Anda di halaman 1dari 24

TUGAS

MATA KULIAH LISTRIK DAN MAGNET

Nama

: Retno Puji Lestari

NIM

: 14302241029

Kelas

: Pendidikan Fisika 1 / 2014

JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2016

TUGAS LISTRIK DAN MAGNETIS

Nama
NIM
Kelas
Pengampu

: Retno Puji Lestari


: 14302241029
: Pendidikan Fisika I / 2014
: Suyoso, M.Si

MAGNETISASI DAN KURVA HISTERISIS


A. JENIS MAGNET
Magnet ada dua jenis yaitu magnet alam dan magnet buatan.
1. MAGNET PERMANEN
Untuk bahan membentuk toroida yang dililiti kawat berarus i , telah kita definisikan
Ni
L

intensitas magnet H sebagai : H =


Disini N merupakan banyaknya lilitan kawat dan L adalah rata-rata keliling toroida.
Harga intensitas magnetik H ini berlaku baik untuk toroida berisi maupun kosong. Untuk
toroida nyatakan bahwa bila arus nol intensitas magnetik H dalam bahan juga sama
dengan nol. Bila bahan bersipat feromagnetik kurva B(H) mempunyai histerisis. Bila H
berubah menjadi nol, rapat fluk B mempunyai Br 0 , yaitu remensi yang menyatakan
kemagnetan remanen. Ini berlaku selama temperatur Curie Tc. Dalam keadaan ini dalam
hubungan feromagnetik tidak berlaku hubungan B = H. Sekarang marilah kita tinjau
bahan feromagnetik yang tidak berbentuk toroida, tetapi berbentuk batang silinder seperti
gambar 14.4

Gambar 14.4 (a)batang feromagnetik dililit kawat berarus (b) S adl permukaan Gauss

Dalam bahan berbentuk batang atau bentuk lain dengan batas ujung dan pangkal intensitas
magnet H tidaklah disebabkan oleh konduksi i saja.

Intensitas magnetik juga ditimbulkan oleh kutub magnet, yang terjadi karena adanya
komponen vektor magnetasi

tegak lurus pada permukaan batas bahan. Marilah kita bahas

lebih jauh kita mulai dari hukum gauss untuk medan induksi magnet

yaitu :


B
.d 0
s

..............................................................................................( 6 )
dimana S yaitu suatu permukaan tertutup. Integral diatas sama dgn nol karena garis induksi
haruslah berbentuk garis lengkungan tertutup. Selanjutnya hal ini disebabkan karena sumber
induksi magnet yang paling sederhana adalah cincin arus atau dipol magnet. Hingga kini orang
belum menemukan muatan magnet atau monopol magnet.

Kita gunakan hubungan antara hubungan magnet

yaitu :

+ o

, intensitas magnet

dan magnetisitas

Kita ambil integral permukaan tertutup terhadap permukaan Gauss pada permukaan gambar
14.4 (b) permukaan Gauss kita ambil berupa kotak silinder S :

B
.dA


H
.dA


M
.dA 0

sama dengan persamaan 6 selanjutnya ini berarti :



H
.dA


M
.dA

...........................................................................................( 7 )

Bila kita gunakan permukaan gauss seperti pada gambar 14.4 (b) maka :

M .dA M .dA M .dA s M .dA


s

S1

se lub ung
selinder

M .dA

se lubung

akan tetapi

karena

M dA

pada selubung selinder dan


sebab magnetisasi

s M .dA

s M .dA

= 0 diluar bahan, selanjutnya

=0

s M .dA
2

=+

cos

M .dA
s
2

cos ( 180o) = - MA

persamaan (7) menjadi



M
.dA
s

= - MA...............................................................................................................( 8 )
sekarang marilah kita perhatikan batang magnet sebagaimana di lukiskan pada gambar

14.4 . Momen magnet total batang haruslah :

Pm =

MdV MV MA

Gambar 14.5 Dipol magnet dapat kita bayangkan sbg p =

qm dgn qm kuat kutub

Momen dipol ini dapat di bayangkan seolah olah di hasilkan oleh kutub + q m dan qm

padas kedua ujung batang. Dipol magnet yang dihasilkan ialah P m = qm nyata bahwa kuat

M
.dA
s

kutub dari persamaan ( 8 )

qm = MA = -

Dalam satuan MKS , satuan kutub haruslah sama dengan magnetisasi kali satuan luas.
(Am-1)(m2) = Am

Jadi satuan kutub haruslah :

harap diingat bahwa qm bukanlah muatan magnet yg sebenarnya atau monopol magnet,
karena qm tak lepas dari magnet. Selanjutnya persamaan 7 menjadi :

