Anda di halaman 1dari 14

NAMA

: RAMA ANDIKA THIO RAHMAN

NIM

: 156020301011003

RMK

: Ke-5 (CAPM dan APT)

1. Model CPM dan APT


Model CAPM diperkenalkan oleh Treynor, Sharpe dan Litner. Model CAPM
merupakan pengembangan teori portofolio yang dikemukan oleh Markowitz dengan
memperkenalkan istilah baru yaitu risiko sistematik (systematic risk) dan risiko
spesifik/risiko tidak sistematik (spesific risk /unsystematic risk). Pada tahun 1990,
William Sharpe memperoleh nobel ekonomi atas teori pembentukan harga aset
keuangan yang kemudian disebut Capital Asset Pricing Model (CAPM).
Model penentuan harga asset modal atau yang popular disebut sebagai Capital
Assets Pricing Model (CAMP) merupakan model untuk menentukan harga suatu asset
pada kondisi ekuilibrium. Tujuannya adalah untuk menentukan tingkat pengembalian
yang disyaratkan (required rate of return-RRR) minimum dari investasi yang
beresiko. Dalam keadaan ekuilibrium, RRR investor untuk suatu saham akan
dipengaruhi oleh risiko saham tersebut. Dalam hal ini risiko yang diperhitungkan
hanyalah risiko sistematis atau risiko pasar yang diukur dengan beta (). Sedangkan
risiko yang tidak sistematis dianggap tidak relevan karena risiko ini dapat dihilangkan
melalui diversifikasi.
Dalam membahas CAPM, secara implisit harus dibuat sejumlah asumsi yang
diperlukan agar model ini memiliki pondasi yang kuat. Asumsi-asumsi ini meliputi
asumsi-asumsi mengenai perilaku investor dan kondisi-kondisi dalam pasar modal.
Asumsi-asumsi berikut dianggap memadai yang memungkinkan model yang
dimaksud dibentuk:
1. Pasar terdiri dari para investor yang bersikap menghindar risiko (risk-averse),
yang mengukur risiko melalui standar deviasi dari pengembalian portofolio.
Asumsi ini menyediakan basis bagi pemakai ukuran-ukuran risiko semacam
beta ().
2. Semua investor memiliki horizon waktu yang sama bagi pembuatan keputusan
investasi (misalnya: sebulan, setahun, dan sebagainya). Asumsi ini
memungkinkan kita untuk mengukur ekspektasi-ekspektasi investor atas

interval waktu yang sama, sehingga membuat perbandingan-perbandingan


memiliki arti.
3. Semua investor diasumsikan memiliki ekspektasi yang sama menyangkut
pengembalian dan risiko sekuritas di masa depan. Satu-satunya alas an yang
membuat mereka memilih portofolio-portofolio yang berbeda adalah
perbedaan-perbedaan dalam risiko sistematis dan dalam preferensi risiko.
Tanpa asumsi ini, analisis tersebut akan menjadi lebih rumit.
4. Pasar modal adalah sempurna dalam arti bahwa semua asset bisa dipecahkan
secara sempurna, tidak ada biaya-biaya transaksi atau tingkat pajak yang
berbeda-beda, dan suku bunga pinjaman dan memberi pinjaman sama satu
sama lain dan sama bagi semua investor. Tanpa kondisi-kondisi ini, aka nada
kendala-kendala friksional terhadap kondisi-kondisi ekuilibrium yang
mendasari model ini.
Model yang dikembangkan CAPM menjelaskan bahwa tingkat return yang
diharapkan adalah penjumlahan dari return bebas risiko dan premium risiko. Premium
risiko dihitung dari beta dikalikan dengan premium risiko pasar yang diharapkan.
Premium risiko pasar sendiri dihitung dari tingkat return pasar yang diharapkan
dikurangi dengan tingkat return bebas risiko. Bentuk matematika CAPM :
Rs= Rf + s (Rm Rf)
Rf

