Anda di halaman 1dari 16

A.

KAFAAH DALAM PERKAWINAN


1. Pengertian kafaah
Kafaah atau kufu , menurut bahasa, artinya setaraf, seimbangan
atau keserasian/ kesesuaian, serupa, sederajat atau seimbang. Yang
dimaksud dengan kafaah atau kufu dalam perkawinan , menurut
istilah hukum islam yaitukeseimbangan dan keserasian antara calon
istri dan suami sehingga masing-masing calom tidak merasa untuk
melangsungkan perkawinan. Atau laki-laki sebanding dengan calon
istrinya, sama dalam kedudukan , sebanding dalam tingkat sosial dan
sederajat dalam akhlak serta kekayaan. Jadi, tekanan dalam hal
kafaah adalah keseimbangan, keharmonisan dan keserasian, terutama
dalam hal agama, yaitu akhlak dan ibadah. Sebab kalau kafaah
diartikan persamaan dalam harta, atau kebangsawaan, maka akan
berarti terbentuknya kasta, sedangkan dalam islam tidak dibenarkan
adanya kasta, karena manusia di sisi Allah SWT adalah sama. Hanya
ketakwaannyalah yang membedakanya.
Kafaah dalam perkawinan merupakan faktor yang dapat
mendorong terciptanya kebahagian suami istri, dan lebih menjamin
kesalamatan perempuan dari kegagalan atau kegoncangan rumah
tangga.
Kafaah dianjurkan oleh islam dalam memilih calon suami/istri,
tetapi tidak mwenentukan sah atau tidaknya perkawinan. Kafaah
adalah hal bagi wanita walinya. Karena suatu perkawinan yang tidak
seimbang, serasi/sesuai akan menimbulkan problema berkelanjutan,
dan besar kemungkinan menyebabkan terjadinya perceraian, oleh
karena itu, boleh dibatalkan.
2. Ukuran kafaah
Masalah kafaah yang perlu diperhatikan dan menjadi ukuran adalah
sikap hidup yang lurus dan sopan, bukan karena keturunan, pekerjaan,
dan sebagainya. Seorang laki-laki yang shaleh walaupun dari
keturunan rendah berhak menikah dengan perempuan yang berderajat
tinggi. Laki-laki yang memilih kebesaran apapun berhak menikah
dengan perempuan yang memiliki derajat dan kemasyhuran yang
tinggi. Begitu pula laki-laki yang fakir sekalipun, ia berhak dan boleh
menikah dengan perempuan yang kaya raya, asalkan laki-laki itu
muslim dan dapat menjauhkan diri dari meminta-minta serta tidak
seorang pun dari pihak walinya menghalangi atau menuntut
pembatalan. Selain itu, ada kerelaan dari walinya yang mengakadkan
dari pihak perempuannya. Akan tetapi jika laki-lakinya bukan dari
golongan yang berbudi luhur dan jujur berarti ia tidak kufudengan
perempuan yang shalihah.
Ibnu Rusydi
berkata: di kalangan mazhab maliki tidak
diperselisihkan lagi bahwa apabila seseorang gadis dikawinkan oleh
ayahnya dengan seorang peminum khamar(pemabuk), atau singkatnya
dengan orang fasik, maka gadis tersebut berhak menolak perkawinan

tersebut. Kemudian hakim memeriksa perkaranya dan menceraiakan


antara keduanya.
Lebih lanjutia menjelaskan bahwa para fuqaha juga berbeda
pendapat tentang faktor nasab(keturunan), apakah termasuk dalam
pengertian kafaah atau tidak. Begitu pula tentang faktor
hurriyah(kemerdekaan), kekayaan dan keselamat dari cacat(aib).
Menurut pendapat yang masyhur dari imam malik, dibolekan kawin
denga hamba sahaya Arab, dan mengenai hal ini beralasan dengan
firman Allah:

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang


laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah
orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui lagi Maha Mengenal.
Sufyan Al-Tsauri dan Imam Ahmad berpendapat bahwa wanita arab
tidak boleh kawin dengan hamba sahaya lelaki.
Imam Abu Hanifah dan para pengikutmya berpendapat bahwa
Quraisy tidak boleh kawin kecuali dengan lelaki Quraisy, dan wanita arab
tidak boleh kawin kecauli dengan lelaki arab pula.
Perbedaan pendapat ini kata Ibnu Rusyd disebabkan olwhnya
perbedaan pendapat mereka tentang mafhum(perngertian) dari sabda
Nabi SAW yang teksnya:

))





( )

Wanita itu dikawin karena agamanya, kecantikannya, hartanya, dan


keturunanya. Maka carilah wanita yang taat beragama, niscahaya akan
beruntung tangan kananmu.
Dan semua fuqaha yang berpendapat adanya penolakan nikah
karena adanya cacat, mereka akan menganggap kaselamatan dari cacat
termasuk dalam lingkup kafaah.

