Anda di halaman 1dari 12

ISOLASI DNA

LAPORAN PRAKTIKUM

Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktikum Matakuliah Genetika 1


Yang Dibina Oleh Prof. Dr. A. D. Corebima, M.Pd.

Oleh:
Kelompok 12
Putri Dhamira
100341404624
Rizky Alfarizy
120341421984

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2014
A. TOPIK
Isolasi DNA
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah jenis detergen berpengaruh terhadap hasil isolasi DNA pada buah?
2. Apakah jenis buah berpengaruh terhadap proses isolasi DNA?
C. TUJUAN
1.Mengetahui pengaruh jenis detergen terhadap hasil isolasi DNA pada buah.
2.Mengetahui pengaruh jenis buah terhadap hasil isolasi DNA pada buah.
D. DASAR TEORI
Pada umumnya, sel mengandung dua asam nukleat yaitu DNA dan RNA.
DNA terletak dalam kromosom, yang dijumpai dalam nukleus, mitokondria, dan

kloroplas. Sedangkan RNA dijumpai di dalam nukleus, sitoplasma dan ribosom.


Di dalam sel mahluk hidup terdapat DNA, dimana zat ini disebut sebagai cetak
biru kehidupan karena mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu sebagai
pembawa hereditas yang menentukan struktur protein dan proses metabolisme
lain (Hays, 2005 dalam Jamilah 2005).
DNA (Deoxyribose Nucleid Acid) merupakan struktur makromolekuler
yang disusun oleh sub unit yang disebut mitokondria (Gardner, 1991). Setiap
nukleotida tersusun atas gugus fosfat, gula karbon lima (pentosa) yang disebut
gula dioksiribosa, dan basa nitrogen misalnya adenine, guanine, timin, dan sitosin.
Pada model witson dan krick, molekul mempunyai dua rantai polinukleotida, tiap
rantai terdiri atas gugus fosfat dan gugus gula secara berselang seling. Gugus
fosfat terikat pada atom 5 dan satu gula terikat secara kovalen pada atom karbon
3 dari gula berikutnya. Dua rantai tersebut yang saling terpilin seperti tangga
spiral ganda yang disebut heliks ganda.
DNA ditemukan pada semua makhluk hidup dari mikroorganisme sampai
organisme tingkat tinggi missal: manusia, hewan dan tanaman. DNA terdapat da
dalam sel dan inti sel. DNA dapat diekstrak dari segala macam organ yang
terdapat pada bagian tubuh mahluk hidup bersel, misalnya pada tumbuhan dapat
diekstrak dari daun, buah maupun dari batangnya (Muladno, 2002).
Untuk mendapatkan DNA murni dari suatu sel dalam jaringan tubuh
makhluk hidup dapat dilakukan suatu teknik isolasi DNA. Zubaidah (2004: 38)
menyatakan bahwa isolasi DNA dapat dilakukan dengan berbagai cara, akan tetapi
pada setiap jenis maupun bagian tanaman dapat menimbulkan masalah berbeda,
antara lain karena adanya senyawa polifenol dan polisakarida dalam konsentrasi
tinggi yang dapat menghambat pemurnian DNA dan juga mempengaruhi enzimenzim seperti polimerase, ligase, endonuklease restriksi, atau enzim untuk
kegiatan molekuler lain yang dapat menyebabkan DNA tidak dapat digunakan
untuk aplikasi penelitian.
Ekstraksi atau isolasi DNA merupakan teknik dasar yang harus dikuasai
dalam teknologi DNA rekombinan hal ini dikemukakan oleh Abdul Hamid
(2001). Isolasi DNA ini dimaksudkan untuk mendapatkan DNA murni. Selain itu
Muladno (2002) menjelaskan bahwa cara ekstraksi DNA dari berbagai sumber
pada prinsipnya adalah sama, akan tetapi ada beberapa modifikasi tertentu yang

