Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN KASUS

ODS KATARAK IMATUR


ODS PRESBIOPIA
Kepanitraan Klinik Bagian Ilmu Penyakit Mata
Rumah Sakit Tentara Tingkat II Dokter Soedjono

Pembimbing :
dr. Dwidjo Pratiknjo, SpM
dr. Hari Trilunggono, Sp.M

Disusun oleh :
YURITSA SASTI PRADITA
1610221059

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN


NASIONAL VETERAN JAKARTA
2016

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN KASUS

ODS KATARAK IMATUR


ODS PRESBIOPIA
Bagian Ilmu Penyakit Mata
Rumah Sakit Tk.II dr. Soedjono Magelang
Oleh :
YURITSA SASTI PRADITA
1610221059
Magelang,

Oktober 2016

Telah dibimbing dan disahkan oleh,


Dokter pembimbing

dr. Dwidjo Pratiknjo, SpM

dr. Hari Trilunggono, SpM

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmat dan karunia-Nya lah penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang
berjudul ODS Katarak Imatur. Laporan kasus ini dibuat untuk memenuhi salah
satu syarat Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Penyakit Mata.
Penyusunan laporan ini terselesaikan atas bantuan dari banyak pihak yang
turut membantu terselesaikannya laporan ini. Untuk itu, dalam kesempatan ini
penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr.
Dwidjo Pratiknjo, Sp.M dan dr. Hari Trilunggono, Sp.M selaku pembimbing dan
seluruh teman kepaniteraan klinik Ilmu Penyakit Mata atas kerjasamanya selama
penyusunan laporan ini.
Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca
guna perbaikan yang lebih baik. Semoga laporan ini dapat bermanfaat baik bagi
penulis sendiri, pembaca maupun bagi semua pihak-pihak yang berkepentingan.

Magelang, Oktober 2016

Penulis

BAB I
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN

Nama

: Tn. S

Usia

: 64 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Alamat

: Pringtali, Jogonegoro Mertoyudan

Pekerjaan

: Petani

Status

: Menikah

B. ANAMNESIS
Keluhan Utama
Penglihatan kedua mata kabur

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke poli mata RST dr. Soedjono dengan keluhan mata
kanan dan kiri terasa kabur seperti melihat kabut yang dirasakan sejak 3 tahun
yang lalu. Pasien mengaku saat ini penglihatannya kabur saat melihat jauh
dan lebih baik saat melihat dekat. Keluhan dirasakan semakin lama semakin
memberat. Namun, pasien mengaku dahulu ketika membaca harus dijauhkan.
Pasien merasakan adanya perubahan penglihatan dari tidak jelas menjadi
jelas. Pasien merasakan penglihatanya lebih baik pada siang hari dari pada
malam hari.
Pasien tidak merasa silau jika terkena cahaya, pasien juga tidak pernah
merasakan pusing, mual ataupun muntah dan tidak pernah melihat pelangi
disekitar lampu. Riwayat trauma mata terkena benda tumpul maupun tajam
tidak ada. Kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol juga
disangkal.
Sebelumnya pasien mengaku kesulitan membaca pada jarak dekat.
Pasien sudah merasakan keluhannya tersebut lebih dari 10 tahun yang lalu.
Untuk memudahkan membaca biasanya pasien menjauhkan kertas bacaannya
agar terlihat lebih jelas. Namun, pasien mengaku tidak pernah menggunakan

kacamata baca dan pasien merasa tidak perlu sebab pasien mengaku jarang
membaca.

Riwayat Penyakit Dahulu


o Pasien tidak pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya
o Riwayat hipertensi disangkal
o Riwayat diabetes mellitus disangkal
o Riwayat mengkonsumsi obat-obatan tertentu dalam waktu lama
disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


Di keluarga tidak ada yang memiliki keluhan yang sama seperti pasien,
yaitu pandangannya kabur saat melihat jauh namun jelas saat melihat dekat

Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien sehari-hari bekerja sebagai petani, kesan ekonomi kurang.

C. PEMERIKSAAN FISIK
Status Umum
Kesadaran

: Compos mentis

Aktivitas

: Normoaktif

Kooperatif

: Kooperatif

Status gizi

: Baik

Vital Sign
TD

: 120/60 mmHg

Nadi

: 85 x.menit

RR

: 20 x/menit

Suhu

: 36,5C

Status Ophthalmicus
Katarak Imatur

Katarak Imatur

Oculucus Dexter

No.
1.

