Anda di halaman 1dari 9

STUDI PROVENANCE DENGAN MINERAL BERAT PADA

SUNGAI PENGKOL, JABUNGAN, SEMARANG


Fattah Rafianda Denaldo1
21100115130053
fattahrafianda@gmail.com
1
Teknik Geologi Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
ABSTRAK
Mineral berat adalah sebutan untuk mineral yang massa jenisnya lebih dari 2,58. Mineral berat umumnya
merupakan mineral aksesori konsentrasinya kurang dari 1%. Mineral berat merupakan bahan studi provenance
yang sering digunakan serta dapat mengetahui pelapukan batuan dan korelasi serta palaeogeografi. Pada studi
provenance mengunakan mineral berat di sungai Pengkol, Jabungan, Semarang, digunakan metode pengambilan
sample di lapangan dan studi literatur mengenai transportasi sedimen dan provenance mineral mineral berat.
Wilayah Jabungan pada masa lalu dekat dengan gunung proto ungaran dan merupakan sebuah cekungan yang
terisi oleh sedimen yang merupakan alluvial fan dari formasi kerek. Hal hal ini dapat dibuktikan dari sample
mineral mineral berat yang mengindikasikan batuan beku basa sampai asam dan juga litologi yang ditemui di
lapangan.

Kata kunci :provenance, mineral berat, Jabungan

Pendahuluan

Analisis provenance merupakan aspek


penting pada Analisa lanjut sedimentologi
dan stratigrafi. Penulis mengambil contoh
pada Sungai Pengkol, Jabungan, Semarang
untuk mengetahui provenance dari sedimen
yang terendapkan pada sungai tersebut.
Tinjauan Pustaka

Mineral
berat
(heavy
mineral)
merupakan mineral yang memiliki massa
jenis lebih besar dari 2,58. Mineral berat
sering digunakan untuk analisis provenance
dari sedimen. Mineral berat sering
dikelompokkan menjadi 4 yaitu:
1.
Mineral Opak, Contoh : Magnetit,
Ilmenit, Pirit, Hematit dan limonit
2.
Mineral Mika, Contoh :biotit,
muskovit, glaukonit
3.
kelompok Ultra-Stabil, contoh :
Zircon, turmalin dan rutil.
4.
Kelompok Meta-Stabil, contoh :
olivin, apatit, garnet dan hornblende.
Frekuensi kemunculan mineral berat dan
variasinya dipengaruhi oleh beberapa faktor:

Litologi daerah asal dan kelimpahan


mineral
Kondisi kimiawi lingkungan
pengendapan
Proses fisis selama traansportasi
Kestabilan diferensial mineral
Abrasi yang berlangsung
Faktor yang berlangsung setelah
pengendapan
Dari Pettijohn (1987), saat kita
mengetahui provenance suatu sedimen
kita dapat mengetahui:
1) Jenis batuan sumber yang
menghasilakan atau menurunkan
sedimen.
2) Bagaimana relief dan iklim di daerah
batuan sumber.
3) Berapa jauh dan bagaimana arahnya dari
daerah sumber berada.
Geologi Regional
Geomorfologi Regional Semarang

Pulau Jawa secara fisiografi dan


struktural, menurut Bemmelen, 1970 dibagi
atas 4 bagian utama yaitu: Sebelah barat
Cirebon (Jawa Barat) Jawa Tengah (antara

Cirebon dan Semarang) Jawa Timur


(antara Semarang dan Surabaya) Cabang
sebelah timur Pulau Jawa, meliputi Selat
Madura dan Pulau Madura Jawa Tengah
merupakan bagian yang sempit di antara
bagian yang lain dari Pulau Jawa, lebarnya
pada arah utara-selatan sekitar 100 120
km. Daerah Jawa Tengah tersebut terbentuk
oleh dua pegunungan yaitu Pegunungan
Serayu Utara yang berbatasan dengan jalur
Pegunungan Bogor disebelah barat dan
Pegunungan Kendeng di sebelah timur serta
Pegunungan
Serayu
Selatan
yang
merupakan terusan dari Depresi Bandung di
Jawa Barat. (Bemmelen, 1970).

3.

4.

5.

