Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya
dari lingkungan hidup manusia. Kulit merupakan organ yang esensial dan
vital serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Salah satu kelainan
kulit yang dapat menyebabkan terganggunya fungsi kulit adalah
eritroderma.1
Eritroderma ialah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema
universalis (90%-100%), biasanya disertai skuama. Pada sebagian kasus,
skuama tidak selalu ditemukan, misalnya pada eritroderma yang disebabkan
oleh alergi obat secara sistemik, pada mulanya tidak disertai skuama, baru
kemudian pada stadium penyembuhan timbul skuama. Pada eritroderma yang
kronik, eritema tidak begitu jelas, karena bercampur dengan hiperpigmentasi.
1

Pada beberapa laporan kasus didapatkan insiden pada laki-laki lebih


besar daripada perempuan, dengan proporsi 2:1 sampai 4:1, dan usia ratarata 4161 tahun. Insidensi eritroderma di Amerika Serikat bervariasi, antara
0,9 sampai 71 per 10.000 penderita. Lebih dari 50% kasus eritroderma
dilatarbelakangi oleh penyakit yang mendasarinya. 2
Eritroderma yang disebabkan karena perluasan penyakit yang
mendasarinya merupakan kasus terbanyak. Menurut penelitian, penyebab
terbanyak adalah dermatitis yaitu dermatitis atopic (9%), dermatitis kontak
iritan (6%), dan dermatitis seboroik (4%). Selain dicetuskan oleh penyakit,
eritroderma juga ditimbulkan akibat reaksi alergi terhadap obat. Berbagai

obat dapat menyebabkan eritroderma antara lain seperti golongan obat anti
diabetes (sulfonylurea, klorpropamid), obat jantung (amiodaron, captopril,
nifedipin), antibiotik (streptomisin, sefalosporin, penisilin, trimetroprim),
dan obat-obatan psikiatrik (klorpromazin, barbiturate, fenotiazid). 3
Ge!ala klinis yang dimunculkan pada ertiroderma dapat berbeda-beda
berdasarkan etiologi yang mendasari terjadinya eritroderma. Namun secara
garis besar memiliki gejala umum berupa pasien sering mengeluh
kedinginan. Kedinginan terjadi karena vasodilatasi pembuluh darah kulit
sehingga menyebabkan kehilangan panas tubuh dan rusaknya pengendalian
regulasi suhu tubuh yang menghilang, sehingga sebagai kompensasi,
sekujur tubuh pasien menggigil untuk menghasilkan panas. 2
Kelainan kulit yang tampak secara umumnya timbul bercak eritema
yang dapat meluas ke seluruh tubuh dalam waktu 12-24 jam. Deskuamasi
yang difus dimulai dari daerah lipatan lalu menyebar ke seluruh tubuh.
Bila kulit kepala sudah terkena, dapat terjadi alopesia, perubahan kuku,
dan kuku dapat terlepas. Dapat teriadi limfadenopati dan hepatomegali.
Skuama timbul setelah 2-6 hari, sering mulai di daerah lipatan. 2
Terapi yang optimal untuk eritrodema tergantung pada penegakan
penyebab penyakit. Pada eritroderma karena alergi obat, penghentian dari
obat-obat yang menyebabkan alergi atau berpotensi menyebabkan alergi
memberikan hasil yang baik. Pada eritrodema karena penyakit kulit,
penyakit yang mendasari harus diatasi. 2

BAB II
LAPORAN KASUS

II.1 Identitas pasien


Nama

: Ny. K

Jenis Kelamin

: Perempuan

Usia

: 43 tahun

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Pendidikan Terakhir : SMP


Status Pernikahan

: Sudah Menikah

Agama

: Islam

Alamat

: Kendalrejo-Petarukan

No. CM

: 00263263

II.2 Anamnesis
Autoanamnesa dilakukan pada tanggal 20 September 2015 di Bangsal Dahlia
kamar iso 1 pada pukul 10.00 WIB
Keluhan Utama:
Gatal di seluruh tubuh sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit (SMRS)
Keluhan Tambahan:

Kulit menjadi terasa panas, merah dan kemudian kering serta berkerak tebal
didaerah wajah, kedua tangan, badan dan kedua kaki. Pasien juga mengeluhkan
kedinginan.

Riwayat Penyakit Sekarang:


Pasien datang ke IGD RSUD Margono Soekarjo merupakan rujukan dari
RS Siaga Medika Pemalang dengan diagnosa suspek SSJ e.c Asam Mefenamat
dan Post Mastektomi 1 bulan yang lalu.
Sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit pasien merasakan sangat
gatal diseluruh tubuhnya, gatal dirasakan terus menerus dan semakin lama
semakin gatal. Keluhan ini awalnya muncul pada bagian wajah, kemudian
menyebar ke daerah tangan, perut dan kaki. Kemudian diikuti dengan kulit
yang memerah disekujur tubuhnya, dan kulit yang merah tersebut berubah
menjadi tampak kehitaman dan menjadi mengering seperti berkerak, pasien
mengatakan seluruh badannya seperti berkotembe.Pasien juga mengeluhkan
semenjak kulitnya seperti ini badan pasien merasa kedinginan dan menggigil.
Dikulit pasien tidak terdapat lepuh-lepuh dikulit, tidak terdapat kelainan
atau luka pada mulut pasien serta tidak ditemukan kelainan pada mata pasien
berupa mata pasien yang merah.
Keluhan ini muncul ketika pasien kontrol ke 2 post mastektomi (2
minggu post operasi mammae) pasien diberikan obat analgetik berupa asam
mefenamat, sebelumnya pada saat kontrol pertama pasien mendapatkan
analgetik berupa asam mefenamat juga dan tidak ada keluhan baik-baik saja,
setelah kontrol ke 2 setelah pasien meminum obat asam mefenamat tersebut
badan pasien dirasakan sangat gatal.
Untuk keluhan mengenai kulitnya pasien sudah mendapatkan obat-obatan
dari RS Siaga Medika sebelumnya, yaitu inj MP 3x125 mg, Inj Ceftriaxone
1x2 gr, kalk 1x1 tab, cetirizine 1x1 tab.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat serupa