H
.dA
S

= qm............................................................................................( 9 )
Inilah bentuk persamaan gauss untuk medan intensitas magnet H bila ada kuat kutub.
Intensitas magnet H mempunyai 2 komponen , komponen yg ditumbulkan oleh arus i pada
lilitan kita sebut HO dan ditimbulkan oleh kuat kutub qm kita sebut

Jadi

H H

Tetapi

H
0

H
1

H
1

yang ditimbulkan oleh arus bebas i membentuk garis gaya tertutup sehingga

Ho dA 0
S

H
S

Hal ini berarti persamaan (9) dapat ditulis

dA

qm

Untuk magnet permanen tak ada arus bebas i satu-satunya medan

disebabkan oleh kuat

M .dA
S

kutub qm . selanjutnya kuat kutub qm = -

Ditimbulkan oleh magnetisasi karena induksi magnet permanen Br karena

B
r

= o

Hal ini bila kita tahu remenensi Br suatu bahan kita dapat menghitung kuat kutub q m . Bila

H)
kuat kutub berupa titik garis gaya magnet ( utk medan vekto

haruslah radial dan

homogen. Dgn hukum gauss persamaan (9) dapatlah menjadi

H
S dA
H
1

H
1

( 4r2 ) = qm atau
qm

4 2 r

akibatnya dalam ruang disekitar kutub akan timbul medan induksi magnet dgn harga

H
1

= o

qm

4 2 r

Bila ada magnet permanen disekitarnya dengan kuat kutub qm. Gaya yg bekerja pada qm
haruslah sama dengan

qm

B
=

q m .q m '

4 2 r

nyata bahwa bila kita berbicara dgn pengertian kuat kutub kita dapat menggunakan hukum
coloumb,.seperti pada muatan listrik. Kuat kutub untuk kutub utara kita nyatakan dgn
positif dan kutub selatan dgn tanda negatif.

2. MAGNET BUATAN

Ada berbagai cara untuk membuat magnet, antara lain:


a. dengan cara menggosokkan magnet tetap,
b. dengan aliran arus listrik,
c. dengan induksi (influensi atau imbas).
a. Dengan Cara Menggosokkan Magnet Tetap
Benda-benda kecil, misalnya jarum atau paku apabila kita dekatkan dengan sebatang besi
atau sebatang baja ternyata benda-benda kecil tersebut tidak dapat ditarik oleh batang besi atau

baja. Hal ini menunjukkan bahwa besi atau baja tidak bersifat sebagai magnet. Besi atau baja
dapat dibuat magnet antara lain dengan cara menggosokkan salah satu ujung magnet tetap di
sepanjang batang besi, atau baja ke satu arah secara berulang-ulang.

Gambar: Cara membuat magnet dengan menggosok dengan megnet tetap

Secara fisika bahwa benda-benda yang bisa dibuat magnet adalah benda atau material
yang sudah mempunyai sifat kemagnetan yang terdiri dari domain-domain atau magnet-magnet
kecil yang disebut magnet elementer. Saat terjadi penggosokan dengan arah yang teratur
mengakibatkan adanya pengaruh medan magnet dari magnet permanen yang dapat digunakan
untuk menyearahkan posisi domain. Dengan posisi yang searah tentu mengakibatkan adanya
gaya yang ditimbulkan oleh domain tersebut sehingga menjadikan benda bermagnet.
b. Dengan Aliran Arus Listrik
Pada Kegiatan di bawah ini menunjukkan bahwa paku besar yang dililiti oleh sebuah
kumparan setelah dihubungkan dengan baterai kemudian dekatkan dengan paku-paku kecil,
ternyata paku kecil akan menempel pada paku besar tersebut.

Gambar: Cara membuat magnet dengan aliran arus listrik

Apabila baterai atau sumber arus listrik searah (DC) diganti dengan sumber arus listrik
bolak-balik (AC) bertegangan rendah maka paku besar tetap bersifat sebagai magnet. Namun
apabila sebuah magnet dialiri arus listrik bolak-balik (AC) dengan tegangan normal, maka sifat
kemagnetannya dapat hilang.Jika arus listrik diputus maka pakupaku kecil yang menempel pada
paku besar dalam hitungan detik akan berjatuhan atau lepas. Berarti paku besar sudah hilang
kemagnetannya.
Jadi, sifat kemagnetan paku besar hanya terjadi selama ada aliran listrik. Dikatakan
bahwa paku besi menjadi magnet sementara. Seandainya paku besi diganti dengan logam baja,
maka setelah arus listrik diputus, logam tetap bersifat sebagai magnet. Karena baja dapat dibuat

magnet yang bersifat permanen (tetap). Secara fisika dapat dijelaskan bahwa medan listrik yang
ditimbulkan oleh arus listrik akan mempengaruhi posisi domain yang mengakibatkan posisi yang
tidak teratur berubah menjadi teratur atau searah. Dengan posisi searah akan mempunyai
kekuatan yang bersifat magnet.
Cara menentukan kutub magnet
Bagaimana cara menentukan kutub utara atau selatan dari magnet buatan ini, kita bisa
melakukan dengan cara, misalkan sebatang besi atau baja yang telah dililiti kawat
berisolasi/kumparan (kawat transformator) dan dihubungkan dengan baterai telah menjadi
magnet. Maka untuk menentukan kutub-kutub magnetnya dapat dilihat pada Gambar di bawah
ini.

