Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Organ reproduksi membentuk apa yang dikenal sebagai traktus genitalis yang
berkembang setelah traktus urinarius. Kelamin laki-laki maupun kelamin perempuan
sejak lahir sudah dapat ditentukan. Tetapi sifat-sifat kelamin belum dapat dikenal, sel
produksi berkembang di sebelah depan ginjal yang tumbuh sebagai koloni-koloni sel
kemudian membentuk kelenjar reproduksi. Perkembangan sifat terjadi pada umur 1014 tahun. Perubahan penting terjadi pada usia remaja ketika jiwa dan raganya menjadi
matang.
Pada laki-laki dewasa pubertas dimulai dengan perubahan suara lebih berat,
pembesaran genitalia eksterna, tampilnya bulu di atas tubuh dan muka. Pada wanita
ditandai dengan menstruasi pertama (menarke), uterus dan vagina membesar, buah
dada membesar, serta jaringan ikat dan saluran darah bertambah, sifat kelamin
sekunder tampil, lengkung tubuh berkembang, adanya bulu ketiak, dan pubis pelvis
melebar.(Syaifuddin,2006:250).
Perubahan-perubahan tersebut terjadi seiring pematangan sel reproduksi. Manusia
pada umumnya akan mengalami pubertas, menstruasi (pada wanita), mandi basah
(pada pria). Jika hal ini tidak dialami oleh remaja, maka akan timbul hal-hal
patologis. Untuk itu, belajar ilmu reproduksi sangat penting,

khususnya dalam

bidang kesehatan, agar dapat menjadi pedoman bagi calon profesional kesehatan. Hal
inilah yang melatarbelakangi penulis dalam menulis makalah yang berjudul Sistem
Reproduksi.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut.
1) Apakah pengertian sistem reproduksi?
2) Apa sajakah bagian-bagian dari organ reproduksi wanita?
3) Apa sajakah hormon yang berpengaruh pada sistem reproduksi wanita?

4)
5)
6)
7)
8)
9)

Apakah yang dimaksud dengan kelenjar mamae?


Bagaimanakah fisiologi sistem reproduksi wanita?
Apa sajakah bagian-bagian dari organ reproduksi pria?
Apa sajakah hormon yang berpengaruh pada sistem reproduksi pria?
Bagaimanakah fisiologi sistem reproduksi pria?
Apa sajakah penyakit yang berkenaan dengan sistem reproduksi?

1.3 Tujuan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut, maka dapat diketahui
tujuan penulisan sebagai berikut.
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)

Untuk mengetahui pengertian sistem reproduksi


Untuk mengetahui bagian-bagian dari organ reproduksi wanita
Untuk mengetahui hormon yang berpengaruh pada sistem reproduksi wanita
Untuk mengetahui apa itu kelenjar mamae
Untuk mengetahui fisiologi sistem reproduksi wanita
Untuk mengetahui bagian-bagian dari organ reproduksi pria
Untuk mengetahui hormon yang berpengaruh pada sistem reproduksi pria
Untuk mengetahui fisiologi sistem reproduksi pria
Untuk mengetahui penyakit yang berkenaan dengan system reproduksi

1.4 Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya kepada penulis,
agar lebih memperdalam pengetahuan dan wawasan mengenai materi sistem
reproduksi pada manusia, guna aplikasinya secara tepat dalam bidang kesehatan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sistem Reproduksi
Reproduksi adalah kemampuan makhluk hidup untuk menghasilkan keturunan yang
baru. Tujuannya adalah untuk mempertahankan jenisnya dan melestarikan jenis agar
tidak punah. Pada manusia untuk menghasilkan keturunan yang baru diawali dengan
2

peristiwa fertilisasi. Sehingga dengan demikian reproduksi pada manusia dilakukan


dengan cara generatif atau seksual. Reproduksi pada manusia hanya terjadi secara
seksual (generatif), yaitu terjadinya peleburan antara sel telur dan sel sperma (fertilisasi).

Sistem reproduksi adalah suatu rangkaian dan interaksi organ dan zat dalam
organisme yang dipergunakan untuk berkembang biak. Sistem reproduksi pada suatu
oragnisme berbeda antara jantan dan betina.
2.2 Organ Reproduksi Wanita

Alat reproduksi wanita dibagi menjadi dua bagian, yaitu:


A. Genitalia Luar
Alat genitalia luar terdiri dari:
1. Tundun (mons veneris). Bagian yang menonjol meliputi simfisis yang terdiri dari
jaringan dan lemak, area ini mulai ditumbuhi rambut pada masa pubertas.

2. Labia Mayora (bibir besar). Dua lipatan dari kulit diantara kedua paha bagian atas
labia mayora, banyak mengandung urat saraf.
3. Labia minora (bibir kecil). Berada sebelah dalam labia mayora.
4. Klitoris (klentit). Sebuah jaringan ikat erektil kecil kira-kira sebesar kacang hijau
yang dapat mengeras dan tegang (erektil) yang mengandung urat saraf.
5. Vestibum (serambi). Merupakan rongga yang berada di antara bibir kecil (labia
minora), muka belakang dibatasi oleh klitoris dan perineum, dalam vestibulum
a.
b.
c.
d.
6.

terdapat muara-muara dari:


Liang senggama (introitus vagina)
Uretra
Kelenjar bartolin.
Kelenjar skene kiri dan kanan.
Himen (selaput dara). Lapisan tipis yang menutupi sebagian besar dari liang
senggama, ditengahnya berlubang supaya kotoran menstruasi dapat mengalir
keluar, letaknya dimulut vagina. Bagian ini bentuknya berbeda-beda. Ada yang
seperti bulan sabit, konsistensi ada yang kaku dan ada yang lunak, lubangnya ada
yang seujung jari, ada yang dapat dilalui satu jari.

B. Genitalia Dalam

Suatu alat reproduksi yang berada di dalam yang tak dapat dilihat kecuali dengan
jalan pembedahan.
Alat genetalia bagian dalam terdiri dari:
1. Vagina (liang kemaluan). Tabung yang dilapisi membran dari jenis epithelium
bergaris

khusus, dialiri banyak pembuluh darah, dan serabut-serabut saraf.

