Anda di halaman 1dari 19

Budaya sangat erat kaitannya dengan pariwisata. Mengapa demikian ?

karena bisa kita lihat dari


definisi Budaya yang merupakan simbol masyarakat sekitar yang di dalamnya terdapat makna
yang mencakup segala hal yang merupakan hasil cipta, karya manusia. Sedangkan Pariwisata
merupakan rangkaian perjalanan yang di lakukan oleh seseoarang atau kelompok orang diluar
tempat tinggalnya yang bersifat sementara untuk berbagai tujuan (seperti berlibur, menikmati
keindahan alam dan budaya, bisnis, dll). Kemudian dari pengertian masing masing diatas
dapat kita ketahui bahwa hubungan antara Budaya memiliki hubungan yang sangat erat
kaitannya dengan Pariwisata.
Adanya Budaya di tempat pariwisata itu akan dapat memberikan nilai lebih bagi wisatawan yang
datang untuk berkunjung ke tempat tersebut. Sehingga dapat juga kita simpulkan bahwa
pariwisata budaya merupakan aktivitas pertukaran informasi dan simbol simbol budaya yang di
dalamnya terdapat tempat, tradisi, kesenian, upacara, dan identitas yang lainnya yang terdapat
di tempat tersebut untuk dapat dinikmati oleh setiap wisatawan yang datang berkunjung.

Hubungan Budaya dengan Pariwisata

Budaya sangat mempengaruhi prospek dari kegiatan pariwisata, budaya mencerminkan


keadaan sosial dan alam suatu wilayah yang akan menjadi destinasi pariwisata. Budaya
Indonesia misalnya, budaya Indonesia sangat beragama, maka dari itu keragaman budaya
Indonesia menjadikan daya tarik tersendiri untuk para wisatawan lokal maupun mancanegara.
Budaya tidak akan pernah lepas dengan pariwisata ,karena budaya ada sangkut pautnya
dengan pariwisata yaitu tanpa adanya budaya kegiatan pariwisata tidak akan menarik lagi , akan
terasa hambar dikarenakan budayalah yang menarik perhatian para wisatawan tersebut .
dengan adanya budaya jugalah mereka mengetahui seluk beluk serta kebiasaan daerah yang
mereka kunjungi dan apabila ada budaya yang menurut mereka unik akan memberi rasa puas
tersendiri untuknya . sehingga mereka akan didorong rasa ingin tahu untuk mengunjungi negaranegara yang memiliki budaya yang khas contohnya seperti di Indonesia.
budaya dan pariwisata saling memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
dengan budaya yang dimiliki oleh daerah-daerah tertentu, maka aspek pariwisata akan
berkembang melalui kebudayaan itu sendiri. dimana aspek pariwisata juga bberperan terhadap
kebudayaan. dengan adanya pariwisata maka keanekaragaman kebudayaan khususnya di
Indonesia akan dapat secara luas di kenal oleh masyarakat domestik maupun mancanegara,
sehingga dapat menambah devisa negara.
Pariwisata sendiri bertujuan untuk memperkenalkan dan mendayagunakan keindahan keindahan
alam dan kebudayaan Indonesia. Pengembangan pariwisata di Indonesia tidak terlepas dari
potensi yang dimiliki oleh Indonesia. Pariwisata itu sangat bergantung pada budaya yang dimiliki
setiap daerah. Seperti halnya Indonesia yang memiliki berbagai ragam kebudayaan. Misalnya
sebuah tarian, sejarah suat tempat, Rumah adat, candi, prasasti, kebiasaan masing masing
daerah, dsb. Unsur unsur kebudayaan itulah yang harus ditonjolkan dan harus digali lebih
dalam laggi. Karena itu akan berdampak pada besar kecilnya prosentase angka wisatawan yang

berkunjung untuk berwisata ke Indonesia. Semakin banyak budaya yang ada di Indonesia,
semakin banyak pula Tourism yang berwisata ke Indonesia.
Pariwisata dan budaya adalah hal yang tidak bisa dipisahkan, diantara keduanya membentuk
hubungan saling menguntungkan (simbiosis mutualisme). Pariwisata tanpa adanya budaya dari
masyarakat hanya akan menjadi suatu kegiatan jalan-jalan biasa, sehingga dalam
perkembangannya bisa saja periwisata di daerah tersebut tidak dapat berkembang karena
terlalu monoton. Begitu juga dengan budaya, budaya tidak akan bisa diketahui oleh masyarakat
luas tanpa adanya kegiatan pariwisata. Budaya di suatu daerah bisa menjadi suatu ikon
pariwisata yang akan menjadi daya tarik wisata. Jadi hubungan diantara pariwisata dan budaya
bisa menimbulkan berbagai keuntungan, yaitu meningkatkan pendapatan, menciptakan
lapangan kerja , budaya di daerah tersebut semakin terkenal di mata nasional maupun
internasional, dan secara tidak langsung budaya di daerah tersebut bisa semakin lestari.
Pariwisata adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, bersifat sementara, dilakukan
perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan
kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam, dan ilmu
(Spillane,1987:21).
Dalam teori evolusionisme multilinier mengemukan bahwa proses perkembangan berbagai
kebudayaan itu memperlihatkan adanya beberapa proses perkembangan yang sejajar.
Kesejajaran itu terutama nampak pada unsur yang primer sedangkan unsur kebudayaan yang
sekunder tidak nampak perkembangan yang sejajar dan hanya nampak perkembangan yang
khas. Proses perkembanan yang tampak sejajar mengenai beberapa unsur kebudayaan primer
disebabkan oleh karena lingkungan tertentu memaksa terjadinya perkembangan ke arah
tertentu.
Perkembangan pariwisata berpengaruh positif dan signifikan terhadap budaya lokal,
dimana terlihat pada pariwisata dapat memacu motivasi kreativitas seni para pematung untuk
berkarya lebih inovatif dan lebih variatif sesuai dengan kebutuhan pariwisata dan meningkatnya
persaingan bisnis, Dapat mengetahui budaya dari berbagai negara terutama melalui berbagai
pesanan karya seni selain yang di hasilkan oleh masyarakat lokal. Dan berpengaruh negatif,
yang terlihat pada maysyarakat yang dulunya hidup sederhana menjadi pola hidup konsumtif, di
mana masyarakatnya hampir semua menerapkan pola hidup mewah dan pola hidup instan
dalam mengejar prestise, dan berkurangnya sifat kebersamaan karena adanya pengaruh
budaya barat terutama tuntutan dari pengerjaan kerajinan modern yang lebih bersifat individual
tidak seperti dalam pengerjaan kerajinan tradisional yang lebih bersifat komunal atau secara
berkelompok.
EKONOMI DAN PARIWISATA

