Anda di halaman 1dari 24

MUHAMMADIYAH DAN POLITIK DI INDONESIA

Dody Wijaya (2016130042)


(Mahasiswa Ilmu Politik FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta)

Salah satu organisasi terpenting di Indonesia sebelum kemerdekaan


Republik Indonesia dan sampai sekarang adalah Muhammadiyah. Organisasi ini
pada awal berdirinya menitikberatkan pada pembaharuan di bidang agama dan
pendidikan Islam. Dalam perkembangannya organisasi ini juga terlibat dalam
politik yang berlangsung di Indonesia. Perjuangan yang khas yang dilakukan
Muhammadiyah adalah pendidikan walaupun dibidang lainnya seperti sosial dan
keagamaan juga menjadi perhatian. Begitu banyak peranan Muhammadiyah
yang telah mewarnai kehidupan di Indonesia ini diantaranya dibidang politik.
Tulisan ini berusaha mengungkapkan peranan Muhammadiyah dibidang politik.
Sejarah mencatat Muhammadiyah tidak pernah berpolitik praktis, namun sebagai
individu pada organisasi tersebut boleh berpolitik. Selama itu hubungan antara
Muhammadiyah dengan politik bersifat khas. Muhammadiyah, disatu pihak
bukan menjadi organisasi politik, tetapi dipihak lainnya Muhammadiyah harus
tetap memperdulikan masalah politik
Peran
Muhammadiyah
dalam
politik
nasional
sangat
penting.
Muhammadiyah memang bukan partai politik. Muhammadiyah lebih merupakan
organisasi Islamic-based civil society (masyarakat madani) dan sekaligus sebagai
interest group (kelompok kepentingan).
1. Latar Belakang
Muhammadiyah sebagai gerakan
politik
(political
movement)
maksudnya adalah pergumulan dan
keterlibatan
Muhammadiyah
dikancah
perpolitikan
bangsa
Indonesia sejak zaman penjajahan
hingga zaman sekarang ini. Sebagai
gerakan islam mau tidak mau
muhammadiyah harus terlibat dalam
strategi-strategi
perjuangan
dan
dakwah islam di tengah-tengah
masyarakat
yang
terjajah
dan
pemerintah yang dianggap tidak
islami. Di dalam sejarah, tokoh-tokoh
muhammadiyah
banyak
terlibat
dalam politik praktis. Sebagai contoh,
K.H. Mas Mansur pernah menjadi
tokoh SI dan mendirikan partai islam
Indonesia (PII) dan diikuti oleh kaderkader lain berikutnya seperti Amien
Rais. Namun demikian, mereka tidak

pernah melibatkan muhammadiyah


dalam perjuangan politik praktis,
sehingga
dalam
sejarahnya
Muhammadiyah
tidak
pernah
menjadi partai politik.
Bentuk
keterlibatan
politik
muhammadiyah sekarang ini adalah
high
politics,
yakni
lebih
mengedepankan
moral
daripada
sekedar
memperoleh kekuasaan
sebagaiman
pada
umumnya
perjuangan yang dilakukan oleh
pelaku-pelaku low politics (politik
praktis kepartaian). Lalu apa yang
ingin didapatkan muhammadiyah
dengan high politicsnya? Berpolitik
tentu ada tujuan sebagaiman yang
dikatakan sebagai Harold Laswell
mengenai pengertian politik: who
gets what, when and how politik
adalah masalah siapa mendapat apa,
kapan
dan
bagaimana.
Hal 1 dari 24

Muhammadiyah bukanlah organisasi


yang mempunyai kepentingan yang
berkaitan
dengan aspiring for
power, apakah itu untuk menduduki
jabatan dalam bidang eksekutif,
misalnya presiden, wakil presiden
dan mentri, ataupun dalam jabatan
dibidang legislative, apakah anggota
DPR apalagi menjadi ketua dan wakil
ketua di lembaga tersebut. Kalau ada
orang-orang Muhammadiyah yang
menghendakinya
maka
itu
merupakan urusan pribadinya karena
Muhammadiyah
tidak
akan
merekomendasikannya, namun juga
tidak akan melarangnya. Akan tetapi
kalau yang bersangkutan membawa
nama Muhammadiyah, tentu saja
tidak sesuai dengan nilai organsiasi
Muhammadiyah.
Sekalipun
demikian,
Muhammadiyah
mempunyai
kepentingan yang sangat besar agar
supaya bagaiman mereka yang
berada
dalam
kekuasaan
menjalankan kekuasaannya dengan
sebaik-baiknya,
dengan
memperhatikan
nilai-nilai
moral,
memegang amanah kedudukan dan
jabatannya. Muhammadiyah akan
berusaha dalam batas kemampuan
yang ada untuk mengingatkan
mereka yang memiliki kedudukan
dalam
jabatan
untuk
tidak
menyalahgunakan kedudukan dan
jabatannya. Itulah yang secara
popular di kalangan islam kita
mengenalnya dengan amar maruf
nahi munkar.
2. Rumusan Masalah
a. Bagaimana latar belakang
lahirnya Muhammadiyah
b. Apa
politik?

pengertian

c. Bagaimana

pergumulan

Muhammadiyah

dalam

berpolitik?
d. Bagaimana perkembangan
politik Muhammadiyah?
e. Apa landasan operasional
politik Muhammadiyah?
f. Bagaimana

high

politics

dan politics?
g. Bagaimana
agenda
Muhammadiyah
dalam
Politik di Masa Depan ?
3. Tujuan

Untuk memahami tentang islam dan


Muhammadiyah sebagai gerakan Islam,
untuk lebih memahami dan mengetahui
bagaimana peran dan perkembangan
muhammadiyah dalam berpolitik, serta apa
saja yang menjadi landasan operasional
politik muhammadiyah.

PEMBAHASAN
1. Latar
Belakang
Muhammadiyah

Lahirnya

Pandangan yang umum yang


diterima para sarjana menyatakan
bahwa
Muhammadiyah
adalah
sebuah organisasi keagamaan yang
didirikan untuk menjawab tantangan
berkaitan dengan situasi modern di
Indonesia. Organisasi ini didirikan
oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan (18681923) di Yogyakarta pada tahun
1912, sebagai respon
terhadap
berbagai saran kolega dan muridmuridnya untuk mendirikan sebuah
lembaga yang permanen.1

dari
1 Deliar Noer, Gerakan Modern dalam
Islam di Indonesia 1900-1942,(Jakarta:
LP3ES, 1985), hlm. 84.
Hal 2 dari 24

Ahmad Dahlan merupakan anak


keempat, lahir pada 1868 dari
sebuah keluarga muslim tradisional
yang berdomisili di Kauman, sebuah
kampung yang sangat terkenal
religius di Yogyakarta. Kampung ini
terletak persis disamping Istana
Sultan Yogyakarta dan sangat dikenal
sebagai kampung yang dihuni oleh
keluarga Muslim yang kuat rasa
keagamaannya. Kampung ini menjadi
tempat kediaman Ahmad Dahlan
sepanjang hayatnya dan tempat
kelahiran Muhammadiyah
yang
2
dibidaninya.
Ahmad Dahlan pada waktu kecil
bernama
Muhammad
Darwis.
Ayahnya bernama Kiai Haji Abu
Bakar, seorang khatib di Masjid
Agung
Kesultanan
Yogyakarta,
sedangkan ibunya bernama Siti
Aminah, anak seorang penghulu
besar di Yogyakarta.3 Berdasarkan
silsilah
keturunannya,
terlihat
bahawa K.H. Ahmad Dahlan berasal
dari keluarga yang
keislamannya
kental. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa Ahmad Dahlan lahir
dan
dibesarkan
dalam
suatu
lingkungan Islam yang kuat. Begitu
juga dengan kampung Kauman
sebagai tempat kelahiran dan tempat
Muhammad
Darwis dibesarkan
merupakan lingkungan keagamaan
yang sangat kuat, yang berpengaruh
besar
dalam
perjalanan
hidup
Muhammad Darwis dikemudian hari.
Gerakan Islam ini diberi nama
Muhammadiyah, diambil dari nama
nabi dan rasul yang terakhir, yaitu
Muhammad SAW. Muhammadiyah
2 Solichin Salam, KHA. Dahlan : Tjita-tjita dan
Perjuangannya,(Jakarta : Depot Pengajaran
Muhammadiyah, 1962), hlm.5-6.

3 M. Yusron Asrofie, KHA. Dahlan dalam Pemikiran


dan Kepemimpinan,(Yogyakarta : Yogyakarta Offset,
1983), hlm. 21.

berarti umat Muhammad SAW atau


pengikut
Muhammad
SAW.
Muhammadiyah didirikan oleh KHA.
Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijjah
1330 H atau 18 November 1912 M di
Yogyakarta. Gerakan ini diberi nama
Muhammadiyah oleh pendirinya di
maksudkan
untuk
bertafaulatau
berpengharapan
baik
dengan
mencontoh dan meladani jejak
perjuangan nabi Muhammad SAW.4
Berkaitan dengan faktor-faktor
yang menjadi latar belakang lahirnya
Muhammadiyah maka banyak ahli
yang memiliki berbagai pandangan.
Haji Abdul Karim Malik Amrullah
(Hamka) sebagaimana dikutip oleh A.
Syafii Maarif mengatakan bahwa ada
tiga faktor yang mendorong lahirnya
Muhammadiyah.
Pertama,
keterbelakangan serta kebodohan
umat Islam Indonesia pada hampir
semua aspek kehidupan.. Kedua,
kemiskinan yang parah yang diderita
umat Islam justru dalam negeri yang
kaya
seperti
Indonesia.
Ketiga,
keadaan pendidikan Islam yang
sudah kuno, sebagaimana yang bisa
dilihat melalui pesantren.5
Sementara itu Solichin Salam
menyebut adanya faktor intern dan
ekstern yang mendorong lahirnya
Muhammadiyah.6
Adapun
yang
dimaksud dengan faktor intern
adalah:

4 Musthafa Kamal Pasha dan Ahmad Adaby


Darban, Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam,
(Yogyakarta : LPPI UMY, 2000), hlm. 70-71.

5 Syafii Maarif, Islam dan Masalah Kenegaraan ,


Studi Tentang Percaturan dalam Konstituante,
(Jakarta : LP3ES, 1987 ), hlm. 71

6 Solichin Salam, Muhammadiyah dan


Kebangunan di Indonesia,(Jakarta : NV Mega, 1956
), hlm 55-56.

Hal 3 dari 24

1) Kehidupan beragama tidak sesuai


dengan al-Quran dan Hadis,
karena merajalelanya perbuatan
syirik, bidah dan khurafat yang
menyebabkan
Islam
menjadi
beku.
2) Keadaan bangsa Indonesia serta
umat Islam yang hidup dalam
kemiskinan,
kebodohan,
kekolotan, dan kemunduran.
3) Tidak
terwujudnya
semangat
ukhuwah islamiyah dan tidak
adanya organisasi Islam yang
kuat.
4) Lembaga pendidikan Islam tidak
dapat
memenuhi
fungsinya
dengan
baik
dan
sistem
pesantren yang sudah sangat
kuno.

