Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM

DIAGNOSA KLINIK
PEMERIKSAAN KUCING

Nama
NIM
Kelas
Kelompok

: Andrea Puput Handayani


: 135130100111015
: A2013
:3

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

Pada tanggal 23 September 2016, pasien kucing lokal bernama Whity


dengan jenis kelamin betina berumur 10 bulan diperiksa. Berdasarkan anamnesa
atau wawancara dengan klien mengenai sejarah dari keadaan pasien sebelum
diperiksa, pasien pernah melakukan operasi prolaps ani sebelumnya. Namun,
untuk kebiasaan tidak menunjukkan kelainan dan terlihat sehat.
Pada hasil pemeriksaan fisik, pasien memiliki tempratur suhu yang normal
artinya tidak mengalami hipertermi (kenaikan suhu tubuh) maupun hipotermi
(penurunan suhu). Sedangkan frekuensi nafas dan pulsus yang masing-masing
120 kali/menit dan 80 kali/menit. Peningkatan pada pulsus mungkin terjadi karena
pasien menjadi stres akibat lingkungan disekitar dan

proses pemeriksaan

sehingga terjadi peningkatan frekuensi nafas dan pulsus (Takikardi). Frekuensi


nafas normal kucing yaitu 20-30 kali/menit dan pulsus kucing dewasa yaitu 100120 kali/menit (Widodo, 2011). Berat yang dimiliki pasien dalam batasan normal.
Pada pemeriksaan kulit dan rambut menunjukan abnormalitas dimana pada
kulit bagian ujung daun telinga terdapat lesi yang menghitam dan adanya jamur
dibagian paha kanan meskipun rambut terlihat sehat, bersih, dan tidak mengalami
kerontokan.
Pada pemeriksaan membran mukosa konjunktiva normal berwarna pink
atau merah muda cerah. Conjunctiva diperiksa dengan cara menekan dan
menggeser sedikit saja kelopak mata bawah. Penampakan conjunctiva pada
kucing tampak pucat. Membran mukosa yang tampak anemia (warna pucat) dan
lembek merupakan indikasi anemia. Intensitas warna konjunctiva dapat
menunjukkan kondisi peradangan akut. Cyanosis (warna abu-abu kebiruan)
dikarenakan kekurangan oksigen dalam darah (hipoksia), kasusnya berhubungan
dengan

pulmo

atau

terdapatnya pigmen

sistem

respirasi. Jaundice (warna

bilirubin yang

menandakan

kuning)

terdapatnya

karena

gangguan

pada hepar. Hiperemi (pale) karena adanya hemoragi petechial menyebabkan


hemoragi purpura.
Pada pemeriksaan kelenjar limfa, yang terdeteksi yaitu lgl.
Cervicalis yang terletak pada bagian rahang dan lgl. Axillaris pada bagian ketiak.
Limfoglandula

ini

dalam

kondisi

normal,

tidak

ada

pembengkakan.

Limfoglandula yang dapat dipalpasi pada kucing yaitu; lgl. submaxillaris, lgl.

parotidea,

lgl.

retropharyngealis, lgl.

cervicalis

anterior, lgl.

cervicalis

medius, lgl. cervicalis caudalis, lgl. prescapularis, lgl. axillaris (dapat teraba jika
kaki diabduksikan), lgl. inguinalis, lgl. superficialis (pada betina disebut lgl.
supramammaria), lgl.

poplitea, lgl.

