Anda di halaman 1dari 22

KONDISI PEREKONOMIAN INDONESIA PADA MASA

PEMERINTAHAN SBY

KONDISI PEREKONOMIAN
INDONESIA PADA MASA PEMERINTAHAN SBY

A. Kondisi Perekonomian Semasa Pemerintahan SBY


Kondisi perekonomian Indonesia pada masa pemerintahan SBY
mengalami perkembangan yang sangat baik. Pertumbuhan ekonomi
Indonesia tumbuh pesat di tahun 2010, seiring pemulihan ekonomi dunia
pasca krisis global yang terjadi sepanjang 2008 hingga 2009.Terbukti,
perekonomian Indonesia mampu bertahan dari ancaman pengaruh krisis
ekonomi dan finansial yang terjadi di zona Eropa. Kinerja perekonomian
Indonesia akan terus bertambah baik, tapi harus disesuaikan dengan
kondisi global yang sedang bergejolak. Ekonomi Indonesia akan terus
berkembang, apalagi pasar finansial, walaupun sempat terpengaruh krisis,
tetapi telah membuktikan mampu bertahan.
Sementara
terhadap

itu,

pemulihan

perkembangan

Pemerintahan

Presiden

sektor
Susilo

ekonomi
eksternal
Bambang

global

berdampak

perekonomian
Yudhoyono

positif

Indonesia.

(SBY)

berhasil

mendobrak dan menjadi katarsis terhadap kebuntuan tersebut. Korupsi


dan kemiskinan tetap menjadi masalah di Indonesia. Namun setelah
beberapa tahun berada dalam kepemimpinan nasional yang tidak
menentu, SBY telah berhasil menciptakan kestabilan politik dan ekonomi
di Indonesia.
Salah satu penyebab utama kesuksesan perekonomian Indonesia
adalah efektifnya kebijakan pemerintah yang berfokus pada disiplin fiskal
yang tinggi dan pengurangan utang Negara. Perkembangan yang terjadi
dalam lima tahun terakhir membawa perubahan yang signifikan terhadap
persepsi dunia mengenai Indonesia. Namun masalah-masalah besar lain

masih tetap ada. Pertama, pertumbuhan makro ekonomi yang pesat


belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat secara menyeluruh.
Walaupun Jakarta identik dengan vitalitas ekonominya yang tinggi dan
kota-kota besar lain di Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi yang
pesat, masih banyak warga Indonesia yang hidup di bawah garis
kemiskinan.
Pada pemerintahan SBY kebijakan yang dilakukan adalah mengurangi
subsidi Negara Indonesia, atau menaikkan harga Bahan Bahan Minyak
(BBM), kebijakan bantuan langsung tunai kepada rakyat miskin akan
tetapi bantuan tersebut diberhentikan sampai pada tangan rakyat atau
masyarakat yang membutuhkan, kebijakan menyalurkan bantuan dana
BOS kepada sarana pendidikan yang ada di Negara Indonesia. Akan tetapi
pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dalam perekonomian
Indonesia terdapat masalah dalam kasus Bank Century yang sampai saat
ini belum terselesaikan bahkan sampai mengeluarkan biaya 93 miliar
untuk menyelesaikan kasus Bank Century ini.
Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia
dapat mencapai 5,5-6 persen pada 2010 dan meningkat menjadi 6-6,5
persen pada 2011. Dengan demikian prospek ekonomi Indonesia akan
lebih baik dari perkiraan semula.
Tingkat pertumbuhan ekonomi periode 2005-2007 yang dikelola
pemerintahan SBY-JK relatif lebih baik dibanding pemerintahan selama era
reformasi

dan

rata-rata

pemerintahan

Soeharto

(1990-1997)

yang

pertumbuhan ekonominya sekitar 5%. Tetapi, dibanding kinerja Soeharto


selama 32 tahun yang pertumbuhan ekonominya sekitar 7%, kinerja
pertumbuhan ekonomi SBY-JK masih perlu peningkatan. Pertumbuhan
ekonomi era Soeharto tertinggi terjadi pada tahun 1980 dengan angka
9,9%. Rata-rata pertumbuhan ekonomi pemerintahan SBY-JK selama lima
tahun menjadi 6,4%, angka yang mendekati target 6,6%
Kebijakan menaikkan harga BBM 1 Oktober 2005, dan sebelumnya
Maret 2005, ternyata berimbas pada situasi perekonomian tahun-tahun
berikutnya. Pemerintahan SBY-JK memang harus menaikkan harga BBM

dalam menghadapi tekanan APBN yang makin berat karena lonjakan


harga minyak dunia. Kenaikan harga BBM tersebut telah mendorong
tingkat inflasi Oktober 2005 mencapai 8,7% (MoM) yang merupakan
puncak tingkat inflasi bulanan selama tahun 2005 dan akhirnya ditutup
dengan angka 17,1% per Desember 30, 2005 (YoY). Penyumbang inflasi
terbesar adalah kenaikan biaya transportasi lebih 40% dan harga bahan
makanan 18%.Core inflation pun naik menjadi 9,4%, yang menunjukkan
kebijakan Bank Indonesia (BI) sebagai pemegang otoritas moneter
menjadi tidak sepenuhnya efektif. Inflasi yang mencapai dua digit ini jauh
melampaui angka target inflasi APBNP II tahun 2005 sebesar 8,6%. Inflasi
sampai bulan Februari 2006 (YoY) masih amat tinggi 17,92%, bandingkan
dengan Februari 2005 (YoY) 7,15% atau Februari 2004 (YoY) yang hanya
4,6%.
Efek inflasi tahun 2005 cukup berpengaruh terhadap tingkat suku
bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI), yang menjadi referensi suku bunga
simpanan di dunia perbankan.

Data Harga Bahan Bakar Minyak 2004 vs 2009 (Naik)


Harga
Minyak Mentah

2004
~ USD 40

2009
~ USD 45

Dunia / barel

Catatan
Harga hampir
sama

Premium

Rp 1810

Rp 4500

Naik 249%

Minyak Solar

Rp 1890

Rp 4500

Naik 238%

Minyak Tanah

Rp 700

Rp 2500

Naik 370%

Dengan kondisi harga minyak yang sudah turun dibawah USD 50 per
barel, namun harga jual premium yang masih Rp 4500 per liter
(sedangkan harga ekonomis ~Rp 3800 per liter). Maka sangat ironis
bahwa dalam kemiskinan, para supir angkot harus mensubsidi setiap liter

premium yang dibelinya kepada pemerintah. Sungguh ironis ditengah


kelangkaan minyak tanah, para nelayan turut mensubsidi setiap liter solar
yang dibelinya kepada pemerintah. Dalam kesulitan ekonomi global,
pemerintah bahkan memperoleh keuntungan Rp 1 triluin dari penjualan
premium dan solar kepada rakyatnya sendiri. Inilah sejarah yang tidak
dapat dilupakan. Selama lebih 60 tahun merdeka, pemerintah selalu
membantu rakyat miskin dengan menjual harga minyak yang lebih
ekonomis (dan rendah), namun sekarang sudah tidak lagi rakyatlah yang
mensubsidi pemerintah.
Berdasarkan

janji

kampanye

dan

usaha

untuk

merealisasikan

kesejahteraan rakyat, pemerintah SBY-JK selama 4 tahun belum mampu


memenuhi target janjinya yakni pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas
6.6%.