Hubungan Ekonomi dengan Pariwisata

Dampak Pariwisata Terhadap Perekonomian Industri pariwisata menghasilkan manfaat


ekonomi yang besar baik bagi Negara tuan rumah, maupun Negara asal para turis. Salah satu
motivasi utama sebuah Negara mempromosikan dirinya sebagai Negara dengan tujuan wisata
adalah timbul kemajuan dalam ekonomi, terutama bagi Negara-negara berkembang. Bersamaan
dengan dampak lainnya, peningkatan ekonomi yang begitu pesat juga terjadi dengan berbagai
keuntungan dan kerugian. Dapak besar pariwisata terlihat dari data World Tourism Organization,
pada tahun 2000, 698 juta orang melakukan perjalanan ke luar negeri dan menghabiskan lebih
dari 478 juta US dollar. Gabungan dari pendapatan pariwisata internasioanl dengan pendapatan
transportasi maka menghasilkan lebih dari 575 juta US dollar, yang membuat pariwisata menjadi
penghasil ekspor terbesar di dunia diikuti oleh produk otomotif, bahan kimia, minyak bumi, dan
makanan. Namun, banyak kerugian tersembunyi dari pariwisata yaitu, adanya dampakdampak
pada ekonomi yang tidak diharapkan oleh penduduk setempat. Seringkali keuntungan pariwisata
sebuah Negara maju lebih tinggi dari Negara berkembang. Padahal Negara berkembang lebih
membutuhkan pendapatan tambahan, pekerjaan, dan peningkatan standar hidup lewat
pariwisata. Berdasarkan kenyataan tersebut, berbagai alasan muncul antara lain, karena adanya
transfer besar-besaran pendapatan pariwisata dari Negara tuan rumah, kemudian kurang
diperhatikannya bisnis dan produk dalam negeri.
Sisi Negatif Pariwisata di Bidang Ekonomi Leakage Leakage (kebocoran) dalam dunia
pariwisata berarti pendapatan yang dihasilakan oleh pariwisata suatu Negara yang hilang atau
terpakai untuk keuntungan Negara lain. Leakage terjadi melalu 6 mekanisme berbeda, yaitu: a.
Barang dan Jasa Banyak Negara harus membeli barang dan jasa demi memuaskan
pengunjungnya. Ini juga termasuk dengan bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan
barang dan jasa tersebut, misalnya cendra mata. Hal ini merupakan masalah yang signifikan,
karena beberapa Negara harus mengimpor kurang lebih 50% dari Negara lain untuk
menghasilkan barang dan jasa tersebut. b. Infrasruktur Banyak Negara yang tidak mempunyai
kemampuan domestic untuk melakukan pembangunan yang berhubungan dengan pariwisata,
seperti hotel, Bandar udara, dan lainnya. Akibatnya Negara harus mengunakan kemampuan
Negara asing yang berujung pada leakage. c. Faktor Produksi Luar Negeri Negara-negara kecil
seringkali membutuhkan investasi Negara asing untuk memulai usaha pariwisata mereka.
Dengan demikian, keuntungan pariwisata bisa berkurang dan menjadi milik investor asing.
Kepentingan Promosi Banyak Negara menghabiskan sejumlah uang untuk iklan dan
promosi. Lewat iklan dan promosi-promosi dapat meningkatkan volume turis yang berkunjung ke
Negara. Namun juga merupakan kerugian karena harus mengeluarkan biaya ke pasar Negara
luar. e. Transfer Harga Banyak perusahaan asing yang memanipulasi harga produk mereka
untuk mengurangi pajak dan kewajiban lainnya. Di Negara-negara berkembang, banyak investor
asing yang terlibat dalam industri pariwisata yang melakukan hal ini sehingga mengurangi
pendapatan Negara. f. Pembebasan Pajak Negara dengan industri pariwisata yang kecil
mungkin harus memberikan pembebasan pajak atau penawaran lain untuk menarik para
investor. Meskipun hal ini dapat meningkatkan pariwisata Negara, namun dapat menjadi sumber
kerugian bagi Negara.
Sebuah studi pariwisata mengenai leakage di Thailand memperkirakan bahwa 70% dari
total uang yang dihabiskan wisatawan di sana, akhirnya tidak menjadi milik Thailand karena
diambil oleh biro perjalanan asing, maskapai penerbangan, perusahaan makanan dan miuman
impor, serta hotel. Kebocoran ini tidak hanya terjadi pada Negara berkembang. Negara maju
seperti Australia juga mengalami leakage akibat pendatang dari Jepang. Meskipun mereka
merupakan pendatang terbanyak ke Australia, namun biasanya mereka datang lewat biro
perjalanan Jepang, mengunakan hotel milik Jepang, dan usaha-usaha lainnya. Sebagai akibat
dari efek leakage, industri pariwisata di negara maju sering jauh lebih menguntungkan per dolar
yang diterima dari pariwisata di negara-negara yang lebih kecil. Kepulauan, khususnya,
menderita kebocoran yang signifikan. Di negara-negara seperti Turki dan Inggris, manfaat bagi
ekonomi dari pariwisata adalah dua kali jumlah dolar yang dibelanjakan oleh wisatawan. Di
tempat-tempat yang lebih kecil, seperti Mikronesia dan Polinesia, untung yang diperoleh adalah
setengah jumlah dolar yang dihabiskan. Beberapa lokasi telah berhasil meniadakan pengaruh
leakage hampir seluruhnya. New York City mengklaim bahwa mereka menghasilkan tujuh dolar

bagi perekonomian lokal per dolar yang dihabiskan oleh wisatawan. Bagi banyak Negara,
sumber kebocoran(leakage) tidak dapat dihindari. Hotel dan maskapai penerbangan asing
sangat dibutuhkan bagi pariwisata. Namun, dengan mendorong keterlibatan dalam negeri dalam
industri pariwisata, dapat mengurangi kebocoran. Negara juga dapat membatasi penggunaan
mata uang asing, mengurangi efek dari transfer harga, dan sebagainya. Misalnya, suatu Negara
mengharuskan pengunjung untuk memiliki sejumlah uang Negara tersebut sebelum masuk.
Enclave Tourism Yang dimaksud dengan enclave tourism adalah tujuan wisata yang
mengatur wilayahnya sedemikian rupa, sehingga wisatawan dapat memenuhi seluruh
keinginannya di situ tanpa pergi mengunjungi wilayah lain. Contohnya Sun and Sand Resort di
Karibia. Bisnis lokak sering mencari kesempatan untuk memperoleh keuntungan lewat paket
liburan. Dengan menyediakan berbagai fasilitas untuk memenuhui kebutuhan pelanggan,
mereka dapat membuat pelanggan betah untuk tinggal di lokasi mereka, misalnya resort atau
kapal pesiar. Sayangnya, dengan begitu, tidak banyak kesempatan bagi masyarakat lain untuk
memperoleh pendapatan dari para turis. The Organization of American States (OAS)
mengadakan survey di industri pariwisata Jamaika, hasilnya adalah industri yang tergolong
enclave tourism mendapatkan pendapatan terbesar, yang berdampak pada berkurangnya
pendapatan bagi akomodasi lainnya. Industri kapal pesiar juga menjadi contoh lain bagi enclave
tourism. Pada tahun 1999, total penumpang kapal pesiar secara internasional adalah 8,7 juta
orang. Itu tidak termasuk kapal pesiar yang melewati sungai. Pada banyak kapal, terutama di
Karibia (tujuan pelayaran yang paling populer di dunia dengan 44,5% dari penumpang kapal
pesiar), tamu didorong untuk menghabiskan sebagian besar waktu dan uang mereka di atas
kapal, dan kesempatan untuk menghabiskan di beberapa pelabuhan atau persinggahan kerap
dibatasi.
Dampak Negatif Lainnya a.Biaya Infrastruktur Pengembangan pariwisata dapat
menyebabkan pemerintah dan pembayar pajak setempat mengeluarkan uang yang lebih
banyak. Pengembangan fasilitas seperti tempat-tempat hiburan, hote, bandara, dan juga
penawaran-penawaran yang digunakan untuk menarik investor, menggunakan biaya yang
sangat besar. Dengan demikian, pemerintah pada akhirnya mengurangi anggaran pada bidangbidang penting lainnya, seperti kesehatan dan pendidikan. b.Kenaikan Harga Peningkatan
permintaan untuk layanan dan barang dari wisatawan akan menimbulkan kenaikan harga yang
berpengaruh negatif terhadap penduduk lokal yang pendapatan tidak meningkat secara
proporsional. San Francisco State University study Belize menemukan bahwa, sebagai
konsekuensi dari pengembangan pariwisata, harga untuk penduduk setempat meningkat
sebesar 8 % . Pengembangan Pariwisata dan kenaikan terkait permintaan real estate dapat
secara dramatis meningkatkan biaya bangunan dan nilai tanah . Hal ini tidak hanya membuat
masyarakat lokal kesulitan, terutama di negara berkembang, untuk memenuhi kebutuhan dasar
mereka sehari-hari, juga dapat mengakibatkan dominasi oleh orang asing di pasar tanah dan
migrasi yang mengikis kesempatan ekonomi bagi penduduk setempat. Di Kosta Rika , hamper
65 % dari hotel yang aada merupakan milik asing.
Ketergantungan Ekonomi Masyarakat Setempat pada Pariwisata Diversifikasi dalam
suatu perekonomian memang baik, namun jika suatu negara atau wilayah tergantung untuk
kelangsungan ekonomi pada satu industri, dapat menempatkan tekanan besar terhadap industri
ini serta orang yang terlibat untuk melakukan dengan baik . Banyak negara , khususnya negara
berkembang dengan sedikit kemampuan untuk mengeksplorasi sumber daya lainnya, telah
menggunakan pariwisata sebagai cara utama untuk meningkatkan perekonomian . Di Gambia ,
misalnya, 30 % dari tenaga kerja langsung maupun tidak langsung bergantung pada pariwisata.
Sebenarnya, bergantung pada pariwisata bukan merupakan solusi yang cukup baik, apalagi
dalam perekonomian, karena sangat beresiko. Bencana alam seperti gempa bumi atau puting
beliung, dapat merusak sumber pariwisata. Sehingga bergantung pada pariwisata bukan satusatunya jalan. d. Jenis Pekerjaan Musiman Masalah yang dihadapi pekerja musiman adalah:
Ketidakamanan pekerjaan (sekaligus pendapatan). Tidak ada jaminan pekerjaan dari satu
musim ke musim berikutnya. Kesulitan dalam mendapat pelatihan, tunjangan kesehatan yang
berhubungan dengan pekerjaan, serta pengakuan atas pengalaman mereka.

