Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Pengertian
Dermatitis kontak ( dermatitis venenata ) merupakan reaksi inflamasi kulit terhadap
unsur unsur fisik, kimia atau biologi. Penyakit ini adalah kelainan inflamasi yang sering
bersifat ekzematosoa dan disebabkan oleh reaksi kulit terhadap sejumlah bahan yang iritatif
atau alergenik. Dermatitis kontak adalah peradangan oleh kontak dengan suatu zat tertentu,
ruamnya terbatas pada daerah tertentu dan seringkali memiliki batas yang tegas.
B. Etiologi
Zat zat yang dapat menyebabkan dermatitis kontak melalui 2 cara yaitu :
Iritasi ( dermatitis iritan )
Reaksi alergi ( dermatitis kontak alergika ) Sabun detergen dan logam logam

tertentu bisa mengiritasi kulit setelah beberapa kali digunakan.


Penyebab dermatitis kontak alergika
1. Kosmetika : Cat kuku, penghapus cat kuku, deodorant, pelemban lotion sehabis
bercukur, parfum, tabir surya.
2. Senyawa kimia ( dalam perhiasan ) : nikel
3. Tanaman : Racun IVY ( tanaman merambat ) racun pohon ek, sejenis rumput liar,
primros.
4. Obat obat yang terkandung dalam kritim kulit : antibiotic ( penisilin,
sulfonagnid, neomisin ), autihistamin ( defenhidramin )
5. Zat kimia yang digunakan dalam pengelolaan pakaian.

C. Manifestasi Klinik
Gejala dermatitis kontak mencakup keluhan :
1. Gatal gatal
2. Rasa terbakar
3. Lesi kulit ( vesikel )
4. Edema yang diikuti oleh pengeluaran secret
5. Pembentukan krusta serta akhirnya mengering dan mengelupas kulit.
Dermatitis Kontak Alergi
Reaksi yang berulang ulang dapat disertai penebalan kulit dan perubahan
pigmentasi. Invasi sekunder oleh bakteri dapat terjadi pada kulit yang mengalami
ekskoriasis karena digosok atau digaruk. Biasanya tidak terdapat gejala sistemik
kecuali jika erupsinya tersebar luas.
Penderita umumnya mengeluh gatal. Kelainan bergantung pada keparahan
dermatitis.
Dermatitis kontak umumnya mempunyai gambaran klinis dermatitis, yaitu terdapat efl

oresensi kulit yang bersifat polimorf dan berbatas tegas. Dermatitis kontak iritan umun
ya mempunyai ruam kulit yang lebih bersifat monomorf dan berbatas lebih tegas
dibandingkan dermatitis kontak alergik.
1. Fase akut.
Kelainan kulit umumnya muncul 24-48 jam pada tempat terjadinya kontak
dengan bahan penyebab. Derajat kelainan kulit yang timbul bervariasi ada yang
ringan ada pula yang berat. Pada yang ringan mungkin hanya berupa eritema dan
edema, sedang pada yang berat selain eritema dan edema yang lebih hebat
disertai pula vesikel atau bula yang bila pecah akan terjadi erosi dan eksudasi.
Lesi

cenderung

menyebar

dan

batasnya

kurang

jelas.

Keluhan

subyektif berupa gatal.


2. Fase Sub Akut
Jika tidak diberi pengobatan dan kontak dengan alergen sudah tidak ada maka
proses akut akan menjadi subakut atau kronis. Pada fase ini akan terlihat eritema,
edema ringan, vesikula, krusta dan pembentukan papul-papul.
3. Fase Kronis
Dermatitis jenis ini dapat primer atau merupakan kelanjutan dari fase akut yang
hilang timbul karena kontak yang berulang-ulang. Lesi cenderung simetris,
batasnya kabur, kelainan kulit berupa likenifikasi, papula, skuama, terlihat pula
bekas garukan berupa erosi atau ekskoriasi, krusta serta eritema ringan. Walaupun
bahan yang dicurigai telah dapat dihindari, bentuk kronis ini sulit sembuh
spontan oleh karena umumnya terjadi kontak dengan bahan lain yang
tidak dikenal.
Dermatitis kontak iritan juga ada dua macam yaitu :
a. Dermatititis kontak iritan akut.
Penyebabnya iritan kuat, biasanya karena kecelakaan. Kulit terasa pedih atau panas,
eritema, vesikel, atau bula. Luas kelainan umumnya sebatas daerah yang terkena, berb
atas tegas. Pada umumnya kelainan kulit muncul segera, tetapi ada sejumlah bahan
kimiayang menimbulkan reaksi akut lambat misalnya podofilin, antralin, asam fluoro
hidrogenat, sehingga dermatitis kontak iritan akut lambat. Kelainan kulit baru terlihat
setelah 12-24 jam atau lebih. Contohnya ialah dermatitis yang disebabkan oleh bulu
serangga yang terbang pada malam hari (dermatitis venenata); penderita baru merasa

pedih setelah esok harinya, pada awalnya terlihat eritema dan sorenya sudah menjadi
vesikel atau bahkan nekrosis.
b. Dermatitis kontak iritan kronis atau dermatitis iritan kumulatif
Disebabkan oleh kontak dengan iritan lembah yang berulang-ulang (oleh faktor fisik,
misalnya gesekan, trauma mikro, kelembaban rendah, panas atau dingin; juga bahan
contohnya detergen, sabun, pelarut, tanah, bahkan juga air). Dermatitis kontak iritan
kronis mungkin terjadi oleh karena kerjasama berbagai faktor. Bisa jadi suatu bahan
secara sendiri tidak cukup kuat menyebabkan dermatitis iritan, tetapi bila bergabung
dengan faktor lain baru mampu. Kelainan baru nyata setelah berhari-hari, berminggu
atau bulan, bahkan bisa bertahun-tahun kemudian. Sehingga waktu dan rentetan
kontak merupakan faktor paling penting. Dermatitis iritan kumulatif ini merupakan
dermatitis

kontak

iritan

yang

paling

sering

ditemukan.

Gejala klasik berupa kulit kering, eritema, skuama, lambat laun kulit tebal
(hiperkeratosis) dan likenifikasi, batas kelainan tidak tegas. Bila kontak terus
berlangsung akhirnya kulit dapat retak seperti luka iris (fisur), misalnya pada kulit
tumit tukang cuci yang mengalami kontak terus menerus dengan deterjen. Ada
kalanya kelainan hanya berupa kulit kering atau skuama tanpa eritema, sehingga
diabaikan oleh penderita. Setelah kelainan dirasakan mengganggu, baru mendapat
perhatian. Banyak pekerjaan yang beresiko tinggi yang memungkinkan terjadinya
dermatitis kontak iritan kumulatif, misalnya : mencuci, memasak, membersihkan
lantai, kerja bangunan, kerja di bengkel dan berkebun.
Dermatitis Kontak Alergi
Selain berdasarkan fase respon peradangannya, gambaran klinis dermatitis kontak
alergi juga dapat dilihat menurut predileksi regionalnya. Hal ini akan memudahkan
untuk mencari bahan penyebabnya.
1. Tangan
Kejadian dermatitis kontak baik iritan maupun alergik paling sering di tangan,
misalnya pada ibu rumah tangga. Demikian pula dermatitis kontak akibat kerja
paling banyak ditemukan di tangan. Sebagian besar memang disebabkan oleh
bahan

iritan.

