Anda di halaman 1dari 3

Dua puluh kation yang lazim dapat dianalisis dengan mudah dalam larutan berair.

Kation-kation ini dapat dibagi ke dalam lima golongan berdasarkan hasil-kali kelarutan
garam tak larutnya. Karena suatu larutan tak diketahui bisa saja mengandung satu atau
semua dari 20 ion tersebut, analisis harus dilakukan secara sistematis dari golongan 1
sampai golongan 5. Prosedur umum untuk memisahkan ion-ion ini dengan
menambahkan reagen pengendap pada larutan tak diketahui (Chang, 2005: 155).
Kation dalam tiap kelompok diendapkan sebagai senyawa, dengan menggunakan
pereaksi pengendap golongan tertentu. Endapan yang dihasilkan mengandung kationkation dalam satu golongan. Pemisahan endapan dari larutannya biasanya cukup
dilakukan dengan teknik sentrifugasi yang diteruskan dengan dekantasi. Kemudian
pereaksi pengendap golongan berikutnya pada larutan hasil dekantasi. Selanjutnya,
serangkaian reaksi dilakukan untuk dapat memisahkan satu kation dalam satu kelompok
dari kation lainnya. Reaksi yang dipilih harus dilakukan secara hati-hati (Ibnu, dkk.,
2005: 48).
Reaksi pengendapan telah dipergunakan secara luas dalam kimia analitik, dalam
titrasi, dalam penentuan gravimetric, dan dalam pemisahan sampe menjadi komponenkomponennya. Penggunaan metode pengendapan untuk pemisahan merupakan sebuah
teknik dasar yang sangat penting dalam banyak prosedur analitik (Underwood, 2002:
223).
Proses pemisahan ion logam Cu2+ berbeda dengan dengan ion logam Ni2+. Pada
seluruh variasi laju alir dan komposisi pelet biosorben, tampak bahwa pada laju alir dan
komposisi tertentu dari pellet biosorben maka nilai waktu break through (tB) dan waktu
exhausted (tE) dari ion logam Cu2+ lebih besar dari ion logam Ni2+. Hal ini menunjukkan
bahwa ion logam Cu2+ lebih sulit menerobos halangan kolom biosorben dan membutuhkan
waktu lebih lama untuk menjenuhkan kolom dibandingkan dengan ion logam Ni2+. Artinjya,
interaksi antara gugus aktif (gugus amina) dari khitosan dalam biosorben dengan ion logam
Cu2+ adalah lebih kuat dibandingkan dengan ion logam Ni2+. Jika ukuran ion Ni2+ terlalu
kecil untuk menempati rongga tersebut maka ikatan menjadi agak longgar dan lemah,
sehingga ion Ni2+ mudah lepas dan menerobos rongga tersebut bersama aliran larutan
melewati kolom. bahwa Ph efluen yang dihasilkan dari proses pemisahan ion logam Cu2+
berkisar pada pH 6 dan pH efluen hasil pemisahan ion logam Ni2+ berkisar pada pH 7. Hal
ini menunjukkan bahwa selama proses pemisahan kedua ion logam telah terjadi reaksi
kimiawi yang mengubah nilai pH dari pH 4 (pH awal larutan ion logam sebelum masuk

kolom biosorben) menjadi 6 atau 7 (pH efluen yang keluar dari kolom biosorben)
(Santoso,2010).
Santoso,Eko.dkk.2010.STUDI