:pasien belum pernah mempunyai


keluhan seperti ini sebelumnya

Riwayat Ca Mammae

: (+) post mastetktomi dan rencana


untuk kemoterapi, tetapi kemoterapi
tertunda karena penyakit pada kulit
yang dirasakannya.

Riwayat Dermatitis Seboroik

: (+) pasien mempunyai riwayat


ketombean tetapi tidak begitu parah.

Riwayat Psoriasis

: (-)

Riwayat alergi

: (-)

Riwayat penyakit diabetes mellitus : (-)


Riwayat penyakit hipertens

: (-)

Riwayat Penyakit Keluarga :


Riwayat penyakit keluarga yang serupa dengan pasien: (-)
Riwayat alergi

: (-)

Riwayat penyakit diabetes mellitus : (-)


Riwayat penyaki thipertens

: (-)

II.3 Status Generalis


Pemeriksaan di IGD
Keadaaan umum

: Sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Vital Sign

: Tekanan Darah

: 100/60

Nadi

: 100 x/menit

Pernafasan

: 24 x/menit

Suhu

: 36.5

Mata

: conjungtiva mata kanan dan kiri anemis, tidak ada skela

Telinga
Hidung
Mulut
Leher

:
:
:
:

Thorax
Paru
Inspeksi

: Bentuk dada simetris, pergerakan dada simetris (tidak ada

ikterik pada mata kanan dan kiri.


tidak ada ottorhea.
tidak keluar sekret
mukosa bibir tidak sianosis
tidak ada pembesaran kelenjar tiroid

gerakan nafas yang tertinggal), tidak ada retraksi spatium


Palpasi

intercostalis.
: Gerakan dada simetris, vocal fremitus kanan sama dengan

Perkusi
Auskultasi

kiri
: Sonor pada seluruh lapang paru
: Suara dasar nafas vesikuler, tidak terdapat ronkhi basah
kasar di parahiler dan ronkhi basah halus di basal pada
kedua lapang paru, tidak ditemukan wheezing.

Jantung
Inspeksi

: Tidak tampak pulsasi ictus cordis pada dinding dada

Palpasi

sebelah kiri atas.


: Teraba ictus cordis, tidak kuat angkat di SIC V, 2 jari

Perkusi

Auskultasi

medial LMC sinistra


: Batas jantung kanan atas SIC II LPSD
Batas jantung kanan bawah SIC IV LPSD
Batas jantung kiri atas SIC II LPSS
Batas jantung kiri bawah SIC V LMCS
: S1>S2 reguler, tidak ditemukan murmur, tidak ditemukan
gallop.

Abdomen
Inspeksi
Perkusi
Palpasi
Auskultasi

: Datar
: Timpani
: Supel, nyeri tekan (+), massa (-)
: Bising usus (+) normal

II.4 Status Dermatologikus


Lokasi :

regio capitis, coli anterior dan posterior, trunkus anterior dan posterior,
ekstremitas superior dan inferior.
Efloresensi:
Makula eritematosa berbatas tidak tegas dengan skuama kasar dan erosi
tersebar generalisata.
Gambar 1 : Makula eritematosa berbatas tidak tegas dengan

skuama kasar dan erosi di regio facialis.


Gambar 2 : Makula eritematosa berbatas tidak tegas dengan
skuama kasar dan erosi di regio truncus anterior.

Gambar 3 : Makula eritematosa berbatas tidak tegas dengan


skuama kasar di regio ektremistas inferior bilateral

Gambar 4 : Makula eritematosa berbatas tidak tegas di regio


ektremistas inferior bilateral
II.5 Pemeriksaan Penunjang
Lab tgl 19 September 2016
Pemeriksaan
Total Protein
Albumin
Globulin

Hasil
6,18
2,36
3,82

Nilai Normal
6,40-8,20
3,40-5,00
2,70-3,20

Lab tgl 20 September 2016


Pemeriksaan
Darah lengkap
Hemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Eritrosit
Trombosit
Hitung Jenis
Basofil
Eusinofil
N. Batang
N. Segmen
Limfosit
Monosit
Kimia klinik
Total protein
Albumin
Globulin

Hasil

Nilai normal

9,9
2830
27
3,2
188.000

11,7-15,5
3600-11000
35-47
3,8-5,2
150.000-440.000

0,4
0,4
1,4
68,5
26,1
3,2

0-1
2-4
3-5
50-70
20-40
2-0

6,34
2,99
3,35

6,40-8,20
3,40-5,00
2,70-3,20

Lab tgl 21 September 2016

Pemeriksaan
Darah lengkap
Hemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Eritrosit
Trombosit