Bahan

penyebabnya

sayuran/tanaman, semen dan pestisida.

misalnya

deterjen,

antiseptik,

getah

2. Lengan
Alergen umumnya sama dengan pada tangan, misalnya oleh jam tangan (nikel),
sarung tangan karet, debu semen dan tanaman. Di aksila umumnya oleh bahan
pengharum.
3. Wajah
Dermatitis kontak pada wajah dapat disebabkan bahan kosmetik, obat topikal,
alergen yang ada di udara, nikel (tangkai kaca mata). Bila di bibir atau sekitarnya
mungkun disebabkan oleh lipstik, pasta gigi dan getah buah-buahan. Dermatitis di
kelopakmatadapat disebabkan oleh cat kuku, cat rambut, perona mata dan obat ma
ta.
4. Telinga
Anting atau jepit telinga terbuat dari nikel, penyebab lainnya seperti obat topikal,
tangkai kaca mata, cat rambut dan alat bantu pendengaran.
5. Leher dan Kepala
Pada leher penyebabnya adalah kalung dari nikel, cat kuku (yang berasal dari
ujung jari), parfum, alergen di udara dan zat warna pakaian. Kulit kepala relative
tahan terhadap alergen kontak, namun dapat juga terkena oleh cat rambut,
semprotan rambut, sampo atau larutan pengeriting rambut.
6. Badan
Dapat disebabkan oleh pakaian, zat warna, kancing logam, karet (elastis, busa ),
plastik dan deterjen.
7. Genitalia
Penyebabnya dapat antiseptik, obat topikal, nilon, kondom, pembalut wanita dan
alergen yang berada di tangan.
8. Paha dan tungkai bawah
Disebabkan oleh pakaian, dompet, kunci (nikel) di saku, kaos kaki nilon, obat
topikal (anestesi lokal, neomisin, etilendiamin), semen, sandal dan sepatu.
D. Klasifikasi dermatitis
a. Dermatitis foto kontak
Dermatitis ini merupakan reaksi iritasi / alergi yang terjadi pada daerah yang
terpajan sinar matahari. Keluhan pasien yang mengalami inflamasi ini adalah rasa

gatal dan pedih. Biasanya terjadi di wajah, lengan dan tempat lain yang terkena sinar
matahari.
Pada pemeriksaan fisik, nampak lesi eksematosa,esikel, bulla, skuama, krusta,
eksimatosa, dan lesi kronik ( likenifikasi ).
b. Dermatitis atopic
Dermatitis atopik adalah penyakit yang sangat spesifik yang diakibatkan oleh
ambang

rendah

yang

ditetapkan

secara

genetik

terhadap

pruritus

dan

dikarakteristikkan oleh gatal yang intens. Peradangan kulit dengan penyebab endapan
endogen.Terdapat pada individu yang mempunyai Ig E dalam darah dengan kadar
tinggi. Hal ini disebabkan oleh hipersensitivitas bawaan.
Bentuk dermatitis atopic
1. Dermatitis atopik / infantile
-

Umur 2 bulan 2 tahun ( 2 minggu )

Lesi : eritema, vesikel, papul bergerombol yang terdapat pada pipi, lengan,
dahi, dan terdapat secara simetris

Sifat hhilang timbul ( kambuhan )

2. Dermatitis atopik pada anak anak


-

Sebagai lanjutan dari dermatitis infantil diselingi ehat beberapa tahun

Umur : 3 tahun 10 tahun

Lesi : gerombolan papul, eritema, kadang kadang sudah terjadi


ekskoriasis ( likenifikasi )

Keluhan gatal yang digaruk dan hilang timbul

3. Dermatitis atopik dewasa


-

Lanjutan dari anak anak

Tempat lesi : wajah, leher, dada, tengkuk, lengan

Lesi berupa gerombolan papul, likenifikasi

Tanda khas berupa while dermografisme

4. Dermatitis numularis
Adalah suatu dermatitis yang bentuknya seperti uang logam yang lokasinya di
tempat tertentu dengan penyebab yang belum jellas.sinonim untuknya adalah

neurodermatitis numular.karena dalam bahasa latin numular berarti bundar


seperti uang logam.
5. Dermatitis statis
Dermatitis statis atau dermatitis hipostatik ialah salah satu jenis dermatitis
sirkulatorius. Biasanya dermatitis statis merupakan dermatitis varikosum.
Sebab kausa utamanya ialah insufisiensi vena.
6. Dermatitis seboroik
Seborrhea atau Dermatitis seboroik yaitu kelainan kulit berupa peradangan
superfisial dengan papuloskuamosa yang kronik dengan tempat predileksi di
daerah-daerah seboroik yakni daerah yang kaya akan kelenjar sebasea, seperti
pada kulit kepala, alis, kelopak mata, naso labial, bibir, telinga, dada, axilla,
umbilikus, selangkangan dan glutea. Pada dermatitis seboroik didapatkan
kelainan kulit yang berupa eritem, edema, serta skuama yang kering atau
berminyak dan berwarna kuning kecoklatan dalam berbagai ukuran disertai
adanya krusta.

E. Patofisiologi
1. Dermatitis Kontak Iritan
Pada dermatitis kontak iritan kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang
disebabkan oleh bahan iritan melalui kerja kimiawi maupun fisik. Bahan iritan
merusak lapisan tanduk, dalam beberapa menit atau beberapa jam bahan-bahan iritan
tersebut akan berdifusi melalui membran untuk merusak lisosom, mitokondria dan
komponen-komponen inti sel. Dengan rusaknya membran lipid keratinosit maka
fosfolipase akan diaktifkan dan membebaskan asam arakidonik akan membebaskan
prostaglandin dan leukotrin yang akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah dan
transudasi dari faktor sirkulasi dari komplemen dan system kinin. Juga akan menarik
neutrofil dan limfosit serta mengaktifkan sel mast yang akan membebaskan histamin,
prostaglandin dan leukotrin. PAF akan mengaktivasi platelets yang akan
menyebabkan perubahan vaskuler. Diacil gliserida akan merangsang ekspresi gen dan
sintesis protein.
Pada dermatitis kontak iritan terjadi kerusakan keratisonit dan keluarnya
mediator- mediator. Sehingga perbedaan mekanismenya dengan dermatis kontak
alergik sangat tipis yaitu dermatitis kontak iritan tidak melalui fase sensitisasi.
Ada dua jenis bahan iritan yaitu :
- Iritan kuat akan menimbulkan kelainan kulit pada pajanan pertama pada
-

hampir semua orang,


Iritan lemah hanya pada mereka yang paling rawan atau mengalami kontak
berulang-ulang. Faktor kontribusi, misalnya kelembaban udara, tekanan,

gesekan dan oklusi, mempunyai andil pada terjadinya kerusakan tersebut.


