Anda di halaman 1dari 20

REFRESHING

ASMA BRONKIAL
KEPANITERAAN KLINIK STASE INTERNA

DISUSUN OLEH
Annisa Tri Handayani
NIM : 2011730010
Dosen Pembimbing : dr.Tety Suratika, Sp.PD

RUMAH SAKIT UMUM KELAS B CIANJUR


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
TAHUN AJARAN 2016

BAB I
PENDAHULUAN
I.

Latar Belakang
Meskipun asma telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu, para ahli
belum sepakat mengenai definisi penyakit tersebut. Dari waktu ke waktu
definisi asma terus mengalami perubahan. Definisi asma ternyata tidak
mempermudah membuat diagnosis asma, sehingga secara praktis para ahli
berpendapat asma adalah penyakit paru dengan karakteristik :
1. Obstruksi saluran napas yang reversible (tetapi tidak lengkap
pada beberapa pasien) baik secara spontan maupun dengan
pengobatan.
2. Inflamasi saluran napas.
3. Peningkatan

respons

saluran

napas

terhadap

berbagai

rangsangan (hipereaktifitas)
Obstruksi saluran napas ini memberikan gejala-gejala asma seperti
batuk, mengi, dan sesak napas. Penyempitan saluran napas pada asma
dapat terjadi secara bertahap, perlahan-lahan dan bahkan menetap
dengan pengobatan tetapi dapat pula terjadi mendadak, sehingga
menimbulkan kesulitan bernapas yang akut. Derajat obstruksi
ditentukan oleh diameter lumen saluran napas, dipengaruhi oleh
edema dinding bronkus, produksi mucus kontraksi dan hipertrofi otot
polos bronkus. Diduga baik obstruksi maupun peningkatan respons
terhadap berbagai rangsangan didasari oleh inflamasi saluran napas.
II.

Tujuan Pembelajaran
Tujuan dari refreshing ini adalah untuk mengetahui lebih lanjut
mengenai

asma

bronkial

mulai

dari

definisi

hingga

penatalaksanaannya.

BAB II
PEMBAHASAN
I.

Definisi
Asma menyebabkan gejala seperti mengi, sesak napas, sesak dada dan batuk
yang

bervariasi

dari

waktu

ke

waktu

sesuai

dengan

frekuensi

dan

intensitasnya.Gejala ini berhubungan dengan saat ekspirasi, yaitu kesulitan


bernapas saat ekspirasi paru-paru akibat bronkokonstriksi (penyempitan saluran
napas), penebalan dinding saluran napas, dan peningkatan sekresi lendir.

II.

Epidemiologi
Asma merupakan masalah yang mendunia dan mengenai kira kira
300 juta individu dengan prevalensi global sebanyak 1 18 % yang
menurun pada Amerika Utara dan Eropa Barat serta meningkat pada Afrika,
Amerika Latin, dan sebagian Asia. WHO memperkirakan 15 juta disabilityadjusted life years (DALYs) hilang setiap tahun karena asma, sebanyak 1%
dari total tanggungan penyakit global. Kematian pada penderita asma
sekitar 250.000.

III.

Etiologi

Faktor faktor yang dapat mempengaruhi tercetusnya asma adalah :


Faktor host
1. Genetik

: Atopi, hiperesponsif saluran pernafasan, mediator


inflamasi (sitokin, kemokin, GF, Th1 dan Th2).

2. Obesitas

: Mediator leptin yang dapat mempengaruhi fungsi saluran


pernafasan sehingga meningkatkan tercetusnya asma.

3. Sex

: Kanak-kanak < 14thn : pria > wanita,sedangkan dewasa :


wanita>pria

Faktor lingkungan

1. Allergen

: Indoor kucing, anjing, tikus, serangga, jamur, ragi


Outdoor serbuk bunga, jamur, ragi.

2. Infeksi

: respiratory syncytial virus (RSV) dan parainfluenza virus


bronchiolitis .childhood asthma

3. Occupational sensitizer : lihat gambar 1.3

4. Rokok

: merokok menurunkan fungsi paru pada penderita asma


menigkatnya keparahan asma sehingga penderita tidak

merespon terhadap pengobatan secara inhaled.


5. Polusi udara masih controversial, namun tingginya polusi udara
dapat menurunkan fungsi paru. Pada asma eksaserbasi terdapat
hubungan antara polusi dengan kejadian asma, kemungkinan allergen
spesifik yang terkandung didalam polusi dapat mensensitisasi individu
sehingga menimbulkan efek hiperresponsif pada saluran pernafasan.
6. Makanan

: bayi yang diberikan susu formula memiliki insidensi


yang lebih tinggi untuk terjadinya asma dibandingkan
dengan bayi

IV.