Pemeriksaan
Visus

Oculus Sinister

Oculus Dexter
3/60 S-4,00 6/60 NBC

Oculus Sinister
4/60 S-4,00 6/30 NBC

Add S + 3,00 J6 (lebih enak tanpa kacamata baca)


Bulbus okuli

2.

Bulbus okuli

Bulbus okuli

Gerak bola mata

Enoftalmus

Eksoftalmus

Strabismus

Normal

Normal

3.

Suprasilia

4.

Palpebra Superior :

Baik ke segala arah

Palpebra SuperiInferior :

Baik ke segala arah

Palpebra Superior-Inferi

Vulnus laceratum

Edema

Hematom

Hiperemia

Entropion

Ektropion

Blefarospasme

Silia

Ptosis/
Pseudoptosis

Palpebra Inferior :

5.

6.

7.

Vulnus laceratum

Edema

Trikiasis (-)
-

Trikiasis (-)
-

Palpebra SuperiorInferior :

Palpebra Superior-Inferior
:

Hematom

Hiperemia

Entropion

Ektropion

Blefarospasme

Silia

Ptosis/
Pseudoptosis

Konjungtiva :
- Hiperemi
- Injeksi
konjungtiva
- Injeksi siliar
- Sekret
- Laserasi
Kornea :
- Kejernihan
- Edema

Trikiasis (-)
-

Trikiasis (-)
-

Jernih
-

Jernih
-

8.

9.

10.

11.

12.

13.

Infiltrat
Sikatrik
Ulkus

COA :
- Kejernihan
- Kedalaman
- Hifema
- Hipopion

Jernih
Tidak dangkal
-

Jernih
Tidak dangkal
-

Normal
-

Normal
-

Bulat
3 mm

Bulat
3 mm

Iris :
- Kripta
- Edema
- Sinekia
Pupil :
- Bentuk
- Diameter
- Isokoris
- Reflek pupil
Lensa:
- Kejernihan
- Iris shadow
- Snow flake
Corpus Vitreum
- Kejernihan
- Floaters
- Hemoftalmus
Retina:
Fundus Refleks
Funduskopi

14.

15.

TIO

Isokor
+

Keruh sebagian
+
-

Keruh sebagian
+
-

Jernih
-

Jernih
-

+ Agak suram
Fokus : 8
Papil: bulat, batas
tegas, warna jingga,
papil tidak melebar
CDR(0,3)
Vasa: AVR (2:3)
Macula: Fovea reflek
(+)
Retina: Perdarahan (-)
Tidak meningkat

+ Agak suram
Fokus : 8
Papil: bulat, batas
tegas, warna jingga,
papil tidak melebar
CDR(0,3)
Vasa: AVR (2:3)
Macula: Fovea reflek
(+)
Retina: Perdarahan (-)
Tidak meningkat

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
GDS, GDP, G2JPP

E. DIAGNOSA BANDING
ODS Katarak Imatur
1. ODS Katarak Imatur
Dipertahankan, karena umur pasien 64 tahun yang merupakan faktor
resiko dari katarak serta dari hasil pemeriksaan didapatkan COA tidak
dangkal (+), iris shadow (+), lensa keruh sebagian (+), dan fundus reflex
agak suram (+) yang menandakan pada pasien ini masih dalam tahap
imatur.
2. ODS Katarak Insipien
Disingkirkan karena pada katarak insipien iris shadow (-), tidak terjadi
penurunan visus. Sementara dari hasil pemeriksaan pasien didapatkan
sebagian lensa mengalami kekeruhan, didapatkan iris shadow (+) dan juga
terdapat penurunan visus.
3. ODS Katarak Matur
Disingkirkan, karena pada katark matur COA dalam, iris shadow (-), lensa
keruh seluruhnya, fundus refleks (-). Sedangkan, pasien ini didapatkan
COA tidak dangkal, iris shadow (+), lensa keruh sebagian, fundus refleks
agak suram (+).
4. ODS Katarak Hipermatur
Disingkirkan, karena pada katarak hipermatur didapatkan kekuruhan total
pada lensa dengan permukaan rata karena lensa sudah mencair, COA
dalam, pseudoshadow (+). Sementara dari hasil pemeriksaan pasien
didapatkan COA tidak dangkal, Iris shadow (+), lensa keruh sebagian,
fundus refleks agar suram (+).
5. ODS Katarak akibat obat-obatan

Disingkirkan, karena dari hasil anamnesa tidak adanya pengobatan tertentu


yang dapat mengakibatkan kekeruhan lensa, seperti penggunaan
kortikosteroid jangka panjang.
6. ODS Katarak Traumatik
Disingkirkan karena dari hasil anamnesa tidak ditemukan riwayat adanya
trauma pada mata.

