Anda di halaman 1dari 6

Hubungan Pengolahan air minum rumah tangga dengan Kejadian Diare di Wilayah

Kerja Puskesmas Kecamatan Pujon Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah 2013

Hubungan Pengolahan air minum rumah tangga dengan Kejadian Diare di Wilayah
Kerja Puskesmas Kecamatan Pujon Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah 2013
Karya Rudika

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pembangunan kesehatan masih menjadi suatu permasalahan yang belum dicapai
secara optimal. Hal ini dibuktikan dengan masih rendahnya indeks kesehatan
masyarakat terutama di negara berkembang. Penyakit yang paling sering
ditemukan di negara negara yang sedang berkembang salah satunya adalah diare.
Diare merupakan penyakit saluran pencernaan yang paling sering terjadi di
masyarakat. Penyakit ini ditandai dengan defekasi encer lebih dari 3 kali sehari
dengan atau tanpa darah dan lender dalam feses (Sodikin, 2011: 118)

Menurut Laporan WHO Tahun (2011) sekitar 1 milyar penduduk terserang diare
setiap tahunnya dan sebagian diantaranya adalah anak anak dan balita. Penyakit
diare juga banyak terjadi di Indonesia. Sepanjang tahun (2011) penderita diare
yang menjalani rawat inap di rumah sakit mencapai 71889 sedangkan kasus yang
menjalani rawat jalan 141.556 kasus (Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2012).

Menurut Profil Kesehatan Indonesia Tahun (2012) Kalimantan Tengah merupakan


salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki tingkat kejadian KLB yang tinggi.
Pada tahun ini kasus KLB diare di Kalimantan Tengah adalah 179 kasus KLB di
daerah. Selama tahun 2011, kasus penyakit diare menduduki peringkat pertama
dengan jumlah kasus 8.402. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas dr Hj Ani
Handaningroem mengungkapkan, puncak kasus diare terjadi pada Agustus dengan
2006 kasus. "Kasus diare terbanyak ditemukan di kawasan pasang surut saat
musim kemarau, karena di kawasan itu masyarakat mengonsumsi air sungai
(http://www.kaltengpos.net).

Menurut Kementrian Kesehatan RI (2012: 8) secara klinis penyebab diare dapat


dikelompokkan dalam 6 golongan besar yaitu infeksi (disebabkan oleh bakteri, virus
atau infestasi parasit), malabsorpsi, alergi, keracunan, imunodefisiensi dan sebabsebab lainnya. Penyebab yang sering ditemukan di lapangan ataupun secara klinis
adalah diare yang disebabkan infeksi bakteri, mikroba yang masuk melalui
makanan dan minuman. Menurut Departemen Kesehatan RI (2012: 9) Beberapa
perilaku yang meningkatkan risiko diare adalah sebagai berikut: menyimpan
makanan masak pada suhu kamar, bila makanan disimpan beberapa jam pada suhu
kamar, makanan akan tercermar dan kuman akan berkembang biak, menggunakan
air minum yang tercemar tanpa dilakukan pengolahan terlebih dahulu, tidak
mencuci tangan sesudah buang air besar dan sesudah membuang tinja atau
sebelum makan, tidak membuang tinja dengan benar, seringnya beranggapan
bahwa tinja tidak berbahaya, padahal sesungguhnya mengandung virus atau
bakteri dalam jumlah besar. Selain itu tinja binatang juga dapat menyebabkan
infeksi pada manusia

Menurut Chandra (2009: 28) air minum yang tidak bersih dapat menjadi sumber
penularan penyakit seperti diare. Peryaratan air bersih meliputi tidak berbau, tidak
berwarna, tidak berasa, segar, tidak ada zat kimia, tidak ada pencemaran limbah
atau kotoran tinja dan sampah serta terhindar dari bakteri. Secara sederhana kita
dapat menentukan kebersihan air dengan memperhatikan indikator tersebut secara
kasar atau yang lebih baik dengan bantuan peralatan penunjang. Air bersih pada
dasarnya masih menjadi salah satu masalah yang dapat berdampak pada
kesehatan. Jika air yang dipergunakan untuk minum tidak bersih misalnya
masyarakat mengambil di sungai yang airnya tercemar sampah rumah tangga,
limbah dan kotoran manusia maka hal ini dapat berpengaruh terhadap terjadinya
diare. Diare yang terjadi karena air minum yang tidak bersih biasanya berkaitan
dengan agen mikrobiologis dan kimia yang masuk ke saluran pencernaan melalui
air yang tercemar.