Hasil

Nilai normal

11,5
2510
31
3,7
144.000

11,7-15,5
3600-11000
35-47
3,8-5,2
150.000-440.000

Hitung Jenis
Basofil
Eusinofil
N. Batang
N. Segmen
Limfosit
Monosit

0,8
0,0
2,0
51,6
40,2
5,2

0-1
2-4
3-5
50-70
20-40
2-0

Kimia klinik
Total protein
Albumin
Globulin

6,34
2,99
3,35

6,40-8,20
3,40-5,00
2,70-3,20

II.6 Diagnosis Banding


Eritroderma ec alergi obat
Eritroderma ec dermatitis seboroik
Eritroderma ec malignancy
II.7 Diagnosis Kerja
Eritroderma ec alergi obat asam mefenamat
II.8 Pemeriksaan Anjuran
Pemeriksaan Histopatologi
II.9 Resume
Pasien Ny.K usia 43 tahun datang ke IGD RSUD Margono Soekarjo
merupakan rujukan dari RS Siaga Medika Pemalang dengan diagnosa suspek SSJ
e.c Asam Mefenamat dan Post Mastektomi 1 bulan yang lalu.
Sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit pasien merasakan sangat gatal
diseluruh tubuhnya, gatal dirasakan terus menerus dan semakin lama semakin
gatal. Keluhan ini awalnya muncul pada bagian wajah, kemudian menyebar ke
daerah tangan, perut dan kaki. Kemudian diikuti dengan kulit yang memerah
disekujur

tubuhnya, dan kulit yang merah tersebut berubah menjadi tampak

kehitaman dan menjadi mengering seperti berkerak, pasien mengatakan seluruh

badannya seperti berkotembe.Pasien juga mengeluhkan semenjak kulitnya seperti


ini badan pasien merasa kedinginan dan menggigil.
Sebelum timbul keluhan pasien memiliki riwayat mengkonsumsi obat. Dari
pemeriksaan fisik didapatkan Makula eritematosa berbatas tidak tegas dengan
skuama kasar dan erosi tersebar generalisata.

II.10 Penatalaksanaan
Medikamentosa:
- IVFD Ringer Laktat 20 tpm
- Inj difenhidramin 2x1 amp
- Inj Ranitidin 2x1 amp
- Inj Metilprednisolon 125-0-125 mg
- Cream topical (desoksimetason, fuson crem, soft u derm dan vaselin)
Nonmedikamentosa:
- Diet tinggi protein
- Mandi menggunakan sabun bayi
- Menggunakan lotion
- Edukasi untuk tidak meminum obat asam mefenamat
- Edukasi mengenai penyakitnya sampai prognosis
- Edukasi untuk menjaga kelembaban kulit
II.11 Prognosis
Quo ad vitam
Quo ad functionam
Quo ad sanationam
Quo ad komestikum

: ad bonam
: ad bonam
: dubia ad bonam
: ad bonam

10

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

III.1 Definisi
Eritroderma ialah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema
universalis (90%-100%), biasanya disertai skuama. Pada sebagian kasus, skuama
tidak selalu ditemukan, misalnya pada eritroderma yang disebabkan oleh alergi
obat secara sistemik, pada mulanya tidak disertai skuama, baru kemudian pada
stadium penyembuhan timbul skuama. Pada eritroderma yang kronik, eritema
tidak begitu jelas, karena bercampur dengan hiperpigmentasi.1
Dermatitis eksfoliativa dianggap sebagai sinonim dengan eritroderma
meskipun sebenarnya mempunyai pengertian yang agak berbeda. Pada dermatitis
eksfoliativa skuamanya berlapis-lapis. 1

III.2 Epidemiologi
Jumlah pasien eritroderma di bagian kulit semakin lama semakin
bertambah, penyebab utamanya adalah psoriasis yang meluas. Hal tersebut seiring
dengan meningkatnya insiden psoriasis. 1
Insidens eritroderma sangat bervariasi, menurut penelitian dari 0,9-70 dari
100.000 populasi. Penyakit ini dapat mengenai pria ataupun wanita namun paling
sering pada pria dengan rasio 2 : 1 sampai 4 : 1, dengan onset usia rata-rata > 40
tahun, meskipun eritroderma dapat terjadi pada semua usia. Insiden eritroderma
makin bertambah. Penyebab utamanya adalah psoriasis. Hal tersebut seiring
dengan meningkatnya insidens psoriasis.1,4

III.3 Etiologi

11

Berdasarkan penyebabnya, eritroderma dibagi menjadi 3 golongan :1,5,6


1. Akibat alergi obat biasanya secara sistemik.
a. Untuk menentukanya diperlukan anamnesis menganai riwayat
masuknya obat ke dalam badan dengan berbagai cara (per oral,
infus, supposituria, intravaginal, maupun obat luar seperti obat
kumur). Keadaan ini banyak ditemukan pada dewasa muda. Obat
yang dapat menyebabkan eritroderma adalah arsenik organik,
emas, merkuri (jarang), penisilin, barbiturat. Pada beberapa
masyarakat, eritroderma mungkin lebih tinggi karena pengobatan
sendiri dan pengobatan secara tradisional. Bila ada obat lebih dari
satu yang masuk kedalam badan yang disangka sebagai
penyebabnya adalah obat yang paling sering menyebabkan alergi.
2. Eritroderma akibat perluasan penyakit kulit
a. Pada penyakit tersebut yang sering terkena misalnya : psoriasis,
pemfigus foliaseus, dermatitis atopik, pitiriasis rubra pilaris, dan
liken

planus.

