Anda di halaman 1dari 6

A.

Tujuan
1. Mahasiswa mengetahui sumber limbah padat agroindustry dan pemanfaatannya
2. Mahasiswa mampu membuat kompos
3. Mahasiswa mampu melakukan perhitungan kelayakan ekonomi pembuatan kompos
B. Metedologi Praktikum
1. Alat dan Bahan
a. Alat
1) Telenan
2) Pisau
3) Timbangan
4) Wadah/ toples
5) Plastik penutup
6) Rafia
7) Pipa pralon
b. Bahan
1) Jambu busuk 4 kg
2) Abu 2 plastik
3) Larutan gula 20 kg
4) Larutan EM4 23 ml
2. Prosedur Praktikum

Memotong jambu kecil-kecil


Menimbang 4 kg
Memasukkan sampel ke dalam toples
Menambah abu
Mengaduk
Mrngaduk
Menambahkan larutan EM4 dan larutan gula
Menutup dengan plastik

Memasukkan pralon ke dalam toples melalui


prutup plastic sampai dasar toples
Mengamati tiap 5 hari sekali

C. Hasil dan Pembahasan

1. Hasil
N

Hari ke

Sebelum

o
1.

Senin, 24 Maret Warna pink, tekstur lembek, Warna


2014

2.

masih terdapat jambu

Jumat, 28 Maret Warna


2014

3.

Rabu,

Sesudah

perubahan,

2014

April Warna

kehitaman

kehitaman

belum

aroma

ada

jambu

trrcium, tekstur empuk


mulai Warna
kehitaman
mulai

muncul, aroma agak bau


2

jambu

muncul, aroma agak busuk,


tekstur lembek
mulai Warna kehitaman, aroma agak

muncul, aroma agak busuk, busuk, tekstur lembek


8

tekstur lembut
April Warna kehitaman,

4.

Selasa,

aroma Warna

kehitaman,

busuk,

5.

2014
busuk, tekstur lembek
lembek, ada belatung
Jumat, 14 April Warna kehitaman, lembek, Warna kehitaman,

busuk,

6.

2014
ada belatung
Jumat, 18 April

lembek, ada belatung


Kehitaman, banyak belatung,

2014

bau busuk menusuk

2. Pembahasan
Kompos atau humus adalah sisa-sisa mahluk hidup yang telah mengalami pelapukan,
bentuknya sudah berubah seperti tanah dan tidak berbau (Santoso,1998). Kompos memiliki
kandungan hara NPK yang lengkap meskipun persentasenya kecil. Kompos juga
mengandung senyawa-senyawa lain yang sangat bermanfaat bagi tanaman. Prinsip bahan
berhasil dari makhluk hidup dan bahan organic yang ada di lingkungan. Pada prinsipnya
semua bahan yang berasal dari mahluk hidup atau bahan organik dapat dikomposkan.
Seresah, daun-daunan, pangkasan rumput, ranting, dan sisa kayu dapat dikomposkan.
Kotoran ternak, binatang, bahkan kotoran manusia bisa dikomposkan. Kompos dari kotoran
ternak lebih dikenal dengan istilah pupuk kandang. Sisa makanan dan bangkai binatang bisa
juga menjadi kompos. Kompos dapat mengurangi sampah atau kotoran makhluk hidup yang
menyebabkan pencemaran.
Kegunaan EM4 dalam pengomposan untuk mempercepat proses
pengomposan(Murbandono,2002). Em 4 merupakan suatu cairan berwarna kecoklatan dan

beraroma manis asam(segar) yang di dalmnya berisi campuran beberapa mikroorganisme


hidup yang menguntungkan bagi proses penyerapan/persediaan unsur hra dalam tanah.
Mikroorganisme

yang

baik

itu

seperti

bakteri

fotosintetik,bakteri

asam

laktat,ragi,aktinomydetes,dan jamur peragian. Keguaaan abu dalam pengomposan untuk


