Anda di halaman 1dari 4

Kebahagiaan Adalah Anugrah

March 26th, 2008/Akhlak dan Nasehat/11 Comments

Penyusun: Ummu Salamah


Kebahagiaan tidak lain adalah limpahan karunia Ilahi, bukan merupakan sebuah hasil usaha
semata. Seperti masuknya hamba-hamba yang sholeh kedalam syurga bukan dikarenakan amalan
mereka semata yang -sebut saja tidak terhitung jumlahnya menurut ukuran manusia- melainkan
karena rahmat dan kasih sayang Allah subhanahu wa taala.
Dalam sudut pandang ikhtiar atau usaha, Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa manusia diberikan
kebebasan memilih, jalan kebahagiaan atau kesengsaraan. Tapi tetap seluruh usaha manusia -mau
tidak mau- terikat dalam sebuah ketetapan pasti yaitu takdir Alloh.
Takdir adalah hak mutlak milik Allah. Manusia hanya memiliki hak menebar usaha, melakukan
amalan, berikhtiar dan bekerja. Kita harus mengimani takdir apapun yang terjadi. Namun dalam
nuansa ikhtiar kita harus tetap berusaha, niscaya Allah akan memberikan kemudahan.
Ada dua kata kunci disini: takdir dan usaha. Keduanya tidak bisa terpisahkan. Dan keduanya,
bisa menjadi pemicu terwujudnya gelombang kebahagiaan.
Pertama, takdir. Dengan meyakini takdir, seorang muslimah akan memiliki ketabahan, terutama
di saat harus menerima dera musibah secara bertubi-tubi atau di saat menghadapi ancaman
terhadap ketentraman hidupnya.
Allah berfirman,



Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa dibumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri,
melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakan-nya.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Al-Hadid: 22)
Ketabahan itulah, yang akan menjadi pemicu kebahagiaan. Karena ketabahan itu muncul melalui
proses keimanan yang bertarung melawan bujuk rayu nafsu, melawan tekanan keadaan, untuk
kemudian keluar sebagai pemenang, mendulang karunia petunjuk Allah.
Allah berfirman,



Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan
barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya
dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (Ath Thaghabun: 11)
Hati yang mendapatkan petunjuk, niscaya memancarkan cahaya pasrah, menyingkirkan nafsu
amarah, menepis rasa kesal dan kecewa sehingga lahirlah kebahagiaan itu.
Di sisi lain, keyakinan kepada takdir, menyeruakkan nuansa kesegaran berpikir, karena dasar
keyakinan bahwa Allah akan memberikan pahala, bagi orang-orang yang tabah dan sabar.


Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena ketabahan mereka (dengan) surga dan
(pakaian) sutera (Al Insan: 12)
Kedua, adalah usaha yaitu usaha yang baik atau amal sholeh yang dilakukan seorang mukmin,
memiliki nilai sakral. Berkaitan dengan kandungan ruh keikhlasan dan kekuatan dan kekuatan
peneladanan terhadap manusia terbaik, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang terdapat di
dalamnya. Dua kandungan itu, bagaikan nyawa dan kekuatan. Membuat usaha yang dilakukan
oleh seorang mukmin berpengaruh impresif, menekan jauh ke lubuk jiwa, melakukan kepuasan
yang tiada tara. Tidak peduli, apakah usaha itu -pada akhirnya- menampakkan hasil, atau terjatuh
pada lubang-lubang kegagalan. Dalam konteks ini, usaha apa pun yang dilakukan oleh seorang
muslim tak lepas dari bingkai ibadah, atau penghambaan diri kepada Allah. Semakin hebat usaha
yang dilakukan, semakin meningkat kualitas kehambaannya.
Sebagai contohnya, ibadah sholat diyakini mampu menjadi media penyejuk hati, bila dilakukan
dengan khusu dan dibarengi dengan kesabaran jiwa




Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu,
sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al Baqoroh: 153)

