Anda di halaman 1dari 3

Gen autosomal adalah suatu sifat keturunan yang ditentukan oleh gen pada autosom.

Gen
ini ada yang dominan dan ada yang resesif. Karena memiliki autosom yang sama antara pria dan
wanita, maka sifat keturunan yang ditentukan oleh gen autosomal ini juga dapat dijumpai pada
keduanya. Pewarisan gen autosomal dominan yaitu hadirnya sebuah gen dominan di dalam
gennotip seseorang sehingga dapat memperlihatkan sifat itu nampak padanya. Sedangkan
pewarisan gen autosomal resesif adalah suatu sifat keturunan yang diturunan oleh gen resesif
pada autosom, yang baru akan nampak apabila suatu individu menerima gen itu dari kedua orang
tuanya (Adnan, 2012).
Phenylthiocarbamide (PTC) atau phenylthiouracil merupakan zat kimia dengan rumus.
Phenylthiocarbamide mudah larut dalam air dan untuk penelitian biasanya disediakan beberapa
larutan dari berbagai larutan dari berbagai konsentrasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
wanita itu lebuh sensitive terhadap PTC daripada pria. Akan tetapi sampai sekarang belum ada
peneliti yang menemukan bahwa ada perbedaan dalam jumlah maupun struktur alat pengecap
pada pria dan wanita. Jadi bila ada perbedaan kemampuan merasakan PTC antara wanita dan
pria itu disebabkan hal lain (Suryo, 2011). Menurut Mourant, tingginya frekuensi buta kecap
pada pria disebabkan karena pengaruh tembakau dan makanan, sehingga ambang rasa lidah
kurang peka (Ratmawati, 2003).
Bagi sementara orang zat ini terasa pahit, sehingga mereka disebut pengecap (taster).
Orang lainnya tidak merasakan apa-apa, sehingga mereka ini disebut buta kecap (nontaster).
Selanjutnya Harris dan Kalmus (1994) berpendapat bahwa dengan bertambahnya umur terdapat
penurunan kemampuan untuk mengecap PTC. Hal ini sesuai dengan pendapat Arey (1974) yang
menemukan bahwa jumlah alat pengecap pada manusia akan berkurang dengan bertambahnya
umur (Suryo, 2011).
Karena pengecap lebih banyak jumlahnya maka pengecapan adalah sifat dominan,
mereka yang heterozigotik dapat mengecap PTC. Kemampuan mengecap PTC ini ditentukan
oleh sepasang gen. Dua individu manusia mungkin adalah identik secara genetik baik bagi gengen pengecap PTC, namun fenotipnya berbeda karena adanya gen-gen permodifikasi (gen yang
mempengaruhi ekspresi sifat) (Ratmawati, 2003).
Blakeslee (1932) berhasil membuktikan bahwa kemampuan untuk mengecap PTC itu
herediter (keturunan), yang diturunkan oleh gen-gen dominan autosomal. Gen untuk kemampuan
mengecap PTC terdiri dalam 2 bentuk. Macam bentuk dari gen yang berbeda disebut alel. Alel

untuk pengecap adalah dominan sedangkan alel untuk buta kecap adalah resesif. Alel dominan
adalah alel yang ditunjukkan dengan huruf capital (T) dan alel resesif oleh huruf kecil (t)
(Ratmawati, 2003).
Faktor faktor yang mempengaruhi penurunan sensitivitas pengecap antara lain (Fandra,
2014):
1. Usia
Usia mempengaruhi sensitivitas reseptor perasa. Penurunan sensitivitas indera pengecap
merupakan masalah psikologis yang biasa terjadi pada orang dengan usia tua. Seiring
bertambahnya usia terjadi penurunan jumlah papilla sirkumvalata dan penurunan fungsi
transmisi pada taste buds.
2. Suhu makanan
Sensitivitas pada taste buds pada indera pengecap dapat dipengaruhi oleh suhu makanan dan
minuman yang kurang 20oC maupun

lebih dari 30oC. Suhu yang terlalu panas akan

merusak sel sel taste buds, demikian pula suhu yang terlalu dingin dapat membuat
sensitivitas lidah berkurang, menyebabkan cedera atau bahkan kematian sel. Keadaan
tersebut cenderung berlangsung cepat karena sel yang rusak tersebut diperbaiki.
3. Penyakit
Perawatan dan terapi pada penyakit kronis memerlukan waktu yang cukup lama. Obat-obatan
tersebut memiliki efek samping dapat menyebabkan penurunan senisitivitas indera pengecap.
Efek samping obat tersebut dapat mempengaruhi penurunan sensitivitas indera pengecap,
seperti amphetamin dapat menurunkan sensitivitas rasa asin dan manis, anestesia seperti
lidokain dapat menyebabkan berkurangnya sensitivitas rasa asin dan manis, begitu juga
penggunaan insulin untuk penderita diabetes yang berkepanjangan.
4. Obat-obatan
Pada penyakit kencing manis dan ginjal serta radiasi dapat pula menyebabkan xerostomia.
Xerostomia adalah keadaan dimana mulut kering akibat produksi kelenjar saliva berkurang.
Keadaan tersebut dapat disebabkan oleh ganggguan pada pusat saliva atau saraf pembawa
rangsang . Dengan berkurangnya produksi saliva makan sel-sel pengecap mengalami
kesulitan dalam menerima rangsang.

Gen yang ekspresinya dipengaruhi oleh jenis kelamin adalah sifat yang tampak pada
kedua macam seks, tetapi pada salah satu seks ekspresinya lebih besar dari pada untuk seks
lainnya atau dengan kata lainnya gen-gen tersebut dominansinya bergantung dari jenis kelamin
individu. Contohnya pada kepala botak, jika B merupakan gen yang menentukan kepala botak
dan alelnya b menentukan kepala berambut normal, maka pengaruh jenis kelamin itu demikian
rupa sehingga gen B itu dominan pada laki-laki, tetapi resesif pada perempuan (Arsal, 2012).

DAFTAR PUSTAKA

Adnan, H. 2012. Tes PTC (Phenyl Thiocarbamida) Pada Populasi Suku Jawa dan Madura.
Naskah Skripsi S-1. Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sunan
Kalijaga Yogyakarta, Yogyakarta.
Arsal, A.F. 2012. Analisis Pedigree Cadel (Studi Kasus Beberapa Kabupaten di Sulawesi
Selatan). Jurnal Sainsmat 1(2): 164.
Fandra, M.D. 2014. Perbedaan Sensitivitas Indera Pengecap Rasa Manis dan Rasa Pahit pada
Perokok dan Non Perokok. Naskah Skripsi S-1. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Mahasaraswati Denpasar, Denpasar.
Ratmawati, D. 2003. Kemampuan Mengecap Phenylthiocarbamide (PPTC) Pada Warga Desa
Jatigunung Kecamatan Tulakan Kabupaten Pacitan. Naskah Skripsi S-1. Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember, Jember.
Suryo. 2011. Genetika Manusia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarat. Hal 100.