Eritroderma

et

causa

psoriasis,

merupakan

eritroderma yang paling banyak ditemukan dan dapat disebabkan


oleh penyakit psoriasis maupun akibat pengobatan psoriasis yang
terlalu kuat misalnya pengobatan topical dengan konsentrasi yang
terlalu tinggi.
b. Dermatitis seboroik

pada

bayi

juga

dapat

menyebabkan

eritroderma yang juga dikenal penyakit Leiner. Etiologinya belum


diketahui pasti. Usia penderita berkisar 4-20 minggu. Ptyriasis
rubra pilaris yang berlangsung selama beberapa minggu dapat pula
menjadi eritroderma. Selain itu yang dapat menyebabkan
eritroderma adalah pemfigus foliaseus, dermatitis atopik dan liken
planus.
3. Eritroderma akibat penyakit sistemik termasuk keganasan
a. Berbagai penyakit atau kelainan alat dalam termasuk infeksi fokal
dapat memberi kelainan kulit berupa eritroderma.Jadi setiap kasus
eritroderma yang tidak termasuk akibat alergi obat dan akibat
perluasan penyakit kulit harus dicari penyebabnya, yang berarti
perlu

pemeriksaan

menyeluruh

(termasuk

pemeriksaan

laboratorium dan sinar X toraks), untuk melihat adanya infeksi

12

penyakit pada alat dalam dan infeksi fokal.Ada kalanya terdapat


leukositosis namun tidak ditemukan penyebabnya, jadi terdapat
infeksi bakterial yang tersembunyi (occult infection) yang perlu
diobati.
Tabel 3.1 Etioogi Eritroderma

III.4 Patogenesis
Patofisiologi terjadinya eritroderma belum diketahui dengan jelas, yang
jelas dapat diketahui adalah akibat suatu agent dalam tubuh, maka tubuh bereaksi
berupa pelebaran pembuluh darah kapiler (eritema) yang universal. Kemungkinan
berbagai sitokin yang berperan.1,6
Eritema berarti terjadi pelebaran pembuluh darah yang menyebabkan
aliran darah kekulit meningkat sehingga kehilangan panas bertambah. Akibatnya
penderita merasa dingin dan menggigil.Pada eritroderma kronis dapat terjadi
gagal jantung. Juga dapat terjadi hipotermia akibat peningkatang perfusi
kulit.Penguapan cairan yang makin meningkat dapat menyebabkan dehidrasi. Bila
suhu badan meningkat, kehilangan panas juga meningkat .Pengaturan suhu
terganggu. Kehilangan panas menyebabkan hipermetabolisme kompensator dan
peningkatan laju metabolisme basal. 1,6

13

Kehilangan skuama dapat mencapai 9 gram/m permukaan kulit atau lebih


sehari sehingga menyebabkan kehilangan protein. Hipoproteinemia dengan
berkurangnya albumin dan peningkatan relatif globulin terutama globulin
merupakan kelainan khas. Edema sering terjadi, kemungkinan disebabkan oleh
pergeseran cairan keruang ekstravaskuler. Eritroderma akut dan kronis dapat
mengganggu mitosis rambut dan kuku berupa kerontokan rambut difus dan
kehilangan kuku. Pada eritroderma yang telah berlangsung berbulan-bulan dapat
terjadi perburukan keadaan yang progresif. 1,6
III.5 Gambaran Klinis
Ge!ala klinis yang dimunculkan pada ertiroderma dapat berbeda-beda
berdasarkan etiologi yang mendasari terjadinya eritroderma. Namun secara
garis besar memiliki gejala umum berupa pasien sering mengeluh kedinginan.
Kedinginan terjadi karena vasodilatasi pembuluh darah kulit sehingga
menyebabkan kehilangan panas tubuh dan rusaknya pengendalian regulasi suhu
tubuh yang menghilang, sehingga sebagai kompensasi, sekujur tubuh pasien
menggigil untuk menghasilkan panas. 2
Kelainan kulit yang tampak secara umumnya timbul bercak eritema yang
dapat meluas ke seluruh tubuh dalam waktu 12-24 jam. Deskuamasi yang difus
dimulai dari daerah lipatan lalu menyebar ke seluruh tubuh. Bila kulit kepala
sudah terkena, dapat terjadi alopesia, perubahan kuku, dan kuku dapat terlepas.
Dapat teriadi limfadenopati dan hepatomegali. Skuama timbul setelah 2-6 hari,
sering mulai di daerah lipatan. 2
1. Eritroderma akibat alergi obat biasanya secara sistemik
Adanya riwayat penggunaan obat sebelum muncul gejala klinis perlu
dikaji ulang untuk menkonfirmasi penyebab terjadinya eritroderma akibat
obat.Pada umumnya alergi ini timbul secara akut dalam waktu 10 hari.Dapat
pula bervariasi mulai dari waktu masuknya obat ke dalam tubuh hingga
timbul penyakit dapat segera sampai sampai 2 minggu. Gambaran klinisnya
berupa eritema universal.Pada stadium akut tidak terdapat skuama, pada
stadium penyembuhan baru timbul skuama . 1,5

14

Gambar 5. Eritroderma akibat alergi obat


2. Eritroderma akibat perluasan penyakit kulit
Yang sering terjadi ialah akibat psoriasis dan dermatitis seboroik pada
bayi (penyakit Leiner), oleh karena itu hanya kedua penyakit ini yang akan
diuraikan. 1,5

Gambar 6. Eritroderma akibat Psoriasis

a. Eritroderma karena psoriasis (psoriasis eritrodermik)


Riwayat psoriasis yang bersifat kronik dan residif dapat menjadi
salah satu penyebab terjadi eritroderma. Kelainan kulit berupa skuama
yang berlapis-lapis dan kasar di atas kulit yang eritematosa, sirkumskripta.
1,5