mesenterialis. Palpasi dilakukan

di

daerah limfoglandula, dengan cara memperhatikan reaksi, panas, besar dan


konsistensinya serta simetrinya kanan dan kiri (Boddie, 2001). Tidak secara
merata dapat mendeteksi semua limfoglandula disebabkan pasien dalam kondisi
stres sehingga agresif, selain itu dikarenakan pasien sedang bunting.
Pada pemeriksaan muskuloskeletal dilakukan inspeksi dan palpasi, dimana
terlihat gait atau cara berjalan dari pasien, posisi kepala dan leher serta palpasi
pada bagian sendi kepala dan leher didapat hasil normal. Komponen penting
dalam sistem muskuloskeletal meliputi otot dan perlekatannya, tulang dan sendi.
Fungsi utama sistem ini adalah mendukung tubuh dalam berbagai cara untuk
menampilkan gerakan dan postur yang normal. Selain dari pada itu struktur tulang
tertentu juga terlibat dalam beberapa fungsi tertentu, seperti respirasi, mastikasi,
urinasi dan defekasi. Beberapa penyakit otot, tulang atau sendi akan memiliki
gejala klinis utama berupa lokomosi yang abnormal (pincang) dan atau postur
yang mengalami perubahan. Gangguan lokomosi akan ditemukan pada saat hewan
bergerak atas kemauan sendiri atau bilamana hewan tersebut diberi perlakuan
dengan suatu latihan. Gangguan fungsi lokomosi dapat muncul akibat adanya
penyakit pada sistem syaraf dan juga penyakit-penyakit lain yang tidak mengenai
alat gerak. Penyakit sistemik yang sangat berat sering menimbulkan kelemahan
otot, tremor, inkoordinasi akibat terjadinya toksemia. Demikian pula halnya,
perubahan postur tubuh berupa kyphosis dapat terjadi akibat adanya nefritis akut
(Ikliptikawati,2014).
Pada pemeriksaan sirkulasi, auskultasi dengan bantuan stethoscope untuk
mendengarkan suara jantung. Jantung terdengar cepat atau tachycardi. Hal ini
dapat dipengaruhi karena pasien stress terhadap lingkungan baru. Selain itu pasien
dalam keadaan bunting yang memungkinkan adanya frekuensi pulsus maupun
denyut jantung lebih tinggi dari normal. Kekuatan kontraksi jantung, kecepatan
denyut jantung serta aliran darah dipengaruhi dan dikontrol oleh syaraf otonom
yang berpusat pada medulla oblongata. Stimulasi syaraf-sayaraf vagus cenderung

untuk menghambat kerja jantung dengan menurunkan gaya kontraksi dari otot
jantung, kecepatan kontraksi dan kecepatan konduksi impuls dalam jantung
sehingga arus darah melalui arteri koroner akan berkurang. Rangsangan syaraf
simpatis akan berkerja sebaliknya, yaitu meningkatkan aktivitas jantung dan
naiknya gaya/tenaga kontraksi, kecepatan kontraksi, kecepatan konduksi impuls
dan arus darah koroner (Kelly, 1984).
Pada pemeriksaan respirasi, bagian hidung teraba kering. Hal ini dikaitkan
dengan kemungkinan dehidrasi. Keabnormalan ditandai dengan adanya aksi-aksi
atau pengeluaran seperti batuk, bersin hick-up, frekuensi dan tipe nafas. Pada
hidung memperhatikan leleran yang keluar dan suhu dari nafas yang dikeluarkan.
Hewan yang sehat menujukkan hidung yang lembab (tidak kering atau basah) dan
nafas tidak berbau ataupun panas. Nafas yang bau menunjukkan adanya kelainan,
seperti bau busuk menunjukkan kemungkinan pneumonia dan bau keton
menunjukkan ketosis (kelly, 1984).
Pada pemeriksaan sistem digesti, pemeriksaan mulut dan feses dinyatakan
normal. Pasien tidak memiliki bau mulut dan feses berkonsistensi normal namun
berwarna merah sesuai pakan yang diberikan dan berfrekuensi 1x sehari. Namun,
palpasi abdomen tidak dilakukan. Hal ini dikarenakan pasien agresif ketika bagian
abdomen disentuh dimana pasien dalam keadaan bunting. Dari inspeksi, terlihat
bagian abdomen tidak simetris (asimetris) dan membesar.
Pada pemriksaan sistem urogenital, frekuensi minum dan pengeluaran
urine sama banyaknya. Palpasi untuk menemukan ginjal pada daerah lumbal tidak
ditemukan. Hal ini mungkin dikarenakan pasien yang bunting sehingga sulit
ditemukan. Selain itu, palpasi untuk menemukan vesika urinaria serta uterus tidak
dapat dilakukan karena hewan yang agresif saat daerah abdomen disentuh karena
pasien sedang bunting. Ginjal memiliki posisi diantara lumbal 1,2 dan 3 atau
daerah retroperitoneal yang diposisikan bersebelahan secara ventral dengan
musculus sublumbalis pada hewan kucing dan anjing (Widodo,2011).
Pada pemeriksaan sistem saraf, tingkat kesadaran pasien sangat baik dan
dinyatakan normal. Sistem motorik dan sensorik merespon dengan baik. Fungsi
pemeriksaan saraf yaitu untuk mengevaluasi adanya kemungkinan gangguan

seperti penyakit metabolik, toksikasi, ginjal, liver dan sebagainya (Ikliptikawati,