Gambar: Cara menentukan arah kutub magnet

Untuk menentukan arah kutub-kutub magnet digunakan aturan tangan kanan


menggenggam. Jari-jari yang menggenggam menunjukkan arah arus listrik. Sedangkan ibu jari
menunjuk kutub utara. Jika arah arus listrik dibalik maka arah kutub juga akan sebaliknya,
seperti Gambar di atas.
c. Dengan Induksi (Influensi atau Imbas)
Sebuah paku besar didekatkan dengan sebuah magnet yang ditaruh pada statif maka paku
akan menempel pada magnet. Paku besar yang telah menempel pada magnet jika didekati pakupaku kecil, ternyata paku-paku kecil menempel pada paku besar.

Gambar: Cara membuat magnet dengan induksi


Hal ini disebabkan oleh paku besar yang berada di dalam medan magnet terkena induksi
sehingga bersifat sebagai magnet. Secara konsep sama dengan pembuatan magnet cara digosok
atau dililiti kumparan yang dialiri listrik. Akibat dari pengaruh medan magnet sehingga paku
yang menempel pada magnet permanen memungkinkan posisi domaindomainnya menjadi teratur
dan bersifat sebagai benda magnet.

Gambar: Macam-macam bentuk magnet


Magnet buatan memiliki beberapa bentuk, di antaranya: berbentuk batang persegi (magnet
batang), berbentuk jarum (magnet jarum) berbentuk silinder (magnet silinder) dan berbentuk U
dan berbentuk tapak kuda.

B. BAHAN MAGNETIK

Berdasarkan sifat medan magnet atomis, bahan magnetik dibagi menjadi tiga
golongan, yaitu diamagnetik, paramagnetik dan ferromagnetik, anti ferromagnetik, dan
ferrimagnetik (ferri).

Gambar 2.6 Susunan dwikutub bahan-bahan magnetik


a. Paramagnetik b. Ferromagnetik c. Antiferromagnetik d. Ferrimagnetik

Berikut akan djelaskan tentang kelima sifat dari kemagnetan tersebut :


a. Bahan Diamagnetik
Bahan diamagnetik adalah bahan yang resultan medan magnet atomis
masingmasing atom/ molekulya adalah nol, tetapi medan magnet akibat orbit dan spin
elektronnya tidak nol (Halliday & Resnick, 1989). Bahan diamagnetik tidak
mempunyai momen dipol magnet permanen. Jika bahan diamagnetik diberi medan
magnet luar, maka elektron-elektron dalam atom akan mengubah gerakannya
sedemikian rupa sehingga menghasilkan resultan medan magnet atomis yang arahnya
berlawanan dengan medan magnet luar tersebut.
Sifat diamagnetik bahan ditimbulkan oleh gerak orbital elektron. Karena atom
mempunyai elektron orbital, maka semua bahan bersifat diamagnetik. Suatu bahan
dapat bersifat magnet apabila susunan atom dalam bahan tersebut mempunyai spin
elektron yang tidak berpasangan. Dalam bahan diamagnetik hampir semua spin
elektron berpasangan, akibatnya bahan ini tidak menarik garis gaya. Permeabilitas
bahan ini: <0 dengan suseptibilitas magnetik bahan: < 0. Nilai bahan diamagnetik
mempunyai orde -10-5m3/kg. Contoh bahan diamagnetik yaitu: bismut, perak, emas,
tembaga dan seng.
Bahan diagmanetik memiliki negatif, kerentanan lemah untuk medan magnet.
Bahan Diamagnetic sedikit ditolak oleh medan magnet dan materi tidak
mempertahankan sifat magnetik ketika bidang eksternal dihapus. Dalam bahan
diamagnetic semua elektron dipasangkan sehingga tidak ada magnet permanen saat
bersih per atom. Sifat Diamagnetic timbul dari penataan kembali dari orbit elektron
dibawah pengaruh medan magnet luar. Sebagian besar unsur dalam tabel periodik,
termasuk tembaga, perak, dan emas, adalah diamagnetik.
Diamagnetisme

adalah

sifat

suatu

benda

untuk

menciptakan

suatu

medanmagnet ketika dikenai medan magnet. Sifat ini menyebabkan efek tolak
menolak.