Adapun
faktor-faktor
terdiri atas :

ekstern

1) Adanya kolonialisme Belanda di


Indonesia.
2) Kegiatan serta kemajuan yang
dicapai oleh golongan Kristen dan
Katolik di Indonesia.
3) Sikap
sebagian
intelektual
Indonesia yang memandang Islam
sebagai
agama
yang
telah
ketinggalan zaman.
4) Adanya
rencana
politik
Kristenisasi
dari
pemerintah
Belanda demi kepentingan politik
kolonialnya.
Musthafa Kamal Pasha dan A.
Adaby Darban menyatakan bahwa
faktor-faktor yang melatarbelakangi
berdirinya Muhammadiyah secara
garis besar dapat dibedakan menjadi
dua faktor yaitu :
1) Faktor
subyektif, yaitu faktor
yang berasal dari pendalaman
KHA. Dahlan terhadap al-Quran,
terutama surat Ali Imron 104 yang
artinya :
Dan hendaklah ada
diantara
kamu
sekalian

segolongan umat yang menyeru


kepada kebajikan, menyuruh yang
makruf dan mencegah yang
munkar, merekalah orang-orang
yang beruntung. Berdasarkan
ayat ini KHA. Dahlan tergerak
hatinya untuk membangu sebuah
organisasi untuk melaksanakan
misi dakwah amar makruf nahi
minkar di masyarakat.
2) Faktor obyektif yang terdiri atas
faktor yang berasal dari umat
Islam atau faktor internal dan
faktor yang berasal dari luar umat
Islam atau faktor eksternal.
Faktor obyektif yang
internal ini terdiri atas :

bersifat

1) ketidakmurnian
amalan
Islam
akibat tidak dijadikannya al-Quran
dan Hadis sebagai satu-satunya
rujukan oleh sebagian besar umat
Islam Indonesia.
2) Lembaga pendidikan yang dimiliki
umat
Islam
belum
mampu
menyiapkan generasi yang siap
mengemban
misi
selaku

khalifah Allah diatas bumi .


Faktor obyektif
eksternal , yaitu :

yang

bersifat

1) Semakin meningkatnya gerakan


Kristenisasi di tengah tengah
masyarakat Indonesia.
2) Penetrasi bangsa-bangsa eropa,
terutama bangsa Belanda ke
Indonesia.
3) Pengaruh
dari
gerakan
pembaharuan dalam dunia Islam.7
Berdasarkan
atas
berbagai
pandangan diatas maka ada tiga
faktor yang dominan yang menjadi
latar
belakang
lahirnya
Muhammadiyah, Yaitu :
a)

Kondisi Islam di Jawa.

7 Musthafa Kamal Pasha dan A. Adaby


Darban, Muhammadiyah sebagai, hlm.
71-77
Hal 4 dari 24

b) Pengaruh gerakan modernis


Islam di Timur Tengah.
c) Politik
Islam
pemerintah
Belanda.
Faktor-faktor
tersebut
akan
diuraikan secara rinci dalam bagianbagian berikut :
Kondisi Islam di Jawa
Sebagaimana diketahui, penduduk
pulau Jawa sebelum datangnya Islam
adalah pemeluk agama Hindu, Budha
dan ada yang tetap mempercayai
animisme dan dinamisme. Oleh
karena itu, ketika Islam datang di
Jawa dan dipeluk oleh masyarakat
yang terjadi adalah bercampurnya
ajaran Islam dengan kepercayaankepercayaan
masyarakat
sebelumnya.
Para ahli sejarah masih belum
mempunyai kesimpulan yang pasti
kapan Islam pertama kali datang di
pulau Jawa, khususnya Jawa bagian
tengah dan timur. Namun demikian,
secara umum diakui bahwa catatan
tertua tentang masuknya Islam di
Jawa diperoleh melalui penemuan
makam Fathimah binti Maimun yang
terdapat di Leran, Gresik. Pada nisan
makam tersebut terdapat tulisan
yang menyatakan bahwa Fathimah
meninggal pada tahun 475 H atau
495 H (1082 M atau 1102 M). Hal ini
berarti bahwa sekitar tahun 1080-an
telah ada penganut agama Islam
yang mendiami pulau Jawa.8
Islam datang ke Jawa ketika Hindu
telah berhasil menancapkan akarakarnya
yang
kukuh
di
bumi
nusantara ini, baik dalam bidang
material yang terwujud dalam candicandi,
maupun
dalam
bidang
spiritual yang terungkap dalam pola
pikir serta gagasan yang kini masih
8 Kennet W. Morgan, Islam Jalan Lurus,
(Jakarta : Pustaka Jaya, 1986), hlm. 422.

berpengaruh
dalam
masyarakat Jawa.

kehidupan

Secara historis, kondisi kehidupan


keagamaan kaum muslimin Jawa
tidak bisa dipisahkan dengan latar
belakang sejarah penyebaran Islam
di negeri ini. Pada waktu Islam
datang
ke
Jawa,
kehidupan
keagamaan yang nampak adalah
campuran
antara
kepercayaan
tradisional yang telah menjelma
menjadi adat kebiasaan dengan
bentuk mistik yang
dijiwai oleh
agama Hindu dan Budha. Dalam
perkembangannya
kepercayaan
tersebut tercermin dalam falsafah
hidup yang meskipun dipengaruhi
oleh nilai-nilai kerohanian Islam,
namun kepercayaan tradisional Jawa
tetap hidup dan mempengaruhi
bentuk kehidupan keagamaannya.
Berdasarkan hal tersebut di atas
maka Clifford Geertz, menyatakan
bahwa Peradaban Indonesia yang
klasik pada instansi pertama bukan
Islam melainkan Hindu.9 Dengan
mencoba
membandingkannya
dengan
di
Maroko,
Geertz
menyatakan bahwa Islam yang
masuk ke Indonesia pada sekitar
abad ke-13 atau 14 bukanlah
memasuki dunia yang masih kosong
ditinjau dari segi kebudayaan, tetapi
justru
memasuki
daerah
yang
didalamnya
dominan
unsur
politik,estetik, religius, dan sosial
yang paling besar di Asia, yakni
negara Jawa Hindu-Budha. Akibatnya
seperti dikatakan oleh Harry J. Benda,
agama Islam di Jawa merupakan
agama Islam yang lain sifatnya,
terdiri dari campuran berbagai unsur
kepercayaan
ditambah
Islam
10
(sinkretis).
9 Clifford Geertz, Islam yang Saya Amati,
Terjemahan Hasan Basri, (Jakarta : Yayasan
Ilmu Sosial, 1982), hlm. 6

Hal 5 dari 24

Ajaran
agama
seperti
digambarkan diatas itulah yang
hidup dan berkembang di Indonesia
serta menjadi anutan bagi mereka
yang
memeluknya.
Semua
itu
mengakibatkan tidak utuh dan tidak
murni lagi paham dan praktek ajaran
Islam di Indonesia. Akibat lebih lanjut
adalah Islam dan ajaran-ajarannya
tidak dapat berfungsi sebagaimana
mestinya, kehilangan pamor dan
daya tariknya.

pusat studi Islam.11 Pengaruh ini


sampai di Indonesia melalui orangorang Indonesia yang menunaikan
ibadah haji. Pada waktu itu di Mekah
mereka
mempelajari
dan
memperdalam berbagai aspek ajaran
Islam, terutama Figh. Untuk maksud
ini para jamaah haji Indonesia
biasanya tinggal di Mekkah untuk
beberapa lama. Dalam masa itulah
mereka terpengaruh oleh gerakan
pembaharuan di Timur Tengah.

Kondisi
historis
inilah
yang
mendorong KH. Ahmad Dahlan
mendirikan
persyarikatan
Muhammadiyah dengan tujuan untuk
memurnikan ajaran agama Islam
yang ada di masyarakat.Tujuan
didirikan
Muhammadiyah
adalah
berjuang memperbaiki pengamalan
ajaran agama Islam yang ada di
Indonesia khususnya di Jawa yang
penuh dengan takhayul, bidah dan
khurafat.

Sementara itu di Kairo Mesir, ideide pembaharuan Muhammad Abduh


telah menyebar ke hampir seluruh
negara Islam melalui majalah AlManar. Di antara pembaca Al-Manar
yang cukup aktif adalah KH. Ahmad
Dahlan. Ia menerima majalah itu dari
kawannya yang ada di Jamiat alKhair
(organisasi
masyarakat
keturunan Arab yang ada di Jakarta)
dan biasanya ia mendiskusikan isi
majalah tersebut dengan temantemannya.

Pengaruh
Gerakan
Modernis
Islam dari Timur Tengah
Lahirnya gerakan pembahruan
Islam di Indonesia tidak dapat
dilepaskan dari pengaruh tokohtokoh gerakan modernis Islam di
Timur
Tengah,
khususnya
Muhammad Abduh ( 1849-1905 M )
serta muridnya yang terkenal, Rasyid
Ridha (1865 1935 M ). Dalam hal ini
Deliar Noer mengatakan bahwa
gerakan reformasi Islam di Indonesia,
sebagian karena terpengaruh oleh
perkembangan dan ide dari luar
Indonesia, terutama Timur Tengah,
yakni Mekah dan Kairo yang menjadi

Kepergian Ahmad Dahlan untuk


menunaikan ibadah haji pada tahun
1890, lalu kembali lagi ke Mekkah
pada
tahun
1903
dan
1905
menjadikan ia terbiasa dengan ide
pembaharuan. Pengamatan langsung
terhadap daerah pusat Islam yang
banyak
terpengaruh
oleh
ide
pembaharuan ini mendorong Ahmad
Dahlan
untuk
melakukan
pembaharuan pemikiran Islam di
Indonesia.
Intensitasnya
dalam
membaca majalah Al-Manar yang
banyak memuat ide-ide Muhammad
Abduh memberikan pengaruh kuat
pada
Ahmad
Dahlan
untuk
mendirikan Muhammadiyah tahun
1912.
Politik Islam Pemerintah Belanda

10 Harry J. Benda, Bulan Sabit dan


Matahari Terbit ,Terjemahan Daniel
Dhakidae (Jakarta : Pustaka Jaya , 1980 )
hlm. 28