Patogenesis
1. Penyempitan saluran napas yang merupakan proses akhir yang
menimbulkan gejala-gejala dan perubahan fisiologis pada asma.
Beberapa faktor yang berperan dalam terjadinya penyempitan saluran
napas pada asma.

2. Hiperresponsif saluran pernapasan, dikarakteristikan dengan adanya


abnormalitas fungsional yang khas pada asma menyebabkan
penyempitan saluran napas terbatasnya aliran udara dan timbulnya
gejala-gejala yang intermiten. Hiperresponsif saluran napas berkaitan

dengan proses inflamasi dan perbaikan, juga reversibel secara parsial


dengan terapi.

MEKANISME KHUSUS
-Eksasebasi akut: Perburukan sesaat pada asma dapat terjadi karena adanya
paparan terhadap faktor risiko atau dicetuskan oleh olahraga, polutan udara, dan
kondisi cuaca tertentu. Perburukan yang lebih lama dapat disebabkan oleh infeksi
virus saluran pernapasan atas atau paparan alergen meningkatkan inflamasi
pada saluran pernapasan bawah akan menetap selama beberapa hari atau
minggu.
-Asma nokturnal: Mekanisme terjadinya perburukan asma saat malam hari
yang mekanismenya belum dimengerti, namun mungkin dapat disebabkan oleh
ritme sirkardian dari hormon-hormon yang bersirkulasi seperti epinefrin, kortisol,
dan melatonin, serta mekanisme neural seperti tonus kolinergik. Selain itu
mungkin juga disebabkan karena adanya peningkatan inflamasi saluran napas
yang disebabkan karena penurunan mekanisme anti-inflamasi endogen.
-Terbatasnya aliran udara yang irreversibel: Beberapa pasien dengan asma
yang parah akan mengalami pembatasan aliran udara napas yang lebih progresif
yang tidak dapat diperbaiki dengan terapi yang ada saat ini. Hal tersebut
disebabkan oleh perubahan struktural saluran napas pada asma yang kronis.
6

-Asma yang sulit diatasi: Hubungan yang paling umum dalam konteks ini
yaitu rendahnya respon terhadap penatalaksanaan serta terdapat gangguan
psikologis dan psikiatris. Pada pasien dengan jenis asma yang seperti ini yaitu
adanya penutupan saluran napas sehingga terjebaknya udara dan hiperinflasi.
Selain itu, terdapat peningkatan neutrofil, saluran napas yang terkait lebih kecil,
dan terjadi perubahan struktural yang lebih banyak.
-Merokok dan asma: Merokok asma menjadi lebih sulit untuk dikontrol
sering terjadinya eksaserbasi, serta penurunan fungsi paru yang lebih cepat dan
meningkatnya risiko kematian. Pasien asma yang merokok memiliki inflamasi
yang neutrofil-predominan pada saluran napasnya dan respon terhadap
glukokortikoid.
V.

Klasifikasi

ASMA TERKONTROL
Selain itu, asma juga dapat dikategorikan menjadi kelompok yang terkontrol
ataupun tidak.

VI.

Diagnosis

Untuk dapat menegakkan diagnosis asma, maka hal yang perlu diperhatikan
adalah :
1. Gejala-gejala
Adanya sesak napas yang episodic, bunyi mengi, batuk, dan dada seperti
diikat. Munculnya gejala-gejala episodik seperti ini terjadi setelah terpapar
allergen, pengaruh musim, dan adanya riwayat keluarga dengan penyakit asma
maupun penyakit atopik. Terdapat perbedaan pola dari gejala asma yang semakin
memperkuat bahwa diagnosis asma sangat bervariasi; adanya persipitasi dari
bahan-bahan iritan seperti asap, bau yang kuat maupun olahraga; semakin
bertambah buruk saat malam hari; dan respon yang baik terhadap terapi asma.
Beberapa pertanyaan untuk mempertimbangkan ada tidaknya diagnosis asma
Apakah pasien memiliki serangan atau serangan ulang dari mengik?
Apakah pasien memiliki batuk saat malam hari?
Apakah pasien mengalami mengik atau batuk setelah berolah raga?
Apakah pasien memiliki pengalaman menjadi mengik, dada seperti terikat,
atau batuk setelah terpapar allergen atau polutan?
Apakah gejala-gejala tersebut membaik setelah diberikan pengobatan asma?
Pada beberapa individu yang sensitif, asma dapat mengalami eksaserbasi dengan
musim yang meningkat karena spesifik aeroallergen, diantaranya serbuk sari.
8

a. Batuk pada pasien asma ;


