorant in Fennema, O.R. (ed.). Food
Chemistry. 2nd Ed. Mercekl Dekker. New York.
Garcia, A.L., L. Galindo, and S. Navaro. 1980. Chlorophyllase in citrus leaves.
kinetic aspects of reaction. Biol. Plant. 22(4):255-262.
Gross, J. 1991. Pigments in Vegetables, Chlorophylls and Carotenoids. Van
Nostrand Reinhold, New York.
Hakim, Nurlina. 2005. Evaluasi Sifat Fisiko Kimia dan Mikrobiologis Ekstrak
Daun suji (Pleomele angustifolia, N.E. Brown) Selama Penyimpana suhu
Rendah. Skripsi. Fateta IPB. Bogor
Hall, D. O. and K.K Rao. 1986. Photosynthesis. Fourth Edition. Edward Arnold,
London.
Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia. (Terjemahan) Padmawinata, k. Dan I.
Soediro. Penerbit ITB Bandung. Bandung.
Heinemann, T., Kullack-Ublick, G.A., Pietruck, B. dan von Bergmann, K. 1991.
Mechanism of action of plant sterols on inhibition of cholesterol
absorption. Comparison of sitosterol and sitostanol. Eur J. Clin.
Pharmacol. 40 (suppl 1):S59-S63.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia I. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kehutanan. Jakarta.
Holden, M., 1976. Chlorophylls, Analitical Methods. Di dalam T.W.Goodwin
(ed) Chemistry and Biochemistry Plant Pigments. Academic Press
London. London.
Ikeda, I dan Sugano, M. 1998. Inhibition of cholesterol absorption by plant sterols
for mass intervention. Curr. Opin. Lipidol. 9:527-531.
Isabel, M., Beatriz Gandul Rojas, dan Lourdes Gallardo Guerrero. 1993. Deesterification of chlorophylls in olives by activation of chlorophyllase. J.
Agric. Food Chem. 41:2254-2258.
Hutchings, J.B. 1994. Food Colour and Appearance. Blackie Academic &
Profesional, London : p. 367-376.
Jones, I. D., R. C. white dan E. Gibbs. 1963. Influence of blanching or brining
treatment on the formation of chlorophyl, pheophytin and pheoforbides. J.
Food Sci. 28:437.
Joslyn, M. A. dan G. Mackinney. 1938. The rate of conversion of chlorophyl to
pheophytin. J. Am. Chem. Soc. 60:1132.

Joslyn, M. A. dan G. Mackinney. 1940. The conversion of chlorophyl to


pheophytin. J. Am. Chem. Soc. 62:231.
Keng, Hsuan. 1969. Orders and Families of Malayan Seed Plants. University of
Malayan Press. Kualalumpur.
Klein, A.O., and W. Vishniac. 1961. Activity and partial purification of
chlorophyllase in aqueous system. J. Biol. Chem. 236(9):2344-2347
Krause, M. V. dan Mahan, L. K. 1984. Food Nutrition and Diet Theraphy.
Sunders Company. Canada.
Kyzlink, V. 1990. Principles of Food Preservation. Elsevier. Tokyo.
Linder, M. C. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. UI Press. Jakarta.
Ma, L. dan D. Dolphin. 1999. The Metabolites of dietary chlorophylls.
Phytochemistry 50: 195-202.
Mackinney, G., dan C. A. Weast. 1940. Color changes in green vegetables. Ind.
Eng. Chem. 32:392
Martin, D. W., P. A. Mayes dan V. W. Rodwell. 1984. Review of Biochemistry.
Lange Medical Publications. California.
Mayes, P. A., Danyl K. G., Victor, W. R. dan David W. M. 1987. Review of
biochemistry ed 20 (terjemahan). Lange Medical. Publication. California.
Moreau, A. Robert., M. J. Powell dan Kevin B. Hicks. 2003. Evaluation of a
commercial enzyme-based serum cholesterol test kit for analysis of
phytosterol and phytostanol products. J. Agr. Food Chem (51): 6663-6667.
Mosquera, M. I. M. dan J. G. Fernandez. 1989. Chlorophyll and carotenoid
presence in olive fruit (Olea european). J. Agric. Food Chem. 37 (1):1-7.
Muchtadi, D. 1992. Fisiologi Pasca Panen sayuran dan Buah-buahan. PAU
Pangan dan Gizi IPB. Bogor.
Muchtadi, D., N.S. Palupi dan M. Astawan. 1993. Metabolisme Zat Gizi: Sumber,
Fungsi dan Kebutuhan Bagi Tubuh Manusia. Pustaka Sinar Harapan.
Jakarta.
Muchtadi, D. 1996. Pencegahan Gizi Lebih dan Penyakit kronis Melalui
Perbaikan Pola Konsumsi Pangan. Orasi Ilmiah Guru Besar Ilmu
Metabolisme Zat Gizi. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor.
Nguyen, Tu. T. 1999. The cholesterol lowering action of plant stanol esters. J.
Am. Society for Nut Sci. 129:2109-2112.