Panjangnya dari vestibulum sampai uterus 7,5 cm. bagian ini merupakan
penghubung antara introitus vagina dan uterus. Dinding depan liang senggama
(vagina) 9 cm, lebih pendek dari dinding belakang. Pada puncak vagina menonjol
leher rahim (serviks uteri) yang disebut porsio. Bentuk vagina sebelah dalam
berlipat-lipat disebut rugae.
2. Uterus (rahim). Organ yang tebal, berotot dan berbentuk buah pir, terletak di
dalam pelvis antara rectum dibelakang dan kandung kemih di depan, ototnya
disebut miometrium. Uterus terapung di dalam pelvis dengan jaringan ikat dan
ligamen. Panjang uterus kurang lebih 7,5 cm, lebar 5 cm, tebal 2,5 cm berat 50 gr.
Pada rahim wanita dewasa yang belum pernah menikah (bersalin) panjang uterus
adalah 5-8 cm dan beratnya 30-60 gr. Uterus terdiri dari:
a. Fundus uteri (dasar rahim). Bagian uterus yang terletak antara kedua pangkal
saluran telur.

b. Korpus uteri. Bagian uterus yang terbesar pada kehamilan, bagian ini
berfungsi sebagai tempat janin berkembang. Rongga yang terdapat pada
korpus uteri disebut kavum uteri atau rongga rahim.
c. Serviks uteri. Ujung serviks yang menuju puncak vagina disebut porsio,
hubungan antara kavum uteri dan kanalis servikalis disebut ostium uteri
internum.
Dinding Uterus terdiri dari:
a. Endometrium (epitel, kelenjar, jaringan dan pembuluh darah), merupakan
lapisan dalam uterus yang mempunyai arti penting dalam siklus haid. Seorang
wanita pada masa reproduksi, pada kehamilan endometrium akan menebal,
pembuluh darah bertambah banyak yang diperlukan untuk member makan
pada janin.
b. Miometrium (lapisan otot polos), tersusun sedemikian rupa sehingga dapat
mendorong isinya keluar pada waktu persalinan. Sesudah plasenta lahir akan
mengalami pengecilan sampai ke ukuran normal sebelumnya.
c. Lapisan serosa (peritoneum viseral), terdiri atas ligamentum yang menguatkan
uterus yaitu:
a) Ligamentum kardinale kiri dan kanan, mencegah supaya uterus tidak turun.
b) Ligamentum sakrouterinum kiri dan kanan, menahan uterus supaya tidak
banyak bergerak.
c) Ligamentum rotundum kiri dan kanan, menahan uterus agar tetap dalam
keadaan antefleksi.
d) Ligamentum latum kiri dan kanan, ligamentum yang meliputi tuba.
e) Ligamentum infundibulo pelvikum, ligament yang menahan tuba falopi.
Fungsi uterus untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan,
ovum yang telah keluar dari ovarium dihantarkan melalui tuba uterina ke uterus.
Pembuahan ovum secara normal terjadi di dalam tuba uterina, endometrium disiapkan
untuk menerima ovum yan telah dibuahi dan ovum tertanam dalam endometrium.
Pada waktu hamil, uterus bertambah besar, dindingnya menjadi tipis, tetapi kuat dan
besar sampai keluar pelvis masuk ke dalam rongga abdomen pada masa pertumbuhan
janin. Pada saat melahirkan uterus berkontraksi mendorong bayi dan plasenta keluar.
3. Ovarium

Ovarium merupakan kelenjar berbentuk buah kenari terletak kiri dan kanan
uterus di bawah tuba uterina dan terikat di sebelah belakang oleh ligamentum
latum uterus. Setiap bulan sebuah folikel berkembang dan sebuah ovum
dilepaskan pada saat kira-kira pertengahan (hari ke-14) siklus menstruasi. Ovulasi
yaitu pematangan folikel graaf dan mengeluarkan ovum. Bila folikel graaf robek
maka terjadi pendarahan yang kemudian terjadi penggumpalan darah pada ruang
folikel. Ovarium mempunyai 3 fungsi:
a. Memproduksi ovum.
b. Memproduksi hormon estrogen.
c. Memproduksi progesterone.
Ovarium disebut juga indung telur. Di dalam ovarium ini, terdapat jaringan
bulbus dan jaringan tubulus yang menghasilkan telur (ovum) dan ovarium ini
hanya terdapat pada wanita, letaknya di dalam pelvis di sebelah kiri-kanan uterus,
membentuk, mengembangkan serta melepaskan ovum, dan menimbulkan sifatsifat kewanitaan. Misalnya, pelvis yang membesar, timbulnya siklus menstruasi.
Bentuknya bulat telur, beratnya 5-6 gr. Bagian dalam ovarium disebut medulla
ovary dibuat dari jaringan ikat. Jaringan yang banyak mengandung kapiler darah
dan serabut kapiler saraf. Bagian luar bernama korteks ovari, terdiri dari folikelfolikel yaitu kantong-kantong kecil yang berdinding epithelium dan berisi ovum.
Kelenjar ovarika terdapat pada wanita terletak pada ovarium disamping kiri
dan kanan uterus, menghasilkan hormon progesteron dan estrogen. Hormon ini
dapat mempengaruhi kerja dan menentukan sifat-sifat kewanitaan. Misalnya,
panggul yang besar, panggul sempit, dan lain-lain.
Siklus menstruasi. Perubahan terjadi di dalam ovarium dan uterus selama
masa menstruasi berlangsung kira-kira lima hari. Selama masa ini epithelium
permukaan dinding uterus terlepas dan terjadi sedikit pendarahan. Masa setelah
menstruasi adalah masa perbaikan dan pertumbuhan yang berlangsung Sembilan
hari ketika selaput terlepas untuk diperbaharui, tahap ini dikendalikan oleh
estrogen. Sedangkan pengendalian estrogen dikendalikan oleh FSH (follicle
stimulating hormon) terjadi pada hari ke-14, kemudian disusul 14 hari tahap
sekretorik yang dikendalikan oleh progesteron.

4. Tuba Falopi, berjalan ke arah lateral kiri dan kanan. Ada dua saluran telur kiri dan
kanan. Panjang kira-kira 12 cm, diameter 3-8 mm. Tuba falopi terdiri atas :
a. Pars interstitialis, bagian yang terdapat di dinding uterus.
b. Pars ismika/ismus, merupakan bagian medial tuba yang sempit seluruhnya.
c. Pars ampularis, bagian yang berbentuk saluran leher tempat konsepsi agak
lebar.
d. Infundibulum, bagian ujung tuba yang terbuka kea rah abdomen dan
mempunyai umbai yang disebut fimbria untuk menangkap telur kemudian
menyalurkan telur ke dalam tuba.
Fungsi tuba uterine mengantarkan ovum dari ovarium ke uterus, menyediakan
tempat untuk pembuahan. Ovum yang dibuahi dalam saluran tuba ini menimbulkan
kehamilan ektopik, karena ovum tidak dapat bergerak terus maka ovum tertanam
dalam tempat yang abnormal, hal ini bias berlangsung 8-10 minggu. (Syaifuddin,
2006: 251-254).
2.3 Hormon pada Wanita
Pada wanita terdapat releasing factor (RF) yang dikeluarkan dari hipotalamus ke
hipofisis yang merangsang pengeluaran. Follicle stimulating hormon (FSH) dan
luteinizing hormon (LH), keduanya dikeluarkan dari hipofisis anterior.
1. Hormon estrogen.
Disekresi oleh sel-sel trache intravolikel ovarium, korpus latum dan plasenta,
sebagian kecil oleh korteks adrenal. Estrogen mempermudah pertumbuhan folikel
ovarium dan meningkatkan tuba uterina dan jumlah otot uterus dan kadar protein
kontraktil uterus. Estrogen memengaruhi organ endokrin dengan menurunkan
sekresi FSH, dalam beberapa keadaan menghambat sekresi LH dan pada keadaan
lain meningkatkan LH. Estrogen meningkatkan pertumbuhan duktus-duktus yang
terdapat pada kelenjar mamae dan merupakan hormon feminisme wanita terutama
disebabkan hormon androgen. Kerja estrogen pada uterus, vagina, dan beberapa
jaringan lainnya menyangkut interaksi dan reseptor protein dalam sitoplasma sel.
Pengaruh terhadap organ seksual, pembesaran ukuran tuba falopi, uterus, vagina,
pengendapan lemak pada mons veneris, dan labia mengawali pertumbuhan