Diamagnetik adalah salah satu bentuk magnet yang cukup lemah, dengan
pengecualian superkonduktor yang memiliki kekuatan magnet yang kuat. Semua
material menunjukkan peristiwa diamagnetik ketika berada dalam medan magnet. Oleh
karena itu, diamagnetik adalah peristiwa yang umum terjadi karena pasangan elektron,
termasuk elektron inti di atom, selalu menghasilkan peristiwa diamagnetik yang lemah.
Namun demikian, kekuatan magnet material diamagnetik jauh lebih lemah
dibandingkan kekuatan magnet material feromagnetik ataupun paramagnetik. Material
yang disebut diamagnetik umumnya berupa benda yang disebut 'nonmagnetik',
termasuk di antaranya air, kayu, senyawa organik seperti minyak bumi dan beberapa
jenis plastik , serta beberapa logam seperti tembaga, merkuri ,emas dan bismut.
Superkonduktor adalah contoh diamagnetik sempurna.
Ciri-ciri dari bahan diamagnetic adalah:

Bahan yang resultan medan magnet atomis masing-masing atom/molekulnya adalah nol.

Jika solenoida dimasukkan bahan ini, induksi magnetik yang timbul lebih kecil.

Permeabilitas bahan ini: < 0. Suseptibilitas magnetik bahan: Xm<0 Contoh beberapa bahan
diamagnetik:
Bahan

Bismut

-16.4 x 10-5

Tembaga

-0.98 x 10-5

Intan

-2.2 x 10-5

Air raksa (Hg)

-2.8 x 10-5

Perak

-2.4 x 10-5

Emas

-3.5 x 10-5

Hidrogen (1 atm)

-0.22 x 10-8

Nitrogen (1 atm)

-0.67 x 10-8

Karbondioksida (1 atm)

-1.19 x 10-8

Tabel 2.1 contoh diamagnetic


b. Bahan Paramagnetik

Bahan paramagnetik adalah bahan yang resultan medan magnet atomis masing-masing
atom/molekulnya tidak nol, tetapi resultan medan magnet atomis total seluruh
atom/molekul dalam bahan nol, hal ini disebabkan karena gerakan atom/molekul acak,
sehingga resultan medan magnet atomis masing-masing atom saling meniadakan
(Halliday & Resnick, 1989). Di bawah pengaruh medan eksternal, mereka mensejajarkan
diri karena torsi yang dihasilkan. Sifat paramagnetik ditimbulkan oleh momen magnetik
spin yang menjadi terarah oleh medan magnet luar.

Gambar 2.7 Arah domain-domain dalam bahan paramagnetik sebelum


diberi medan magnet luar
Bahan ini jika diberi medan magnet luar, elektron-elektronnya akan berusaha
sedemikian rupa sehingga resultan medan magnet atomisnya searah dengan medan magnet
luar. Sifat paramagnetik ditimbulkan oleh momen magnetik spin yang menjadi terarah oleh
medan magnet luar.

Gambar 2.8 Arah domain dalam bahan paramagnetik setelah diberi medan magnet luar

Pada bahan ini, efek diamagnetik (efek timbulnya medan magnet yang melawan
medan magnet penyebabnya) dapat timbul, tetapi pengaruhnya sangat kecil.
Dalam bahan ini hanya sedikit spin elektron yang tidak berpasangan, sehingga
bahan ini sedikit menarik garis-garis gaya. Dalam bahan paramagnetik, medan B yang
dihasilkan akan lebih besar dibanding dengan nilainya dalam hampa udara.
Suseptibilitas magnet dari bahan paramagnetik adalah positif dan berada dalam rentang
10-5 sampai 10-3 m3/Kg, sedangkan permeabilitasnya adalah >0. Contoh bahan
paramagnetik : alumunium, magnesium dan wolfram.

Bahan paramagnetik ada yang positif, kerentanan kecil untuk medan magnet.
Bahan-bahan ini sedikit tertarik oleh medan magnet dan materi yang tidak
mempertahankan sifat magnetik ketika bidang eksternal dihapus. sifat paramagnetik
adalah karena adanya beberapa elektron tidak berpasangan, dan dari penataan kembali
elektron orbit disebabkan oleh medan magnet eksternal. bahan paramagnetik termasuk
Magnesium, molybdenum, lithium, dan tantalum.
Paramagnetisme adalah suatu bentuk magnetisme yang hanya terjadi karena
adanya medan magnet eksternal. Material paramagnetik tertarik oleh medan magnet,
dan karenanya memiliki permeabilitas magnetis relatif lebih besar dari satu (atau,
dengan kata lain, suseptibilitas magnetik positif). Meskipun demikian, tidak seperti
ferromagnet yang juga tertarik oleh medan magnet, paramagnet tidak mempertahankan
magnetismenya sewaktu medan magnet eksternal tak lagi diterapkan.
Ciri-ciri dari bahan paramagnetik adalah:

Bahan yang resultan medan magnet atomis masing-masing atom/molekulnya adalah tidak nol.