Nur, M. A. dan H. Adijuwana. 1989. Teknik Pemisahan dalam Analisis Biologis.


PAU Ilmu Hayat IPB. Bogor.
Onofrey, T., J. Lynch, dan D. Smidt. 2004. Automated multiscreen PAMPA and
permeability assay system. Millipore Corp Life Science Division, Danver
USA.
Oktaviani, L. 1987. Perubahan-perubahan yang Terjadi pada Ekstrak Warna Hijau
Daun Suji (Pleomele angustifolia) Selama Penyimpanan. Skripsi. Fateta,
IPB. Bogor.
Orten, J. M., dan O. W. Nehaus. 1975. Human Biochemistry. C.V. Mosby., St.
Louis.
Page, D. S. 1989. Prinsip-prinsip Biokimia. Penerjemah : R, Soendoro. Erlangga.
Jakarta.
Prangdimurti, E., D. Muchtadi, F.R. Zakaria, M. Astawan. 2005. The effect of
extraction solutions and incubation time on chlorophyll solubility and
antioxidant capacity of suji (Pleomele angustifolia N.E. Brown) leaf
extracts. Dept. of Food Science and Technology, Bogor Agricultural
University.
Robinson, T. 1991. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi (Padmawinata, K,
penerjemah). Institut Teknologi Bandung, Bandung.
Schwartz, S. J. dan J. H. von Elbe. 1983. Kinetics of chlorophyl degradation to
pyripheophytin in vegetable. J. Food Sci. 48:1303.
Scopes, R.K. 1982. Protein Purification : Principles and Practice. Springer-Verlag.
New York, Inc, New York.
Sibarani, J. 1994. Pemurnian Parsial dan Pengujian Aktivitas Enzim Klorofilase
dari Daun Suji (Pleomele angustifolia N.E. Brown). Skripsi. Jurusan
Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, IPB. Bogor.
Sitepoe, M. 1993. Kolesterol FOBIA: Keterkaitan dengan Penyakit Jantung. PT
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Sofro, A.S., W. Lestariana & Haryadi. 1992. Protein, Vitamin dan Bahan Ikutan
Pangan. PAU Pangan dan Gizi. UGM. Yogyakarta: hal.227-281.
Vlad, M., E. Bordas, E. Caseanu, G. Uza, E. Creteanu, dan C. Polinicenco.1995.
Effect of clorophyllin on experimental atherosclerosis. Biol. Trace Elem.
Res. 48 (1): 99-109.
Winarno, F. G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Contoh cara perhitungan kadar klorofil


Sampel

Abs =
645

Abs
= 663

Abs =
652

Vol
dial

Suji-fase awal
Suji-fase gastric
Suji-fase digesta
Suji-fase dialisat

0.823
0.471
0.374
0.006

1.349
1.048
0.873
0.010

1.153
0.781
0.634
0.008

16

Total
klorofil
(mg/g)
2.228
1.509
1.225
0.247

Rumus :
Total klorofil (mg/g) =
(20.2 x A645) + (8.02 x A663) x 10 x 100 x 1 x vol dial (jika ada)
1.5 10 1000
atau
Total klorofil (mg/g) = A652 x1000 x 10 x 100 x 1 x vol dial (jika ada)
34.5
1.5 10 1000
Keterangan :
Total Volume yang dibaca absorbansinya = 10 ml
Volume sampel yang diambil untuk dibaca absorbansinya = 1.5 ml
Total volume sampel = 100 ml
Berat sampel = 10 gram
1/1000 = konversi satuan dari mg/l menjadi mg/g
Contoh perhitungan :
Fase dialisat =
(0.008x1000) x 10 x 100 x 1
34.5
1.5 10 1000

