Anda di halaman 1dari 12

http://nhiro-nhiro.blogspot.co.id/2010/10/konsep-belajar-mandiri-siswa-pada.

html

Dari pengertian tentang belajar mandiri di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
dengan belajar mandiri adalah kegiatan belajar yang dilakukan dengan kemampuan
menggunakan cara belajar sendiri untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Oleh karena itu upaya untuk membentuk belajar mandiri yang baik diperlukan suatu konsep yang baik
pula. Menurut Haris Mujimin (2007:18), bahwa konsep belajar mandiri adalah konsep yang
digunakan sebagai kerangka penyusunan rancangan belajar, maka dari itu setelah konsep belajar
mandiri disajikan akan di identifikasi kegiatan-kegiatan pembelajaran berbasis konsep belajar
mandiri, yang diharapkan dapat menumbuhkan motivasi belajar.
Dengan memperhatikan konsep belajar mandiri yang dimaknakan sebagai proses belajar yang dirintis
melalui metode yang mantap dan kegiatan sendiri, maka dapat dikatakan bahwa dalam proses
belajar mandiri lebih menekankan pada kemampuan individu yang belajar agar lebih banyak
berbuat dan bertindak untuk mencapai tujuan belajarnya.
Siswa menetapkan tujuan antara : dalam mempelajari materi ajar, pasti ada bagian-bagian yang
kurang dipahami oleh siswa. Dalam hal ini siswa perlu di dorong untuk menetapkan sendiri
informasi yang perlu dicarinya. Dengan kata lain, siswa didorong untuk menetapkan tujuanantara. Untuk mencapai tujuan-antara, siswa dapat menempuh berbagai cara yang ditetapkannya
sendiri. Misalnya dengan cara bertanya kepada instruktur, atau kepada pihak lain atau mencari
sumber belajar yang lain untuk mencari jawaban. Jawaban ini harus didapat dahulu sebelum
tujuan khusus dari suatu mata pelajaran dapat dicapai.
Sebagaimana telah dikemukakan diatas, dalam belajar mandiri dikenal konsep piramida tujuan
yang terdiri atas tujuan utama, tujuan akhir dan tujuan antara. Dalam konteks suatu program
pelatihan, tujuan utama adalah tujuan program, tujuan akhiradalah tujuan setiap unit kegiatan
yang harus dicapai untuk mencapai tujuan utama.Tujuan antara adalah tujuan yang harus
dicapai terlebih dahulu sebelum dapat mencapai tujuan akhir.

Dalam evaluasi belajar mandiri, tidak dirasa perlu menetapkan bahwa semua tujuan
harus ditetapkan sendiri oleh pembelajar. Kalau ada sebagian saja dari tujuan dalam piramida
tujuan, dan ada sebagian saja cara pencapaian tujuan yang ditetapkan sendiri oleh pembelajar,
maka kegiatan belajar secara keseluruhan dapat dikategorikan sebagai belajar mandiri. Ini
sebabnya seluruh kegiatan belajar merupakan satu kesatuan yang terkait satu dengan yang
lain, yang penting, motif yang mendorong kegiatan adalah motif untuk menguasai
sesuatau kompetensi masalah.
Bentuk-bentuk keaktifan belajar, dalam pembahasan sebelumnya tentang penetapan tujuanantara belajar, evaluasi diri, refleksi dan review pengalaman yang lalu, siswa didorong untuk
melakukan berbagai kegiatan secara efektif. Diantaranya adalah mambuat catatan tentang
keberhasilan dan kegagalan dalam pencapaian tujuan-antara.
Dalam pembelajaran aktif guru yang harus pertama membuka jalan. Ia harus menetapkan
metode yang dapat merangsang belajar aktif, misalnya penugasan individu atau kelompok.
Untuk menumbuhkan kegiatan belajar mandiri, siswa harus bisa merekontruksi langkah
pembelajaran yang baik. Menurut Haris Mujiman (2007: 24), dinyatakan bahwa langkahlangkah pembelajaran harus direkonstruksi dengan baik oleh partisipan (siswa) dan instruktur
(pengajar).