2014).
Pada pemeriksaan telinga dan mata, mata tidak diketahui tipenya baik
enteropion maupun ektropion. Hal ini dikarenakan pada saat pemeriksaan tidak
membawa pen light. Entropion adalah suatu keadaan dimana kelopak dan bulu
mata bagian bawah membalik ke dalam ke arah bola mata. Ektropion adalah suatu
keadaan dimana kelopak dan bulu mata bagian bawah membalik ke arah luar
(Rich, 2010). Sedangkan pada telinga, terlihat bagian dalam telinga terdapat
adanya kotoran dan luka cakaran, dimana ada kemungkinan infeksi ektoparasit.
Berdasarkan hasil keseluruhan pemeriksaan fisik, pasien di diagnosis
Otitis karena adanya ear mites (kutu telinga) dan jamuran dengan prognosis
fausta. Hal ini dikarenakan pada pemeriksaan bagian telinga, telinga terlihat kotor
bagian dalam dan terdapat luka seperti cakaran yang menandakan pasien
mengalami gatal bagian tersebut.
Otitis merupakan peradangan pada bagian telinga. Radang telinga dapat
dikategorikan berdasarkan lokasi tempat terjadinya peradangan. Apabila infeksi
terjadi di liang telinga bagian luar maka diklasifikasikan sebagai otitis eksterna.
Sedangkan apabila infeksi terjadi di liang telinga bagian tengah, maka
diklasifikasikan sebagai otitis media, yang biasanya disebabkan oleh robeknya
gendang telinga yang disertai infeksi.Apabila infeksi terjadi pada telinga bagian
dalam, maka diklasifikasikan sebagai otitis interna. Otitis yang disebabkan oleh
kutu/tungau telinga (ear mites) biasanya dari spesies Otedectes cynotis. Tungau
spesies lain yang juga bisa menyebabkan otitis adalah sarcoptes,demodex dan
notoedres. Cakaran atau goyangan kepala yang terus menerus dalam jangka waktu
lama dapat menyebabkan hematoma pada telinga (aural hematoma). Hematoma
adalah penggumpalan atau penumpukan darah di telinga akibat pecahnya
pembuluh darah yang terdapat pada daun telinga. Telinga yang mengalami
hematoma terlihat dari tanda-tanda seperti bengkak, dan terasa hangat bila diraba
dan terasa ada penumpukan cairan di bawah kulit telinga. Hal inilah yang
menyebabkan semakin meradangnya telinga hingga terjadi otitis (Ettinger, 2010).
Proses penyakit yang khas adalah sebagai berikut: Iritasi pada kulit yang
melapisi saluran telinga menyebabkan peradangan, yang menghasilkan produksi

lilin kelebihan dan lingkungan yang nyaman untuk ragi dan bakteri (warga normal
dari saluran telinga) untuk tumbuh terlalu cepat. Mikroba ini menyebabkan rasa
gatal yang signifikan dan lebih peradangan, yang mengarah ke siklus gatal-awal
kondusif untuk diri trauma melalui headshaking, menggaruk, mencakar, dan
menggosok telinga.Setiap kucing dapat mengembangkan otitis kronis. Tungau
telinga bertanggung jawab untuk sekitar 50 persen dari infeksi telinga
pada kucing , tapi diagnosis dan pengobatan tungau telinga yang cepat umumnya
mencegah infeksi telinga dari menjadi kronis. Alergi lingkungan ( atopi ) dan
alergi makanan juga dapat menyebabkan masalah (Ettinger, 2010).

DAFTAR PUSTAKA
Boddie., G.F. 2001. Diagnostic Methods in Veterinary Medicine. Philadelphia:
J.B. Lippincott Company.
Ettinger, Stephen J, et al. 2010. Textbook of Veterinary
Sixth
Ikliptikawati,

Internal Medicine,

Edition. US: Saunders Elsevier.


Dini,

K.

2014. Petunjuk

Praktikum

Diagnosis

Klinik

Veteriner. Makassar: Program Studi Kedokteran Hewan Fakultas Kedokteran


UNHAS.
Kelly, WR. 1984. Veterinary Clinical Diagnosis. London: Biliere Tindall.
Rich, W.F. 2010. Textboox of Oftalmologi 3th ed. US: Saunders Elsevier
Widodo, Setyo. 2011. Diagnostik Klinik Hewan Kecil. Bogor: IPB Press.