2. Dermatitis Kontak Alergi
Pada dermatitis kontak alergi, ada dua fase terjadinya respon imun tipe IV yang
menyebabkan timbulnya lesi dermatitis ini yaitu :
a. Fase Sensitisasi
Fase sensitisasi disebut juga fase induksi atau fase aferen. Pada fase ini
terjadi sensitisasi terhadap individu yang semula belum peka, oleh bahan
kontaktan yang disebut alergen kontak atau pemeka. Terjadi bila hapten
menempel pada kulit selama 18-24 jam kemudian hapten diproses dengan jalan
pinositosis atau endositosis oleh sel LE (Langerhans Epidermal), untuk
mengadakan ikatan kovalen dengan protein karier yang berada di epidermis,
menjadi komplek hapten protein. Protein ini terletak pada membran sel

Langerhans dan berhubungan dengan produk gen HLA-DR (Human Leukocyte


Antigen-DR). Pada sel penyaji antigen (antigen presenting cell).
Kemudian sel LE menuju duktus Limfatikus dan ke parakorteks
Limfonodus regional dan terjadilah proses penyajian antigen kepada molekul
CD4+ (Cluster of Diferantiation 4+) dan molekul CD3. CD4+berfungsi sebagai
pengenal komplek HLADR dari sel Langerhans, sedangkan molekul CD3 yang
berkaitan dengan protein heterodimerik Ti (CD3-Ti), merupakan pengenal antigen
yang lebih spesifik, misalnya untuk ion nikel saja atau ion kromium saja. Kedua
reseptor antigen tersebut terdapat pada permukaan sel T. Pada saat ini telah terjadi
pengenalan antigen (antigen recognition). Selanjutnya sel Langerhans dirangsang
untuk mengeluarkan IL-1 (interleukin-1) yang akan merangsang sel T untuk
mengeluarkan IL-2. Kemudian IL-2 akan mengakibatkan proliferasi sel T
sehingga terbentuk primed me mory T cells, yang akan bersirkulasi ke seluruh
tubuh meninggalkan limfonodi dan akan memasuki fase elisitasi bila kontak
berikut dengan alergen yang sama. Proses ini pada manusia berlangsung selama
14-21 hari, dan belum terdapat ruam pada kulit. Pada saat ini individu tersebut
telah tersensitisasi yang berarti mempunyai resiko untuk mengalami dermatitis
kontak alergik.
b. Fase elisitasi
Fase elisitasi atau fase eferen terjadi apabila timbul pajanan kedua dari
antigen yang sama dan sel yang telah tersensitisasi telah tersedia di dalam
kompartemen dermis. Sel Langerhans akan mensekresi IL-1 yang akan
merangsang sel T untuk mensekresi Il-2. Selanjutnya IL-2 akan merangsang INF
(interferon) gamma. IL-1 dan INF gamma akan merangsang keratinosit
memproduksi ICAM-1 (intercellular adhesion molecule-1) yang langsung beraksi
dengan limfosit T dan lekosit, serta sekresi eikosanoid. Eikosanoid akan
mengaktifkan sel mast dan makrofag untuk melepaskan histamin sehingga terjadi
vasodilatasi dan permeabilitas yang meningkat. Akibatnya timbul berbagai
macam kelainan kulit seperti eritema, edema dan vesikula yang akan tampak
sebagai dermatitis.
Proses peredaan atau penyusutan peradangan terjadi melalui beberapa
mekanisme yaitu proses skuamasi, degradasi antigen oleh enzim dan sel,

kerusakan sel Langerhans dan sel keratinosit serta pelepasan Prostaglandin E1dan 2 (PGE-1,2) oleh sel makrofag akibat stimulasi INF gamma. PGE-1,2
berfungsi menekan produksi IL-2R sel T serta mencegah kontak sel T dengan
keratisonit. Selain itu sel mast dan basofil juga ikut berperan dengan
memperlambat puncak degranulasi setelah 48 jam paparan antigen, diduga
histamin berefek merangsang molekul CD8 (+) yang bersifat sitotoksik. Dengan
beberapa mekanisme lain, seperti sel B dan sel T terhadap antigen spesifik, dan
akhirnya menekan atau meredakan peradangan.
Penyimpangan KDM
Bahan iritan
merusak lapisan tanduk

lisosom, mitokondria dan


komponen-komponen inti sel
mengalami kerusakan

rusaknya membran lipid keratinosit


pengaktifan fosfolipase

pembebasan asam arakidonik

Pembebasan histamin,
prostaglandin dan leukotrin.
pruritus
perubahan pola tidur

vasodilatasi dan permeabilitas yang meningkat.

Timbul eritema, edema dan vesikula

Perubahan status kesehatan


Tidak mengenal informasi
Kurang pengetahuan

Kerusakan integritas kulit

Merangsang pusat saraf


Ditrasmisikan ke korteks
Serebri melalui thalamus
nyeri dan gatal

Penampakan kulit yang tidak baik


Koping tidak efektif

Perubahan citra tubuh


F. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis gangguan integument
yaitu :
a. Biopsi kulit, adalah pemeriksaan dengan cara mengambil cintih jaringan dari kulit
yang terdapat lesi. Biopsi kulit digunakan untuk menentukan apakah ada keganasan
atau infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan jamur.
b. Uji kultur dan sensitivitas, Uji ini perlu dilakukan untuk mengetahui adanya virus,
bakteri, dan jamur pada kulit. Kegunaan lain adalah untuk mengetahui apakah
mikroorganisme tersebut resisten pada obat obat tertentu. Cara pengambilan bahan
untuk uji kultur adalah dengan mengambil eksudat pada lesi kulit.
c. Pemeriksaan dengan menggunakan pencahayaan khusus, Pemeriksaan kulit perlu
mempersiapkam pencahayaan khusus sesuai kasus. Factor pencahayaan memegang
peranan penting.