Sampai

tahun

2008,

pemerintah

SBY-JK

hanya

mampu

meningkatkan pertumbuhan rata-rata 5.9% padahal harga barang dan


jasa (inflasi) naik di atas 10.3%. Ini menandakan secara ekonomi makro,
pemerintah gagal mensejahterakan rakyat. Tidak ada prestasi yang patut
diiklankan oleh Demokrat di bidang ekonomi.
Pertumbu
han

Janji
Target

Realis
asi

2004

ND

5.1%

2005

5.5%

5.6%

Tercapai

5.5%

Tidak
tercapai

2006

6.1%

Keterang
an

2007

6.7%

6.3%

Tidak
tercapai

2008

7.2%

6.2%

Tidak
tercapai

2009

7.6%

~5.0%

Tidak
tercapai *

Tingkat Inflasi 2004-2009 (Naik)


Secara umum setiap tahun inflasi akan naik. Namun, pemerintah
akan dikatakan berhasil secara makro ekonomi jika tingkat inflasi dibawah
angka pertumbuhan ekonomi. Dan faktanya adalah inflasi selama 4 tahun
2 kali lebih besar dari pertumbuhan ekonomi.
Catatan
Tingkat

Janji

Inflasi

Target

Pencapaia
Fakta

2004

6.4%

2005

7.0%

17.1%

Gagal

2006

5.5%

6.6%

Gagal

2007

5.0%

6.6%

Gagal

2008

4.0%

11.0%

Gagal

Selama 4 tahun pemerintahan, Demokrat yang terus mendukung SBY


tidak mampu mengendalikan harga barang dan jasa sesuai dengan janji
yang tertuang dalam kampanye dan RPM yakni

rata-rata mengalami

inflasi 5.4% (2004-2009) atau 4.9% (2004-2008). Fakta yang terjadi


adalah harga barang dan jasa meroket dengan tingkat inflasi rata-rata
10.3% selama periode 2004-2008. Kenaikan harga barang dan jasa
melebihi 200% dari target semula.

Jumlah Penduduk Miskin


Sasaran pertama adalah pengurangan kemiskinan dan pengangguran
dengan target
dari 16,6

berkurangnya persentase penduduk tergolong miskin

persen pada

tahun 2009 dan

tahun 2004 menjadi 8,2

berkurangnya

pengangguran

persen pada

terbuka

dari

persen pada tahun 2003 menjadi 5,1 persen pada tahun 2009.
Penduduk

Jumlah

Persent

Catatan

9,5

Miskin
2004

ase
36.1 juta

16.6%
Februari

2005

35.1 juta

16.0%

2005

2006

39.3 juta

17.8%

Maret 2006

2007

37.2 juta

16.6%

Maret 2007

2008

35.0 juta

15.4%

Maret 2008

8.2% ??
2009

??

Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil mencatat, pemerintahan Susilo


Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla memperbesar utang dalam jumlah
sangat besar. Posisi utang tersebut merupakan utang terbesar sepanjang
sejarah RI.
Berdasarkan catatan koalisi, utang pemerintah sampai Januari 2009
meningkat 31 persen dalam lima tahun terakhir. Posisi utang pada
Desember 2003 sebesar Rp 1.275 triliun. Adapun posisi utang Januari
2009 sebesar Rp 1.667 triliun atau naik Rp 392 triliun. Apabila pada tahun
2004, utang per kapita Indonesia Rp 5,8 juta per kepala, pada Februari
2009 utang per kapita menjadi Rp 7,7 juta per kepala. Memerhatikan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009, koalisi
menilai rezim sekarang ini adalah rezim anti-subsidi. Hal itu dibuktikan
dengan turunnya secara drastis subsidi. Pada tahun 2004 jumah subsidi
masih sebesar 6,3 persen dari produk domestik bruto. Namun, sampai
2009, jumlah subsidi untuk kepentingan rakyat tinggal 0,3 persen dari
PDB.
Pendidikan

merupakan

hal

mendasar.

Pendidikanlah

yang

menentukan kualitas sumber daya manusia. Kebijakan dalam bidang


pendidikan diterapkan oleh kepemimpinan SBY. Beberapa diantaranya

adalah meningkatkan anggaran pendidikan menjadi 20% dari keseluruhan


APBN. Meneruskan dan mengefektifkan program rehabilitasi gedung
sekolah yang sudah dimulai pada periode 2004-2009, sehingga terbangun
fasilitas pendidikan yang memadai dan bermutu dengan memperbaiki dan
menambah

prasarana

fisik

sekolah,

serta

penggunaan

teknologi

informatika dalam proses pengajaran yang akan menunjang proses belajar


dan mengajar agar lebih efektif dan berkualitas.
Pemanfaatan alokasi anggaran minimal 20 persen dari APBN untuk
memastikan

pemantapan

pendidikan

gratis

dan

terjangkau

untuk

pendidikan dasar 9 tahun dan dilanjutkan secara bertahap pada tingkatan


pendidikan lanjutan di tingkat SMA. Perbaikan secara fundamental kualitas
kurikulum dan penyediaan buku-buku yang berkualitas agar makin
mencerdaskan siswa dan membentuk karakter siswa yang beriman,
berilmu, kreatif, inovatif, jujur, dedikatif, bertanggung jawab, dan suka
bekerja keras. Meneruskan perbaikan kualitas guru, dosen serta peneliti
agar menjadi pilar pendidikan yang mencerdaskan bangsa, mampu
menciptakan lingkungan yang inovatif, serta mampu menularkan kualitas
intelektual yang tinggi, bermutu, dan terus berkembang kepada anak
didiknya.
Selain program sertifikasi guru untuk menjaga mutu, juga akan
ditingkatkan program pendidikan dan pelatihan bagi para guru termasuk
program pendidikan bergelar bagi para guru agar sesuai dengan bidang
pelajaran yang diajarkan dan semakin bermutu dalam memberikan
pengajaran pada siswa.
Memperbaiki remunerasi guru dan melanjutkan upaya perbaikan
penghasilan

kepada

guru,

dosen,

dan

para

peneliti.Memperluas

penerapan dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk


mendukung kinerja penyelenggaraan pembangunan di bidang pendidikan.
Mendorong partisipasi masyarakat (terutama orang tua murid) dalam
menciptakan kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu
dan sesuai dengan aspirasi dan tantangan jaman saat ini dan kedepan.
Mengurangi kesenjangan dalam akses pendidikan dan kualitas
pendidikan, baik pada keluarga berpenghasilan rendah maupun daerah

yang tertinggal. Pemberiaan program beasiswa serta pelaksanaan dan


perluasan Program Keluarga Harapan (PKH), serta memberikan bantuan
tunai kepada rumah tangga miskin dengan syarat mereka mengirimkan
anaknya ke bangku sekolah.

