Anda di halaman 1dari 6

Dampak negatif atau kerugian reklamasi pesisir pantai

Terdapat bermacam dampak reklamasi daerah pesisir pantai yang banyak dilakukan
pada negara atau kota maju dalam rangka memperluas daratan sehingga bisa
digunakan untuk area bisnis, perumahan,wisata rekreasi dan keperluan lainya. selalu
ada dampak positif dan negatif dalam setiap kegiatan termasuk dalam hal pengurugan
tepi laut ini, bisa jadi yang melakukan kegiatan hanya mendapat keuntunganya saja
sementara kerugian harus ditanggung oleh pihak yang tidak mengerti apa-apa, tanpa
disadari banyak daerah pesisir pantai terpencil yang hilang karena aktifitas reklamasi
ini.Proyek reklamasi ini pernah digugat Kementerian Lingkungan Hidup walaupun
kalah di tingkat kasasi. Meski demikian, reklamasi tetap bisa diteruskan selama
memperhatikan sejumlah aspek seperti sosial, ekonomi, dan lingkungan. Namun
reklamasi seharusnya untuk kepentingan publik, jangan memikirkan kepentingan
pengembang saja.
1. Proyek reklamasi di Teluk Jakarta tak layak dari aspek lingkungan. Jika alasan
pemerintah provinsi beralasan meniru negara lain yang melakukan reklamasi, hal itu
dianggap keliru. Bahkan dua negara yang telah mengerjakan reklamasi yakni Korea
Selatan dan Jepang justru menyesal. Negara lain ada dua negara yang menyesal
setelah melakukan reklamasi, Korea Selatan dan Jepang. Beberapa ahli berpendapat
kalau dipertimbangkan lagi memang secara teknis proyek ini tidak layak. Setelah
Korea Selatan melakukan reklamasi tiga kali itu akhirnya melakukan moratorium atau
penundaan. Demikian juga Jepang mulai merestorasi atau mengembalikan kondisi
seperti semula setelah melakukan reklamasi masif. Benerapa pakar di Jepang saat
pertemuan di kongres kelautan Asia Timur di Vietnam yymenyesal melakukan
reklamasi, jadi di Indonesia sebaiknya juga dihentikan. Jika proyek reklamasi ini tetap
diteruskan, lanjutnya, dapat berdampak pada kematian makhluk hidup di dalam laut
dan penurunan kecepatan arus yang membuat sirkulasi air tidak berjalan lancar.
2. Reklamasi Teluk Jakarta juga dinilai tidak bermanfaat sama sekali bagi lingkungan.
Hal ini mempertegas informasi bahwa ada yang menyebut reklamasi bisa mengurangi
banjir. Malah bisa memperparah, tidak ada manfaat bagi lingkungan sama sekalli.
Dari sisi lingkungan reklamasi tidak bisa mencegah ada banjir di pesisir, mengurangi
sendimentasi di sungai dan kualitas air di sekitarnya. Hal ini juga diperkuat dengan
laporan kesimpulan Danish Hydraulic Institute (DHI) pada 2011 yang menjadi
konsultan Kementerian Luar Negeri dalam mengkaji dampak lingkungan dari
terbentuknya 17 pulau reklamasi tersebut. Dokumen ini dengan jelas, reklamasi
membuat terjadi perlambatan kecepatan arus, material lama tertinggal, sendimentasi
logam berat, sehingga yang ada ini makin memperparah pencemaran dan sedimentasi.
Selain itu juga dapat dipastikan, akibat lanjutan dari reklamasi dapat membunuh biota
di sekitar wilayah tersebut. Hal ini tentu akan merugikan masyarakat yang berprofesi
sebagai nelayan, yang juga menjadi korban dari segi sosial proyek reklamasi.
Masalahbsosial lainnyanadanya sekitar 18 ribu nelayan plus anak buah kapal, tidak
mudah merelokasi mereka.
3. Bahaya Tanah Reklamasi Tanah reklamasi sangat rentan terhadap likuifaksi selama
gempa bumi yang dapat memperkuat jumlah kerusakan yang terjadi pada bangunan
dan infrastruktur. Subsidence adalah masalah lain, baik dari pemadatan tanah pada
lahan diisi, dan juga ketika lahan basah diapit oleh tanggul dan dikeringkan untuk