Batuk kronis, sering muncul pada anak-anak terutama menyerang pada waktu
malam hari.
Dokumentasi fungsi paru atau saluran napas yang sangat responsif serta adanya
eosinofil sputum, merupakan hal yang penting.
b. Olahraga memicu bronkokonstriksi
Aktivitas fisik merupakan penyebab penting munculnya gejala asma..
Gejala bronkokonstriksi biasanya muncul setelah 5-10 menit setelah berolah raga
(jarang muncul saat sedang berolah raga). Pasien akan mengalami gejala asma
yang tipikal, atau dapat berupa batuk berat, yang dapat membaik dalam 30-45
menit kemudian. Sebaiknya berikan inhalasi 2-agonis maupun digunakan
sebelum olahraga sebagai pencegahan.
2. Pemeriksaan fisik
Ditemukannya bunyi mengik saat dilakukan auskultasi, Pada asma
berat dengan eksaserbasi, mengik dapat tidak ditemukan, tetapi pasien
ini mungkin memiliki gejala fisik lainnya seperti sianosis, kesadaran
menurun, kesulitan berbicara, takikardia, dada
TES UNTUK MENEGAKKAN DIAGNOSIS DAN MONITORING
1. Pengukuran fungsi paru
Diagnosis asma diambil berdasarkan adanya gejala-gejala karakteriktik.
Selain itu, pengukuran fungsi paru dan reversibilitas dari fungsi abnormal paru
mampu meningkatkan konfidensi diagnosis.. Pengukuran fungsi paru mampu
menyediakan penilaian dari tingkat keparahan limitasi saluran napas, reversibilitas
yang dimilikinya, variabilitasnya, dan tentunya konfirmasi diagnosis asma.
Pengukuran ini mampu memberikan informasi yang lengkap mengenai aspek
berbeda dari kontrol asma.

Terdapat

2 metode yang dapat di diaplikasikan kepada pasien yang

berumur > 5 tahun, yaitu spirometri, pengukuran FEV 1 (force expiratory volume
dalam 1 detik), dan PEF (peak expiratory flow).
-

Spirometri
Spirometri merupakan metode untuk mengukur limitasi saluran napas dan

reversibilitas untuk menegakkan diagnosis asma. Pengukuran FEV 1 dan FVC


dilakukan saat melakukan maneuver forced expiratory dengan menggunakan
spirometer. Derajat reversibilitas dari FEV 1 dengan indikasi asma yaitu 12%
(200ml) dari nilai pre-bronkodilator. Tes yang dilakukan berulang sangat
dianjurkan untuk meningkatkan sensitivitas.
Maneuver forced expiratory harus dijelaskan kepada pasien. Pada
beberapa penyakit paru, nilai FEV1 dapat menurun, sehingga perbandingan
FEV1/FVC lebih digunakan, dengan nilai normal >0,75 hingga 0,80 bahkan bisa
sampai 0,9 pada anak-anak. Apabila dihasilkan nilai yang lebih rendah, maka
dikatakan terdapat limitasi saluran napas.
-

Peak expiratory flow

Pengukuran dilakukan menggunakan peak flow meter, hal ini penting untuk
mendiagnosis serta memonitor asma.
Untuk diagnosis asma
Hal ini dilakukan dengan menilai limitasi saluran napas, 60 liter/menit setelah
inhalas bronkodilator, atau variasi diurnal PEF >20% menunjukkan diagnosis
asma.
Untuk monitoring asma
Dengan menggunakan kurva PEF.

VII.

