Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

TERMOREGULASI
I. Konsep Kebutuhan Regulasi
1.1 Definisi
Termoregulasi adalah Suatu pengaturan fisiologis tubuh manusia
mengenai keseimbangan produksi panas dan kehilangan panas
sehingga suhu tubuh dapat dipertahankan secara konstan.
Keseimbangan suhu tubuh diregulasi oleh mekanisme fisiologis dan
prilaku. Agar suhu tubuh tetap konstan dan berada dalam batasan
normal, hubungan antara produksi panas dan pengeluaran panas
harus dipertahankan. Hubungan diregulasi melalui mekanisme
neurologis dan kardiovaskular..
1.2 Fisiologi Sistem Regulasi
1.2.1 Asal Panag pada Tubuh Manusia
1.2.1.1 Laju metabolism basal (Basal Metabolisme Rate, BMR)
a. BMR merupakan pemanfaatan energy di dalam
tubuh.
b. Besarnya

BMR

bervariasi

sesuai

dengan

umur dan jenis kelamin.


c. Faktor yang menyebabkan BMR meningkat
diantaranya cidera, demam, dan infeksi.
d. Meningkatnya
BMR
menunjukkan
tingginya metabolism yang dialami klien.
1.2.1.2 Laju cadangan metabolism yang disebabkan aktifitas otot. Termasuk
kontraksi otot akibat menggigil.
1.2.1.3 Peningkatan produksi tiroksin
a. Hipotalamus merespon terhadap dingin dengan
melepas factor releasing.
b. Faktor ini merangsang

tirotropin

pada

adenohipofise untuk merangsang pengeluaran


tiroksin oleh kelenjar tiroid.
c. Efek tiroksin meningkatkan nilai metabolisme
sel di seluruh tubuh dan memproduksi panas.
1.2.1.4 Termogenesis kimia
1.2.1.5 perangsangan produksi panas melalui sirkulasi norepineprin dan epineprin
atau melalui perangsangan saraf simpatis. Hormon-hormon ini segera
meningkatkan nilai metabolisme sel di jaringan tubuh. Secara langsung
norepineprin dan epineprin mempengaruhihati dan el-sel otot sehingga
meningkatkan aktifitas otot.
1.2.1.6 Demam

Demam meningkatkan metabolisme tubuh. Reaksireaksi kimia meningkat rata-rata 120% untuk setiap
peningkatan suhu 10.
1.2.2

Sstem Pengaturan Suhu


Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Titik
tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh inti konstan pada
36,8-37,4oC.

Apabila

pusat

temperature

hipotalamus

mendekati suhu tubuh yang terlalu panas, tubuh akan


melakukan mekanisme umpan balik. Mekanisme umpan
balik ini terjadi bila suhu inti tubuh telah melewati batas
toleransi tubuh untuk mempertahankan suhu, yang disebut
titik tetap (set point). Tubuh manusia memiliki seperangkat
system

yang

memungkinkan

tubuh

menghasilkan,

mendistribusikan, dan mempertahankan suhu tubuh dalam


keadaan konstan. Berdasarkan distribusi suhu di dalam tubuh,
dikanal

suhu

inti (core

temperature) yaitu

suhu

yang

terdapat pada jaringan dalam, seperti cranial, toraks, rongga


abdomen,

dan

rongga

pelvis.

Suhu

ini

biasanya

dipertahankan relative konstan (37oC). selain itu ada suhu


permukaan (surface temperature), yaitu suhu yang terdapat
pada kulit, jaringan subkutan, dan lemak. Suhu ini biasanya
dapat berfluktuasi sebesar 40oC. Lokasi

pengukuran

temperature tubuh : ketiak (aksila), sub lingual, atau rectal


(dubur). Temperature dubur lebih tingggi 0,3-0,5oC daripada
temperature

aksila.

Suhu

rectal

agak

dibandingkan dengan suhu-suhu di daerah lain.