Jika solenoida dimasuki bahan ini akan dihasilkan induksi magnetik yang lebih besar.

Permeabilitas bahan paramagnetik adalah >0, dan suseptibilitas magnetik bahannya Xm>0
Atom-atom dalam bahan paramagnetik memiliki momen dipol magnet permanen,
namun arahnya dalam bahan bersifat acah, jika tak ada medan magnet luar, sehingga:

(2.5)
Jika diberikan medan magnet luar, sebaguan dari dipol magnetnya akan terorientasi,
sehingga magnetisasinya menjadi:

(2.6)
adalah vektor satuan dari medan magnet dan N adalah jumlah dipol per m3.
Suseptibilitas magnetnya :

(2.7)

Gambar 2.9 Arah orientasi momen dipol magnet bahan (a) Tanpa medan magnet luar (b)
Dengan magnet luar
Contoh :
Bahan

Aluminium

2.1 x 10-5

GdCl3

603 x 10-5

Magnesium

1.2 x 10-5

Natrium

0.84 x 10-5

Titan

18 x 10-5

Tungsen

7.6 x 10-5

Oksigen (1 atm)

193.5 x 10-8

c. Bahan Ferromagnetik
Bahan ferromagnetik mempunyai resultan medan magnet atomis besar, hal ini
disebabkan oleh momen magnetik spin elektron. Pada bahan ini banyak spin elektron
yang tidak berpasangan, masing-masing spin elektron yang tidak berpasangan ini akan
menimbulkan medan magnetik, sehingga medan magnet total yang dihasilkan oleh satu
atom menjadi lebih besar (Halliday & Resnick, 1989). Medan magnet dari masingmasing atom dalam bahan ferromagnetik sangat kuat, sehingga interaksi diantara atomatom tetangganya menyebabkan sebagian besar atom akan mensejajarkan diri
membentuk kelompok-kelompok, kelompok inilah yang dikenal dengan domain.

Domain-domain dalam bahan ferromagnetik, dalam ketiadaan medan eksternal,


momen magnet dalam tiap domain akan paralel, tetapi domaindomain diorientasikan
secara acak, dan yang lain akan terdistorsi karena pengaruh medan eksternal. Domain
dengan momen magnet paralel terhadap medan eksternal akan mengembang, sementara
yang lain mengerut. Semua domain akan menyebariskan diri dengan medan eksternal
pada titik saturasi, artinya bahwa setelah seluruh domain sudah terarahkan,
penambahan medan magnet luar tidak memberi pengaruh apa-apa karena tidak ada lagi
domain yang perlu disearahkan, keadaan ini disebut dengan penjenuhan (saturasi).
Bahan ini juga mempunyai sifat remanensi, artinya bahwa setelah medan magnet luar
dihilangkan, akan tetap memiliki medan magnet, karena itu bahan ini sangat baik
sebagai sumber magnet permanen. Permeabilitas bahan: 0 dengan suseptibilitas
bahan : 0. Contoh bahan ferromagnetik : besi, baja. Sifat kemagnetan bahan
ferromagnetik akan hilang pada temperatur Currie. Temperatur Currie untuk besi lemah
adalah 770oC dan untuk baja adalah 1043oC. Sifat bahan ferromagnetik biasanya
terdapat dalam bahan ferit. Ferit merupakan bahan dasar magnet permanen yang
banyak digunakan dalam industri-industri elektronika, seperti dalam loudspeaker,
motor-motor listrik, dinamo dan KWH-meter.
Bahan ferromagnetik ada yang positif, kerentanan besar untuk medan magnet luar.
Mereka menunjukkan daya tarik yang kuat untuk medan magnet dan mampu
mempertahankan sifat magnetik mereka setelah bidang eksternal telah dihapus bahan.
Ferromagnetik memiliki elektron tidak berpasangan sehingga atom mereka memiliki
momen magnet bersih. Mereka mendapatkan magnet yang kuat sifat mereka karena
keberadaan domain magnetik. Dalam domain ini, sejumlah besar di saat-saat atom (10 12
sampai 1015) adalah sejajar paralel sehingga gaya magnet dalam domain yang kuat.
Ketika bahan feromagnetik dalam keadaan unmagnitized, wilayah hampir secara acak
terorganisir dan medan magnet bersih untuk bagian yang secara keseluruhan adalah no.
Ketika kekuatan magnetizing diberikan, domain menjadi selaras untuk menghasilkan
medan magnet yang kuat dalam bagian. Besi, nikel, dan kobalt adalah contoh bahan
feromagnetik. Komponen dengan materi-materi ini biasanya diperiksa dengan
menggunakan metode partikel magnetik.
Ferromagnetisme adalah sebuah fenomena dimana sebuah material dapat
mengalami magnetisasi secara spontan, dan merupakan satu dari bentuk kemagnetan