polders dan rawa dikeringkan akhirnya akan tenggelam di bawah permukaan air di
sekitarnya, meningkatkan bahaya dari banjir.
4. Peninggian Air Laut Peninggian muka air laut karena area yang sebelumnya
berfungsi sebagai kolam telah berubah menjadi daratan. Akibat peninggian muka air
laut maka daerah pantai lainya rawan tenggelam, atau setidaknya air asin laut naik ke
daratan sehingga tanaman banyak yang mati, area persawahan sudah tidak bisa
digunakan untuk bercocok tanam, hal ini banyak terjadi diwilayah pedesaan pinggir
pantai. Peninggian muka air laut karena area yang sebelumnya berfungsi sebagai
kolam telah berubah menjadi daratan. Akibat peninggian muka air laut maka daerah
pantai lainya rawan tenggelam, atau setidaknya air asin laut naik ke daratan sehingga
tanaman banyak yang mati, area persawahan sudah tidak bisa digunakan untuk
bercocok tanam, hal ini banyak terjadi diwilayah pedesaan pinggir pantai.
5.

Musnahnya tempat hidup hewan dan tumbuhan pantai sehingga keseimbangan alam
menjadi terganggu, apabila gangguan dilakukan dalam jumlah besar maka dapat
mempengaruhi perubahan cuaca serta kerusakan planet bumi secara total. Pencemaran
laut akibat kagiatan di area reklamasi dapat menyebabkan ikan mati sehingga nelayan
kehilangan lapangan pekerjaan.

6. Wilayah pantai yang semula merupakan ruang publik bagi masyarakat akan hilang
atau berkurang karena akan dimanfaatkan kegiatan privat. Dari sisi lingkungan
banyak biota laut yang mati baik flora maupun fauna karena timbunan tanah urugan
sehingga mempengaruhi ekosistem yang sudah ada. System hidrologi gelombang air
laut yang jatuh ke pantai akan berubah dari alaminya. Berubahnya alur air akan
mengakibatkan daerah diluar reklamasi akan mendapat limpahan air yang banyak
sehingga kemungkinan akan terjadi abrasi, tergerus atau mengakibatkan terjadinya
banjir atau rob karena genangan air yang banyak dan lama.
7. Aspek sosialnya, kegiatan masyarakat di wilayah pantai sebagian besar adalah petani
tambak, nelayan atau buruh. Dengan adanya reklamasi akan mempengaruhi ikan yang
ada di laut sehingga berakibat pada menurunnya pendapatan mereka yang
menggantungkan hidup kepada laut.
8. Aspek ekologi, kondisi ekosistem di wilayah pantai yang kaya akan keanekaragaman
hayati sangat mendukung fungsi pantai sebagai penyangga daratan. Ekosistem
perairan pantai sangat rentan terhadap perubahan sehingga apabila terjadi perubahan
baik secara alami maupun rekayasa akan mengakibatkan berubahnya keseimbangan
ekosistem. Ketidakseimbangan ekosistem perairan pantai dalam waktu yang relatif
lama akan berakibat pada kerusakan ekosistem wilayah pantai, kondisi ini
menyebabkan kerusakan pantai.
9. Dampak lingkungan hidup yang sudah jelas nampak di depan mata akibat proyek
reklamasi itu adalah kehancuran ekosistem berupa hilangnya keanekaragaman hayati.
Keanekaragaman hayati yang diperkirakan akan punah akibat proyek reklamasi itu
antara lain berupa hilangnya berbagai spesies mangrove, punahnya spesies ikan,
kerang, kepiting, burung dan berbagai keanekaragaman hayati lainnya.
10. Dampak lingkungan lainnya dari proyek reklamasi pantai adalah meningkatkan
potensi banjir. Hal itu dikarenakan proyek tersebut dapat mengubah bentang alam

(geomorfologi) dan aliran air (hidrologi) di kawasan reklamasi tersebut. Perubahan itu
antara lain berupa tingkat kelandaian, komposisi sedimen sungai, pola pasang surut,
pola arus laut sepanjang pantai dan merusak kawasan tata air. Potensi banjir akibat
proyek reklamasi itu akan semakin meningkat bila dikaitkan dengan adanya kenaikan
muka air laut yang disebabkan oleh pemanasan global.