Adapun bentuk rekonstruksi langkah pembelajaran yang dilakukan oleh siswa sebagai
berikut:
1) Memahami tujuan-khusus mata pelajaran
2) Memahami bahan ajar terkait
3) Menemukan bagian yang tidak dipahami
4) Menentukan apa yang harus ditanyakan, atau data informasi yang harusdicari
5) Menunjukkan pertanyaan kepada instruktur, atau pihak lain untuk mencari data atau
informasi yang diperlukan.
6) Mengelolah jawaban atau mengelolah data/informasi.

Motivasi belajar mandiri


Untuk

melakukan

Belajar Aktif,

motivasi

belajar

merupakan

prasyarat

yang

harus

dikembangkan terlebih dahulu. Tanpa motivasi belajar yang cukup kuat untuk menguasai suatu
kompetensi, strategi belajar aktif tidak mungkin berjalan. Tetapi sebaliknya, keberhasilan belajar
aktif diperkirakan akan dapat menumbuhkan motivasi belajar. Pengembangan motivasi belajar
merupakan bagian tersulit dalam penyiapan dan penumbuhan kemampuan belajar mandiri,
sebab upaya pengembangan motivasibelajar menyangkut berbagai aspek dalam sistem
pembelajaran.
Adapun motivasi belajar yang kuat pada diri siswa dalam program pelatihan adalah syarat
mutlak bagi berlangsungnya belajar mandiri. Oleh karena itu program pelatihan yang harus
dirancang agar dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa. Ada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi terhadap pembentukan motivasi belajar, yaitu:
1) Faktor pengetahuan tentang kegunaan belajar
2) Faktor kebutuhan untuk belajar
3) Faktor kemampuan melakukan kegiatan belajar
4) Faktor kesenangan terhadap ide melakukan kegiatan belajar
5) Faktor pelaksana kegiatan belajar
6) Faktor hasil belajar
7) Faktor kepuasan terhadap hasil belajar
8) Faktor karaktreristik pribadi dan lingkungan (haris Mujiman,2007:41)

Selain

komponen-komponen

utama

dalam

konsep

belajar

mandiri

sebagaimana

dikemukakan di atas, ada beberapa ciri lain yang menandai belajar mandiri ialah hal-hal yang
bersangkutan dengan tahapan belajar, paramida tujuan belajar, sumber dan media belajar yang
digunakan, tempat belajar, atau belajar, tempo belajar dan irama belajar, cara belajar, serta
evaluasi terhadap hasil belajar mandiri.

a. Penahapan: Ada 5 penahapan dalam belajar mandiri:


1) Tahap masuknya ransangan: pada tahap ini pembelajaran menerima rangsangan dari
dalam ataupun dari luar dirinya yang berupa masalah untuk dipecahkan, atau kebutuhan
untuk dipenuhi. Rangsangan ini dapat berupa ketertarikan siswa kepada suatu bagian
materi latihan, yang membuat siswa merasa penting dan ingin tahu sehingga siswa
mendalaminya lebih lanjut.
2) Tahapan tumbuhnya niat belajar untuk menguasai kompetensi: niat belajar timbul apabila
pembelajaran tertarik kepada bahan yang diajarkan oleh instruktur. Baik rangsangan
yang

berupa

masalah

yang

diatasi,

maupun

kebutuhan

yang

mendorong

pembelajaran berniat menguasai sesuatu kompetensi guna mengatasi masalah.