Sisi Positif Pariwisata di Bidang Ekonomi Menghasilkan Devisa Negara Pengeluaran


pariwisata menghasilkan pendapatan bagi perekonomian Negara tuan rumah dan dapat
merangsang investasi yang diperlukan untuk membiayai pertumbuhan sektor ekonomi lainnya.
Beberapa negara berusaha untuk mempercepat pertumbuhan ini dengan mengharuskan
pengunjung untuk membawa sejumlah mata uang asing saat mereka berkunjung. Indikator
penting dari peran pariwisata internasional adalah pembangkit penghasilan devisa Negara.
Kontribusi Pendapatan Pemerintah Kontribusi langsung diperoleh dari pajak penghasilan pekerja
pariwisata, dan pebisnis pariwisata. Serta secara langsung dari para turis lewat pajak
keberangkatan. Kontribusi tidak langsung diperoleh dari pajak dan pungutan wajib barang dan
jasa yang disediakan untuk turis. WTO memperkirakan, keseluruhan pajak langsung, tidak
langsung, dan pajak personal pada tahun 1998 adalah sejumlah 800 miliar US dollar dan
menjadi dua kali lipat pada tahun 2010.
Peningkatan Lapangan Kerja Perluasan yang cepat dalam sektor pariwisata telah
meningkatkan jumlah lapangan kerja. Contohnya, pada tahun 1995, akomodasi hotel saja telah
mempekerjakan 11.3 juta pekerja di seluruh dunia. Pariwisata dapat menghasilkan pekerjaan
secara langsung lewat hotel, restoran, took cendra mata, dan sebagainya. Pariwisata juga
menghasilkan pekerjaan secara tidak langsung lewat penyedia barang dan jasa yang dibutuhkan
untuk kepentingan bisnis pariwisata. Secara keseluruhan, pariwisata menyumbang 7% lapangan
pekerjaan di seluruh dunia. Pendorong Investasi Infrastruktur Pariwisata dapat mendorong
pemerintah local untuk mengembangkan infrastruktur seperti, jalan raya, air bersih, listrik, dan
sebagainya. Dengan meningkatnya fasilitas pariwisata, secara otomatis juga meningkatkan
kualitas hidup bagi penduduk setempat. Kontribusi bagi Ekonomi Lokal Karena lingkungan
adalah aset dasar dari industri pariwisata, pendapatan pariwisata sering digunakan untuk
meningkatkan nilai ekonomis dari wilayah yang dilindungi. Selain itu, pendapatan pariwisata juga
dihasilkan lewat pekerja informal (contohnya: pedagang kaki lima, pramuwisata informal,
pengemudi becak). Sisi positif dari pekerja informal adalah, akan ada pendapatan bagi
masyarakat setempatyang terlibat dalam pariwisata.
Hubungan periwisata dengan aspek ekonomis, pariwisata dapat dikatakan sebagai industri
pariwisata, jika di dalam industri tertentu ada suatu produk tertentu, di dalam industri pariwisata
yang disebut produk tertentu tersebut adalah kepariwisataan itu sendiri. Seperti halnya di suatu
industri ada konsumen, ada permintaan, ada penawaran, dimana produsen mempunyai tugas
untuk menghasilkan suatu produk agar dapat memenuhi permintaan. Pada industri pariwisata
konsumen yang dimaksud adalah wisatawan. Wisatawan mempunyai kebutuhan dan
permintaan-permintaan yang harus dipenuhi dan pemenuhan kebutuhan tersebut dengan sarana
uang.
Pariwisata merupakan alat untuk mencapai tujuan dalam ekonomi. Secara mikro dijelaskan
perkembangan pariwisata meningkatkan pendapatan daerah setempat. Munculnya komunitas
pedagang di sekitar lokasi untuk menambah pendapatan dan meningkatkan jumlah pengunjung,
karena merupakan salah satu fasilitas yang tersedia dan mudah dijangkau.
POLITIK DAN PARIWISATA

Hubungan Politik dengan Pariwisata

Mengapa politik dikatakan berpengaruh terhadap pariwisata dan perekonomian?


Dalam dunia politik, suatu negara sangat terikat dengan hubungan kerjasama antar negara.
banyak negara yang menjalin hubungan kerjasama dalam hal pariwisata. sehingga keadaan
politik dapat mempengaruhi dunia pariwisata. sedangkan pariwisata merupakan pendapatan
terbesar negara. sehingga perekonomian negarapun terpengaruhi bila perkembangan pariwisata
terhambat oleh kondisi polik tak mendukung. butuh keseimbangan antara politik dengan
pariwisata bila perekonomian ingin meningkat.
Ada beberapa perilaku wisatawan yang perlu dicermati dalam bisnis. Pertama adalah mereka
ingin menikmati alam, keindahannya, panorama pantai, gunung, dan danau. Kedua selain hal
tersebut mereka akan menggunakan waktunya juga untuk menikmati kreasi budaya (culture) dan
peninggalan bersejarah di suatu daerah tertentu dan negara tertentu.
Perilaku wisatawan perlu menjadi perhatian karena strategi pengembangan pariwisata bermula
dari hal tersebut. Dengan diberlakukan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintah Daerah, maka wewenang untuk mengembangkan wisata menjadi terletak di daerah
dan tidak terpusat di Jakarta saja. Ada otonomi untuk mengembangkan pariwisata di daerah
masing-masing. Daerah dapat mempromosikan sendiri wilayahnya untuk menjadi tujuan wisata
sesuai dengan keunggulan daerahnya masing-masing. Keadaan pariwisata akan mempengaruhi
bisnis perhotelan di Indonesia.
Kondisi politik yang tenang dan stabil merupakan prasyarat perkembangan usaha dan bisnis.
Dalam kondisi yang tidak aman dan nyaman untuk investasi tentu saja investor tidak akan
datang. Hal ini sejalan dengan kondisi wisatawan manca negara. Keamanan suatu daerah atau
negara dana stabilnya kondisi politik akan mendukung kedatangan dan hadirnya wisatawan.
saat kepemimpinan orde baru dengan keadaan politik relatif stabil sampai dengan tahun 1998,
maka jumlah kunjungan wisatawan juga stabil tanpa ada penurunan. Akan tetapi pada saat
kondisi politik yang chaos pada masa terjadinya kerusuhan massal tahun 1998, banyak
wisatawan membatalkan kunjungannya ke Indonesia sehingga terjadi penurunan jumlah
wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia sehingga terjadi konstraksi pertumbuhan jumlah
wisatawan yang datang ke Indonesia.
Berdasarkan uraian pada pembahasan dapat disimpulkan betapa kondisi politik dalam negeri
yang baik disertai dengan tingkat keamanan yang memadahi maka akan mempengaruhi
perkembangan bisnis pariwisata dan bisnis turunannya seperti hotel, restoran dan jasa
transportasi.
SUMBER: Dari berbagai sumber paper, artikel, undang-undang, perda
Tugas Kelompok:
1. Jelaskan bagaimana hubungan antara budaya dan pariwisata?

2.
3.

Jelaskanlah hubungan ekonomi dengan industri pariwisata!


Jelaskan hubungan antara politik dengan pariwisata !

Jawaban:
1.

Hubungan budaya dengan pariwisata adalah:

Adanya Budaya di tempat pariwisata itu akan dapat memberikan nilai lebih bagi
wisatawan yang datang untuk berkunjung ke tempat tersebut.

Budaya mencerminkan keadaan sosial dan alam suatu wilayah yang akan menjadi
destinasi pariwisata.

http://www.sandywarman.com/2014/08/hubungan-ekonomi-kebudayaan-dan-politik.html
Dampak Pariwisata terhadap Perekonomi
Dampak Pariwisata Terhadap Perekonomian Industri pariwisata menghasilkan manfaat
ekonomi yang besar baik bagi Negara tuan rumah, maupun Negara asal para turis. Salah satu
motivasi utama sebuah Negara mempromosikan dirinya sebagai Negara dengan tujuan wisata
adalah timbul kemajuan dalam ekonomi, terutama bagi Negara-negara berkembang.
Bersamaan dengan dampak lainnya, peningkatan ekonomi yang begitu pesat juga terjadi
dengan berbagai keuntungan dan kerugian. Dapak besar pariwisata terlihat dari data World
Tourism Organization, pada tahun 2000, 698 juta orang melakukan perjalanan ke luar negeri
dan menghabiskan lebih dari 478 juta US dollar. Gabungan dari pendapatan pariwisata
internasioanl dengan pendapatan transportasi maka menghasilkan lebih dari 575 juta US
dollar, yang membuat pariwisata menjadi penghasil ekspor terbesar di dunia diikuti oleh
produk otomotif, bahan kimia, minyak bumi, dan makanan. Namun, banyak kerugian
tersembunyi dari pariwisata yaitu, adanya dampakdampak pada ekonomi yang tidak
diharapkan oleh penduduk setempat. Seringkali keuntungan pariwisata sebuah Negara maju
lebih tinggi dari Negara berkembang. Padahal Negara berkembang lebih membutuhkan
pendapatan tambahan, pekerjaan, dan peningkatan standar hidup lewat pariwisata.
Berdasarkan kenyataan tersebut, berbagai alasan muncul antara lain, karena adanya transfer
besar-besaran pendapatan pariwisata dari Negara tuan rumah, kemudian kurang
diperhatikannya bisnis dan produk dalam negeri.
Dampak Positifnya
1.
Membuka lapangan kerja bagi penduduk lokal di bidang pariwisata seperti : tour guide,
waiter, bell boy, dan lain-lain.
2.
Dibangunnya fasilitas dan infrastruktur yang lebih baik demi kenyamanan para
wisatawan yang juga secara langsung dan tidak langsung bisa dipergunakan oleh penduduk
lokal pula. Seperti : tempat rekreasi, mall, dan lain-lain.
3.
Mendapatkan devisa (national balance payment) melalui pertukaran mata uang asing
(foreign exchange).
4.
Mendorong seseorang untuk berwiraswasta / wirausaha, contoh : pedagang kerajinan,
penyewaan papan selancar, pemasok bahan makanan dan bunga ke hotel,dan lain-lain.
5.
Meningkatkan pendapatan masyarakat dan juga pendapatan pemerintah.
6.
Memberikan keuntungan ekonomi kepada hotel dan restaurant. Contohnya, wisatawan
yang pergi berwisata bersama keluarganya memerlukan kamar yang besar dan makanan yang
lebih banyak. Dampak ekonomi tidak langsung dapat dirasakan oleh pedagang-pedagang di
pasar karena permintaan terhadap barang/bahan makanan akan bertambah.