Dalam
kekuasaannya,

mempertahankan
setiap
bentuk

11 Deliar Noer, Gerakan Modern,hlm.317


Hal 6 dari 24

pemerintah
kolonial
sedapat
mungkin berusaha memahami adat
kebiasaan penduduk pribumi di
wilayah jajahannya. Hal ini berguna
untuk
memperkuat
dan
melanggengkan kekuasaan penjajah.
Belanda menyadari sepenuhnya
bahwa mayoritas penduduk pribumi
menganut agama Islam. Kenyataan
ini
memerlukan
sikap
dan
pendekatan yang hati-hati, justru
karena
agama
ini
selalu
menyadarkan
para
pemeluknya
bahwa mereka sedang berada dalam
penjajahan, dimana disisi yang
lainnya ajaran Islam menyatakan
bahwa cinta tanah air merupakan
bagian dari iman. Sikap yang hatihati
dari
pemerintah
Belanda
dianggap
penting
oleh
karena
adanya
pengalaman
bahwa
semangat keagamaan yang tinggi
beberapa
kali
menyulut
api
pemberontakan terhadap Belanda,
misalnya
perang
Banten
pada
pertengahan abad ke-18, perang
Cirebon
1802-1806,
perang
Diponegoro 1825-1830 dan perang
Aceh 1873 1903 .12
Sampai jangka waktu yang cukup
lama politik Belanda terhadap Islam
tidak terumuskan. Hal ini disebabkan
karena
Belanda
tidak
memiliki
pengetahuan
yang
yang
tepat
tentang Islam itu sendiri. Kebijakan
terhadap Islam hanya dilakukan
dengan semangat rasa takut serta
pengharapan yang berlebihan. Rasa
takut
terhadap
Islam
sebagai
kekuatan yang fanatik dan punya
hubungan
dengan
gerakan
internasional.
Pengharapan
yang
sangat optimistik bahwa dengan
berhasilnya
Kristenisasi
maka
pengaruh Islam akan hilang dengan
sendirinya.
12 Harry J. Benda, Bulan Sabit , hlm. 36

Setelah
kedatangan
Snouck
Hurgronje pada tahun 1889, barulah
pemerintah
Belanda mempunyai
kebijakan yang jelas terhadap Islam.
Snouck Hurgronje adalah seorang
ahli bahasa Arab, ahli agama Islam,
dan pernah tinggal di Mekah dan
berhasil dalam membantu Belanda
pada peristiwa perang Aceh. Ia
memberikan informasi yang jelas
kepada pemerintah Belanda tentang
agama Islam, antara lain
bahwa
dalam Islam tidak dikenal lapisan
kependetaan seperti yang ada dalam
dalam Kristen, ulama bukanlah
bagian dari hierarki Konstantinopel,
dan mereka tidak boleh dinilai secara
apriori sebagai fanatik dan harus
dimusuhi.13
Dengan memahami kondisi Islam
di Indonesia pada waktu itu dan
berbekal
pengalaman
dan
pergaulannya dengan dunia Islam,
Snouck
Hurgronje
memberikan
pandangan
kepada
pemerintah
dalam rangka menetapkan politik
Islam. Menurut Hurgronje Islam harus
dibedakan dalam tiga kategori, yakni
pertama
Islam
sebagai
ajaran
agama, kedua, Islam sebagai ajaran
sosial kemasyarakatan, dan ketiga,
Islam
sebagai
bagian
politik.
Menurutnya
orang
Islam
akan
bangkit melawan penjajah, jika
mereka mengalami hambatan dalam
menjalankan ajaran agamanya. Oleh
karena itu pemerintah Belanda harus
harus
memberikan
kebebasan
kepada mereka untuk menjalankan
ajaran agama Islam, sepanjang tidak
mengganggu kekuasaan pemerintah
Belanda.
Demikian juga dalam lapangan
sosial kemasyarakatan, pemerintah
dapat memanfaatkan adat kebiasaan
yang berlaku di lingkungan mereka
sendiri bahkan pemerintah Belanda
13 Ibid, hlm. 41.
Hal 7 dari 24

harus membantu. Namun dalam


kehidupan
politik,
pemerintah
Belanda harus bersikap hati-hati,
bahkan harus mencegah setiap
usaha yang akan membawa rakyat
kearah kesadaran bahwa mereka
sedang
dijajah,
sehingga
akan
melahirkan fanatisme dan panIslamisme.14
Sebagai
tindak
lanjut
untuk
menghambat pelaksanaan politik
Islam,
pemerintah
Belanda
memperlancar gerakan Kristenisasi
dengan memberikan dana yang
besar
bagi
penyebaran
agama
tersebut. Di samping itu, pemerintah
Belanda juga mengupayakan agar
penduduk
pribumi
tidak
mendapatkan pendidikan yang layak,
kecuali bagi minoritas kelompok
bangsawan.
Kondisi
ini
ikut
mendorong Ahmad Dahlan untuk
mendirikan Muhammadiyah. Ahmad
Dahlan cukup antisipatif, karena inti
ajarannya adalah menekankan agar
umat Islam kembali ke Al-Quran dan
Hadis
untuk
menjaga
kesucian
agama. Selain itu Ahmad Dahlan juga
menyerukan dakwah untuk menjaga
iman dari rongrongan agama lain
serta pendidikan agar masyarakat
pribumi berkesempatan memperoleh
pengetahuan tanpa ada diskriminasi.
Dalam konteks ini maka cukup
relevan pernyataan Fachry Ali dan
Bachtiar Effendy yang menyatakan
bahwa secara sosio-kultural, proses
pembaharuan Islam di Indonesia,
termasuk
yang
dilakukan
oleh
Muhammadiyah, lebih dimatangkan
oleh
adanya
pengaruh-pengaruh
asing, baik
tantangan maupun
dorongan.15 Pengaruh budaya Barat
yang dilancarkan secara berkala oleh
Belanda
telah
membuat
para
pemuka Islam bersikap hati-hati,
14 Aqib Suminto, Politik Islam Hindia
Belanda, (Jakarta : LP3ES, 1985), hlm. 41

yang kemudian diwujudkan dalam


bentuk gerakan- gerakan seperti
Boedi
Oetomo,
Syarikat
Islam,
Muhammadiyah dan lain-lainnya.
Paradigma
Muhammadiyah

Perjuangan

Paradigma atau kerangka berfikir


mempunyai peran yang penting bagi
seseorang atau organisasi dalam
pelaksanaan aktifitasnya. Paradigma
juga bisa menunjukkan jati dirinya.
Bagi
sebuah
organisasi
seperti
Muhammadiyah yang memfokuskan
kegiatannya dalam bidang sosial
kemasyarakatan,
paradigma
perjuangan yang dimilikinya bisa
mengalami
perubahan
atau
perkembangan. Hal dapat dilihat
sebagai suatu upaya yang serius dari
Muhammadiyah
untuk
dapat
memberikan
partisipasi
secara
maksimal bagi kehidupan umatnya.
Dilihat
dari
orientasi
perjuangannya,
Muhammadiyah
memiliki jati diri ideologis organisasi
yang unik. Keunikan ini terlihat
bahwa organisasi ini sangat modern
di bidang tehnik pengembangan
program, tetapi sangat fundamental
pada
bidang
agama
dalam
pengertian terbatas. Dalam bidang
agama atau disebut juga bidang
teologis,
pegangan
pokok
Muhammadiyah adalah al-Quran dan
Hadis dan orientasinya menyerupai
(atau dipandang seperti) kelompok
Wahabi di Arab Saudi. Sesuai dengan
pegangan pokok ini Muhammadiyah
sangat menekankan kesederhanaan
dalam hidup dan sangat mencela
simbol-simbol kebudayaan, apalagi
yang dianggap bisa mencampuri
aqidah keagamaan.
15 Fachry Ali dan Bachtiar
Effendi, Merambah Jalan Baru Islam,
Rekontruksi Pemikiran Islam Masa Orde
Baru,(Bandung : Mizan, 1990),hlm. 65.
Hal 8 dari 24

Jatidiri Muhammadiyah ini disatu


sisi
mencerminkan
bahwa
Muhammadiyah merupakan suatu
gerakan
modern,
dalam
arti
pengelolaan
dan
orientasi
kegiatannya
itu
sesuai
dengan
tuntutan zaman. Ini terlihat dari
sistem pendidikan yang diterapkan
atau program-program lain seperti
kesehatan yang dikelola berdasarkan
ilmu pengetahuan modern. Disisi
lainnya, khususnya bidang aqidah,
terlihat
Muhammadiyah
mengamalkan faham keagamaan
secara fundamental. Hal ini terlihat
dalam upaya Muhamadiyah untuk
memberantas tahayul, bidah dan
kurafat yang berkembang di tengah
masyarakat Islam Indonesia untuk
disesuaikan dengan ajaran murni
yang berasal dari al-Quran dan
Hadis.
Paradigma
perjuangan
Muhammadiyah sebagai gerakan
Islam modern dapat dilihat pada
program-program awalnya, yaitu :
1) Membersihkan Islam di Indonesia
dari
pengaruh-pengaruh
dan
kebiasaan-kebiasaan yang bukan
dari Islam.
2) Reformasi doktrin Islam dengan
pandangan alam pikiran modern.
3) Reformasi
ajaran-ajaran
pendidikan Islam.
4) Mempertahankan
Islam
dari
pengaruh
dan
serangan

serangan dari luar,dan


5) Melepaskan
Indonesia
dari
belenggu penjajahan.16
Berdasarkan pada program awal
perjuangan
ini
membuat
Muhammadiyah
itu
mempunyai
multiwajah, yakni sebagai gerakan
pembaharuan
keagamaan,
agen
16 Suwarno, Muhammadiyah Sebagai
Oposisi, (Yogyakarta : UII Press, 2001),
hlm. 74.

perubahan
sosial
dan
sebagai
kekuatan politik. Sebagai gerakan
pembaharuan
keagamaan,
Muhammadiyah
tampil
dalam
gerakan
pemurnian
dengan
memberantas
syirik,
tahayul,
bidah,dan kurafat dikalangan umat
Islam. Sebagai agen perubahan
sosial, Muhammadiyah melakukan
modernisasi sosial dan pendidikan
guna memberantas keterbelakangan
umat Islam. Sebagai kekuatan politik
Muhammadiyah memerankan diri
sebagai
kelompok
kepentingan.
Wajah lain dari Muhammadiyah
adalah sebagai pembendung paling
aktif terhadap misi-misi kristenisasi
di Indonesia.17
Bila
ditelusuri,
paradigma
perjuangan Muhammadiyah agaknya
tidak terlepas dari apa yang telah
dicontohkan
oleh
KH.
Ahmad
Dahlan
,
karena
dasar-dasar
pemikiran
Muhammadiyah
pada
masa-masa
sesudahnya
dapat
dikatakan sebagai penjabaran dari
pemikirannya yang
dikemukakan
ketika masih hidup.
Mengenai pandangan keagamaan
KH. Ahmad Dahlan, sekalipun tidak
anti sufi, tetapi ia cenderung kepada
pemurnian ajaran Islam dengan alQuran dan Hadis sebagai landasan
pokoknya.
Muhammadiyah
juga
dikenal
sebagai
gerakan
nonmadzhab.
KH.
Ahmad
Dahlan
misalnya menolak segala bentuk
bidah dalam ibadah. Ibadah sebagai
bentuk hubungan vertikal antara
manusia
dan
Tuhan
haruslah
dijalankan
berdasarkan
dalil-dalil
agama yang kuat. Dengan kata lain,
inovasi di bidang ibadah dipandang
sebagai perbuatan menambah ajaran
17 Haedar Nashir, Dinamika Politik
Muhammadiyah, (Yogyakarta : Bigraf
Publishing, 2000), hlm.2.