3) Tahap pembuat keputusan: memiliki niat untuk belajar belum menjamin siswaakan
melakukan kegiatan belajar. Untuk dapat melakukan perbuatan-perbuatan itu, siswa
mengalihkan niat kedalam bentuk kekuatan motivasi. Dengan cara, iaberanyan kepada
diri sendiri, antara lain: apa keuntungan yang akan diperoleh dan beban yang harus
ditanggung untuk menguasai kompetensi, apakah ia mampu menangguang beban itu,
apa perbuatan belajar itu nanti akan dapat memperoleh rasa senang dengan melakukan
kegiatan belajar itu.? Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu siswa sesungguhnya
sedang

menjalani

peruses

pembuatan

keputusan,

untuk

belajara

atau

tidak

belajar. Dengan kata lain ia sedang membangun motivasi diri untuk melakukan perbuatan
belajar.
4) Tahap melaksanakan keputusan: siswa akan memutuskan belajar bila jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan di atas itu positif, dan bila jawaban-jawaban tidak seluruhnya
positif, maka ia akan memutuskan untuk tidak mengambil langkah belajar.
5) Tahapan evaluasi: setelah keputusan belajar telah dijalankan, pembelajar melakukan
evaluasi. Bila hasilnya posifit atau memuaskan haitnya, keputusan yang telah diperbuat
diperkokoh, dan pernbuatan belajar dilanjutkan atau sebaliknya.
Program pelatihan yang berbasis konsep belajar mandiri harus mampu membantu siswa
untuk melalui beberapa tahapan-tahapan belajar mandiri
b. Piramid Tujuan: Telah disinggung di atas bahwa dalam belajar mandiri terbentuk struktur tujuan
belajar berbentuk piramid. Besar dan bentuk piramid sangat bervariasi di antara para

pembelajar. Sangat banyak faktor yang berpengaruh diantaranya adalah kekuatan motivasi
belajar, kemampuan belajar, dan ketersedian sumber belajar. Pada umumnya dapat
dikatakan bahwa semakin kuat motivasi belajar, semakin tinggi kemampuan belajar, dan
semakin tersedia sumber belajar. Keadaan ini menunjukkan kemungkinan semakin
intensifnya

kegiatan

belajar, dan

semakin

banyaknya

kompetensi

yang

diperoleh

pembelajaran, disamping kompetensi utama yang ditujunya.


c. Sumber dan Media Belajar: Belajar mandiri dapat digunakan berbagai sumber dan media
belajar. Guru, kawan, pakar, praktisi, dan siapun yang memliki informasi dan keterampilan
yang diperlukan pembelajaran dapat menjadi sumber belajar. Paket-paket belajar yang
berisi self intructional materials, buku teks, hingga teknologi informasi lanjut dapat digunakan
sebagai media belajar mandiri.
d. Tempat Belajar: belajar mandiri dapat dilakukan di sekolah, rumah, perpustakaan, warnet dan
dimanapun yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar. Akan tetapi memang ada
tempat-tempat belajar tertentu yang sering digunakan yaitu di sekolah dan di rumah.
Lingkungan

belajar

ditempat-tempat

tersebut

perlu

mendapat

perhatrian,

sehingga

pembelajar merasa nyaman melakukan kegiatan belajar.


e. Waktu belajar: belajar mandiri dapat dilakukan setiap waktu yang dikehendaki oleh pembelajar.
Diantara waktuyang digunakan untuk kegiatan-kegiatan lain. Namun dalam hal; belajar
dirumah , masing-masing pembelajar memiliki preferensi waktu sendiri-sendiri.
f. Tempo dan irama belajar; kecepatan belajara dan intensitas kegiatan belajar ditentukan sendiri
oleh pembelajaran sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan kesempatan yang tersedia.
g. Cara Belajar; pembelajaran memiliki cara belajar yang tepat untuk dirinya sendiri. Di antara lain
terkait dengan tipe pembelajaran, apakah ia termasuk auditif, visual, kinestetik atau tipe
campuran. Pembelajaran mandiri memerlukan tipe dirinya, serta cara belajar yang cocok
dengan keadaan dan kemampuannya sendiri.
h. Evaluasi hasil belajar: evaluasi belajar mandiri dilakukan oleh pembelajaran sendiri dengan
membandingkan antara tujuan belajar dan hasil yang dicapainya, pembelajar akan
mengetahui sejauh mana keberhasilannya. Dalam evaluasi ini pembelajaran juga perlu
menemukan pemikiran penyebab keberhasilan dan kegagalannya.

i. Refleksi: refleksi merupakan penilaian terhadap proses pembelajaran yang telah dijalani.
Pertanyaan kepada diri sendiri antara lain: kegiatan apa yang berhasil, apa yang gagal,
mengapa

dan

selanjutnya

bagaimana.

