Anda di halaman 1dari 4

.

Gelar Doktor Filsafat Teknik Industri dan Engineering Valuation diperolehnya dari Iowa State
University, Ames, Iowa, Amerika Serikat. Ia adalah penerima Bintang Mahaputra Utama dari
Presiden B.J. Habibie pada tanggal 13 Agustus 2000 sebagai pakar dan guru besar dalam
bidangnya.

Bang Imad meninggal dunia pada tanggal 2 Agustus 2008, pada pukul 09.15 WIB dan
dimakamkan keesokan harinya di TMP Kalibata, dipimpin oleh Mensesneg Hatta Rajasa.
-----

Imaduddin Abdulrahim Guru Para Tokoh Besar


Senin, 30 Januari 2012 18:20 WIB
Imaduddin Abdulrahim Guru Para Tokoh Besar
insistnet.com
Imaduddin Abdulrahim
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Sejumlah tokoh Malaysia dan Indonesia pernah menjadi
murid Dr Ir Imaduddin Abdulrahim. Di antaranya, mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia
Anwar Ibrahim, mantan Ketua DPR RI Dr Ir Akbar Tandjung, Dewan Pembina ICMI Pusat
dan Dewan Syuro DPP partai Bulan Bintang Dr Fuad Amsyari, serta mantan Menteri
Kehutanan Prof Dr Muslimin Nasution.
Mereka ini berkumpul di kampus ITB Bandung menggelar sarasehan mengenang mendiang,
hari ini, Senin (30/1/2012). Lalu siapakah Imaduddin Abdulrahim?
Berikut.
Dr Ir Imaduddin Abdulrahim disapa Bang Imad. Namanya tidak asing lagi bagi intelektual
Muslim Indonesia. Bang Imad lahir di Tanjungpura, Langkat, Sumatera Utara, 21 April 1931.
.
Penulis: Domu D. Ambarita

Tahun 2008 mungkin bisa disebut sebagai tahun belasungkawa bagi Indonesia. Beberapa
putra terbaik bangsa berpulang ke haribaan Sang Pencipta.

Khusus bagi kalangan aktivis gerakan Islam, duka mendalam terasa amat menyesakkan dada
karena satu demi satu tokoh-tokoh pentingnya wafat. Setelah Prof Nurcholish Madjid
(20/8/2005), Prof Deliar Noer (18/6/2008), kini Dr Muhammad Imaduddin Abdulrahim
menyusul wafat pada hari Sabtu (2/8) karena penyakit stroke yang sudah cukup lama
dideritanya.

Bagi kalangan aktivis gerakan Islam dan intelektual Muslim, kepergian Bang Imad panggilan
akrab sang cendekiawan jelas kehilangan besar.
Lahir pada 21 April 1931 di Langkat, Sumatra Utara, dari keluarga terpelajar dan terpandang,
ayah seorang pendidik dan hakim agama lulusan Universitas Al-Azhar dan ibu keturunan
bangsawan kesultanan Riau,.

Pengarang Inggris peraih hadiah Nobel Sastra, Vadiadhar Surajprasad Naipaul, ketika
merekam dinamika gerakan Islam di Indonesia melukiskan pemimpin Islam sejati dalam
imajinasi Imaduddin sebagai sosok pemimpin who lived according to the Quran, who
could stand in for the Prophet, who knew the Prophets deeds so well that he would order
affairs as the Prophet himself might have ordered them. (lihat Among the Believers: An
Islamic Journey, New York-Knopf, 1981).

Peneliti Sosial Department of Social Anthropology, University of Sussex, United Kingdom.

Daftar Pustaka

Muhammad Imaduddin Abdulrahim atau Bang Imad (lahir di Tanjung Pura, Langkat, 21
April 1931. Bang Imad dilahirkan di sebuah kota kecil Tanjungpura Kabupaten Langkat,
Sumatera Utara, yang dikenal dengan tradisi keislaman dan keulamaan yang kuat. Ia terlahir
sebagai anak ke-5 dari 13 bersaudara.

Ayahnya, Haji Abdulrahim, seorang ulama yang juga tokoh Masyumi di Sumatera Utara.
Sedangkan ibunya, Syaifiatul Akmal, seorang wanita yang merupakan cucu dari sekretaris
Sultan Langkat.