biasanya

didekati

dengan

tingkat

return suku bunga bank sentral, di Indonesia umumnya risk free aset didekati dengan
tingkat return suku bunga Bank Indonesia. s didekati dengan menghitung data time
series saham dengan data return pasarnya. Dari definisi CAPM bahwa Rm adalah
tingkat return pasar yang diharapkan, bukan tingkat return pasar yang periode yang
lalu. Untuk mendapatkan nilai Rm tentunya harus dapat memprediksi berapa tingkat
return IHSG yang diharapkan. Salah satu cara memprediksi IHSG adalah dengan cara
analisis faktor. Di sini anda harus melakukan studi empiris, anda harus menentukan
faktor-faktor yang mempengaruhi IHSG, kemudian membuat persamaan regresi dari
IHSG dan faktor yang mempengaruhinya. Dan terakhir anda harus memprediksi nilai
dari faktor yang mempengaruhi IHSG untuk x periode yang anda tentukan. Cara
lainnya adalah menggunakan nilai IHSG dari hasil penelitian empiris dari peneliti
lain.

Capital asset pricing model (CAMP) bukanlah satu-satunya yang menjelaskan


bagaimana aktiva ditentukan harganya oleh pasar, atau bagaimana menentukan tingkat
keuntungan yang dipandang layak untuk suatu investasi. Ross (1976) merumuskan
suatu teori yang disebut arbitrage pricing theory (APT). Kalau pada CAPM analisis
dimulai dari bagaimana pemodalan membentuk portofolio yang efisien (karena
market portofolio yang mempunyai kedudukan sentral dalam CAPM merupakan
portofolio yang efisien) maka APT mendasarkan diri konsep satu harga (the law of
one price).
Perbedaan atara kedua model terletak pada perlakuan APT terhadap hubungan
antara tingkat keuntungan sekuritas. APT mengasumsikan bahwa tingkat keuntungan
tersebut dipengaruhi oleh berbagai factor dalam perekonomian dan industri. Korelasi
antara tingkat keuntungan dua sekuritas terjadi karena sekuritas-sekuritas tersebut
dipengaruhi oleh faktor atau factor-faktor yang sama. Sebaliknya meskipun CAPM
mengakui adanya korelasi antara tingkat keuntungan, model tersebut tidak
menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi korelasi tersebut. Baik CAPM maupun
APT sama-sama berpendapat bahwa ada hubungan yang positif antara tingkat
keuntungan yang diharapkan dengan resiko.
2. Capital Market Line
Capital Market Line adalah garis yg menunjukkan semua kemungkinan
kombinasi portofolio efisien yg terdiri dari aset berisiko dan aset bebas risiko. Capital
market line menggambarkan hubungan antara return ekspetasi dengan risiko total
dari portofolio efisien pada pasar yg seimbang. Risiko sekuritas individual akan selalu
diplot dibawah garis karena sekuritas tunggal beresiko yang tidak dikombinasikan
adalah portofolio yang tidak efisien. CAPM tidak menyimpulkan hubungan khusus
antara ekspektasi return dan standar diviasi (yaitu resiko total) dari sekuritas
individual. Untuk menyatakan pendapat tentang ekspektasi return dari sekuritas
individual, perlu dilakukan analisis yang lebih dalam. Persamaan CML:

E(Rp ) Rf

E(RM ) Rf

C M L

E (R m )

P r e m i R is ik o P o r to fo lio
E (R m )-R f

R f

R is ik o P o r to fo lio P a s a r

SD m

R is ik o

Gambar Hubungan

antara return ekpektasu dengan risiko

Dari uraian di atas, beberapa hal penting yang dapat disimpulkad dari
penjelasan mengenai garis pasar modal( CML) adalah:
1. Garis pasar modal terdiri dari portofolio efisien yang merupakan
kombinasi dari aset yang berisiko dan aset yang bebas risiko. Portofolio
M, merupakan portofolio yang terdiri dari aset yang berisiko, atau disebut
dengan portofolio pasar. Sedangkan titik RF, merupakan pilihan aset yang
bebas risiko. Kombinasi atau titik- titik portofolio di sepanjang garis RF M
ini, selanjutnya merupakan portofolio yang efisien bagi investor.
2. Slope CML akan cenderung positif karena adanya asumsi bahwa investor
bersifat risk averse.Artinya, investor hanya akan mau berinvestasi pada
aset yang berisiko, jika mendapatkan kompensasi berupa return yang
diharapkan yang lebih tinggi. Dengan demikian, semakin besar risiko
suatu investasi, semakin besar pula return yang diharapkan.
3. Berdasarkan data historis, adanya risiko akibat perbedaan return aktual dan
return yang diharapkan, akan bisa menyebabkan slope CML yang negatif.
Slope negatif ini terjadi bila tingkat return aktual portofolio pasar lebih
kecil dari tingkat keuntungan bebas risiko.
4. Garis pasar modal dapat digunakan untuk menentukan tingkat return yang
diharapkan untuk setiap risio portofolio yang berbeda.

