Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH PENALARAN HUKUM

LOGIKA PENALARAN HUKUM

Disususun Oleh:
RENALDY RADIUS NADHIEF
E1A014180

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS HUKUM
PURWOKERTO
2016

BAB I

PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Berpikir merupakan aktivitas manusia untuk menemukan pengetahuan yang benar,
sedang kebenaran itu tidaklah persis sama pada setiap individu. Maka setiap jalan pikiran
manusia mempunyai kriteria kebenaran yang berfungsi sebagai landasan prosespenemuan
kebenaran tersebut, dan setiap penalaran mempunyai kriteria kebenaranya masing-masing.
Aktivitas berpikir sebagai penalaran manusia mempunyai ciri utama sebagai suatu pola
berpikir yang secara luas disebut logika. Dalam mempelajari pola berpikir yang luas dalam logika
itulah dibutuhkan terlebih dahulu tentang apa itu logika dan ruang lingkupnya karena hal ini akan
membantu dasar pemikiran yang berdasarkan penalaran yang logis dan kritis. selain berguna bagi
sarana ilmu, penalaran yang logis dan kritis ini juga yang nantinya akan mambantu pemahaman
bagi semua ilmu, karena penalaran yang logis, kritis, dan sistematis inilah ang menjadi salah satu
syarat sifat ilmiah.
2.

RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian logika ?
2. Apa saja objek logika?
3. Bagaimana sejarah logika ?
4. Apa saja kegunaan dan manfaat logika ?
5. Bagaimana pembagian logika ?

BAB II
PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN LOGIKA
Secara etimologi, Logika berasal dari perkataan Yunani yaitu logike (kata sifat)
dan logos (kata benda), yang berarti pikiran atau perkataan sebagai pernyataan dari pikiran,
alasan atau uraian. Dengan demikian, logika merupakan pekerjaan akal pikiran manusia dalam
bernalar untuk menghasilkan kebenaran atau penyimpulan yang benar. Sebagai ilmu,
disebut logica scientia yang berarti ilmu logika, namun sekarang ini hanya lazim disebut dengan
logika saja. Jadi, logika adalah suatu ilmu pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan norma-norma
penyimpulan yang dipandang dari aspek yang benar (sahih) 1.
Ada yang berpendapat bahwa logika adalah ilmu dalam lingkungan filsafat yang
membahas prinsip-prinsip dan hukum-hukum penalaran yang tepat. Ada juga yang menandaskan
bahwa logika adalah ilmu pengetahuan (science) tetapi sekaligus merupakan kecakapan atau
keterampilan yang merupakan seni (art) untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. Dalam hal
ini, ilmu mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui, sedangkan kecakapan atau
keterampilan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam
tindakan. Selain itu, ada juga ahli yang berpendapat bahwa logika adalah teknik atau metode
untuk meneliti ketepatan berpikir. Jadi logika tidak terlihat selaku ilmu, tetapi hanyalah merupakan
metode2. Ada pula yang mengatakan bahwa logika adalah ilmu yang mempersoalkan prinsipprinsip dan aturan-aturan penalaran yang sahih (valid).
William Alston, mendefinisikan logika sebagai Logic is the study of inference, more
precisely the attempt to devise criteria for separating valid from invalid inferencesw(logika adalah
studi tentang penyimpulan, secara lebih cermat usaha untuk menetapkan ukuran-ukuran guna
memisahkan penyimpulan yang sah dan yang tidak sah).
Sheldon Lachman, mengemukakan: Logic is the systematic discipline concerned with
the organization and development of the formal rules, the normative prosedures and the criteria of
valid inference (logika adalah cabang ilmu yang sistematis mengenai penyusunan dan
pengemebangan dari aturan formal, prosedur normatif, dan ukuran-ukuran bagi penyimpulan yang
sah).
Jan Hendrik Rapar, (1996:10) Logika adalah cabang filsafat yang mempelajari,
menyusun, mengembangkan, dan membahas asas-asas, aturan-aturan formal, prosedur-prosedur
serta kriteria yang sahih bagi penalaran dan penyimpulan demi mencapai kebenaran yang dapat
dipertanggungjawabkan secara rasional.
1 Poedjawijatna. 1984. Logika Filsafat Berpikir. Jakarta: Bina Akasara.
2 Drs. Surajiyo, Drs Sugeng Astanto, dan Dra Sri Andiani. 2005. Dasar-Dasar
Logika.Jakarta: Bumi Aksara.