yang paling kuat. Fenomena inilah yang dapat menjelaskan kelakuan magnet yang kita
jumpai sehari-hari. Ferromagnetisme dan ferromagnetisme merupakan dasar untuk
menjelaskan fenomena magnet permanen.
Bahan-bahan ferromagnetik dapat dikategorikan menjadi dua yaitu:
1. Bahan yang mudah dijadikan magnet yang lazim disebut bahan magnetik lunak.
Bahan ini banyak digunakan untuk inti transformator, inti motor atau generator,
relay, peralatan sonar atau radar.
2. Bahan ferromagnetik yang sulit dijadikan magnet tetapi setelah menjadi magnet
tidak mudah kembali seperti semula disebut bahan magnetik keras, bahan ini
digunakan untuk pabrikasi magnet permanen.
Ciri-ciri bahan ferromagnetik adalah:

Bahan yang mempunyai resultan medan magnetis atomi besar.

Tetap bersifat magnetik sangat baik sebagai magnet permanen

Jika solenoid diisi bahan ini akan dihasilkan induksi magnetic sangat besar (bias ribuan kali).
Permeabilitas bahan ini: > 0 Contoh: besi, baja, besisilikon, nikel, kobalt.
Pada saat sebuah bahan ferromagnetik dimagnetisasi, umumnya secara fisik akan terjadi
perubahan dimensi. Hal atau gejala seperti ini disebut magnetostriksi. Terdapat tiga jenis
magnetostriksi, yaitu:

a. Magnetostriksi longitudinal, yaitu perubahan panjang searah dengan magnetisasi. Perubahan ini
dapat bertambah panjang atau berkurang.
b. Magnetostriksi transversal, yaitu perubahan dimensi tegak lurus dengan arah magnetisasi.
c. Magnetostriksi volume, yaitu perubahan volume sebagai akibat dari kedua efek diatas.
Perubahan panjang atau () searah induksi magnetisasi disebut Efek joule.
Magnetostriksi joule () adalah perbandingan antara perubahan panjang () dengan
panjang semula (). Umumnya harga tidak lebih dari
30.10-6. Magnetostriksi beberapa bahan ditunjukan pada gambar berikut:

Gambar 2.10 Magnetostriksi joule sebagai fungsi dari medan magnet (H)

Perubahan searah panjang juga menyebabkan perubahan permeabilitas kearah


perubahan panjang tersebut. Hal ini disebut Efek Villari. Secara umum dapat dikatakan
bahwa permeabilitas akan naik karena penurunan perubahan atau kenaikan tegangan
tarik. Sebaliknya untuk bahan dengan negatif, tekanan yang digunakan akan
mengurangi permeabilitas. Secara praktis pengaruh dari penggunaan magnetostriksi
adalah sangat terbatas. Beberapa pemakaian yang memperhatikan magnetostriksi antara
lain : Oscilator frekuensi tinggi dan Generator super sound, Proyektor suara bawah air,
detektor-detektor suara.
Karena permeabilitas adalah berhubungan dengan magnetostriksi, maka
untukpenggunaan bahan-bahan yang permeabilitasnya tinggi harus diusahakan
megnetostriksinya serendah mungkin.

Bahan

Bismut

-16.4 x 10-5

Tembaga

-0.98 x 10-5

Intan

-2.2 x 10-5

Air raksa (Hg)

-2.8 x 10-5

Perak

-2.4 x 10-5

Emas

-3.5 x 10-5

Hidrogen (1 atm)

-0.22 x 10-8

Nitrogen (1 atm)

-0.67 x 10-8

Karbondioksida (1 atm)

-1.19 x 10-8

Momen dipol magnetik atom pada material ferromagnetik akan terorientasi pada arah tertentu
yang paralel dalam daerah dengan volume yang kecil yang disebut domain magnetik.

Gambar 2.10Domain ferromagnetic


dan

Proses magnetisasi material ferromagnetik

d. Bahan Anti Ferromagnetik


Teori anti ferromagnetik dikembangkan oleh Neel seorang ilmuwan Perancis.
Bahan anti ferromagnetik mempunyai suscepbilitas positif yang kecil pada segala suhu,
tetapi perubahan susepbilitas karena suhu adalah keadaan yang sangat khusus. Susunan
dwikutubnya adalah sejajar tetapi berlawanan arah. Bahan anti ferromagnetik antara
lain: MnO2, MnO, FeO, dan CoO.
Bahan antiferromagnetik dapat digambarkan oleh struktur Kristal dengan kisi-kisi
yang diisi ole dua jenis atom dengan momen magnet yang berlawanan arah (antiparallel). Jika tidak ada medan luar, besarnya momen magnet yang anti-parallel
seimbang sehingga magnetisasi total sama dengan nol (M=0).