ODS Presbiopia
1. ODS Presbiopia
Dipertahankan karena usia pasien yang sudah lebih dari 40 tahun dan
sebelumnya pasien merasa lebih enak untuk membaca ketika dijauhkan.
Hal tersebut merupakan gejala dan tanda dari presbiopianya.
2. ODS Hipermetropia
Disingkirkan, karena pasien hanya kabur saat melihat dekat tapi saat
melihat jauh tidak kabur. Pada hipermetropia gejalanya adalah melihat
jauh kabur dan melihat dekat lebih kabur lagi.
F. DIAGNOSA
ODS Katarak Imatur
ODS Presbiopia
G. TERAPI
ODS Katarak Imatur
Medikamentosa

Topikal

Cendo Caterlent (CaCl2 anhidrat, kalium iodida,


natrium tiosulfat, fenilmerkuri nitrat) 3 x 1 ODS

Oral

Vitamin E 1 x 1

Parenteral

Tidak ada

Operatif

EKEK

Phacoemulsifikasi

SICS

Non Medikamentosa

Tidak ada

ODS Presbiopia
Medikamentosa

Topikal

Oral

Tidak ada

Parenteral

Tidak ada

Tidak ada

Operatif

Tidak ada

Non Medikamentosa

Kacamata S +3,00

H. EDUKASI
ODS Katarak Imatur

Menjelaskan kepada pasien mengenai katarak imatur mulai dari


definisi penyakit, faktor penyebab, pengobatan, komplikasi, serta
prognosisnya.

Menjelaskan kepada pasien bahwa visusnya berkurang disebabkan


adanya kekeruhan pada lensanya

Memberikan penjelasan kepada pasien bahwa kekeruhan yang dialami


akan semakin bertambah berat seiring berjalannya waktu, sehingga
penurunan penglihatan dapat terus berjalan

Menjelaskan bahwa kekeruhan pada lensanya masih tipis sehingga


belum perlu dioperasi

Menjelaskan pada pasien bahwa obat yang diberikan tidak dapat


menyembuhkan

kataraknya,

tetapi

hanya

memperlambat

perkembangan dari kataraknya.

Mengatakan kepada pasien untuk segera ke dokter spesialis mata jika


melihat seperti ada pelangi di sekitar lampu.

ODS Presbiopia

Menjelaskan kepada pasien tentang presbiopia

Menjelaskan bahwa penuruna tajam penglihatan yang dialami salah


satunya disebabkan melemahnya otot mata karena usia tua

Menjelaskan bahwa penurunan tajam penglihatan yang terjadi dapat


diperbaiki dengan kacamata baca dan untuk saat ini penggunaan kaca
mata sudah ditanggung oleh BPJS

Menjelaskan kepada pasien bahwa setiap pertambahan usia 5 tahun,


koreksi kacamatanya akan ditambah +0,5, karena usia pasien sudah 64
tahun maka yang bisa diberikan paling tinggi adalah +3,00. Namun,
karena saat ini pasien mengalami katarak, maka pasien merasa lebih
nyaman tanpa kacamata baca.