1.2.3

Perbedaan Suhu
Usia
3 bulan
6 bulan
1 tahun
3 tahun
5 tahun
7 tahun
9 tahun
11 tahun
13 tahun
Dewasa

Suhu (C)
37,5
37,7
37,7
37,2
37,0
36,8
36,7
36,7
36,6
36,4

konstan

bila

>70 tahun
Hipotermia
Normal
Febris
Hipertermia

36,0
:Suhu tubuh <36C
:Suhu tubuh antara 36,5-37,5C
:Suhu tubuh 37,5-40C
:Suhu tubuh >40C

1.2.4 Mekanisme Tubuh Ketika Terjadi Perubahan Suhu


1.2.4.1 Mekanisme ketika suhu tubuh naik
a. Vasodilatasi : disebabkan oleh hambatan dari
pusat simpatis pada hipotalamus posterior
(penyebab
vasodilatasi

vasokontriksi)
yang

kuat

sehingga
pad

kulit,

terjadi
yang

memungkinkan percepatan perpindahan panas


dari tubuh ke kulit hingga 8x lipat lebih banyak.
b. Berkeringat : pengeluaran
keringat
menyebabkan peningkatan pengeluaran panas
melalui evaporasi.
c. Penurunan
pembentukan
mekanisme

pembentukan

panas : beberapa
panas,

seperti

termogenesis kimia dan menggigil dihambat


dengan kuat.
1.2.4.2 Mekanisme tubuh saat suhu tubuh turun
a. Vasokontriksi kulit di seluruh tubuh karena
rangsangan pada pusat simpatis hipotalamus
posterior.
b. Piloreksi rangsangan simpatis menyebabkan otot
erector pili yang melekat pada folikel rambut
berdiri.
c. Peningkatan pembentukan panas system
metabolisme meningkat melalui mekanisme
menggigil,
pembentukan
panas
akibat
rangsangan simpatis, serta peningkatan sekresi
tiroksin.
1.2.5 Mekanesme Kehilangan Panas Melalui Kulit
1.2.5.1 Radiasi
Pemindahan panas dari permukaan suatu objek ke
permukaan objek lain tanpa keduanya bersentuhan.
Panas

berpindah

melalui

gelombang

elektromagnetik. Aliran darah dari organ internal

inti membawa panas ke kulit dank e pembuluh


darah permukaan.
1.2.5.2 Konduksi
Perpindahan panas dari suatu objek ke objek lain
dengan kontak langsung. Terjadi melalui getaran
dan gerakan elektro bebas. Ketika kulit hangat
menyentuh objek yang lebih dingin maka panas
hilang. Panas berkonduksi melalui benda padat, cair,
dan gas.
1.2.5.3 Konveksi
Perpindahan

karena

gerakan

udara.

Aliran

konveksidapat terjadi dikarenakanmassa jenis udara


panas sangat ringan dibandingkan dengan massa
jenis udara dingin. Contoh : kipas angin listrik
meningkatkan kehilangan panas melalui konveksi.
1.2.5.4 Evaporasi
Perpindahan aliran panas ketika cairan berubah
menjadi gas. Evaporasi ini tidak dapat dikendalikan
karena evaporasi terjadi akibat difusi molekul air
secara terus menerus melalui kulit dan system
pernafasan.
1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perubahan Termoregulasi
1.3.1 Usia
Suhu tubuh bayi dapat berespon secara drastis terhadap
perubahan suhu lingkungan. Bayi baru lahir mengeluaran
lebih dari 30% panas tubuhnya melalui kepala oleh karena itu
perlu menggunakan penutup kepala untuk mencegah
pengeluaran panas.
Regulasi suhu tidak stabil sampai pubertas. Rentang suhu
normal turun secara berangsur sampai seseorang mendekati
masa lansia. Lansia mempunyai rentang suhu tubuh lebih
sempit daripada dewasa awal. Suhu oral 35 C tidak lazim
pada lansia dalam cuaca dingin. Namun rentang suhu tubuh
pada lansia sekitar 36 C. Lansia terutama sensitif terhadap
suhu yang ekstrem karena kemunduran mekanisme kontrol,
terutama pada kontrol vasomotor ( kontrol vasokonstriksi dan
vasodilatasi),