x 16 = 0.247 mg/g

Lampiran 2. Cara perhitungan persentase penurunan kadar klorofil terhadap fraksi


awal
SAMPEL -FRAKSI

Suji-Fraksi awal
Suji-Fraksi kolesterol
Suji-Fraksi gastric
Suji-Fraksi digesta
Suji-Fraksi dialisat
SCC-Fraksi awal
SCC-Fraksi kolesterol
SCC-Fraksi gastric
SCC-Fraksi digesta
SCC-Fraksi dialisat

RATA-RATA KADAR KLOROFIL


(mg/g)
DENGAN
TANPA
KOLESTEROL
KOLESTEROL
2.610
2.282
1.489
1.181
0.140
2.928
2.882
0.107
1.356
0.235

2.534
0
1.522
1.450
0.381
2.457
0
0.041
1.193
0.384

Rumus =
Persentase penurunan kadar klorofil terhadap fraksi awal =
(Kadar klorofil fraksi awal-kadar klorofil fraksi yang dihitung) X 100 %
Kadar klorofil fraksi awal
Contoh perhitungan :
Pada sampel ekstrak daun suji Fraksi dialisat perlakuan dengan kolesterol
Persentase penurunan kadar klorofilnya = (2.610-0.140) x 100 %
2.610
= 94 %
jadi besarnya penurunan kadar klorofil ekstrak daun suji fraksi dialisat pada
perlakuan dengan penambahan kolesterol terhadap fraksi awal sebesar 94 %

Lampiran 3. Contoh cara perhitungan persentase klorofil terdialisis


Sampel
A1B1F0
-------F2
-------F3
-------F4
A2B1F0
-------F2
-------F3
-------F4
A3B1F0
-------F2
-------F3
-------F4
A4B1F0
-------F2
-------F3
-------F4

Kadar klorofil
Ulangan 1
2.228
1.509
1.225
0.240
2.817
0.035
1.681
0.729
0.104
0
0.006
0.128
-0.002
0
0.002
0.072

Rumus =
Persentase klorofil terdialisis =
Kadar klorofil dialisat terkoreksi x 100% atau (A1F4-A3F4) x 100 %
kadar klorofil awal terkoreksi
(A1F0- A3F0)
Contoh Perhitungan =
Klorofil terdialisis pada ekstrak daun suji ;
(0.240 0.128) x 100 % = 0.112 x 100 % = 5.27 %
(2.228-0.104)
2.124

Lampiran 4. Contoh cara perhitungan kolesterol terdialisis


Sampel/standar
Standar
A1B2F0
-------F1
-------F2
-------F3
-------F4
A2B2F0
-------F1
-------F2
-------F3
-------F4
A3B2F0
-------F1
-------F2
-------F3
-------F4

Kadar kolesterol
Ulangan-3
0.337
200
0.075
44.510
0.145
86.053
0.050
29.673
0.457
271.216
-0.001
-0.593
0.088
52.225
0.161
95.549
0.323
191.691
0.730
433.234
0.008
4.747
0.001
0.593
0.031
18.398
0.224
132.938
0.905
537.092
0.034
20.178

Rumus =
Persentase kolesterol terdialisis =
Kadar kolesterol fraksi dialisat
kadar kolesterol fraksi awal+kolesterol

x 100% atau F4 x 100 %


F1

Contoh Perhitungan =
Kolesterol terdialisis pada sampel larutan SCC ;
A2F4 x 100 % = 4.747 x 100 % = 4.97 %
A2F1
95.549