Dampak negatifnya
1.
Bahaya ketergantungan yang sangat mendalam terhadap pariwisata.
2.
Meningkatkan inflasi dan harga jual tanah menjadi mahal.
3.
Meningkatkan impor barang dari luar negri, terutama alat-alat teknologi modern yang
digunakan untuk memberikan pelayanan bermutu pada wisatawan dan juga biaya-biaya
pemeliharaan fasilitas-fasilitas yang ada.
4.
Produksi yang bersifat musiman menyebabkan rendahnya tingkat pengembalian modal
awal
5. Terjadi ketimpangan daerah dan memburuknya kesenjangan pendapatan antara
beberapa kelompok masyarakat.
6.
Hilangnya kontrol masyarakat lokal terhadap sumber daya ekonomi.
Naisbitt dalam Global Paradox menjelaskan bahwa pariwisata merupakan penyumbang
bagi ekonomi global yang tidak ada tandingannya di masa yang akan datang. Adapun
pertimbangannya adalah:
1.
Pariwisata memperkerjakan 204 juta orang diseluruh dunia atau satu dari setiap
Sembilan pekerja, yaitu 10,6 persen dari angkatan kerja.
2.
pariwisata adalah penyumbangan ekonomi terkemuka di dunia, yang menghasilkan 10,2
persen produk domestic bruto dunia .
3.
pariwisata adalah produsen terkemuka untuk mendapatkan pajak sebesar $ 55 miliar.
Global ekonomi dan perluasan pasar dunia merupakan dua fenomena yang keberadaannya
menyejarah. Pada saat ini globalisasi ekonomi dan perluasan pasar memiliki kekuatan,
cakupan dan kecepatan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Secara konkirt
globalisasi ekonomi ditandai dengan perubahan mode of production masyarakat, yaitu dari
subsistensi ke orientasi pasar-pasar regional, seperti APEC, NAFTA, AFTA dsb. Secara
kelembagaan menjelma dalam percepatan komersial. Dampak yang ditimbulkan adalah
terjadinya perubahan sosial, seperti merebaknya tindakan individu yang lebih didasarkan
pada rasionalitas ekonomi (Heru Nugroho, 1996).
Akibatnya terjadi akselerasi tindakan komersial di segala penjuru masyarakat capital dengan
leluasa dapat bergerak tanpa memiliki bendera: dan menembus setiap batas teritori Negara.
Investasi modal yang dilakukan oleh perusahaan trans-nasional tumbuh dan berkembang
melanda setiap penjuru dunia sehingga membentuk konfigurasi perekonomian global.
Didorong oleh motif mengejar keuntungan global. Didorong oleh motif mengejar keuntungan
global maka telah tumbuh tiga kawasan megamarket dunia (Heru Nugroho, 1996). Yaitu Uni
Eropa, Amerika utara dan Asia Timur dan Tenggara. Pertumbuhan ekonomi dunia
diperngaruhi life style terutama dalam memanfaatkan waktu luang sehingga wajar kalau
frekuensi mobilitas penduduk dunia tinggi.
Ada sebuah prediksi bahwa pada tahun 2005 mencapai 11.000.000 orang ke Indonesia.
Prediksi ini merupakan peluang sekaligus dunia yang semakin global tuntutan pelayanan
terhadap wisma berstandar international atau mengacu pada rumusan WTO (Word Trade
Organization).
Indonesia pada saat ini masih jauh tertinggal dalam menyerap arus wisatawan yang
berdatangan ke kawasan Asia Pasifik. Oleh karenanya belum banyak memperoleh devisa dari
sector pariwata guna pembangunan nasionalnya (JJ. Spillane, 1995).
Oleh karena itu pariwisata perlu mendapat perhatian yang serius dari pembuat kebijakan
dalam negeri dan perancang kesepakatan perdagangan internasional, mengingat pariwisata di
masa dating merupakan penyumbang besar kesejahteraan ekonomi dunia.
Pada visa pariwisata Indonesia tahun 2005, industry pariwisata nasional dicanangkan menjadi
penghasil devisa utama. Mengingat wisatawan itu membelanjakan uangnya yang diterima di
Negara yang dikunjungi (Indonesia), maka dengan sendirinya penerima dari wisatawan
manca Negara merupakan fakta penting agar neraca pembayaran menguntungkan. Pariwisata

merupakan bagian darinya yang dikaitkan tanpa dapat dilepas dengan sector ekonomi lain.
Pemasukan dari pariwisata itu tidak hany dari uang yang dibelanjakan oleh wisatawan,
melainkan dari pembangunan pariwisata yang menarik modal asing, seperti Hotel-hotel
bertaraf international dibangun, pembangunan sarana jalan, airport, pelabuhan, kawasan
wisata, telekomunikasi dan lain-lain. Akan tetapi penerimaan dari pariwisata menambah besar
volume uang di dalam masyarakat dan kondisi ini dapat menimbulakan inflansi. Apabila
produksi dalam negeri tidak bertambah. Hal inilah yang menyebabkan di kawasan pariwisata
harga-harga biasanya jauh lebih mahal dari pada kawasan lain terutama yang bukan kawasan
pariwasta.
Sarana pariwisata seperti hotel, restoran, perusahaan perjalanan adalah merupakan usahausaha yang dapat karya (labour intersive). Selain itu pariwisata juga menciptakan tidak
langsung berhubungan dengan pariwisata misalnya bidang konstruksi bangunan, jalan dan
lain-lain.
Disisi lain dengan pembangunan pariwisata meningkatkan usaha sector informal, juga
menimbulkan menjamurnya pedagang asongan. Khusus untuk pedangan asongan ini di
beberapa kelemahan antara lain:
Dilakukan oleh anak-anak dibawah umur, mereka cenderung mengutamakan uang dari
pada sekolah.
Maraknya pedagang asongan membuat kenyamanan wisatawan terganggu, karena ada
unsur pemaksaan dari mereka.
Beralihnya tenaga kerja sector produksi pertania ke perdagangan.
Salam dari mahasiswa pariwisata 2a MBP PNB
Dampak Pariwisata terhadap Llingkungan
Industri pariwisata memiliki hubungan erat dan kuat dengan lingkungan fisik. Lingkungan
alam merupakan aset pariwisata dan mendapatkan dampak karena sifat lingkungan fisik
tersebut yang rapuh (fragile), dan tak terpisahkan (Inseparability). Bersifat rapuh karena
lingkungan alam merupakan ciptaan Tuhan yang jika dirusak belum tentu akan tumbuh atau
kembali seperti sediakala. Bersifat tidak terpisahkan karena manusia harus mendatangi
lingkungan alam untuk dapat menikmatinya.
Lingkungan fisik adalah daya tarik utama kegiatan wisata. Lingkungan fisik meliputi
lingkungan alam (flora dan fauna, bentangan alam, dan gejala alam) dan lingkungan buatan
(situs kebudayaan, wilayah perkotaan, wilayah pedesaan, dan peninggalan sejarah).
Secara teori, hubungan lingkungan alam dengan pariwisata harus mutual dan bermanfaat.
Wisatawan menikmati keindahan alam dan pendapatan yang dibayarkan wisatawan
digunakan untuk melindungi dan memelihara alam guna keberlangsungan pariwisata.
Hubungan lingkungan dan pariwisata tidak selamanya simbiosa yang mendukung dan
menguntungkan sehingga upaya konservasi, apresiasi, dan pendidikan dilakukan agar
hubungan keduanya berkelanjutan, tetapi kenyataan yang ada hubungan keduanya justru
memunculkan konflik. Pariwisata lebih sering mengeksploitasi lingkungan alam.
Dampak pariwisata terhadap lingkungan fisik merupakan dampak yang mudah diidentifikasi
karena nyata. Pariwisata memberikan keuntungan dan kerugian, sebagai berikut :

