Anda di halaman 1dari 8

I.

PENDAHULUAN
A. Judul
PVA (Population Viability Analysis) Penguin Galapagos (Spheniscus
mendiculus)
B. Latar Belakang
Penguin Galapagos (Spheniscus mendiculus) merupakan penguin yang
hidup pada lokasi yang memiliki sumber daya makanan yang banyak, akan
tetapi hewan ini rentan terhadap kelangkaan makanan secara berkala. Hal
tersebut dikarenakan adanya fenomena alam yang disebut El Nino.
Sebenarnya, perairan Galapagos dalam kondisi normal memiliki arus yang
dingin dan kaya akan sumber makanan bagi penguin berupa ikan. Namun,
ketika El Nino yang terjadi setiap 5 7 tahun sekali masuk ke lingkungan
hidupnya menyebabkan air hangat masuk ke perairan tersebut dan
menyebabkan populasi ikan menuru, sehingga penguin menderita kelaparan.
Selain itu, hujan lebat juga dapat menyebabkan kerusakan saran penguin.
Adanya El Nino dan perubahan populasi yang disebabkannya
memperkuatn adanya hubungan antara perubahan populasi tahunan dan
perubahan suhu air laut Galapagos. Hal tersebut nampak setelah kejadian El
Nino populasi penguin menurun sampai 77%. Adapun pada tahun-tahun
normal populasi penguin tumbuh dengan rerata sebesar 18.8% (faktor =1.188).
Namun, selama tahun dimana El Nino terjadi pertumbuhan penguin menurun
secara signifikan dengan rerata sebesar 69% (faktor = 0.310). Untuk itu, perlu
adanya penelitian mengenai dampak yang ditimbulkan El Nino bagi populasi
penguin Galapagos.
C. Tujuan
1. Mengetahui jumlah iterasi yang berakhir dengan kepunahan pada populasi
awal penguin Galapagos sebesar 500 dengan frekuensi El Nino sebesar 7, 6,
dan 5, 100 dengan frekuensi El Nino sebesar 7, dan 50 dengan frekuensi El
Nino sebesar 7.

2. Mengetahui hubungan antara ukuran populasi awal dan jumlah kepunahan


yang terjadi pada populasi penguin Galapagos.
3. Mengetahui hubungan antara frekuensi El Nino dan jumlah kepunahan yang
terjadi pada populasi penguin Galapagos.
4.

II. METODE
A. Pengetikan Data dan Pembuatan Urutan Tahun
Simulasi ini menggunakan program spreadsheet yang sudah banyak
dipakai yaitu Microsoft Excel yang dikembangkan oleh Gibss dkk. (2008).
Program Microsoft Excel dibuka terlebih dahulu, lalu pada sel A1 ketikkan
angka 7, pada sel B1 ketikkan El Nino frequency (years), pada sel A2
ketikkan angka 10, pada sel B2 ketikkan Quasi-extinction threshold, pada
sel A4 ketikkan Year, pada sel B4 ketikkan Factor, pada sel C4 ketikkan
Size, dan pada sel D4 ketikkan Status. Setelah itu, pada sel A5 di bawah
kata Year ketik 0 untuk tahun ke-0, lalu pada sel A6 ketikkan rumus =A5+1,
sehingga hasil pengetikannya memberi nilai 1. Isi sel A6 disalin dan dipaste
pada sel A6 sampai A104, maka diperoleh urutan tahun yang utuh dari 0
sampai 99.
B. Penentuan Faktor Pertumbuhan Populasi
Rumus =IF (RAND90<1/$A$1,0.31,1.188) diketikkan pada sel B5
tepat di bawah kata Factor. Rumus tersebut disalin dari sel B5 ke sel B6
sampai sel B104. Hasilnya akan diperoleh urutan panjang laju pertumbuhan
populasi untuk tahun El Nino atau tahun normal. Hal ini tergantung dari angka
random yang diperoleh untuk tahun tertentu.
C. Proyeksi Populasi Selama 100 Tahun
Nilai 500 diketik pada sel C5 di bawah kata Size sebagai populasi
awal, lalu Rumus =IF(C5*B5>2000,2000,IF(C5*B5>$A$2,C5*B5,0)) diketik
pada sel C6. Sel C6 disalin ke sel C7 sampai C104. Hasilnya akan diperoleh
urutan panjang populasi selama 100 tahun yang berkaitan dengan tahun El
Nino atau tahun normal. Hal ini tergantung dari angka random yang diperoleh
untuk tahun tertentu.
D. Penentuan Proyeksi Populasi Jatuh atau Tidak di bawah Quasi-Extinction
Level
Rumus =IF(MIN(C5:C104)=0,Extinc,Extant) diketikkan pada sel
D5 tepat di bawah kata Status. Level quasi-extinction yang digunakan pada