15

Umumnya didapati eritema yang tidak merata. Pada tempat


predileksi psoriasis dapat ditemukan kelainan yang lebih eritematosa dan
agak meninggi dari pada disekitarnya dan skuama ditempat itu lebih tebal.
Kuku juga perlu dilihat, dicari apakah ada pitting nail berupa lekukan
miliar, tanda ini hanya menyokong dan tidak patognomonis untuk
psoriasis. Jika ragu-ragu, pada tempat yang meninggi tersebut dilakukan
biosi untuk pemeriksaan histopatologik. Kadang-kadang biopsi sekali
tidak cukup dan harus dilakukan beberapa kali. 1,5
Sebagian penderita tidak menunjukkan kelainan semacam itu, jadi
terlihat hanya eritema yang menyeluruh dan skuama. Pada penderita
demikian kami baru mengetahui bahwa penyebabnya psoriasis setelah
diberi terapi dengan kortikosteroid. Pada saat eritrodermanya mengurang,
maka mulailah tampak gejala psoriasis. 1,5
b. Penyakit Leiner
Penyakit Leiner atau eritroderma deskuamativum ini biasanya
terjadi pada penderita usia penderita antara 4 minggu sampai 20 minggu.
Keadaan umum penderita baik, biasanya tanpa keluhan.Kelainan kulit
berupa eritema universal disertai skuama yang kasar. 1,5
Pada eritroderma yang disebabkan oleh dermatitis seboroik,
menurut penelitian yang dilakukan oleh Okada (2014) dilihat dari tanda
yang muncul awal beruba skuama dengan eritema yang gatal terutama
pada daerah yang mempunyai kelenjar sebasea. Eritema dan skuama ini
makin lama makin menyebar ke seluruh badan dan ekstremitas. 7

16

Gambar 7. Eritroderma akibat Dermatitis Seboroik


3. Eritroderma akibat penyakit sistemik termasuk keganasan
Berbagai penyakit atau kelainan alat dalam dapat menyebabkan
kelainan kulit berupa eritroderma.Jadi setiap kasus eritroderma yang tidak
termasuk golongan I dan II harus dicari penyebabnya, yang berarti harus
diperiksa secara menyeluruh, apakah ada penyakit pada alat dalam dan harus
dicari pula apakah ada infeksi dalam dan infeksi fokal.Termasuk di dalam
golongan ini ialah sindrome Sezary. 1,5
Sindrom Sezary
Penyakit ini termasuk limfoma, ada yang berpendapat merupakan
stadium dini mikosis fungoides.Penyebabnya belum diketahui, diduga
berhubungan dengan infeksi virus HTLV-V dan dimasukkan kedalam CTCL
(Cutaneous T-Cell Lymphoma) . 1,5
Yang diserang adalah orang dewasa, mulainya penyakit pada pria ratarata berumur 64 tahun, sedangkan pada wanita 53 tahun. Sindrom ini ditandai
dengan eritema berwarna merah membara yang universal disertai skuama dan
rasa sangat gatal.Selain itu terdapat pula infiltrasi pada kulit dan edema.Pada
sepertiga hingga setengah para penderita didapati splenomegali, limfadenopati
superfisial, alopesia, hiperpigmentasi, hiperkeratosis palmaris dan plantaris,
serta kuku yang distrofik. 1,5

17

Pada pemeriksaan laboratorium sebagian besar kasus menunjukkan


leukositosis, 19% dengan eosinofilia dan limfositosis.Selain itu terdapat pula
limfosit atipik yang disebut sel Sezery.

Sel ini besarnya 10-20 mikro ,

mempunyai sifat yang khas, di antaranya intinya homogen, lobular, dan tak
teratur. Selain terdapat dalam darah, sel tersebut juga terdapat dalam kelenjer
getah bening dan kulit. Untuk menentukannya memerlukan keahlian khusus.
Biopsi pada kulit juga memberi kelainan yang agak khas, yakni terdapat
infiltrat pada dermis bagian atas dan terdapatnya sel Sezary. 1,5

Gambar 8. Eritroderma Szary syndrome


III.6 Diagnosis
Diagnosis

eritroderma

ditegakkan

berdasarkan

anamnesis,

gambaran klinis, dan pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan histopatologi


dapat membantu menentukan penyakit yang mendasarinya. Diagnosis
yang akurat dari penyakit ini merupakan suatu proses yang sistematis
dimana dibutuhkan pengamatan yang seksama, evaluasi serta pengetahuan
tentang terminology, dermatologi, morfologi serta diagnosis banding.
Pengobatannya

disesuaikan

dengan

diagnosis

penyakit

yang

mendasarinya, dengan tetap memperhatikan keadaan umum seperti


keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, memperbaiki hipoalbumin dan
anemia, serta pengendalian infeksi sekunder. 5

Anamnesa
18

Dibutuhkan anamnesis yang lengkap dalam menegakkan diagnosis


eritroderma. Seperti riwayat pemakaian obat atau medikasi lain. Pasien
dengan penyakit kulit sebelumnya (psoriasism dermatitis). Atau pasien
dengan penyakit sistemik atau keganasan. 5

Pemeriksaan Fisik
Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya eritema yang universal
dapat disertai dan tidak oleh skuama, karena harus melihat dari tanda dan
gejala yang sudah ada sebelumnya misalnya, warna hitam-kemerahan dan
perubahan kuku pada psoriasis; hiperkeratotik skala besar kulit kepala,
biasanya tanpa rambut rontok di psoriasis dan dengan rambut rontok di
pitriasis rubra. Likenifikasi, erosi dan ekskoriasi di dermatitis atopik dan
eksema. 5