B. Keberhasilan SBY selama memerintah pada bidang Ekonomi


Saat

membuka

Rapat

Kerja

tentang

Pelaksanaan

Program

Pembangunan 2011 di Jakarta Convention Center, Senin (10/1/2011),


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dengan mantap memaparkan
10 capaian (keberhasilan pemerintah pada tahun 2010 tersebut.
1.

Ekonomi terus tumbuh dan berkembang dengan fundamental yang


semakin kuat pada 2010. Hal ini, antara lain, tercermin dengan indeks
harga saham gabungan Indonesia yang terus membaik, daya saing
Indonesia di tingkat dunia yang tinggi, nilai ekspor, investasi, dan
cadangan devisa yang terus membaik.

2.

Sejumlah indikator kesejahteraan rakyat mengalami kemajuan penting.


Dunia memberikan penilaian pada Top Ten Movers, istilahnya prestasi
Indonesia dan 9 negara yang lain di bidang pendidikan, kesehatan, dan
peningkatan penghasilan penduduk kita.

3.

Stabilitas politik terjaga dan kehidupan demokrasi makin berkembang.


Check and balances antara pemerintah pusat, DPR dan DPRD, berjalan
dengan baik. Pelaksanaan pemilu juga prinsipnya berjalan dengan lancar.

4.

Pemberantasan korupsi dan penegakan hukum, mencatat sejumlah


prestasi. Begitu pula dengan pemberantasan terorisme dan narkoba.

5. Terjaga baiknya keamanan dalam negeri walaupun masih terdapat konflik


masyarakat dalam skala kecil.
6. Proses perbaikan iklim investasi dan pelayanan publik di banyak daerah.
Hambatan birokrasi dan iklim investasi serta pelayanan publik di banyak
daerah mengalami kemajuan.
7.

Angka kemiskinan dan pengangguran terus ditekan meskipun tetap


rawan

dengan

gejolak

perekonomian

Indonesia.

Presiden

meminta

pemerintah tetap cekatan dan memiliki rencana darurat. Meskipun,


dengarkan kata-kata saya, meskipun bisa kita turunkan kemiskinan dan
pengangguran, tetapi tetap rawan terhadap gejolak perekonomian dunia.
Jangan terlambat kita mengantisipasinya, jangan kita tidak punya rencana
kontigensi, dan jangan pula kita tidak cekatan memecahkan masalah
bilamana dampak dari krisis global itu terjadi, kata Presiden.
8.

Beberapa indikator ekonomi penting Indonesia mencatat rekor baru


dalam sejarah, seperti income perkapita sekarang sudah tembus 3 ribu
dolar AS, lima tahun lalu masih 1.186 dolar AS. Cadangan devisa dulu 36
miliar dolar AS, sekarang 96 miliar hampir 100 miliar dolar AS. Kenaikan
IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) yang tertinggi di dunia, naik 46
perssen. Pendapatan domestik bruto kita meningkat dan Indonesia kini
peringkat 16 ekonomi di dunia.

9.

Makin

baiknya

upaya

pengembangan

koperasi

usaha

kecil

dan

menengah, termasuk penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR)Sedangkan


Direktur Tenaga Kerja dan Pengembangan Kesempatan Kerja Bappenas
Rahma Iryanti di Jakarta, Kamis (7/01/2011) mengungkapkan angka
pengangguran 2010 diprediksi turun menjadi 7,6 persen dari kisaran 7,87
persen tahun lalu. Penurunan tersebut seiring dengan membaiknya
kondisi perekonomian.
10. Indonesia makin berperan dalam hubungan internasional, makin nyata
peran kita, baik dalam mengatasi krisis ekonomi global, dalam hubungan
G20, APEC, East Asia Summit, ASEAN, G8 plus, dan pemeliharan
perdamaian dunia. Kita aktif sekali dalam menjaga ketertiban dan
perdamaian dunia dan juga kerja sama mengatasi perubahan iklim, tegas
Presiden, sebagaimana dipublikasikan juga di situs resmi Presiden SBY
(presidensby.info)
Rahma Iryanti mengatakan, kondisi ketenagakerjaan saat ini sudah
menunjukkan perbaikan. Jumlah pengangguran terbuka menurun dari
11,90 juta (11,24 persen) pada 2005 menjadi 8,96 juta (7,87 persen) pada
2009. Sementara kesempatan kerja yang tersedia selama 2005-2009
tumbuh sebesar rata-rata 2,78 persen per tahun atau bertambah 10,91

juta orang. Menurutnya, bertambahnya jumlah kesempatan kerja di 2010


tidak dapat dilepaskan dari kondisi perekonomian yang menunjukkan
angka pertumbuhan di atas 6 persen pada periode 2007-2008. Masingmasing sektor ekonomi memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda dalam
hal serapan tenaga kerja. Disebutkan, antara periode 2005-2009 sektor
jasa kemasyarakatan memiliki angka elastisitas yang paling tinggi.
Ditegaskan,

sektor

yang

diharapkan

dapat

menciptakan

kesempatan kerja yang besar adalah dari sektor industri. Karena 60,0
persen tenaga kerja Indonesia berada pada lapangan kerja formal.
Perkembangan sektor pekerja formal dari tahun ke tahun tumbuh dengan
baik. Misalnya, pada 2005 pekerja di bidang pertanian mencapai 2,9 juta,
industri 7,9 juta, dan jasa 17,8 juta orang. Sedangkan pada 2009
mengalami perubahan pada sektor pertanian sebesar 3,2 juta, sektor
industri 7,5 juta,dan jasa 21,2 juta. Saya cukup optimistis tahun ini kita
bisa mencapai target pengurangan jumlah pengangguran menjadi 7,6
persen, katanya.
C. Penyebab Keberhasilan Presiden SBY
Salah satu penyebab utama kesuksesan perekonomian Indonesia
adalah efektifnya kebijakan pemerintah yang berfokus pada disiplin fiskal
yang tinggi dan pengurangan utang Negara.Perkembangan yang terjadi
dalam lima tahun terakhir membawa perubahan yang signifikan terhadap
persepsi dunia mengenai Indonesia. Namun masalah-masalah besar lain
masih tetap ada. Pertama, pertumbuhan makroekonomi yang pesat belum
menyentuh seluruh lapisan masyarakat secara menyeluruh. Walaupun
Jakarta identik dengan vitalitas ekonominya yang tinggi dan kota-kota
besar lain di Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi yang pesat, masih
banyak warga Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa Indonesia masih
memerlukan banyak perbaikan. Namun apa yang telah dicapai selama ini
merupakan hasil dari visi dan perencanaan pemerintahan SBY. Dapat
dibayangkan hal-hal lain yang