Dalam masalah perkawinan yang termasuk sunnah Nabi dan


membina keluarga sejahtera itu faktor agama yang seharusnya menjadi
titik beratnya, untuk mendapatkan derajat berbahagia dalam berumah
tangga.
B. RUKUN NIKAH
1. Pengertian Perkawinan
Perkawinan atau pernikahan dalam litelatur fiqh berbahasa
arab disebut dengan dua kata, yaitu nikah dan zawaj kedua kata
ini yang terpakai dalam kehidupan serari orang arab dan banyak
terdapat dalam al-quran dan hadist Nabi. Kata na-ka-ha banyak
terdapat dalam al-quran dengan arti kawin, seperti dalam. Surat
An-nisa ayat 3:







Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hakhak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka
kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau
empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil,
Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.
yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Mengandung arti hubungan kelamin bukan hanya sekedar akad


nikah karena ada petunjuk dari hadis Nabi bahwa setelah akad nikah
dengan laki-laki, kedua perempuan itu belum boleh dinikahi oleh mantan
suaminya kecuali suami yang keduna telah merasakan nikmat hubungan
kelamin dengan perempuan tersebut. Namun mengandung sebenarnya
berbeda pendapat di antara lain:
a. Golongan ulama Syafiiyah berpendapat bahwa kata nikah itu
berarti akad dalam arti yang sebenarnya(hakiki) dapatnya berarti
juga untuk hubungan kelamin.
b. Golongan ulama Hanafiah berpendapat bahwa kata nikah itu
mengandung arti secara hakiki untuk hubungan kelamin.
2. Rukun dan syarat sah perkawinan
1. Perngertain rukun, syarat dan sah
Rukun yaitu sesuatu yang mesti ada yang menentukan sah
dan tidaknya suatu pekerjaan (ibadah), dan sesuatuitu

termasuk dalam rangkaian pekerjaan itu. Sedangkan syarat


yaitu sesuatu yang mesti ada yang menentukan sah dan
tidaknya sesuatu pekerjaan (ibadah), tetapi sesuatu itu
termasuk dalam rangkain pekerjaan itu.
2. Rukun perkawina
a. Calon mempelai laki-laki
b. Calon mempelai perempuan, akad nikah akan dianggap sah
apabila seorang wali atau wakinya yang akan menikahinya,
berdasarkan sabda Nabi SAW:


(

)

Perempuan mana saja yang menikah tanpa seizin walinya,
maka
pernikahannya batal.
c. Wali.
d. 2 orang saksi.
e. Ijab kabul.
f. Mahar.
3. Syarat perkawinan
a. Wali.
b. 2 orang saksi.
c. Mahar.
d. Akad nikah.
e. Ijab dan kabul.
Wali hendaklah seorang laki-laki, muslim baligh, berakal
dan adil (tidak fasik). Perkawinan tanpa wali tidak sah,
sabda Nabi SAW:
Tidak sah perkwinan tanpa wali.

( )

3. Wali dalam perkawinan


1. Perngetian wali.
Yang dimaksud wali secara umum adalah seseorang yang
karena berwenang untuk bertindak terhadap atas ornag
lain. Dia bertindak terhadap dan atas namaorang lain adlah
karena orang lain itu memiliki kekurangan pada dirinya dan
tidak mungkin ia bertindak sendiri secara hukum baik itu
urusan harta atau atas dirinya.
2. Kedudukan wali dalam perkawinan.
Keberadaan seorang wali dalam akad nikah adlah sesautu
yang mesti dan tidak sah akad perkawinan yang tidak
dilakukan oleh wali. Wali itu ditempatkan sebagai rukun
dalam perkawinan menurut kesepakatan para ualma
secara prinsip. Orang yang menjadi wali sebagai berikut.