Dari pemaparan di atas, kita bisa menyimpulkan sebuah fenomena yang cukup menarik.
Kebahagiaan itu lebih sering muncul, setiap kali seorang muslim selesai melakukan
pekerjaannya. Disebut dengan kata lebih sering muncul, karena selesai atau tidak suatu
pekerjaan, berhasil atau tidak suatu usaha, tidak akan mempengaruhi kebahagiaan yang bakal
didapat oleh seorang muslim. Di saat gagal berusaha, seorang mukmin tetaplah berbahagia,
karena pengaruh mutiara ketabahan yang tertanam kuat dalam jiwanya. Di saat berhasil, ia akan
memperoleh kebahagiaan lebih, karena rasa syukurnya. Itulah keajaiban seorang mukmin!
Sungguh ajaib sikap seorang mukmin! Karena segala sesuatunya baik baik baginya. Hal itu
hanya berlaku bagi seorang mukmin saja. Apabila ia mendapatak kesenanagan, ia bersyukur. Itu
menjadi kebaikan baginya. Dan apabila ia tertimpa musibah, ia tetap tabah, maka itu pun
menjadi kebaikan baginya. (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2999)
Sekali lagi, kebahagiaan itu lebih mudah dirasakan oleh seorang muslim ketika usaii
menyelesaikan pekerjaannya. Adapun rasa syukur yang ia ungkapkan, menjadikannya nilaii
lebih. Meskipun secara umum, rasa syukur itu lebih mudah dilakukan, daripada ketabahan dii
saat terjadi musibah. Disebutkan dalam sebuah hadits, Sesungguhnya, ketabahan yang sejati itu
ada pada guncangan pertama kali ketika terjadinya musibah. (Diriwayatkan oleh Al Bukhari
dalam Shohihnya I: 430)
Rasa syukur akan memberikan nilai lebih, terhadap penyegaran hati dan penentraman jiwa. Dari
situlah, sebuah karunia akan semakin terasa kenikmatannya.
Sebagaimana realitas kehidupan, kebahagiaan biasa hadir di saat seorang hamba mengakhiri
ibadah puasanya selepas maghrib. Kehadirannya bagaikan kebahagiaan utama yang luar biasa
nikmatnya.
Orang yang melaksanakan ibadah puasa, memiliki dua kebahagiaan, yang pasti akan
dirasakannya: Saat berbuka, ia berbahagia karena selesai berpuasa. Saat berjumpa dengan
Allah, ia berbahagia, karena ibadah puasanya. (Diriwayatkan oleh Al Bukari II: 673, oleh
Muslim II: 807 dan At Tirmidzy III: 137)
Kebahagiaan yang didapatkan oleh seorang muslim lebih bersifat nyata dan pasti, karena
merupakan dua senyawa yang terkait antara satu dengan lain. Yaitu takdir Allah dan usaha
manusia dengan cara yang benar dan ikhlas. Sementara bagi orang yang tidak beriman,
kebahagiaan hanyalah merupakan letupan sesaat, tatkala menemukan hal-hal yang disukainya,
atau terlepas dari beban yang menghimpitnya. Nilainya pun hanyalah sesaat, karena tidak
memiliki ruh keikhlasan dan kekuatan.
Kebahagiaan tetaplah rahasia Ilahi, meskipun sejuta manusia menggapai langit dan menggali
bumi, demi kebahagiaan sejati.
Keyakinan terhadap takdir, menjunjung manusia ke arah ketabahan, kepasrahan dan keteduhan
hati.
Keihlasan, bak mutiara terpendam, menyorotkan cahaya pasrah, menyambut keridhoan ilahi.
Peneladanan terhadapmu, wahai Nabiku, seringkali menggeser segala kesukaan kami terhadap
segenap penghuni bumi. Itulah sebabnya, kehambaan kami bertahan hingga kini.

Saudari muslimah, berbahagialah dengan takdirmu, niscaya keabadian menghampirimu dengan


segala keindahannya.
Saudari muslimah, berbahagialah dengan keislamanmu, niscaya surga dunia, juga surga
akherat, berkenan menyambutmu
Maroji': Aku Wanita paling Bahagia (Abu Umar Basyier)
***
Artikel www.muslimah.or.id