Sumber : http://anis-permata.blogspot.com/2014/08/kondisiperekonomian-indonesia-pada.html

KONDISI PEREKONOMIAN INDONESIA PADA MASA


PEMERINTAHAN SBY
Kondisi perekonomian Indonesia pada masa pemerintahan SBY mengalami
perkembangan yang sangat baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh pesat di tahun
2010 seiring pemulihan ekonomi dunia pasca krisis global yang terjadi sepanjang 2008
hingga 2009.Terbukti, perekonomian Indonesia mampu bertahan dari ancaman pengaruh
krisis ekonomi dan finansial yang terjadi di zona Eropa. Kinerja perekonomian Indonesia
akan terus bertambah baik, tapi harus disesuaikan dengan kondisi global yang sedang
bergejolak. Ekonomi Indonesia akan terus berkembang, apalagi pasar finansial, walaupun
sempat terpengaruh krisis, tetapi telah membuktikan mampu bertahan. Sementara itu,
pemulihan ekonomi global berdampak positif terhadap perkembangan sektor eksternal
perekonomian Indonesia.Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berhasil
mendobrak dan menjadi katarsis terhadap kebuntuan tersebut. Korupsi dan kemiskinan tetap
menjadi masalah di Indonesia. Namun setelah beberapa tahun berada dalam kepemimpinan
nasional yang tidak menentu, SBY telah berhasil menciptakan kestabilan politik dan ekonomi
di Indonesia.
Salah satu penyebab utama kesuksesan perekonomian Indonesia adalah efektifnya
kebijakan pemerintah yang berfokus pada disiplin fiskal yang tinggi dan pengurangan utang
Negara.Perkembangan yang terjadi dalam lima tahun terakhir membawa perubahan yang
signifikan terhadap persepsi dunia mengenai Indonesia. Namun masalah-masalah besar lain
masih tetap ada. Pertama, pertumbuhan makroekonomi yang pesat belum menyentuh seluruh
lapisan masyarakat secara menyeluruh. Walaupun Jakarta identik dengan vitalitas
ekonominya yang tinggi dan kota-kota besar lain di Indonesia memiliki pertumbuhan
ekonomi yang pesat, masih banyak warga Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Berikut ini kondisi perekonomian Indonesia pada masa pemerintahan SBY dari berbagai
bidang :

1) Politik

Dalam pemilu legislatif 2004, partai yang didirikan oleh SBY, yaitu Partai Demokrat, meraih
7,45% suara. Kemudian pada 10 Mei 2004, tiga partai politik yaitu Partai Demokrat, Partai Keadilan dan
Persatuan Indonesia, dan Partai Bulan Bintang secara resmi mencalonkannya sebagai presiden dan
berpasangan dengan kandidat wakil presiden Jusuf Kalla. Dalam masa kepemimpinannya bersama Jusuf
Kalla, beliau didukung oleh koalisi dari Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Amanat Nasional, Partai
Keadilan dan Persatuan Indonesia, dan Partai Bulan Bintang.
Kemudian di pemilu 2009, SBY kembali menjadi calon presiden bersama pasangan barunya yaitu
Boediono dan kembali terpilih sebagai presiden Indonesia.
Pada periode kepemimpinannya yang pertama, SBY membentuk Kabinet Indonesia Bersatu yang
merupakan kabinet pemerintahan Indonesia pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama
Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla. Kabinet Indonesia Bersatu dibentuk pada 21 Oktober 2004 dan
masa baktinya berakhir pada tahun 2009. Pada 5 Desember 2005, Presiden Yudhoyono melakukan
perombakan kabinet untuk pertama kalinya, dan setelah melakukan evaluasi lebih lanjut atas kinerja para
menterinya, Presiden melakukan perombakan kedua pada 7 Mei 2007.
Pada periode kepemimpinannya yang kedua, SBY membentuk Kabinet Indonesia Bersatu II yang
merupakan kabinet pemerintahan Indonesia pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama
Wakil Presiden Boediono. Susunan kabinet ini berasal dari usulan partai politik pengusul pasangan SBYBoediono pada Pilpres 2009 yang mendapatkan kursi di DPR (Partai Demokrat, PKS, PAN, PPP, dan PKB)
ditambah Partai Golkar yang bergabung setelahnya, tim sukses pasangan SBY-Boediono pada Pilpres 2009,
serta kalangan profesional. Susunan Kabinet Indonesia Bersatu II diumumkan oleh Presiden SBY pada 21
Oktober 2009 dan dilantik sehari setelahnya. Pada 19 Mei 2010, Presiden SBY mengumumkan pergantian
Menteri Keuangan. Pada tanggal 18 Oktober 2011, Presiden SBY mengumumkan perombakan Kabinet
Indonesia Bersatu II, beberapa wajah baru masuk ke dalam kabinet dan beberapa menteri lainnya bergeser
jabatan di dalam kabinet.

Konsep Trias Politika (Eksekutif, Legislatif, Yudikatif) pada masa pemerintahan SBY
mengalami perubahan progresif, dimana konsep tersebut berusaha menempatkan posisinya
berdasarkan prinsip structural Sistem Politik Indonesia, yakini berdasarkan kedaulatan rakyat.
Pada masa pemerintahan SBY, hal tersebut benar-benar terimplementasikan, dimana rakyat
bisa memilih secara langsung calon wakil rakyat melalui Pemilu untuk memilih anggota
dewan legislaif, dan Pilpres untuk pemilihan elit eksekutif, sekalipun untuk elit yudikatif,
pemilihanya masih dilakukan oleh DPR dengan pertimbangan presiden.
Di Indonesia sendiri, selama masa pemerintahan SBY di tahun 2004-2009, sistem
kepartaian mengalami perubahan yang signifikan, dimana partai politik bebas untuk didirikan
asalkan sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku, serta tidak menyimpang dari
hakikat pancasila secara universal. Masyarakat Indonesia pun dapat memilih calon wakil
rakyat pilihan mereka secara langsung, hal tersebut tentu menunjukan apresiasi negara
terhadap hak dasar bangsa secara universal dalam konteks pembentukan negara yang
demokratis.