Gambar 2.11

e.

Bahan Ferrimagnetik

Bahan ferrimagnetik memiliki resistivitas yang jauh lebih tinggi dibanding bahan
ferromagnet. Karena itu ferrimagnet (ferrit) layak digunakan pada peralatan yang
menggunakan frekuensi tinggi disamping arus-eddy yang terjadi padanya kecil. Rumus
bahan ferrimagnetik adalah MO.Fe2O3 (M adalah logam bervalensi 2 yaitu Mn, Mg, Ni,
Cu, Co, Zn, Cd). Contoh: ferrit, seng, nikel rumusnya adalah NiO, ZnO, Fe 2O3
dimana +=1. Dalam bahan ferrimagnetik, momen magnet masing-masing atom tidak
sama, sehingga memiliki magnetisasi spontan M, walaupun tanpa adanya medan
magnet luar.

Gambar 2.12

Jika dipanaskan diatas temperatur kritis (Temperatur Neel, TN), bahan


antiferromagnetik dan bahan ferrimagnetik akan berubah menjadi bahan paramagnetik.
Suseptibilitas digambarkan dengan:
(2.8)
Dimana : : temperatur Nell paramagnetik
konstanta Curie
Bahan

()

()

FeCl2

24

48

MnF2

67

82

FeO

195

570

CoO

291

330

NiO

520

Jika dibandingkan dengan bahan ferromagnetik, maka jelas bahwa TN < Tc. Kurva
antiferromagnetik :

Gambar 2.1
3

Pada < bahan antiferromagnetik membentuk suatu struktur domain-domain


momen magnet, sehingga suseptibilitasnya bergantung pada sejajar atau tegak lurus
medan magnet luar.
f.

Bahan NonMagnetik
Bahan nonmagnetik atau yang biasa disebut dengan diamagnetik yaitu bahan

yang tidak dapat ditarik oleh magnet. Contohnya: tembaga, emas, perak, seng.
C. MAGNETISASI

Gambar 2.14

Magnetisasi adalah sebuah proses ketika sebuah materi yang ditempatkan dalam suatu
bidang magnetik akan menjadi magnet. Proses ini ditentukan oleh jenis bahan yang disesuaikan
dengan kekuatan medan magnet. Pada sebagian besar bahan, proses magnetisasi sangat kecil.
Bahan yang menghasilkan magnetisasi kuat sekalipun berada di medan magnet yang lemah
disebut feromagnetik.
Bahan feromagnetik terdiri dari dua bidang kecil yaitu kompleks weiss dan bidangbidang elementer. Bahan tersebut akan mengalami magnetisasi tinggi karena sumbu-sumbu
perputaran elektronnya sejajar. Faktor lain yang melemahkan magnetisasi adalah
pengarahan kompleks weiss pada bahan yang sembarangan. Misalnya terjadi pada sebuah
batang besi yang dimagnetisasi namun arah kompleks weiss sembarangan maka besi
tersebut tidak akan menjadi magnet atau tidak mengalami magnetisasi. Pengarahan
kompleks weiss yang benar adalah terarah sejajar dengan medan bahan yang akan

dimagnetisasi. Magnetisasi akan terjadi jika semua bidang bahan sudah terbentuk dan
bahan tersebut sudah dikatakan jenuh.
Semua bahan adalah memungkinkan menghasilkan medan magnetik, dari itu secara
eksperimental untuk menimbulkan momem magnetik. Besar momen ini per unit volume
disebut magnetisasi dari madium (M) dengan satuan C/m.dt atau A/m.
Induksi magnetik (rapat fluks) adalah penjumlahan dari effek pada keadaan fakum suatu
bahan, besar rapat fluks (B) menjadi:

Gambar 2.15
= = 0(+)

(2.9)

Untuk non-ferro/material non-ferrimagnetik:


0 0, 0
(2.10)
Untuk ferro/material ferrimagnetik:
0 0, 0
(2.11)
= 0.+0.
(2.12)
= (1). = .
(2.13)
Xm adalah suseptifitas magnetik. Magnetisasi (M) dari bahan dapat diekspresikan
sebagai momen dwikutub magnetik (pm) dengan satuan C.m2/ dt atau A/m2. Dimana:
= .

(2.14) n adalah jumlah dwikutub magnetic per unit volume.