Ir. Poedjawijatna, logika adalah filsafat budi (manusia) yang mempelajari teknik
berpikir untuk mengetahui bagaimana manusia berpikir dengan semestinya.
Hasbullah Bakry, logika adalah ilmu pengetahuan yang mengatur penelitian hokumhukum akal manusia sehingga menyebabkan pikirannya dapat mencapai kebenaran.
Berdasar dari pengertian logika yang diuraikan di atas, dapat dikatakan bahwa logika
merupakan cabang filsafat yang mempelajari, menyusun, mengembangkan, dan membahas asasasas, aturan-aturan formal, prosedur-prosedur, serta kriteria yang sahih bagi penalaran dan
penyimpulan demi pencapaian kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
2. OBJEK LOGIKA
Objek adalah sesuatu yang merupakan bahan dari penelitian atau pembentukan
pengetahuan. Setiap ilmu pengetahuan pasti mempunyai objek yang dibedakan menjadi dua, yaitu
objek material dan objek formal. Objek material dari sesuatu adalah hal yang diselidiki dari
sesuatu itu, mencakup yang konkret dan yang abstrak 3. Objek formal adalah sudut pandang dari
objek itu disorot sebagai pembeda dengan objek lainnya.
Objek material sesuatu ilmu pengetahuan mungkin saja dapat sama untuk beberapa ilmu
pengetahuan, namun ilmu-ilmu itu berbeda karena objek formalnya. Sebagai contoh: psikologi,
sosiologi, dan pedagogik memiliki objek material yang sama, yaitu manusia. Akan tetapi, ketiga
ilmu itu berbeda karena objek formalnya yang berbeda. Objek forma psikologi ialah aktivitas
jiwa dan kepribadian manusia secara individual yang dipelajari lewat tingkah laku, objek formal
sosiologi ialah hubungan antar manusia dalam kelompok dan antar kelompok dalam masyarakat,
sedangkan objek formal pedagogik ialah keegiatan manusia untuk menuntun perkembangan
manusia lainnya ke tujuan tertentu.
Perlu dicatat di sini bahwa yang pantas menjadi objek material suatu ilmu ialah suatu
lapangan, bidang, atau materi yang benar-benar konkret dan dan dapat diamati. Hal itu perlu
ditegaskan karena kebenaran ilmiah adalah kesesuaian antara apa yang diketahui dengan objek
materialnya. Jika objek material itu abstrak dan tidak dapat diamati, tentu saja apa yang
diketahui (pengetahuan) tidak mungkin dapat dicocokkan dengan objeknya. Dengan demikian,
tidak mungkin dapat dicapai kebenaran yang merupakan kesesuaian pengetahuan dengan
objeknya itu.