Kemampuan

refleksi

merupakan

salah

satu kemampuan yang sangat diperlukan dalam belajar mandiri, sebab dari hasil refleksi,
pembelajaran dapat menentukan langkah ke depan guna mencapai keberhasilan dan
menghindari kegagalan. Keberhasilan belajar mandiri banyak ditentukan oleh kemampuan
refleksi.
Untuk

mengembangkan

sikap

belajar

madinri Agus

Soesonto

(1990:72)

mengatakan ada beberapa prinsip atau keharusan yang perlu perhatikan dalam belajar
mandiri yaitu:
1. Belajar harus terencana dan teratur
2. Belajar harus dengan disiplin.
3. Belajar dengan minat dan perhatian
4. Belajar harus dengan pengertian
5. Belajar harus dengan rekreasi yang sederhana dan bermanfaat.
6. Belajar harus dengan tujuan jelas.
Untuk lebih jelasnya dari pendapat tersebut, berikut ini penulis uraikan maksudnya dari
pendapat di atas yaitu:
1. Belajar Harus Terencana dan Teratur
Rencana adalah perhitungan-perhitungan jangka pendek yang menyangkut tentang
pembagian waktu, tenaga dan bahan yang akan dipelajari. Semua diperhitungkan untuk
mendapatkan efisiensi dalam belajar. Rencana untuk selama seminggu hari kuliah, diatur
secara garis besar seperti pada jadwal kuliah.
Sehubungan dengan itu, Agus M. Hardjana (1994:85) menyatakan bahwa untuk
mencapai tujuan atau hasil belajar yang baik diperlukan rencana belajar yang disusun secara
baik pula. Adapun rencana belajar yang baik menutut Agus M. Harjana adalah rencana yang:
a. Realistis:
sesuai
dengan
tuntunan
studi
matapelajaran ditempuh pada khususnya.
b. Disesuaikan dengan kebugaran fisik dan mental.

pada

umumnya

dan

tuntutan

c. Untuk setiap bahan studi diberi waktu yang cukup


d. Dapat dilaksanakan dengan sungguh-sungguh
2. Harus dengan Disipin
Disiplin merupakan kunci kesuksesan. Sebab dengan disiplin orang berkeyakinan
bahwa disiplin membawa manfaat yang dibuktikan dengan tindakan disiplinnya. Demikian
pula halnya dengan belajar siswa juga harus disiplin dalam belajar. Apa lagi belajar sudah
disusun rencana belajar yang teratur, maka rencana belajar itu harus dipatuhi dan
dilaksanakan dengan baik, agar di dalam belajar akan memperoleh hasil yang baik pula.
Dalam belajar banyak siswa yang mengeluh karena mengalami gangguan misalnya
tidak dapat konsentrasi, mudah mnegantuk, sering lupa suka melamun dan lain sebaginya.
Menurut Suharsim Arikunto (1990:148) Disiplin yaitu suasana tertib dan teratur, akan tetapi
perlu dinamika dalam melaksanakan program kelas terutama dalam mewujudkan proses
belajar mengaja. Karena itu disiplin merupakan kunci kesuksesan, sebab dengan disiplin
orang berkeyakinan bahwa disiplin membawa manfaat yang dibuktikan dengan tindakan
disiplinya. Sedangkan menurut Dra. Kartini Kartono (1985:90) Belajar yang efisien menuntut
belajar secara teratur dan disiplin. Demikian pula siswa juga harus disiplin dalam belajar
apalagi di sekolah disusun jadwal dan rencana belajar yang teratur untuk dipatuhi dan
dilaksanakan dengan baik agar di dalam belajar akan memperoleh hasil yang baik pula.
3. Belajar dengan Minat dan Perhatian
Minat menurut Drs. Slameto (1995:57) Minat adalah kecendrungan yang tetap untuk
memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Minat besar pegaruhnya terhadap
belajar, karena bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa maka siswa
tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya.
Banyak para siswa yang di dalam belajarnya nampak tidak atau kurang adanya
minatnya di dalam belajar, bahkan para siswa cenderung merasakan bahwa belajar itu
merupakan suatu beban, sehingga tidak sedikit siswa yang akan memegang buku untuk
belajar ketika pelaksanan ujian sudah dekat. Akibatnya istilah belajar sistem kebut semalam
sudah menjadi hal yang bisa bagi siswa.
Dengan demikian minat dalam belajar itu merupakan suatu beban, sehingga tidak
sedikit siswa yang akan memegang buku untuk belajar ketika pelaksanan ujian sudah dekat,