Menjelaskan kepada pasien bahwa kesulitan membacanya bukan


disebabkan karena kataraknya, sehingga ketika kataraknya sudah
dioperasi makan pasien akan tetap merasa sulit untuk membaca

I. KOMPLIKASI

Katarak Imatur

o Glaukoma sekunder sudut tertutup

Presbiopia
o Tidak ada

J. RUJUKAN
Dalam kasus ini tidak diperlukan rujukan ke disiplin Ilmu Kedokteran lainnya.
K. PROGNOSIS
Oculus Dexter

Oculus Sinister

Quo ad visam

: Dubia ad bonam

Dubia ad bonam

Quo ad sanam

: Ad bonam

Ad bonam

Quo ad functionam

: Ad bonam

Ad bonam

Quo ad cosmetican

: Ad bonam

Ad bonam

Quo ad vitam

: Ad bonam

Ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi
(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau akibat keduanya.
Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun
dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama (Ilyas, S.2007).
B. FAKTOR RISIKO

Faktor Individu
Faktor individu yang mempengaruhi diantaranya ras, keterunan dan usia
pasien

Faktor Lingkungan
Bahan toksik dan merokok merupakan faktor lingkungan yang dapat
mempengaruhi

Faktor nutrisi

Orang yang tinggal di daerah pegunungan banyak mengkonsumsi protein


hewani yang bisa menghambat katarak dengan jalan mencegah denaturasi
protein

Faktor protektif
Faktor protektif diantaranya adalah keracunan obat dan penggunaan
kortikosteroid.
Beberapa penelitian menyatakan, bahwa katarak senilis dipercepat oleh

beberapa faktor lain: penyakit diabetes mellitus, hipertensi dengan sistole naik 20
mmHg, paparan sinar ultraviolet B, indeks massa benda lebih dari 27, asap rokok
lebih dari 10 batang/hari baik perokok aktif maupun perokok pasif.
C. EPIDEMIOLOGI
Lebih dari 90% kejadian katarak merupakan katarak senilis. 20-40% orang
usia 60 tahun ke atas mengalami penurunan ketajaman penglihatan akibat
kekeruhan lensa. Sedangkan pada usia 80 tahun ketas insidensinya mencapai 6080%. Prevalensi katarak kongenital pada negara maju berkisar 2-4 setiap 10000
kelahiran. Frekuensi katarak laki-laki dan perempuan sama besar. Di seluruh
dunia, 20 juta orang mengalami kebutaan akibat katarak
D. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI
Kekeruhan pada lensa dapat disebabkan oleh kelainan kongenital mata,
trauma, penyakit mata, proses usia atau degenerasi lensa, kelainan sistemik seperti
diabetes melitus, riwayat penggunaan obat-obatan steroid dan lainnya. Kerusakan
oksidatif oleh paparan sinar ultraviolet, rokok dan alkohol, dapat meningkatkan
risiko terjadinya katarak. (Ilyas S, 2007).
Penyebab katarak senile sampai sekarang masih belum diketahui secara
pasti. Ada beberapa konsep penuaan yang mengarah pada proses terbentuknya
katarak senil (Ilyas S, 2007):

Jaringan embrio manusia dapat membelah 50 kali kemudian akan mati

Teori cross-link yang menjelaskan terjadinya pengikatan bersilang asam


nukleat dan molukel protein sehingga mengganggu fungsi

Imunologis, dengan bertambahnya usia menyebabkan bertambahnya cacat


imunologis sehingga mengakibatkan kerusakan sel

Teori mutasi spontan dan teori radikal bebas


Pada dasarnya, semua sinar yang masuk ke mata harus terlebih dahulu
melewati lensa. Karena itu setiap bagian lensa yang menghalangi,
membelokkan atau menyebarkan sinar bisa menyebabkan gangguan
penglihatan. Pada katarak terjadi kekeruhan pada lensa, sehingga sinar
yang masuk tidak terfokuskan pada retina, maka bayangan benda yang
dilihat akan tampak kabur (Ilyas, S, 2007)

E. GAMBARAN KLINIS
Seorang penderita katarak mungkin tidak menyadari telah mengalami
gangguan katarak. Katarak terjadi secara perlahan-lahan, sehingga penglihatan
penderita terganggu secara berangsur, karena umumnya katarak tumbuh sangat
lambat dan tidak mempengaruhi daya penglihatan sejak awal. Daya penglihatan
baru terpengaruh setelah katarak berkembang sekitar 3-5 tahun. Karena itu, pasien
katarak biasanya menyadari penyakitnya setelah memasuki stadium kritis (Ilyas S,
2007).