3. Fisher Separation Theorem


Dalam ilmu ekonomi, Fisher separation theorem menyatakan bahwa tujuan
dari sebuah perusahaan adalah maksimalisasi dari nilai kini, apapun preferensi
pemilik perusahaan. Theorem ini memisahkan kesempatan produktif yang ada pada
manajemen dengan kesempatan pasar yang ada pada pengusaha. Fisher separation
theorem menyatakan bahwa:

Keputusan investasi suatu perusahaan terlepas dari preferensi pemilik

perusahaan
Keputusan investasi terlepas dari keputusan pendanaan
Nilai dari proyek modal (investasi) terlepas dari campuran beberapa metode
(ekuitas, utang, dan/atau kas) yang digunakan untuk mendanai proyek atau
investasi tersebut.

Maksud dari pernyataan diatas adalah sebagai berikut:

Perusahaan dapat membuat keputusan investasi, dengan memilih antara


kesempatan-kesempatan produktif untuk memaksimalkan nilai kini dari

investasinya, dan terlepas dari preferensi investasi pemilik perusahaan


Perusahaan dapat kemudian memastikan bahwa pemilik perusahaan akan
mendapatkan posisi optimal dalam kesempatan pasarnya dengan mendanai
investasi dengan pinjaman dana atau dana internal secara tepat.

Given that Fisher's theory output is related not to capital but rather to investment, then
we can posit a production function of the form Y = (N, I).

Mengingat bahwa

teori Fisher output untuk investasi, maka kita dapat menempatkan fungsi produksi
dalam bentuk Y = (N, I). Now, Fisher imposed the condition that investment in any
time period yields output only in the next period. Sekarang, apabila investasi dalam
jangka waktu menghasilkan output hanya pada periode berikutnya. For simplicity, let
us assume a world with only two time periods, t = 1, 2. Untuk mempermudah, dengan
hanya dua periode waktu, t = 1, 2. In this case, investment in period 1 yields output in
period 2 so that Y 2 = (N, I 1 ) where I 1 is period 1 investment and Y 2 is period 2
output. Dalam hal ini, investasi dalam periode 1 menghasilkan output dalam periode 2
agar Y 2 = (N, I

1)

di mana I 1 adalah investasi periode 1 dan Y 2 adalah periode 2

output. Holding labor N constant (and thus striking it out of the system), then the
investment frontier can be drawn as the concave function where
> 0 and

< 0. N tenaga kerja konstan, maka batas investasi dapat ditarik sebagai fungsi cekung

di mana

0 dan
<0. The mirror image of this is shown in Figure 1 as
the frontier Y 2 = (I 1 ). Dapat ditunjukkan pada Gambar 1 sebagai perbatasan Y 2 =
(I

1).

Everything below this frontier is technically feasible and everything above it

is infeasible. Segala sesuatu di bawah batas ini adalah layak secara teknis.
Letting r be the rate of interest then total costs of investing an amount I 1 is (1+r)I 1 .
Membiarkan r menjadi tingkat bunga maka biaya total investasi sebesar I
adalah (1 + r) I

1.

Similarly, total revenues are derived from the sale of output pY 2 or,

normalizing p = 1, simply Y 2 . Demikian pula, total pendapatan berasal dari penjualan


output pY 2 atau, menormalkan p = 1, hanya Y

2.

Thus, profits from investment are

defined as = Y 2 - (1+r)I 1 and the firm faces the constraint Y 2 = (I 1 ) (we have
omitted N now). Dengan demikian, keuntungan dari investasi didefinisikan sebagai
= Y 2 - (1 + r) I 1 dan perusahaan menghadapi kendala Y 2 = (I 1) Dengan demikian,
masalah peningkatan laba perusahaan dapat ditulis sebagai:
max = (I 1 ) - (1+r)I 1 max = (I 1) - (1 + r) I 1
so that the optimal investment decision will be where:sehingga keputusan investasi
yang optimal menjadi:

= (1+r)
= (1 + r)
In Fisher's language, we can define
-1 as the " ", or in more language, the " ",
so MEI =
- 1.