Politik pencitraan merupakan salah satu senjata ampuh yang digunakan para pemimpin
negara untuk mengambil hati rakyatnya. Pola politik pencitraan tentu digunakan oleh hampir
semua pemimpin negara di dunia, termasuk Presiden SBY. Selaku pemimpin negara, ia tentu
harus membentuk citra dirinya sebaik mungkin demi menjaga imej baiknya di mata
masyarakat Indonesia. Dalam melakukan politik pencitraan tersebut, Presiden SBY
melakukanya dengan beberapa hal, yang terbagi dalam konteks internal dan konteks
eksternal.
Dalam konteks internal, politik pencitraan SBY dilakukan dengan menggunakan
kapabilitas internalnya, yakni dengan kapabilitas retorika atau kemampuan berbicara di depan
umum. Dari lima jenis retorika yang dikemukakan Aristoteles, Presiden SBY dinilai
mengimplementasikan Retorika tipe Elucotio, dimana pembicara memilih kata-kata dan
bahasa yang tepat sebagai alat pengemas pesanya ketika berbicara di depan umum. Selain hal
tersebut, konteks internal disini berkaitan dengan sikap bijak, kalem, dan legowo yang
ditunjukan Presiden SBY kepada masyarakat, dimana hal tersebut tentunya dapat
berimplikasi terhadap penarikat rasa simpatik masyarakat itu sendiri.
Dalam konteks eksternal, politik pencitraan SBY dilakukan dengan beragam aspek,
salah satunya adalah kampanye, dan introduksi prestasi positif SBY selama memerintah
Indonesia. Hal tersebut tentu dapat memicu ketertarikan rakyat Indonesia akan keberhasilan
SBY dan menjadi simpatik atasnya.
2) Hukum
Masalah penegakan hukum merupakan masalah yang selama ini dianggap paling krusial. Masalahmasalah hukum yang mulai dihadapi SBY terkait dengan bencana alam maupun bencana akibat kesalahan
manusia yang terjadi pada awal pemerintahannya, mulai bencana tsunami di Aceh, gempa di Yogyakarta,
jatuhnya pesawat Adam Air, sampai lumpur Lapindo di Sidoarjo dan bencana akibat pembagian BLT (bantuan
langsung tunai) sebagai kompensasi BBM (bahan bakar minyak). Kemudian juga mulai muncul masalah
kedaulatan negara dan hukum internasional yang terkait dengan kasus intervensi beberapa negara (Amerika
Serikat dan Singapura) dalam pencarian lokasi jatuhnya Adam Air dan kotak hitamnya. Pemerintahan SBY,
dapat membangkitkan semangat dan solidaritas kemanusiaan sampai tingkat internasional untuk memberikan
bantuan bagi para korban bencana, selain penggunaan instrumen hukum untuk menanggulangi bencana alam
melalui Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007. SBY menunjukkan usaha secara signifikan penanggulangan
bencana baik melalui aspek hukum nasional maupun aspek diplomasi dengan dunia internasional.
Kepemimpinan SBY yang selama ini dikritik sebagai kepemimpinan yang lamban dan lemah juga
terlihat dalam beberapa kasus bertindak gamang dan terkesan mendua, bahkan satu kasus yang sampai saat ini
belum terselesaikan, yaitu kasus pembunuhan Munir, SBY mulai bertindak kritis karena dipengaruhi oleh
kegigihan dari Suciwati, istri almarhum, yang berhasil menarik perhatian kalangan internasional. Akan tetapi
ketidaktegasan pemerintah SBY juga ternyata masih ada, terutama dalam penyelesaian kasus Soeharto yang
sampai saat ini tidak ada perkembangan selanjutnya bahkan terkesan hilang tertutup oleh kasus-kasus lain.

Sedangkan dalam beberapa kasus lainnya SBY dianggap telah bertindak benar dan konstitusionil, antara lain
ketidakhadirannya dalam sidang interpelasi DPR untuk kasus persetujuan resolusi DK PBB atas nuklir Irak,
maupun dalam memilih Boediono dan meninggalkan koalisi yang telah dibuatnya dengan beberapa partai lain.
Pemberantasan terorisme yang sampai saat ini berlangsung bisa jadi merupakan salah satu kelebihan
pemerintahan SBY yang seolah tidak kenal kompromi terhadap para pelaku terorisme, hal ini juga didukung
oleh latar belakang SBY dari jajaran militer. Pembentukan pasukan khusus anti terorisme atau Detasemen
khusus 88 Anti Terorisme (Densus 88), yang didasarkan atas Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang
Tindak Pidana Terorisme, merupakan salah satu strategi yang cukup dapat diandalkan dalam rangka
mengeliminasi atau bahkan menghapuskan terorisme dari bumi Indonesia.
Masalah utama yang menjadi tantangan bagi pemerintahan SBY yang sampai saat ini pun masih
dicurigai sebagai bagian dari pemerintahan Soeharto, walaupun sudah sedikit memudar dengan beberapa
tindakan tegas terhadap para pelaku korupsi tanpa tebang pilih, yaitu terkait kasus Aulia Pohan besannya.
Namun kenyataan bahwa pemerintahan SBY sampai saat ini pun belum mampu membawa kasus korupsi
Soeharto ke pengadilan, juga menunjukkan bahwa SBY yang berlatar belakang sama dengan Soeharto, yaitu
sama-sama mantan Jenderal TNI, bersuku Jawa, Islam, dan sama-sama dalam kultur Orde Baru, ternyata belum
bisa tegas dan berani.
Komitmen terhadap pemberantasan korupsi seharusnya tidak terbatas pada kata-kata saja, akan tetapi
harus diwujudkan dalam tindakan dan perilaku yang benar. Dorongan politik dari pemerintahan SBY sangat
diperlukan untuk mendukung tindakan dari Kepolisian, Kejaksaan, dan Pengadilan dalam memberantas korupsi,
apalagi dengan adanya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang dibentuk berdasarkan Undang-undang
Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. KPK saat ini sedang menjadi
target, yaitu munculnya kasus Antasari Azhar, yang kemungkinan sebagai alat perseteruan terhadap KPK yang
sepak terjangnya mampu mengusik dan mendobrak benteng korupsi di lembaga-lembaga Negara yang ada, baik
di Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, pemerintahan sampai DPR. Tentu saja hal ini masih memerlukan
pembuktian dalam persidangan yang setelah beberapa bulan masih juga belum bisa digelar, apakah Antasari
memang menjadi otak dari kasus pembunuhan terhadap Nasrudin Zulkarnaen, Direktur PT. Putra Rajawali
Banjaran, seperti yang dituduhkan kepadanya. Korupsi adalah tindak kejahatan yang juga extraordinary,
sehingga pemberantasan korupsi merupakan tanggung jawab dan diperlukan kerjasama pihak eksekutif,
legislatif, yudikatif, dan seluruh lembaga negara yang ada.
Ada juga masalah lemahnya diplomasi Indonesia dalam menghadapi persoalan-persoalan dengan negara
lain baik yang menyangkut nasib warga Negara Indonesia di luar negeri, misalnya TKI (Tenaga Kerja
Indonesia) di Malaysia, Hongkong, dan Arab Saudi, atau masalah ancaman terhadap wilayah NKRI, masalah
hubungan Indonesia dengan Negara terdekat seperti Singapura, Australia, dan Malaysia, serta sikap Indonesia
terhadap masalah-masalah Internasional. Hubungan Indonesia dengan Negara-negara lain, apalagi negara
terdekat atau negara tetangga, merupakan bagian yang sangat penting dalam rangka eksistensi NKRI di dalam
kancah internasional. Eksistensi NKRI dalam dunia Internasional sangat dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan
internal Indonesia sendiri, karena itu kekuatan diplomasi Indonesia yang ditunjukkan sekarang pada dasarnya
juga menunjukkan kekuatan di dalam Negara Indonesia.
Kasus-kasus yang dialami warga negara di luar negeri ternyata sampai saat ini masih terus terjadi, baik
yang menyangkut tindak pidana kekerasan, pelecehan seksual, penganiayaan sampai pembunuhan, maupun
yang menyangkut masalah ketenagakerjaan. Hal ini merupakan tanggung jawab pemerintah dalam memberikan
perlindungan bagi warga negara Indonesia terutama di luar negeri dan berkaitan dengan kemampuan diplomasi