Gejala umum gangguan katarak meliputi :

Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek

Peka terhadap sinar atau cahaya

Dapat melihat ganda pada satu mata

Kesulitan untuk membaca

Lensa mata berubah menjadi buram

F. KLASIFIKASI KATARAK
Katarak dapat diklasifikasikan berdasarkan usia, letak kelainan pada lensa
maupun berdasarkan stadiumnya
a. Berdasarkan Usia
1. Katarak kongenital, katarak yang sudah terlihat pada usia di bawah 1 tahun
2. Katarak juvenil, katarak yang terjadi sesudah usia > 3 bulan tetapi kurang
dari 9 tahun
3. Katarak senil, katarak setelah usia 50 tahun
b. Berdasarkan letak
1. Katarak nuklear
Katarak yang lokasinya terletak pada bagian tengah lensa atau nukleus.
Nukelus cenderung menjadi gelap dan keras, berubah dari jernih menjadi
kuning sampai coklat. Biasanya mulai timbul sekitar usia 60-70 tahun dan
progresivitasnya lambat. Bentuk ini merupakan bentuk yang paling banyak
terjadi. Pandangan jauh lebih dipengaruhi daripada pandangan dekat,
bahkan pandangan baca dapat menjadi lebih baik, sulit menyetir pada
malam hari. Penderita juga mengalami kesulitan membedakan warna,
teruama warna biru dan ungu.
2. Katarak Kortikal
Katarak menyerang lapisan yang mengelilingi nukleus atau korteks,
biasanya mulai timbul sekitar usia 40-60 tahun dan progresivitasnya
lambat. Banyak penderita DM, dengan keluhan yang paling sering yaitu
penglihatan jauh dan dekat terganggu, disertai penglihatan merasa silau
3. Katarak Subkapsular Posterior

Bentuk ini terletak pada bagian belakang dari kapsul lensa. Katarak
subkapsularis posterior lebih sering pada kelompok usia lebih muda
daripada katarak kortikal dan katarak nuklear. Biasanya timbul pada usia
sekitar 40-60 tahun dan progresivitasnya cepat, bentuk ini lebih sering
menyerang orang dengan diabetes obesitas atau pemakaian steroid jangka
panjang, Katarak ini menyebabkan kesulitan membaca, silau, pandangan
kabur pada kondisi cahaya terang.

c. Berdasarkan Stadium
1. Katarak Insipien
Pada stadium ini kekeruhannya tidak teratur, taampak seperti bercakbercak yang membentuk gerigi dengan dasar perifer dan daerah jernih
diantaranya, kekeruhan biasanay terletak di korteks anterior dan posterior.
Kekeruhan ini pada awalnya hanya nampak jika pupil dilebarkan. Pada
stadium ini, terdapat keluhan polipia yang disebabkan oleh indeks refraksi
yang tidak sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang menetap
untuk waktu yang lama
2. Katarak Imatur
Terjadi kekeruhan lensa sebagian. Kekeruhannya lebih tebal tetapi belum
mengenai semua lapisan lensa sehingga masih terdapat bagian lensa yang
jernih. Terjadi penambahan volume lensa akibat meningkatnya tekanan
osmotik bahan lensa yang degeneratif. Pada keadaan lensa yang
mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil, mendorong iris ke
depan, mengakibatkan bilik mata dangkal sehingga terjadi glaukoma
sekunder.

3. Katarak Matur
Pada katarak matur kekeruhan telah mengenai seluruh lensa. Proses
degenerasi yang berjalan terus maka akan terjadi pengeluran air bersama
hasil disintegrasi melalui kapsul, sehingga lensa kembali ke ukuran
normal. Bilik mata depan akan berukuran kedalaman normal kembali.
4. Katarak Hipermatur
Merupakan proses degenerasi lanjut lensa, sehingga masa lensa yang
mengalami degenerasi akan mencair dan keluar melalui kapsul lensa.
Lensa menjadi mengecil dan berwarna kuning. Bila proses katarak
berjalan lanjut disertai kapsul yang tebal, maka korteks yang berdegenerasi
dan cair tidak dapat keluar, maka korteks akan memperlihatkan sekantong
susu dengan nukleus yang terbenam di korteks lensa.
Tabel. Perbandingan Katarak Berdasarkan Stadium
Insipien

Imatur

Matur

Hipermatu
r

Kekeruhan

Ringan

Sebagian

Seluruh

Masif

Cairan lensa

Normal

Bertambah

Normal

Berkurang

(air masuk)

(air keluar)