KOMPARATIF

KURVA

BREAK

THROUGH

PEMISAHAN ION Cu2+ DAN Ni2+ DARI LARUTAN DENGAN PELET KOMPOSIT
CANGKANG KUPANG KHITOSAN TERIKATSILANG DALAM UP FLOW FIXED
BED COLUMN.Surabaya:ITS
Sebuah metode cepat, sederhana dan dapat diandalkan telah dirancang untuk
pemisahan dan penentuan enam kation logam, berdasarkan elektroforesis zona kapiler. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pemisahan lengkap K +, Cu2 +, Zn2 +, Mn2 +, Pb2 + dan
Cd2 + dapat dicapai dalam waktu 5 menit. Anew sistem elektrolit yang mengandung 15
mmol-L "1 imidazol sebagai referensi latar belakang absorbansi dan 8 mmol-L" 1 asam
malonat, 2 mmol-L-1 18-crown-6 eter sebagai agen pengompleks, 10% metanol sebagai
anorganik pengubah, dengan menggunakan asam asetat untuk menyesuaikan pH = 4.40
dikembangkan. Tegangan yang diberikan adalah 20 kV pada 25C. Di bawah kondisi
optimum, 6 ion dipisahkan dan ditentukan dengan koefisien korelasi 0,9984-0,9993. K+ dan
Mn2+ tidak dapat pemisahan dasar lengkap dengan menggunakan asam malonat saja.
Beberapa makalah dilaporkan [16,19,20] bahwa penambahan eter mahkota (18-crown-6
ether) dapat meningkatkan selektivitas. Untuk meningkatkan pemisahan antara K+ dan Mn2
+ ion kita meneliti efek dari 18-crown-6 eter pada pemisahan menunjukkan pada Gambar 2.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa menambahkan 2 mmol-L "1 dari 18-crown-6 eter dalam
elektrolit membuat pemisahan dasar yang baik untuk 6 kation dalam 5 menit. Dalam praeksperimental, penambahan metanol ditemukan untuk meningkatkan properti larutan
elektrolit. Dalam penelitian ini, 10% dari metanol cocok. Lebih atau kurang dari nilai akan
menurunkan efisiensi pemisahan. Pemisahan kation logam harus melaksanakan media asam,
karena pengendapan ion logam berat yang terbentuk dalam solusi dasar [12]. Selain itu, aliran
elektroosmosis (EOF) dapat dipengaruhi oleh pH berjalan buffer.(Gao,2008)
Gao,Jinzhang.dkk.2008.SEPARATION AND DETERMINATION OF SIX METAL
CATIONS BY CAPILLARY ZONE ELECTROPHORESIS.China: Northwest Normal
University
Pengendapan merupakan salah satu metode pemisahan unsur logam tanah, jarang
yang cukup banyak digunakan. Pengedapan dilakukan dengan mengubah zat yang akan
dipisahkan menjadi suatu fase baru yaitu dalam bentuk padatan (endapan). Pengendapan

ini terjadi karena zat tersebut berada dalam bentuk persenyawaan yang hasil kali
konsentrasi ion-ionnya melebihi harga hasil kali kelarutan (ksp) senyawa tersebut
(Biyantoro dan Wasito, 2009).
Endapan adalah zat yang memisahkan diri sebagai suatu fase padat keluar dari
larutan. Endapan terbentuk jika larutan menjadi terlalu jenuh dengan zat yang
bersangkutan. Kelarutan (S) suatu endapan menurut definisi adalah sama dengan
konsentrasi molar dari larutan jenuhnya. Kelarutan bergantung pada berbagai kondisi
seperti suhu, tekanan, konsentrasi bahan-bahan lain dalam larutan itu, dan pada
komposisi pelarutnya (Lesdantina dan Istikomah, 2009).

Biyantoro, Dwi dan Bangun Wasito.2009. Optimasi Pembuatan Oksida Logam Tanah Jarang
dari Pasir Senotim dan Analisis Produk Dengan Spektrometer Pendar Sinar-X. Batan:
STTN.
Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar: Konsep-Konsep Inti. Edisi Ke-3/Jilid 2. Jakarta:
Erlangga.
Day, R.A dan Underwood, AL. 2001. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. Jakarta :
Erlangga.
Ibnu, M. Sodiq, dkk. 2005. Kimia Analitik I. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.
Lesdantina, Dina dan Istikomah. 2009. Pemurnian NaCl dengan Menggunakan Natrium
Karbonat. Semarang: Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.