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium tidak begitu spesifik pada eritroderma.
Dapat ditemukan anemia ringan, leukositosis dengan eosinofilia,
penurunan albumin serum, peningkatan relative gammaglobulin dan IgE.
Pemeriksaan histopatologi pada kebanyakan pasien dengan eritroderma
dapat membantu mengidentifikasi penyebab eritroderma sampai dengan
50% kasus. Pada tahap akut,spongiosis dan parakeratosis menonjol
sehingga terjadi edema. 5

III.7 Penatalaksanaan
Umumnya pengobatan eritroderma dengan kortikosteroid. Pada golongan
I, yang disebabkan oleh alergi obat secara sistemik, dosis prednison 3 x 10 mg- 4
x 10 mg. Penyembuhan terjadi cepat, umumnya dalam beberapa hari beberapa
19

minggu. Pada golongan II akibat perluasan penyakit kulit juga diberikan


kortikosteroid.Dosis mula prednison 4 x 10 mg- 4 x 15 mg sehari.Jika setelah
beberapa hari tidak tampak perbaikan dosis dapat dinaikkan.Setelah tampak
perbaikan, dosis diturunkan perlahan-lahan. Lama penyembuhan golongan II ini
bervariasi beberapa minggu hingga beberapa bulan, jadi tidak secepat seperti
golongan I. 5
Pengobatan penyakit Leiner dengan kortokosteroid memberi hasil yang
baik.Dosis prednison 3 x 1-2 mg sehari.Pada sindrome Sezary pengobatannya
terdiri atas kortikosteroid dan sitostatik, biasanya digunakan klorambusil dengan
dosis 2- 6 mg sehari.Pada eritroderma yang lama diberikan pula diet tinggi
protein, karena terlepasnya skuama mengakibatkan kehilangan protein.Kelainan
kulit perlu pula diolesi emolien untuk mengurangi radiasi akibat vasodilatasi oleh
eritema, misalnya dengan salep lanolin 10% . 5

III.8 Prognosis
Prognosis

eritroderma

tergantung

pada

proses

penyakit

yang

mendasarinya. Kasus karena penyebab obat dapat membaik setelah obat


penggunaan obat dihentikan dan diberikan terapi yang sesuai. Prognosis kasus
akibat gangguan sistemik yang mendasarinya seperti limfoma akan tergantung
pada kondisi keberhasilan pengobatan.Eritroderma disebabkan oleh dermatosa
akhirnya

dapat

diatasi

dengan

pengobatan,

tetapi

mungkin

timbul

kekambuhan.Kasus idiopatik adalah kasus yang tidak terduga,dapat bertahan


dalam waktu yang lama, sering kali disertai dengan kondisi yang lemah .1,5
Eritroderma yang termasuk golongan I, yakni karena alergi obat secara
sistemik, prognosisnya baik. Penyembuhan golongan ini ialah yang tercepat
dibandingkan golongan yang lain. Pada eritroderma yang belum diketahui
sebabnya, pengobatan dengan kortikosteroid hanya mengurangi gejalanya,
penderita akan mengalami ketergantungan kortikosteroid. 1,5

20

Sindrome Sezary prognosisnya buruk, penderita pria umumya akan


meninggal setelah 5 tahun, sedangkan penderita wanita setelah 10 tahun.
Kematian disebabkan oleh infeksi atau penyakit berkembang menjadi mikosis
fungoides. 1,5
III.9 Komplikasi
Komplikasi pada eritroderma bisa berupa komplikasi yang ringan hingga
berat. Komplikasi yang terjadi pada banyak system organ selain epidermis dan
dermis. Limfadenopati terjadi pada 60% dari sebagian besar kasus. Hepatomegaly
ditemukan pada 20% kasus, splenomegaly ditemukan pada 3% kasus dan semua
berkaitan dengan eritroderma yang disebabkan oleh perluasan penyakit sistemik.
Komplikasi terjadi belum diketahui mekanismenya dan dapat terjadi pada stadium
awal dan pada hampir20% stadium akhir. 2,5
Rusaknya barrier kulit pada eritroderma menyebabkan peningkatan
extrarenal water loss karena penguapan air berlebihan melalui barrier kulit yang
rusak, sehingga menyebabkan kehilangan panas tubuh yang menyebabkan
hipotermia dan kehilangan cairan yang menyebabkan dehidrasi. Respon tubuh
terhadap dehidrasi dengan meningkatkan cardiac output, yang bila terus berlanjut
akan menyebabkan gagal jantung, dengan manifestasi klinis seperti takikardi,
sesak dan edema. Oleh karena itu, evaluasi terhadap balance cairan sangatlah
penting pada pasien eritroderma. 2,5
Pasien dengan eritroderma yang luas dapat ditemukan tanda-tanda dari
ketidakseimbangan elektrolit, edema, hipoalbuminemia dan hilangnya massa otot.
Pada eritroderma kronik dapat menyebabkan alopesia, palmoplantar keratoderma,
kelainan pada kuku ektropion, hingga perburukan keadaan umum yang progresif.
2,5
Komplikasi yang harus lebih diperhatikan adalah komplikasi sistemik akibat
eritroderma seperti hipotermia, edema perifer dan kehilangan cairan dan albumin
dengan takikardi dan kelainan jnatung harus mendapatkan perawatan yang serius.
2,5