Dalam bahasa Fisher, kita dapat mendefinisikan

-1

sebagai "marjinal tingkat pengembalian atas biaya", atau MEI =


- 1. Thus, the
optimum condition for the firm's investment decision is that MEI = r, ie marginal
efficiency of investment is equated with rate of interest. Dengan demikian, kondisi
optimal untuk keputusan investasi perusahaan adalah MEI = r, yaitu efisiensi marjinal
investasi disamakan dengan bunga. Obviously, as (I 1 ) is a concave function, then
as I

rises,
declines. Tentu saja, sebagai (I

1)

adalah sebuah fungsi cekung,

kemudian sebagai I 1 meningkat,


menurun. As the rate of interest rises, then to
equate r and MEI, it must be that investment declines - thus the negative relationship
between investment and interest rate. Succinctly, I = I(r) where I

= dI/dr < 0.

Sementara tingkat bunga naik, maka untuk menyamakan r dan MEI, harus investasi

itu menurun - maka hubungan negatif antara investasi dan tingkat bunga. Singkat, I =
I (r) di mana I r = dI / dr <0.
Gambar Fishet Investasi Frontier

Dalam
telah
Y

Gambar 1, kita

menarik
= (I

1)

investasi Fisher

di

cekung

kurva

marjinal

yang

mana

sifat

mencerminkan
semakin

menurun kembali

pada

investasi.

Suppose we start at initial endowment of intertemporal output E - where E 1 > 0 and E


2

= 0, so we only have endowment in period 1. Misalkan kita mulai pada awal output

E - di mana E

1>

0 dan E 2 = 0, jadi kita hanya dalam periode 1. Then the amount of

"investment" involves allocating some amount of period 1 endowment to production


for period 2. Maka jumlah "investasi" melibatkan alokasi beberapa jumlah periode 1
untuk produksi periode 2. The output left over for period 1 consumption, let us call
that Y

*, is effectively the amount of intitial endowment that investment has not

appropriated, ie Y

* = E

- I

*. Output tersisa untuk periode 1 konsumsi,

disebutkan bahwa Y 1 *, secara efektif jumlah investasi yang belum disesuaikan, yaitu
Y

*=E

-I

*. The investment decision will be optimal where the investment

frontier is tangent to the interest rate line, ie where


= (1+r). Keputusan investasi
akan menjadi investasi yang optimal di mana perbatasan bersinggungan dengan garis
tingkat bunga, yaitu di mana
= (1 + r). At this point, intertemporal allocation of
income becomes Y* = (Y 1 *, Y 2 *) where Y 2 * = (I 1 *) and Y 1 * = E 1 - I 1 *.
Pada titik ini, alokasi antarwaktu pendapatan menjadi Y * = (Y 1 *, Y 2 *) di mana Y 2
* = (I 1 *) dan Y 1 * = E 1 - I 1 *. It is obvious, by playing with this diagram, that as

r increases (interest rate line becomes steeper), then I

* declines; whereas as r

declines (interest line becomes flatter), then I 1 * increases. Hal ini jelas, bahwa ketika
r

meningkat

menurun;
(garis

kemudian I

dan

ketika r menurun

bunga

menjadi
*

lebih

datar), kemudian I

meningkat.

Thus, dI/dr < 0, so

investment

negatively related

to the interest rate.

Jadi, dI / dr <0,

maka

is

investasi

berhubungan negatif dengan tingkat bunga.


gambar Fisher Separation Theorem

The two central results of this two-stage budgeting has become known as the Fisher
Separation Theorem :Teorema Pemisahan Fisher:
(i) the firm's investment decision is independent of the preferences of the owner; (i)
keputusan investasi perusahaan tidak tergantung pada preferensi pemilik;
(ii) the investment decision is independent of the financing decision. (ii) keputusan
investasi independen dari keputusan pembiayaan.
We can see the first by noting that regardless of the preferences of the owner, the
firm's investment decision will be such that it will position itself at Y*, thus making
the maximization of present value the objective of the firm (which, of course, is