Stratigrafi Regional Semarang

Daerah
Semarang
sebagian
besar tertutup oleh Formasi Damar
yang berumur Plistosen dan sepanjang pantai utara oleh endapan
aluvium. Menurut Van Bemmelen
(1970), Formasi Damar tersusun
atas batupasir tufan, konglomerat,
dan breksi gunungapi. Batupasir
tersusun
atas
mineral gelap,
felspar, dankuarsa, serta sisa-sisa
vertebrata. Van Bemmelen (1970)
juga menyebutkan adanya sesar di
selatan Semarang sebagai akibat
runtuhnya Gunung Ungaran pada
Pleistosen Akhir.
Geologi
Kota
Semarang
berdasarkan Peta Geologi Lembar
Magelang - Semarang (RE. Thaden,
dkk; 1996), susunan stratigraf
formasi
batuan
penyusunnya
adalah sebagai berikut :
1. Aluvium : Merupakan endapan
aluvium pantai, sungai dan
danau.
Endapan
pantai
litologinya terdiri dari lempung,
lanau dan pasir dan campuran
diantaranya mencapai ketebalan
50 m atau lebih.
2. Gunungapi
Gajah
Mungkur :Batuannya berupa lava
andesit,
berwarna
abu-abu
kehitaman,
berbutir
halus,
holokristalin, komposisi terdiri
dari felspar, hornblende dan

6.

7.
8.

augit,
bersifat
keras
dan
kompak.
Batuan
Gunungapi
Kaligesik
(Qpk)
:Batuan
Gunungapi
Kaligesik berupa lava basalt,
berwarna abu-abu kehitaman,
halus, komposisi mineral terdiri
dari felspar, olivine dan augit,
sangat keras.
Formasi Jongkong
: Breksi
andesit hornblende augit dan
aliran lava, sebelumnya disebut
batuan
gunungapi
Ungaran
Lama.
Formasi Damar : terdiri dari batu
pasir tufaan, konglomerat, dan
breksi volkanik.
Formasi Kaligetas : Batuannya
terdiri dari breksi dan lahar
dengan sisipan lava dan tuf
halus sampai kasar, setempat di
bagian bawahnya ditemukan
batu
lempung
mengandung
moluska dan batu pasir tufaan.
Formasi Kalibeng : Batuannya
terdiri dari napal, batupasir
tufaan dan batu gamping.
Formasi Kerek : Perselingan batu
lempung, napal, batu pasir
tufaan,
konglomerat,
breksi
volkanik dan batu gamping.
Metodologi

Dalam pembuatan tulisan ini digunakan


metode pengambilan sample mineral berat
langsung pada sungai Pengkol, Jabungan,
Semarang untuk mendapatkan data mineral
berat apa saja yang didapat di lapangan.
Metode selanjutnya adalah studi literatur
tentang mekanisme transportasi sedimen,
provenance dari mineral mineral berat
tertentu, serta geologi regional Semarang
dan sekitarnya untuk mengetahui korelasi
stratigrafi
serta
menginterpretasikan
palaeogeografi dari sungai Pengkol,
Jabungan itu sendiri.
Deskripsi

Dari
pengambilan
sample
mineral berat di bagian hulu dan
hilir sungai diambil 250 butir

mineral masing masing. pada


bagian hulu didapat hornblende
30, ilmenit 40, hematit 70,
magnetit 48, pirit 1, biotit 15,
garnet 4, olivin 1, andalusit 8,
kuarsa 20, kianit 10, piroksen 3.
Sedangkan
pada
bagian
hilir
didapat hornblende 25, ilmenit 50,
hematit 70, magnetit 44, biotit 20,
andalusit 7, kuarsa 10, kianit 20,
piroksen 4.
Pembahasan

Sungai
Pengkol
merupakan
sungai yang banyak terdapat
endapan
bar
di
sepanjang
penampangnya pada bagian hulu
cenderung banyak ditemui channel
bar, sedangkan semakin ke hilir
banyak point bar.
Endapan
endapan
tersebut
merupakan hasil dari erosi yang
dilakukan
oleh
aliran
sungai
terhadap batuan yang dilewatinya,
jadi bisa dikatakan bahwa endapan
endapan tersebut berasal dari
provenance
yang
kemudian
tertransportasi dan terendapkan
pada endapan bar di sungai
Pengkol. Secara Umum mineral
berat yang didapatkan adalah
ilmenit, magnetit, dan hornblende
dan jika dikorelasikan ke geologi
regional bahwa sungai Pengkol
berhulu pada formasi kaligetas
yang merupakan endapan vulkanik
dari gunung Ungaran, lalu pada
tempat survey lapangan tempat

pengambilan sample masuk dalam


formasi kerek yang merupakan
produk dari arus turbidite. Mineral
mineral berat yang ditemukan jika
diambil
persamaannya
dapat
diinterpretasikan
berasal
dari
provenance batuan beku asam basa, namun banyaknya magnetit
menunjukkan
adanya
kemungkinan sumber dari batuan
sedimen, hal ini sangat wajar
karena banyaknya gravel batuan
sedimen
pada
tubuh
sungai
Pengkol. Serta banyak batuan
metamorf
high
grade
yang
kemungkinan
berasal
dari
basement
uplift
dimana
pegunungan
kendeng
sendiri
merupakan fold thrust belt yang
sangat
memungkinkan
batuan
metamorf terbentuk.
Penutup