BAB IV

21

PEMBAHASAN
Pasien Ny.K usia 43 tahun datang ke IGD RSUD Margono Soekarjo
merupakan rujukan dari RS Siaga Medika Pemalang dengan diagnosa suspek SSJ
e.c Asam Mefenamat dan Post Mastektomi 1 bulan yang lalu.
Sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit pasien merasakan sangat gatal
diseluruh tubuhnya, gatal dirasakan terus menerus dan semakin lama semakin
gatal. Keluhan ini awalnya muncul pada bagian wajah, kemudian menyebar ke
daerah tangan, perut dan kaki. Kemudian diikuti dengan kulit yang memerah
disekujur

tubuhnya, dan kulit yang merah tersebut berubah menjadi tampak

kehitaman dan menjadi mengering seperti berkerak, pasien mengatakan seluruh


badannya seperti berkotembe.Pasien juga mengeluhkan semenjak kulitnya seperti
ini badan pasien merasa kedinginan dan menggigil.
Sebelum timbul keluhan pasien memiliki riwayat mengkonsumsi obat. Dari
pemeriksaan fisik didapatkan Makula eritematosa berbatas tidak tegas dengan
skuama kasar dan erosi tersebar generalisata.
Diagnosa eritroderma e.c alergi obat dapat ditegakkan berdasarkan
anamnesis, gejala klinis, dan pemeriksaan status dermatologis. Berdasarkan
anamnesa yang telah didapatkan, diagnosa merujuk kepada eritroderma, yaitu
dimulai dengan bercak eritem yang cepat sekali meluas. Dapat disertai dengan
demam, menggigil serta melaise yang tidak terlalu berat. Bercak eritem tersebut
biasanya mencapai keseluruhan permukaan tubuh dalam 12 48 jam. Selanjutnya
diikuti dengan timbulnya deskuamasi dalam 2 6 hari, seringkali dimulai di
daerah-daerah lipatan kulit. Seluruh kulit tampak kemerahan, mengkilat dan
mengelupas serta teraba panas dan menebal pada palpasi. Pada eritroderma yang
disebabkan oleh alergi obat biasanya timbul dalam waktu singkat. Penderita
merasa kulitnya ketat, gatal atau kadang-kadang terasa panas seperti terbakar.
Setelah eritroderma berlangsung beberapa minggu, rambut kepala dan tubuh bisa
rontok, juga kuku jadi menebal dan kasar, namun pada kasus ini, pasien tidak
mengalami kerontokan rambut ataupun kelainan kuku berupa penebalan dan kasar
Pada kasus Ny. K usia 43 tahun ini mengalami eritroderma e.c. alergi obat.
Eritroderma akibat alergi obat biasanya secara sistemik. Untuk menentukannya

22

diperlukan anamnesis yang teliti, yang dimaksudkan alergi obat secara sistemik
ialah masuknya obat kedalam badan dengan cara apa saja, misalnya melalui
mulut, melalui hidung, dengan cara suntikan/infus, melalui rektum dan vagina.
Selain itu alergi dapat pula terjadi karena obat mata, obat kumur, tapal gigi, dan
melalui kulit sebagai obat luar.
Pada anamnesa didapatkan pasien dengan keadaan yang mulai terjadi
secara akut sebagai erupsi terjadi bercak-bercak atau eritematous yang
menyeluruh disertai gejala panas, rasa tidak enak badan pasien merasa mengigil.
Warna kulit berubah dari merah muda menjadi merah gelap. Sesudah beberapa
hari dimulai gejala eksfoliasi (pembentukan skuama) yang khas dan biasanya
dalam bentuk serpihan kulit yang halus yang meninggalkan kulit yang licin serta
berwarna merah dibawahnya : gejala ini disertai dengan pembentukan sisik yang
baru ketika sisik yang lama terlepas.
Pada pasien ini munculnya keluahan setelah pasien mendapatkan
pengobatan yang di berikan dokter ketika kontrol pos mastektomi, jadi pada
pasien ini dari anamnesa mengarah kepada eritroderma ec alergi obat.
seboroik merupakan dermatitis yang terjadi pada daerah seboroik (daerah
yang banyak mengandung kelenjar sebasea / lemak), seperti kepala, alis, kelopak
mata, lekukan nasolabial, dengan kelainan kulit berupa lesi dengan batas tak
teratur, dasar kemerahan, tertutup skuama agak kuning dan berminyak. Skuama
agak kuning dan berminyak pada dermatitis seboroik ini menyingkirkan
eritroderma e.c dermatitis seboroik dari diagnosa kerja.
Pada pemeriksaan dermatologis, tidak didapatkan bahwa Fenomena
Koebner (yakni munculnya lesi-lesi baru akibat trauma disekitar lesi lama)
biasanya positif, tanda Auspitz (adanya bercak kemerahan akibat terkelupasnya
skuama yang ada) juga positif, fenomena tetesan lilin (bila ada skuama digaruk,
maka timbul warna putih keruh seperti tetesan lilin) positif. Sehingga
menyingkirkan diagnosa eritroderma ec psoriasis.
Dermatitis atopik adalah peradangan kulit kronis yang terjadi di lapisan
epidermis dan dermis, sering berhubungan dengan riwayat atopik pada keluarga