penurunan

jumlah

jaringan

subkutan,

penurunan

aktivitas

kelenjr

keringat

dan

penurunan

metabolisme.
1.3.2 Olahraga
Aktivitas otot memerlukan peningkatan suplai darah dalam
pemecahan karbohidrat dan lemak. Hal ini menyebabkan
peningkatan metabolisme dan produksi panas. Segala jenis
olahraga dapat meningkatkan produksi panas akibatnya
meningkatkan suhu tubuh. Olahraga berat yang lama, seperti
lari jarak jauh, dapat meningatkan suhu tubuh untuk
sementara sampai 41 C.
1.3.3 Kadar Hormon
Secara umum, wanita mengalami fluktuasi suhu tubuh yang
lebih besar dibandingkan pria. Variasi hormonal selama
siklus menstruasi menyebabkan fluktuasi suhu tubuh.
Kadarprogesteron meningkat dan menurun secara bertahap
selama siklus menstruasi. Bila kadar progesteron rendah,
suhu tubuh beberapa derajat dibawah kadar batas. Suhu tubuh
yang rendah berlangsung sampai terjadi ovulasi. Perubahan
suhu juga terjadi pada wanita menopause. Wanita yang sudah
berhenti mentruasi dapat mengalami periode panas tubuh dan
berkeringat banyak, 30 detik sampai 5 menit. Hal tersebut
karena kontrol vasomotor yang tidak stabil dalam melakukan
vasodilatasi dan vasokontriksi.
1.3.4 Irama sirkadian
Suhu tubuh berubah secara normal 0,5 C sampai 1 C selama
periode 24 jam. Bagaimanapun, suhumerupakan irama stabil
pada manusia. Suhu tubuh paling rendah biasanya antara
pukul 1:00 dan 4:00 dini hari. Sepanjang hari suhu tubuh
naik, sampai sekitar pukul 18:00 dan kemudian turun seperti
pada dini hari. Penting diketahui, pola suhu tidak secara
otomatis pada orang yang bekerja pada malam hari dan tidur
di siang hari. Perlu waktu 1-3 minggu untuk perputaran itu
berubah. Secara umum, irama suhu sirkadian tidak berubah
sesuai usia. Penelitian menunjukkan, puncak suhu tubuh
adalah dini hari pada lansia
1.3.5 Stres
Stres fisik dan emosi meningkatkan suhu tubuh melalui
stimulasi hormonal dan persarafan. Perubahan fisiologi

tersebut meningkatkan panas. Klien yang cemas saat masuk


rumah sakit atau tempat praktik dokter, suhu tubuhnya dapat
lebih tinggi dari normal
1.3.6 Lingkungan
Lingkungan mempengaruhi suhu tubuh. Jika suhu dikaji
dalam ruangan yang sangat hangat, klien mungkin tidak
mampu

meregulasi

suhu

tubuh

melalui

mekanisme

pengluaran-panas dan suhu tubuh akan naik. Saat berada di


lingkungan tanpa baju hangat, suhu tubuh mungkin rendah
karena penyebaran yang efektif dan pengeluaran panas yang
konduktif. Bayi dan lansia paling sering dipengaruhi oleh
suhu lingkungan karena mekaisme suhu mereka kurang