3 Suria, Sumantri . 2005 .Filsafat Ilmu sebuah Pengantar Populer . Jakarta : SuryaMulti
Grafika.

Surajiyo, dkk. (2009:11) mengatakan lapangan dalam logika adalah asas-asas yang
menentukan pemikiran yang lurus, tepat, dan sehat. Agar dapat berpikir lurus, tepat dan teratur,
logika menyelidiki, merumuskan serta menerapkan hukum-hukum yang harus ditepati.
Berpikir adalah objek material logika. Yang dimaksudkan berpikir di sini adalah
kegiatan pikiran, akal budi manusia. Dengan berpikir manusia mengolah dan mengerjakannya ini
terjadi dengan mempertimbangkan, menguraikan, membandingkan serta menghubungkan
pengertian yang satu dengan pengertian yang lainnya. Dalam logika berpikir dipandang dari sudut
kelurusan dan ketepatannya4. Oleh karena itu, berpikir lurus dan tepat merupakan objek formal
logika.
3. SEJARAH SINGKAT LOGIKA
Apabila ditelusuri dari awal keberadaan logika, tidak terlepas dari ahli pikir sebelumnya
seperti Thales (624-548 SM), filsuf Yunani pertama, meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan
cerita-cerita isapan jempol dan berpaling kepada akal budi untuk memecahkan rahasia alam
semesta, sejak saat itulah ia meletakkan dasar-dasar berfikir logis. Bahkan ketika Thales
mengatakan air adalah arkhe (prinsip atau asas pertama) alam semesta, ia telah memperkenalkan
logika induktif. Bukankah perkataan Thales ini merupakan kesimpulan yang dimaknai bahwa air
adalah jiwa segala sesuatu, misalnya air jiwa tumbuh-tumbuhan (karena tanpa air tumbuhan mati),
darah jiwa hewan dan manusia, sedangkan uap dan es adalah air, maka penalaran induktif (logika)
yang dilakukan Thales adalah sebagai berikut:
-

Air adalah jiwa tumbuh-tumbuhan,


air adalah jiwa hewan,
air adalah jiwa manusia,
air jugalah uap, dan
air jugalah es.
Jadi, air adalah jiwa dari segala sesuatu, yang berarti, air adalah alam semesta
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sejak Thales, sang filsuf pertama itu, logika

telah mulai dikembangkan. Semua filsuf sesudah Thales pun telah berperan serta dalam
pengembangan logika kendatipun istilah logika itu sendiri belum dikenal.
Aristoteles (384 322 SM) yang juga belum menggunakan kata logika, tetapi
menggunakan kata analitika dan dialektika. Analitika untuk penyelidikan mengenai berbagai
argumentasi yang bertitik tolak dari putusan-putusan yang benar 5. Sedangkan dialektika untuk
4 Poedjawijatna. 1984. Logika Filsafat Berpikir. Jakarta: Bina Akasara.
5 Muhadjir, Noeng . 2001 . Filsafat Ilmu . Yogyakarata : Rakesarasain.