23

asma bronchial, rhinitis alergi, konjungtivitis. Pada pasien ini tidak riwayat atopi
pada keluarganya sehingga dapat menyingkirkan dermatitis atopi sebagai
diagnosa kerja.
Pada eritroderma golongan I, yang disebabkan oleh alergi obat secara
sistemik, dosis prednison 3 x 10 mg- 4 x 10 mg. Penyembuhan terjadi cepat,
umumnya dalam beberapa hari beberapa minggu. Pada eritroderma yang lama
diberikan pula diet tinggi protein, karena terlepasnya skuama mengakibatkan
kehilangan protein. Kelainan kulit perlu pula diolesi emolien untuk mengurangi
radiasi akibat vasodilatasi oleh eritema, misalnya dengan salep lanolin 10%.1
Pada pasien ini mendapatkan terapi berupa terapi farmakologi dan nonfarmakologi.
Farmakologi:
- IVFD Ringer Laktat 20 tpm
- Inj difenhidramin 2x1 amp
- Inj Ranitidin 2x1 amp
- Inj Metilprednisolon 125-0-125 mg
- Cream topical (desoksimetason, fuson crem, soft u derm dan vaselin)
Nonfarmakologi:
- Diet tinggi protein
- Mandi menggunakan sabun bayi
- Menggunakan lotion
- Edukasi untuk tidak meminum obat asam mefenamat
- Edukasi mengenai penyakitnya sampai prognosis
- Edukasi untuk menjaga kelembaban kulit
Prognosis

eritroderma

tergantung

pada

proses

penyakit

yang

mendasarinya. Kasus karena penyebab obat dapat membaik setelah obat


penggunaan obat dihentikan dan diberikan terapi yang sesuai. Eritroderma yang
termasuk yakni karena alergi obat secara sistemik, prognosisnya baik.
Penyembuhan golongan ini ialah yang tercepat dibandingkan golongan yang lain.

24

BAB V
KESIMPULAN
Eritroderma ialah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema
universalis (90%-100%), biasanya disertai skuama. Pada sebagian kasus, skuama
tidak selalu ditemukan, misalnya pada eritroderma yang disebabkan oleh alergi
obat secara sistemik, pada mulanya tidak disertai skuama, baru kemudian pada
25

stadium penyembuhan timbul skuama. Pada eritroderma yang kronik, eritema


tidak begitu jelas, karena bercampur dengan hiperpigmentasi.1
Jumlah pasien eritroderma di bagian kulit semakin lama semakin
bertambah, penyebab utamanya adalah psoriasis yang meluas. Hal tersebut seiring
dengan meningkatnya insiden psoriasis. 1
Berdasarkan penyebabnya, eritroderma dibagi menjadi 3 golongan yaitu
akibat alergi obat, akibat perluasan dari penyakit kulit dan akibat penyakit
keganasan. 1,5,6
Ge!ala klinis yang dimunculkan pada ertiroderma dapat berbeda-beda
berdasarkan etiologi yang mendasari terjadinya eritroderma. Namun secara
garis besar memiliki gejala umum berupa pasien sering mengeluh kedinginan.
Kedinginan terjadi karena vasodilatasi pembuluh darah kulit sehingga
menyebabkan kehilangan panas tubuh dan rusaknya pengendalian regulasi suhu
tubuh yang menghilang, sehingga sebagai kompensasi, sekujur tubuh pasien
menggigil untuk menghasilkan panas. 2
Kelainan kulit yang tampak secara umumnya timbul bercak eritema yang
dapat meluas ke seluruh tubuh dalam waktu 12-24 jam. Deskuamasi yang difus
dimulai dari daerah lipatan lalu menyebar ke seluruh tubuh. Bila kulit kepala
sudah terkena, dapat terjadi alopesia, perubahan kuku, dan kuku dapat terlepas.
Dapat teriadi limfadenopati dan hepatomegali. Skuama timbul setelah 2-6 hari,
sering mulai di daerah lipatan. 2
Diagnosis eritroderma ditegakkan berdasarkan anamnesis, gambaran
klinis, dan pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan histopatologi dapat membantu
menentukan penyakit yang mendasarinya. 5
Prognosis eritroderma tergantung pada proses penyakit yang mendasarinya.
Kasus karena penyebab obat dapat membaik setelah obat penggunaan obat
dihentikan dan diberikan terapi yang sesuai. Eritroderma yang termasuk golongan
I, yakni karena alergi obat secara sistemik, prognosisnya baik. Penyembuhan
golongan ini ialah yang tercepat dibandingkan golongan yang lain. 1,5
26

DAFTAR PUSTAKA
1. Wasitaatmadja SM. Anatomi kulit. Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan
kelamin. 5th ed. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2007.p;3-5. P; 197-200
2. Grant-Kels JM, Bernstein ML, Rothe MJ. Exfoliative Dermatitis In: Wolff
K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, leffell DJ. Fitpatrick
Dermatology in General Medicine. 7th ed. New York. 2008. P. 225-232.

27

3. Kartowigno, S. 2012. Sepuluh besar kelompok penyakit kulit. Palembang:


Unsri Press. hlm. 96-100.
4. Freederg IM. Exfoliative dermatitis. Fitzpatrick et all. Fitzpatricks
dermatology in general medicine. 4th ed. Newyork: Mcgraw-Hill.. Chapter41.p; 527-531.
5. Djuanda, A. 2007. Dermatosis Eritroskuamosa.Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin. Jakarta: FKUI. 198-200.
6. Virendra

N.

Sehgal,

Govind

Srivastava,Kabir

Sardana.

2004.

Erythroderma or exfoliative dermatitis: a synopsis. International Journal


of Dermatology. 39-47.
7. Okada, Kayo. 2014. Refractory sebhorroic dermatitis of the head in a
patient with malignan lymphoma. Diakses di www.ncbi.nlm.gov/ pada
tanggal 21 September 2016

28