1.4.1

efisien.
1.4 Macam-macam Gangguan Termoregulasi
Demam
Terjadi karena mekanisme pengeluaran panas tidak mampu
untuk mempertahankan kecepatan pengeluaran kelebihan
produksi panas yang mengakiatkan peningkatan suhu
abnormal. Demam biasanya tidak berbahaya jika <39 C.
Demam terjadi akibat perubahan set point hipotalamus.
Pola demam :
a. Terus menerus
: tingginya menetap >24 jam,
bervariasi (1-2)C.
b. Intermitten
: demam memuncak secara berseling
dengan suhu normal.
c. Remitten
: demam memuncak dan turun tanpa
kembali ke tingkat suhu normal.
d. Relaps
: periode episode demam diselingi
dengan tingkat suhu normal, episode demam dengan

1.4.2

normotermia dapat memanjang lebih dari 24 jam.


Kelelahan akibat panas
Terjadi bila diaphoresis yang banyak menyebabkan
kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan. Juga
disebabkan olehlingkungan yang panas.

1.4.3

Hipotermia
Peningkatan

suhu

tubuh

sehubungan

dengan

ketidakmampuan tubuh untuk meningkatkan pengeluaran


panas atau menurunkan produksi panas. Setiap penyakit atau
trauma pada hipotalamus dapat mempengaruhi mekanisme
pengeluaran panas.

1.4.4

Heatstroke
Pajanan yang lama terhadap sinar matahari atau lingkungan
dengan suhu tinggi dapat mempengaruhi mekanisme
pengeluaran

panas.

Kondisi

ini

disebut heatstroke,

kedaruratan yang berbahaya panas dengan angka mortalitas


yg tinggi. Klien berisiko termasuk yang masih sangat muda
atau sangat tua, yang memiliki penyakit kardiovaskular,
hipotiroidisme, diabetes atau alkoholik. Yang juga termasuk
beresiko adalah orang yang mengkonsumsi obat yang
menurunkan kemampuan tubuh untuk mengeluarkan panas
(mis. Fenotiasin, antikolinergik, diuretik, amfetamin, dan
antagonis reseptor beta- adrenergik) dan mereka yang
menjalani latihan olahraga atau kerja yang berat (mis. Atlet,
pekerja kontruksi dan petani). Tanda dan gejala heatstroke
termasuk gamang, konfusi, delirium, sangat haus, mual, kram
otot, gangguan visual, dan bahkan inkotinensia. Tanda yang
paling dari heatstroke adalah kulit yang hangat dan kering.
Penderita heatstroke tidak berkeringat karena kehilangn
elektrolit sangat berat dan malfungsi hipotalamus. Heatstroke
dengan suhu lebih besar dari 40,5 C mengakibatkan
kerusakan jaringan pada sel dari semua organ tubuh. Tanda
vital menyatakan suhu tubuh kadang-kadang setinggi 45 C,
takikardia dan hipotensi.
1.4.5

Hipotermia
Pengeluaran panas akibat paparan terus-menerus terhadap
dingin mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memproduksi
panas, mengakibatkan hipotermia. Hipotermia diklasifikasikan melalui pengukuran suhu inti. Hal tersebut dapat
terjadi kebetulan atau tidak sengaja selama prosedur bedah
untuk mengurangi kebutuhan metabolik dan kebutuhan tubuh
terhada oksigen.
Hipotermia aksidental biasanya terjadi secara berangsur dan
tidak diketahui selama beberapa jam. Ketika suhu tubuh
turun menjadi 35 C, klien menglami gemetar yang tidak
terkontrol, hilang ingatan, depresi, dan tidak mampu menila.
Jika suhu tubuh turun di bawah 34,4 C, frekuensi jantung,
pernafasan, dan tekanan darah turun. kulit menjadi sianotik.