Indonesia dengan negara lain. Wujud komitmen Indonesia tersebut dapat dilihat dari berbagai kesepakatan yang
telah dibuat dan tentunya harus ditindaklanjuti dengan tindakan-tindakan yang tegas dan berani dari pemerintah.
Peningkatan daya tawar diplomatik juga harus dilakukan sehubungan dengan makin banyaknya warga negara
Indonesia yang mendapat perlakuan tidak manusiawi di luar negeri selain tentunya peningkatan kualitas SDM
(sumber daya manusia) misalnya dalam kasus TKI di luar negeri.
Perselisihan antara Indonesia dengan negara tetangga yang menyangkut wilayah negara, di satu sisi
memerlukan penyelesaian secara yuridis, akan tetapi dalam kasus-kasus tertentu seperti kasus Blok Ambalat,
sekiranya lebih diperlukan tindakan diplomatik yang kuat agar Indonesia dapat lebih melindungi diri dari
ancaman dan tantangan dari negara sekitarnya. Untuk itu kekuatan atau daya tawar Indonesia harus lebih
ditingkatkan melalui korps diplomatik yang kuat dan kompak. Apalagi Indonesia mempunyai potensi yang
sangat besar dalam rangka membentuk dirinya menjadi negara adidaya yang didukung oleh kekuatan alam dan
sosial yang beraneka ragam. Diperlukan peningkatan kekuatan baik fisik maupun non-fisik, antara lain yang
menyangkut peningkatan SDM yang tidak hanya bisa mengirimkan TKI yang berposisi sebagai PRT (pekerja
rumah tangga), juga penambahan anggaran untuk Alusista. Dengan demikian sisi diplomasi NKRI merupakan
bagian yang penting untuk mendapat perhatian lebih dalam rangka pembangunan pem erintahan SBY di masa
2009-2014 mendatang.

3) Ekonomi
Pada pemerintahan SBY kebijakan yang dilakukan adalah mengurangi subsidi Negara
Indonesia, atau menaikkan harga Bahan Bahan Minyak (BBM), kebijakan bantuan langsung
tunai kepada rakyat miskin akan tetapi bantuan tersebut diberhentikan sampai pada tangan
rakyat atau masyarakat yang membutuhkan, kebijakan menyalurkan bantuan dana BOS
kepada sarana pendidikan yang ada di Negara Indonesia. Akan tetapi pada pemerintahan
Susilo Bambang Yudhoyono dalam perekonomian Indonesia terdapat masalah dalam kasus
Bank Century yang sampai saat ini belum terselesaikan bahkan sampai mengeluarkan biaya
93 miliar untuk menyelesaikan kasus Bank Century ini.
Kondisi perekonomian pada masa pemerintahan SBY mengalami perkembangan yang
sangat baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh pesat di tahun 2010 seiring pemulihan
ekonomi dunia pasca krisis global yang terjadi sepanjang 2008 hingga 2009.
Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai
5,5-6 persen pada 2010 dan meningkat menjadi 6-6,5 persen pada 2011. Dengan demikian
prospek ekonomi Indonesia akan lebih baik dari perkiraan semula.
Sementara itu, pemulihan ekonomi global berdampak positif terhadap perkembangan
sektor eksternal perekonomian Indonesia. Kinerja ekspor nonmigas Indonesia yang pada
triwulan IV-2009 mencatat pertumbuhan cukup tinggi yakni mencapai sekitar 17 persen dan
masih berlanjut pada Januari 2010.
Salah satu penyebab utama kesuksesan perekonomian Indonesia adalah efektifnya
kebijakan pemerintah yang berfokus pada disiplin fiskal yang tinggi dan pengurangan utang
Negara.Perkembangan yang terjadi dalam lima tahun terakhir membawa perubahan yang

signifikan terhadap persepsi dunia mengenai Indonesia. Namun masalah-masalah besar lain
masih tetap ada. Pertama, pertumbuhan makroekonomi yang pesat belum menyentuh seluruh
lapisan masyarakat secara menyeluruh. Walaupun Jakarta identik dengan vitalitas
ekonominya yang tinggi dan kota-kota besar lain di Indonesia memiliki pertumbuhan
ekonomi yang pesat, masih banyak warga Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Tingkat pertumbuhan ekonomi periode 2005-2007 yang dikelola pemerintahan SBYJK relatif lebih baik dibanding pemerintahan selama era reformasi dan rata-rata pemerintahan
Soeharto (1990-1997) yang pertumbuhan ekonominya sekitar 5%. Tetapi, dibanding kinerja
Soeharto selama 32 tahun yang pertumbuhan ekonominya sekitar 7%, kinerja pertumbuhan
ekonomi SBY-JK masih perlu peningkatan. Pertumbuhan ekonomi era Soeharto tertinggi
terjadi pada tahun 1980 dengan angka 9,9%. Rata-rata pertumbuhan ekonomi pemerintahan
SBY-JK selama lima tahun menjadi 6,4%, angka yang mendekati target 6,6%
Kebijakan menaikkan harga BBM 1 Oktober 2005, dan sebelumnya Maret 2005,
ternyata berimbas pada situasi perekonomian tahun-tahun berikutnya. Pemerintahan SBY-JK
memang harus menaikkan harga BBM dalam menghadapi tekanan APBN yang makin berat
karena lonjakan harga minyak dunia. Kenaikan harga BBM tersebut telah mendorong tingkat
inflasi Oktober 2005 mencapai 8,7% (MoM) yang merupakan puncak tingkat inflasi bulanan
selama tahun 2005 dan akhirnya ditutup dengan angka 17,1% per Desember 30, 2005 (YoY).
Penyumbang inflasi terbesar adalah kenaikan biaya transportasi lebih 40% dan harga bahan
makanan 18%.Core inflation pun naik menjadi 9,4%, yang menunjukkan kebijakan Bank
Indonesia (BI) sebagai pemegang otoritas moneter menjadi tidak sepenuhnya efektif. Inflasi
yang mencapai dua digit ini jauh melampaui angka target inflasi APBNP II tahun 2005
sebesar 8,6%. Inflasi sampai bulan Februari 2006 (YoY) masih amat tinggi 17,92%,
bandingkan dengan Februari 2005 (YoY) 7,15% atau Februari 2004 (YoY) yang hanya 4,6%.
Efek inflasi tahun 2005 cukup berpengaruh terhadap tingkat suku bunga Sertifikat
Bank Indonesia (SBI), yang menjadi referensi suku bunga simpanan di dunia perbankan.
Data Harga Bahan Bakar Minyak 2004 vs 2009 (Naik)