Endapan bar pada sungai Pengkol,


Jabungan, Semarang yang mengandung
mineral mineral berat dapat diketahui
provenancenya dari hasil analisa mineral
berat yaitu merupakan batuan beku asam basa dan juga batuan sedimen. Batuan beku
berasal dari gunung ungaran sedangkan
batuan sedimen berasal dari formasi kerek
yang merupakan endapan turbidite.
Referensi
Tim Asisten Sedimentologi dan Stratigrafi .
2015. Buku Panduan Praktikum
Sedimentologi Stratigrafi. Teknik
Geologi Universitas Diponegoro:
Semarang.
.

Lampiran
A. Hulu
Jenis
Mineral

Frekuensi Persentase

Simpangan
Baku

Hornblende

30

12.00%

4%

Ilmenit

40

16.00%

5%

Hematit

70

28.00%

6%

Magnetit

48

19.20%

5%

Pirit
Biotit
Garnet
Olivin
Andalusit

1
15
4
1
8

0.40%
6.00%
1.60%
0.40%
3.20%

1%
3%
1%
1%
2%

Kuarsa

20

8.00%

3%

kianit
Piroksen

10
3

4.00%
1.20%

2%
1%

Jumlah

250

100.00%

34.00%

Provenance
Low Grade
Metamorphic
High Rank
Metamorphic
Batuan Beku asam
Sedimen
Batuan Beku Basa
Pegmatit

Jumlah
28
135
183
68
92
0

Nilai Koreksi
+
16.00
8.00%
%
21.00
11.00%
%
34.00
22.00%
%
24.20
14.20%
%
1.40% -0.60%
9.00% 3.00%
2.60% 0.60%
1.40% -0.60%
5.20% 1.20%
11.00
5.00%
%
6.00% 2.00%
2.20% 0.20%
134.00
66.00%
%

HISTOGRAM FREKUENSI MINERAL BERAT


30%
25%
20%
15%
Presentase

10%
5%
0%

Mineral berat

HISTOGRAM FREKUENSI MINERAL BERAT +


40%
35%
30%
25%
20%
Presentase

15%
10%
5%
0%

Mineral berat

HISTOGRAM FREKUENSI MINERAL BERAT 25%


20%
15%

Presentase

10%
5%
0%
-5%
Mineral berat

HISTOGRAM PROVeNANCE

Frekuensi

200
180
160
140
120
100
80
60
40
20
0

Mineral berat

B. Hilir

jenis
mineral

Nilai
+
14.00
10.00%
4%
%
25.00
20.00%
5%
%
34.00
28.00%
6%
%
22.60
17.60%
5%
%
0.00
0.00%
0%
%
12.00
8.00%
4%
%
0.00
0.00%
0%
%
0.00
0.00% 0.00%
%
4.80
2.80%
2%
%
6.00
4.00%
2%
%
12.00
8.00%
4%
%
3.60
1.60%
2%
%
100.00% 34% 134%

Frekuen Persenta Simpang


si
se
an Baku

Hornblende

25

Ilmenit

50

Hematit

70

Magnetit

44

Pirit

Biotit

20

Garnet

Olivin

Andalusit

Kuarsa

10

kianit

20

Piroksen

Jumlah

250

Koreksi
6.00%
15.00%
22.00%
12.60%
0.00%
4.00%
0.00%
0.00%
0.80%
2.00%
4.00%
-0.40%
66%

HISTOGRAM FREKUENSI MINERAL BERAT


30%
25%
20%
15%
Presentase

10%
5%
0%

Mineral berat

HISTOGRAM FREKUENSI MINERAL BERAT +


40%
35%
30%
25%
20%
Presentase

15%
10%
5%
0%

Mineral berat

HISTOGRAM FREKUENSI MINERAL BERAT 25%


20%
15%

Presentase

10%
5%
0%
-5%
Mineral berat

HISTOGRAM PROVeNANCE

Frekuensi

180
160
140
120
100
80
60
40
20
0

Mineral berat