Iris

Normal

Terdorong

Normal

Tremulans

Bilik mata depan

Normal

Dangkal

Normal

Dalam

Sudut bilik mata

Normal

Sempit

Normal

Terbuka

Shadow test

Pseudops

Penyulit

Glaukoma

Uveitis +
Glaukoma

G. DIAGNOSIS BANDING
1. Katarak Diabetik

Merupakan katarak yang terjadi akibat adanya penyakit diabetes


melitus. Katarak pada diabetus melitus dapat terjadi dalam 3 bentuk :

Pasien dengan dehidrasi berat, asidosis, dan hiperglikemia nyata, pada


lensa akan terlihat kekeruhan berupa garis akibat kapsul berkerut. Bila
dehidrasi lama akan terjadi kekeruhan lensa, kekeruhan akan hilang
bila terjadi rehidrasi dan kadar gula normal kembali

Pasien diabetes juvenile dan tua tidak terkontrol, dimana terjadi


katarak serentak pada kedua mata dalam 48 jam, bentuk snow flake
atau bentuk piring subkapsular

Katarak pada pasien diabetes dewasa dimana gambaran secara


histopatologis dan biokimia sama dengan katarak pasien non-diabetik

2. Katarak Komplikata
Merupakan katarak akibat penyakit mata lain seperti radang dan
proses degenerasi seperti ablasi retina, retinitis pigmentosa, glaukoma,
tumor itraokular, iskemi okular, nekrosis snterior segmen, buftalmos,
akibta suatu trauma dan pasca bedah mata.
Katarak komplikata memberikan tanda khusus dimana kekeruhan
dimulai di daerah bawah kapsul atau pada lapis korteks, kekeruhan dapat
difus, pungtata, linier, rosete, reticulum dan biasanya terlihat vakuol.
3. Katarak Traumatik
Katarak jenis ini paling sering disebabkan oleh cedera benda asing
di lensa atau trauma tumpul terhadap bola mata. Sebagian besar katarak
traumatik dapat dicegah .
Lensa menjadi putih segera setelah masuknya benda asing, karena
lubang pada kapsul lensa menyebabkan humor aqueus dan kadang-kadang
corpus vitreum masuk dalam struktur lensa. Pasien mengeluh penglihatan
kabur secara mendadak. Mata menjadi merah, lensa opak dan mungkin
disertai terjadinya perdarahan intraokular. Apabila humor aqueus atau
corpus vitreum keluar dari mata, mata menjadi sangat lunak. Penyulit
adalh infeksi, ablasio retina, dan glaukoma.
H. PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan pada katarak adalah tindakan pembedahan. Pengobatan


yang diberikan biasanya hanya memperlambat proses, tetapi tidak menghentikan
proses degeneransi lensa. Beberapa obat-obatan yang digunakan untuk
menghambat proses katarak adalah vitamin dosis tinggi, kalsium sistein maupun
iodin tetes.
Tindakan pembedahan dilakukan dengan indikasi :
a. Indikasi optik : pasien mengeluh gangguan penglihatan yang mengganggu
kehidupan sehari-hari, dapat dilakukan operasi katarak
b. Indikasi Medis : kondisi katarak harus dioperasi diantaranya katarak
hipermatur, lensa yang menginduksi uveitis, dislokasi/subluksasi lensa, benda
asing intraretikuler, retinopati diabetik, ablasio retina atau patologi segmen
posterior lainnya.
c. Indikasi kosmetik : Jika kehilangan penglihatan bersifat permanen karena
kelainan retina atau saraf optik, tetapi leukokoria yang diakibatkan katarak
tidak dapat diterima pasien, operasi dapat dilakukan meskipun tidak dapat
mengembalikan penglihatan.
Pembedahan dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya yaitu:
a. EKIK (Ekstraksi Katarak Intra Kapsular)
Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsul.
Seluruh lensa dibekukan di dalam kapsulnya

dengan cryophake dan

depindahkan dari mata melalui incisi korneal superior yang lebar. Sekarang
metode ini hanya dilakukan hanya pada keadaan lensa subluksatio dan
dislokasi. Pada EKIK tidak akan terjadi katarak sekunder dan merupakan
tindakan pembedahan yang sangat lama populer. Penyulit yang dapat terjadi
pada pembedahan ini astigmatisme, glukoma, uveitis, endoftalmitis, dan
perdarahan.
b. EKEK (Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsular)
Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran isi
lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga massa
lensa dan kortek lensa dapat keluar melalui robekan. Pembedahan ini
dilakukan pada pasien katarak muda, pasien dengan kelainan endotel,
implantasi lensa intra ocular posterior, perencanaan implantasi sekunder lensa