Harga

2004

2009

Catatan

Minyak Mentah Dunia /


barel

~ USD
40

~ USD
45

Harga
sama

Premium

Rp 1810

Rp 4500

Naik 249%

Minyak Solar

Rp 1890

Rp 4500

Naik 238%

Minyak Tanah

Rp 700

Rp 2500

Naik 370%

hampir

Dengan kondisi harga minyak yang sudah turun dibawah USD 50 per barel, namun
harga jual premium yang masih Rp 4500 per liter (sedangkan harga ekonomis ~Rp 3800 per
liter). Maka sangat ironis bahwa dalam kemiskinan, para supir angkot harus mensubsidi
setiap liter premium yang dibelinya kepada pemerintah. Sungguh ironis ditengah kelangkaan
minyak tanah, para nelayan turut mensubsidi setiap liter solar yang dibelinya kepada
pemerintah. Dalam kesulitan ekonomi global, pemerintah bahkan memperoleh keuntungan
Rp 1 triluin dari penjualan premium dan solar kepada rakyatnya sendiri. Inilah sejarah yang
tidak dapat dilupakan. Selama lebih 60 tahun merdeka, pemerintah selalu membantu rakyat
miskin dengan menjual harga minyak yang lebih ekonomis (dan rendah), namun sekarang
sudah tidak lagi rakyatlah yang mensubsidi pemerintah.
Berdasarkan janji kampanye dan usaha untuk merealisasikan kesejahteraan rakyat,
pemerintah SBY-JK selama 4 tahun belum mampu memenuhi target janjinya yakni
pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 6.6%. Sampai tahun 2008, pemerintah SBY-JK hanya
mampu meningkatkan pertumbuhan rata-rata 5.9% padahal harga barang dan jasa (inflasi)
naik di atas 10.3%. Ini menandakan secara ekonomi makro, pemerintah gagal
mensejahterakan rakyat. Tidak ada prestasi yang patut diiklankan oleh Demokrat di bidang
ekonomi.
Pertumbuhan

Janji Target

Realisasi

Keterangan

2004

ND

5.1%

2005

5.5%

5.6%

Tercapai

2006

6.1%

5.5%

Tidak tercapai

2007

6.7%

6.3%

Tidak tercapai

2008

7.2%

6.2%

Tidak tercapai

2009

7.6%

~5.0%

Tidak tercapai *

Tingkat Inflasi 2004-2009 (Naik)


Secara alami, setiap tahun inflasi akan naik. Namun, pemerintah akan dikatakan
berhasil secara makro ekonomi jika tingkat inflasi dibawah angka pertumbuhan ekonomi.
Dan faktanya adalah inflasi selama 4 tahun2 kali lebih besar dari pertumbuhan ekonomi.
Tingkat Inflasi

Janji Target

Fakta

Catatan Pencapaian

2004

6.4%

2005

7.0%

17.1%

Gagal

2006

5.5%

6.6%

Gagal

2007

5.0%

6.6%

Gagal

2008

4.0%

11.0%

Gagal

Selama 4 tahun pemerintahan, Demokrat yang terus mendukung SBY tidak mampu
mengendalikan harga barang dan jasa sesuai dengan janji yang tertuang dalam kampanye dan
RPM yakni rata-rata mengalami inflasi 5.4% (2004-2009) atau 4.9% (2004-2008). Fakta
yang terjadi adalah harga barang dan jasa meroket dengan tingkat inflasi rata-rata 10.3%
selama periode 2004-2008. Kenaikan harga barang dan jasa melebihi 200% dari target
semula.

Jumlah Penduduk Miskin


Sasaran pertama adalah pengurangan kemiskinan dan pengangguran dengan target
berkurangnya

persentase

penduduk

tergolong

miskin

dari 16,6

persen pada

tahun 2004 menjadi 8,2 persen pada tahun 2009 dan berkurangnya pengangguran terbuka
dari 9,5 persen pada tahun 2003 menjadi 5,1 persen pada tahun 2009.
Penduduk Miskin

Jumlah

Persentase

2004

36.1 juta

16.6%

2005

35.1 juta

16.0%

Februari 2005

2006

39.3 juta

17.8%

Maret 2006

2007

37.2 juta

16.6%

Maret 2007

2008

35.0 juta

15.4%

Maret 2008

2009

Catatan

8.2% ????

Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil mencatat, pemerintahan Susilo Bambang


Yudhoyono dan Jusuf Kalla memperbesar utang dalam jumlah sangat besar. Posisi utang
tersebut merupakan utang terbesar sepanjang sejarah RI.

Koalisi terdiri dari


Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran
Perkumpulan Prakarsa
Perhimpunan Pengembangan Pesantren & Masyarakat (P3M)
Gerakan Antipemiskinan Rakyat Indonesia
Lembaga Advokasi Pendidikan Anak Marginal
Pusat Telaah dan Informasi Regional
Asosiasi pendamping Perempuan Usaha Kecil dan
Publish What You Pay
Berdasarkan catatan koalisi, utang pemerintah sampai Januari 2009 meningkat 31
persen dalam lima tahun terakhir. Posisi utang pada Desember 2003 sebesar Rp 1.275 triliun.
Adapun posisi utang Janusari 2009 sebesar Rp 1.667 triliun atau naik Rp 392 triliun. Apabila
pada tahun 2004, utang per kapita Indonesia Rp 5,8 juta per kepala, pada Februari 2009 utang
per kapita menjadi Rp 7,7 juta per kepala. Memerhatikan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional 2004-2009, koalisi menilai rezim sekarang ini adalah rezim anti-subsidi.
Hal itu dibuktikan dengan turunnya secara drastis subsidi. Pada tahun 2004 jumah subsidi
masih sebesar 6,3 persen dari produk domestik bruto. Namun, sampai 2009, jumlah subsidi
untuk kepentingan rakyat tinggal 0,3 persen dari PDB.
Kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa Indonesia masih memerlukan banyak
perbaikan. Namun apa yang telah dicapai selama ini merupakan hasil dari visi dan
perencanaan pemerintahan SBY. Dapat dibayangkan hal-hal lain yang akan terjadi dalam
pemerintahan yang akan berjalan untuk
beberapa tahun ke depan lagi.
4) Pendidikan
Pendidikan merupakan hal mendasar. Pendidikanlah yang menentukan kualitas sumber daya manusia.
Kebijakan dalam bidang pendidikan diterapkan oleh kepemimpinan SBY. Beberapa diantaranya adalah meningkatkan
anggaran pendidikan menjadi 20% dari keseluruhan APBN. Meneruskan dan mengefektifkan program rehabilitasi
gedung sekolah yang sudah dimulai pada periode 2004-2009, sehingga terbangun fasilitas pendidikan yang memadai
dan bermutu dengan memperbaiki dan menambah prasarana fisik sekolah, serta penggunaan teknologi informatika
dalam proses pengajaran yang akan menunjang proses belajar dan mengajar agar lebih efektif dan berkualitas.