Lampiran 5. Uji statistik data klorofil terdialisis


Uji Normalitas data sebelum Transformasi
Tests of Normality
a

PERSENTASE KLOROFIL

Kolmogorov-Smirnov
Statistic
df
Sig.
.281
9
.039

Statistic
.763

Shapiro-Wilk
df
9

Sig.
.008

Shapiro-Wilk
df
9

Sig.
.090

a. Lilliefors Significance Correction

Uji Homogenitas Sebelum Transformasi


a
Levene's Test of Equality of Error Variances

Dependent Variable: PERSENTASE KLOROFIL


F
34.769

df1

df2

Sig.
.001

Tests the null hypothesis that the error variance of the


dependent variable is equal across groups.
a. Design: Intercept+KOLES+SAMPEL+KOLES * SAMPEL

Uji Normalitas Data Setelah Transformasi


Tests of Normality
a

PERSENTASE KLOROFIL

Kolmogorov-Smirnov
Statistic
df
Sig.
.223
9
.200*

Statistic
.857

*. This is a lower bound of the true significance.


a. Lilliefors Significance Correction

Uji Homogenitas Setelah Transformasi


a
Levene's Test of Equality of Error Variances

Dependent Variable: PERSENTASE KLOROFIL


F
1.910

df1

df2
3

Sig.
.246

Tests the null hypothesis that the error variance of the


dependent variable is equal across groups.
a. Design: Intercept+KOLES+SAMPEL+KOLES * SAMPEL

Uji Anova Kolesterol dan Sampel terhadap Persentase Klorofil


Univariate Analysis of Variance

Between-Subjects Factors
KOLESTEROL

Value Label
Tanpa
Kolesterol
Plus
Kolesterol
Suji
SCC

0
1

SAMPEL

1
2

N
5
4
5
4

Descriptive Statistics
Dependent Variable: PERSENTASE KLOROFIL
KOLESTEROL
tanpa kolesterol

plus kolesterol

Total

SAMPEL
suji
scc
Total
suji
scc
Total
suji
scc
Total

Mean
5.7600
19.7800
11.3680
4.7350
8.0450
6.3900
5.3500
13.9125
9.1556

Std. Deviation
1.34376
5.00632
8.13245
.68589
2.04354
2.28054
1.15570
7.45988
6.47319

N
3
2
5
2
2
4
5
4
9

Tests of Between-Subjects Effects


Dependent Variable: PERSENTASE KLOROFIL
Source
Corrected Model
Intercept
KOLES
SAMPEL
KOLES * SAMPEL
Error
Total
Corrected Total

Type III Sum


of Squares
.252 a
20.325
6.687E-02
.163
3.317E-02
2.442E-02
20.900
.276

df
3
1
1
1
1
5
9
8

Mean Square
8.393E-02
20.325
6.687E-02
.163
3.317E-02
4.883E-03

a. R Squared = .912 (Adjusted R Squared = .859)

F
17.188
4162.392
13.695
33.329
6.793

Sig.
.005
.000
.014
.002
.048

Multiple Comparisons
Dependent Variable: PERSENTASE KLOROFIL

LSD

(I) INTERAKSI
TANPA VS SUJI

PLUS VS SUJI

TANPA VS SCC

PLUS VS SCC

(J) INTERAKSI
PLUS VS SUJI
TANPA VS SCC
PLUS VS SCC
TANPA VS SUJI
TANPA VS SCC
PLUS VS SCC
TANPA VS SUJI
PLUS VS SUJI
PLUS VS SCC
TANPA VS SUJI
PLUS VS SUJI
TANPA VS SCC

Mean
Difference
(I-J)
.0518
-.3964*
-.0980
-.0518
-.4482*
-.1498
.3964*
.4482*
.2984*
.0980
.1498
-.2984*

*. The mean difference is significant at the .05 level.

Std. Error
.06379
.06379
.06379
.06379
.06988
.06988
.06379
.06988
.06988
.06379
.06988
.06988

Sig.
.454
.002
.185
.454
.001
.085
.002
.001
.008
.185
.085
.008

95% Confidence Interval


Lower Bound
Upper Bound
-.1122
.2157
-.5604
-.2324
-.2620
.0659
-.2157
.1122
-.6278
-.2686
-.3294
.0298
.2324
.5604
.2686
.6278
.1187
.4780
-.0659
.2620
-.0298
.3294
-.4780
-.1187

PERSENTASE KLOROFIL

Duncan a,b

INTERAKSI
PLUS VS SUJI
TANPA VS SUJI
PLUS VS SCC
TANPA VS SCC
Sig.