Mencegah terjadinya diare maka salah satu caranya adalah dengan melakukan
pengolahan air minum. Menurut Halim et al (2005: 314) Pengolahan air minum
adalah proses mendapatkan air bersih dan sehat yang sesuai dengan standar mutu
air untuk kesehatan. Cara pengolahan air minum secara sederhana adalah tampung
air ke drum. Larutkan bahan koagulan (tawas) 1 sendik untuk 1 M3 air baku atau
200 gram untuk setiap 200 liter air baku, aduk hingga rata dan diamkan selama 30
menit sampai kotoran mengendap, alirkan air ke bak lain (saring) kemudian berikan
kaporit 1 sendok teh untuk 1 M3 air bersih tunggu 30 menit, kemudian air siap
dimasak atau digunakan untuk keperluan lain

Perilaku penduduk yang sering mengonsumsi air sungai tanpa diolah terlebih
dahulu dapat menjadi salah satu penyebab diare. Air sungai yang ada di wilayah
Kecamatan Pujon tercemar oleh limbah rumah tangga, sampah, dan kotoran tinja
manusia. Hal ini disebabkan karena perilaku warga yang sering buang sampah dan
buang air besar ke sungai. Rumah penduduk yang berada disekitar daerah aliran
sungai juga menjadi salah satu penyebab sungai tercemar limbah rumah tangga.
Seharusnya air sungai yang mau diminum harus terlebih dahulu diolah agar bersih
dan aman untuk diminum, namun hal ini jarang dilakukan oleh masyarakat

Hasil studi pendahuluan di Puskesmas Kecamatan Pujon Kabupaten Kapuas pada


tanggal 9 oktober 2012. Jumlah penderita diare pada bulan april sampai maret
adalah 219 kasus. Hasil wawancara dengan 15 pasien diare yang melakukan
kunjungan ke Puskesmas Kecamatan Pujon 9 orang (60%) menyatakan sering
mengonsumsi air sungai. Hasil observasi terhadap sungai yang menjadi tempat
warga mengambil air untuk diminum tampak pada air sungai ada kotoran/tinja,
sampah, dan limbah rumah tangga yang mencemarinya. Berdasarkan hasil
observasi terhadap 15 rumah tangga. 6 rumah tangga tidak mengolah terlebih
dahulu air yang akan dijadikan minuman. Padahal seharusnya air tersebut harus
terlebih dahulu diendapkan, disaring, dan diberi kaporit lalu dimasak untuk
menjadikan air tersebut bersih dan aman.

Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan


penelitian tentang Hubungan pengolahaan air minum rumah tangga dengan
kejadian diare di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Pujon Kabupaten Kapuas
Kalimantan Tengah 2012

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah pada penelitian ini
adalah : Apakah ada Hubungan Pengolahan air minum rumah tangga dengan
Kejadian Diare di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Pujon Kabupaten Kapuas
Kalimantan Tengah 2013?.

1.3. Tujuan Penelitian


1.3.1.

Tujuan Umum

Menganalisis hubungan pengolahan air minum rumah tangga dengan kejadian


diare di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Pujon Kabupaten Kapuas Kalimantan
Tengah 2013.
1.3.2.

Tujuan Khusus

1.3.2.1.Mengidentifikasi pengolahan air minum rumah tangga di Wilayah Kerja


Puskesmas Kecamatan Pujon Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah 2013.
1.3.2.2.Mengidentifikasi Kejadian diare pada masyarakat di Wilayah Kerja
Puskesmas Kecamatan Pujon Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah 2013.
1.3.2.3.Menganalisis hubungan pengolahan air minum rumah tangga dengan
kejadian diare di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Pujon Kabupaten Kapuas
Kalimantan Tengah 2013.

1.4. Manfaat Penelitian


1.4.1.

Bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi masyarakat untuk
mengubah perilakunya dalam pengelolaan air minum.
1.4.2.