Efek dan Kelebihan Reklamasi


Persoalan soal izin dan dampak yang ditimbulkan inilah yang seringkali bikin reklamasi jadi
diperdebatkan. Apalagi, isu seputar nggak transparannya proses perizinan pun seringkali bisa
bikin masalah tambah keruh. Padahal, jika berjalan dengan baik, reklamasi dapat mengurangi
kepadatan penduduk dengan penambahan luas daratan baru.

Perluasan Lahan

Penambahan wilayah diatas laut seringkali jadi solusi kurangnya lahan kosong di perkotaan.
Kayak bandara Kansai di Jepang yang sepenuhnya dibangun diatas pulau buatan diatas laut.
Hal itu dapat mengatasi masalah kebisingan serta padatnya wilayah sekitar bandara.

Jadi Kawasan Wisata

Daratan hasil reklamasi bukan nggak mungkin bisa disulap jadi surga wisata dan tujuan turis
internasional. Buktinya pulau buatan Palm Jumeirah, Jebet Ali, Deira hingga World Seven
merupakan tujuan turis paling populer di kota Dubai, Uni Emirat Arab.

Kawasan Konservasi Alam

Reklamasi juga dapat mengembalikan konfigurasi pantai yang terkena abrasi ke bentuk
semula. Munculnya potensi variasi flora dan fauna baru, dan lain sebagainya. Seperti
kawasan reklamasi Oostvaardesplassen, Belanda dan Semakau Landfill, Singapura. Kawasan
itu kini menjadi rumah bagi satwa liar, flora dan fauna baru yang dijaga pertumbuhannya.

Namun, jika dilakukan dengan kurang seksama, reklamasi juga dapat menimbulkan beberapa
efek buruk.

Merusak Ekosistem Laut

Pada beberapa bagian pantai, ekosistem laut seringkali perlu dilestarikan. Jika reklamasi
dilakukan ditempat ini, tentunya dapat menghancurkan ekosistem laut yang telah ada. Selain
itu juga bisa membahayakn kehidupan satwa laut yang masih berada di wilayah tersebut.

Memicu Perubahan batas Teritorial

Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia pernah mengungkapkan bahwa


proyek reklamasi pantai Singapura justru menggeser batas teritorial negara tetangganya,
termasuk Indonesia.

Eksploitasi Pasir dan Tanah Ilegal

Karena membutuhkan tanah dalam jumlah besar, reklamasi sering memicu penambangan
pasir secara ilegal. Bahkan Indonesia pernah mengalami kerugian trilyunan rupiah gara gara
penambangan pasir ilegal ini.

1. Menurut Fredrik J. Pinakunary dalam tulisannya di hukumonline berjudul


Penerapan Tanggung Jawab Pidana Mutlak Pada Perkara Pencemaran
Lingkungan,konsep strict liability atau tanggung jawab mutlak ini berbeda
dengan sistem tanggung jawab pidana umum yang mengharuskan adanya
kesengajaan atau kealpaan. Dalam sistem tanggung jawab pidana mutlak
hanya dibutuhkan pengetahuan dan perbuatan dari terdakwa. Artinya, dalam
melakukan perbuatan tersebut, apabila si terdakwa mengetahui atau menyadari
tentang potensi kerugian bagi pihak lain, maka kedaan ini cukup untuk
menuntut pertanggungjawaban pidana. Jadi, tidak diperlukan adanya unsur
sengaja atau alpa dari terdakwa, namun semata-mata perbuatan yang telah
mengakibatkan pencemaran (Frances Russell & Christine Locke, English
Law and Language, Cassed, 1992).