mamae. Kelenjar mamae berkembang dan menghasilkan susu, tubuh berkembang


dengan cepat, tumbuh rambut pada pubis dan aksila serta kulit menjadi lembut.
2. Hormon progesteron.
Hormon ini dihasilkan oleh korpus luteum dan plasenta, yang bertanggung
jawab atas perubahan endometrium dan perubahan siklik dalam serviks dan
vagina. Progesteron juga memiliki pengaruh anti-estrogenik pada sel-sel
miometrium, yang menurunkan kepekaan otot tersebut. Sensivitas miometrium
terhadap oksitosin dan aktivitas listrik spontan, miometrium sementara
meningkatkan potensial membrane serta bertanggung jawab meningkatkan suhu
basal tubuh pada saat ovulasi. Efek progesteron terhadap tuba falopii
meningkatkan sekresi dan mukosa, pada kelenjar mamae meningkatkan
perkembangan lobules dan alveolus kelenjar mamae, keseimbangan elektrolit,
peningkatan sekresi iar dan natrium.
3. Follicle stimulating hormon (FSH).
Mulai ditemukan pada gadis umur 11 tahun dan jumlanya terus-menerus
bertambah sampai dewasa. FSH dibentuk oleh lobus anterior kelenjar hopofise.
Pembentukan FSH ini akan berkurang pada pembentukan/pemberian estrogen
dalam jumlah yang cukup, suatu keadaan yang terjadi pada kehamilan.
4. Luteinizing hormon (LH).
LH bekerja sama dengan FSH menyebabkan terjadinya sekresi estrogen dari
folikel de Graaf . LH juga menyebabkan penimbunan substansi dari progesterone
dalam sel granulose. Bila estrogen dibentuk dalam jumlah yang cukup besar akan
menyebabkan pengurangan produksi FSH sedangkan produksi LH bertambah
hingga tercapai suatu rasio produksi FSH dan LH dapat merangsang terjadinya
ovulasi.
5. Prolaktin (luteotropin, LTH).
Hormon ini ditemukan pada wanita yang mengalami menstruasi, terbanyak
pada urine wanita hamil, masa laktasi dan menopause dibentuk oleh sel alfa
(asidofil) dari lobus anterior kelenjar hopofise. Fungsi hormon ini adalah
mempertahankan produksi progesteron dari korpus luteum kelenjar hipofise,
dirangsang dan diatur oelh pusat yang lebih tinggi hipotalamus untuk
menghasilkan gonodotrophin releasing factor. Estrogen yang disekresi oleh
ovarium adalah estrodial. Sebagian besar dibentuk oleh jaringan perifer dari
9

androgen yang disekresi oleh sel ovarium. Estriol adalah estrogen yang lemah,
merupakan produksi eksidasi yang berasal dari estrodial perubahan terjadi
terutama dalam hati. Potensial dari estrogenik dianggap sebagai estrogen utama
walaupun efek estrogenik dan estrogen tidak dapat diabaikan.
Progestin, yang paling penting dari progestin adalah progesteron dan sebagian
kecil progestin yaitu hidroksi progesteron yang disekresi bersama dengan
progesterone mempunyai efek yang sama. Pada wanita normal progesteron
disekresi dalam jumlah cukup banyak selama akhir siklus ovarium dan
progesterone juga disekresi oleh plasenta selama kehamilan khususnya setelah
kehamilan bulan keempat.
Estrogen dan progesteron keduanya disintesis dalam ovarium terutama dari
kolesterol yang berasal dari darah dalam jumlah kecil. Diperoleh dari asetil koenzim A, membentuk inti steroid ynag tepat. Selama sintesis progesteron dan
hormon kelamin pria (testoteron) akan disintesis pertama kali, baru kemudian fase
folikular dari siklus ovarium. Hampir semua testoteron dan sebagian besar
progesteron diubah menjadi estrogen oleh sel-sel granulose. Selama fase luteal
dari siklus jauh lebih banyak progesteron yang dibentuk yang semuanya akan
diubah dalam plasma wanita oleh ovarium.

2.4 Kelenjar Mamae


Payudara adalah pelengkap organ reproduksi pada wanita dan mengeluarkan air
susu. Buah dada terletak dalam fasia superfisialis di daerah antara sternum dan aksila,
melebar dari iga kedua sampai iga ketujuh. Bagian tengah terdapat putting susu yang
dikelilingi oleh areola mamae yang berwarna coklat. Dekat dasar puting terdapat
kelenjar Montgomeri yang mengeluarkan zat lemak supaya putting tetap lemas.
Puting mempunyai lobang 15-20 untuk tempat saluran kelenjar susu.
Buah dada terdiri dari bahan-bahan kelenjar susu (jaringan alveolar) tersusun
atas lobus-lobus yang saling terpisah oleh jaringan ikat dan jaringan lemak, setiap