Diagnosa Banding

10

Diangnosa banding pada pasien yang dicurigai asma dibagi berdasarkan kelompok
umur, yaitu: bayi, anak-anak, dewasa muda, dan orang tua.
Anak <5 tahun
Tanda-tanda khas yang terjadi pada anak adalah : episode mengik dan batuk
sangat sering dialami oleh anak-anak <3 tahun tanpa penyakit asma. Terdapat 3
tipe mengik pada anak <3tahun:

Transient early wheezing


Pada anak premature atau orang tua yang perokok
Persistent early onset wheezing
Berhubungan dengan infeksi respirasi virus akut
Late onset wheezing
Berhubungan dengan penyakit atopik.
Beberapa kategori berikut menunjukkan diagnosis asma,
Episode mengik yang frekuen (>1bulan)
Periode batuk malam hari tanpa infeksi virus
Tidak ada mengik sesuai perubahan musim
Gejala yang tetap ada setelah umur 3 tahun
Anak dan dewasa
Beberapa hal yang dapat diperhatikan dalam menegakkan diagnosis:
Sindrom hiperventilasi dan serangan panik
Obstruksi saluran napas atas
Disfungsi pita suara
Jenis penyakit obstruksi penyakit paru
Penyakit paru non-obstruktif
Penyebab selain paru (gagal jantung kiri)
Orang tua
Penyakit asma yang tidak terdiagnosis pada orang tua menjadi gejala respiratori
yang mengancam. Gejala mengik, kesulitan bernapas, dan batuk dikarenakan
gagal jantung kiri disebut dengan cardiac asthma. Adanya gejala yang

11

memburuk saat berolahraga dan pada malam hari dapat semakin menguatkan
diagnosis.
Asma pekerjaan
Ditandai dengan adanya gejala rhinitis, batuk, dan mengik . Diagnosis yang tepat
membutuhkan riwayat pajanan pekerjaan pada pasien.
VIII. Penatalaksanaan
Tujuan dalam tatalaksana asma yang sukses adalah untuk :
Mancapai dan mempertahankan kontrol dari berbagai gejala
Mempertahankan tingkat aktivitas normal, termasuk berolah raga
Mempertahankan fungsi paru hingga mendekati normal
Mencegah eksaserbasi asma
Menghindari efek samping dari obat-obatan asma
Mencegah mortalitas karena asma
Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan 4 komponen terapi yaitu :
1. Mengembangkan hubungan yang baik antara pasien dan dokter.
2. Mengidentifikasi dan menurunkan paparan terhadap faktor resiko
3. Menilai, mengobati, dan memonitor asma
4. Menangani eksaserbasi asma
Penatalaksanaan Umum:

Mencegah faktor resiko

Meminum obat dengan benar

Mengerti perbedaan antara controller dan reliever

Mengenali tanda asma yang memburuk dan mengambil tindakan

Mencari pertolongan medis bila diperlukan

Control 1-3 bulan sekali

Control 2-4 minggu setelah eksaserbasi


12

Farmakologi

2 agonist inhalasi kerja cepat (SABA)


dimulai dengan 2 4 puff setiap 20 menit untuk 1 jam pertama, serangan
ringan 2 4 puff setiap 3 4 jam, dan serangan sedang 6 10 puff setiap 1 2
jam

Glukokortikoid oral
0,5-1,0 mg prednisolon/kgBB selama 24 jam) pada serangan sedang dan berat
untuk mengurangi inflamasi dan mempercepat penyambuhan

Oksigen bila saturasi O2 kurang dari 95%

Kombinasi 2-agonist dengan antikolinergik

Methylxanthine (theophyline) tdk direkomendasikan bila digunakan


bersama dengan 2 agonist inhalasi.

Mengatasi eksaserbasi

13

Eksaserbasi asma (serangan asma) ditandai dengan adanya peningkatan


sesak nafas yang progresif, batuk, mengi, atau chest tightness atau kombinasi dari
gejala gejala ini.
Asma berat dapat mengancam jiwa sehingga penanganannya harus baik.
Pasien pasien yang beresiko dan terancam kondisinya memburuk di antaranya
adalah pasien :

Dengan riwayat asma yang fatal sehingga memerlukan intubasi dan


ventilasi mekanik

Yang dirawat atau datang ke UGD karena asma dalam 1 tahun terakhir

Yang sekarang sedang menggunakan atau baru berhenti menggunakan


glukokortikoid oral

Yang sedang tidak menggunakan inhalasi glukokortikoid

Yang bergantung secara berlebihan terhadap 2 agonist inhalasi kerja


cepat terutama yang menggunakan lebih dari 1 tabung salbutamol setiap
bulannya

Dengan riwayat penyakit psikiatri atau masalah psikososial terutama


pengguna sedative

Dengan riwayat kepatuhan yang kurang terhadap pengobatan asma

Pasien harus segera mencari pertolongan medis bila :

Serangan yang terjadi berat :


-

Pasien sesak saat beristirahat, membungkukkan badan ke depan,


berbicara dalam beberapa kata, agitasi, bingung, bradikardia, atau
pernafasan > 30 x/menit.