Hal 9 dari 24

agama atau bidah. Sebagaimana


halnya
gerakan
modern
Islam
diseluruh dunia, slogan kembali
kepada al-Quran dan hadis begitu
kuatnya dikalangan Muhammadiyah
dan para simpatisannya.18

5) Ittiba
(mengikuti)
langkah
perjuangan
Nabi
Muhammad
dalam setiap usaha.
6) Melancarkan
amal usaha dan
perjuangan dengan ketertiban
organisasi.19

Pemikiran KH. Ahmad Dahlan


dijadikan
paradigma
perjuangan
Muhammadiyah, dimana pemikiran
tersebut dikembangkan lebih lanjut,
yaitu cita-cita untuk menegakkan
masyarakan Islam yang sebesarbesarnya. Suatu garis besar cita-cita
tentang
kemasyarakatan
dari
Muhammadiyah adalah :

Dari prinsip-prinsip diatas terlihat


bahwa bagi Muhammadiyah segala
aktifitas organisasi harus didasarkan
kepada
semangat
pengabdian
kepada Allah. Dengan demikian,
perwujudan masyarakat Islam yang
sebenar-benarnya dilakukan dengan
cara melakukan amal usaha yang
sesuai dengan tuntunan Allah dan
Rasul-Nya. Nilai sebuah amal usaha
bukan hanya dilihat dari manfaat
yang diberikannya secara lahiriah,
tetapi lebih dari itu amal usaha itu
juga harus menimbulkan pengaruh
positif bagi rohani. Berdasarkan hal
tersebut
terlihat
bahwa
dalam
Muhammadiyah
prinsip
keseimbangan hidup antara jasmani
dan ruhani atau antara duniawi dan
ukhrowi itu ada keseimbangan.

Dalam perjuangan melaksanakan


usahanya
menuju
terwujudnya
masyarakat Islam yang sebesarbesarnya, dimana kesejahteraan,
kebaikan
dan
kebahagian
luas
merata,
Muhammadiyah
mendasarkan segala gerak dan amal
usahanya atas prinsip-prinsip yang
tersimpul
dalam
Muqoddimah
Anggaran Dasar, yaitu :
1) Hidup manusia harus berdasar
tauhid, ibadah dan taat kepada
Allah.
2) Hidup manusia bermasyarakat.
3) Mematuhi ajaran-ajaran agama
Islam dengan keyakinan bahwa
ajaran Islam itu satu-satunya
landasan
kepribadian
dan
ketertiban
bersama
untuk
kebahagian dunia akhirat.
4) Menegakkan dan menjungjung
tinggi
agama
Islam
dalam
masyrakat
adalah
kewajiban
sebagai ibadah kepada Allah dan
ihsan (berbuat kebaikan) kepada
sesama manusia.

18 Syafii Maarif, Islam dan Masalah


Kenegaraan Studi Tentang Percaturan Dalam
Konstituante, (Jakarta; LP3ES, 1987 ), hlm.
71

Berdasarkan
paradigma
inilah
maka menjadikan Muhammadiyah
sebagai
organisasi
Islam
yang
menekankan kepada amal usaha
nyata
terwujud
dalam
usaha
mendirikan sekolah, rumah sakit,
tempat ibadah, panti asuhan, dan
sebagainya.
Hal
inilah
yang
menjadikan
Muhammadiyah
menggunakan
berlomba-lomba
dalam kebaikan sebagai semboyan
gerakan. Semboyan gerakan ini
sangat relevan dengan orientasi
Muhammadiyah sebagai organisasi
keagamaan Islam yang bergerak
untuk
berpartisipasi
dalam
pembangunan umat, bangsa, dan
negara.
19 Musthafa Kamal Pasha dan A. Adaby
Darban, Muhammadiyah Sebagai,
hlm.181-182
Hal 10 dari 24

Berdasarkan
paradigma
perjuangannya
juga,
maka
Muhammadiyah telah memberikan
kontribusi yang nyata bagi kehidupan
bermasyarakat,
berbangsa
dan
bernegara. Peran dan partisipasi
Muhammadiyah bagi masyarakat
yang
luas,
yang
dikalangan
Muhammadiyah
disebut
dengan
istilah amal usaha Muhammadiyah
merupakan hal yang fundamen bagi
gerakan ini, apalagi jika ditinjau dari
latar
belakang
kelahiran
Muhammadiyah itu sendiri.

2. Pengertian Politik
Politik
(siasah-bahasa
arab;
politics-bahas inggris) memiliki
pengertian yang sangat luas. Kata
politik mengundang kontroversi
terutama bagi mereka yang tidak
memahaminya.Akan tetapi apakah
itu politik? Mungkin ada baiknya
diungkapkan mengenai apa makna
politik. Ilmuan politik yang sanagat
terkenal, David Easton, menyatakn
politik
tidak
lain
daripada
bagaiman mengalokasikan sejumlah
nilai secara otoritatif bagi sebuah
masyarakat
authoratitative
allocation of values for a society.
Artinya dalam kehidupan seharihari ada sejumlah nilai yang selalu
dicari, dikejar-kejar, dan tentu saja
dipertaruhkan orang dalam hidup
bermasyarakat
serta
bernegara.
Nilai-nilai
tersebut
tentu
saja
merupakan sesuatu yang sanagat
berharga atau bermakna dalam
kehidupan sehingga orang dapat
melakukan
apa
saja
untuk
memperolehnya. Apakah nilai-nilai
tersebut? Seorang ahli ilmu politik
lainnya,
Karl
W.
Deutsch,
mengelompokkan nilai-nilai tersebut
dalam delapan kategori, termasuk
didalamnya kekuasaan, kekayaan,
kehormatan,
kesehatan,

kesejahteraan
(enlightment),
kebebasan, keamanan, dan lainlainnya.
Nilai-nilai
tersebut
dialokasikan secara otoritatif, artinya
sekali
diputuskan
oleh
Negara
bagaimana
mengalokasikannya,
maka
akan
mengikat
(binding)
semua pihak yang berkepentingan
dengan nilai-nilai tersebut, sehingga
negara
memiliki
hak
untuk
memberikan paksaan fisik agar orang
tunduk
dan
patuh
terhadap
keputusan yang mengikat dalam
rangka alokasi nilai tersebut.
Di dalam konteks masyarakat
Indonesia sering terjadi kesenjangan
antara ilmu politik yang dipelajari
dengan politik-politik yang terjadi.
Ilmu politik adalah ilmu social yang
khusus mempelajari sifat dan tujuan
dari
Negara
sejauh
Negara
merupakan organisasi kekuasaan,
beserta sifat tujuan dari gejala-gejala
kekuasaan lain yang resmi, yang
dapat mempengaruhi Negara. Di
dalam praktiknya, pengrtian politik
menjadi deterministic yakni segara
urusan dan tindakan (kebijaksannan,
siasat, dan sebagainya) mengenai
pengertian sesuatu Negara atau
terhadap Negara lain, tipu muslihat
atau
kelicikan,
dan
juga
dipergunakan sebagai nama bagi
sebuah disiplin pengetahuan, yaitu
ilmu politik. Segala aktivitas atau
sikap yang berhubungan dengan
kekuasaan
dan
bermaksud
mempengaruhi,
dengan
jalan
mengubah atau mempetahankan
suatu
macam
bentuk
susunan
masyarakat.
Pada
umumnya
dikatakan bahwa politik adalah
bermacam-macam kegiatan dalam
suatu system politik atau Negara
yang
bekenan
dengan
proses
menentukan
tujuan-tujuan
dari
sistem itu dan melaksanakan tujuantujuan itu.
Hal 11 dari 24

Dengan demikan maka seringkalai


persoalan politik adalah persoalan
bagaimana
menerapkan
dan
menfsirkan konsep-konsep atau teoriteori politik terhadap fenomena di
masyarakat
yang
mendekati
kebenaran. Atas dasar itu maka di
dalam menjalankan politik akan
tergantung pada perspektif dan
paradigma apa yang dipakai. Di
dalam konsep Islam, politik memiliki
banyak arti antara lain; kegiatan
mendidik, memimpin, mengurus,
menjaga kepentingan, menyuruh
melakukan kebaikan, menjalankan
tugas dan sebaginya. Semua itu
bertujuan
untuk
mendatangkan
kebaikan
dan
manfaat
kepada
masyarakat.
3. Pergumulan
dan Politik

Muhammadiyah

Sejak berdirinya tahun 1912,


Muhammadiyah bukan partai politik,
meskipun pendirinya, Ahmad Dahlan
(1868-1923), mengenal dari dekat
tokoh-tokoh politik Indoesia seperti
Dr. Wahidin Sudirohusodo, pendiri
Budi Utomo (Ahmad Dahlan pernah
menjadi anggota dan penasehat Budi
Utomo),
H.
Samanhudi,
H.O.S.
Cokroaminoto
dan H. Agus Salim
ketiganya
pendiri
dan
pemuka
Syarikat Islam/ SI (Ahmad Dahlan
pernah
menjadi
anggota
dan
penasehat
SI).
Ketika
H.O.S.
Cokroaminoto mengadakan kongres
Islam di Cirebon pada tahun 1921,
Muhammadiyah
ikut
membantu
penyelenggaraannya. Bahkan dalam
kongres tersebut, Ahmad Dahlan
menyampaikan
saran
tentang
pembaharuan pemikiran Islam dan
konsep pendidikan Islam.
Mas
Mansur,
tokoh
puncak
Muhammadiyah (1937-1943), juga
pernah
menjadi
anggota
dan
penasehat SI pada tahun 1915,

selesai studinya dari timur tengah.