10

lobus bermuara ke dalam duktus laktiferus (saluran air susu). Saluran limfe sebagai
pleksus halus dalam ruang interlobular jaringan kelenjar bergabung membentuk
saluran lebih besar.
Pada perempuan, perubahan dan perkembangan buah dada terjadi setelah masa
remaja atau pubertas karena terdapat penambahan jaringan kelenjar. Seorang wanita
mulai menstruasi pertama terjadi sedikit pembesaran buah dada disebabkan pengaruh
hormon estrogen dan progesterone yang dihasilkan ovarium, lama-kelamaan buah
dada berkembang penuh dan penimbunan lemak menimbulkan pembesaran yang
tetap. Pada masa menopause, lama-kelamaan ovarium berhenti berfungsi dan jaringan
buah dada mengerut.
Laktasi (pengeluaran air susu) terbagi dalam tahap :
1. Sekresi air susu. Pada kehamilan minggu ke-16 mulai terjadi sekresi cairan
bening dalam saluran kelenjar buah dada, yang disebut kolostrum yang kaya
protein. Setelah bayi lahir, pengeluaran kolostrum air susu dirangsang oleh
hormon prolaktin.
2. Pengeluaran air susu. Air susu mendapat rangsangan dari bayi supaya keluar
secara normal bergantung pada isapan bayi, mekanisme dalam buah dada
berkontraksi memeras air susu keluar dari alveoli masuk dalam saluran air susu.
Pada wanita kelenjar mamae mulai berkembang pada permulaan masa pubertas
(adolesens) pada umur 11-12 tahun. Kelenjar mamae tumbuh menjadi besar sebelah
lateral linea axilaris anterior/ media sebelah kranial ruang interkostalis III dan sebelah
kaudal ruang interkostalis VII-VIII. Kelenjar mamae terdapat di atas bagian luar fasia
torakalis superfisialis di daerah jaringan lemak subkutis ke arah lateral sampai ke
linea axilaris media. Medial melewati linea media mencapai kelenjar mamae dari sisi
yang lain, ke arah bawah mencapai daerah axila (lipatan ketiak).
Kelenjar mamae menyebar di sekitar areola mamae dan mempunyai luas antara
15-24. Tiap lobus berbentuk piramid dengan puncak mengarah ke areola mamae.
Masing-masing lobus dibatasi oleh septum yang terdiri dari jaringan fibrosa yang
padat, serat jaringan ikat fibrosa yang terbentang dari kulit ke fasia pektoralis yang
menyebar di antara jaringan kelenjar. Tiap lobus kelenjar mamae mempunyai saluran
keluar yang disebut ductus lactiverus yang bermuara ke papila mamae, paada daerah

11

areola mamae ductus lactiverus melebar disebut sinus laktiverus. Di daerah terminalis
lumen sinus ini mengecil dan bercabang-cabang ke alveoli. Di antara jaringan
kelenjar dan jaringan fibrosa ruangannya diisi oleh jaringan lemak yang membentuk
postur dari mamae sehingga permukaan mamae terlihat rata. Bagian dalam kelenjar
mamae dapat dipisahkan dengan mudah dari fisia dan kedudukan mamae mudah
bergeser.
Pembuluh darah mamae berasal dari a. mamaria interna dan arteri toracalis
lateralis. Vena superfisialis mamae mempunyai banyak anastomosa bermuara ke V.
mamaria interna dan vena toracalis interna/epigastrica, sebagian besar bermuara ke
vena toracalis latelaris. Pembuluh limfe mamae meliputi :
1. Aliran limfe superfisialis, 75% mengalir ke saluran toracalis lateralis berjalan
bersama arteri dan vena di lateral M. pectoralis mayor dan bermuara di N. XI
axilaris dan Nn. Supraclavikularis.
2. Aliran limfe profunda mengalir ke dinding torak menembus M. pectoralis mayor
bermuara ke N. XI pektolaris sepanjang arteri dan vena mamaria interna.
3. Bagian medial aliran limfe subkutan berhubungan antara kedua mamae bermuara
ke N. XI supraklavikularis.
Dua faktor yang diatur oleh hormon dalam proses laktasi :
1. Produksi air susu (prolaktin). Dalam fisiolgi laktais, prolaktin merupakan suatu
hormon yang disekresi oleh glandula pituitaria anterior yang penting untuk
memproduksi air susu ibu. Kadar hormon ini di dalam sirkulasi maternal meningkat
selama kehamilan. Kerja hormon ini dihambat oleh plasenta, dengan lepasnya
plasenta pada proses persalinan maka kadar estrogen dan progesteron berangsurangsur turun sampai pada tingkat terendah dan diaktifkannya prolaktin. Kenaikan
pasokan darah yang beredar lewat payudara dapat mensekresi bahan penting untuk
pembentukan air susu, globulin, lemak dan molekul-molekul protein yang akan
membengkakkan acini dan mendorong menuju tubuli laktiverus. Kenaikan kadar
protein akan menghambat ovulasi sehingga mempunyai fungsi kontrasepsi dan kadar
prolaktin paling tinggi pada waktu amalam hari.
2. Pengeluaran air susu (oksitosin). Dua faktor yang terlibat dalam mengalirkan air
susu dari sel-sel sekretorik ke papilla mamae :
12

a. Tekanan dari belakang. Tekanan globuli yang baru terbentuk di dalam sel
akan mendorong globuli tersebut ke dalam tubuli laktiferus dan isapan bayi
akan memacu sekresi air susu lebih banyak.
b. Refleks neurohormonal. Gerakan mengisap bayi akan menghasilkan
rangsangan saraf yang terdapat di dalam glandula pituitary posterior. Akibat
langsung dari refleks ini adalah dikeluarkannya oksitoksin dari pituitaria
posterior, di sekitar alveoli akan berkontraksi mendorong air susu masuk ke
dalam vasa laktiver dengan demikian lebih bnayak air susu mengalir ke
dalam ampula. Refleks ini dapat dihambat dengan adanya rasa sakit
(misalnya jahitan pada perineum), sekresi oksitosin juga akan menyebabkan
otot uterus berkontraksi dan membantu involusi (kemunduran) uterus
selama puerperium (nifas).
Perkembangan

payudara

distimulasi

oleh

estrogen

yang

merangsang

pertumbuhan kelenjar mamaria ditambah dengan deposit lemak untuk memberikan


massa pada kelenjar payudara. Pertumbuhan jauh lebih besar terjadi selama masa
kehamilan dan jaringan kelenjar hanya berkembang sempurna untuk pembentukan air
susu. Selama kehamilan estrogen disekresikan oleh plasenta sehingga duktus
payudara tumbuh dan berkembang, hormon prolaktin, glukokortikoid adrenal dan
insulin berperan dalam metabolisme protein dalam perkembangan payudara.
Pengaruh estrogen dan progesteron inggi pada akhir kehamilan. Cairan yang
disekresi beberapa hari terakhir atau minggu sebelum kelahiran disebut kolostrum.
Kolostrum ini mengandung protein dan laktose dalam konsentrasi yang sama seperti
air susu tetapi hampir tidak mengandung lemak. Setelah bayi dilahirkan, hilangnya
sekresi estrogen dan progesteron olehi klenjar hipofise yang berperan untuk
memproduksi air susu dalam jumlah besar sebagai pengganti kolostrum. Lonjakan
sekresi mempertahankan kelenjar mamaria agar menyekresi air susu ke dalam alveoli
untuk periode laktasi berikutnya. Produksi air susu dapat berlangsung terus-menerus
selama anak masih mengisap walaupun kecepatan pembentukan air susu berkurang.

13

2.5 Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita


1) Oogenesis

Oogenesis merupakan proses pembentukan dan perkembangan sel ovum.