Berdasarkan susceptibilitasnya dapat dibedakan sifat kemagnetan suatu bahan yaitu untuk
Xm negatif 10-5adalah diamagnetik, untuk Xm kecil dan positif 10-3 pada suhu kamar
(karena Xm berbanding terbalik dengan suhu) adalah paramagnetik, untuk Xm yang besar
adalah ferromagnetik. Permeabilitas relatif:
= 0

(2.15)

D. KURVA HISTERISIS
Bahan magnetik yaitu bahan feromagnetik, magnetisasi M tidaklah berbanding
lurus dgn intensitas magnet H. Hal ini tampak dari kenyataan bahwa harga suseptibilitas
magnet Xm bergantung pada intensitas magnet H. Bentuk umum kurva induksi magnet B
sbg fungsi intensitas magnet H terlihat pada gambar 14.1

Gambar 14.1 Kurva induksi normal


Kurva B(H) seperti ini disebut kurva induksi normal. Tampaklah kurva tidak berbentuk
garis lurus, sehingga dikatakan hubungan B dan H tak linier. Setelah harga intensitas
magnetik tertentu. Tampak pula harga induksi magnet tak banyak berubah lagi. Hal ini
disebut saturasi dan harga induksi magnet untuk keadaan saturasi Bs atau induksi magnet
saturasi. Bahan yg mencapai saturasi utk H harga yg rendah disebut magnet lunak kurva (a).
Bahan C yg saturasi terjadi pada harga yang tinggi disebut magnet keras.
Bila setelah mencapai saturasi, intensitas magnet H diperkecil, ternyata harga B tak
terletak pada kurva semula. Ini ditunjukkan pada gb.14.1. Pada harga H = 0. Induksi magnet
atau rapat fluks B mempunyai harga Br = 0 yaitu remenensi, yg menyatakan kemagnetan
remanen. Ini berlaku selama emperatur ada dibawah temperatur curie Tc, jadi bila arus pada
toroida dimatikan (I=0) dalam bahan masih tersimpan fluks induksi harga Br ini disebut
induksi magnet remanen atau remanensi bahan.

Gambar 14.2 (a) bila harga H diperkecil harga B adalah pada kurva (f)

(b) kurva histeresis bila sampai pada H=H1.H diperkecil harga B pada kurva (g)
dan Br mencapai harg Br (i) pada H=0
Bila mencapai nol harga intensitas magnet H dibuat negatif (dgn membalik arah arus
lilitan ), kurva B(H) akan memotong sumbu H pada harga Hc. Intensitas magnet Hc inilah
yg diperlukan untuk membuat agar rapat fluks B=0 atau menghilangkan fluks dalam bahan .
Intensitas magnet Hc disebut koersivitas bahan.Bila selanjutnya harga H positif hingga
saturasi lagi, kurva B(H) membentuk suatu lengkungan tertutup yg disebut kurva histeris.
Pemakaian magnet permanen kini sangat luas konsumsi bahan magnet permanen terbesar
ialah pada pita magnetik baik utk konsumer musik maupun utk komputer. Dalam komputer
juga digunakan lapisan magnetik pada piringan atau silinder, guna menyimpan memori cadangan.
Bahan magnetik lunak dgn koersivitas Hc rendah dan Br tinggi mempunyai permeabilitas
maksimum yang tinggi. Bahan seperti ini terutama digunakan untuk memperbesar fluks. Dgn arus
yg tak terlalu besar, dapat dihasilkan fluks yg besar. Bahan seperti ini digunakan untuk elektro
magnet, guna keperluan generator listrik, motor llistrik, tranformator dan induktor.
Tabel 14.1 BAHAN MAGNETIK LUNAK
Komposisi (%)
NAMA

Permeabilitas

Koersifita

maksimum

s Hc (Oe)

Bs (gauss)

Tc

Ni

Fe

Lain

- Besi

100

5000

1,0

21.500

770

- Besi Silikon

96

4 Si

7000

0,5

19.700

696

97

3 Si

40000

0,1

20.000

746

77

16

6Cu, 2Cu

100.000

0,05

6500

79

16

5 Ma

1.000.000

0,002

7900

Besi

(oC)

silikon

(grain orientet)
- Mumetal
- Supermalloy

1 oerstedt = 1 Oe = 103 / 4
Am-1
1 gauss = 1 G = 10-2

Telsa

Tabel 14.2 BAHAN MAGNET KERAS

400

Nama

Komposisi (% berat)

Remanensi Br (gauss)

Koersivitas Hc (Oe)

- Baja 1 C

1% C1, 99% Fe

900

51

- Alnico 5

8% Al, 15% Ni, 24% Co, 3% Cu, 50%

12000

720

7100

2000

300

400

Fe

- Alnico 8

8% Al, 14% Ni, 38% Co, 3% Cu, 29%


Fe, 8% Ti
bahan magnet untuk pita magnetik

- Fe2 O3
- Cr O2 (Kromium
dioksida)

bahan magnet untuk pita magnetik