penyelidikan mengenai argumentasi-argumentasi yang bertitik tolak dari hipotesis atau putusan
yang tidak pasti kebenarannya. Aristoteles mewariskan kepada murid-muridnya enam buku yang
oleh murid-muridnya dinamai Organon, yang berartialat. Enam buku itu, ialah (1) Categoriae,
menguraikan sesuatu objek dalam jenis-jenis pengertian umum; (2) De interpretatione, membahas
mengenai komposisi keputusan; (3)Analytica priora, membahas pembuktian; (4) Analytica
posteriora, membahas pembuktian; (5) Topica, berisi cara berargumentasi atau cara berdebat;
(6) De sophhisticis elenchis, membicarakan kesesatan dan kekeliruan berpikir. Rapar (1996:13)
mengemukakan inti logika Aristoteles ialah silogisme. Dan silogisme itulah yang sesungguhnya
merupakan penemuan murni Aristoteles dan yang terbesar dalam logika.
Perkembangan logika pada pasca Aristoteles banyak dilanjutkan oleh para muridmuridnya, dan Abad ke 1 sebelum masehi merupakan abad pertama munculnya logika oleh filsuf
Cicero di mana logika masih diartikan sebagai seni berdebad. Pada permulaan abad ke 3 sesudah
masehi oleh Alexander Aphrodisias adalah orang yang pertama kali menggunakan kata logika
dalam arti ilmu yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita
Rapar (1996:14) mengemukakan bahwa sampai abad kedua belas atau ketiga belas,
karya-karya tulis di bidang logika yang masih digunakan ialah Categoriae dan De interpretatione
Aristoteles serta Eisagoge Porphyrius Pada abad ke sampai abad kelimabelas, tampillah logika
modern dengan tokoh-tokohnya, antara lain, Petrus Hispanus (1210 1278), roger Bacon (1214
1292), RYMUNDUS Lullus (1232 1315), dan William Ockham (1285 1349)
Kendatipun logika modern telah dikembangkan, logika Aristoteles diteruskan oleh
Thomas Hobbews (1588 1679) dan John Loek (1632 1704). Francis Bacon (1561 1626)
mengembangkan logika induktif, sedangkan Gottfried Wilhelm Leibniz (1646 1716, George
Boole (1815 1864), John Venn (1834 1923), Dan Gottlob Frege (1848 1925) dikenal sebagai
para pelopor logika simbolik. Kemudia, filsuf besar Amerika Serikat, Charles Sanders
Peirce (1839 1914) yang pernah mengajar logika di John Hopking University, melengkapi
logika simbolik lewat karya tulisnya yang sangat banyak. Ia menafsirkan logika selaku teori umum
mengenai tanda (general theory of signs) dan melahirkan dalil yang disebut dalil Peirce (Peirces
law) Logika simbolik simbolik mencapai puncaknya lewat karya bersama Alfred North
Whitehead (1861 1947) dan Bertrand Arthur William Dussel (1872-1970) berjudul Principia
Mathematica, berjumlah tiga jilid dan ditulis pada tahun 1910 1913. Logika simbolik diteruskan
oleh Ludwing Wittgenstein 911889 1951), Ruddolf Carnap (1891 1970), Kurt Godel (1906
1978, dan lain-lain.

4. MANFAAT LOGIKA
Setidaknya ada empat kegunaan dengan belajar logika, yaitu6:
1. membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis,
lurus, tertib, metodis, dan koheren;
2. meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif
3. menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan
mandiri
4. meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kekeliruan serta kesesatan.
Selanjutnya dikatakan bahwa bagi ilmu pengetahuan, logika merupakan suatu keharusan.
Tidak ada ilmu pengetahuan yang tidak didasarkan pada logika. Ilmu pengetahuan tanpa logika
tidak akan pernah mencapai kebenaran ilmiah. Sebagaimana dikemukakan oleh Aristoteles, bapak
logika, yaitu logika benar-benar merupakan alat bagi seluruh ilmu pengetahuan 7. Oleh karena itu
pula, barang siapa mempelajari logika, sesungguhnya ia telah menggenggam master key untuk
membuka semua pintu masuk ke berbagai disiplin ilmu pengetahuan.
Di samping kegunaan di atas, Surajiyo, dkk. (2009:15) mengemukakan bahwa logika
juga dapat memberikan manfaat teoritis dan praktis. Dari segi kemanfaatan teoritis, logika
mengajarkan tentang berpikir sebagaimana yang seharusnya (normatif) bukan berpikir
sebagaimana adanya seperti dalam ilmu-ilmu positif (fisika, psikologi, dsb.). Dari segi
kemanfaatan praktis, akal semakin tajam/kritis dalam mengambil putusan yang benar dan runtut
(consisten).
5. PEMBAGIAN LOGIKA
a. Logika makna luas dan logika makna sempit
Menurut John C Cooley, The Liang Gie membagi logika dalam arti yang luas dan dalam
arti yang sempit. Dalam arti yang sempit, istilah dimaksud dipakai searti dengan logika deduktif
atau logika formal, sedangkan arti yang lebih luas, pemakaiannya mencakup kesimpulan dari
berbagai bukti dan bagaimana system-sistem penjelasan disusun dalam ilmu alam serta meliputi
pula pembahasan mengenai logika itu sendiri.