Berbeda dengan laki-laki, wanita hanya mengeluarkan satu sel telur saja selama
waktu tertentu(siklus). Ovulasi pada wanita berhubungan dengan siklus yang
dikontrol oleh hormon. Pada manusia dan primate siklus reproduksinya disebut siklus
menstruasi. Sedangkan pada mamalia lain disebut estrus. Mesntruasi dapat diartikan
sebagai luruhnya ovum yang tidak dapat dibuahi beserta lapisan dinding uterus yang
terjadi secara periodik. Darah menstruasi sering disetai jaringan-jaringan kecil yang
bukan darah.
Penjelasan proses oogenesis :
- Oogeneis terjadi di ovarium. Di ovarium ini telah tersedia calon-calon sel telur
(oosit primer) yang terbentuk sejak bayi lahir.
- Ketika masa puber, oosit primer melakukan pembelahan meiosis menghasilkan oosit
sekunder dan badan polar pertama (polosit primer). Proses ini dipengaruhi oleh
FSH (Folicel Stimulating Hormon).
- Proses oogenensis dipengaruhi oleh beberapa hormon yaitu :
14

1. Hormon FSH yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan sel-sel folikel


sekitar sel ovum.
2. Hormon Estrogen yang berfungsi merangsang sekresi hormon LH.
3. Hormon LH yang berfungsi merangsang terjadinya ovulasi (yaitu proses
pematangan sel ovum).
4. Hormon progesteron yang berfungsi untuk menghambat sekresi FSH dan LH
Selama 28 hari sekali sel ovum dikeluarkan oleh ovarium. Sel telur ini telah
matang (mengalami peristiwa ovulasi). Selama hidupnya seorang wanita hanya dapat
menghasilkan 400 buah sel ovum setelah masa menopause yaitu berhentinya seorang
wanita untuk menghasilkan sel ovum yang matang Karena sudah tidak dihasilkannya
hormon, sehingga berhentinya siklus menstruasi.
2) Siklus Menstruasi
Setelah ovulasi maka sel ovum akan mengalami 2 kemungkinan yaitu :
A. Tidak terjadi fertilisasi maka sel ovum akan mengalami MENSTRUASI yaitu
luruhnya sel ovum matang yang tidak dibuahi bersamaan dengan dinding
endometrium yang robek. Terjadi secara periodik/sikus. Mempunyai kisaran waktu
tiap siklus sekitar 28-35 hari setiap bulannya. Siklus menstruasi terdiri dari 4 fase
yaitu :
1. Fase Menstruasi yaitu peristiwa luruhnya sel ovum matang yang tidak dibuahi
bersamaan dengan dinding endometrium yang robek. Dapat diakbiatkan juga
karena berhentinya sekresi hormon estrogen dan progresteron sehingga
kandungan hormon dalam darah menjadi tidaka ada.
2. Fase Proliferasi/fase Folikuler ditandai dengan menurunnya hormon progesteron
sehingga memacu kelenjar hipofisis untuk mensekresikan FSH dan merangsang
folikel dalam ovarium, serta dapat membuat hormon estrogen diproduksi kembali.
Sel folikel berkembang menjadi folikel de Graaf yang masak dan menghasilkan
hormon estrogern yang merangsangnya keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen
dapat menghambat sekersei FSH tetapi dapat memperbaiki dinding endometrium
yang robek.

15

3. Fase Ovulasi/fase Luteal ditandai dengan sekresi LH yang memacu matangnya sel
ovum pada hari ke-14 sesudah mentruasi 1. Sel ovum yang matang akan
meninggalkan folikel dan folikel aka mengkerut dan berubah menjadi corpus
luteum. Corpus luteum berfungsi untuk menghasilkan hormon progesteron yang
berfungsi untuk mempertebal dinding endometrium yang kaya akan pembuluh
darah.
4.

Fase pasca ovulasi/fase Sekresi ditandai dengan Corpus luteum yang mengecil
dan menghilang dan berubah menjadi Corpus albicans yang berfungsi untuk
menghambat sekresi hormon estrogen dan progesterone sehingga hipofisis aktif
mensekresikan FSH dan LH. Dengan terhentinya sekresi progesteron maka
penebalan

dinding

endometrium

akan

terhenti

sehingga

menyebabkan

endometrium mengering dan robek. Terjadilah fase pendarahan/menstruasi.


3) Fertilisasi dan Kehamilan

Terjadi fertilisasi yaitu peleburan antara sel sperma dengan sel ovum yang
telah matang dan menghasilkan zigot. Zigot akan menempel/implantasi pada dinding
uterus dan tumbuh berkembang menjadi embrio dan janin. Fertilisasi adalah
pembuahan ovum oleh sperma yang pada umumnya terjadi di tuba fallopi. Supaya
berhasil, fertilisasi harus terjadi sebelum 24 jam setelah terjadinya ovulasi karena

16

dalam jangka waktu itulah ovum dapat dibuahi, sedangkan sperma dapat bertahan 72
jam di dalam tubuh wanita.
Saat ejakulasi, jutaan sperma memasuki saluran vagina wanita, apabila coitus
dilakukan pada waktu yang sama dengan ovulasi maka beberapa sperma ini akan
berkelana ke arah yang berlawanan dengan arah gerak ovum, namun hanya satu yang
dapat masuk dan membuahi ovum. Setelah sperma masuk ovum, kepalanya
membangkak cepat untuk membentuk pronukleus jantan. Kemudian, 23 kromosom
pronukleus jantan dan 23 kromosom pronukleus betina saling bersekutu untuk
membentuk kembali unsur 46 kromosom dalam ovum yang telah mengalami
fertilisasi. Seks anak ditentukan oleh jenis sperma yang memfertilsasi ovum, apakah
mengandung kromosom X atau kromosom Y. Sedangkan ovum hanya mempunyai
kromosom X dan tidak pernah mempunyai kromosom Y. setelah penggabungan
pronukleus jantan dan betina waktu fertilisasi, ovum yang telah mengalami fertilisasi
kemudian mengandung 44 kromosom autosom dan dua kromosom X yang
menyebabkan terbentuknya anak perempuan, atau kromosom X dan Y yang
menyebabkan terbentuknya anak pria. Keadaan demikian disebut dengan masa
kehamilan/gestasi/nidasi. Janin akan keluar dari uterus setelah berusia 40 minggu/288
hari/9 bulan 10 hari. Peristiwa ini disebut dengan kelahiran. Tahapan waktu dalam
fertilisasi :
1. Beberapa jam setelah fertilisasi zigot akan membelah secara mitosis menjadi 2 sel,
4, 8, 16 sel.
2. Pada hari ke-3 atau ke-4 terbentuk kelompok sel yang disebut morula. Morula
akan berkembang menjadi blastula. Rongga balstosoel berisi cairan dari tuba
fallopi dan membentuk blastosit. Lapisan dalam balstosit membentuk inner cell
mass. Blastosit dilapisi oleh throhpoblast (lapisan terluar blastosit) yang berfungsi
untuk menyerap makanan dan merupakan calon tembuni/plasenta/ari-ari. Blastosit
akan bergerak menuju uterus dengan waktu 3-4 hari.
3.