biasanya dilakukan agar dapat menghancurkan inhibitor pada masing-masing


sumber tersebut.
Prinsip teknik isolasi DNA ada berbagai tahap reaksi dengan tujuan yang
berbeda-beda pada setiap tahapnya. Tahap pertama adalah penghancuran dinding
sel, tahap ini dapat dilakukan secara mekanis dan enzimatis. Tahap kedua adalah
melisis sel, cara ini tergantung dari jenis selnya. Tahap ketiga adalah pemurnian
DNA dari sisa-sisa molekul penyusun sel, seperti protein dan lain-lain.
Isolasi DNA dapat dilakukan dengan menggunakan perlakuan deterjen.
Detergen telah lama dikenal masyarakat sebagai bahan bantu dalam proses
mencuci, karena detergen memilki sifat sebagai bahan pengemulsi yang baik.
Detergen memiliki ikatan kimia dengan gugus hidrofil yang bersifat polar dan
gugus hidrofob yang bersifat non polar. Gugus hidrofob inilah yang bertanggung
jawab dalam pengikatan kotoran dari bahan cuci, karena mampu mengikat
senyawa non polar (protein dan lipid) dari lingkungan sekitar dan membentuk
protein-lipid-detergen kompleks, hal inilah yang menyebabkan detergen menjadi
salah satu polutan bagi lingkungan perairan, karena kemampuan membentuk
protein-lipid-detergen kompleks dapat mengakibatkan rusaknya membran sel
orgaisme (Machmud, 2006).
Kandungan air pada beberapa buah yaitu semangka mengandung 92%
air, jeruk, terkandung 85-90% air, nanas dengan daging buah berwarna kuning
cerah ini memiliki kandungan air 90%, sedangkan kadar air pada buah melon
mencapai 95% .
E. ALAT DAN BAHAN
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini sebagai berikut:
1. Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini, antara lain:
a. Blender
b. Corong
c. Pengaduk
d. Timbangan
e. Pipet
f. Saringan tahu
g. Saringan teh
h. Gelas ukur
i. Pisau
j. Gelas aqua
k. Tabung reaksi

l. Rak tabung
2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini, antara lain:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Buah: semangka, jeruk, melon, dan nanas


Aqudes
Alkohol dingin 96%
Deterjen: rinso, sunlight, dan wings
NaCl
Kertas saring

F. PROSEDUR KERJA
1. Tahap Persiapan
Persiapan buah
Mempersiapkan buah, yaitu buah semangka, jeruk, melon, dan nanas

Mengupas masing-masing buah dan memotong kecil-kecil

Memblender buah, dengan 200 gram pada masing-masing buah


ditambah 200 ml air sampai buah hancur menjadi satu fasa dengan air

Menyaring hasil blenderan dengan saringan teh, kemudian menyaring


dengan kain saringan tahu, kemudian menyaring dengan kertas saring
hingga dihasilkan alikoot yang ditampung dalam beaker glass.
2. Membuat substrat
Memasukan 30 ml alikoot ke dalam beaker glass dan
menambahkan salah satu jenis larutan detergen dan NaCl
sebanyak 1 sendok
Mengaduk campuran dengan hati-hati agar agar tidak berbuih
Memasukkan 15 ml filtrat tersebut ke dalam tabung reaksi.

Menambahkan alkohol dingin 96% ke dalam tabung reaksi melalui


dindingnya sebanyak 5 ml

Memasukkan 30 ml filtrat tersebut ke dalam tabung reaksi


Mengamati hasil yang terbentuk, mencatat dan membahas
G. HASIL PENGAMATAN
Tabel 1.1 Data hasil pengamatan buah
Waktu yang diperlukan untuk

Banyak/sedikitnya awan
terbentuknya DNA (detik)
Rinso
Sunlight Wings
Rinso
Sunlight Wings
Semangka
120
115
55
++
+++
+
Jeruk
90
43
39
++
+++
+
Melon
467
53,69
42,66
+
++
Nanas
291
18
13,87
+
+
++
Keterangan: + : sedikit, ++ : banyak, +++ : sangat banyak
Buah

H. ANALISIS DATA
Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa pada isolasi DNA yang
dilakukan pada buah-buahan yaitu semangka, jeruk, melon, dan nanas dengan
menggunakan berbagai macam detergen (rinso, sunlight, wings) yaitu sebagai
berikut.
Pada buah semangka, wings memerlukan waktu pembentukan DNA lebih
cepat dari pada detergen lainnya yakni dengan waktu 55 detik. Dan sunlight
memiliki ketebalan DNA yang sangat banyak dibandingkan dengan menggunakan
detergen lainnya (rinso dan wings).
Pada buah jeruk, wings memerlukan waktu