intra ocular, kemungkinan akan dilakukan bedah glukoma, mata dengan


prediposisi untuk terjadinya prolaps badan kaca, mata sebelahnya telah
mengalami prolap badan kaca, ada riwayat mengalami ablasi retina, mata
dengan sitoid macular edema, pasca bedah ablasi, untuk mencegah penyulit
pada saat melakukan pembedahan katarak seperti prolaps badan kaca. Penyulit
yang dapat timbul pada pembedahan ini yaitu dapat terjadinya katarak
sekunder.
c. Fakoemulsifikasi
Fakoemulsifikasi adalah teknik untuk membongkar dan memindahkan kristal
lensa. Pada teknik ini diperlukan irisan yang sangat kecil (sekitar 2-3mm) di
kornea. Getaran ultrasonic akan digunakan untuk menghancurkan katarak,
selanjutnya mesin phaco akan menyedot massa katarak yang telah hancur
sampai bersih. Sebuah lensa Intra Okular yang dapat dilipat dimasukkan
melalui irisan tersebut. Karena incisi yang kecil maka tidak diperlukan jahitan,
akan pulih dengan sendirinya, yang memungkinkan pasien dapat dengan cepat
kembali melakukan aktivitas sehari-hari.Tehnik ini bermanfaat pada katarak
kongenital, traumatik, dan kebanyakan katarak senilis.
d. SICS (Small Incision Cataract Surgery)
Insisi dilakukan pada sklera dengan ukuran insisi bervariasi dari 5-8 mm.
Namun tetap dikatakan SICS sejak design arsiteknya tanpa jahitan, Penutupan
luka insisi terjadi dengan sendirinya (self-sealing). Teknik operasi ini dapat
dilakukan pada stadium katarak immature, mature, dan hypermature. Teknik
ini juga telah dilakukan pada kasus glaukoma fakolitik dan dapat
dikombinasikan dengan operasi trabekulektomi.
I. KOMPLIKASI OPERATIF
Komplikasi operasi dapat berupa komplikasi preoperatif, intraoperatif,
postoperatif awal, postoperatif lanjut, dan komplikasi yang berkaitan dengan lensa
intra okular (intra ocular lens, IOL).
1. Komplikasi preoperatif

a) Ansietas; beberapa pasien dapat mengalami kecemasan (ansietas) akibat


ketakutan akan operasi. Agen anxiolytic seperti diazepam 2-5 mg dapat
memperbaiki keadaan.
b) Nausea dan gastritis; akibat efek obat preoperasi seperti asetazolamid
dan/atau gliserol. Kasus ini dapat ditangani dengan pemberian antasida
oral untuk mengurangi gejala.
c) Konjungtivitis iritatif atau alergi; disebabkan oleh tetes antibiotik topical
preoperatif, ditangani dengan penundaan operasi selama 2 hari.
d) Abrasi kornea; akibat cedera saat pemeriksaan tekanan bola mata dengan
menggunakan tonometer Schiotz. Penanganannya berupa pemberian salep
antibiotik selama satu hari dan diperlukan penundaan operasi selama 2
hari.
2. Komplikasi intraoperatif
a) Laserasi m. rectus superior; dapat terjadi selama proses penjahitan.
b) Perdarahan hebat; dapat terjadi selama persiapan conjunctival flap atau
selama insisi ke bilik mata depan.
c) Cedera pada kornea (robekan membrane Descemet), iris, dan lensa; dapat
terjadi akibat instrumen operasi yang tajam seperti keratom.
d) Cedera iris dan iridodialisis (terlepasnya iris dari akarnya)
e) Lepas/ hilangnya vitreous; merupakan komplikasi serius yang dapat terjadi
akibat ruptur kapsul posterior (accidental rupture) selama teknik ECCE.
3. Komplikasi postoperatif awal
Komplikasi yang dapat terjadi segera setelah operasi termasuk hifema,
prolaps iris, keratopati striata, uveitis anterior postoperatif, dan endoftalmitis
bakterial.
4. Komplikasi postoperatif lanjut
Cystoid

Macular

Edema

(CME),

delayed

chronic

postoperative

endophtalmitis, Pseudophakic Bullous Keratopathy (PBK), ablasio retina, dan


katarak sekunder merupakan komplikasi yang dapat terjadi setelah beberapa
waktu post operasi.
5. Komplikasi yang berkaitan dengan IOL

Implantasi IOL dapat menyebabkan komplikasi seperti uveitis-glaucomahyphema syndrome (UGH syndrome), malposisi IOL, dan sindrom lensa
toksik (toxic lens syndrome).

