Anda di halaman 1dari 3

STROKE

A. Pengertian
Menurut definisi WHO, stroke adalah suatu tanda klinis yang berkembang
cepat akibat gangguan otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung
selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab
lain yang jelas selain vaskuler (KSSNP, 1999).
B. Penyebab
Merokok
Minuman alkohol
Pengidap penyakit diabetes
Pengidap penyakit darah tinggi
Obesitas
C. Ciri-ciri Stroke
Kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh (hemiparese atau hemiplegia)
Lumpuh pada salah satu sisi wajah atau disebut dengan istilah Bells Palsy
Tonus otot lemah atau kaku
Menurun atau hilangnya rasa Gangguan lapang pandang Homonimus
Hemianopsia
Gangguan bahasa (disatria : kesulitan dalam membentuk kata ; afhasia atau disfasia
: bicara defeksif / kehilangan bicara )
Gangguan persepsi
Gangguan status mental
D. Tanda dan Gejala Stroke
Pusing
Bingung
Pandangan kabur
Hilang keseimbangan
Lemah
Mati rasa pada sisi tubuh
Sering kesemutan
Mengalami kelumpuhan
Bicara mulai tidak jelas
Hilang kesadaran
Tidak bisa bicara
Kelumpuhan badan
Susah menelan
Mengeluarkan feses dan air seni
Pikun
Perubahan perilaku
E. Patofisiologi Stroke
Pada stroke iskemik berkurangnya aliran darah ke otak menyebabkan
hipoksemia daerah regional otak dan menimbulkan reaksi-reaksi berantai yang
berakhir dengan kematian sel-sel otak dan unsur-unsur pendukungnya. Secara umum
daerah regional otak yang iskemik terdiri dari bagian inti (core) dengan tingkat
iskemia terberat dan berlokasi di sentral. Daerah ini akan menjadi nekrotik dalam
waktu singkat jika tidak ada reperfusi. Di luar daerah core iskemik terdapat daerah
penumbra iskemik. Sel-sel otak dan jaringan pendukungnya belum mati akan tetapi
sangat berkurang fungsi-fungsinya dan menyebabkan juga defisit neurologik. Tingkat
iskeminya makin ke perifer makin ringan. Daerah penumbra iskemik, di luarnya dapat

dikelilingi oleh suatu daerahyperemic akibat adanya aliran darah kolateral (luxury
perfusion area). Daerah penumbra iskemikinilah yang menjadi sasaran terapi stroke
iskemik akut supaya dapat di reperfusi dan sel-sel otak berfungsi kembali.
Reversibilitas tergantung pada faktor waktu dan jika tak terjadi reperfusi, daerah
penumbra dapat berangsur-angsur mengalami kematian.
Dipandang dari segi biologi molekuler, ada dua mekanisme kematian sel otak.
Pertama proses nekrosis, suatu kematian berupa ledakan sel akut akibat penghancuran
sitoskeleton sel, yang berakibat timbulnya reaksi inflamasi dan prosesfagositosis
debris nekrotik. Proses kematian kedua adalah proses Apoptosis atau silent death,
sitoskeleton sel neuron mengalami penciutan atau shrinkagetanpa adanya reaksi
inflamasi seluler. Nekrosis seluler dipicu oleh exitotoxic injurydan free radical injury
akibat bocornya neurotransmitter glutamate dan aspartat yang sangat toksik terhadap
struktur sitoskeleton otak. Demikian pula lepasnya radikal bebas membakar membran
lipid sel dengan segala akibatnya. Kematian Apoptoticmungkin lebih berkaitan
dengan reaksi rantai kaskade iskemik yang berlangsung 15 lebih lambat melalui
proses kelumpuhan pompa ion Natrium dan Kalium, yang diikuti proses depolarisasi
membran sel yang berakibat hilangnya kontrol terhadap metabolisme Kalsium dan
Natrium intraseluler. Ini memicu mitokondria untuk melepaskan enzim caspaseapoptosis (Misbach dkk., 2007).
F. Cara pencegahan stroke
Menurut Konsensus Nasional Pengelolaan Stroke (1999) di Indonesia, upaya
yang dilakukan untuk pencegahan penyakit stroke yaitu:
Pencegahan Primordial
Tujuan pencegahan primordial adalah mencegah timbulnya faktor risiko stroke bagi
individu yang belum mempunyai faktor risiko. Pencegahan primordial dapat
dilakukan dengan cara melakukan promosi kesehatan, seperti berkampanye
tentang bahaya rokok terhadap stroke dengan membuat selebaran atau poster yang
dapat menarik perhatian masyarakat.
Pencegahan primer
mengurangi timbulnya faktor risiko stroke bagi individu yang mempunyai faktor
risiko dengan cara melaksanakan gaya hidup sehat bebas stroke, antara lain:
a. Menghindari: rokok, stress, alkohol, kegemukan, konsumsi garam berlebihan,
obat-obatan golongan amfetamin, kokain dan sejenisnya.
b. Mengurangi: kolesterol dan lemak dalam makanan.
c. Mengendalikan: Hipertensi, DM, penyakit jantung (misalnya fibrilasi atrium,
infark miokard akut, penyakit jantung reumatik), dan penyakit vaskular
aterosklerotik lainnya.
d. Menganjurkan konsumsi gizi yang seimbang seperti, makan banyak sayuran,
buah-buahan, ikan terutama ikan salem dan tuna, minimalkan junk food dan
beralih pada makanan tradisional yang rendah lemak dan gula, serealia dan
susu rendah lemak serta dianjurkan berolah raga secara teratur.
Pencegahan sekunder
Pada tahap ini ditekankan pada pengobatan terhadap penderita stroke agar stroke tidak
berlanjut menjadi kronis. Tindakan yang dilakukan adalah:
a) Obat-obatan, yang digunakan: asetosal (asam asetil salisilat) digunakan
sebagai obat antiagregasi trombosit pilihan pertama dengan dosis berkisar
antara 80-320 mg/hari, antikoagulan oral diberikan pada penderita dengan
faktor resiko penyakit jantung (fibrilasi atrium, infark miokard akut, kelainan
katup) dan kondisi koagulopati yang lain.
b) Modifikasi gaya hidup dan faktor risiko stroke, misalnya mengkonsumsi obat
antihipertensi yang sesuai pada penderita hipertensi, mengkonsumsi obat
hipoglikemik pada penderita diabetes, diet rendah lemak dan mengkonsumsi
obat antidislipidemia pada penderita dislipidemia, berhenti merokok, berhenti
mengkonsumsi alkohol, hindari kelebihan berat badan dan kurang gerak.
Pencegahan tertier

Pencegahan tersier dapat dilakukan dalam bentuk rehabilitasi fisik, mental dan sosial.
Rehabilitasi akan diberikan oleh tim yang terdiri dari dokter, perawat, ahli fisioterapi,
ahli terapi wicara dan bahasa, ahli okupasional, petugas sosial dan peran serta
keluarga.
G. Sumber rujukan
Penyakit stroke : http://penyakitstroke.net/ di akses pada jam 18.00 WITA
http://halosehat.com/penyakit/stroke/gejala-stroke