1. Air
Air mendapatkan polusi dari pembuangan limbah cair (detergen pencucian linen hotel) dan
limbah padat(sisa makanan tamu). Limbah-limbah itu mencemari laut, danau dan sungai. Air
juga mendapatkan polusidari buangan bahan bakar minyak alat transportasi air seperti dari

kapal pesiar.Akibat dari pembuangan limbah, maka lingkungan terkontaminasi, kesehatan


masyarakat terganggu, perubahan dan kerusakan vegetasi air, nilai estetika perairan
berkurang (seperti warna laut berubah dari warnabiru menjadi warna hitam) dan badan air
beracun sehingga makanan laut (seafood) menjadi berbahaya.Wisatawan menjadi tidak dapat
mandi dan berenang karena air di laut, danau dan sungai tercemar.Masyarakat dan wisatawan
saling menjaga kebersihan perairan.Guna mengurangi polusi air, alat transportasi air yang
digunakan, yakni angkutan yang ramah lingkungan, seperti : perahu dayung, kayak, dan
kano.
2. Atmosfir
Perjalanan menggunakan alat transportasi udadra sangat nyaman dan cepat. Namun, angkutan
udara berpotensi merusak atmosfir bumi. Hasil buangan emisinya dilepas di udara yang
menyebabkan atmosfir tercemar dan gemuruh mesin pesawat menyebabkan polusi suara.
Selain itu, udara tercemar kibat emisi kendaraan darat (mobil, bus) dan bunyi deru mesin
kendaraan menyebabkan kebisingan. Akibat polusi udara dan polisi suara, maka nilai wisata
berkurang, pengalaman menjadi tidak menyenangkan dan memberikandampak negatif bagi
vegetasi dan hewan.Inovasi kendaraan ramah lingkungan dan angkutan udara berpenumpang
massal (seperti pesawat Airbus380 dengan kapasitas 500 penumpang) dilakukan guna
menekan polusi udara dan suara. Anjuran untukmengurangi kendaraan bermotor juga
dilakukan dan kampanye berwisata sepeda ditingkatkan.
3. Pantai dan pulau
Pantai dan pulau menjadi pilihan destinasi wisata bagi wisatawan. Namun, pantai dan pulau
sering menjaditempat yang mendapatkan dampak negatif dari pariwisata. Pembangunan
fasilitas wisata di pantai dan pulau, pendirian prasarana (jalan, listrik, air), pembangunan
infrastruktur (bandara, pelabuhan) mempengaruhi kapasitas pantai dan pulau.Lingkungan
tepian pantai rusak (contoh pembabatan hutan bakau untuk pendirian akomodasi tepi
pantai),kerusakan karang laut, hilangnya peruntukan lahan pantai tradisional dan erosi pantai
menjadi beberapaakibat pembangunan pariwisata.Preservasi dan konservasi pantai dan laut
menjadi pilihan untuk memperpanjang usia pantai dan laut. Pencanangan taman laut dan
kawasan konservasi menjadi pilihan. Wisatawan juga ditawarkan kegiatan ekowisata yang
bersifat ramah lingkungan. Beberapa pengelola pulau (contoh pengelola Taman
NasionalKepulauan Seribu) menawarkan paket perjalanan yang ramah lingkungan yang
menawarkan aktivitas menanam lamun dan menanam bakau di laut.
4. Pegunungan dan area liar
Wisatawan asal daerah bermusim panas memilih berwisata ke pegunungan untuk berganti
suasana. Aktivitas di pegunungan berpotensi merusak gunung dan area liarnya. Pembukaan
jalur pendakian, pendirian hotel di kaki bukit, pembangunan gondola (cable car), dan
pembangunan fasilitas lainnya merupakanbeberapa contoh pembangunan yang berpotensi
merusak gunung dan area liar. Akibatnya terjadi tanahlongsor, erosi tanah, menipisnya
vegetasi pegunungan (yang bisa menjadi paru-paru masyarakat) ,potensi polusi visual dan
banjir yang berlebihan karena gunung tidak mampu menyerap air hujan. Reboisasi
(penanaman kembali pepohonan di pegunungan) dan peremajaan pegunungan dilakukan
sebagai upaya pencegahan kerusakan pegunungan dan area liar.
5. Vegetasi
Pembalakan liar, pembabatan pepohonan, bahaya kebakaran hutan (akibat api unggun di
perkemahan),koleksi bunga, tumbuhan dan jamur untuk kebutuhan wisatawan merupakan

beberapa kegiatan yang merusak vegetasi. Akibatnya, terjadi degradasi hutan (berpotensi
erosi lahan), perubahan struktur tanaman(misalnya pohon yang seharusnya berbuah setiap
tiga bulan berubah menjadi setiap enam bulan, bahkanmenjadi tidak berbuah), hilangnya
spesies tanaman langka dan kerusakan habitat tumbuhan. Ekosistemvegetasi menjadi
terganggu dan tidak seimbang.
6. Kehidupan satwa liar
Kehidupan satwa liar menjadi daya tarik wisata yang luar biasa. Wisatawan terpesona dengan
pola hiduphewan. namun, kegiatan wisata mengganggu kehidupan satwa-satwa tersebut.
Komposisi fauna berubahakibat:pemburuan hewan sebagai cinderamata, pelecehan satwa liar
untuk fotografi, eksploitasi hewan untuk pertunjukan, gangguan reproduksi hewan
(berkembang biak), perubahan insting hewan (contohhewan komodo yang dahulunya hewan
ganas menjadi hewan jinak yang dilindungi), migrasi hewan (ketempat yang lebih baik).
Jumlah hewan liar berkurang, akibatnya ketika wisatawan mengunjungi daerah wisata, ia
tidak lagi mudah menemukan satwa-satwa tersebut
7. Situs sejarah, budaya, dan keagamaan
Penggunaan yang berlebihan untuk kunjungan wisata menyebabkan situs sejarah, budaya dan
keagamaanmudah rusak. Kepadatan di daerah wisata, alterasi fungsi awal situs,
komersialisasi daerah wisasta menjadi beberapa contoh dampak negatif kegiatan wisata
terhadap lingkungan fisik. Situs keagamaan didatangi oleh banyak wisatawan sehingga
mengganggu fungsi utama sebagai tempat ibadah yang suci. Situs budaya digunakan secara
komersial sehingga dieksploitasi secara berlebihan (contoh Candi menampung jumlah
wisatawan yang melebihi kapasitas). Kapasitas daya tampung situs sejarah, budaya dan
keagamaan dpat diperkirakan dan dikendalikan melalui manajemen pengunjung sebagai
upaya mengurangi kerusakan pada situs sejarah, budaya dan keagamaan. Upaya konservasi
dan preservasi serta renovasi dapat dilakukan untuk memperpanjang usia situs-situs tersebut.
8. Wilayah perkotaan dan pedesaan
Pendirian hotel, restoran, fasilitas wisata, toko cinderamata dan bangunan lain dibutuhkan di
daerah tujuanwisata. Seiring dengan pembangunan itu, jumlah kunjungan wisatawan, jumlah
kendaraan dan kepadatan lalu lintas jadi meningkat. Hal ini bukan hanya menyebabkan
tekanan terhadap lahan, melainkan juga perubahan fungsi lahan tempat tinggal menjadi lahan
komersil, kemacetan lalu lintas, polusi udara dan polusi estetika (terutama ketika bangunan
didirikan tanpa aturan penataan yang benar). Dampak buruk itu dapatdiatasi dengan
melakukan manajemen pengunjung dan penataan wilayah kota atau desa serta
membedayakan masyarakat untuk mengambil andil yang besar dalam pembangunan.

Kesimpulan
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekagaraman hayati yang sangat
tinggi yang berupa sumber daya alam yang berlimpah, baik di daratan, udara maupun di
perairan. Semua potensi tersebut mempunyai peranan yang sangat penting bagi
pengembangan kepariwisataan, khususnya wisata alam.
Sasaran tersebut di atas dapat tercapai melalui pengelolaan dan pengusahaan yang benar dan
terkoordinasi, baik lintas sektoral maupun swasta yang berkaitan dengan pengembangan

kegiatan pariwisata berkelanjutan, misalnya kepariwisataan, pemerintah daerah, lingkungan