pembentukan DNA lebih

cepat daripada detergen lainnya yakni dengan waktu 39 detik. Namun, memiliki
ketebalan DNA yang tipis dari pada detergen lainnya. Dan sunlight memiliki
ketebalan DNA yang sangat banyak dibandingkan dengan menggunakan detergen
lainnya (rinso dan wings).
Pada buah melon, wings memerlukan waktu pembentukan DNA lebih
cepat dari pada detergen lainnya yakni dengan waktu 42,66 detik. Dan memiliki
ketebalan DNA yang banyak dibandingkan dengan menggunakan detergen
lainnya (rinso dan wings).
Pada buah nanas, wings memerlukan waktu pembentukan DNA lebih
cepat dari pada detergen lainnya yakni dengan waktu 13,87 detik. Dan memiliki

ketebalan DNA yang banyak dibandingkan dengan menggunakan detergen


lainnya (rinso dan wings).
H. PEMBAHASAN
Isolasi DNA adalah usaha untuk memperoleh DNA murni. Dengan
menggunakan beberapa tahapan, dan dengan bahan-bahan tertentu. Pada
praktikum isolasi DNA ini digunakan buah semangka, jeruk, melon, dan nanas.
Struktur DNA yang berhasil di isolasi adalah berupa gumpalan serabut-serabut
putih seperti benang yang terletak diantara aliqut dan alkohol. Dalam isolasi DNA
ini, semua bagian sel selain DNA harus dibuang, seperti dinding sel, membran
inti, mitokondria, RE, AG, vakuola dan lisosom. Hal ini dilakukan dengan cara
memblender buah-buahan yang akan di isolasi DNAnya. Selanjutnya detergen
digunakan untuk merusak membran sel dan membran inti sehingga DNA yang
diinginkan dapat keluar dari dalam sel (Jamilah, 2005). Pada praktikum kali ini
menggunakan detergen sunlight, rinso, dan wings.
Tahap pertama isolasi DNA adalah penghancuran dinding sel (Abdul
Hamid, 2001), dengan cara mekanis, yaitu dengan memblendernya lalu menyaring
hasil blender. Karena bahan yang digunakan adalah buah maka upaya
menghancurkan dinding sel lebih mudah karena tidak banyak mengandung
selulosa, lignin, pektin dan bahan pengeras dinding sel yang lain (Kartini, 2001).
Selain itu, usaha memblender dan menyaring hasilnya bertujuan untuk
memperluas permukaan sel, agar reaksi-reaksi dapat berlangsung lebih cepat,
karena secara kimiawi semakin luas permukaan reaktan maka reaksi kimia akan
semakin cepat (Anshori, 1994).
Tahap kedua isolasi DNA adalah melisiskan sel. Cara ini dilakukan dengan
menambahkan deterjen dan garam ke dalam campuran. Pemberian deterjen
berfungsi untuk membuka atau memecah membran sel (baik membran sitoplasma
maupun membran nukleus). Molekul deterjen dan lemak terdiri dari dua bagian,
yaitu bagian kepala yang suka dengan air (hidrofil) dan bagian ekor yang benci
dengan air (hidrofob). Bagian yang hidrofob akan berikatan dengan molekul
lemak dan protein yang menyusun membran sel. Sedangkan bagian yang hidrofil
akan berhubungan dengan air (Genetic Science Learning Center The University of
Utah, 2005).
Sedangkan pemberian NaCl bertujuan sama dengan deterjen, yaitu
melisiskan membran sel, tetapi bekerja pada molekul oligosakarida dan

glikoprotein pada membran. Kedua molekul ini akan dilisiskan oleh NaCl. Selain
itu keadaan hipertonis yang ditimbulkan oleh penambahan garam juga dapat
mengakibatkan sel mengalami lisis.
Tahap ketiga adalah pemurnian DNA. Cara ini dilakukan dengan
menambahkan alkohol adingin 96 %. Alkohol berfungsi untuk memisahkan DNA
dengan molekul-molekul yang lain, seperti protein. Alkohol mempunyai molekul
yang lebih padat dan ringan daripada air sehingga akan berada di atas permukaan
campuran. Protein dan lemak akan berada pada bagian bawah sedangkan DNA
akan memisah dan berada pada daerah alkohol.
Dari hasil isolasi DNA yang dilakukan, diketahui bahwa jenis detergen
berpengaruh terhadap hasil isolasi DNA dan jenis detergen tertentu memberikan
pengaruh waktu terbentuknya DNA dan tergantung jenis buah pada kadar air
berbeda. Dari data dapat diketahui bahwa detergen wings pengaruh paling cepat
terbentuknya DNA pada buah semangka, jeruk, melon, dan nanas.
Isolasi DNA, detergen berfungsi untuk melisiskan barier (penghalang) sel
secara kimia sebagai pengganti senyawa kimia yang mampu merusak dinding dan
membran sel antara lain lisozim yang dapat mendegesti senyawa polimerik yang
menyebabkan kekakuan sel dan etil endiamintetra asetat (EDTA) yang berfungsi
untuk menghilangkan ion Mg2+ yang penting untuk mempertahankan keseluruhan
struktur selubung sel, serta menghambat enzim-enzim seluler yang dapat merusak
DNA (ion Mg2+ merupakan kofaktor penting bagi DNAse yang biasa "memakan"
DNA). Selain lisozim dan EDTA, bisa juga digunakan detergen seperti sodium
dodesil sulfat (SDS) karena detergen ini bisa menyebabkan hilangnya molekul
lipid pada membran sel, sehingga bisa meusak struktur membran sel (Tim Dosen
Biologi FMIPA UB, tanpa tahun: 19-20).
Menurut Jamilah, (2005: 11) menyatakan bahwa detergen bisa
menyebabkan kerusakan membran sel engan mengemulsi lipid dan protein sel
serta menyela interaksi polar yang menyatukan membran sel karena detergen
mengandung disodium EDTA dan lauryl sulfat yang memiliki fungsi yang sama
dengan dodesil sulfat.
Dollard (2005, dalam Jamilah, 2005: 11) menambahkan bahwa detergen
ini