Pada tahun 1925, Mas Mansur
sebagai
tokoh
Muhammadiyah
sekaligus sebagai tokoh SI, H.O.S.
Cokroaminoto
, sebagai tokoh
puncak SI, menjadi delegasi resmi
Indonesia yang menghadiri kongres
dunia Islam tentang khilafah Islam di
Mekkah. Namun setahun kemudian,
pada 1926, SI mengeluarkan disiplin
partai yang melarang keanggotaan
rangkap,
dan
Muhammadiyah
terkena disiplin partai ini, termasuk
Mas Mansur.
Ketika
Partai
Syarikat
Islam
melakukan politik hijrah atau non
cooperation
dengan
pemerintah
Hindia-Belanda
Muhammmadiyah
menyadari suatu keharusan adanya
politik tidak hijrah atau cooperation.
Oleh karena itu melalui Mas Mansur
dan
Wiwoho,
Muhammadiyah
mendirikan Partai Islam Indonesia
(PII)
pada tahun 1938, meskipun
sebelumnya Mas Mansur menemui
pemimpin Partai
SI agar disiplin
partai
yang
dikenakan
kepada
muhammadiyah bisa dicabut. Namun
harapan
Muhammadiyah
tidak
terwujud. Jika terwujud keadaannya
akan lain; Muhammmadiyah akan
memperioritaskan saluran politiknya
pada SI.
Setahun
sebelumnya,
pada
September
1037,
telah
berdiri
Lembaga Permusyawaratan Islam
Indonesia bernama Majelis Ala Islam
Indonesia (MIAI) yang diprakarsai
tokoh Islam empat serangkai; Mas
Mansur (Muhammadiyah), Wiwoho
Wondoamiseno (SI), Ahmad Dahlan,
dan Abdul Wahab (NU). Peleksanaan
lembaga ini diserahkan kepada tokoh
empat serangkai tersebut. Di
lembaga
ini
bertemu
berbagai
organisasi islam, yang tercemin saat
organisasi
ini
berdiri,
yaitu
Muhammadiyah, SI, Persatuan Islam,
Al-Irsyad
(Surabaya),
Hidayatul
Hal 12 dari 24

Islamiyah
(Banyuwangi),
Khairiyah (Surabaya).

dan

Data sejarah di atas menunjukkan


peran
dan
kontribusi
aktif
Muhammadiyah dalam perjuangan
politik. Dan ini merupakan bagian
dari perjuangan Mmuhammadiyah
untuk
mewujudkan
cita-citanya
Muhammadiyah
menyalurkan
perjuangan politik pada partai politik
Islam, tanpa harus menjadikan
Muhammadiyah
sebagai
partai
politik.
Perjuangan
politik
ini
dilakukan dengan melibatkan seluruh
ekuatan umat Islam dengan satu
tujuan, yaitu kemenangan Islam.
Dengan kata lain, perjuangan politik
bagi
Muhammadiyah
didasarkan
pada
dua
prinsip.
Pertama,
Muhammadiyah memerlukan aspirasi
politik dan ini dilakukan di luar
organiasi Muhammadiyah. Kedua,
penyaluran kemenangan Islam dan
umatnya secara keseluruhan. Karena
itu, upanya untuk melibatkan dan
memperdayakan seluruh kekuatan
umat
Islam
merupakan
suatu
keniscayaan.
Dua prinsip inilah yang dipegang
teguh
Muhammadiyah
ketika
bersama tokoh-tokoh Islam lainnya
mempelopori
berdirinya
Partai
Majelis Syura Muslimin Indonesia
(Masyumi) pada 7-8 November 1945,
di
Madrasah
Muallimin
Muhammdiyah
Yogyakarta.
Saat
pembentukan Partai Masyumi ini, ada
pengakuan bahwa Muhammadiyah
memerlukan saluran aspirasi dan
perjuangan Politik Islam bagi seluruh
organisasi Islam Indonesia. Meskipun
demikian, pada 1947 SI keluar dari
Masyumi, dan pada 1952 Nahdatul
Ulama (NU) mengikutinya.

4. Perkembangan
Muhammadiyah

Politik

Tidak seperti halnya dengan


Nahdatul
Ulama
(NU),
Muhammadiyah
merupakan
persyarikatan yang tidak pernah
terlibat langsung dengan politik
praktis. Kalau NU pernah menjadi
Partai Politik yakni Partai NU (1955),
maka Muhammadiyah tidak pernah
mengalaminya,
kecuali
sempat
melakukan
pernikahan
dengan
parpol. Persyarikatan yang didirikan
di Kampung Kauman, Yogyakarta
pada 18 November 1912 atau
bertepatan dengan 8 Dzulhijah 1330
hijriah
itu
pernah
melakukan
pernikahan resmi dengan parpol
ketika menjadi anggota istimewa dari
Masyumi.
Namun, gerakan Islam modernis
yang didirikan KH Ahmad Dahlan
atau Muhammad Darwis itu juga
pernah melakukan pernikahan siri
dengan parpol ketika pendiri Parmusi
(tanwir
ponorogo).
Selain
itu,
Muhammadiyah pernah melakukan
nikah mutah (kontrak) ketika
sebagaian
pengurusnya
terlibat
dalam pendirian PAN, tapi akhirnya
ditinggalkan parpol bentukan Amien
Rais itu. Model paling akhir justru
bukan
pernikahan,
melainkan
perceraian organisasi pemurnian
dan pembaruan Islam itu dengan
parpol
sebagaiman
dirumuskan
dalam Tanwir Denpasar (2001).
Relasi Muhammadiyah dengan
parpol itu sebenarnya sudah cukup
jelas, karena muhammadiyah secara
historis tidak boleh berpolitik praktis.
Muhammadiyah
sebagai gerakan
dakwah mencakup seluruh bidang
kehidupan, termasuk politik. Politik
dan partai politik itu berbeda. Sejak
sidang tanwir di Denpasar pada
tahun
2001,
Muhammadiyah
bertekad
mengintensifkan
politik
kebangsaan,
sehingga
Muhammadiyah tetap terlibat dalam
politik.
Hal 13 dari 24

Secara
historis,
politik
yang
melekat
pada
muhammadiyah
adalah politik kebangsaan yang
sering disebut dengan politik amar
maruf nahi munkar (mengajak ke
kebaikan
dan
mencegah
kemungkaran).
Bahkan,
para
pemimpin
terdahulu
di
Muhammadiyah sangat akif berpolitik
seperti KH Ahmad Dahlan di Budi
Utomo atau KH Mas Mansur dalam
BPUPKI. Artinya, Muhammadiyah itu
tidak segan-segan menjadi pengeritik
paling
depan
jika
pemerintah
bertindak salah, tapi muhammadiyah
juga menjadi pendukung terdepan
jika pemerintah memang benar.
5. Landasan

Operasional
Muhammadiyah

Politik

Secara normatif, Gerak Perjuangan


Muhammdiyah
dijelaskan
dalam
Muqqodimmah
Anggaran
Dasar
Muhammadiyah,
Kepribadian
Muhammadiyah, Matan keyakinan
dan Cita-Cita hidup Muhammadiyah
(MKCH)
bahwa
Muhammadiyah
sebagai Gerakan Dakwah amar
maruf nahi mungkar. Sementara
secara
operasional,
bahwa
Muhammadiyah
memilih
lahan
dakwah dibidang kemasyarakatan
ditegaskan dalam khittah (garis)
perjuangan diantarannya; Khittah
Ponorogo 1969, Khittah Surabaya
1978, Khittah Denpasar 2002. Berikut
ini adalah kutipan panjang tentang
Khittah perjuangan dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara:
Muhammadiyah meyakini bahwa
politik dalam kehidupan bangsa dan
negara merupakan salah satu aspek
dari ajaran islam dalam urusan
keduniawian
(al-umur
addunyawiyat) yang harus selalu
dimotivasi, dijiwai dan dibingkai oleh
nilai-nilai luhur agama dan moral
yang utama. Karena itu diperlukan
sikap dan moral yang positif dari

seluruh
warga
Muhammadiyah
dalam menjalani kehidupan politik
dari seluruh warga Muhammadiyah
dalam menjalani kehidupan politik
untuk
tegaknya
kehidupan
berbangsa dan bernegara.
Muhammadiyah meyakini bahwa
negara
dan
usaha-usaha
membangun kehidupan berbangsa
dan
bernegara,
baik
melalui
perjuangan politik maupun melalui
pengembangan masyarakat, pada
dasarnya merupakan wahana yang
mutlak
diperlukan
untuk
membangun kehidupan dimana nilainilai ilahiah melandasi dan tumbuh
subur bersamaan dengan tegaknya
nilai-nilai kemanusiaan, keadilan,
perdamaian,
ketertiban,
kebersamaan dan keadaban untuk
terwujudnya Baldatun thayyibatun
wa rabbun Ghafur.
Muhammadiyah
memilih
perjuangan
dalam
kehidupa
berbangsa dan bernegara melalui
usaha-usaha
pembinaan
atau
perbedayaaan
masyarakat
guna
terwujudnya
masyarakat
yang
madani (civil society) yang kuat
sebagaimana tujuan muhammadiyah
untuk mewujudkan masyarakat Islam
yang sebenar-benarnya. Sedangkan
hal-hal yang berkaitan dengan
kebijakan-kebijakan
kenegaraan
sebagai proses dan hasil dari fungsi
politik pemerintahah akan ditempuh
melalui
pendekatan-pendekatan
secara tepat dan kebijakan sesuai
prinsp-prinsip perjuangan kelompok
kepentingan yang efektif dalam
kehidupan negara demokratis.
Muhammadiyah
mendorong
secara kritis atas perjuangan politik
yang besifat praktis atau berorientasi
pada kekuasaan (real politics ) untuk
dijalankan oleh partai-partai politik
dan
lembaga-lembaga
formal
kenegaraan dengan sebaik-baiknya
Hal 14 dari 24

menuju terciptannya sistem politik


yang demikratis dan berkeadaban
sesuai dengan cita-cita luhur bangsa
dan
negara.
Dalam
hal
ini
perjuangan politik yang dilakukan
oleh
kekuatan-kekuatan
politik
hendaknya
benar-benar
mengendepankan
kepentingan
rakyat dan tegaknya nilai-nilai utama
sebagaimana
yang
menjadi
semangat
dasar
dan
tujuan
didirikannya
Negara
Republik
Indonesia
yang
diproklamasikan
tahun 1945.
Muhammadiyah
senantiasa
memainkan
peranan
politiknya
sebagai wujud dari dakwah amar
maruf nahi mungkar dengan jalan
mempengaruhi proses dan kebjiakan
negara agar tetap berjalan dengan
sesuai dengan konstitusi dan citacita luhur bangsa. Muhammadiyah
secara
aktif
menjadi
kekuatan
perekat
bangsa
dan
berfungsi
sebagai wahana pendidikan politik
yang
sehat
menuju
kehidupan
nasional yang damai dan beradaban.
Muhammadiyah tidak berafiliasi
dan tidak mempunyai hubungan
organisatoris
dengan
kekuatankekuatan politik atau organisasi
manapun.
Muhammadiyah
senantiasa mengembangkan sikap
positif
dalam
memandang
perjuangan politik dan menjalankan
fungsi kritik sesuai dengan prinsip
amar maruf nahi mungkar demi
tegaknya sistem politik kenegaraan
yang demokratis dan berkeadaban.
Muhammadiyah
memberikan
kebebasan kepada setiap anggota
persyarikatan untuk menggunakan
hak pilihnya dalam kehidupan politik
sesuai hati nurani masing-masing.
Penggunaan hak pilih tersebut harus
merupakan tanggung jawab sebagai
warga negara yang dilaksanakan
secara rasional dan kritis, sejalan

dengan
misi
dan
kepentingan
Muhammmadiyah
demi
kemaslahatan baangsa dan negara.
Kebebasan Beraspirasi
Politik Praktis

dalam

Muhammadiyah meminta kepada


segenap anggotanya yang aktif
dalam politik untuk benar-benar
melaksanakan tugas dan kegiatan
politik
secara
sungguh-sungguh
dengan mengedepankan tanggung
jawab (amanah), dan perdamaian
(ishlah). Aktifitas politik tersebut
harus
sejalan
dengan
upaya
memperjuangkan misi persyarikatan
dalam melaksanakan dawah amar
maruf nahi mungkar. Setiap anggota
dibebaskan menyalurkan aspirasi
politiknya kepada salah satu partai
politik
yang
dipandang
dapat
menyarakan
misi
Islam
untuk
menegakkan keadilan sesuai dengan
prinsip-prinsip ajaran Islam.