equivalent to Keynes's "internal rate of return" rule of investment). Kita bisa melihat
pertama dengan mencatat bahwa terlepas dari preferensi pemilik, perusahaan
investasi akan keputusan sedemikian rupa sehingga akan menempatkan dirinya di Y *,
sehingga membuat maksimalisasi nilai sekarang tujuan perusahaan (yang, tentu saja,
setara dengan Keynes "internal rate of return" aturan investasi). The second part of the
separation theorem effectively claims that the firm's financing needs are independent
of the production decision.Bagian kedua dari teorema pemisahan secara efektif
mengklaim bahwa kebutuhan pembiayaan perusahaan adalah independen dari
keputusan produksi. To see why more clearly, we can restate this in terms of the of
set out by (1930). Untuk melihat mengapa lebih jelas, kita dapat mengemukakan
kembali hal ini dari segi teori neoklasik dari "nyata" dana pinjaman ditetapkan oleh
Fisher (1930). The demand for "loanable funds" equals desired investment plus
desired borrowing of borrowers whereas the supply of "loanable funds" equals desired
savings minus desired investment of savers. Permintaan "dana pinjaman" plus
investasi yang diinginkan sama dengan yang diinginkan sedangkan meminjam dari
peminjam pasokan "dana pinjaman" sama dengan yang diinginkan dikurangi
tabungan investasi yang diinginkan penabung. In Figure 2, suppose we have two
entrepreneurs with identical firms, both of which start with endowment E and one
invests and saves to achieve point F* while another invests and then borrows to
achieve point C*.

4. Security Market Line


Persamaan Security Market Line (SML) menunjukkan hubungan antara risiko
pasar suatu sekuritas dan rate of return (tingkat pengembalian) yang diharapkan. Hal
ini digunakan untuk melihat apakah reksadana saham sudah memberikan return yang
sepantasnya sesuai dengan risiko pasar atau belum.
Penaksirannya didasarkan padahasil investasi bebas risiko ditambah dengan
premi risiko pasar dikalikan dengan beta. Berikut merupakan persamaan tersebut:
Ri = Rf + (Rm - Rf)
i
Keterangan:
Ri

= required return saham i

Rf

= return atas investasi bebas risiko (risk free rate)

Rm

= required market return

= kepekaan atas return saham i terhadap expected return market

Menurut teori SML, tingkat return suatu asset sangat tergantung dari beta asset
tersebut. Beta merupakan variabel yang menunjukkan bagaimana suatu asset bergerak
terhadap market. Umumnya beta suatu asset nilainya antara 0 sampai 2. Beta market
sendiri adalah 1. Jika suatu asset memiliki beta > 1, maka asset tersebut diasumsikan
bergerak lebih volatile daripada market sehingga ekspektasi return dari asset ini akan
lebih besar dari market. Sebaliknya, jika beta suatu asset < 1 artinya asset tersebut
dianggap lebih stabil daripada market sehingga required return-nya pun tidak sebesar
required return dari market.
Risk free rate adalah tingkat return tanpa resiko. Di USA biasanya
menggunakan Treasury notes (Surat utang Negara) sebagai acuan tingkat suku bunga
tanpa resiko. Asumsinya pemerintah USA tidak mungkin bangkrut sehingga investor
menganggap surat utang yang dikeluarkan oleh pemerintah USA adalah instrument
tanpa resiko. Di Indonesia biasanya menggunakan Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
sebagai acuan. Required market return adalah ekspektasi return dari market secara
umum. Tiap investor pasti memiliki asumsi tingkat return yang berbeda tergantung
dari sifat investor tersebut apakah seorang yang konservatif atau agresif.
5. Beta Saham dan Beta Portofolio
Beta merupakan suatu pengukur volatilitas (volatility) return suatu saham atau
portofolio terhadap return pasar (indeks pasar). Beta saham mengukur kepekaan
saham terhadap perubahan pasar. Semakin besar beta suatu saham menunjukkan
semakin pekanya tingkat keuntungan suatu saham untuk bereaksi jauh melebihi
perubahan tingkat keuntungan indekspasar. Dengan demikian Beta merupakan
pengukur risiko sistematik (systematic risk) dari suatu sekuritas atau saham relatip
terhadap resiko pasar. Volatilitas dapat didefinisikan sebagai fluktuasi dari returnreturn suatu saham atau portofolio dalam suatu periode waktu tertentu. Jika fluktuasi
return-return saham atau portofolio secara statistik mengikuti fluktuasi dari returnreturn pasar, maka Beta dari saham atau portofolio tersebut dikatakan bernilai 1.
Karena fluktuasi juga sebagai pengukur resiko sehingga Beta bernilai 1 menunjukkan
bahwa risiko sistematik suatu saham atau portofolio sama dengan risiko pasar. Beta
sama dengan 1 menunjukkan jika return pasar bergerak naik (turun), return saham