PRESBIOPIA
A. DEFINISI
Semakin berkurangnya kemampuan akomodasi mata sesuai dengan
semakin meningkatnya umur. Kelainan ini terjadi pada mata normal berupa
gangguan perubahan kecembungan lensa yang dapat berkurang akibat
berkurangnya elastisitas lensa sehingga terjadi gangguan akomodasi. Terjadi
kekeruhan lensa seiring dengan bertambahnya usia, sehingga kemampuan
lensa untuk memfokuskan bayangan saat saat melihat dekat. hal tersebut
menyebabkan pandangan kabur sat melihat dekat.
B. ETIOLOGI
Presbiopia terjadi akibat lensa makin keras sehingga elastisitasnya
berkurang. Demikian pula dengan otot akomodasinya, daya kontraksinya
berkurang sehingga tidak terdapat pengenduran zonula Zinn yang sempurna.

Pada keadaan ini maka diperlukan kacamata bifokus, yaitu kacamata untuk
melihat jauh dan dekat.
C. PATOFISIOLOGI
Pada mekanisme akomodasi yang normal terjadi peningkatan daya refraksi
mata karena adanya perubahan keseimbanagn antara elastisitas matriks lensa
dan kapsul sehingga menjadi cembung. Dengan meningkatnya umur maka
lensa menjadi lebih keras dan kehilangan elastisitasnya untuk menjadi
cembung, dengan demikian kemampuan melihat dekat semakin berkurang.
D. GEJALA KLINIS

Memegang bacaan lebih jauh di banding orang normal saat membaca


dekat untuk mencapai titik dekatnya dengan demikian objek dapat
dibaca.

Kesulitan membaca huruf - huruf kecil saat membaca dekat akibat


daya akomodasi yang berkurang, maka titik dekat mata makin
menjauh.

Melepaskan kacamata minus pada myopia ketika membaca dekat

Mata lelah setelah membaca dekat terlalu lama akibat gangguan


akomodasi

Sakit kepala setelah melakukan pekerjaan yang memerlukan


penglihatan dekat

Kesulitan membaca dekat pada cahaya redup atau kurang terang

E. PEMERIKSAAN
1. Alat :
a) Kartus snellen
b) Kartu Jagger
c) Sebuah set lensa coba
d) Bingkai percobaan
2. Teknik:
Adisi ditentukan beradasarakan umur penderita :

1. S + 1,00 D untuk usia 40 tahun


2. S + 1,50 D untuk usia 45 tahun
3. S + 2,00 D untuk usia 50 tahun
4. S + 2,50 D untuk usia 55 tahun
5. S + 3,00 D untuk usia 60 tahun
Karena jarak baca biasanya 33 cm, maka adisi S+3,00 D adalah lensa
positif terkuat yang dapat diberikan kepada seseorang. Pada keadaan ini
mata tidak melakukan akomodasi bila membaca pada jarak 33 cm.
F. TATALAKSANA
Diberikan penambahan lensa sferis positif sesuai pedoman umur yaitu
umur 40 tahun (umur rata-rata) diberikan tambaha sferis + 1,00 dan setiap 5
tahun diatasnya ditambahkan lagi sferis + 0,50
Lensa sferis (+) yang ditambahkan dapat diberikan dalam berbagai cara :
1. Kacamata baca untuk melihat dekat saja
2. Kacamata bifokal untuk sekaligus mengoreksi kelainan yang lain
3. Kacamata trifokus mengoreksi penglihatan jauh di segmen atas,
penglihatan sedang di segmen tengah, dan penglihatan dekat di segmen
bawah
4. Kacamata progressive mengoreksi penglihatan dekat, sedang, dan jauh,
tetapi dengan perubahan daya lensa yang progresif dan bukan
bertingkat.