Pada hari ke-6 setelah fertilisasi throphoblast akan menempel pada dinding
uterus/proses implantasi dan akan mengeluarkan hormon HCG (hormon
Chorionik

gonadotrophin).

Hormon

17

ini

melindungi

kehamilan

dengan

menstimulasi produksi hormon progesteron dan estrogen sehingga mencegah


menstruasi.
4. Pada hari ke-12 setelah fertilisasi embrio telah kuat menempel pada dinding
uterus.
5. Dilanjutkan dengan fase gastrula, yaitu hari ke-21 palsenta akan terus berkembang
dari throphoblast. Mulai terbentuk 3 lapisan dinding embrio. Lapisan dinding
embrio inilah yang akan berdiferensisai menjadi organorgan tubuh. Organ tubuh
aka berkembang semakin sempurna seiring bertambahnya usia kandungan.
Gambar perkembangan ovum setelah fertilisasi. Hormon yang berperan dalam
kehamilan:
1. Progesteron dan estrogen, merupakan hormon yang berperanan dalam masa
kehamilan 3-4 bulan pertama masa kehamilan. Setelah itu fungsinya diambil alih
oleh plasenta. Hormon estrogen makin banyak dihasilkan seiring dengan
bertambahnya usia kandungan karena fungsinya yang merangsang kontraksi
uterus. Sedangkan hormon progesterone semakin sedikit karena fungsinya yang
menghambat kontraksi uterus.
2. Prolaktin merupakan hormon yang disekresikan oleh plasenta dan berfungsi untuk
memacu glandula mamae untuk memproduksi air susu. Serta untuk mengatur
metabolisme tubuh ibu agar janin (fetus) tetap mendapatkan nutrisi.
3. HCG (Hormon Chorionic Gonadotrophin) merupakan hormon untuk mendeteksi
adanya kehamilan. Bekerja padahari ke-8 hingga minggu ke-8 pada masa
kehamilan. Hormon ini ditemukan pada urine wania pada uji kehamilan.
4. Hormon oksitosin merupakan hormon yang berperan dalam kontraksi uterus
menjelang persalianan.
Hormon yang berperanan dalam kelahiran/persalinan
1. Relaksin merupakan hormon yang mempengaruhi peregangan otot simfisis pubis
2. Estrogen merupakan hormon yang mempengaruhi hormon progesterone yang
menghambat kontraksi uterus.
3. Oksitosin merupakan hormon yang mempengaruhi kontraksi dinding uterus.

18

4) Perubahan Menopausal
Siklus menstruasi wanita akan berakhir pada usia 45 sampai 55 tahun yang
terjadi karena habisnya persediaan folikel ovarium yang terbentuk saat janin wanita
berusia 3 bulan. Menopause mungkin terjadi sebagai mekanisme mencegah
kehamilan pada wanita lanjut usia. Periode transisi sebelum menopause disebut
dengan klimakterium. Estrogen yang diproduksi ovarium menurun dari 300 mg
perhari menjadi tidak ada. Produksi estrogen dilanjutkan oleh jaringan adiposa, liver,
dan korteks adrenal yang dapat menghasilkan estrogen 20 mg perhari. Kehilangan
estrogen dari ovarium menyebabkan perubahan emosi dan fisik. Perubahan fisik yang
terjadi antara lain vagina mengering yang menyebabkan ketidaknyamanan saat coitus
dan atrofi organ genital secara bertahap.
Namun demikian, wanita post menopause masih memiliki keinginan seks
karena adrenal mereka tetap mengeluarkan androgen. Peran estrogen dalam
reproduksi sangat luas, sehingga kehilangan hormon ini setelah menopause dapat
berdampak pada sistem tubuh terutama system skelet dan kardiovaskular. Estrogen
membantu membentuk tulang yang kuat, sehingga wanita lansia lebih mudah terkena
osteoporosis. Penurunan estrogen mengakibatkan penurunan aktifitas pembentuk
tulang osteoblast dan peningkatan aktifitas penghancur tulang osteoclast. Akibatnya
terjadi penurunan densitas tulang dan lebih mudah terjadi fraktur.
Estrogen memberikan perlindungan terhadap jantung wanita. Insiden
terjadinya penyakit artery coronary meningkat pada wanita setelah menopause.
Estrogen membantu mencegah serangan jantung dengan beberapa cara. Pertama,
estrogen menghambat pembentukan artherosclerosis dengan cara memetabolisme
kolesterol. Estrogen membantu meningkatkan HDL dan menurunkan LDL. Kedua,
estrogen berperan sebagai anti oksidan yang membantu sel endotel dari serangan
radikal bebas yang merupakan karakteristik tahap awal artherosclerosis coronary.
Estrogen meningkatkan vasodilatasi arteriolar yang membantu darah coronary
mengalir dan mencegah spasme pembuluh darah. Estrogen juga menghambat
proliferasi otot polos yang mengakibatkan kerusakan dinding pembuluh darah yang
merupakan penyebab utama terjadinya artherosclerosis.

19

Estrogen juga membantu memodulasi aktifitas epinefrin dan norepinefrin


pada dinding arteiolar. Penurunan estrogen menyebabkan penurunan control aliran
darah, khususnya pembuluh darah kulit. Peningkatan aliran darah melaluli pembuluh
darah di permukaan menyebabkan terjadinya hot flashes.

2.6 Organ Reproduksi Pria

20

A. Alat Reproduksi Pria


1. Alat Kelamin Luar

a) Penis
Penis terdiri dari tiga rongga yang berisi jaringan spons. Dua rongga yang
terletak di bagian atas berupa jaringan spons korpus kavernosa. Satu rongga lagi
berada di bagian bawah yang berupa jaringan spons korpus spongiosum yang
membungkus uretra. Uretra pada penis dikelilingi oleh jaringan erektil yang ronggarongganya banyak mengandung pembuluh darah dan ujung-ujung saraf perasa. Bila
ada suatu rangsangan, rongga tersebut akan terisi penuh oleh darah sehingga penis
menjadi tegang dan mengembang (ereksi).
b) Skrotum
Skrotum (kantung pelir) merupakan kantung yang di dalamnya berisi testis.
Skrotum berjumlah sepasang, yaitu skrotum kanan dan skrotum kiri. Di antara
skrotum kanan dan skrotum kiri dibatasi oleh sekat yang berupa jaringan ikat dan otot
polos (otot dartos). Otot dartos berfungsi untuk menggerakan skrotum sehingga dapat
mengerut dan mengendur. Di dalam skrotum juga tedapat serat-serat otot yang berasal
dari penerusan otot lurik dinding perut yang disebut otot kremaster. Otot ini bertindak
sebagai pengatur suhu lingkungan testis agar kondisinya stabil. Proses pembentukan
sperma (spermatogenesis) membutuhkan suhu yang stabil, yaitu beberapa derajat
lebih rendah daripada suhu tubuh.
c) Buah Zakar
Buah zakar yang terdiri dari kantung zakar yang didalamnya terdapat sepasang
testis dan bagian-bagian lainnya. Kulit luar nya disebut skrotum. Skrotum berfungsi
melindungi testis serta mengatur suhu yang sesuai untuk spermatozoa (sel sperma).
2. Alat Kelamin Dalam
a) Testis
Testis (gonad jantan) berbentuk oval dan terletak didalam kantung pelir
(skrotum). Testis berjumlah sepasang (testes = jamak). Testis terdapat di bagian tubuh
sebelah kiri dan kanan. Testis kiri dan kanan dibatasi oleh suatu sekat yang terdiri dari
21