simulasi ini adalah 10. Hal ini dikarenakan jika populasi di bawah 10 dapat
menimbulkan banyak masalah, khususnya yang terkait inbreeding. Adapun
angka 10 ini merupakan angka konservatif dan lebi tepat daripada 0.
E. Pembuatan Grafik
Sel 0 sampai 99 diblok, lalu tombol Insert. Setelah itu, tekan tombol
Chart dan pilih XY (scater). Scatter points connected by lines dipilih dan
tombol Finish diklik. Gambar grafik ukuran populasi dari waktu ke waktu akan
muncul. Grafik diatur sedemikian rupa agar memudahkan pengerjaan.
F. Iterasi Model
Tombol F9 pada keyboard ditekan, maka akan muncul seperangkat
angka random. Hal tersebut menyebabkan berbagai rumus yang menggunakan
IF akan berkerja ulan seperti sebelumnya. Adapun PVA untuk penguin
dilakukan dengan cara tombol F9 pada keyboard ditekan sebanyak 100 kali dan
kejadian populasi menjadi punah (Extinct) dicatat setiap selesai menekan
tombol F9 pada keyboard. Proses ini dilakukan untuk frekuensi El Nino
sebesar 7, 6, dan 5, serta untuk ukuran populasi awal sebesar 500, 100, dan 50
dengan ukuran populasi awal sebesar 100 dan 50 hanya menggunakan
frekuensi El Nino sebesar 7.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan simulasi penrhitungan populasi penguin yang telah
dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil perhitungan populasi penguin Galapagos
First Size
Jumlah iterasi
(Ukuran
Frekuensi El- Iterasi
yang berakhir
Populasi
Nino (Year)
(n)
dengan
Awal)
kepunahan (ne)
500
7
100
57
6
100
84
5
100
92
100
7
100
72
50
7
100
77

Kemungkinan
kepunahan
(ne/n)
0,57
0,84
0,92
0,72
0,77

Hasil yang diperoleh pada Tabel 1 di atas memperlihatkan jumlah iterasi


yang berakhir dengan kepunahan pada populasi awal sebesar 500 dengan
frekuensi El Nino sebesar 7, 6, dan 5 secara berturut-turut yaitu 57, 84, dan 92.
Adapun jumlah iterasi yang berakhir dengan kepunahan dengan ukuran populasi
awal sebesar 100 dan 50 secara berturut-turut adalah 72 dan 77. Kemungkinan
kepunahan yang diperoleh dengan ukuran populasi awal sebesar 500 pada
frekuensi El Nino sebesar 7, 6, dan 5 secara berturut-turut adalah 0,57; 0,84; dan
0,92. Kemungkinan kepunahan yang diperoleh dengan populasi awal sebesar 100
dan 500 secara berturut-turut adalah 0,72 dan 0,77.
Data yang diperoleh pada Tabel 1 menunjukkan adanya hubungan antara
besarnya populasi awal dan jumlah kepunahan yang terjadi, serta besarnya
frekuensi El Nino dan jumlah kepunahan yang terjadi. Semakin tingginya jumlah
populasi awal, maka akan menyebabkan semakin rendah kepunahan jumlah
terjadinya populasi. Selain itu, semakin pendeknya frekuensi El Nino yang terjadi,
maka dapat menyebabkan semakin tingginya jumlah kepunahan yang terjadi.
Hasil ini sesuai dengan literatur Vargas dkk. (2007).
Adapun meurut Vargas dkk. (2007), peristiwa El Nino pernah terjadi
pada tahun 1982 1983, kemudain terjadi lagi pada tahun 1997 1998. Selang
waktu terjadinya peristiwa El Nino tersebut cukup besar yaitu kurang lebih 15

tahun, namun sudah cukup menyebabkan dampak yang sangat besar terhadap
populasi penguin Galapagos. Akibat persitiwa tersebut populasi penguin
Galapagos merosot hingga 60% spesies dari keseluruhan spesies yang ada. El
Nino juga menyebabkan peningkatan suhu perairan di sekitar Galapagos yang
menyebabkan ikan-ikan yang merupakan pakan bagi penguin Galapagos mati,
sehingga menjadi salah satu penyebab terjadinya penurunan populasi penguin
Galapagos.

IV. SIMPULAN
Berdasarkan simulasi PVA yang telah dilakukan, maka dapat ditarik
beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Jumlah iterasi yang berakhir dengan kepunahan pada populasi awal sebesar
500 dengan frekuensi El Nino sebesar 7, 6, dan 5 secara berturut-turut yaitu 57,
84, dan 92, serta pada ukuran populasi awal sebesar 100 dan 50 secara
berturut-turut adalah 72 dan 77.
2. Semakin tinggi jumlah populasi awal, jumlah terjadinya kepunahan populasi
semakin rendah.
3. Semakin pendek frekuensi El Nino yang terjadi, jumlah kepunahan yang terjadi
semakin tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
Gibbs, J. P., J. Hunter, M. J., dan Sterling, E. J. 2008. Problem-Solving in
Conservation Biology and Wildlife Management. Blackwell Publishing,
Singapura.
Vargas, F. H., Lacy, R. C., Johnson, P. J., Steinfurth, A., Crawford, R. J. M.,
Boersma, P. D. dan Macdonald, D. W. 2007. Modelling the effect of El
Nino on the persistence of small population : The Galapagos penguin as a
case of study. Biological conservation 137 (1): 138 148.