d. Uji temple. Alergi kontak dapat dibuktikan dengan tes in vivo dan tes in vitro. Tes in
vivodapatdilakukandengan uji tempel. Berdasarkan tehnik pelaksanaannya dibagi tig
a jenis tes temple yaitu :
1. Tes Tempel Terbuka
Pada uji terbuka bahan yang dicurigai ditempelkan pada daerah belakang telinga
karenadaerah tersebut sukar dihapus selama 24 jam. Setelah itu dibaca dan dieval
uasi hasilnya. Indikasi uji temple terbuka adalah allergen yang menguap.
2. Tes Tempel Tertutup
Untuk uji tertutup diperlukan Unit Uji Tempel yang berbentuk semacam plester
yang pada bagian tengahnya terdapat lokasi dimana bahan tersebut diletakkan.
Bahan yang dicurigai ditempelkan dipunggung atau lengan atas penderita selama
48 jam setelah itu hasilnya dievaluasi.
3. Tes temple dengan Sinar
Uji tempel sinar dilakukan untuk bahan-bahan yang bersifat sebagai
fotosensitisir yaitu bahan-bahan yang bersifat sebagai fotosensitisir yaitu bahan
yang dengan sinar ultra violet baru akan bersifat sebagai alergen. Tehnik sama
dengan uji tempel tertutup, hanya dilakukan secara duplo. Dua baris dimana satu
baris bersifat sebagai kontrol. Setelah 24 jam ditempelkan pada kulit salah satu
baris dibuka dan disinari dengan sinar ultraviolet dan 24 jam berikutnya
dievaluasi hasilnya. Untuk menghindari efek daripada sinar, maka punggung atau
bahan test tersebut dilindungi dengan secarik kain hitam atau plester hitam
agar sinar tidak bisa menembus bahan tersebut.
Untuk dapat melaksanakan uji tempel ini sebaiknya penderita sudah dalam
keadaan tenang penyakitnya, karena bila masih dalam keadaan akut kemungkinan
salah satu bahan uji tempel merupakan penyebab dermatitis sehingga akan
menjadi lebih berat. Tidak perlu sembuh tapi dalam keadaan tenang. Disamping
itu berbagai macam obat dapat mempengaruhi uji tempel sebaiknya juga
dihindari paling tidak 24 jam sebelum melakukan uji tempel misalnya obat
antihistamin dan kortikosteroid.
Dalam melaksanakan uji tempel diperlukan bahan standar yang umumnya telah
disediakan oleh International Contact dermatitis risert group, unit uji tempel dan
penderita maka dengan mudah dilihat perubahan pada kulit penderita. Untuk
mengambil kesimpulan dari hasil yang didapat dari penderita diperlukan

keterampilan khusus karena bila gegabah mungkin akan merugikan penderita sendiri.
Kadang-kadang hasil ini merupakan vonis penderita dimana misalnya hasilnya
positif maka penderita diminta untuk menghindari bahan itu. Penderita harus hidup
dengan menghindari ini itu, tidak boleh ini dan itu sehingga berdampak negatif dan
penderita dapat jatuh ke dalam neurosis misalnya. Karenanya dalam mengevaluasi
hasiluji temple dilakukan oleh seorang yang sudah mendapat latihan dan berpengala
man di bidang itu. Tes in vitro menggunakan transformasi limfosit atau inhibisi
migrasi makrofag untuk pengukuran dermatitis kontak alergik pada manusia dan
hewan. Namun hal tersebut belum standar dan secara klinis belum bernilai diagnosis.
Uji ini dilakukan pada klien yang diduga menderita alergi. Untuk mengetahui apakah
lesi tersebut ada kaitannya dengan factor imunologis. Untuk mengidentifikasi respon
alergi Uji ini menggunakan bahan kimia yang ditempelkan pada kulit, selanjutnya
dilihat bagaimana reaksi local yang ditimbulkan. Apabila ditemukan kelainan pada
kulit, maka hasil nya positif.
G. Pencegahan
Pencegahan dermatitis kontak berarti menghindari berkontak dengan bahan yang telah
disebutkan di atas. Strategi pencegahan meliputi:
- Bersihkan kulit yang terkena bahan iritan dengan air dan sabun. Bila dilakukan
-

secepatnya, dapat menghilangkan banyak iritan dan alergen dari kulit.


Gunakan sarung tangan saat mengerjakan pekerjaan rumah tangga untuk

menghindari kontak dengan bahan pembersih.


Bila sedang bekerja, gunakan pakaian pelindung atau sarung tangan untuk
menghindari kontak dengan bahan alergen atau iritan.

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Biodata
Biodara terdiri dari nama, jenis kelamin. Umur, agama, suku bangsa, pendidkan
pendapatan pekerjaan,nomor akses, alamat dan lain- lain. Dermatitis kontak dapat terjadi
pada semua orang di semua umur sering terjadi pada remaja dan dewasa muda dapat terjadi
pada pria dan wanita.
Bila dibandingkan dengan dermatitis kontak iritan, jumlah penderita dermatitis kontak
alergik lebih sedikit, karena hanya mengenai orang yang kulitnya sangat peka (hipersensitif).
Dermatitis kontak iritan timbul pada 80% dari seluruh penderita dermatitis kontak
sedangkan dermatitis kontak alergik kira-kira hanya 20%. Sedangkan insiden dermatitis
kontak alergik terjadi pada 3-4% dari populasi penduduk. Usia tidak mempengaruhi
timbulnya sensitisasi namun dermatitis kontak alergik lebih jarang dijumpai pada anak-anak.
Lebih sering timbul pada usia dewasa tapi dapat mengenai segala usia. Prevalensi pada
wanita dua kali lipat dari pada laki-laki.
Bangsa kaukasian lebih sering terkena dari pada ras bangsa lain. Nampaknya banyak juga
timbul pada bangsa Afrika-Amerika namun lebih sulit dideteksi. Jenis pekerjaan merupakan
hal penting terhadap tingginya insiden dermatitis kontak.
2. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
1) Keluhan Utama
Pada kasus dermatitis kontak biasanya klien mengeluh kulitnya terasa gatal serta
nyeri.Gejala yang sering menyebabkan penderita datang ke tempat pelayanan
kesehatan adalah nyeri pada lesi yang timbul.
2) Riwayat keluhan utama
Provoking Inciden, yang menjadi faktor presipitasi dari keluhan utama. Pada
beberapa kasus dematitis kontak timbul Lesi kulit ( vesikel ),terasa panas pada kulit
dan kulit akan berwarna merah, edema yang diikuti oleh pengeluaran secret.
Kembangkan pola PQRST pada setiap keluhan klien