Bagi Puskesmas

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi petugas kesehatan
di puskesmas untuk berupaya mengubah perilaku masyarakat dalam pengelolaan
air minum rumah tangga
1.4.3.

Bagi Bidang Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan bagi pengembangan ilmu keperawatan
serta dapat dipergunakan oleh perawat dalam memberikan intervensi kepada
masyarakat

1.4.4.

Bagi Perguruan Tinggi

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi seluruh mahasiswa
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin

1.5. Penelitian Terkait


Penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan penelitian ini antara lain:

1.5.1.
Penelitian yang dilakukan Suci Oktovia (2011) berjudul hubungan antara
pengelolaan sampah dan tingkat kejadian diare pada siswa SDN Takisung 2
Kecamatan Takisung. Jenis penelitian adalah analitik. Rancangan penelitian cross
sectional. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara pengelolaan sampah
dan tingkat kejadian diare pada siswa SDN Takisung 2 Kecamatan Takisung
1.5.2.
Penelitian Yulianti (2009), Stikes Muhammadiyah Banjarmasin, dengan
judul faktor-faktor yang berhubungan dengan kekambuhan gastritis pada
mahasiswa yang tinggal di kos-kosan jl.S.Parman Rt.25 Kelurahan Pasar Lama
Banjarmasin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya kekambuhan gastritis. Penelitian menggunakan metode
analitik dengan rancangan cross sectional, dengan menggunakan metode
kuesioner. Populasi penelitian adalah mahasiswa yang tinggal di kos-kosan di
wilayah S.Parman Rt.25 Kelurahan Pasar Lama Banjarmasin. Subjek penelitian terdiri
dari 44 responden. Faktor yang diteliti adalah pengetahuan, pola makan, dan
tingkat stres. Hasil penelitian mendapatkan gambaran dari tiga faktor yang diduga
berperan terhadap frekuensi kekambuhan gastritis. Satu faktor yang tidak
berhubungan dengan frekuensi kekambuhan gastritis yaitu: tingkat pengetahuan
dengan nilai = 0,947. Sedangkan dua faktor yang berhubungan dengan frekuensi
kekambuhan gastritis yaitu: pola makan dengan nilai = 0,041, dan tingkat stres
dengan nilai = 0,020.
1.5.3.
Penelitian Jenny Saherna (2008), Stikes Muhammadiyah Banjarmasin,
dengan judul hubungan antara tingkat ansietas santri baru dengan angka kejadian
gastritis pada pondok pesantren Al Falah Puteri km.23 Banjarbaru. Tujuan penelitian
ini adalah menganalisa hubungan antara tingkat ansietas santri baru dengan angka
kejadian gastritis pada pondok pesantren al Falah Puteri Banjarbaru.Rancangan
penelitian yang digunakan adalah cross sectional, dengan teknik pengambilan
sampel purposive sampling yaitu cara pengambilan sampel untuk tujuan tertentu,
sampel berjumlah 152 santriwati. Penelitian ini merupakan penelitian analitik
observational. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna
antara tingkat ansietas santri baru dengan angka kejadian gastritis dengan derajat
= 0,01 ( < 0,05).
1.5.4.
Rivansyah, 2010 dengan judul gambaran perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) pada orang tua dengan balita ISPA di wilayah kerja Puskesmas Anjir Pasar.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi PHBS orang tua dengan anak (14 tahun) ISPA di Puskesmas Anjir Pasar Kabupaten Barito Kuala. Rancangan
penelitian yang digunakan adalah cross sectional, yaitu pengambilan data dilakukan
pada satu waktu tertentu. Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua dengan
anak yang sedang menderita ISPA di wilayah kerja puskesmas Anjir pasar.
Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesoner.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada judul,
variabel, tempat dan waktu dilakukannya penelitian. Judul pada penelitian ini,
hubungan perilaku mengonsumsi air sungai dengan kejadian diare di Wilayah Kerja

Puskesmas Kecamatan Pujon Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah 2012. Variabel


penelitian terdiri dari variabel bebas berupa pengolahan air minum rumah tangga
sedangkan variabel terikatnya adalah kejadian diare pada masyarakat di wilayah
kerja puskesmas Kecamatan Pujon. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2013.