kemudian

membentuk

kompleks

dengam

menyebabkannya terpresipitasi ke dalam larutan.

lipid

dan

protein

dan

Pada saat penghancuran jaringan sampel pada awal proses isolasi DNA,
terjadi pelepasan senyawa polifenol dan polisakarida. Senyawa polifenol yang
teroksidasi akan mengadakan ikatan kovalen dengan DNA yang membentuk suatu
senyawa kompleks berwarna kecokelatan, sedangkan polisakarida mengalami
kompresipitasi dengan asam nukleat saat presipitasi dengan penambahan alkohol
sehingga terbentuk suatu matriks seperti lem dalam jumlah berlebihan. Hal ini
dapat menyebabkan DNA menjadi kental, sulit larut secara sempurna dan sulit di
pipet meskipun telah dilarutkan dalam buffer TE. Akan tetapi jika ditinjau dari
sudut pandang media, DNA yang baik adalah DNA yang serupa pintalan benang.
(Zubaidah, 2004: 38)
Garam digunakan untuk melarutkan DNA, karena ion Na + yang dikandung
oleh garam mampu memblokir (membentuk ikatan) dengan kutub negatif fosfat
DNA, yaitu kutub yang bisa menyebabkan molekul-molekul saling tolak menolak
satu sama lain sehingga pada saat ion Na+ membentuk ikatan dengan kutub negatif
fosfat DNA, DNA akan terkumpul (Dollard, 1994, dalam Jamilah, 2005: 21).
Dari pernyataan diatas, nampak bahwa selain digunakan untuk
menghilangkan protein dan karbohidrat dan menjaga kesetabilan pH lysing buffer,
garam

juga

membantu

proses

pemekatan

DNA.

Konsentrasi DNA yang terpresipitasi tergantung dari beberapa hal, antara lain:
keenceran sumber DNA yang digunakan dan suhu ethanol. Semakin encer filtrat,
maka DNA yang terpresipitasi akan semakin sedikit (Zubaidah, 2004: 38).
Sementara semakin dingin ethanol, DNA yang terpresipitasi semakin pekat.
(Dollard,

2005,

dalam

Jamilah,

2005:

21).

Menurut Dollard (2005, dalam Jamilah, 2005: 21-22) pada saat penambahan
ethanol, larutan akan tampak terbalik untuk beberapa saat, dan pada akhirnya
ethanol akan berada di bagian atas tabung, sementara filtrat berada di bagian dasar
tabung karena ethanol memiliki densitas (kerapatan) yang lebih kecil
dibandingkan air. DNA akan tampak nyata sebagai strands (unting) putih atau
suatu bahan yang kental dengan gelembung udara yang terperangkap di dalamnya.
Gelembung ini yang akan menyebabkan DNA naik ke bagian atas larutan.
Ditinjau dari jenis buah yang digunakan sebagai sumber DNA, buah yang
memiliki kadar air rendah menghasilkan presipitasi DNA yang lebih baik daripada
buah yang kadar airnya tinggi. Buah nanas menunjukkan kualitas DNA terbaik

disusul selanjutnya berturut turut buah melon, semangka dan jeruk. Hal ini sejalan
dengan pendapat Muladno (2005) bahwa dalam proses pembuatan sumber DNA
untuk isolasi DNA, hendaknya jangan terlalu encer, karena semakin encer sumber
DNA, DNA yang terpresipitasi akan semakin sedikit karena sel yang lisis di
dalam air tentu lebih sedikit jika dibandingkan dengan sumber DNA yang lebih
kental.
Dollard (2005, dalam Jamilah, 2005: 21) menambahkan bahwa semakin
encer

filtrat,

maka

DNA

yang

terpresipitasi

akan

semakin

sedikit.

