Anda di halaman 1dari 4

Pembangunan Desa

Ataukah
Penciptaan Kesempatan Korupsi?
Pembangunan desa dengan dialokasikannya sejumlah dana yang
bersumber dari APBN dan diatur dalam UU No. 06/2014 telah memasuki
tahun kedua pengimplementasian dengan jumlah sebanyak 74.093 desa.
Alur pengalokasian dana desa bermula dari pagu nasional dana desa
dalam APBN yang dialokasikan ke kabupaten/kota, dari kabupaten dana
desa dalam APBD dialokasikan ke masing-masing desa dan dana desa
tersebut tercantum pada APBDes sesuai dengan RPJMDes, RKPDes, dan
APBDes. Pada tahun 2015, tahapan penyaluran dana desa tersebut dibagi
menjadi tiga tahap: tahap I (April) sebesar 40%, tahap II (Agustus) sebesar
40%, dan tahap III (Oktober) sebesar 20%. Yang menjadi pertanyaan saat
ini adalah, apakah penyaluran dana tersebut terlaksana sebagaimana
mestinya?

Dan

adakah

kendala

dalam

pelaksanaan

pembangunan

tersebut?
Menimbang bahwa pengimplementasian UU No. 06/2014 baru
berjalan satu tahun, pastilah ada berbagai masalah dan kendala dalam
pelaksanaannya. Sebelum timbulnya masalah dalam pelaksanaan dana
desa ini, pada awal pengesahannya pun UU no. 06/2014 sudah
menimbulkan pro dan kontra. Ada kelompok yang berpandangan bahwa
belum

saatnya

pengelolaan

suatu

desa

diberikan

pembangunannya

dan

kewenangan
ada

juga

sendiri

dalam

kelompok

yang

berpandangan bahwa aparat desa sudah cukup mampu untuk mengelola


dana desanya sendiri. Dua pandangan tersebut sangatlah wajar karena
dana desa ini akan sangat mempengaruhi pemberdayaan desa itu sendiri
atau bahkan menciptakan birokratis yang baru.
Dalam laporannya Direktorat Penelitian dan Pengembangan KPK
menyampaikan bahwa selama pelaksanaan dana desa tahun 2015
terdapat

masalah

terkait

regulasi

dan

kelembagaan

pengelolaan

keuangan desa, tata laksana, pengawasan pengelolaan dana desa, dan

SDM yang mengelola dana desa tersebut (Laporan Direktorat Penelitian


dan Pengembangan KPK, 17 Juni 2015). Lebih jauh KPK mengindikasikan
bahwa berbagai masalah tersebut sangat berpotensi besar menjadi tindak
pidana korupsi. Hasil laporan yang disampaikan jelas mendukung
pandangan

yang

berpendapat

bahwa

belum

saatnya

suatu

desa

diberikan kewenangan sendiri dalam pengelolaan pembangunannya. Jika


dilihat dari potensi terkait masalah regulasi dan kelembagaan pengelolaan
keuangan desa, kita bisa menilai bahwa masih belum lengkapnya regulasi
dan petunjuk teknis pelaksanaan yang diperlukan dalam pengelolaan
keuangan desa, yang mana petunjuk teknis tersebut meliputi petunjuk
pertanggungjawaban dana bergulir Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat Mandiri (PNPM), mekanisme pengangkatan pendamping
PNPM, tata cara pelaksanaan pemantauan dan evaluasi desa, potensi
tumpang tindih kewenangan antara Kementerian Desa dan Ditjen Bina
Pemerintahan Desa Kementerian Dalam Negeri, pembagian dana desa
dalam PP No. 22 tahun 2015 tidak cukup transparan dan hanya
didasarkan atas dasar pemerataan, pengaturan pembagian penghasilan
tetap bagi perangkat desa dari ADD yang diatur dalam PP No. 43 tahun
2014

kurang

berkeadilan,

serta

Kewajiban

penyusunan

laporan

pertanggungjawaban oleh desa tidak efisien akibat ketentuan regulasi


yang tumpang tindih. Dijelaskan lebih lanjut bahwa, jika dalam PP No.
60/2014 penentuan besaran dana desa yang akan diterima setiap desa
didasarkan