mengurangi volume air yang ada pada bahan yang dibuat kompos. Bahan yang dibuat
kompos harus benar-bener memiliki volume air yang sedikit agar kompos tidak berjamur
maupun menimbulkan belatung. Selain untuk menurangi voleume air, abu juga berfungsi
agar bahan menjadi keset. Larutan gula berfungsi untuk asupan makanan.
Pertama yang dilakukan membuat kompos yaitu memotong jambu busuk menjadi
kecil-kecil. Dipotong kecil-kecil agar tektur menjadi lebih lunak dan agar dicampur dengan
bahan lain tercampur secara maksimal. Menimbang sampel sampai empat kg. Agar kita
mudah membandingan larutan yang akan dicampurkan dengan bahan. Lalu dimsukkan
kedalam toples sebagai wadah proses pengomposan. Setelah itu ditabahan abu dan trus
diaduk sampai abu tercampur dengan bahan dan volume air dalam bahan berkurang.
Setalah abu tercampur dengan bahan, ditambah dengan EM4 dan larutan gula sesuai ukuran
yang telah ditetapkan. Kemudian diaduk lagi sampai semua tercampur dengan bahan. Lalu
menutup toples dengan plastic dan diikat dengan raffia agar udara tidak masuk kedalam
toples. Lalu dimasukkan pralon, agar udah hanya bisa lewat pralon atau agar kompos
mendapat oksigen. Lalu mengamati tiap lima hari sekali selama satu bulan. Tiap kali
pengamatan kompos dibuka dan diaduk. Dan diamati warna. baud an tekstur pada kompos.
Sebelum pengamatan warna masih pink, tekstur lembek dan aroma seperti jambu. Mungkin
karena masih hari pertama dan mikroba yang didalam kompos belum berreaksi. Sesudah
warna jambu belum ada perubahan, aroma masih jambu, dan tekstur empuk. Pengamatan
kedua keadaan sebelum warna kehitaman, mulai muncul aroma agak bau, dan keadaan
sesudah yaitu warna kehitaman, mulai muncul aroma agak bususk, tekstur lembek.
Pengamatan ketiga keadaan warna kehitaman mulai muncul, aroma agak busuk, tekstur
lembut, sedangkan keadaan sesudah warna kehitaman, aroma agak busuk, tekstur lembek.
Pada keadaan keempat warna kehitaman, aroma busuk, tekstur lembek, dan keadaan setelah
warna kehitaman, busuk, lembek, ada belatung. Keadaan pada pengamatan kelima sesudah
warna kehitaman, lembek, ada belatung, sedangkan keadaan sebelum warna kehitaman,
busuk, lembek, ada belatung. Pengamatan keadaan terakhir adalah kehitaman, banyak
belatung, bau busuk menusuk. Tekstur pada kompos lembek, mungkin karena pada

pengomposan masih banyak terkandung air, yang seharusnya jumlah air sampai volume
sampai banyak. Seharusnya pada pengomposan volume air tidak banyak segitu. Warna
kehitaman mungkin dari abu yang dipakai dan lebih mendungkung lagi karena pembusukan
bahan untuk kompos. Aroma yang agak busuk karena bahan komposnya yang lama semakin
lama semakin busuk. Kompos yang menimbulkan banyak belantung mungkin karena
banyaknya volume air yang tergantung dalam limbah, karena volume air yang terkandung
dalam limbah menimbulkan aktivitas mikroba sangat berkembang dengan cepat, di dukung
dengan sedikitnya oksigen yang masuk yang tambah mendukung aktivitas mikroba.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengomposan adalah ukuran dan jenis sumber
bahan organic, keseimbangan nutrisi ( Rasio C : N ), suhu, kelembaban, sirkulasi udara,
bioaktivator. Ukuran dan jenis bahan organik adalah salah satu komponen penting untuk
mendapatkan hasil yang diharapkan dari pengomposan. Ukuran bahan organik yang relatif
lebih kecil akan mempermudah percepatan proses pengomposan, disamping ukuran, jenis
dan karakter dari bahan organik juga sangat menentukan, misalkan gabah, partikel
kayu/ranting, sabut kelapa, yang semuanya relatif mempunyai unsur karbon yang tinggi.
Keseimbangan Nutrisi (Rasio C:N) adalah sangat berpengaruh terhadap kinerja
mikroorganisme