atau portofolio juga akan bergerak naik (turun) sama besarnya mengikuti return pasar.
Beta yang bernilai 1 menunjukkan bahwa perubahan return pasar sebesar x %, secara
rata-rata, return saham atau portofolio juga akan berubah sebesar x %. salah satu cara
untuk mengukur beta dengan cara atau teknik regresi, sebagai berikut:
Ri = i
Dari persamaan di atas, koefisien

+ i . Rm + ei
i merupakan Beta sekuritas yagn ke-i yang

diperoleh dari tekhnik regresi. Variabel acak

ei

di persamaan regresi menunjukkan

bahwa persamaan linier yang dibentuk mengandung kesalahan. Secara konstruksi,


E(ei) = 0 . Akan tetapi ini bukan berarti untuk tiap-tiap observasi nilai

ei adalah sama

ei,

sesungguhnya

dengan nol. Untuk tiap-tiap observasi, nilai kesalahan residu ,


dengan return estimasi yang berada di garis linier.
6. Resiko Sistematis dan Non Sistematis

Problem yang paling dasar mengenai investasi adalah seringkali orang


berinvestasi dengan strategi portfolio ikut-ikutan. Sebagai contoh: investasi di pasar
saham. Ketika market sedang bullish (menanjak), semua orang seolah-olah menjadi
pakar investasi dan kemudian memberikan saran kepada orang lain untuk ikut
berinvestasi di instrumen yang ia miliki. Padahal belum tentu orang yang mendapat
saran tersebut memiliki kesiapan finansial maupun temperamen yang sesuai di dalam
investasi tersebut dan memiliki pengetahuan yang sama. Sebelum memulai untuk
berinvestasi, seseorang harus mengenali diri dulu ke dalam. Berapa jumlah dana yang
dimiliki, kesiapan untuk menghadapi resiko fluktuasi investasi yang dipegangnya,
alokasi aset yang sesuai dengan karakternya dalam berinvestasi (konservatif, moderat
atau agresif). Begitu pula dengan tingkat pengetahuan mengenai investasi, jika merasa
pengetahuan kita dalam melakukan investasi minim, lakukan investasi dalam diri
anda dulu untuk mempelajari tentang investasi yang anda lakukan atau cari sumbersumber yang layak untuk dipercaya.
Dalam melakukan investasi, kita harus tahu bahwa tidak ada investasi yang
tidak beresiko. Jika kita perhatikan, ada 2 jenis resiko dalam berinvestasi, yaitu:
1. Resiko Sistematis
Resiko sistematis adalah resiko yang mempengaruhi sejumlah asset, baik untuk
tingkat derajat yang besar maupun yang lebih rendah. Resiko ini adalah resiko