a. Wali nasab,yaitu wali berhubungan tali kekekluagaan


denga perempuan yang akan kawin.
b. Wali muthiq yaitu orang menjadi wali terhadap
repempuan bekas hamba sahaya yang dimerdekannya.
c. Wali hakim, yaiti orang yang menjadi wali terhadapnya
dan kedudukan sebagai hakim dan penguasa.
3. Syarat-syarat pengantin pria:
1. Calon suami beragama islam.
2. Terang (jelas).
3. Orang nya diketatui dan tertentu.
4. Calon laki-laki halal dikawini.
5. Calon perempuan halal dikawini.
6. Calon saumi rela (tidak dipaksa) untuk melakukan
perkawinan itu.
7. Tidak melakukan ihram.
8. Tidak mempunyai istri yang haram dimadu dengan
calon istri.
9. Tidak mempunyai istri empat.
4. Syarat- syarat pengantin perempuan:
1. Beragama isla atu ahli kitab.
2. Terang bahwa ia wanita, bukan khuntsa (banci).
3. Wanita itu tentu orang.
4. Halal bagi suami.
5. Wanita itu tidak dalam ikatan perkawian dan tidak masih
dalamiddah.
6. Tidak dipaksa/ikthiyar
7. Tidak dalam keradaan ihram haji atau unrah.
5. Syarat-syarat saksi.
1. Pengertian saksi
Saksi yang menghadiri akad nikah hasurlah dua orang
laki-laki, muslim, baligh, berakal, melihat dan mendengar
serta mengerti (faham) akan maksud akad nikah.
Tetapi menurut golongan Hanafi dan Hambali, boleh
juga saksi itu satu orang lelaki dan dua orang perempuan.
Dan menurut Hanafi, boleh dua orang buta atau dua
orangb fasik (tidak adil). Orang tuli, orang tidur dan orang
mabuk tidak bolehmenjadi saksi. Ada beberapa syaratsyarat saksi sebagai berikut:
a. Berakal, bukan orang gila.
b. Baliqh, bukan anak-anak.
c. Merdeka, bukan budak.
d. Islam.
e. 2 orang saksi itu mendengar.

6. Manfaat dan hikmah perkawinan


1. Dengan pernikahan maka banyaklah keturunan.
2. Keadaan hidup manusia tidak akan tentram kecuali jika
keadaan rumah tangganya teratur.
3. Laki dan perempuan adalah dua sekutu yang berfungsi
memakmurkan dunia masing-masing dengan ciri
khasnya dengan berbagai pekerjaan.
4. Sesuai dengan tabiatnya, manusia itu cenderung
mengasihi orang yang di kasihi.
5. Manusia diciptakan dengan memiliki rasa ghairah
(cenderung)
untuk
menjaga
kehormatan
dan
kemuliaanya.
6. Perkawinan
akan
memelihara
keturunan
serta
menjaganya.
7. Berbuat baik yang banyak lebih baik dari pada berbuat
baik sedikit. Pernikahan pada umumnya akan
menghasilkan keturunan yang banyak. Dalam kaitan ini
Nabi SAW:










Menikilah,niscaya kamu sekalian akan beranak pinak
dan banyak-banyaklah kamu sekalian, maka
sesungguhnya aku membanggakan dengan kalian akan
adanya umat yang banyak pada hari kiamat.
8. Manusia itu telah mati terputusnya seluruh amalan
perbuatanya yang mendatangkan rahmat dan pahala
kepadanya.Namun apabila masih meninggalkan anak
dan istri,mereka akan mendoakannya dengan kebaikan
hingga amalanya tidak terputusnya dan pahalanya pun
tidak ditolak. Anaknya yang shaleh merupakan amalnya
yang masih tertinggal meskipun dia telah mati. Sabda
Nabi SAW:



)




)





( ) )


Apabila manusia telah meninggalkan dunia, putusklah
semua amalnya, kecuali tiga perkara, sahadaqah
jariyah, atau ilmu yang bermanfaant atau anak yang
shaleh yang mendoakannya.
C. MAHAR DALAM PERKAWINAN
a. Pengertian dan hukum Mahar.

Mahar secara etimologi artinya maskawin, secara terminologi,


mahar ialahsuami untuk menimbulkan rasa cinta kasih bagi
seorang istri kepada calon suaminya. Atau suatu pemberian yang
diwajibkan bagi calon suami kepada calon istrinya, baik dalam
bentuk benda maupun jasa (memedekakan, mengajar).
Islam sangat memperhatikan dan menghargai kedudukan
seorang wanita dengan memberi hak kepadanya , diantaranya
adalah hak untuk menerima mahar (maskawin). Mahar hanya
diberikan oleh calon suami kepada calon istri, bukan kepada
wanita lainya atau siapa pun walau pun sangat dekat dengannya.
Kecuali dengan ridha dan kerelaan si istri. Allah SWT berfirman:

berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu


nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. kemudian jika
mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu
dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu
(sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.(surat annisa:4)
Imam

syafii mengatakan bahwa mahar adalah sesuatu yang


wajib diberikan oleh seorang laki-laki kepada perempuan untuk
dapat menguasai seluruh anggota badanya.
Karena mahar merupakan syarat sah pernikahan, bahkan
Imam Malik mengatakannya sebagai rukun nikah, maka hukum
memberiaknnya adalah wajib
Nabi SAW bersabda:
( )