istilah belajar sistem kebut semalam sudah menjadi hal yang biasa bagi siswa. Maka dari
itu minat dalam belajar itu amatlah penting dan harus ditumbuhkan. Dan untuk menumbuhkan
minat itu kembali kepada diri siswa masing-masing. Siswa harus menyadari bahwa belajar itu
baik dan penting.
Sehubung dengan minat tersebut, Agoes Soejanto dalam bukunya bimbingan ke arah
yang sukses mengatakan ada cara-cara yang dapat ditempuhuntuk menumbuhkan minat
dalam belajar yakni menyusun belajar secara teratur dan kemudian niatkan dalam hati bahwa
dengan adanya rencana belajar maka belajar pun akan lebih rutin, teratur dan fokus karena
jika pikiran kita tidak fokus maka sulit maka konsentrasi akan terpecah-pecah maka sulitlah
pesan-pesan pembelajaran itu masuk pada otak kita sesuai dengan firman Allah dalam surat
al-Ahzab ayat 4:
Artinya:
Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya;
Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah hanya menjadikan satu hati dalam satu
rongga dan jika manusia ingin mencapai sesuatu maka dia harus fokus dalam melakukan
sesuatu tersebut.
4. Belajar Harus dengan Pengertian
Pengertian itu merupakan produk dari pada pemahamam. Ia paham karena itu ia
mengerti. Bahkan pelajaran baginya harus dimengerti kemudian bila mungkin dilakukan
dengan perbuatan. Menurut Drs Marzuki (1996:125) Bahwa pelajaran ini perlu diulang-ulang
agar meresap kedalam otak sehingga pelajaran tersebut dikuasai sepenuhnya dan sukar
untuk dilupakan. Sebalikknya, belajar tanpa diulang-ulang hasilnya akan kurang memuaskna.
Dengan demikian sebenarnya belajar itu bukanlah menghafal akan tetapi dimengerti,
maksudnya pelajaran itu tidak cukup dihafal saja akan tetapi lebih baik dimengerti, karena
dengan menghafal pelajaran itu akan lebih mudah lupa, sedangkan belajar dengan
pengertian akan tinggal lama dalam ingatan kita.
5. Belajar harus dengan Rekreasi yang Sederhana dan Bermanfaat.