yang tidak dapat diansitipasi dengan melakukan diversifikasi karena


pengaruhnya kepada seluruh aktivitas ekonomi. Oleh karena itu, risiko ini
sering disebut market risk. Contohnya adalah resiko inflasi. Jika suatu negara
mengalami inflasi yang tinggi, otomatis kemampuan daya beli dari
masyarakatnya akan menurun drastis dan menurunkan konsumsi. Akibatnya
seluruh bisnis akan mengalami kelesuan dan berkurangnya tingkat penjualan
yang berakhir pada menurunnya nilai saham.
Seorang investor pintar juga akan melihat faktor apa yang sedang terjadi dari
lingkungannya (situasi politik, ekonomi, sosial) untuk menentukan alokasi
asetnya sebelum ia melakukan penempatan modal. Risiko sistematis dapat
diukur dengan koefisien beta, yaitu koefisien yang menunjukkan kepekaan
keuntungan suatu saham terhadap perubahan keuntungan saham-saham secara
rata-rata di pasar. Untuk mencari beta suatu saham secara historis kita dapat
membuat regresi antara keuntungan historis suatu saham sebagai variabel
dependen dan keuntungan historis indeks pasar sebagai variabel independen.
2. Resiko Non-sistematis.
Resiko non-sistematis adalah resiko yang mempengaruhi asset tunggal atau
sejumlah kecil kelompok asset. Resiko ini dapat diantisipasi dengan melakukan
strategi diversifikasi dari total portofolio investasi. Contoh resiko nonsistematis adalah resiko bisnis. Seringkali investor menyusun portofolio
investasinya berdasarkan tren waktu tertentu dengan berburu saham-saham
unggulan yang sedang naik daun dan seolah-olah tak berhenti untuk menuju ke
atas, dan umumnya karena dalam industri yang sama atau merupakan industri
pendukung dari saham yang sedang melejit harganya. Akhirnya investor
tersebut menyusun portofolio layaknya seperti membuat grup paduan suara
dengan seluruh anggotanya memiliki satu tipe suara. Sehingga ketika siklus
bisnis berbalik arah, seluruh portofolionya ikut berbalik arah dan menimbulkan
shock atau kekagetan bagi investor. Akan tetapi, investor yang bijak akan
melakukan diversifikasi optimal atas asetnya.
7. Faktor Tunggal dan Banyak Faktor
Dalam CAPM, beta dari sebuah saham mengukur sensitivitas pergerakan
saham pada pasar saham. Di dalam model faktor tunggal pada APT, beta dari sebuah
saham

mengukur

sensitivitas

saham

terhadap

faktor

tersebut.

Jadi,

kita

menghubungkan pasar saham dengan faktor tunggal.Sebuah portofolio yang

terdiversifikasi tidak memiliki risiko non-sistematis karena risiko non-sistematis dari


saham tunggal sudah terdiversifikasi. Dengan memberikan asumsi bahwa jumlah
saham cukup sehingga pasar saham telah terdiversifikasi secara penuh dan dengan
mengasumsikan bahwa tidak ada saham yang menguasai pasar, portofolio ini telah
terdiversifikasi dan tidak memiliki risiko non-sistematis. Jadi dengan kata lain, pasar
saham memiliki korelasi sempurna dengan faktor tunggal, dengan kesimpulan bahwa
pasar saham adalah versi kenaikan atau penurunan dari faktor tersebut. Kita dapat
memperlakukan pasar saham sebagai faktor itu sendiri.
Pasar saham, sama seperti saham atau portofolio, berada pada security market
line. Ketika pasar saham menjadi faktor, maka beta dari pasar saham adalah 1.
Dengan pasar saham menjadi faktor, persamaan faktor tunggal adalah:

R M R F

=R F +

Suatu keunggulan APT dimana RAPT dapat mencakup beberapa faktor


sedangkan CAPM tidak mempedulikannya. Model banyak faktor lebih mencerminkan
realitas pasar. Kita harus mengetahui, bahwa faktor yang menjadi risiko nonsistematis sebuah saham kemungkinan tidak menjadi risiko non-sistemati saham
lainnya. Pada APT yang memiliki banyak faktor, hubungan antara risiko dan tingkat
pengembalian dapat digambarkan sebagai berikut:

R 1RF

R 2RF
Dalam persamaan ini, 1 adalah
beta sekuritas yang mewakili faktor

pertama, 2 dalah beta sekuritas


yang mewakili faktor kedua, dan seterusnya.
R 3R F
Persamaan ini menyatakan bahwa tingkatpengembalian yang diharapkan dari sebuah

sekuritas berkaitan dengan beta faktor


sekuritas tersebut. Setiap faktor mewakili risiko
R K R F
yang tidak bisa diverifikasikan. Semkin tinggi beta sebuah sekuritas pada sebuah

faktor, semakin tinggi risiko yang dimiliki


tersebut. Dengan rasional, tingkat
=Rsekuritas
F +

pengembalian yang diharapkan dari sebuah


R sekuritas harus mengkompensasi risiko
ini. Karena banyaknya faktor di sisi kanan persamaan tersebut, formulasi APT
memiliki potensi untuk mengukur tingkat pengembalian yang diharapkan lebih akurat
daripada CAPM. Tetapi, tidak mudah untuk menentukan faktor-faktor yang benar-

benar mempengaruhi sekuritas. Faktor-faktor yang ada dimasukkan dengan dasar akal
sehat dan kecocokkan pengguna. Faktor-faktor ini bukan dimasukkan berdasarkan
teori.