pada

bobot

setiap

elemen

(jumlah

penduduk,

angka

kemiskinan, luas wilayah dan tingkat kesulitan geografis) lain halnya


dengan PP No. 22/2015 yang mana penentuan besaran dana desa yang
akan diterima berdasarkan jumlah desa dengan bobot sebesar 90 persen
dan hanya 10 persen yang mempertimbangkan jumlah penduduk, angka
kemiskinan, luas wilayah dan tingkat kesulitan geografis. Hal tersebut
menciptakan kesenjangan antar desa.
Terkait potensi masalah tata laksana mencakup beberapa hal yakni,
kerangka waktu siklus pengelolaan anggaran desa yang disulit dipatuhi
oleh desa, satuan harga baku barang/jasa yang dijadikan acuan bagi desa
dalam menyusun APBDes belum tersedia, APBDes yang disusun tidak

sepenuhnya

menggambarkan

kebutuhan

yang

diperlukan

desa,

transparansi rencana penggunaan dan pertanggungjawaban APBDes


masih rendah, dan laporan pertanggungjawaban yang dibuat desa belum
mengikuti standar dan rawan akan manipulasi. Sedangkan untuk potensi
pengawasan dan sumber daya manusia, masalah yang terjadi mencakup
efektivitas Inspektorat Daerah dalam melakukan pengawasan masih
rendah, sarana pengaduan masyarakat tidak dikelola dengan baik oleh
semua desa dan belum jelasanya ruang lingkup evaluasi dan pengawasan
yang dilakukan oleh camat serta adanya potensi melakukan korupsi/fraud
yang dilakukan oleh tenaga pendamping karena lemahnya aparat desa
(Laporan Direktorat Penelitian dan Pengembangan KPK, 17 Juni 2015).
Temuan KPK tersebut didukung dengan adanya beberapa laporan
mengenai
pengelolaan

penyalahgunaan
dana

desa

dana

kepada

desa

dan

tidak

transparannya

masyarakat. Beberapa

desa

yang

terindikasi melakukan tindakan tersebut adalah desa Ujong Padang, desa


Kuta Baro, desa Blang Geulingga di Kabupaten Aceh Selatan, desa
Kedemungan kabupaten Pasuruan dan desa lainnya yang tidak dapat
disebutkan satu per satu (Serambi Indonesia, 6 April 2016). Dengan
terindikasinya beberapa desa tersebut, apakah kita bisa menyimpulkan
bahwa pemerintah gagal dalam membangun desa? Nanti dulu, kita tidak
bisa

mengambil

kesimpulan

secepat

itu,

mengingat

bahwa

pelaksanaannya baru berjalan satu periode dan pemerintah masih terus


berusaha memperbaiki sistem pengelolaan dana desa tersebut.
Lalu apa yang dilakukan pemerintah? Salah satu cara pemerintah
menjebatani permasalahan pengelolaan tersebut adalah dengan Sistem
Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat (LAPOR!), sebagai media
masyarakat untuk dapat memantau dan melaporkan penyalahgunaan
dana desa dengan tujuan agar masyarakat dan pemerintah bersamasama membangun desa. Selain itu, pembenahan lain yang perlu dilakukan
oleh pemerintah untuk mencapai keberhasilan pembangunan desa adalah
dengan mengadakan pelatihan berkelanjutan bagi perangkat desa selaku
pelaksana manajemen dan administrasi pengelolaan dana desa (baik

pelatihan mengenai teknis pelaksanaan maupun pemahaman prinsip


transparansi

dan

prinsip

akuntabilitas),

menyediakan

sarana

yang

memadai dalam menunjang kegiatan supervisi, pemantauan, evaluasi dan


monitoring, serta melakukan monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan
dalam memperbaiki kinerja. Pertanyaan besar yang tersisa adalah,
seberapa besar peran akuntan dalam berkontribusi untuk pembangunan
desa?