II. Rencana Asuhan Klien dengan Gangguan Termoregulasi


2.1 Pengkajian
2.1.1 Riwayat Keperawatan Tentang Tidur
a. Mengidentifikasi klien yang memiliki peningkatan suhu
diatas batas normal.
b. Mengkaji tanda dan gejala perubahan suhu dan faktor
yang secara normal mempengaruhi suhu tubuh.
2.1.2

Pemeriksaan Fisik: Data Fokus


a. Hitung tanda-tanda vital ketika panas terus-menerus dan
sesuai perintah (2/4 jam).
b. Inspeksi dan palpasi kulit, cek turgor kulit (dingin,
kering, kemerahan, hangat, turgor menurun).
c. Tanda-tanda dehidrasi
d. Perubahan tingkah laku: bingung disorientasi, gelisah
disertai dengan sakit kepala, nyeri otot, nousea,
photopobia, lemah, letih, dll.

2.1.3

Pemeriksaan Penunjang
2.1.3.1
Kultur (luka, sputum, urine, darah)
a. Mengidentifikasi
organisme
penyebab
demam/radang
b. Untuk menentukan obat yang efektif
2.1.3.2
Sel darah putih:
a. Leucopenia (penurunan SDP) sebelumnya
b. Leucositosis (15.000-30.000)
2.1.3.3
Elektrolit serum:
Ketidakseimbangan elektrolit, asidosis, perpindahan
cairan, perubahan fungsi ginjal.
2.1.3.4
Glukosa serum:
Sebagai respon dari puasa dan perubahan seluler
dalam metabolisme.
2.1.3.5
Urinalisis: bakteri penyebab infeksi
2.2 Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul
Diagnosa 1 : Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan atau penurunan kemampuan untuk
berkeringat

2.2.1
2.2.2

Definisi
Peningkatan suhu tubuh diatas rentang normal
Batasan Karakteristik
- Kulit merah
- Suhu tubuh di atas rentang normal
- Frekuensi nafas meningkat
- Kejang tau konvulsi
- Kulit teraba hangat

2.2.3

- Takikardia
- Takipnea
Faktor yang Berhubungan
- Dehidrasi
- Penyakit atau trauma
- Ketidakmampuan atau penurunan untuk berkeringat
- Pakaian yang tidak tepat
- Peningkatan laju metabolisme
- Obat atau anestesia
- Terpajan pada lingkungan yang panas (jangka panjang)
- Aktivitas yang berlebihan
Diagnosa 2: Penurunan suhu tubuh berhubungan dengan penurunan
laju metabolik

2.2.4
2.2.5

2.2.6

Definisi
Suhu tubuh di bawah rentang normal
Batasan Karakteristik
a. Kulit dingin
b. Bantalan kuku sianosis hipertensi
c. Pucat
d. Merinding
e. Penurunan suhu tubuh di bawah rentang normal
f. Menggigil
g. Pengisisan ulang kapiler lambat
h. Takikardia
Faktor yang berhubungan
a. Penuaan
b. Konsumsi alkohol
c. Kerusakan hipotalamus
d. Penurunan laju hmetabolik
e. Kulit berkeringat pada lingkungan yang dingin
f. Penyakit atau trauma
g. Ketidakmampuan atau penurunan kemampuan untuk
h.
i.
j.
k.
l.

menggigil
Ketidakaktifan
Penggunaan pakaian yang tidak mencukupi
Malnutrisi
Obat-obatan (menyebabkan vasodilatasi)
Terpajan lingkungan yang dingin atau kedinginan (dalam
waktu lama).

2.3 Perencanaan
Diagnosa 1: Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan atau penurunan kemampuan untuk
2.3.1

berkeringat
Tujuan dan Kiteria Hasil
a. Pasien akan menunjukkan suhu tubuh yang dibuktikan
oleh indikator gangguan sebagai berikut (sebutkan 1-5:

gangguan ekstrem, berat, sedang, ringan, atau tidak ada


gangguan):
Peningkatan suhu kulit
Hipertermia
Dehidrasi
Mengantuk
b. Pasien akan menunjukkan suhu tubuh yang dibuktikan
oleh indikator gangguan sebagai berikut (sebutkan 1-5:
gangguan ekstrem, berat, sedang, ringan, atau tidak ada
gangguan):
Berkeringat saat panas
Denyut nadi radialis
Frekuensi pernafasan