Metamorfose
Sikap
Muhammadiyah

Politik

a) Tahun
19121926,
Muhammmadiyah
dinyatakan
bukan sebagai organisasi politik,
meskipun
banyak
anggota
Muhammadiyah yang menjadi
anggota aktif dalam organisasi
Budi Utomo, Sarikat Islam, Partai
Sarikat Islam Indonesia.
b) Tahun
1927-1938,
Muhammadiyah
memantapkan
diri sebagai organisasi Islam dan
amal. Anggota Muhammadiyah
yang memasuki Partai Sarikat
Islam Indonesia (PSII) terkena
disiplin organisasi tidak boleh
merangkap keanggotaan dengan
Muhammadiyah.
c) Tahun 1938-1942, pada tahun
1923 para pemuka Joung Islami
ten Bond (JIB) dan para anggota
Muhammadiyah
berhasil
Hal 15 dari 24

d)

e)

f)

g)

h)

mendirikan Partai Islam Indonesia


(PII),
tetapi
Muhammadiyah
sebagai organisasi tetap tidak
menetapkan
secara
resmi
terhadap eksistensi partai itu.
Tahun
19421945,
Muhammadiyah bersama dengan
organisasi organisasi Islam
mendirikan Majelis Islam Ala
Indonesia
(MIAI)
dan
Muhammadiyah
sebagai
organisasi, tetap tidak merupakan
bagian dari majelis ini.
Tahun 19451960, pada tahun
1945 MIAI berubah menjadi
Majelis Syuro Muslimin Indonesia
(Masyumi) dan Muhammadiyah
sebagai anggota istimewa dan
dinyatakan
sebagai
bagian
struktural dari Partai itu. Pada
tahun 1950, Muhammadiyah tidak
lagi menjadi anggota istimewa
Masyumi.
Tahun
19601965,
Muhammadiyah
dalam
posisi
yang sulit sebab situasi politik
kenegaraan yang semakin panas,
dan dominasi kekuatan komunis
sangat menentukan.
Tahun
19651971,
Muhammadiyah dinyatakan oleh
pemerintah sebagai organisasi
masyarakat atau ormas yang
berfungsi sebagai politik real.
Artinya Muhammadiyah berhak
mempunyai wakil-wakil dalam
legislatif. Pada periode ini ada
usaha dari orang Islam yang
aspirasi
politiknya
belum
tertampung dalam partai politik
yang ada. Akhirnya menetapkan
membentuk
Partai
Muslimin
Indonesia
meskipun
Muhammadiyah
masih
tetap
memiliki independensinya.
Tahun
1971sekarang,
dalam
bidang politik Muhammadiyah
berusaha sesuai dengan khittah
(garis) perjuangannya dengan
dakwah amar makruf nahi munkar

dalam arti dan proporsi yang


sebenarbenarnya,
Muhammadiyah
harus
dapat
membuktikan baik secara teoritis
konseptual, secara operasional,
secara real bahwa ajaran Islam
mampu mengatur masyarakat
dalam negara Republik Indonesia
yang berpancasila dan UUD 1945
menjadi masyarakat yang adil
makmur serta sejahtera.

Moral Politik Muhammadiyah


Sebenarnya masih ada khittah
Surabaya 1978 yang seakan ingin
mengamini
bahwa
selama
ini
Muhammmadiyah memang belum
atau tidak serius berjalan diatas rel
khittahnya yaitu sebagai ormas
keagamaan.
Selama
ini,
Muhammadiyah
kerap
membuat
putusan yang secara sadar atau
tidak telah menyeret Muhammadiyah
pada politik praktis. Karena itu, tidak
heran
bila
selama
perjalanan
sejarahnya Muhammmadiyah lebih
banyak bersinggungan dengan politik
praktis.
Dua khittah Ujung Pandang dan
Denpasar sama-sama menegaskan
netralitas Muhammadiyah terhadap
kekuatan politik mana pun. Hanya
yang membedakan sebagai khittah
transisi, Khittah Ujung Pandang
masih belum bisa membebaskan dari
kungkungan khittah Ponorogo 1969
yang nuansa politiknya lebih kuat,
sehingga masih menyebut kata
Parmusi untuk lebih memantapkan
Muhammmadiyah sebagai gerakan
dakwah Islam setelah pemilu 1971,
Muhammadiyah melakukan amar
maruf
nahi
minkar
secara
konstruktif dan positif terhadap
Parmusi seperti halnya terhadap
partai-partai politik dan organisasiorganisasi lainnya(point 3). Bila
dikaji dalama konteks jamannya,
Hal 16 dari 24

keluarnya rumusan khittah tersebut


menarik untuk dikritik, khittah Ujung
Pandang
misalnya
selepas
munculnya kebijakan politik berupa
khittah
Ponorogo
yang
begitu
partisan .
Setelah menyadari bahwa selain
khittah Ponorogo tidak membawa
maslahah yang bertentangan dengan
jati diri Muhammmadiyah, juga
realitas politik saat itu yang mulai
tidak kondusif lantaran negara militer
mulai tampil serba dominan melalui
Golkar dan juga pelaksanaan pemilu
1971 yang sarat dengan kecurangan,
keluarlah khittah Ujung Pandang
yang menegaskan netralitas politik
Muhammadiyah.
Begitu juga khittah Denpasar
diputuskan selepas Muhammadiyah
melalui tanwir Semarang 1998,
memberikan rekomendasi dukungan
atas berdirinnya Partai Amanat
Nasional (PAN). Ketika PAN dinilai
juga tidak membawa maslahah,
bahkan
cenderung
membebani,
karena Muhammmadiyah selalu saja
diidentifikasikan
dan
dikaitkan
dengan PAN, Muhammadiyah pun
mengeluarkan
rumusan
khittah
Denpasar.
Varian politik keluarnya rumusan
khittah Ponorogo, khittah Ujung
Pandang, khittah Surabaya, khittah
Denpasar
dan
Muhammmadiyah
yang ambigu, juga menegaskan
adanya
tarik
menarik
dan
terfragmentasiinya
sikap
politik
warga Muhammadiyah. Dan bila
berkaca pada doktrin mainstream
dikalangan
umat
Islam
bahwa
terfragmentasinnya
sikap
politik
warga Muhammmadiyah cukup bisa
dipahami.
Apalagi,
sejarah
Muhammmadiyah juga menunjukkan
dominasi dalam relasinya dengan
politik.

Dominasi relasi ini setidaknya


tergambar dari kedekatan KH Ahmad
Dahlan dengan Budi Utomo dan PSII.
relasi ini boleh dikatakan sebagai titik
awal Muhammadiyah bersinggungan
dengan politik. Ketika dikomandoi
KH Mas Mansyur, wajah politik
Muhammadiyah
bahkan
begitu
dominan.
KH
Mas
Mansur
misalnya,menjadi
penggagas
berdirinnya Partai Islam Indonesia
(PII), penggagas lahirnya MIAI dan
Masyumi. Pasca orde lama, ketika
upaya rehabilitasi Masyumi gagal,
Muhammmadiyah juga penggagas
lahirnya Parmusi.
Sewaktu
rezim
orde
baru
menerapkan kebijakan
depolitisasi
partai politik, Muhammadiyah yang
terpresentasikan lewat parmusi (MI)
memfusi ke dalam PPP. Melalui
rekomendasi Tanwir Semarang 1998,
Muhammadiyah juga ikut membidani
lahirnya PAN. Tahun 2004 melalui
Tanwir Mataram, Muhammadiyah
mengeluarkan rumusan politik yang
cenderung vis a vis khittah Denpasar
yang memberikan lampu hijau
kepada
AMM
untuk
mengkaji
kemungkinan berdirinya partai baru.
Keputusan Tanwir ini kemudian
disikapi ditafsiri secara kritis oleh
eksponen AMM dengan mendirikan
Partai Matahari Bangsa (PMB).
6. High Politics & Low Politics
Paparan diatas menggambarkan
bahwa
kebijakan
politik
Muhammmadiyah tampak sangat
dipengaruhi situasi praksis-politik
(low politics) yang melingkupinya
ketimbang
idealitas
politik
Muhammmadiyah
(high
politics).
Dengan begitu, mengesankan tidak
konsistennya sikap dan posisi politik
Muhammdiyah.
Sebagai
ormas
keagamaan, Muhammadiyah tidak
seharusya terlibat pada wilayah
politik praktis. Meski begitu, sebagai
Hal 17 dari 24

organisasi dakwah amar maruf nahi


munkar, Muhammmadiyah juga tidak
semestinya anti pada politik. Hanya,
politik
yang
dimaksud
adalah
sebagaimana diamanatkan khitah
Denpasar
yang
bercorak
high
politics.
Sesunggguhnya yang dimaksud
atau terjemahan yang tepat bagi
High Politics bukan politik tinggi,
tetapi politik yang luhur, adiluhur dan
berdimensi moral etis. Sedangkan
Low Politics bukan berarti politik
rendah, tetapi politik yang terlalu
praktis dan seringkali cenderung
nista.
Bila
sebuah
organisasi
menunjukkan sikap yang tegas
terhadap korupsi, mengajak luas
untuk terus menggelinding proses
demokratisasi
dan
keterbukaan,
maka organisasi tersebut sedang
memainkan high politics.
Sebaliknya, bila sebuah organisasi
melakukan gerakan dan manuver
politik untuk memperebutkan kursi
DPR, minta bagian di lembaga
eksekutif,
membuat
kelompok
penekan, membangun lobi serta
berkasak-kusuk
untuk
mempertahankan atau memeperluas
vested interests, maka organisasi
tersebut sedang melakukan low
politics. Ungkapan yang mengatakan
bahwa Muhammmadiyah tidak ikut
bermain
politik
praktis
perlu
diterjemahkan dalam konteks itu.
Sampai kapanpun, Muhammadiyah
tidak pernah terjun kedalam kancah
power
politics
yang
dapat
membahayakan
kelangsungan
hidupnya. Bermain langsung atau
sekedar menjadi pion kekuatankekuatan
eksternal
dalam
gelanggang politik praktis, tidak
pernah terbayangkan dalam pikiran
Muhammmadiyah.
Dengan mengambil posisi politik
organisatoris,
kedepan
sudah

semestinnya Muhammadiyah tidak


lagi membuat putusan sejenis khittah
Ponorogo, Tanwir Semarang, dan
Tanwir Makasar 2003 yang begitu
partisan, termasuk sidang pleno
2004
yang
mendukung
kader
terbaik Amien Rais sebagai calon
presiden atau juga surat keputusan
seperti SK 149 tentang kebijakan
mengenai konsolidasi organisasi dan
amal usaha Muhammmadiyah, yang
beberapa pointnya cenderung tidak
proporsional.
Dalam SK tersebut misalnya,
sampai
menyebut
nama
Partai
Keadilan Sejahtera (PKS). Meski
cukup bisa memahami konteks
keluarnya SK tersebut, penyebutan
nama PKS cenderung bertentangan
dengan semangat khittah Ujung
Pandang dan khittah Denpasar,
dalam SK tersebut juga ditegaskan
kembali
keputusan
muktamar
Muhammadiyah Malang 2005 yang
menolak upaya-upaya mendirikan
partai yang menggunakan nama
atau simbol-simbol persyarikatan
Muhammmadiyah,
yang
tidak
semestinya
dikeluarkan
menjadi
ketetapan forum seperti muktamar.
Andaikan SK tersebut dibuat
sebelum berdirinya PAN pada 1998
atau tidak disaat pengurus PMB
sedang
menyosialisaikan
partai
barunnya, dua partai ini sama-sama
menggunakan simbol matahari, tentu
tidak terlalu menjadi persoalan. Alihalih mencoba mengambil posisi
netral politik, dengan keluarnya SK
tersebut justru menunjukkan sikap
keberpihakan Muhammmadiyah dan
cenderung tidak proporsional. Bila
Muhammadiyah secara serius ingin
melakukan
pertaubatan
politik
dengan
tidak
lagi
menyeret
Muhammmadiyah
pada
wilayah
politik praktis, segala sikap dan
posisi politik Muhammmadiyah harus
Hal 18 dari 24

sejalan dengan semangat khittah


Ujung Pandang dan khittah Denpasar.