6 Drs. Surajiyo, Drs Sugeng Astanto, dan Dra Sri Andiani. 2005. Dasar-Dasar
Logika.Jakarta: Bumi Aksara.

7 Suria, Sumantri . 2005 .Filsafat Ilmu sebuah Pengantar Populer . Jakarta : SuryaMulti
Grafika.

Dalam arti luas, logika juga dapat dipakai untuk menyebut tiga cabang filsafat sekaligus,
seperti yang pernah dilakukan oleh piper dan ward berikut ini.

Asas paling umum mengenai pembentukan pengertian, inferensi, dan tatanan (logika

formal atau logika simbolis)


Sifat dasar dan syarat pengetahuan, terutama hubungan antara budi dengan objek yang

diketahui, ukuran kebenaran, dan kaidah-kaidah pembuktian (epistemology).


Metode-metode untuk mendapatkan pengetahuan dalam penyelidikan ilmiah
(metodologi)

b. Logika deduktif dan logika induktif


Logika deduktif adalah ragam logika yang mempelajari asas-asas penalaran yang bersifat
deduktif, yakni suatu penalaran yang menurunkan kesimpulan sebagai keharusan dari pangkal
pikirnya sehiingga bersifat betul menurut bentuknya saja 8. Dari logika jenis ini yang terutama
ditelaah yaitu bentuk dari bekerjanya akal, keruntutannya, serta kesesuaiannya dengan langkahlangkah san aturan yang berlaku sehingga penalaran yang terjadi adalah tepat dan sah.
Logika induktif merpakan suagam atu ragam logika yang mempelajari asas penalaran yang
betul dari sejumlah sesuatu yang khusus sampai pada suatu kesimpulan umum yang bersifat boleh
jadi.penalaran yang demikian ini digolongkan sebagai induksi. Induksi adalah bentuk penalaran
atau enyimpulan yang berdasarkan pengamatan terhadap sejumlah hal kecil, atau anggota suatu
himpunan, untuk tiba pada suatu kesimpulan yang diharapkan berlaku umum untuk semua hal,
atau seluruh anggota himpunan itu, tetapi yang kesimpulan sesungguhnya hanya bersifat boleh jadi
saja.
c. Logika formal dan logika material
Mellone menyatakan bahwa logika deduktif disebut juga logika formal, sedangkan logika
induktif kadang-kadang disebut logika material. Pernyataan ini tidak sepenuhnya tepat karena
menurut Fisk, logika formal hanyalah suatu bagian dari logika deduktif, yakni bagian yang
bertalian dengan perbincangan-perbincangan yang sah menurut bentuknya bukan menurut isinya.
(The Liang Gie, 1980).
Logika formal mempelajari asas, aturan atau hokum-hukum yang berpikir yang harus
ditaati, agar orang dapat berpikir dengan benar dan mencapai kebenaran. Logika material
mempelajari langsung pekerjaan akal, serta menilai hasil-hasil logika formal dan mengujinya
dengan kenyataan praktis yang sesungguhnya. Logika material mempelajari sumber-sumber dan
8 Muhadjir, Noeng . 2001 . Filsafat Ilmu . Yogyakarata : Rakesarasain.

asalnya pengetahuan, alat-alat pengetahuan, proses terjadinya pengetahuan, dan akhirnya