Kecepatan pembentukan DNA juga dipengaruhi oleh jenis detergen yang


digunakan, dalam hal ini detergen wings memiliki kualitas paling baik dalam
pembentukan DNA pada ekstrak buah. Ini karena dalam detergen bubuk,
kandungan senyawa kimia untuk melisiskan sel terdapat dalam konsentrasi yang
lebih tinggi daripada detergen jenis lain.
Pada percobaan isolasi DNA ini, terdapat perbedaan waktu terlepasnya
DNA dari sel. Pada buah semangka, perlakuan yang memerlukan waktu paling
cepat untuk melepas DNA adalah pada wings, kedua pada sunlight dan yang
terakhir pada rinso. Pada buah jeruk, wings memberikan waktu paling cepat dalam
melepaskan DNA, diikuti sunlight pada urutan kedua, dan rinso yang terakhir.
Sementara ketebalan DNA yang dibentuk, sunlight menghasilkan DNA yang
paling tebal, kemudian rinso dan wings. Pada buah melon, attack memberikan
waktu paling cepat dalam melepas DNA, kemudian bukrim dan sunlight.
Memberikan pengaruh yang paling besar dalam melepaskan DNA. Namun,
jumlah DNA yang dihasilkan sedikit. Pada buah nanas, perlakuan yang
memerlukan waktu paling cepat untuk melepas DNA adalah pada wings, kedua
pada sunlight dan yang terakhir pada rinso.
Total pengaruh dari semua detergen terhadap satu jenis buah adalah
sebagai berikut: waktu paling cepat yang dibutuhkan untuk melepaskan DNA
adalah pada buah nanas, urutan kedua adalah pada jeruk, urutan ketiga melon dan
yang terakhir adalah semangka.
Dari hasil yang didapatkan terlihat bahwa ada perbedaan pengaruh
detergen waktu dalam melepaskan DNA pada jenis buah tertentu, dimana tidak
semua buah letal terhadap kandungan dari suatu detergen. Hal ini terjadi karena
pada buah terdapat perbedaan pigmen yang masih berikatan dengan DNA, dimana
pigmen ini memiliki ukuran atau kemampuan yang berbeda dalam melepaskan

diri dengan DNA pada setiap detergen, sehingga perbedaan waktu terlepasnya
DNA dari sel tersebut juga menunjukkan bahwa kemampuan setiap detergen
dalam merusak membran sel tidak sama.
I.

DISKUSI
1. Jelaskan fungsi reagen-reagen pada praktikum isolasi DNA berikut:
a. Deterjen
b. Garam
c. alkohol
2. Apa fungsi pemblenderan buah pada proses isolasi DNA?
3. Mengapa pada proses pengadukan tidak boleh berbusa?
4. Mengapa alcohol yang ditambahkan harus dalam keadaan dingin?
5. Mengapa pada macam deterjen yang berbeda diperoleh kuantitas DNA dan
waktu pembentukan yang berbeda?
6. Mengapa pada macam buah yang berbeda diperoleh kuantitas DNA dan
waktu pembentukan yang berbeda?
Jawaban
1.a. Deterjen berfungsi untuk memecah membran sel (baik membran sitoplasma
maupun membran nukleus). Molekul detergen dan lemak terdiri dari dua
bagian, yaitu bagian kepala yang suka dengan air (hidrofil) dan bagian ekor
yang benci dengan air (hidrofob). Bagian yang hidrofob akan berikatan
dengan molekul lemak dan protein yang menyusun membran sel.
Sedangkan bagian yang hidrofil akan berhubungan dengan air.
b. Fungsi garam dapur adalah untuk melisiskan sel yaitu dengan membuat
kondisi hipertonis sehingga sel mengalami plasmolisis, NaCl juga
melisiskan membran sel, bekerja pada molekul oligosakarida dan
glikoprotein pada membran.

c. Alkohol dingin berfungsi untuk memisahkan DNA dengan molekul-molekul


yang lain, seperti protein. Alkohol mempunyai molekul yang lebih padat
dan ringan daripada air sehingga akan berada pada permukaan campuran.
Protein dan lemak akan berada pada bagian bawah sedangkan DNA akan
memisah dan berada pada daerah alkohol. selain itu alkohol dingin akan
mempercepat pembentukan fase gel DNA, karena dalam ke dalam panas
2.

akan memperlambat pembentukan gel.