Rekreasi ini baik sekali dilakukan dengan tujuan untuk mengistirahatkan sejenak pikiran kita setelah
mengalami kejenuhan di dalam belajar. Menurut Drs. Slamato (1995:571) bahwa, kelelahan
pada seseorang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Kelelahan jasmani, terjadi karena kekacauan subtansi sisa pembakaran di di dalam tubuh,
sehingga darah kurang lancar pada bagian-bagian tertentu.
b. Kelelahan rohani, dapat dilihat pada kebosanan dan kelesuan sehingga minat dan
dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang.
Apabila di dalam belajar kita mengalami masalah yang tidak terpecahkan, maka
untuk tetap memelihara konsentrasi dalam belajar kita harus istirahat sebentar. Apabila
istirahat itupun tidak mengembalikan perhatian kita, maka segeralah hentikan kegiatan
belajar tersebut. Tidurlah dengan cukup, karena tidur adalah istirahat yang baik.
6. Belajar harus dengan Tujuan Jelas
Tujuan yang dimaksud adalah tujuan belajar yang ingin dicapai pada saat itu. Dengan
jelasnya tujuan belajar, akan berarti mendekatkan jarak antara aktivitas belajar dengan tujuan
belajar. Dan dekatnya tujuan belajar akan lebih lebih merangsang aktivitas belajar untuk lebih
aktif. Dari penjelasan

tentang

prinsip-prinsip

belajar

mandiri

diatas,

peneliti

menyederhanakannya menjadi tiga aspek, yaitu:


1. Bentuk perbuatan belajar mandiri siswa.
2. Disiplin belajar mandiri siswa.
3. Inisiatif siswa dalam menyelesaikan tugas belajar mandiri

Indikator adanya niat untuk belajar adalah sebagai berikut:


1. Persistence

: kegiatan belajar yang lama, terus

menerus, tidak sering berhenti


2. Consistence

: kegiatannya ajeg, berdisiplin, tidak

malas-malasan
3. Systematic

: kegiatannya selalu terrencana karena

berorientasi kepada penguasaan sesuatu kompetensi

4. Goal orientedness

: kegiatan belajarnya fokus, dengan

continuing evaluation untuk mengukur pencapaian tujuan


5. Innovative

: selalu berusaha mencari jalan keluar

bila menghadapi masalah, termasuk jalan keluar baru yang


sebelumnya belum pernah dilakukan
6. Follow-up clarity

: tindak lanjut dari kegiatnnya selalu

jelas
7. Learning for life

: kegiatan belajar setiap saat di

sepanjang hidup, untuk bisa bertahan hidup atau


mengembangkan kehidupannya
Indikator adanya niat untuk belajar adalah sebagai berikut:
1. Persistence

: kegiatan belajar yang lama, terus

menerus, tidak sering berhenti


2. Consistence

: kegiatannya ajeg, berdisiplin, tidak

malas-malasan
3. Systematic

: kegiatannya selalu terrencana karena

berorientasi kepada penguasaan sesuatu kompetensi


4. Goal orientedness

: kegiatan belajarnya fokus, dengan

continuing evaluation untuk mengukur pencapaian tujuan


5. Innovative

: selalu berusaha mencari jalan keluar

bila menghadapi masalah, termasuk jalan keluar baru yang


sebelumnya belum pernah dilakukan
6. Follow-up clarity

: tindak lanjut dari kegiatnnya selalu

jelas
7. Learning for life

: kegiatan belajar setiap saat di

sepanjang hidup, untuk bisa bertahan hidup atau


mengembangkan kehidupannya

Aspek Belajar Mandiri

Dalam keseharian siswa sering dihadapkan pada permasalahan yang menuntut siswa untuk mandiri
dan menghasilkan suatu keputusan yang baik. Song and Hill (2007: 31-32) menyebutkan bahwa
kemandirian terdiri dari beberapa aspek, yaitu :

1. Personal Attributes
Personal attributes merupakan aspek yang berkenaan dengan motivasi dari pebelajar, penggunaan
sumber belajar, dan strategi belajar. Motivasi belajar merupakan keinginan yang terdapat pada diri
seseorang yang merangsang pebelajar untuk melakukan kegiatan belajar. Ciri-ciri motivasi menurut
Worrel dan Stillwell dalam Harliana (1998) antara lain: (a) tanggung jawab (mereka yang memiliki
motivasi belajar merasa bertanggung jawab atas tugas yang dikerjakannya dan tidak meninggalkan
tugasnya sebelum berhasil menyelesaikannya), (b) tekun terhadap tugas (berkonsentrasi untuk
menyelesaikan tugas dan tidak mudah menyerah), (c) waktu penyelesaian tugas (berusaha
menyelesaikan setiap tugas dengan waktu secepat dan seefisien mungkin), (d) menetapkan tujuan
yang realitas (mampu menetapkan tujuan realistis sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya,
mampu berkonsentrasi terhadap setiap langkah untuk mencapai tujuan dan mengevaluasi setiap
kemajuan yang telah dicapai.