Provocative/palliative Apa penyebab keluhan


Apakah sebelumnya klien melakukan kontak dengan bahan-bahan tertentu

yang menyebabkan kerusakan pada kulit


Apa yang membuat keluhan bertambah baik/ringan atau bertambah berat.
Dengan menjauhi sumber dermatitis kontak maka keluhan yang dirasakan

akan berkurang
Quality/quantity Bagaimana keluhan dirasakan, dilihat, didengar
Pada beberapa kasus dermatitis kontak biasanya klien akan merasakan gatal
dan nyeri pada daerah yang terkena bahan tertentu yang dapat menyebabkan

keluhan
Sejauh mana sakit dirasakan Rasa sakit yang dirasakan mulai dari tingkat
ringan sampai berat. Tergantung dari lama kontak zat dengan kulit,

konsentrasi zat serta tingkat sensitifitas kulit


- Region/radiation Dimana letak sakit
Tergantung dari daerah yang kontak dengan penyebab
Area penyebarannya Area penyebarannya misalnya kaki, luka pada
tungkai, jari manis, tempat cedera, dibalik perhiasan.
- Severitty scale Apakah mempengaruhi aktifitas
Terganggunya aktifitas tergantung dari letak,tingkat keparahan penyakit
Seberapa jauh skala ringan/berat Tergantung dari tingkat keparahan penyakitnya
o Timing
Kapan mulai terjadi
Kapan sering terjadi
Apakah terjadinya mendadak atau perlahan-lahan
a. Riwayat Kesehatan masa Lalu
Seperti apakah klien pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya, apakah pernah
menderita alergi serta tindakan yang dilakukan untuk mengatasinya selain itu perlu juga
dikaji kebiasaan klien.
b. Riwayat Kesehatan keluarga
Apakah ada salah seorang anggota keluarganya yang mengalami penyakit yang sama,
tapi tidak pernah ditanggulangi dengan tim medis. Dermatitis pada sanak saudara khususnya
pada masa kanak-kanak dapat berarti penderita tersebut juga mudah menderita dermatitis
atopic
C. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum Ringan, sedang, berat.
2. Tingkat Kesadaran
Kompos mentis
Apatis

Samnolen, letergi/hypersomnia
Delirium
Stupor atau semi koma
Koma
Tingkat Kesadaran dermatitis kontak biasanya tidak terganggu Dermatitis kontak

termasuk tidak berbahaya, dalam arti tidak membahayakan hidup dan tidak menular. Walaupun
demikian, penyakit ini jelas menyebabkan rasa tidak nyaman dan amat mengganggu.
3.

4.
5.
6.

Tanda-tanda vital
Tekanan darah
Denyut nadi
Suhu tubuh
Pernafasan
Berat Badan
Tinggi Badan
Kulit
Inspeksi
radang akut terutama priritus ( sebagai pengganti dolor).
kemerahan (rubor),
gangguan fungsi kulit (function laisa).
biasanya batas kelainan tidak tegas an terdapat lesi polimorfi yang dapat timbul secara

serentak atau beturut-turut.


terdapat Vesikel-veikel fungtiformis yang berkelompok yang kemudian membesar.
Terdapat bula atau pustule,
ekskoriasi dengan krusta. Hal ini berarti dermatitis menjadi kering disebut ematiti sika.
terjadi deskuamasi, artinya timbul sisik. Bila proses menjadi kronis tapak likenifikasi dan

7.

8.

sebagai sekuele telihat


hiperpigmentai tau hipopigmentasi.
Palpasi
Nyeri tekan
edema atau pembengkakan
Kulit bersisik
Keadaan Kepala
Inspeksi
tekstur rambut klien halus dan jarang, kulit kepala nampak kotor.
Palpasi
Periksa apakah ada pembengkakan/ benjolan nyeri tekan atau adanya massa. Bi
Keadaan mata
Inspeksi

a. Palpebrae

: tidak edema, tidak radang

b. Sclera

Tidak ictertus

c. Conjuctiva

: Tidak terjadi peradangan

d. Pupil

Isokor

e. Posisi mata
Simetris/tidak

: simertis

Gerakan bola mata

k mata

: Normal

: Tidak mengalam
gangguan

Keadaan visus

: Normal

Penglihatan

: Normal (tidak kabur )

Palpasi
Tidak ada nyeri tekan
Tekanan Intra Okuler ( TIO ) tidak ada

A.

Keadaan hidung
inspeksi

simetris kiri dan kanan

Tidak ada pembengkakan dan sekresi

Tidak ada kemerahan pada selaput lendir

Palpasi

Tidak ada nyeri tekan

Tidak ada benjolan/tumor

10.

Keadaan telinga

inspeksi

telinga bagian luar simetris

tidak ada serumen/cairan, nanah

11. Mulut
Inspeksi
a.

Gigi

Keadaan gigi

Ada karang gigi/karies

Tidak ada pemakaian gigi palsu

b.

: bersih

Gusi
Tidak ada merah radang pada gusi

c.

Lidah
Lidah bersih

d.

Bibir

Tampak pucat

Kering pecah

Mulut tidak berbau

Kemampuan bicara normal

12.

Tenggorokan

a.

Warna mukosa

: Kemerahan

b.

Nyeri tekan

tidak ada

c.

Nyeri menelan tidak ada

13.

Leher
mInspeksi

a.

Kelenjar Thyroid

b.

Tidak ada pembengkakan atau benjolan

c.

Tidak ada distensi vena jugularis

: Tidak membesar

Palpasi

a.

Kelenjar Thyroid

b.

Kaku kuduk/tidak

c.

Kelenjar limfe

d.

Tidak ada benjolan atau massa

e.

Mobilisasi leher normal

14.

: Tidak terabah
:: tidak membesar

Thorax dan pernafasan


@ Inspeksi

a.

Bentuk dada

: Pigion chest

b.

Pernafasan

: Inspirasi/ekspirasi, Frekuensi pernafasan, irama pernafasan

c.

Pengembangan diwaktu bernafas normal

d.

Dada simetris

e.

Tidak ada retraksi

f.

Tidak ada batuk


@ Palpasi

a.

Tidak ada nyeri tekan, massa, adanya vocal premitus

b.

Untuk mengetahui adanya massa

c.

Inadekuat ekspansi dada


@ Perkusi
sonor : Suara perkusi jaringan paru yang normal
@ Askultasi
a.

Mendengarkan suara pada dinding thoraks

b.

Suara nafas :

c.

Suara tambahan : -

d.

Suara Ucapan

* Vesikuler

Suara normal
15.

Jantung

@ Inspeksi : Ictus Cordis : Denyutan dinding toraks oleh karena kontraksi ventrikel kiri
ditemukan pada ICS 5 linea medio clavicularis kiri.
@ Palpasi :
Normal
@ Perkusi
Jantung dalam keadaan normal
@ Auskultasi
Tidak ada murmur
16.