dalam

merombaka

bahan

organik

selama

proses

pengomposan

berlangsung. Karbon (C) dibutuhkan oleh mikroorganisme, seperti bakteri, jamur dan
aktinomisetes sebagai sumber energi (makanan), sedangkan Nitrogen (N) yang umumnya
berasal dari protein yang terkandung dalam bahan organik diperlukan untuk membiakan
diri. Apabila kandungan C terlalu tinggi maka proses pengomposan akan cenderung
menurun (melambat), namun apabila kandungan N terlalu tinggi maka umumnya akan
cenderung menimbulkan bau ammonia atau bahkan cenderung mengarah pada pembusukan
(putrefaction). Suhu atau Temperatur yang ditimbulkan selama proses pengomposan adalah
merupakan hasil pelepasan energi reaksi eksotermik dalam tumpukan. Kenaikan suhu
selama proses pengomposan sangat menguntungkan bagi beberapa jenis mikroorganisme
thermofilik, akan tetapi proses pengomposan yg tidak terkontrol, misalkan suhu di atas 6570 C akan menyebabkan aktivitas populasi mikroorganisme menjadi menurun drastic.
Bioaktivator adalah penambahan aktivator mikroorganisme yg menguntungkan akan sangat
membantu dalam proses percepatan pengomposan, dilain pihak penambahan ini akan
memungkinkan kompos yg dihasilkan memiliki karakteristik yang lebih sehat dan lebih
baik bila diterapkan ke dalam tanah. Juga dapat membantu menekan populasi

mikroorganisme penyakit (pathogen) yang banyak terdapat dalam bahan organik yang
dikomposkan terutama bila yang

berasal dari kotoran hewan atau limbah tanaman

berpenyakit (Anonim,2010).
Jenis-jenis kompos yaitu pupuk kompos aerob, pupuk bokashi, dan vermikompos.
Pupuk kompos aerob dibuat melalui proses biokimia yang melibatkan oksigen. Bahan baku
utama pembuatan pupuk kompos aerob adalah sisa tanaman, kotoran hewan atau campuran
keduanya. Proses pembuatannya memakan waktu 40-50 hari, untuk lebih jelasnya silahkan
baca cara membuat kompos. Lamanya waktu dekomposisi tergantung dari jenis dekomposer
dan bahan baku pupuk. Pupuk bokashi merupakan salah satu tipe pupuk kompos anaerob
yang paling terkenal. Ciri khas pupuk bokashi terletak pada jenis inokulan yang digunakan
sebagai starter-nya, yaitu

efektif mikroorganisme (EM4) . Inokulan ini terdiri dari

campuran berbagai macam mikroorganisme pilihan yang bisa mendekomposisi bahan


organik dengan cepat dan efektif. Vermikompos merupakan salah satu produk kompos yang
memanfaatkan makroorganisme sebagai pengurai. Makroorganisme yang digunakan adalah
cacing tanah dari jenis Lumbricus atau jenis lainnya. Vermikompos dibuat dengan cara
memberikan bahan organik sebagai pakan kepada cacing tanah. Kotoran yang dihasilkan
cacing tanah inilah yang dinamakan vermikompos. Jenis organisme lain yang bisa
digunakan untuk membuat kompos adalah belatung (maggot black soldier fly)
(Koonzt,2007).
D. Kesimpulan
1. Sumber limbah agroindustry berasal dari dedaunana, sisa hasil pertanian dan kotoran
hewan. Manfaat bagi lingkungan mengurangi volume limbah yang ada di lingkungan.
Untuk perekonomian adalah memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari sebelumna. Untuk
tanah adalah meningkatkan kesuburan tanah.
2. Cara membuat kompos yaitu memotong bahan kompos kecil-kecil dan menimbang sampai
empat kg, lalu dimasukkan dalam wadah dan ditmbah larutan gula, EM4, abu, lalu diaduk
menjadi satu dan ditutup plstik dan dikasih pralon buat jalan udara. Kompos yang baik tidak
mengandung air dan berjamur.
3. Kompos yang layak dalam perekonomian yaitu meningkatkan nilai tambah, menghemat
pengeluran dalam pembelian pupuk, mengurangi volume limbah, menghemat biaya
transportasi.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2010.http://www.masagri.com/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-prosespengomposan/. Diambil pada hari Selasa tanggal 6 Mei 2014 pada pukul 20.44 wib
Koontz, Roben. 2007. Kompos Hasil Daur Ulang Bahan-bahan Alam. Gelora Aksara
Pratam. Jakarta
L. Murbandono HS. 2002. Membuat Kompos. Sari Agritekno. Bogor
Santoso, Hieronymus Budi. 1998. Pupuk Kompos Dari Sampah Rumah Tangga. Kanisius.
Yogyakarta.