hidup, dan lembaga swadaya masyarakat. Dalam pengembangan kegiatan pariwisata
berkelanjutan terdapat dampak positif dan dampak negatif, baik dalam masalah ekonomi,
sosial, dan lingkungan alami.
Oleh karena itu dalam pembangunan sektor kepariwisataan harus memperhatian kaidahkaidah pengelolaan lingkungan hidup mengingat salah satu unsur wisata adalah sumber daya
alam yang merupakan bagian dari lingkungan hidup. Pengembangan sektor pariwisata yang
tidak memperhatikan aspek lingkungan hidup dapat berdampak negatif pada perkembangan
pariwisata itu sendiri pada masa yang akan datang.
Salam dari mahasiswa jurusan pariwisata MBP 2a PNB
Dampak Pariwisata terhadap Kebudayaan
Dampak yang ditimbulkan oleh pariwisata terhadap kebudayaan tidak terlepas dari pola
interaksi di antaranya yang cenderung bersifat dinamika dan positif. Dinamika tersebut
berkembang, karena kebudayaan memegang peranan yang penting bagi pembangunan
berkelanjutan pariwisata dan sebaliknya pariwisata memberikan peranan dalam merevitalisasi
kebudayaan. Ciri positif dinamika tersebut diperlihatkan dengan pola kebudayaan mampu
meningkatkan pariwisata dan pariwisata juga mampu memajukan kebudayaan. (Geriya, 1996:
49).
Paparan di atas menandakan perkembangan pariwisata dapat memberikan dampak yang
positif terhadap kebudayaan. Di sini akan terjadi akulturasi kebudayaan, karena adanya
interaksi masyarakat lokal dengan wisatawan. Di samping itu, kebudayaan-kebudayaan
daerah yang merupakan bagian dari kebudayaan nasional Indonesia akan terus berkembang.
Ini disebabkan oleh adanya wisatawan (orang asing) yang datang berkunjung untuk melihat
dan mengenal lebih dekat kebudayaan asli tersebut. Hal ini tentunya juga menyebabkan
terjadinya penggalian nilai-nilai budaya asli untuk dikembangkan dan dilestarikan. Dengan
demikian pola kebudayaan tradisional seperti tempat-tempat bersejarah, monumen-monumen,
kesenian, dan adat istiadat akan tetap terpelihara dan lestari (sustainable).
Dampak positif pariwisata terhadap kebudayaan seperti disebutkan di atas sejalan dengan
pemikiran Sihite (2000: 76) yang menyebutkan secara garis besar dampak positif pariwisata
terhadap kebudayaan dapat dilihat pada hal-hal berikut:
a. Merupakan perangsang dalam usaha pemeliharaan monumen-monumen budaya yang dapat
dinikmati oleh penduduk setempat dan wisatawan.
b. Merupakan dorongan dalam usaha melestarikan dan menghidupkan kembali beberapa pola
budaya tradisional seperti kesenian, kerajinan tangan, tarian, musik, upacara-upacara adat,
dan pakaian.
c. Memberikan dorongan untuk memperbaiki lingkungan hidup yang bersih dan menarik.
d. Terjadinya tukar-menukar kebudayaan antara wisatawan dan masyarakat lokal. Misalnya,
wisatawan dapat lebih banyak mengenal kebudayaan serta lingkungan yang lain dan
penduduk lokal juga mengetahui tempat-tempat lain dari cerita wisatawan.
e. Mendorong pendidikan di bidang kepariwisataan untuk menghasilkan Sumber Daya
Manusia di bidang kepariwisataan yang handal
.
Perkembangan pariwisata yang sangat pesat dan terkosentrasi dapat menimbulkan berbagai
dampak.
Secara umum dampak yang ditimbulkan adalah dampak positif dan dampak negatif. Dampak
positif dari pengembangan pariwisata meliputi;
(1) memperluas lapangan kerja
(2) bertambahnya kesempatan berusaha
(3) meningkatkan pendapatan

(4) terpeliharanya kebudayaan setempat


(5) dikenalnya kebudayaan setempat oleh wisatawan.
Sedangkan dampak negatifnya dari pariwisata tersebut akan menyebabkan;
(1) terjadinya tekanan tambahan penduduk akibat pendatang baru dari luar daerah
(2) timbulnya komersialisasi
(3) berkembangnya pola hidup konsumtif
(4) terganggunya lingkungan
(5) semakin terbatasnya lahan pertanian
(6) pencernaan budaya
(7) terdesaknya masyarakat setempat
Dampak positif dari kegiatan pariwisata terhadap budaya masyarakat lokal antara lain;
munculnya kreativitas dan inovasi budaya, akulturasi budaya, dan revitalisasi budaya.
Sedangkan dampak negatif yang sering dikawatirkan terdapat budaya masyarakat lokal antara
lain; proses komodifikasi, peniruan, dan profanisasi. Lebih lanjut dijelaskan bahwa dampak
pariwisata terhadap budaya masyarakat lokal sebagaimana tersebut di atas disebabkan oleh
tiga hal yakni: (1) masyarakat lokal ingin memberikan hasil karya seni atau kerajinan yang
bermutu tinggi kepada pembeli (wisatawan); (2) untuk menjaga citra dan menunjukkan
identitas budaya masyarakat lokal kepada dunia luar; (3) masyarakat ingin memperoleh uang
akibat meningkatnya komersialisasi .
Subadra (2006) memberikan batasan yang lebih jelas mengenai dampak sosial-budaya
pariwisata. Dampak positif sosial budaya pengembangan pariwisata dapat dilihat dari adanya
pelestarian budaya-budaya masyarakat lokal seperti kegiatan keagamaan, adat istiadat, dan
tradisi, dan diterimanya pengembangan objek wisata dan kedatangan wisatawan oleh
masyarakat lokal. Sedangkan dampak negatif sosial budaya pengembangan pariwisata dilihat
dari respon masyarakat lokal terhadap keberadaan pariwisata seperti adanya perselisihan atau
konflik kepentingan di antara para stakeholders, kebencian dan penolakan terhadap
pengembangan pariwisata, dan munculnya masalah-masalah sosial seperti praktek perjudian,
prostitusi dan penyalahgunaan seks (sexual abuse).
Bali sebagai salah satu objek wisata utama di Indonesia merupakan barometer perkembangan
pariwisata nasional. Oleh karena itu, Bali memegang peranan yang penting dalam
perkembangan pariwisata di Indonesia.
Sebagai daerah tujuan utama bagi wisatawan, tentu Bali tidak terlepas dari dampak
pengembangan pariwisata dari segala aspek kehidupan termasuk kebudayaan. Pengembangan
pariwisata di Bali yang bertumpu pada kebudayaan Bali yang pada dasarnya bersumber pada
agama Hindu, menimbulkan adanya kegairahan penggalian, pemeliharaan, dan
pengembangan aspek-aspek kebudayaan terutama kesenian, monumen-monumen
peninggalan sejarah, dan adat istiadat. Tentu saja hal ini memberikan efek ganda yaitu
bertambahnya pendapatan masyarakat lokal dari kegiatan ini sebagai konsumsi bagi
wisatawan dan dapat menjaga kelestarian aspek-aspek kebudayaan itu sendiri. Misalnya,
pertunjukan berbagai kesenian untuk wisatawan, adanya museum untuk menyimpan bendabenda bersejarah yang juga sebagai daya tarik wisatawan, dan berbagai kegiatan adat istiadat
yang bersifat unik.
Adanya dampak positif pariwisata terhadap kebudayaan menunjukkan adanya keselarasan
ungkapan yang mengatakan Pariwisata untuk Kebudayaan. Artinya, pengembangan
pariwisata benar-benar memberikan dampak yang positif terhadap perkembangan
kebudayaan dalam arti yang luas. Ini artinya, perkembangan pariwisata secara positif dapat
memperkokoh kebudayaan Indonesia.

Di samping memberikan dampak yang positif, pengembangan pariwisata juga dapat


menimbulkan masalah. Di samping pariwisata dapat mengembangkan dan melestarikan
kebudayaan, sering juga terjadi sebaliknya yaitu tereksploitasinya kebudayaan secara
berlebihan demi kepentingan pariwisata. Tentu hal ini akan berdampak negatif terhadap
perkembangan kebudayaan. Ini sering terjadi akibat adanya komersialisasi kebudayaan dalam
pariwisata. Artinya, memfungsikan pola-pola kebudayaan seperti kesenian, tempat-tempat
sejarah, adat istiadat, dan monumen-monumen di luar fungsi utamanya demi kepentingan
pariwisata. Inilah suatu masalah yang dihadapi sekaligus tantangan dalam pengembangan
pariwisata budaya. Hal ini juga dialami oleh Bali sebagai daerah tujuan wisata di Indonesia.
Perkembangan pariwisata memang dapat menumbuhkembangkan aspek-aspek kebudayaan
seperti kesenian dan adat istiadat di Bali. Akan tetapi, di balik itu ternyata juga muncul
permasalahan akibat terlalu tereksploitasinya aspek-aspek tadi. Misalnya, munculnya
berbagai kesenian yang awalnya hanya dipentaskan untuk kepentingan upacara agama,
kemudian dipertunjukkan untuk kepentingan wisatawan. Demikian juga dijadikannya tempat
suci sebagai objek wisata. Ini merupakan fakta terjadinya komersialisasi budaya dalam
pariwisata, karena berubahnya atau bertambahnya fungsi di samping fungsi utamanya.
Di samping terjadinya komersialisasi, tampaknya yang perlu juga menjadi pemikiran kita
bersama, yaitu pola pembinaan kebudayaan dalam arti luas sebagai pendukung
kepariwisataan. Sudah menjadi kenyataan devisa yang dihasilkan dari pengembangan
pariwisata, digunakan oleh negara untuk melaksanakan pembangunan di segala bidang.
Devisa itu dibagi-bagi ke semua aspek pembangunan, sehingga dirasakan sangat kecil
kembali pada bidang kebudayaan. Padahal secara nyata kebudayaan itulah sebagai penopang
paling besar dalam pariwisata untuk mendatangkan devisa. Oleh karena itu, ada kesan
budaya untuk pariwisata. Dengan demikian, kebudayaan di sini tereksploitasi secara besarbesaran dan hanya digunakan sebagai bahan promosi tanpa adanya usaha untuk menjaga dan
melestarikannya. Kini banyak objek wisata yang tidak tertata akibat dana pemeliharaan yang
terbatas. Salah satu contoh konkret adalah Museum Subak yang ada di Kabupaten Tabanan,
Bali. Museum ini meruapakan aset budaya Bali yang tak ternilai harganya. Sayang, kini
museum itu sepertinya hanya tinggal kenangan.
*Komersialisai : menjadikan suatu barang sebagai barang dagangan untuk mendapatkan
keuntungan.
Salam dari mahasiswa PNB jurusan pariwisata 2a MBP PNB
Dampak Pariwisata dari Aspek Sosial
Pada sejumlah Negara yang sedang membangunan, pengenalan yang terlalu dini pada
pemikiran dan teknologi Barat dapat menciptakan beragam masalah sosial. Pengenalan di
sector pariwisata misalnya, bagi sebuah kawan baru pada akhirnya mengubah gaya hidup
sehari-hari penduduknya. Perkembangan pariwisata yang terlalu cepat dapat meningkatakan
angka kejahatan dan sekaligus memperkanalkan perjudian, materialism, serta keserakahan
(Denis L. Foster, 2000). Lebih lanjut dikatakan bahwa pemerintah Negara yang sedang
berkembang seringkali mengkhawatirkan akibat pariwisata pada karakter bangsa. Dengan
secara menyolok menempatkan wisatawan yang makmur di tengan-tengan penduduk local
yang miskin, pariwisata seringkali menimbulkan kegelisahan.
Kegiatan pariwisata cenderung mengarah kepada kegiatan dari aksi sosial, dalam artian
bahwa kegiatan pariwisata erat kaitannya dengan tingkah laku tiap individu, kelompok dalam
melakukan perjalanan wisata serta pengaruh kegiatan pariwisata dalam masyarakat. Dengan
berkembangnya pariwisata orang-orang bebas bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dari
lingkungan yang satu ke lingkungan lain yang sama sekali berbeda bangsa dan agama.