Pengkajian payudara dan ketiak


Inspeksi :

Payudara melingkar dan agak simetris dan ukuran sedang


Tidak terdapat udema, tidak terdapat kemerahan atau lesi serta vaskularisasi normal
Areola mamma agak kecoklatan
Tidak adanya penonjolan atau retraksi akibat adanya skar atau lesi.
Tidak ada keluaran, ulkus , pergerakan atau pembengkakan. Posisi kedua puting susu mempunyai
arah yang sama.
ketiak dan klavikula tidak ada pembengkakan atau tanda kemerah-merahan.

Palpasi

Tidak adanya keluaran serta nyeri tekan.


17.

Abdomen
Inspeksi :

umbilikus tidak menonjol


Tidak ada pembendungan pembuluh darah vena
Tidak ada benjolan
warna kemerahan

Palpasi

Tidak ada rasa nyeri


Tidak ada benjolan/ massa
Tidak ada pembesaran pada organ hepar

Perkusi : Tympani
Auskultasi
: Peristaltik normal

18. Genetalia dan Anus


Genetalia :

Inspeksi :

Tidak ada prolapsus uteri, benjolan kelenjar bartolini,


sekret vagina jernih

Palpasi : Tidak ada nyeri tekan

Anus : Keadaan anus normal, tidak ada haemoroid, fissura, fistula.


19.

Ekstremitas
Ekstremitas atas

a.

Motorik

Pergerakan kanan/kiri

: lemah

Pergerakan abnormal: seimbang antara kanan dan


kiri.

Kekuatan otot kiri/kanan

: kekuatan otot kanan dan kiri


lemah

b.
-

Koordinasi gerak

: ada gangguan

Refleks
Biceps kanan/kiri

: Normal

Triceps kana/kiri

c.

Sensori

Nyeri

Rangsang suhu

Rasa raba

: Normal
:+
:+
:+

Ekstremitas bawah
a.

Motorik

Gaya berjalan

Kekuatan kanan/kiri

Tonus otot kanan/kiri: menurun

b.

: Normal
: kekuatan kanan 5/kiri 5

Refleks

KPR kanan/kiri

: -/-

APR kanan/kiri

: -/-

Bebinski kanan/kiri : +/+

c.

Sensori

Nyeri

Rangsang suhu

: +

Rasa raba

: +

20

: +

Status Neurologi
Saraf-saraf cranial
N I (Olfaktorius)
Klien mampu membedakan bau minyak kayu putih dan alcohol.
N II (Optikus)
Klien tidak dapat melihat tulisan atau objek dari jarak yang jauh.
N III,IV,VI (Okulomotorius, Cochlearis, Abdusen)
Mata dapat berkontraksi, pupil isokor, klien mampu menggerakkan bola mata kesegala arah.
N V (Trigeminus)

Fungsi sensorik : Klien mengedipkan matanya bila ada rangsangan.

Fungsi motorik : Klien dapat menahan tarikan pulpen dengan gigitannya.


N VII (Fasialis)
Klien dapat mengerutkan dahinya, tersenyum dan dapat mengangkat alis.
N VIII (Akustikus)
Klien dapat mendengar dan berkomunikasi dengan baik, tidak ditemukan adanya tuli konduktif
dan tuli persepsi.
N IX (Glosofaringeus)
Klien dapat merasakan rasa manis, pahit, pedas.
N X (Fagus)
Klien tidak ada kesulitan mengunyah, klien tidak ada kesulitan menelan.
N XI (Assessoris)
Klien dapat mengangkat kedua bahu, tidak ada atropi otot sternokleidomastoideus dan trapezius.
N XII (Hipoglosus)
Gerakan lidah simetris, dapat bergerak kesegala arah, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada
fasikulasi, indra pengecapan normal.
Tanda-tanda perangsangan selaput otak
I.
II.

D.
a.
b.
c.
d.

: -

Kerning sign

: -

III.

Refleks Brudzinski

: -

IV.

Refleks Lasegu

: -

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Biopsi kulit
Uji temple
Pemeriksaan dengan menggunakan pencahayaan khusus
Uji kultur dan sensitivitas
E.

1.

Kaku kuduk

Pola Kegiatan Sehari-hari


Nutrisi

Yang perlu dikaji adalah bagaimana kebiasaan klien dalam hal pola makan, frekwensi maka/hari,
nafsu makan, makanan pantang, makanan yang disukai banyak minuman dlm sehari

serta

2.

apakah ada perubahan Perubahan selama sakit


Eliminasi
Pada eliminasi yang perlu dikaji adalah Kebiasaan BAK dan BAB seperti frekuensi,warna dan

3.

konsistensi baik sebelum dan sesudah sakit


Aktivitas
Pada penderita penyakit dermatitis kontak biasanya akan mengalami gangguan dalam
aktifitas karena adanya rasa gatal dan apabila mengalami infeksi maka akan mengalami

4.

gangguan dalam pemenuhan aktifitas sehari-hari.


Istirahat
klien biasanya mengeluh susah tidur dimalam hari karena gatal serta adanya nyeri. Adanya
gangguan pola tidur akibat gelisah, cemas.
F.
Pola Interaksi social
Secara umum klien yang mengalami dermatitis kontak biasanya pola interaksi sosialnya terganggu biasanya
akan merasa malu dengan penyakitnya.
G.
Keadaan Psikologis
Biasanya klien mengalami perubahan dalam berinteraksi dengan orang lain dan biasanya klien lebih suka
menyendiri dan sering cemas dengan penyakit yang diderita. Pada keadaaan psikologis ada beberapa hal yang
perlu dikaji seperti bagaimana persepsi klien terhadap penyakit yang diderita sekarang, bagaimana harapan
klien terhadap keadaan kesehatannyaserta bagaimana pola interaksi dengan tenaga kesehatan &
lingkungan.
H. Kegiatan Keagamaan
Biasanya klien beranggapan bahwa penyakit yang dideritanya merupakan cobaan untuknya dan pasti
terdapat hikmah untuknya.yang perlu dikaji pada kegiatan keagamaan seperti klien menganut agama apa selama
sakit klien sering berdoa.
I.

B.
1.

Pengelompokan data
Data Subjektif
Klien mengatakan lecet pada kulit jika

digaruk

Klien mengatakan nyeri pada kulit

Data Objektif
Kulit klien tampak kering
Kulit klien tampak bersisik
Tampak adanya peradangan
Klien nampak sering menggaruk
Kulit klien tampak lecet
Klien tampak gelisah

Diagnosa keperawatan
Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit

2.
3.
4.
5.
6.
C.

Nyeri dan gatal yang berhubungan dengan lesi kulit


perubahan pola tidur yang berhubungan dengan pruritus
Perubahan citra tubuh yang berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak baik.
Kurang pengetahuan tentang perawatan kulit dan cara cara menangani kelainan kulit.
Resiko infeksi berhubungan dengan lesi, bercak bercak merah pada kulit
Rasional
DX I
Intervensi
Mandiri:
1.
2.

