Anda di halaman 1dari 8

Mata Kuliah : Perlindungan Hutan

Hari/Tanggal : Kamis, 29 September 2016


Kelas

: THH Kamis Pagi

Pengujian Kekompakan Bahan Bakar


Kelompok : 2
Nama

: Rizka Agustria Hasanah (E24150040)

Dosen Praktikum
Ati Dwi Nurhayati, S.Hut, M.Si

DEPARTEMEN SILVIKULTUR
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016

1. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Kebakaran hutan dan lahan adalah suatu peristiwa, baik
alami maupun oleh perbuatan manusia yang ditandai dengan
penjalaran api dengan bebas serta mengonsumsi bahan bakar hutan
dan lahan yang dilaluinya (Adinugroho et al. 2004). Kebakaran
hutan dan lahan bukan hanya berakibat pada skala lokal atau
nasional, tetapi bisa berakibat pada skala regional yang cakupannya
lebih luas dari skala nasional. Selama proses pembakaran, terdapat
berbagai faktor yang memengaruhi perilaku api, yaitu karakteristik
bahan bakar, kadar air bahan bakar, faktor cuaca dan iklim, serta
topografi. Karakteristik bahan bakar dikelompokkan ke dalam dua
kategori, yaitu sifat intrinsik dan ekstrinsik. Sifat intrinsik
mencakup kimia bahan bakar, kerapatan, dan kandungan panas.
Sifat ekstrinsik mencakup kelimpahan relatif dari berbagai ukuran
komponen bahan bakar, fraksi, dan kekompakan bahan bakar
(Heriyanto et al. 2015).
B. Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui pengaruh kekompakan bahan bakar terhadap
proses pembakaran
2. Bahan dan Metode
A. Bahan dan Alat
3 balok kayu
3 serutan kayu @ 10 gr

Korek api
Kawat kasa
Kaki tiga
Pembakar bunsen
Stopwatch
Penggaris
Timbangan analitik
Pinset

B. Metode Praktikum
-Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum.
-Timbang serutan kayu 10 gr

-Timbang balok, ukur volumenya bila perlu


-Siapkan pembakar Bunsen dan kaki 3
-Letakkan satu balok kayu di atas kawat kasa yang sudah dirangkai
dengan kaki tiga.
-Nyalakan pembakar bunsen dan letakkan di bawah rangkaian kaki
tiga, pastikan lidah api menyentuh balok kayu tersebut.
-Hitung tinggi api dan waktu yang dibutuhkan sampai balok
kayu terbakar (api menyala)
-Setelah balok kayu terbakar, jauhkan/pindahkan pembakar bunsen
dari balok kayu
- Hitung tinggi api tertinggi dan tinggi api terendah ( hampir padam)
ketika membakar balok kayu tersebut, serta hitung lamanya waktu
nyala api yang membakar balok kayu sampai akhirnya padam.
-Setelah api padam, amati sisa-sisa pembakaran (berapa persen balok
kayu terbakar oleh api).
- Lakukan langkah langkah di atas sebanyak tiga kali pengulangan
pada balok dan serutan kayu.

3. Hasil dan Pembahasan


A. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Hasil pengamatan pada balok kayu
Bahan bakar

Ulangan

Balok Kayu

1
2
3
x

Waktu

Waktu

Tinggi

Penyulutan
41 detik
59 detik
19 detik

Penyalaan
44 detik
65 detik
27 detik

Api (cm)
0,93
1,43
1,03

Terbakar
5
8
10

39,66 detik

45,33 detik

1,13

7.6

Tabel 2. Hasil pengamatan pada serutan kayu


Bahan bakar

Ulangan

Serutan Kayu

1
2

Waktu

Waktu

Tinggi

Penyulutan
2 detik
5 detik

Penyalaan
186 detik
116 detik

Api (cm)
18,83
15,66

f4Terbakar
85
95

3
x

2,5 detik

117 detik

19,33

90

3.16 detik

139,66 detik

17,94

90

B. Pembahasan
Hasil penelitian yang dilakukan Saharjo et.al (2010)
memberikan gambaran bahwa kualitas dan kuantitas bahan bakar
sangat berpengaruh besar terhadap prilaku api. Kekompakan bahan
bakar

menunjukkan

keterikatan

komponen-komponen

atau

partikel-partikel penyusun bahan bakar dalam suatu tumpukan


yang lebih lanjut akan mempengaruhi suplai udara terhadap
individu partikel bahan bakar dan kemudahan perpindahan panas
dalam tumpukan sehingga mempengaruhi kecepatan dan tinggi
nyala api. Kekompakan bahan bakar mempengaruhi kecepatan api
menjalar. Kekompakan dibagi menjadi dua yaitu, bahan bakar
padat atau kompak dan bahan bakar halus. Dalam hal kekompakan
bahan bakar, semakin kompak bahan bakar yang digunakan pada
percobaan atau pada kenyataan di lapangan, akan menyebabkan
penjalaran api yang terjadi semakin sulit untuk merambat pada
bahan bakar tersebut (Akbar 2001).
Pada percobaan ini bahan bakar yang digunakan adalah
balok kayu dan serutan kayu dengan tiga kali pengulangan
pembakaran. Dari hasil percobaan diketahui bahan bakar yang
paling cepat waktu penyulutan dan waktu penyalaannya yaitu
serutan kayu dengan rata-rata waktu penyulutan 3,16 detik dan
rata-rata waktu penyalaan 139,66 detik. Tinggi api yang dihasilkan
pada kedua pembakaranpun, serutan kayu saat dibakar mempunyai
tinggi api yang lebih tinggi dibandingkan balok kayu. Serutan kayu
juga