)


Kawinlah engkau walaupun dengan maskawin cicnin dari besi.
b. Syarat-syarat Mahar
Mahar yang diberikan kepada calon istri harus memenuhi
sebagai berikut:

a.Harta/bendanya berharga. Tidak sah mahar dengan yang tidak


berharga,walaupu tidak ada ketentuan banyak atau sedikit
mahar, akan tetapi apabila mahar sedikit tetapi bernilai maka
tetap sah.
b.Barangnya suci dan bisa diambil manfaat.
c.Barangnya bukan barang ghasah.
d.Bukan barang yang tidak jelas keadaanya.
c. Kadar (jumlah) Mahar
Mengenai besarnya mahar, para fuqaha telah sepakat bahwa
bagi mahar itu tidak ada batas tertinggi. Kemudian mereka
berselisih pendapat tentang batas rendahnya.
Imam syafii, Ahamd, Ishaq, Abu Tsaur dan fuqaha madinah
dari kalangan tabiin berpendapat bahwa bagi mahar tidak ada
batas rendahanya. Segala sesuatu yang dapat menjadi harga
bagi sesuatu yang lain dapat dijadiikan mahar. Pendapat ini juga
dikemukan oleh ibnu wahab dari kalangan pengikut Imam Malik.
Sebahagian fuqaha yang lain berpendapat bahwa mahar itu
ada batas terendahnya. Imam Malik dan para pengikutnya
mmmengikutnya mengatakan bahwa mahar itu paling sedikit
seperempatdinar emas murni.atau perak seberat emas dirham,
atau bisa dengan barang yang sebanding berat emas dan perak
tersebut.
Imam Abu hanifah berpendapat bahwa paling sedikit mahar
itu adalah sepuluh dirham.
d. Memberi Mahar dengan kontan dan hutang
Pelaksanan membayar mahar bisa dilakukan sesuai dengan
kemampuan atau disesuaikan dengan keadaan dan adat
masyarakan, atau kebiasaan yang berlaku. Mahar boleh
dilaksanakan dan diberikan dengan kontan atu hutang, apakah
mau dibayar kontan sebagian dan hutang sebagian yang lain.
Kalau
memang
demikian,
maka
disunahkan
sebagian,
berdasarkan sabda Nabk SAW:
) )

) :


( )
Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi SAW melarang Ali mengumpuli
Fatimah sampai ia memberikan sesuatu kepadanya. Lalu
menjawabnya: saya tidak punya apa apa. Maka sabdanya: di
manakah baju besi Huthammiyyahmu? Lalu diberikan barang itu
kepada Fatimah.

Hadist di atas menujukkan bahwa larangan itu dimaksud


sebagai tindakakan yang lebih baik, dan secara hukum
dipandang sunnah memberikan mahar sebagain lebih dahulu.
Dalam hal ini penundaan pembayaran mahar (dihutang)
terpadat dua pendapat di kalangan ulama ahli fikih. Segolongan
ahli fikih berpendapat bahwa mahar itu tidak boleh diberikan
dengan cara dihutang keseluruhan. Segolongan lainya
mengatakan bahwa mahar boleh ditunda pembayarannya, tetapi
menganjurkan agar membayar sebagaian mahar di muka
manakala akan menggauli istri.dan para fuqaha yang
membolehkan
penundaan
mahar
(diangsur)
ada
yang
membolehkan hanya untuk tenggang waktu terbatas yang telah
ditetapkannya.
e. Macam- macam Mahar
Ulama fikih sepakan bahwa mahar itu ada dua macam, yaitu
mahar musamma dan mahar mistil (sepadan).
a.Mahar musamma
Mahar musamma yaitu mahar yang sudah disebutkan atau
dijanjikan kadar dan besarnya ketika akad nikah. Atau, mahar
yang dinyatakan kadarnya pada waktu akad nikah.
Ulama fikih sepakat bahwa dalam pelaksanaannya,
mahar musamma harus diberikan secara penuh apabila:
1. Telah tercampur (bersenggama). Tentang hal ini Allah SWT
berfirman:







Artinya: jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur
dengan mereka, Padahal Sesungguhnya kamu sudah menentukan
maharnya, Maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu
tentukan itu, kecuali jika isteri-isterimu itu mema'afkan atau
dima'afkan oleh orang yang memegang ikatan nikah[151], dan
pema'afan kamu itu lebih dekat kepada taqwa.dan janganlah kamu
melupakan keutamaan diantar kamu. sesungguh Allah maha
melihat segala apa yang kamu kerjakan.(al-baqarah:237)
b. Mahar Mistil