Mengi keras ataupun tidak ada

Nadi > 120 x/menit

PEF < 60% nilai yang diprediksi, walaupun telah diterapi inisial

Pasien kelelahan

Respon terhadap pengobatan dengan bronkodilator inisial tidak


berhasil dan masih berlangsung setidaknya 3 jam

14

Tidak ada kemajuan dalam 2 6 jam setelah meminum


glukokortikoid oral

Terjadi perburukan

Serangan asma (Asthma Excacerbation) memerlukan pengobatan yang tepat :

2 agonist inhalasi kerja cepat (dimulai dengan 2 4 puff setiap 20


menit untuk 1 jam pertama, serangan ringan 2 4 puff setiap 3 4 jam,
dan serangan sedang 6 10 puff setiap 1 2 jam)

Glukokortikoid oral (0,5 1,0 mg prednisolon / kgBB selama 24 jam)


pada serangan sedang dan berat untuk mengurangi inflamasi dan
mempercepat penyambuhan

Oksigen diberikan bila saturasi O2 kurang dari 95%

Kombinasi 2 agonist dengan antikolinergik berhubungan dengan


angka perawatan di rumah sakit yang lebih rendah dan perkembangan
PEV dan FEV1 yang lebih baik.

Methylxanthine tidak direkomendasikan bila digunakan bersama


dengan

2 agonist inhalasi. Walaupun demikian, teofilin dapat

digunakan bila 2 agonist inhalasi tidak tersedia. Bila pasien


mengkonsumsi teofilin, konsentrasi serum harus diukur sebelum
menambahkan teofilin kerja cepat.
Terapi yang tidak direkomendasikan untuk serangan asma, yaitu :
Sedatif
Obat mukolitik (dapat memperburuk batuk)
Fisioterapi dada (dapat meningkatkan ketidaknyamanan pasien)
Hidrasi dengan volume yang besar
Antibiotik (kecuali ada tanda tanda infeksi seperti pneumonia atau
sinusitis)
Epinefrin / adrenalin

15

Monitor Respon Terapi


Dapat diukur dengan saturasi oksigen. Pemeriksaan analisa gas darah
dapat dilakukan pada pasien yang dicurigai hipoventilasi, kelelahan, distress yang
berat, atau PEF diprediksi 30 50%.
Follow Up :
Setelah eksaserbasi ditangani identifikasi penyebab cegah serangan
dan tentukan pengobatan pada pasien.

Derajat

Klinis Sebelum

Nilai VEP1

Obat Pencegah Harian

Pengobatan
Asma

- gejala intermiten >80%

Intermiten

1x seminggu

(var: <20%)

Tidak diperlukan
Bila

timbul

serangan

dapat

- serangan singkat

digunakan agonis beta 2 hirup,

(jam- hari)

bila

serangan

ditambahkan

- serangan malam

berat

timbul,

pemberian

glukokortikoid sistemik.

2x/bulan
Asma

Persisten

seminggu

Ringan

gejala

>2x

80%
(var:20 - 30%)

(<1x per hari)


-

Glukokortikoid

hirup

dosis

rendah
Alternatif: teofilin lepas lambat,
kromolin,

serangan

anti-leukotrien,

nedokromil

mengganggu
aktivitas & tidur
- serangan malam
>2x/bulan
Asma

-gejala

Persisten

hari

Sedang

(+)

setiap

> 60%-< 80%


(var: >30%)

Glukokortikoid

dosis

rendah-

sedang hirup dan agonis beta-2

16

-serangan

hirup kerja panjang.

mengganggu

Alternatif: anti-leukotrien atau

aktivitas & tidur


-serangan

teofilin

malam

>1x/minggu
Asma

-gejala

Persisten

menerus,

Berat

terus

60%

Glukokortikoid hirup dosis tinggi

sering

mendapat serangan
-aktivitas

dan beta-2 agonis hirup kerja


(var: > 30%)

atau

karena

jika

perlu

sirup

kerja

panjang

(2mg/hari, maks. 60 mg/hari).