serat jaringan ikat dan otot polos. Fungsi testis secara umum merupakan alat untuk
memproduksi sperma dan hormon kelamin jantan yang disebut testosteron. Satu testis
umumnya mengandung 250 lobus testis.
b) Saluran Pengeluaran
Saluran pengeluaran pada organ reproduksi dalam pria terdiri dari epididimis,
vas deferens, saluran ejakulasi dan uretra.
1) Epididimis
Epididimis merupakan saluran berkelok - kelok didalam skrotum yang keluar
dari testis. Epididimis berjumlah sepasang disebelah kanan dan kiri. Epididimis
berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara sperma sampai sperma
menjadi matang dan bergerak menuju vas deferens.
2)

Vas deferens
Vas deferens atau saluran sperma (duktus deferens) merupakan saluran
lurus yang mengarah keatas dan merupakan lanjutan dari epididimis. Vas
deferens tidak menempel pada testis dan ujung salurannya terdapat di dalam
kelenjar prostat. Vas deferens berfungsi sebagai saluran tempat jalannya
sperma dari epididimis menuju kantung semen atau kantung mani (vesikula
seminalis).
3) Saluran ejakulasi
Saluran ejakulasi merupakan saluran pendek yang menghubungkan
kantung semen dengan uretra. Saluran ini berfungsi untuk mengeluarkan
sperma agar masuk ke dalam uretra.
4) Uretra
Uretra merupakan saluran akhir reproduksi yang terdapat didalam penis.
Uretra berfungsi sebagai saluran kelamin yang berasal dari kantung semen
dan saluran untuk membuang urin dari kantung kemih.
5) Kelenjar Asesoris
Selama sperma melalui saluran pengeluaran, terjadi penambahan berbagai
getah kelamin yang dihasilkan oleh kelenjar asesoris. Getah-getah ini
berfungsi untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan pergerakan sperma.

22

Kelenjar asesor is merupakan kelenjar kelamin yang terdiri dari vesikula


seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar Cowper .
6) Vesika Seminalis
Vesikula seminalis atau kantung

semen (kantung mani) merupakan

kelenjar berlekuk-lekuk yang terletak di belakang kantung kemih. Dinding


vesikula seminal is menghasi lkan zat makanan yangmerupakan sumber
makanan bagi sperma.
7) Kelenjar Prostat
Kelenjar prostat melingkari bagian atas uretra dan terletak di bagian bawah
kantung kemih. Kelenjar prostat menghasilkan getah yang mengandung
kolesterol, garam dan fosfolipid yang berperan untuk kelangsungan hidup
sperma
8) Kelenjar Cowper
Kelenjar Cowper (kelenjar bulbouretra) merupakan kelenjar yang
salurannya langsung menuju uretra. Kelenjar Cowper menghasilkan getah
yang bersifat alkali (basa).

2.7 Hormon pada Pria


1. Hormon FSH yang berfungsi untuk merangsang pembentukan sperma secara
langsung. Serta merangsang sel sertoli untuk meghasilkan ABP (Androgen Binding
Protein) untuk memacu spermatogonium untuk melakukan spermatogenesis.
2. Hormon LH yang berfungsi merangsang sel Leydig untuk memperoleh sekresi
testosterone (yaitu suatu hormon sex yang penting untuk perkembangan sperma).
Spermatogenesis berlangsung selama 74 hari sampai terbentuknya sperma yang
fungsional. Sperma ini dapat dihasilkan sepanjang usia. Sehingga tidak ada batasan
waktu, kecuali bila terjadi suatu kelainan yang menghambat penghasilan sperma pada
pria.

23

3. Testoteron
Testoteron disekresi oleh sel-sel Leydig yang terdapat di antara tubulusseminiferus.
Hormon ini penting bagi tahap pembelahan sel-sel germinal untuk membentuk
sperma, terutama pembelahan meiosis untuk membentuk spermatosit sekunder.
4. Estrogen
Estrogen dibentuk oleh sel-sel sertoli ketika distimulasi oleh FSH. Sel-sel sertoli juga
mensekresi suatu protein pengikat androgen yang mengikat testoteron dan estrogen
serta membawa keduanya ke dalam cairan pada tubulusseminiferus. Kedua hormon
ini tersedia untuk pematangan sperma.
2.8 Fisiologi Sistem Reproduksi Pria
1. Spermatogenesis
Spermatogenesis merupakan proses pembentukan sel spermatozoa. Dibentuk di
dalam tubula seminiferus.

24

Penjelasan tahapan spermatogenesis :


Pada testis, spermatogenesis terjadi di tubulus seminiferus.
a)

Pada dinding tubulus seminiferus telah ada calon sperma (spermatogonia) yang

berjumlah ribuan.
b) Setiap spermatogonia melakukan pembelahan mitosis membentuk spermatosit
primer.
c) Spermatosit primer melakukan pembelahan meiosis pertama membentuk 2
spermatosit sekunder.
d) Tiap spermatosit sekunder melakukan pembelahan meiosis kedua, menghasilkan
2 spermatid yang bersifat haploid.
e) Keempat spermatid ini berkembang menjadi sprma matang yang bersifat haploid.
f) Sperma yang matang akan menuju epididimis.
g) Setiap proses spermatogenesis memerlukan waktu 65-75 hari. Struktur sperma
matang terdiri dari kepala, leher, bagian tengah, dan ekor. Kepala sperma tebal

25

mengandung inti haploid yang ditutupi badan khusus yang disebut akrosom.
Akrosom mengandung enzim yang membantu sperma menembus sel telur. Bagian
tengah sperma mengandung mitokondria spiral yang berfungsi menyediakan
energi untuk gerak ekor sperma. Setiap melakukan ejakulasi, seorang laki-laki
mengeluarkan kurang lebih 400 juta sel sperma.
2.9 Penyakit Berkenaan dengan Sistem Reproduksi
Penyakit pada sistem reproduksi manusia dialalmi dan disebabkab oleh
berbagai faktor. Ada yang dari luar ada pula yang dari dalam. yang dari luar
misalanya karena masuknya bakteri atau virus. Berikut beberapa penyakit yang
sedang tren di abad ini :
1. AIDS