N
2
3
2
2

Subset for alpha = .05


1
2
1.3636
1.4154
1.5134
1.8118
.082
1.000

Means for groups in homogeneous subsets are displayed.


a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 2.182.
b. The group sizes are unequal. The harmonic mean of the
group sizes is used. Type I error levels are not guaranteed.

Lampiran 6. Nilai Rf Separasi Pigmen


Sampel Ekstrak suji
Fraksi---Spot
A1B1C1F0a
---------------- b
---------------- c
---------------- d
A1B1C1F2---e
-----------------f
-----------------g
A1B1C1F3h

(Ulangan-1)
Nilai Rf
0.912
0.929
0.947
0.982
0.853
0.965
0.988
0.706

Warna
Hijau
Kuning
Abu-abu
Kuning
Hijau-kuning
Abu-abu
Kuning
Kuning

-----------------i
-----------------j
-----------------k

0.9
0.953
0.988

Hijau-kuning
Abu-abu
Kuning

Lutein
Feofitin a
Beta karoten
Lutein
Feofitin a
Beta karoten
changed klorofil
b-1 bebas Mg
Feofitin b
Feofititn a
Beta karoten

Sampel ekstrak suji


Fraksi---Spot
A1B1C2F0a
---------------- b
---------------- c
---------------- d
---------------- e
-----------------f
A1B1C2F2---g
--------------h
-----------------i
A1B1C2F3---j
-----------------k
-----------------l

(Ulangan-2)
Nilai Rf
0.618
0.794
0.823
0.918
0.953
0.982
0.794
0.953
0.982
0.823
0.9
0.971

Warna
Hijau
Hijau
Kuning
Kuning
Abu-abu
Kuning,oranye
Kuning
Abu-abu
Kuning
Kuning
Abu-abu
kuning

Komponen
Klorofil a
Feofitin b
Lutein
Lutein
Feofitin a
Beta karoten
Feofitin b
Feofitin a
Beta karoten
Feofitin b
Feofitin a
karoten

Sampel ekstrak suji(Ulangan-3)


Fraksi---Spot
Nilai Rf
A1B1C3F0a
0.588

Warna
kuning

---------------- b
---------------- c
---------------- d
---------------- e
A1B1C3F2---f
----------------g
--------------h

hijau
Kuning
Abu-abu
Kuning
Kuning
Kuning
Abu-abu

Komponen
Changed
klorofil b-2 bebas
Mg

0.871
0.912
0.923
0.965
0.894
0.912
0.929

Komponen

Lutein
Feofitin a
Beta karoten
Feofitin b
lutein
Feofitin a

-----------------i
A1B1C3F3---j
-----------------k

0.971
0.823
0.912

Kuning
Kuning
Kuning

-----------------l
-----------------m

0.929
0.971

Abu-abu
kuning

Sampel ekstrak suji (Ulangan-4)


Fraksi---Spot
Nilai Rf
A1B1C4F0 a
0.681

Warna
kuning

---------------- b
---------------- c

0.805
0.892

hijau
Abu-abu

---------------- d
A1B1C4F2-- e
-----------------f
-----------------g
A1B1C4F3 h
-----------------i
-----------------j
-----------------k

0.99
0.795
0.957
0.99
0.724
0.838
0.941
0.99

kuning
kuning
Abu-abu
kuning
kuning
kuning
Abu-abu
kuning

Beta karoten
Feofitin b
changed klorofil
a-1 bebas Mg
Feofitin a
Beta karoten
Komponen
changed klorofil
b-1 bebas Mg
Feofitin b
changed klorofil
a-1 bebas Mg
Beta karoten
Feofitin b
Feofitin a
Beta karoten
Feofitin b
lutein
Feofitin a
Beta karoten

Lampiran 7. Separasi Pigmen Ekstrak Daun Suji Selama Pencernaan in vitro


dengan TLC

TLC Ulangan 1 dan 2

TLC Ulangan 2 dan 3

TLC Ulangan 4