gejala asma
-serangan

dan

ditambahkan glukokortikoid tab

fisik

terbatas

panjang,

malam

sering

PENILAIAN DERAJAT EKSASERBASI


Ringan

Sedang

Berat

Ancaman
henti napas

Sesak

Saat berjalan

Saat berbicara

Saat istirahat

Masih dapat

Harus duduk

Duduk

Bicara

berbaring
Satu Kalimat

Beberapa kata

membungkuk
Satu kata

Kesadaran

panjang
Dapat gelisah

Umumnya

Umumnya

Kesadaaran

Meningkat
Umumnya

gelisah
Lebih 30 /menit
Umumnya

menurun

Laju napas
Retraksi

gelisah
Meningkat
Umumnya

suprasternal
Wheezing

tidak
Sedang,

Keras

Umumnya keras

Umumnya

seringkali

wheezing

hanya pada

hilang

17

Denyut/menit
Pulsus

akhir ekspirasi
< 100
Tidak ada

100 120
Dapat ada

> 120
Sering ada

Bradikardi
Tidak ada

paradoksus

< 10 mmHg

10 25 mmHg

> 25 mmHg

karena otot
napas lemah

PEF
SaO2

> 80%

Sekitar 60 80

< 60% prediksi

> 95%

%
91 95%

< 90%

TINDAKAN
Eksaserbasi Ringan
Oksigen untuk mencapai

Eksaserbasi Sedang
= Eksaserbasi Ringan +

Eksaserbasi Berat
= Esaserbasi Ringan +

saturasi O2 90% (95% pada

Inhalasi antikolinergik

Inhalasi antikolinergik

anak)

setiap 60 menit

setiap 60 menit

Inhalasi 2-agonis kerja

Teruskan terapi untuk 1-3

Glukokortikosteroid oral

cepat 2 to 4 puffs (atau

jam hingga perbaikan

prednisolon 40-50 mg, atau

nebulasi) setiap 20 menit

metilprednisolon 60-80 mg

dalam satu jam.

dosis tunggal, atau

Bila tidak ada respon

hidrokortison 300-400 mg

segera, atau bila sebelumnya

dosis terbagi selama 5-10

mendapat

hari tanpa tappering.

glukokortikosteroid oral beri

Magnesium intravena,

Glukokortikosteroid oral:

infus 2g selama 20 menit

prednisolon 40-50 mg, atau

satu kali pemberian

metilprednisolon 60-80 mg
dosis tunggal, atau
hidrokortison 300-400 mg
dosis terbagi selama 5-10
hari tanpa tappering.
Sedasi kontra indikasi pada
terapi eksaserbasi

18

Nilai ulang derajat eksaserbasi setelah 1-2 jam


RESPON SETELAH 1-2 jam
RESPON
Respons Baik dalam 1-2 Jam:

TINDAKAN
Rawat Ruang Biasa

Respons bertahan 60 menit setelah terapi

Terapi reliever dan kontroler sesuai status

terakhir

kontrol asma atau derajat asma.

Pemeriksaan fisik normal: tanpa distress


PEF > 70%
Saturasi O2 > 90% (95% children)
Respons Inkomplet dalam 1-2 Jam:

Observasi di IGD

Faktor risiko untuk asma hampir fatal.

Oksigen

Pemeriksaan fisik: gejala sedang sampai

Inhalasi 2-agonis antikolinergik

berat

Glukokortikosteroid sistemik

PEF < 60%

Magnesium intravena 2g selama 20 menit

Saturasi O2 tidak ada perbaikan

Monitor PEF, saturasi O2, denyut nadi


Tidak responb dalam 6-12 jam: rawat ICU

Respon buruk within 1-2 Hours:

Rawat ICU

Faktor risiko untuk asma hampir fatal.

Oksigen

Pemeriksaan Fisiik: gejala berat,

Inhalasi 2-agonis + antikolinergik

kesadaran menurun,

Glukokortikosteroid intravena

PEF < 30%

Pertimbangkan 2-agonis intravena

PCO2 > 45 mm Hg

Pertimbangkan teofilin intravena 5-6

PO2 < 60mm Hg

mg/kgBB bolus dilanjutkan drip


0,5-,06mg/kgBB/jam
Kemungkian intubasi dan ventilasi
mekanik

19

KRITERIA BEROBAT JALAN


Kriteria berobat jalan

Pengobatan dirumah:

PEF > 60% prediksi

Teruskan inhalasi 2-agonis

Bertahan pada pengobatan oral/inhalasi

Pertimbangkan glukokortikosteroid
inhalasi/oral
Pertimbangkan penambahan inhalasi
kombinasi.
Edukasi Pasien: Gunakan obat dengan
tepat

Daftar Pustaka

GINA

Suhendro dkk. Asma Bronchial. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III.
Edisi IV. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta, Juni 2006.

http://www.aaaai.org/conditions-and-treatments/asthma.aspx

20