merumuskan metode ilmu pengetahua itu.
Logika formal dinamakan orang dengan logika minor, sedangkan logika material
dinamakan orang logika mayor. Apa yang sekarang disebut logika formal adalah ilmu yang
mengandung kumpulan kaidah-kaidah cara berpikir untuk mencapai kebenaran.
d. Logika murni dan logika terapan
Menurut Leonard, logika murni (pure logic) adalah ilmu tentang efek terhadap arti dari
pernyataan dan sebagai akibatnya terhadap kesahan dari pembuktian tentang semua bagian dan
segi dari pernyataan dan pembuktian kecuali arti-arti tertentu dari istilah yang termuat di
dalamnya9. (The Liang Gie,1980)
Logika murni merupakan suatu pengetahuan mengenai asas dan aturan logika yan berlaku
umum pada semua segi dan bagian dari pernyataan tanpa mempersoalkan arti khusus dalam
sesuatu cabang ilmu dari istilah yang dipakai dalam pernyataan dimaksud.
Logika terpaan adalah pengetahuan logika yang diterpkan dalam setiap cabang ilmu,
bidang filsafat, dan juga dalam pembicaraan yang mempergunakan bahasa sehari-hari. Apabila
sesuatu ilmu menggunakan asas dan aturan logika bagi istilahdan ungkapannya yang mempunyai
pengertian khusus dalam bidangnaya sendiri, ilmu tersebut sebenarnya telah mempergunakan
sesuatu logika terapan dan ilmu yang bersangkutan, seperti logika ilmu hayat bagi biologi, dan
logika sosiologi bagi sosiologi.
e. Logika filsafati dan logika matematik
Logika filsafati dapat digolongkan sebagai suatu ragam atau bagian logika yang masih
berhubungan erat dengan pembahasan dalam bidang filsafat, misalnya logika kewajiban dengan
etika atau logika arti dengan metafisika. Adapun logika matematik merupakan suatu ragam logika
yang menelaah penalaran yang benar dengan menggunakan metode matematik serta bentuk
lambing yang khusus dan cermat untuk menghindarkan makna ganda atau kekaburan yang terdapat
dalam bahasa biasa.10

9 Poedjawijatna. 1984. Logika Filsafat Berpikir. Jakarta: Bina Akasara.


10 The Liang Gie dan Suhartoyo Hardjosatoto, dan Endang Daruni Asdi, 1980,
hlm. 35-46

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Berdasarkan dari pembahasan materi diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa logika
adalah landasan utama utk menguasai filsafat & ilmu pengetahuan serta sarana penghubung antara
filsafat & ilmu. Logika menyelidiki, menyeleksi, dan menilai pemikiran dengan cara seriusdan
terpelajar serta bertujuan untuk mendapatkan kebenaran, terlepas dari segalakepentingan dan
keinginan perorangan. Logika merumuskan serta menerapkanhukum - hukum dan patokan patokan yang harus ditaati agar seseorang dapatberpikir benar, efisien, sistematis, dan teratur.
Dengan demikian ada dua obyekpenyelidikan Ilmu Logika (Ilmu Mantiq), Pertama, Pemikiran
sebagai obyekmaterial juga dikenal dengan nama Logika Material dan yang kedua, patokanpatokan atau hukum - hukum berpikir benar sebagai obyek formalnya, yangdisebut logika formal.
Pemikiran yang benar dapat dibedakan menjadi dua bentuk berbeda secararadikal yakni dari cara
berpikir umum ke khusus (deduktif) yaitu cara berpikiryang dipergunakan dalam logika formal
yang mempelajari dasar dasarpersesuaian (tidak adanya pertentangan) dalam pemikiran dengan
menggunakanhukum - hukum, rumus - rumus, patokan - patokan berpikir benar, dan dari
caraberpikir khusus ke umum (induktif) yaitu cara berpikir yang dipergunakan dalamlogika
material yang mempelajari dasar dasar persesuaian pikiran dengankenyataan (penyesuaian
idealita dengan realita).

DAFTAR PUSTAKA
-

Poedjawijatna. 1984. Logika Filsafat Berpikir. Jakarta: Bina Akasara.


Drs. Surajiyo, Drs Sugeng Astanto, dan Dra Sri Andiani. 2005. Dasar-Dasar

Logika.Jakarta: Bumi Aksara.


Suria, Sumantri . 2005 .Filsafat Ilmu sebuah Pengantar Populer . Jakarta : SuryaMulti

Grafika.
Muhadjir, Noeng . 2001 . Filsafat Ilmu . Yogyakarata : Rakesarasain.
The Liang Gie dan Suhartoyo Hardjosatoto, dan Endang Daruni Asdi, 1980