Orang-orang yang sedang melakukan perjalanan wisata tersebut akan saling berhubungan
langsung dengan orang-orang yang berkebangsaan dan lingkungan lain ditempat tujuannya,
dan memperkenalkan adat kebiasaan, tingkah laku dan keinginan yang kebiasaan, tingkah
laku dan keinginan yang berbeda-beda bahkan bertolak belakang dengan tata cara hidup (the
way of life) masyarakat yang dikunjungi. Gejala ini dapat membuat sector pariwisata menjadi
suatu yang dianggap peka yang dapat mempengaruhi hubungan antar bangsa.
Oleh sebab itu pariwisata menciptakan kontak sosial antar sesama. Kontak sosial ini
mengandung makna :
Memberikan kesempatan kepada kedua belah pihak untuk saling mengenal kebudayaan
masing-masing dalam batas-batas tertentu.
Memberikan kesempatan kepada kedua belah pihak untuk mengenal sikap dasar yang
dimiliki dalam pergaulan.
Kenyataan bahwa pariwisata meliputi kegiatan perpindahan tempat sejumlah orang yang
sedang melakukan perjalan secara sendiri-sendiri atau berkelompok. Pariwisata menjadi suatu
manifestasi lintas budaya yang penting, karena kegiatan ini menjadi kancah pertemuan warga
dari berbagai bangsa dengan latar belakang yang berlainan, lingkungan sosial beragam.
Dalam bentuk interaksi antara wisatawan dengan masyaraka setempat wisatawan
menghabisakan waktunya di tempat-tempat yang exlusive, mewah, bersenang-senang
menurut caranya masing-masing. Mereka bermalas-malas dipantai, menyantap makanan yang
mewah dan berlimpah. Sementara penduduk setempat yang melayani sebagai pelayan
restoran, tukang cuci piring, bagian keamanan dan lain-lain. (Yohanes Sulistyadi. 1999)
Selain itu terjadi pula adanya golongan yang mampu meniru tingkah laku wisatawan yang
sebenarnya tidak cocok dengan kebudayaan setempat. Golongan ini menjadi kelompolk elit
dalam masyarakat dan menambah kesenjangan antar golongan. Dampak yang dimiliki juga
terjadi apabila wisatawan berbaur dengan masyarakat setempat, masyarakat meniru perilaku
wisatawan. Penduduk setempat tertular oleh kecanduan alkohol, narkotik, sabu-sabu bahkan
pelecehan terhadap moral seksual.
Hal ini dikatakan lebih tegas oleh Spillane (1995) bahwa dampak sosiologi pariwisata bagi
penerima wisatawan (masyarkat) adalah timbulnya hasrat untuk meniru. Komersialisasi
adat/budaya. Perubahan terhadap dari segi sosiologis ini bukan saja menyebabkan keretakan
hubungan manusiawi antara penerima serta menciptakan suatu kesenjangan saling pengertian,
akan tetapi juga akan timbul kegoncangan ekonomi.
Menurut World Tourism Organization yang di sitih oleh Oka A Yoeti mengatakan pengaruh
pariwisata terhadap kehidupan sosial masyarakat dapat disebabkan oleh 3 hal, yaitu :
Polarization of the population
Penduduk setempat sudah terpolarisasi, perolehan pendapatan masyarakat tidak proporsional,
kebanyak penduduk ingin menjadi kaya secara mendadak dan berusaha memburu dolar
dengan jalan pintas.
Breakdown of The family
Dengan masuknya wisatawan asing yang silih berganti dan terjadinya intesitas pergaulan
antara yang melayani dan yang memberikan pelayanan, timbul ekses negative demi
memenuhi kebutuhan biologis masing-masing.
Development of the attitudes of a Consumption-Oriented Society; Incident of Phenomena of
Social Pathalogy
Sebagai akibat berkembangnya tingkah laku masyarakat yang berorientasi pada konsumsi
semata dan pengaruh penyakit masyarakat itu, maka munculah; pelacuran, kecanduan obat,
perdagangan obat bius. Mabuk-mabukan dan ketidakpatuhan terhadap undang-undang yang
berlaku.
Namun demikian segi positip dari kepariwisataan cukup banyak. Hal itu dapat dilihat di
lapangan seperti hal-hal berikut:

1.
Struktur sosial
Sebagai akibat pengembangan pariwisata, terjadi:
o Transaksi kesempatan kerja dari sector pertanian ke sector pelayanan.
o Modernisasi dalam cara-cara pertanian dan penjualan hasil panen.
o Pemerataan pendapatan masyarakat di DTW yang dikunjungi wisatawan.
o Berkurangnya perbedaan dalam pendidikan dan kesempatan berusaha atau pekerjaan.
2.
Modernisasi keluarga
Kaum wanita memperoleh status baru dari petani tradisionil berubah menjadi pedagang
acungan, pemilik took cendera mata, restoran atau bekerja pada kerajinan tangan dan
karyawan hotel.
Terjadi kelonggaran perlakuan orang tua terhadap anak-anak dari disiplin ketat menjadi anak
yang bebas memilih sesuai dengan yang dicita-citakannya
Peningkatan dalma wawasan masyarakat
Terjadinya perubahan tingkah laku kearah yang positif, terutama dalam etiket dan cara
komunikiasi antar sesama.
Dapat menghilangkan prasangka-prasangka negative terhadap etnis lain
Dan terdapat juga Dampak Periwisata terhadap Sosial Budaya.
Dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan Pariwisata disuatu daerah terhadap Sosial Budaya
sangat terasa apalagi daerah tersebut menerima pengaruh dengan cepat tanpa ada penyaringan
yang ketat terhadap kedatangan wisatawan.. Salah satu hal adalah dimana daerah yang dituju
merupakan daerah yang lemah dalam bidang ekonomi, dengan sendirinya akan mengikuti
Perkembangan dan merubah tatanan perekonomian sendiri salah satu contoh mengubah mata
pencaharian semula yang mereka lakukan secara tradisional menjadi lebih modern.
Masalah tentang dampak Pariwisata terhadap sosial budaya selama ini lebih cenderung
mengasumsikan bahwa akan terjadi perubahan sosial-budaya akibat kedatangan wisatawan,
dengan tiga asumsi yang umum, yaitu: (Martin, 1998:171):
a. perubahan dibawa sebagai akibat adanya intrusi dari luar, umumnya dari sistem sosialbudaya yang superordinat terhadap budaya penerima yang lebih lemah;
b. perubahan tersebut umumnya destruktif bagi budaya indigenous;
c. perubahan tersebut akan membawa pada homogenisasi budaya, dimana identitas etnik
lokal akan tenggelam dalam bayangan sistem industri dengan teknologi barat, birokrasi
nasional dan multinasional, a consumer-oriented economy, dan jet-age lifestyles.
Menurut pendapat diatas menyiratkan bahwa di dalam melihat dampak pariwisata terhadap
sosial-budaya masyarakat setempat, pariwisata semata-mata dipandang sebagai faktor luar
yang akan merubah secara pasti terhadap social budaya pada masyarakat local.
Pariwisata adalah suatu kegiatan yang secara langsung menyentuh dan melibatkan
masyarakat yang dituju, sehingga membawa berbagai dampak terhadap masyarakat setempat.
Oleh karena pariwisata banyak dikatakan sebagai perubah yang laur biasa, mampu membuat
masyarakat setempat mengalami perubahan dalam berbagai aspek.
Dalam perubahan yang diakibatkan oleh Pariwisata Secara teoritis, Cohen (1984)
mengelompokkan dampak Pariwisata terhadap sosial budaya ke dalam sepuluh kelompok
besar, yaitu:
a. dampak terhadap keterkaitan dan keterlibatan antara masyarakat setempat dengan
masyarakat yang lebih luas, termasuk tingkat otonomi atau ketergantungannya;
b. dampak terhadap hubungan interpersonal antara anggota masyarakat;
c. dampak terhadap dasar-dasar organisasi/kelembagaan sosial;
d. dampak terhadap migrasi dari dan ke daerah pariwisata;
e. dampak terhadap ritme kehidupan sosial masyarakat;
f. dampak terhadap pola pembagian kerja;
g. dampak terhadap stratifikasi dan mobilitas sosial;