Rasional
Mandiri

pantau keadaan kulit pasien


Jaga dengan cermat terhadap resiko

1. Mengetahui kondisi kulit untuk

terjadinya cedera termal akibat penggunaan

dilakukan pilihan intervensi yang

kompres hangat dengan suhu yang terlalu

tepat

tinggi dan akibat cidera panas yang tidak

2. Penderita

terasa ( bantalan pemanasan, radiator )


3.
Anjurkan pasien untuk menggunakan

dermatosis

mengalami

penurunan

dapat
sensitivitas

terhadap panas.

kosmetik dan preparat tabir surya.


Kolaborasi
4.

Kolaborasi

dengan

dokter

dalam

pemberian obat anti histamine dan salep


kulit
3. Banyak

masalah

hakekatnya
malignitas

kosmetika

semua
kulit

pada

kelainan

dapat

dikaitkan

dengan kerusakan kulit kronik.


4. Penggunaan anti histamine dapat
mengurangi

respon

gatal

serta

mempercepat proses pemulihan

DX 2
Intervensi
Mandiri:

Rasional
Mandiri
1. Pemahaman

tentang

luas

dan

1.

Periksa daerah yang terlibat

karakteristik kulit meliputi bantuan


dalam menyusun rencana intervensi.

2.

Upaya untuk menemukan penyebab

2. Membantu mengidentifikasi tindakan


yang

gangguan rasa nyaman

tepat

untuk

memberikan

kenyamanan.
3.

Mencatat hasil hasil observasi secara


rinci

dengan

memakai

terminology

deskriptif

3. Deskripsi yang akurat tentang erupsi


kulit diperlukan untuk diagnosisi dan
pengobatan. Banyak kondisi kulit
tampak serupa tetapi mempunyai
etiologi

yang

berbeda.

Respons

inflamasi kutan mungkin mati pada


4.

Mengantisipasi

reaksi

alergi

yang

pasien lansia.

mungkin terjadi ; mendapatkan riwayat


4. Ruam menyeluruh terutama dengan

pemakaian obat.

aeitan

5.

Kendalikan factor factor iritan

6.

Pertahankan kelembaban kira kira 60

7.
8.

% ; gunakan alat pelembab.


Pertahankan lingkungan dingin
Gunakan sabun ringan ( Dove ) atau sabun
yang

dibuat

untuk

kulit

yang

mendadak

dapat

mennjukkan reaksi alergi terhadap


obat.
5. Rasa gatal diperburuk oleh panas,
kimia, dan fisik.

sensitive

( Neutrogena, Avveno ).
9.
Lepaskan kelebihan pakaian atau peralatan

6. Dengan kelembaban yang rendah,


kulit akan kehilangan air

di tempat tidur.
10. Cuci linen tempat tidur dan pakaian dengan

7. Kesejukan mengurangi gatal

sabun ringan
11. Hentikan pemajanan berulang terhadap

8. Upaya ini mencakup tidak adanya

detergen, pembersih, dan pelarut.


12. Gunakan tindakan perawatan kulit untuk
mempertahankan

integritas

kulit

dan

meningkatkan kenyamanan pasien.


13. lakukan kompres penyejuk dengan air suam
suam kuku ataukompres dingin guna
meredakan rasa gatal.

larutan detegen, zat pewarna atau


bahan pengeras.
9. Meningkatkan lingkungan yang sejuk
10. Sabun yang keras dapat menimbulkan
iritasi kulit.

14. Atasi kekeringan ( serosis ) sebagaimana


dipreskripsikan.

11. Setiap substansi yang mneghilangkan


air, lipid atau protein dari epidermis
akan mengubah fungsi barier kulit.
12. Kulit merupakan barier yang penting
yang

15. Oleskan lotion dan krim kulit segera setelah


mandi

dengan benar.
13. Penghisapan air yang bertahap dari

Gunakan terapi topical seperti yang

dipreskripsikan.
17. Anjurkan pasien

dipertahankan

keutuhannya agar dapat berfungsi

Kolaborasi:

16.

harus

kasa kompres akan menyejukkan


kulit dan meredakan pruritus.

untuk

menghindari

pemakaian salep ayau lotion yang dibeli


tanpa resep dokter.
18. Jaga agar kuku selalu terpangkas.

14. Kulit yang kering dapat menimbulkan


daerah dermatitis dengan kemerahan,
gatal, deskuamasi dan pada bentuk
yang lebih berat, pembengkakan,
pembentukan lepuh, keretakan dan
eksudat.
Kolaborasi
15. Hidrasi yang efektif pada stratum
korneum mencegah gangguan lapisan
barier pada kulit.
16. Tindakan ini membantu meredakan
gejala
17. Masalah pasien dapat disebabkan
oleh iritasi atau sensitisasi karena
pengobatan sendiri.
18. Memotongan kuku akan mengurangi
kerusakan kulit karena garukan.

DX 3
Intervensi
Mandiri :
1.

Rasional
Mandiri :

Bantu pasien melakukan gerak badan


secara teratur

1. Gerak badan memberikan efek yang


menguntungkan

untuk

tidur

jika

dilaksanakan pada sore hari.


2.

jaga kamar tidur agar tetap memiliki


ventilasi dan kelembaban yang baik.

2. Udara yang kering membuat kulit


terasa

gatal.

Lingkungan

yang

nyaman meningkatkan relaksasi.


Kolaborasi:
3.

Pruritus noeturnal mengganggu tidur yang


normal.

3. Cegah dan obati kulit yang kering

4.
4. Anjurkan kepada klien menjaga kulit

Tindakan ini mencegah kehilangan air.


Kulit yang kering dan gatal biasanya tidak

selalu lembab

dapat disembuhkan tetapi bisa dikendalikan.


5.

Kafein memiliki efek puncak 2 4 jam


sesudah dikonsumsi.

5. Anjurkan

klien

Menghindari
6.
minuman yang mengandung kafein
menjelang tidur di malam hari.

6. Anjurkan klien Mengerjakan hal


hal yang ritual dan rutin menjelang
tidur.

Tindakan ini memudahkan peralihan dari


keadaan terjaga menjadi keadaan tertidur.

DX 4
Intervensi
Mandiri:
1.

Rasional
Mandiri:

Kaji adanya gangguan pada citra diri


1.

Gangguan citra diri akan menyertai setiap

pasien ( menghindari kontak mata, ucapan penyakit atau keadaan yang tampak nyata
yang merendahkan diri sendiri, ekpresi bagi pasien. Kesan sesorang terhadap dirinya
keadaan muak terhadap kondisi kulitnya ).
sendiri akan berpengaruh pada konsep diri
2.
Identifikasi stadium psikososial tahap
2.
Terhadap hubungan antara stadium
perkembangan.

perkembangan, citra diri dan reaksi serta


pemahaman pasien terhadap kondisi kulitnya

3.
Berikan kesempatan untuk pengungkapan.

3.