7. Agenda
Muhammadiyah
dalam Politik di Masa Depan
Dalam
menghadapi
dinamika
kehidupan nasional perkembangan
dunia yang makin global dan penuh
pertarungan kepentingan yang keras
antar kelompok dan golongan dalam
masyarakat, Muhammadiyah sebagai
gerakan
Islam
yang
cukup
berpengaruh di Indonesia dituntut
untuk memainkan perannya secara
signifika. Demikian
juga dalam
ehidupan politik, Muhammadiyah
dituntut
untuk
menghadapi
perkembangan yang makin dinamik
itu secara cerdas dan tepat sasaran,
yang
memerlukan
pemikiranpemikiran dan langkah-langkah yang
strategis.
Muhammadiyah perlu melakukan
identifikasi atas pesoalan-persoalan
penting dan strategis khususnya
dalam kehidupan politik nasional,
agar dalam melangkah tidak bersifat
reaktif semata. Dalam kepentingan
ini Muhammadiyah perlu menyusun
agenda-agenda strategis khususnya
dalam
politik
,
sehingga
Muhammadiyah menjadi kekuatan
yang memiliki kesiapan yang matang
dan sistemik dalam memasuki masa
depan
yang
penuh
tantangan.
Muhammadiyah bisa melakukannya
tanpa harus terlibat langsung dalam
politik
praktis.
Langkah-langkah
strategis
dalam
menghadapi
dinamika kehidupan politik yang
penuh tantangan itu seharusnya
dibangun
diatas
landasan
dan
orientasi gerakan dakwah amar
maruf nahi munkar sebagai misi
utama dari Muhammadiyah.
Dalam konteks kehidupan politik
nasional dapat dicermati bagaimana

perkembangan sosiologi politik umat


Islam.
Muhammadiyah
perlu
mengambil
peran
aktif
dalam
percaturan naional sesuai dengan
karakternya
sebagai
organisasi
sosial- keagamaan, sehingga dapat
memberikan penguatan bagi proses
politik umat Islam di Indonesia.
Muhammadiyah
dituntut
untuk
berperan dalam percaturan politik
nasional yang melibatkan kekuatankekuatan umat Islam yang tidak
jarang harus berbenturan antar umat
Islam
itu sendiri, selain dengan
kekuatan
politik
lainnya.
Muhammadiyah
dituntut
untuk
memposisikan diri dan ikut berperan
aktif dalam percaturan umat Islam,
agar dapat memberikan penguatan
bagi plitik umat Islam khususnya dan
politik nasional pada umumnya. 20
Perkembangan politik umat Islam
maupun plitik nasional mengalami
perubahan yang sangat cepat ketika
datang gelombang gerakan reformasi
yang meruntuhkan rezim Orde Baru.
Munculnya
era
Reformasi
menggantikan Orde Baru walaupun
belum
sepenuhnya
berhasil
membongkar tatanan politik yang
lama,
tetapi
telah
merubah
konfigurasi
perpolitikan
nasional
yang telah ada. Kekuatan- kekuatan
Islam terpecah belah dalam berbagai
faksi politik. Ledakan partisipasi
politik dengan mendirikan partai
politik baru di era reformasi untuk
bertanding di Pemilu 1999 telah
melahirkan konfigurasi politik baru,
sehingga bermunculan partai politik
yang membawa aspirasi umat Islam,
baik itu yang memakai asas formal
Islam maupun yang membawa
kepentingan umat Islam. Fenomena
politik baru di lingkungan umat Islam
ini menunjukkan secara terbuka
20 Haedar Nashir, Dinamika
Politik.hlm 126.
Hal 19 dari 24

bahwa
umat
Islam
bukanlah
merupakan satu entitas politik yang
utuh.
Dalam menyikapi fenomena politik
baru di lingkungan umat Islam ini,
maka
Muhammadiyah
harus
merumuskan
agenda-agenda
strategis mengenai politik baik yang
berkaitan
dengan
pemikiranpemikiran
maupun
dalam
mempermainkan fungsi-fungsi politik
sesuai dengan identitas dan garisgaris
perjuangan
yang
membingkainya
sebagai
wujud
pertanggungjawaban
dalam
pencerahan
kehidupan
bermasyarakat,
berbangsa,
dan
bernegara. Muhammadiyah harus
mempunyai agenda-agenda politik
sebagai kerangka secara sistemis
yang
berkaitan
dengan
pertanggungjawaban atau amanat
Muhammadiyah dalam ikut serta
melakukan pembangunan politik di
Indonesia. Agendaagenda strategis
Muhammadiyah itu antara lain :
Pertama, merumuskan konsep
pandangan Muhammadiyah tentang
politik, yaitu Muhammadiyah dituntut
untuk menyusun suatu konsep yang
komprehensif dan sistemik mengenai
politik
yang
berangkat
dari
pandangan- pandangan keagamaan
dan elaborasi pemikiran ijtihad yang
menjadi metode pemahaman Islam
dalam
Muhammadiyah.
Konsep
politik ini dapat dianggap sebagai
pandangan Muhammadiyah tentang
politik. Konsep ini berfungsi sebagai
landasan pemikiran dan perilaku
politik
Muhammadiyah
maupun
orang-orang Muhammadiyah dalam
kehidupan
bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara yang
mencerminkan pertanggungjawaban
dakwah amar maruf nahi munkar
dari Muhammadiyah. Konsep ini
dapat diarahkan pada ijtihad politik

Muhammadiyah
dalam
pemikiran mengenai politik.

dunia

Kedua, mensistemasikan ulang


pemikiran-pemikiran
formal
Muhammadiyah,
yaitu
Muhammadiyah
dituntut
untuk
menata kembali pemikiran-pemikiran
formal
Muhammadiayah
yang
dimilikinya untuk menyusun konsep
baru yang lebih artikulatif mengenai
strategi perjuangan Muhammadiyah
dala kehiduan politik. Perumusan
strategi perjuangan Muhammadiyah
ini akan memberikan wawasan dan
acuan yang lebih cerdas dan dinamis
dalam kehidupan politik nasional
yang makin kompleks. Konsep ini
diharapkan dapat menjadi panduan
yang fleksibel dan memberikan visi
yang luas mengenai politik dalam
menghadapi perkembangan politik
yang baru, tanpa harus kehilangan
identitas diri sebagai organisasi
sosial-keagamaan yang non-politik
praktis.
Ketiga,
mengfungsikan
Muhammadiyah sebagai kelompok
kepentingan
(interest
groups)
sebagai bentuk dari partisispasi
langsung
dengan
memberikan
sumbangan-sumbangan
berharga
bagi demokratisasi dan pencerahan
politik nasional menuju kehidupan
berbangsa dan bernegara sesuai
dengan yang dicita-citakan. Fungsi
kelompok kepentingan ini dapat
berupa lobi-lobi politik, penciptan
opini publik, memeberikan dukungan
atau penentangan atas kebijakankebijakan publik, atau kegiatankegiatan
politik
lainnya
yang
memberikan
sasaran
pada
mempengaruhi proses politik tanpa
harus melakukan politik praktis.
Peranan Muhammadiyah sebagai
kelompok kepentinagn ini akan
memberikan bobot bagi gerakan
dakwah
Muhammadiyah
dan
menempatkan
Muhammadiyah
Hal 20 dari 24

dalam posisi yang diperhitungkan


dalam percaturan kehidupan politik
nasional.
Keempat,
menyusun
agenda
pendidikan
politik,
yakni
Muhammadiyah perlu menyusun dan
melakukan
program
pendidikan
politik bagi masyarakat. Dengan
pendidikan politik ini diharapkan
mampu
memberdayakan
politik
rakyat,
sehingga
masyarakat
semakin mengerti akan pentingnya
partisipasi
dalam
penentuan
kebijakan politik pemerintah. Dalam
era reformasi yang makin demokratis
dan terbuka maka diperlukan rakyat
yang
berdaya
secara
rasional,
pendidikan , ekonomi, dan kesadaran
akan hak-hak politiknya, sehingga
suara rakyat benar-benar otonom
dan dapat dipertanggungjawabkan
bagi
masa
depan
demokrasi.
Pendidikan politik bagi masyarakat
ini bagi Muhammadiyah merupakan
suatu paket yang tidak terpisahkan
dari
perjuangan
membentuk
masyarakat
Islam
yang
dicitacitakan,
atau
dalam
wacana
kontemporer identik dngan cita-cita
mewujudkan masyarakat madani.21
Di
sepanjang
sejarahnya,
Muhammadiyah
memang
belum
pernah menjadi partai politik, namun
usulan
agar
Muhammadiyah
mengembangkan diri menjadi partai
politik
atau
sekurang-kurangnya
mendirikan partai politik sudah
muncul sejak tahun 1920-an dan
akan terus muncul kembali. Gagasan
agar
Muhammadiyah
mendirikan
partai politik muncul kembali pada
masa reformasi, dimana banyak
orang
ramai
mendirikan
partai
politik. Hal ini tampak pada saat
sidang Tanwir Muhammadiyah pada
tanggal 5-7 Juli 1998 di Semarang.
Dalam
Tanwir
tersebut
21 Ibid, hlm.143-147.

merekomondasikan
agar
Muhammadiyah
mempersiapkan
partai politik baru.
Walaupun
akhirnya PP Muhammadiyah tidak
mendirikan partai politik, tetapi
kehadiran PAN tidak lepas dari proses
ijtihad
politik
dari
Tanwir
Muhammadiyah di Semarang
Dalam melihat politik, kekuasaan
ataupun
negara
Muhammadiyah
meletakkannya sebagai produk dari
dinamika sosial kemasyarakatan dan
kebudayaan, yang kemudian dikenal
sebagai gerakan dakwah. Bagi
Muhammadiyah, politik baik itu
partai politik ataupun negara adalah
sub-sistem dari gerakan dakwah.
Dari sinilah maka terlihat bahwa
hubungan antara Muhammadiyah
dengan partai politik tidak konsisten,
selalu berubah dan tidak pernah
bersifat struktural. Muhammadiyah
diletakkan diatas basis yang lebih
besar dan lebih kultural daripada
dinamika politik kenegaraan. Hal ini
cenderung bersiakap pragmatis atau
akomodatif Muhammadiyah dalam
politik, tetapi juga berarti peletakan
sistem
dan
tata
sosial-politik
kenegaraan diatas dasar nilai-nilai
etik.22
Sejak
berdiri
tahun
1912,
Muhammadiyah
belum
pernah
menjadi partai politik, namun selalu
terlibat
perpolitikan
nasional,
langsung maupun melalui aktivitas
elit Muhammadiyah. Dalam situasi
politik kenegaraan mengalami krisis,
seperti
masa-masa
menjelang
kemerdekaan, awal pembentukan
negara merdeka pasca G-30 S/ PKI
dan era reformasi ini, aktivis
Muhammadiyah
hampir
selalu
terlibat
dalam
dinamika
politik
22 Abdul Munir Mulkhan, Menggugat
Muhammadiyah, ( Yogyakarta : Fajar Pustaka
Baru, 2000), hlm. 115.