Bang Imad dibesarkan dalam tradisi pendidikan Islam yang kuat. Sejak kecil ayahnya sendiri
yang langsung mengajarnya Alquran, berupa tajwid dan tafsir setiap usai shalat subuh. Dalam
mengkaji Alquran, ayahnya sering menyelipkan berbagai cerita tentang tokoh-tokoh besar
Islam.

Didikan kuat sejak kecil ditanamkan orangtuanya berbekas dalam diri Imaduddin, sehingga
tidaklah mengherankan, sedari muda ia telah memiliki ghirah keislaman yang menyala-nyala.
Semangat ini membawanya berkecimpung dalam berbagai kegiatan dakwah dan perjuangan
Islam.

Meskipun aktif dalam kegiatan Islam sejak muda, Imaduddin tidak meneruskan
pendidikannya dalam bidang ilmu-ilmu keislaman. Ia justru memilih kuliah Teknik Elektro di
ITB. Pilihan ini didukung ketekunan dan kecerdasannya semasa di bangku sekolah. Sebagai
anggota keluarga aristokrasi Melayu, Imaduddin punya social privilege untuk menempuh
pendidikan di sekolah Belanda, Hollandsch Inlandische School (HIS), sekolah setingkat SD
pada zaman penjajahan Belanda, hingga SMA ia selalu berusaha menjadi yang terbaik di
kelasnya Ketika masih di sekolah menengah, dia menjadi anggota tentara pelajar Muslim,
Hizbullah, yang bergerak di masa perjuangan kemerdekaan.

Setelah menamatkan pendidikan menengah, dia memendam cita-cita besar melanjutkan


pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mendalami teknik elektro
setelah terkesan pidato Bung Hatta mengenai pentingnya bidang ilmu tersebut bagi bangsa
Indonesia di masa depan
.
Kendati belajar di perguruan tinggi sekeler, semangat perjuangan Islam Bang Imad bukannya
luntur, tapi malah semakin membara. Begitu diterima sebagai mahasiswa, ia langsung
bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bandung dan menggalakkan
kegiatan mengkaji Alquran dan tafsirnya di kalangan para aktivis.

Tahun 1963 Bang Imad berangkat keluar negeri melanjutkan S2 di Iowa State University,
Ames, Iowa, Amerika Serikat. Tahun 1965, ia menyelesaikan jenjang magister dan langsung
melanjutkan S3 di Chicago. Baru dua bulan di Chicago Bang Imad mendapat kabar tentang
terjadinya pemberontakan PKI.

Beberapa diindikasikan terlibat sehingga terjadi penangkapan terhadap sejumlah dosen ITB.
Akibatnya, terjadi kekosongan pengajar di berbagai jurusan. Bang Imad kemudian diminta
pulang untuk membantu mengatasi kelangkaan pengajar tersebut. Sebagai aktivis, Bang Imad
memberanikan diri menjadi dosen Agama Islam, di samping juga mengajar pada mata kuliah
lain di Departemen Teknik Elektro.

Kuliah-kuliah yang disampaikan Bang Imad ternyata memberi kesan yang dalam bagi
mahasiswa dan dosen, sehingga beberapa di antaranya meminta Bang Imad membuat

pelatihan sejenis Latihan Mujahid Dakwah (LMD) sebagaimana yang pernah dilakukannya di
ITB.
Di Indonesia, pelatihan ini diberi nama LMD, di Malaysia pelatihan ini digelari Latihan
Tauhid. Peserta pelatihan ini diwajibkan membawa Alquran ke kampus. Pelatihan ini
membawa perubahan besar di kalangan mahasiswa Malaysia. Sebagai contoh, mahasiswa
yang sebelumnya merasa malu membawa Alquran dan membungkusnya kedalam majalah,
setelah pelatihan ini menjadi bangga membawa Alquran ke kampus.

Bang Imad akhirnya meraih Doktor Filsafat Teknik Industri dan Engineering Valuation dari
Iowa State University. Jasanya dalam dunia dakwah sangatlah besar. Pada 2 Agustus 2008, ia
meninggal. Bang Imad telah berjasa besar dalam upaya mendekatkan antara sains dengan
Islam, antara pribadi saintis Muslim dengan Islam itu sendiri. Bang Imad telah melakukan
rintisan besar dalam dunia dakwah di kampus