Konsep strict liability pertama kali diintrodusir dalam hukum Indonesia antara lain melalui
UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Yang selanjutnya diubah
dengan UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup (UUPPLH). Dalam Pasal 88 UU PPLH ini disebutkan secara tegas mengenai
konsep strict liability:

Setiap orang yang tindakannya, usahanya, dan/atau kegiatannya menggunakan B3


(Bahan Berbahaya dan Beracun, editor), menghasilkan dan/atau mengelola limbah B3,
dan/atau yang menimbulkan ancaman serius terhadap lingkungan hidup bertanggung
jawab mutlak atas kerugian yang terjadi tanpa perlu pembuktian unsur kesalahan.

Penjelasan pasal ini menjelaskan apa yang dimaksud dengan bertanggung jawab mutlak
atau strict liability yaitu berarti unsur kesalahan tidak perlu dibuktikan oleh pihak penggugat
sebagai dasar pembayaran ganti rugi. Ketentuan dalam pasal ini dijelaskan merupakan lex
specialis dalam gugatan tentang perbuatan melanggar hukum pada umumnya sebagaimana
diatur dalam Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Namun, dalam kenyataannya, penerapan konsep ini di Indonesia memang tidak mudah.
Sebagaimana diberitakan hukumonline, Hakim Agung pada Mahkamah Agung Takdir
Rakhmadi mengatakan antara lain bahwa selama ini belum ada kasus yang dibawa
penggugat ke pengadilan untuk menuntut strict liability. Oleh karena itu, masih menurut
Takdir, konsep strict liability belum pernah diterapkan di Indonesia karena memang belum
ada perkaranya di pengadilan. Di sisi lain, peneliti hukum lingkungan dari Indonesia
Center for Environmental Law (ICEL) Prayekti Murharjanti mengatakan, sebenarnya ada
beberapa kasus kerusakan lingkungan di mana konsep strict liability dapat diterapkan.
Diskusi seputar strict liability dapat Anda simak lebih jauh dalam artikel-artikel berikut:
-

Konsep Strict Liability Belum Pernah Terpakai dan

Gugatan Strict Liability Masih Rancu di Indonesia.

Konsep strict liability ini juga dapat diterapkan untuk kasus perlindungan konsumen,
sebagaimana diatur secara implisit dalam Pasal 19 UU No. 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen. Namun, konsep ini juga belum pernah diterapkan oleh pengadilan
Indonesia terkait dengan kasus perlindungan konsumen. Hal ini disampaikan oleh Yusuf
Shofie, pengajar tetap dari Universitas Yarsi yang juga memiliki pengalaman bekerja di
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) . Lebih lanjut simak artikel Yusuf Shofie:
Pengadilan Indonesia Belum Terbiasa dengan Strict Liability.

Jadi, pada dasarnya hukum di Indonesia telah memberikan pengaturan-pengaturan yang


memungkinkan diterapkannya konsep strict liability ini. Namun, tidak dapat dipungkiri
karena berbagai alasan yang telah dikemukakan di atas, dalam praktiknya penerapan strict
liability tidaklah mudah.

Demikian jawaban dari kami, semoga membantu.

Dasar hukum:
1. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek, Staatsblad 1847 No. 23)
2. Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
3. Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup
Pasal 88
Setiap orang yang tindakannya, usahanya, dan/atau kegiatannya menggunakan B3, menghasilkan dan/atau mengelola limbah
B3, dan/atau yang menimbulkan ancaman serius terhadap lingkungan hidup bertanggung jawab mutlak atas kerugian yang
terjadi tanpa perlu pembuktian unsur kesalahan.

Penjelasan Pasal 88
Yang dimaksud dengan bertanggung jawab mutlak atau strict liability adalah unsur kesalahan tidak perlu dibuktikan oleh
pihak penggugat sebagai dasar pembayaran ganti rugi. Ketentuan ayat ini merupakan lex specialis dalam gugatan tentang
perbuatan melanggar hukum pada umumnya.
Besarnya nilai ganti rugi yang dapat dibebankan terhadap pencemar atau perusak lingkungan hidup menurut Pasal ini dapat
ditetapkan sampai batas tertentu.

Yang dimaksud dengan sampai batas waktu tertentu adalah jika menurut penetapan peraturan perundang-undangan
ditentukan keharusan asuransi bagi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan atau telah tersedia dana lingkungan hidup.