mempunyai

persentase

terbakar

yang

lebih

tinggi

dibandingkan balok kayu, yaitu rata-rata 90%. Dari percobaan ini


dapat diketahui bahwa bahan bakar balok kayu memiliki
kekompakan yang tinggi karena lebih sulit terbakar.Ukuran bahan
bakar juga berpengaruh terhadap lamanya waktu bahan bakar

tersebut terbakar. Bahan bakar dengan ukuran kasar akan lebih sulit
terbakar, dan bahan bakar dengan ukuran halus atau dalam bentuk
serutan akan lebih mudah terbakar (Purbowaseso 2004). Hal ini
terbukti dengan hasil percobaan yang menunjukkan bahwa serutan
kayu lebih mudah terbakar dibandingkan balok kayu.
Tarunajaya (2009) menjelaskan pengendalian kebakaran
hutan (forest fire management) merupakan aktifitas melindungi
hutan dari kebakaran liar dan penggunaan api untuk mencapai
tujuan dalam pengelolaan hutan. Peraturan Pemerintahan Nomor
45 Tahun 2004 Pasal 20 tentang Perlindungan hutan menyatakan
bahwa untuk mencegah dan membatasi kerusakan hutan yang
disebabkan oleh kebakaran dapat dilakukan dengan kegiatan
pencegahan, pemadaman dan penanganan pasca kebakaran. Pada
tingkat

kesatuan

pengelolaan

hutan

konservasi

kegiatan

pencegahan yang dilakukan yaitu melakukan kegiatan inventarisasi


lokasi rawan kebakaran hutan, menginventarisasi faktor penyebab
kebakaran , menyiapkan regu-regu pemadam kebakaran, membuat
prosedur tetap, mengadakan sarana pemadaman kebakaran hutan,
dan membuat sekat bakar. Menurut Suratmo et.al (2003) metode
pencegahan hutan menggunakan metode 3E, yaitu Education
(Pendidikan),

Law

Enforcement

(Penegakan

hukum),

dan

Engineering (Keteknikan). Kegiatan Pemadaman hutan dapat


dilakukan dengan dua metode yaitu, metode pemadaman langsung
dan metode pemadaman tidak langsung. Perbedaan dasar antara
kedua metode ini adalah dalam hal penempatan lokasi iliran api
terhadap tepi api kebakaran. Dalam praktek, kedua metode ini
dapat digunakan secara kombinasi. Penanganan pasca kebakaran
hutan dapat dilakukan dengan upaya identifikasi dan evaluasi,
penegakan hukum, dan rehabilitasi.
4. Kesimpulan
Kekompakan

bahan

bakar

berpengaruh

terhadap

proses

pembakaran. Semakin tinggi kekompakan bahan bakar maka bahan bakar

akan lebih sulit terbakar, dan semakin kecil kekompakan suatu bahan
bakar, maka bahan bakar akan lebih mudah terbakar.
5. Daftar Pustaka
Adinugroho W C, Suryadiputra I N N, Saharjo B H, Siboro L.
2004. Panduan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan
gambut. Bogor(ID): Wetlands International.
Akbar A. 2001. Api Hutan dan Strategi Pemadamannya. Majalah
Kehutanan Indonesia.
Heriyanto E, Syaufina L, Sobri M. 2015. Forecasting simulaton of smoke
dispersion from forest and land fires in Indonesia. Procedia
Environmental Sciences. 24 (2015): 111-119.
Purbowaseso B. 2004. Pengendalian Kebakaran Hutan. Jakarta (ID):
PT.Rineka Cipta.
Suratmo FG, Husaeni EH, Surati JN. 2003. Pengendalian Kebakaran
Hutan. Bogor (ID): Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan IPB.
Saharjo BH, Sudo S, Yonemura, Tsuruta H. Fuel characteristics and trace
gases produced thourgh biomass burning. Biodiversitas. 11(1): 4045.
Tarunajaya F. 2009. Pengendalian kebakaran hutan dan Lahan di kawasan
konservasi kamojang garut jawa barat [skripsi]. Bogor (ID): Institut
Pertanian Bogor.

LAMPIRAN

Gambar 1 Alat dan Bahan


Pemebakaran pada balok kayu

Gambar 2

Gambar 3 Mengukur ketinggian api


ketinggian api
(Serutan Kayu)

Gambar 4 Mengukur
(Balok

Kayu)

Gambar 5 Mengamati hasil pembakaran


hasil pembakaran
(Serutan Kayu)
Kayu)

Gambar 6 Mengamati
(Balok