Hal 21 dari 24

praktis ( partai politik ). Menjelang


Muktamar ke- 44 di Jakarta tahun
2000, tarikan keterlibatan politik
praktis kembali nampak mengejala.
Politik
praktis
yang
pada
pertengahan
tagun
1990-an
dianggap sebagai politik rendahan
oleh aktivis Muhammadiyah, pada
masa reformasi ini terlihat mulai ada
perubahan, dimana beberapa aktivis
Muhammadiyah mulai memasuki
gelanggang politik praktis baik itu
menjadi pengurus partai politik
maupun menjadi anggota DPR/MPR
maupun DPRD.
Tampilnya
elit
Muhammadiyah
dalam dinamika politik nasional
mempengaruhi
posisi
Muhammadiyah
dalam
pentas
nasional pasca pemerintah Orde
Baru. Menurut Abdul Munir Mulkan
meskipun
mantan
ketua
PP
Muhammadiayh berhasil menduduki
kursi ketua MPR melalui PAN, namun
elit Muhammadiyah pada masa akan
datang akan mengalami kesulitan
untuk memasuki pusat kekuasaan
seperti pada masa sekarang, jika
tidak
menyegarkan
kembali
pembaharuan
Islam-nya.
Muhammadiyah
menurut
Abdul
Munir Mulkan akan cenderung kian
jauh dari dinamika sosial, ekonomi,
budaya, dan keagamaan mayoritas
umat Islam yang masih miskin
seperti petani dan buruh.23
Agenda
masa
depan
Muhammadiyah
dibidang
sosialpolitik
ditentukan
atas
kemampuannya
menyelesaian
beberapa agenda besar. Pertama,
memaksimalkan
peran
SDM
potensial, struktur dan fasilitas
kelembagaan bagi pengembangan
gagasan sosial dan budaya ( ekonomi
23 Abdul Munir
Mulkhan, Muhammadiyah, Politik, dan
Presiden, dalam Kompas, 6 Juli 2000

dan plitik ) bagi penyelesaian


masalah di negeri ini. Kedua,
mengubah dakwah ritual formal
syariah
fikih
ke
dakwah
kebudayaan.
Ketiga,
mengembangkan
kegiatan
sosial
yang benar-benar bisa dinikmati
fungsinya oleh mayoritas umat yang
masih miskin seperti petani dan
buruh . Ketiga agenda besar ini bisa
dilaksanakan jika Muhammadiayah
berhasil meneguhkan kembali jati
dirinya
sebagai
gerakan
pembaharuan
Islam
dengan
mengembangkan gagasan segar dan
kegiatan sosial yang dibutuhkan
umat untuk membebaskan diri dari
kemiskinan,
kebodohan,
ketertindasan, dan perlakuan tidak
adil.24
Selama
masa
kepemimpinan
Amien Rais dalam menjalankan high
politics cenderung bergerak secara
single
fighter
sehingga
Majelis
Hikmah yang berfungsi sebagai thing
tank untuk persoalan sosial-politik
menjadi amburadul. Pada masa akan
datang Majelis Hikmah atau lembaga
pengkajian masalah sosialpolitik
Muhammadiyah
atau
apapun
namanya yang dijadikan sebagai
thing tank Muhammadiyah dalam
masalah-masalah sosial-politik perlu
direvitalisasi tugas, wewenang, dan
tanggungjawabnya.25
Muhammadiyah
perlu
memberdayakan
Majelis
Hikmah
kembali, sehingga berbagai kebijakan
Muhammadiyah dalam persoalan
sosial-politik dapat dirumuskan dari
lembaga ini.
Berbagai
problematika
berkaitan dengan masalah

yang
sosial-

24 Abdul Munir Mulkhan, Menggugat


Muhammadiyah,hlm. 131.
25 Suwarno, Muhammadiyah, hlm. 194
Hal 22 dari 24

politik
yang
dilakukan
Muhammadiayh
adalah
kelalaian
dalam mengembangkan wacana baru
menyangkut negara dan politik,
ketidak seriusan dalam menghadapi
masalah negara dan politik, tidak
adanya
think
tank
untuk
merumuskan strategi dan kebijakan
publik,
serta
rencanarencana
sistemis
untuk
mengekspresikan
tujuan-tujuan politik jangka pendek
dan
jangka
panjang.
Menurut
Azyumardi
Azra
berdasarkan
kelemahan-kelemahan
Muhammadiyah
tersebut
dan
dikaitkan dengan situasi masa kini,
maka
Muhammadiayh
perlu
merumuskan kembali paradigma dan
praksis politiknya. Politik alokatif
(allocative politics) yang menjadi
paradigma
dan
praksis
politik
Muhammadiyah pada masa Orde
Baru, akan kehilangan relevansi
untuk masa sekarang.26
Dalam Muktamar ke- 44 pada
tanggal 8- 11 Juli 200 di Jakarta,
Muhammadiyah kembali menetapkan
Islam sebagi asas tunggal. Dalam
Muktamar ini juga diputuskan bahwa
Muhammadiyah sebagai organisasi
sosial-keagamaan
akan
menjaga
jarak yang sama denagn semua
partai
politik.
Para
pengurus
Muhammadiyah dilarang melakukan
rangkap jabatan dengan semua
partai politik.27 Menurut A. Syafii
Maarif yang terpilih sebagai ketua PP
26 Azyumardi Azra, Muhammadiyah dan
Negara : Tinjauan TeologisHistoris, dalam Edi Suandi Hamid, M.
Dasron Hamid, dan Sjafri Sairin
(penyunting ), Rekontruksi Gerakan
Muhammadiyah Pada Era
Multiperadaban, (Yogyakarta : UII Press,
2000), hlm. 18.
27 Suara Muhammadiyah, No. 14, Th. Ke85, 16-31 Juli 2000, hlm. 4

Muhammadiyah periode 2000-2005,


Muhammadiyah tetap menjaga jarak
yang sama kepada semua kekuatan
politik,
sedangkan
kader-kader
Muhammadiyah yang memiliki bakat
politik diberi kebebasan seluasluasnya, dimana mereka harus tetap
membawa
misi
Muhammadiyah.
Mereka harus tampil meyakinkan di
panggung politik nasional dengan
membawa
pesan-pesan
moral
Muhammadiyah28.
Dalam
Muktamar
ke44
ini
ditegaskan bahwa Muhammadiyah
sebagai gerakan Islam yang tidak
bergerak dalam dunia politik praktis
(riil politics), seperti partai politik,
tetapi
mengembangkan
fungsi
sebagai
kelompok
kepentingan
(interest groups) yang efektif melalui
berbagai
saluran,
media
untuk
memainkan peranan politik secara
aktif dan strategis sesuai dengan
prinsip dakwah Islam amar maruf
nahi munkar. Muhammadiyah tidak
menarik diri dan cenderung alergi
terhadap politik yang pada akhirnya
proses dan sistem kehidupan politik
ditentukan oleh kekuatan-kekuatan
lain yang dimungkinkan tidak sejalan
dengan kepentingan umat Islam.29
Muhammadiyah menurut A. Syafii
Maarif
perlu
memperjelas
dan
mempertegas
posisinya
dalam
hubungannya
dengan
negara.
Negara tidak lain dari pada salah
satu alat penting untuk mencapai
tujuan
dakwah
Islam
berupa
terciptanya suatu masyarakat utama
28 Suara Muhammadiyah, No. 15, Th. Ke85, 1- 15 Agustus 2000, hlm. 11
29 Musthafa Kamal Pasha dan Ahmad Adaby
Darban, Muhammadiyah Sebagai Gerakan
Islam : Perspektif Historis dan Ideologis,
Yogyakarta : Lembaga Pengkajian Dan
Pengamalan Islam ( LPPI ), hlm. 157.

Hal 23 dari 24

atau
masyarakat
Islami
dalam
koridor keridhaan Illahi. Masyarakat
itu haruslah adil, terbuka dan
menghargai pluralisme pandangan
hidup dan aspirasi politik. Semua
pihak wajib tunduk kepada ketentuan
konstitusi yang telah disepakati
bersama. Bermain diluar konstitusi
pasti mengandung anarkisme dan
konflik berkepanjangan yang dapat
melumpuhkan masyarakat secara
keseluruhan.
Dalam
menggagas
sebuah
sistem
politik
Muhammmadiyah menurut A. Syafii
Maarif
seharusnya
lebih
mengutamakan substansi dibanding
bentuk dan merek.30
Dengan berbagai agenda diatas
diharapkan Muhammadiyah tidak
ketinggalan dalam dinamika politik
nasional. Mengambil posisi dan peran
sebagai organisasi sosial-keagamaan
yng non-politik bagi Muhammadiyah
tidak berarti harus alergi politik dan
kehilangan
artikulasi
dalam
memainkan fungsi politik sebagai
kelompok kepentingan dengan misi
moral keagamaan. Muhammadiyah
perlu menumbuhkan kesadaran yang
positif dikalangan elit dan warganya,
bahwa politik itu penting dan
strategis serta memiliki keterkaitan
dengan pejuangan untuk membentuk
masyarakat utama (civil society),
seperti yang dicita-citakan oleh
Muhammadiyah.

30 A. SyafiI Maarif, Hubungan


Muhammadiyah dan Negara : Tinjauan
Teologis, dalam Edy Suandi Hamid, M.
Dasron Hamid, dan Sjafri Sairin
(penyunting), Rekontruksi Gerakan.., hlm. 9.

Hal 24 dari 24