2.3.2

Intervensi Keperawatan dan Rasional


a. Intervensi
Terapi demam
Kewaspadaan hipertermia maligna
Perawatan bayi baru lahir
Regulasi suhu
Pemantauan tanda vital
b. Rasional
Penatalaksanaan pasien yang mengalami hiperpireksia
akibat faktor selain lingkungan
Pencegahan atau penurunan respons hipermetabolik
terhadap obat-obat farmakologis yang digunakan
selama pembedahan
Penatalaksanaan neonatus selama transisi dari ke
kehidupan di luar rahim dan periode stabilisasi
selanjutnya
Mencapai atau mempertahankan suhu tubuh dalam
rentang normal
Mengumpulkan dan menganalisis data kardiovaskular,
pernapasan, dan suhu tubuh untuk menetukan serta
mencegah komplikasi.
Diagnosa 2: penurunan suhu tubuh berhubungan dengan penurunan

2.3.3

laju metabolik
Tujuan dan Kriteria Hasil

a. Pasien akan menunjukkan suhu tubuh yang dibuktikan


oleh indikator sebagai berikut (sebutkan 1-5): gangguan
ekstrem, berat, sedang, ringan atau tidak ada gangguan):
Penuruanan suhu tubuh
Perubahan warna kulit
b. Pasien akan menunjukkan suhu tubuh yang dibuktikan
oleh indikator sebagai berikut (sebutkan 1-5): gangguan

2.3.4

ekstrem, berat, sedang, ringan atau tidak ada gangguan):


Merinding atau kedinginan
Menggigil saat kedinginan
Laporan suhu yang nyaman
Intervensi Keperawatan dan Rasional
a. Intervensi
Terapi hipotermia
Perawatan bayi baru lahir
Regulasi suhu
Pemantauan tanda vital
b. Rasional
Menghangatkan kembali dan melakukan surveilans
pasien yang memiliki suhu tubuh kurang dari 35C
Penatalksanaan neonatus selama transisi ke kehidupan
di luar rahim periode stabilisasi selanjutnya
Mempertahankan atau mencapai suhu tubuh intra
bedah yang diharapkan
Mengumpulkan dan menganalisis data kardiovaskular,
pernapasan, dan suhu tubuh untuk menentukan serta
mencegah komplikasi.

III. Daftar Pustaka


Heriana, Pelapina. 2014. Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia.
Tanggerang Selatan: Binarupa Aksara
Maryunani, Anik. 2015. Kebutuhan Dasar Manusia (KDM). Bogor: In
Media
Tarwoto dan Wartonah. 2010. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses
Keperawatan Edisi 4. Jakarta: Medika Salemba
Alimul.H.Aziz (2006) Pengantar KDM dan Proses Keperawatan. Salemba
Medika Jakarta.
Asmadi (2008) Prosedural Keperawatan, Konsep dan Aplikasi KDM,
Salemba Medika Jakarta.
Nanda international. 2012. Diagnosis keperawatan: definisi dan klasifikasi
2012 2014. Jakarta : EGC
Walkinson, Judith M. (2012). Buku Saku Diagnosis Keperawatan:
diagnosis NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC. Ed.9.
Jakarta:EGC
Wartonah Tartowo (2006) KDM dan Proses keperawatan,Edisi 3, Salemba
Medika Jakarta.

Banjarmasin,

November 2016

Preseptor Akademik,
Preseptor Klinik,
(...........................)

(...........................)

LAPORAN PENDAHULUAN
KEBUTUHAN ISTIRAHAT DAN TIDUR

OLEH
NAMA :FANSYAH
NIM

: 1614901110063

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI S.1 KEPERAWTAN PROFESI NERS


TAHUN AKADEMIK 2016/2017