Dalam isolasi DNA ini, semua bagian sel selain DNA harus dibuang, seperti
dinding sel, membran inti, mitokondria, RE, AG, vakuola dan lisosom. Hal
ini dilakukan dengan cara memblender buah-buahan yang akan di isolasi
DNAnya. Selain itu, usaha memblender bertujuan untuk memperluas
permukaan sel, agar reaksi-reaksi dapat berlangsung lebih cepat, karena
secara kimiawi semakin luas permukaan reaktan maka reaksi kimia akan

3.

semakin cepat.
Pada saat pembutan larutan deterjen harus diaduk dengan hati-hati agar
tidak berbuih karena pengadukan larutan bertujuan untuk membantu
pengerusakan membran sel oleh detergen, tetapi jika pengadukannya cepat
dan keras akan menimbulkan buih yang dapat menyebabkan rusaknya DNA
sehingga proses isolasi DNA akan sulit diamati dan menghalangi penyatuan
DNA di daerah atas antara alkohol dengan aliqut. selain itu, Pengadukan
dilakukan untuk memperbesar pergerakan partikel sel dan detergen agar
reaksi berlangsung cepat, dimana detergen bereaksi merusak membran sel.
Pengadukan yang terlalu keras atau cepat akan menyebabkan larutan
berbuih, hal ini akan menyebabkan terbentuknya rongga udara pada hasil

4.

akhir sehingga DNA yang didapatkan tidak murni.


Karena alkohol dingin akan mempercepat pembentukan fase gel DNA,

5.

karena dalam keadaan panas akan memperlambat pembentukan gel.


Kandungan dalam detergen berbeda produk satu dengan produk lain, ada
yang banyak adapula yang sedikit sehingga kecepatan pembentukan DNA

6.

juga berbeda karena kecepatan pemecahan sel juga berbeda.


Jenis buah juga berpengaruh terhadap terhadap hasil isolasi DNA, yaitu
pada bauh yang kandungan airnya sedikit, maka daya isolasinya akan
semakin lama. Selain itu, pigmen yang terkandung dalam juga merupakan
faktor yang mempengaruhi proses isolasi DNA.

J. KESIMPULAN
1. Dari hasil isolasi DNA yang dilakukan, diketahui bahwa jenis detergen
berpengaruh terhadap hasil isolasi DNA dan jenis detergen tertentu
2.

memberikan pengaruh waktu terbentuknya DNA.


Jenis buah juga berpengaruh terhadap terhadap hasil isolasi DNA, yaitu
pada bauh yang kandungan airnya sedikit, maka daya isolasinya akan
semakin lama. Selain itu, pigmen yang terkandung dalam juga merupakan
faktor yang mempengaruhi proses isolasi DNA.

K. DAFTAR PUSTAKA
Gardener, EJ dkk. 1991. Principle of Genetic. New York: Jhon Wiley and Sons.
INC.
Genetics Science Learning Center at the University of Utah. 2005. DNA
Extraction,

(online),

(http://gslc.genetics.utah.edu/basic/howto/DNA_Extraction.html, diakses
18 Februari 2014)
Jamilah. 2005. Pengaruh Berbagai Macam Detergen, Penambahan Garam Dan
Ekstrak Nanas (ananas comulus (L) mers) Terhadap Hasil Isolasi DNA
Berbagai Macam Buah Sebagai Topik Praktikum Matakuliah Genetika.
Skripsi. Malang: Program Serjana Pendidikan Biologi
Kartini, Endang. 2001. Sitologi. Malang : Universitas Negeri Malang.
Machmud, wildan. 2006. Penentuan LC 50 48 Jam Detergen dan Pengaruhnya
Terhadap Mortalitas Larva Ikan Mas (Cyprus Corpio) Ras Punten
dengan tipe Ploidi Yang Berbeda. Skripsi tidak diterbitkan. Malang:
Program Sarjana Biologi
Muladno. 2002. Seputar Teknologi Rekayasa Genetika. Bogor: Pustaka Wirausaha
Muda.
Toha, Abdul Hamid. 2001. Deoxiribosa Nuclear Acid. Bandung: Alfabeta