2. Processes
Processes merupakan aspek yang berkenaan dengan otonomi proses pembelajaran yang dilakukan
oleh pebelajar meliputi perencanaan, monitoring, serta evaluasi pembelajaran. Kegiatan perencanaan
meliputi: (a) mengelola waktu secara efektif (pembuatan jadwal belajar, menyusun kalender studi
untuk menulis atau menandai tanggal-tanggal penting dalam studi, tanggal penyerahan tugas
makalah, tugas PR, dan tanggal penting lainnya, mempersiapkan buku, alat tulis, dan peralatan
belajar lain), (b) menentukan prioritas dan manata diri (mencari tahu mana yang paling penting
dilakukan terlebih dahulu dan kapan mesti dilakukan).
Kegiatan monitoring dalam pembelajaran dengan menggunakan model Cooperative Learning tipe
Kepala Bernomor Terstruktur antara lain, (a) aktif melakukan diskusi dalam kelompok (b) berani
mengemukakan pendapat pada saat diskusi berlangsung, (c) aktif bertanya saat menemui kesulitan
baik terhadap teman maupun guru, (d) membuat catatan apabila diperlukan, (e) tetap melaksanakan
kegiatan pembelajaran meskipun guru tidak hadir. Sedangkan yang termasuk kegiatan evaluasi
pembelajaran antara lain, (a) memperhatikan umpan balik dari tugas yang telah dilaksanakan
sehingga dapat diketahui letak kesalahannya, (b) mengerjakan kembali soal/ tes di rumah, dan (c)
berusaha memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan.

3. Learning Context
Fokus dari learning context adalah faktor lingkungan dan bagaimana faktor tersebut mempengaruhi
tingkat kemandirian pebelajar. Ada beberapa faktor dalam konteks pembelajaran yang dapat
mempengaruhi pengalaman mandiri pebelajar antara lain, structure dan nature of task. Struktur dan
tugas dalam konteks pembelajaran ini misalnya, siswa belajar dengan struktur (cara kerja) model
pembelajaran Cooperatif Learning tipe Kepala Bernomor Terstruktur dan mengerjakan tugas
kelompok dalam LKS.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kemandirian belajar siswa
merupakan suatu bentuk belajar yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan
tujuan belajar, perencanaan belajar, sumber-sumber belajar, mengevaluasi belajar, dan menentukan
kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhannya sendiri. Aspek yang menunjukkan kemandirian belajar
siswa dalam penelitian ini, yaitu personal attributes, processes, dan learning context. Dalam
pembelajaran matematika, kemandirian belajar dapat dilakukan dalam kegiatan berdiskusi. Semakin
besar peran aktif siswa dalam berbagai kegiatan tersebut, mengindikasikan bahwa siswa tersebut
memiliki kemandirian belajar yang tinggi.

Daftar Pustaka

Haris Mudjiman. (2008). Belajar Mandiri. Surakarta: UNS Press.

Hiemstra. (1994). Self-Directed Learning. In T. Husen & T. N. Postlewaite (Eds),The


International Encyclopedia of Education (second edition) Oxford: Porgomon Press.

Song and Hill. (2007). A Conceptual Model for Under Standing Self-Directed Learning in
Online Environments. Journal of Interactive Online Learning, Volume 6, Number 1. University of
Georgia.

http://www.kajianpustaka.com/2015/05/belajar-mandiri.html