Pasien membutuhkan pengalaman yang


harus didengarkan dan dipahami.

Dengarkan ( dengan cara yang terbuka, tidak


menghakimi

untuk

mengekspresikan

berduka / ansietas tentang perubahan citra


tubuh.
4.
Nilai rasa keprihatinan dan ketakutan
4.
pasien. Bantu pasien yang cemas dalam

Tindakan ini memberikan kesempatan

mengembangkan kemampuan untuk menilai pada petugas kesehatan untuk menetralkan


diri dan mengenali serta mengatasi masalah.
5.

dorong sosialisasi dengan orang lain

kecemasan yang tidak perlu terjadi dan


memulihkan

realitas

situasi.

Ketakutan

merupakan unsure yang merusak adaptasi


pasien.
5.
Meningkatkan

penerimaan

diri

dan

sosialisasi.

DX 5
Intervensi
Rasional
1.
Tentukan apakah pasien mnegetahui
1.
Memberikan

data

dasar

( memahami dan salah mengerti ) tentang mengembangkan rencana penyuluhan

untuk

kondisi dirinya.
2.
Jaga agar pasien mendapatkan informasi

2.

yang

benar

memperbaiki

kesalahan

Pasien harus memiliki perasaan bahwa ada


sesuatu

yang

dapat

mereka

perbuat.

Kebanyakan pasien merasakan manfaatnya.

konsepsi / informasi
3.

Peragakan

penerapan

terapi

yang
3.

Memungkinkan

pasien

memperoleh

diprogramkan ( kompres basah ; obat topical kesempatan untuk menunjukkan cara yang
)
4.

Berikan nasihat kepada pasien untuk


4.

tepat unutk melakukan terapi.


Stratum korneum memerlukan air agar

menjaga agar kulit tetap lembab dan fleksibilitas kulit tetap terjaga. Pengolesan
fleksibel

dengan

tindakan

hidrasi

pengolesan krim serta lotion kulit.

dan krim atau lotion untuk melembabkan kulit


akan memcegah agar kulit tidak menjadi
kering, kasar, retak, dan bersisik.
5.
Penampakan
kulit
mencerminkan

5.

Dorong pasien untuk mendapatkan status kesehatan umum seseorang. Perubahan pada
nutrisi yang sehat

kulit dapat menandakan status nutrisi yang


abnormal.

DX 6
Intervensi
Rasional
1.
Miliki indeksi kecurigaan yang tinggi
1.
Setiap keadaan yang mneggangu status
terhadap suatu infeksi pada pasien yang imun akan memperbesar resiko terjadinya
system kekebalannya teganggu.
infeksi kulit.
2.
Berikan petunjuk yagn jelas dan rinci
2.
Pendidikan pasien yang efektif bergantung
kepada pasien mengenai program terapi
pada
ketrampilan

ketrampilan
interpersonal professional kesehatan dan
pada pemberian instruksi yang jelas yang
3.

Laksanakan pemakaian kompres basah diperkuat dengan instruksi tertulis.


3.
Kompres basah akan menghasilkan
seperti
yang
diprogramkan
untuk
pendinginan
lewat
pengisatan
yang
mengurangi intensitas inflamasi
menimbulkan vasokontriksi pembuluh drah
kulit dan dengan demikian mengurangi
eritema serta produksi serum.

D. Evaluasi
Diagnosa I
1.

Tidak adanya maserasi.

2.

Tidak ada tanda tanda cedara termal.

3.

Tidak ada infeksi.

4.

Memberikan obat topikal yang diprogramkan

Diangnosa II
1.

Mencapai peredaran gangguan rasa.

2.

Mengutarakan dengan kata kata bahwa gatal telah reda.

3.

Memeperlihatkan tidak adanya gejala ekskoriasi kulit karena garukan.

4.

Mematuhi terapi yang diprogramkan.

5.

Pertahankan keadekuatan hidrasi dan lubrikasi kulit.

6.

Menunjukan kulit utuh; kulit menunjukan kemajuan dalam penampilan yang sehat.

Diagnosa III
1.

Mencapai tidur yang nyenyak.

2.

Melaporkan peredaran rasa gatal.

3.

Mempertahankan kondisi lingkungan yang tepat.

4.

Menghindari konsumsi kafein pada sore hari dan menjelang tidur malam hari.

5.

Mengenali tindakan untuk meningkatkan tidur.

Diagnosa IV
1.

Mengalami Mengembangkan peningkatan kemampuan untuk menerima diri sendiri.

2.

Mengikuti dan turut berpartisipasi dalam tindakan perawatan mandiri.

3.

Melaporkan perasaan dalam mengendalikan situasi.

4.

Menguatkan kembali dukungan positif dari diri sendiri

5.

Mengutarakan perhatian terhadap diri sendiri yang sehat.

6.

Tampak tidak begitu memperhatikan kondisi.

7.

Menggunakan tekhnik menyembunyikan kekurangan dan menekankan teknik untuk


meningkatkan penampilan.

Diagnosa V
1.

pola tidur / istirahat yang memuaskan

2.

Perubahan citra tubuh yang berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak baik.

3.

Kurang pengetahuan tentang perawatan kulit dan cara cara menangani kelainan kulit.
Memiliki pemahaman terhadap perawatan kulit.

4.

Mengikuti terapi seperti yang diprogramkan dan dapat mengungkapkan rasional tindakan yang
dilakukan.

5.

Menjalankan mandi, pencucian, barutan basah sesuai yang diprogramkan.

6.

Gunakan obat tropikal dengan tepat.

7.

Memahami pentingnya nutrisi untuk kesehatan kulit.

Diagnosa VI
1.

Tetap bebas dari infeksi.

2.

Mengungkapkan tindakan perawatan kulit yang meningkatkan kebersihan dan mencegah


kerusakan.

3.

Mengidentifikasikan tanda dan gejala infeksi untuk dilaporkan.

4.

Mengidentifikasi efek merugikan dari obat yang harus dilaporkan ke petugas perawatan
kesehatan.

5.

Berpartisipasi dalam tindakan perawatan kulit ( misalnya mandi, dan penggantian balut ).
DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddarth.2001.Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
Harahap, Marwali, dkk. 2000. Pedoman Pengobatan Penyakit Kulit. Bandung: Alumni
-----------------------------.2006. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hipokrates
Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jil. 2. Jakarta: Media Aesculapius.
NANDA.2006.Pedoman Diagnosa Keperawatan NANDA 2005 2006. Primamedika.