h. dampak terhadap distribusi pengaruh dan kekuasaan;


i. dampak terhadap meningkatnya penyimpangan-penyimpangan sosial; dan
j. dampak terhadap bidang kesenian dan adat istiadat.
Dari pendapat Cohen tersebut diatas mengenai dampak pariwisata dapat disimpulan, bahwa
daerah tujuan wisata akan merasakan pengaruh yang luar biasa dari wisatawan yang datang
yaitu dari mengenai unsur kebudayaan universal di daerah. Sebagai mana yang di kemukan
oleh C.Kluckhohn dalam Koentjaraningrat merumuskan 7 unsur Kebudayaan .
a. Sistem Bahasa
Bahasa yang digunakan pada daerah ini adalah Sunda dengan dialek yang sama dengan sunda
lainnya,
Bahasa yang dibunakan oleh masyarakat setempat baik berupa lisan maupun tulisan atau
berbentuk symbol simbol
b. Sistem mata Pencaharian
Untuk menunjang hidup sehari hari, setiap masyarakat pasti memiliki mata pencaharian
utama yang berbeda ditiap daerah, sehingga terdapat suku bangsa memiliki mata pencaharian
yang khas dibandingkan dengan dengan suku bangsa lain.
c. Sistem Teknologi
Teknologi atau peralatan hidup lain yang dimiliki oleh setiap masyarakat mungkin berbeda
beda tergantung dimana masyarakat itu berada.
d. Sistem Organisasi Sosial
Suku bangsa yang merupakan kelompok mayarakat besar akan memiliki system
kemasyarakatannya yang mungkin berbeda dengan suku bangsa lain: misalnya suku bangsa
sunda dan jawa.
e. Sistem Pengetahuan
Masyarakat memilki pengetahuan yang digunakan dalam kehidupan sehari hari baik dalam
bidang agriris maupun dalam bidang pengobatan.
f. Sistem Kesenian
Masyarakat atau suku bangsa memiliki persaan yang dituangkan kedalam bentuk benci,
sedih, gembira, jengkel, bahagia dan sebagainya.perasaan timul dari setiap individu atau
masyarakat dalat dilakukan de dalam bentuk seni atau perasaan dapat muncul karena seni.
g. Sistem Religi
Kepercayaan ditiap daerah itu berbeda merupakan warisan masa lampau dari perjalanan
hidup masyarakat bersangkutan sebagai warisan budayanya. Keyakinan setempat yang
diyakini masyarakatnya wajib dihormati oleh masyarakat lain, begitu pula dalam upacara
ritual yang berhubungan dengan keyakinan.
Salam dari mahasiswa jurusan pariwisata 2a MBP PNB
Dampak pariwisata dalam bidang politik
Untuk lebih memahami dampak dari pariwisata di bidang politik , kita perlu
mengetahui definisi dari politik . politik berasal dari bahasa yunani (politikos) yang berarti
kota wilayah, atau yang berkaitan dengan warga Negara politik merupakanproses
pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang berupa proses pembuatan
keputusan , khususnya dalam Negara. Definisi ini adalah gabungan dari berbagai definisi
yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik. Politik juga
merupakan suatu seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan konstitusional maupun
nonkonstitusional.
berikut beberapa definisi dari politik :

Politik adalah usaha yang ditempuh warga Negara untuk mewujudkan kebaikan
bersama(aristoteles)


Politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelengaraan pemerintahan dan Negara.

Politik merupakan kegiatan yang diarah kan untuk mendapatkan dan mempertahankan
kekuasaan dimasyarakat.

Politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan
publik.
Politik memiliki definisi yang luas , kegiatan politik tidak hanya sekedar mencakup
mempertahankan dan mendapatkan kekuasaan saja , tetapi politik juga mencakup pengaruh
ideologi dan peranan suatu negara dalam bidang ekonomi, sosial budaya .
sehingga munculah istilah HI atau hubungan internasional . HI merupakan salah satu cabang
ilmu dari ilmu politik yang memuat hubungan antar Negara baik secara birateral, dan
multilateral. Dalam berbagai aspek seperti ekonomi , politik , psriwisata, budaya ,
pendidikan ,dan lain lain.
Kejasama antar Negara sering dilakukan karena untuk memenuhi kebutuhan di negaranya,
kesamaan nasib , kesamaan geografis, ketergantungan Negara lain ,dan untuk menunjukan
keunggulan Negara. Secara tidak langsung Negara Negara tersebut sudah melakkan kegiatan
politik . dengan kemajuan teknologi dan globalisasi dunia hubungan kerjasama antar Negara
sangat sering dilakukan dan membentuk organisasi organisasi multinasional seperti APEC,
ASEAN , UNI EUROPA dan lian-lain . organisasi organisasi ini sering melakukan konfrensi
di suatu Negara , sehingga dapat meningkatkan pamor dari Negara itu sendiri . sehingga
memajukan perkembangan industri, terutama industri pariwisata Negara tersebut.
Dampak pariwisata dari aspek politik
Dalam industry pariwisata keamanan adalah hal yang sangat penting dimana
para wisatawan datang berlibur dan berkunjung untuk menikmati destinasi yang mereka
kunjungi . sehingga jika daerah wiasta aman maka para wisatawan akan tenang menikmati
daerah tujuan wisatanya dan ini tentu mengangkat pamor dari daerah wisata itu sendiri .
banyak kegiatan multinasional dilakukan di daerah tujuan wisata seperti BALI. Karena bali
dianggap aman , dengaan keramah tamahan penduduknya . sehingga mengangkat pamor bali
dimata dunia. Dan dari pariwisata akan dapat meningkatkan devisa Negara sehingga baik
untuk perekonomian .
Dampak positif pariwisata dalam bidang politik

Terjalinnya hubungan baik dengan negara-negara lain.

Saling berkunjung dan saling mengenal antar penduduk sehingga dapat memper erat
kesatuan dan persatuan

Lebih banyak mengenal keindaha dan kekayaan tanah air , melalui kunjungan wisata
sehingga memunculkan keinginan untuk memelihara, menjaga dan rasa cinta terhadap tanah
air

Terjaganya hubungan baik internasional dalam hal pengembangan pariwisata


mancanegara, sehingga terjadi saling kunjung antar bangsa sebagai wisatawan . sebagaimana
halnya dalam pariwisata pada poin pertama

Terjadi kontak kontak langsung yang akan menumbuhkan rasa saling pengertian
terhadap perbedaan

Akan menimbulkan inspirasi untuk selalu mengadakan pendekatan dan rasa saling
menghormati.

Pemerintah mendapat defisa tambahan non migas

Adanya pemberlakuan kebijakanbebas visa terhadap Negara tertentu, untuk menarik


wisatawan untuk berkunjung
Dampak negatif pariwisata dalam bidang politik

Kebijakan dari pemerintah sangat mempengaruhi kondisi pariwisata , seperti kenaikan


bbm, kenaikan pajak usaha pariwisata . dan lain lain


Banyak terjadi kasus kkn pada pemerintahan di tempat daerah wisata itu .

Adanya ketimpangan pembangunan fasilitas umum antara desa dan kota(daerah


wisata)

Adanya perebutan kekuasaan


Contoh: bali merupakan destinasi yang aman dan terkenal di dunia , karena budaya , alam
,dan keramah tamahan penduduknya sehingga bali sering menjadi tuan rumah dari kegiatan
politik nasional dan internasional seperti: konfrensi apec , ktt asean, munas partai golkar dan
lain-lain .
http://mahasiswapariwisatambp2adyangga.blogspot.co.id/2015/05/dampak-pariwisataterhadap-perekonomian.html
https://tourismbali.wordpress.com/2011/04/10/dimensi-ekonomi-pariwisata-kajian-terhadapdampak-ekonomi-dan-refleksi-dampak-pariwisata-terhadap-pembangunan-ekonomi-provinsibali/
http://asyharnotes.blogspot.co.id/2014/11/pengaruh-sektor-pariwisata-terhadap.html
http://ejournal.gunadarma.ac.id/index.php/ekbis/article/view/16
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71685
http://bali.bisnis.com/read/20160318/2/58212/pertumbuhan-bali-pelambatan-ekonomidipengaruhi-kinerja-pariwisata
http://www.antarabali.com/berita/39218/65-persen-ekonomi-bali-dipengaruhi-pariwisata

Anda mungkin juga menyukai