Pemanfaatan alokasi anggaran minimal 20 persen dari APBN untuk memastikan pemantapan pendidikan
gratis dan terjangkau untuk pendidikan dasar 9 tahun dan dilanjutkan secara bertahap pada tingkatan pendidikan
lanjutan di tingkat SMA.
Perbaikan secara fundamental kualitas kurikulum dan penyediaan buku-buku yang berkualitas agar makin
mencerdaskan siswa dan membentuk karakter siswa yang beriman, berilmu, kreatif, inovatif, jujur, dedikatif,
bertanggung jawab, dan suka bekerja keras.
Meneruskan perbaikan kualitas guru, dosen serta peneliti agar menjadi pilar pendidikan yang mencerdaskan
bangsa, mampu menciptakan lingkungan yang inovatif, serta mampu menularkan kualitas intelektual yang tinggi,
bermutu, dan terus berkembang kepada anak didiknya. Selain program sertifikasi guru untuk menjaga mutu, juga ak
an ditingkatkan program pendidikan dan pelatihan bagi para guru termasuk program pendidikan bergelar bagi
para guru agar sesuai dengan bidang pelajaran yang diajarkan dan semakin bermutu dalam memberikan pengajaran
pada siswa.
Memperbaiki remunerasi guru dan melanjutkan upaya perbaikan penghasilan kepada guru, dosen, dan para
peneliti.
Memperluas penerapan dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk mendukung kinerja
penyelenggaraan pembangunan di bidang pendidikan.
Mendorong partisipasi masyarakat (terutama orang tua murid) dalam menciptakan kebijakan dan
penyelenggaraan pendidikan yang bermutu dan sesuai dengan aspirasi dan tantangan jaman saat ini dan kedepan.
Mengurangi kesenjangan dalam akses pendidikan dan kualitas pendidikan, baik pada keluarga berpenghasilan
rendah maupun daerah yang tertinggal. Pemberiaan program beasiswa serta pelaksanaan dan perluasan Program
Keluarga Harapan (PKH), serta memberikan bantuan tunai kepada rumah tangga miskin dengan syarat mereka
mengirimkan anaknya ke bangku sekolah.

5) Sosial
Presiden SBY berhasil meredam berbagai konflik di Ambon, Sampit dan juga di Aceh.
Pada masa pemerintahan ini, kehidupan masyarakat mulai menuju kepada kehidupan
individualis yang mengutamakan kepentingan individu. Hal ini dapat dilihat dengan
kurangnya sosialisasi antarwarga di perkotaan.
Arus urbanisasi juga semakin marak. Namun pemerintah tidak lagi mencanangkan
transmigrasi.
Di pemerintahan SBY juga telah dibuat undang-undang mengenai pornografi dan
pornoaksi. Namun usaha ini tidak disertai dengan penegakan hukum yang baik sehingga tidak
terealisasi.
Meski konflik di beberapa daerah telah diredam, namun kembali muncul berbagai
konflik lagi seperti di Makassar. Bahkan baru-baru ini terjadi tawuran antar-SMA di Jakarta
yang membawa korban para pejuang jurnalistik.

6) Budaya
Dalam hal pelestarian budaya, di masa pemerintahan SBY terlihat jelas
kemundurannya. Terutama dengan banyaknya warisan budaya asli Indonesia yang diklaim
oleh pemerintah negara lain. Contohnya sebagai berikut :

Klaim Batik Jawa Oleh Adidas

Klaim Angklung oleh Pemerintah Malaysia

Klaim Gamelan oleh Pemerintah Malaysia

Badik Tumbuk Lada oleh Pemerintah Malaysia

Naskah Kuno dari Riau oleh Pemerintah Malaysia

Naskah Kuno dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia

Naskah Kuno dari Sulawesi Selatan oleh Pemerintah Malaysia

Naskah Kuno dari Sulawesi Tenggara oleh Pemerintah Malaysia

Rendang dari Sumatera Barat oleh Oknum WN Malaysia

Sambal Bajak dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Belanda

Sambal Petai dari Riau oleh Oknum WN Belanda

Sambal Nanas dari Riau oleh Oknum WN Belanda

Tempe dari Jawa oleh Beberapa Perusahaan Asing

Lagu Rasa Sayang Sayange dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia

Tari Reog Ponorogo dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia

Lagu Soleram dari Riau oleh Pemerintah Malaysia

Lagu Injit-injit Semut dari Jambi oleh Pemerintah Malaysia

Tari Kuda Lumping dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia

Tari Piring dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia

Lagu Kakak Tua dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia

Lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara oleh Pemerintah Malaysia

Kursi Taman Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah

Pigura Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah

Motif Batik Parang dari Yogyakarta oleh Pemerintah Malaysia

Desain Kerajinan Perak Desak Suwarti dari Bali oleh Oknum WN Amerika

Produk Berbahan Rempah-rempah dan Tanaman Obat Asli Indonesia oleh Shiseido Co Ltd

Badik Tumbuk Lada oleh Pemerintah Malaysia

Kopi Gayo dari Aceh oleh perusahaan multinasional (MNC) Belanda

Kopi Toraja dari Sulawesi Selatan oleh perusahaan Jepang

Musik Indang Sungai Garinggiang dari Sumatera Barat oleh Malaysia

Kain Ulos oleh Malaysia

Lagu Jali-Jali oleh Pemerintah Malaysia

Tari Pendet dari Bali oleh Pemerintah Malaysia

Namun di masa ini, terdapat keberhasilan dengan pengakuan dari UNESCO bahwa
batik Indonesia adalah warisan budaya Indonesia.

Kesimpulan

Pada masa pemerintahan Presiden Susilo BambangYudhoyono, terjadi banyak kemajuan di


berbagai

bidang.

Hal

ini

di

karenakan

kemajuan

teknologi

dan

kebebasan

berpendapat.Namun, terdapat beberapa kemunduran juga. Kita tidak dapat melihat


kesuksesan suatu pemerintahan hanya dengan satu pandangan. Kita harus memandang dari
berbagai sisi. Jika dibandingkan dengan pemerintahan pada masa Orde Baru, memang dalam
beberapa bidang terlihat kemunduran. Tetapi bisa saja hal ini dikarenakan pada masa Orde
Baru kebebasan pers dikekang sehingga bagian buruk pada Orde Baru tidak terlihat. Dimasa
pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, musyawarah mufakat diutamakan. Sehingga
pengambilan kebijakan terkesan lambat. Meski begitu, musyawara hmufaka tini dilakukan
untuk kepentingan bersama. Sehingga dapat dikatakan, pada masa pemerintahan Susilo
Bambang Yudhoyono telah cukup berkembang dibandingkan masa-masa sebelumnya dalam
hal demokrasi.
Sumber : http://linabr3.blogspot.com/2012/07/kondisi-perekonomian-indonesiapada_09.html