AIDS kepanjangan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome atau


Acquired Immune Deficiency Syndrome Penyakit AIDS disebabkan oleh virus
Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang menyerang sistem kekebalan tubuh
manusia, sehingga penderita AIDS menjadi rentan terhadap berbagai infeksi. Penyakit
Flu bisa membuat penderita AIDS meninggal.
2. Kanker Payudara

26

Kanker payudara adalah kanker pada jaringan payudara. Ini adalah jenis
kanker paling umum yang diderita kaum wanita. Kaum pria juga dapat terserang
kanker payudara, walaupun kemungkinannya lebih kecil dari 1 diantara 1000.
Pengobatan yang paling lazim adalah dengan pembedahan dan jika perlu dilanjutkan
dengan kemoterapi maupun radiasi.
3. Vulvovaginitis
Vulvovaginitis adalah peradangan pada vulva dan vagina yang sering
menimbulkan gejala keputihan (flour albus) yaitu keluarnya cairan putih kehijauan
dari vagina. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Gardnertella vaginalis. Dapat pula
disebabkan oleh protozoa, misalnya Trichomonas vaginalis atau oleh jamur Candida
albicans.
4. Impotensi
Impotensi adalah ketidakmampuan mempertahankan ereksi penis. Impotensi
dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain gangguan produksi hormon
testosterone, kelainan psikis, penyakit diabetes mellitus, kecanduan alcohol, obatobatan, dan gangguan sistem saraf.
5. Gonorea
Gonorea merupakan penyakit infeksi akut yang menyerang selaput lendir pada
uretra, serviks, rectum, sendi, tulang, faring, dan mata. Penyakit ini disebabkan oleh
bakteri Neisseria gonorrhoeae. Gonorea yang ditularkan dari ibu ke anaknya saat
kelahiran dapat menyebabkan kebutaan. Bakteri Neisseria mudah bermutasi sehingga
resisten terhadap antibiotic. Oleh karena itu penyakit ini harus segera ditangani.
Gejalanya rasa sakit saat buang air kecil dan kelurnya nanah berwarna kuning
kehijauan dari uretra.
6. Hipertropik Prostat
Hipertropik Prostat adalah pembesaran prostat yang terjadi pada pria berusia
50 tahun. Penyakit ini diduga berhubungan dengan penuaan dan proses perubahan
hormon. Gejalanya adalah rasa ingin kencing terus menerus. Dapat diobati dengan
operasi.
7. Prostatis

27

Prostatis adalah peradangan pada prostat yang sering disertai dengan


peradangan uretra. Gejalanya berupa pembengkakan yang dapat menyumbat uretra
sehingga timbul rasa nyeri dan sulit buang air kecil.
8. Infertilitas
Infertilitas adalah ketidakmampuan menghasilkan keturunan atau mandul.
Infertilitas ini bisa disebabkan pria atau wanita.
9. Kanker Serviks

Kanker Serviks (kanker leher rahim) banyak dialami wanita berusia 40-55
tahun. Kanker serviks di duga erat denagn infeksi Virus Herpes Simpleks tipe dua dan
human papilloma virus. Pengobatannya dengan operasi, sinar radioaktif dan obat.
10. Sifilis

Sifilis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Treponema


palladium. Infeksi terjadi pada organ kelamin bagian luar. Sifilis dapat berkembang
ke tahap sekunder dan tersier yang sulit diamati. Sifilis sekunder menular sedangkan
yang tersier tidak menular. Akan tetapi sifilis tersier menimbulkan dapat
menimbulkan kerusakan pada otak, jantung, pembuluh darah, hati.
28

11. NGU
NGU (Non-Gonococal urethritis) merupakan peradangan pada uretra dan
serviks yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis dan Ureaplasma
urealyticum.
12. Endometriosis
Endometriosis adalah terdapatnya jaringan endometrium di luar rahim.
Misalnya dapat ditemukan di ovarium, peritoneum, usus besar, dan kandung kemih,
akibat pengaliran balik darah menstruasi melalui Tuba Fallopi. Gejalanya adalah rasa
nyeri saat menstruasi karena jaringan endometrisis luruh bersamaan dengan
menstruasi. Dapat diobati dengan operasi atau pemberian hormon progesteron.
13. Sindrom Premenstrual
Sindrom Premenstrual adalah keadaan dimana terjadi gangguan emosi, lesu,
sakit kepala, bengkak pada tungkai, rasa pedih, dan nyeri payudara yang terjadi
beberapa hari sebelum menstruasi. Penyebabnya diduga adalah kadar estrogen tinggi,
progesterone rendah, gangguan metabolisme karbohidrat, kadar prolaktin tinggi, dan
gangguan psikis.

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Berdasarkan pembahasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa, reproduksi
adalah kemampuan makhluk hidup untuk menghasilkan keturunan yang baru. Organ
reproduksi baik pria maupun wanita dibedakan atas 2 macam, yaitu genitalia bagian luar
dan genitalia bagian dalam. Sistem reproduksi juga dipengaruhi oleh beberapa hormon,
hormon pada pria (testosteron), dan hormon pada wanita (progesteron dan estrogen).
Organ reproduksi pria maupun wanita memiliki fisiologinya masing-masing. Jika tidak
dijaga dan mengalami gangguan, organ reproduksi dapat terinfeksi dan bersifat patologis,
misalnya penyakit AIDS, sifilis, kanker serviks, dan lain-lain.

29

3.2 Saran
Melalui penulisan makalah ini, penulis menyarankan untuk para pembaca,
agar dapat memahami dan mempelajari lebih dalam lagi mengenai sistem reproduksi,
bagian-bagiannya, fisiologi, hormon yang mempengaruhi, patologi, dan lain-lain.
Pemahaman konsep ini dilakukan guna memperdalam dan menerapkan ilmu
reproduksi yang tepat dalam bidang kesehatan khususnya pada calon profesional
kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA
Syaifuddin, 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta: EGC
Irianto, Koes. 2013. Anatomi dan Fisiologi. Bandung: Alfabeta
http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_reproduksi. Diakses 1 Oktober 2014 pukul 21.47
WITA
http://staff.ui.ac.id/system/files/users/tutinfik/material/ebookbioteknologipdsistemreproduksi.pdf. Diakses 1 Oktober 2014 pukul 10.20 WITA
http://rusmanefendi.files.wordpress.com/2010/05/sistem-reproduksi1.pdf. Diakses 1
Oktober 2014 pukul 10.34 WITA

30

31