Mahar mistil yaitu mahar yang tidak disebut besar kadarnya


pada saat sebelum ataupun ketika terjadi pernikahan.
Mahar mistil juga terjadi dalam keadaan sebagai berikut:
1. Apabila tidak disebutkan kadar mahar dan besarnya ketika
berlangsung
akad
nikah,
kemudian
suamimtelah
bercampur dengan istri atau meniggal sebelum bercampur.
2. Jika mahar musamma belim dibayar sedangkan suami telah
bercampur istri dan ternyata nikahnya tidak sah.
Nikah yang tidak disebutkan dan tidak ditetapkan
maharnya disebut nikah tafwidh. Hal ini menurut jumhur
ulama dibolehkan. Firman Allah SWT dalam surat albaqarah:236

Artinya: tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika


kamu menceraikan isteri-isteri kamu sebelum kamu bercampur
dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. dan
hendaklah kamu berikan suatu mut'ah (pemberian) kepada mereka.
orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang
miskin menurut kemampuannya (pula), Yaitu pemberian menurut
yang patut. yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orangorang yang berbuat kebajikan.
Ayat ini menujukkan bahwa mahar seorang suami boleh
menceraikan istrinya sebelum juga ditetapkan jumlah mahar
tertentu kepada istrinya itu.Dalam hal ini, maka istri menerima
mahar mistil. Beberapa masalah yang berkiatan dengan mahar
diatur dalam kompilasi hukum islam pasal 35 sampai 38.

D. HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI ISTRI


Apabila akad nikah telah berlangsung dan sah memenuhi
syarat rukunnya, maka akan alam menimbulkan akibat hukum.
Dengan demikian, akan menimbulkan pula hak dan kewajibannya
selaku suami istri dalam keluarga.

A. Hak dan Kewajiban Suami Istri


Jika suami istri sama-sama menjalankan tanggung jawabnya
masing-masing maka akan terwujudlah ketentaraman dan
ketenangan hati, sehingga sempurnahlan kehidupan berkeluaga
akan terwujud sesuai dengan tuntutan agama, yaitu sakinah,
mawaddah, wa rahmah.
1. Hak bersama suami istri
a. Suami isrti dihalalkan saling bergaul mengadakan seks.
Perbuatan ini merukan kebutuhan suami isrti yang dihalalkan
secara timbal balik. Jadi, bagi suami istri yang halal berbuat
kepada istrinya, sebagaimana istri kepada suaminya.
b. Haram melakukan perkawinan; yaitu istri haram dinikahi oleh
ayah suaminya, datuknya (kakaknya), anaknya dan cucunya.
c. Hak Saling mendapat waris akibat dari ikatan perkawinan
yang sah, bimana seorang meninggal dunia sesuda
sempurnanya ikatan perkawinan; yang lain dapat mewarisi
hartanya, sekalipun belim pernah berhubungan seks.
d. Anaknya mempunyai nasab (keturunan) yang jelas suami.
e. Kedua belah pihak wajib bergaul (berperilaku) yang baik,
sehingga dapat melahirkan kemesraan dan kedamai dalam
hidup.
Hail ini berdasarkan firman Allah:









Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai
wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan
mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang
telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan
pekerjaan keji yang nyata. dan bergaullah dengan mereka secara
patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka
bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu,
Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (Annisa:19)

Artinya :

2. Kejiban suami istri

Dalam kompilasi hukum islam, kewajiban suami istri diatur dalam


pasal 77 sampai pasal 78.

B. HAK DAN KEWAJIABAN SUAMI TERHADAP ISTRI


1. Hak suami atas istri
Diantara beberapa hak suami terhadap istrinya, yang paling
pokoka adalah sebagai berikut:
a. Ditaati dalam hal-hal yang tidak maksiat.
b. Istrinya menjaga dirinya sendiri dan harta suami.
c. Menjauhkan diri dari mencampuri sesuatu yang dapat
menuyusahkan suami.
d. Tidak bermuka masam di hadapan suami
Lebih lanjut Rasulullah SAW menguatkan dalam sabdanya:

)







( )

Andaikata aku menyerah seseorang sujud kepada orang


lain niscaya aku perintahkan perempuan bersujud kepada
suaminya, karena, begitu besar haknya kepadanya.
Dalam Al-quan surat an-nisa ayat 34 dijelaskan bahwa istri
harus bisa menjaga dirinya, baik ketika berada di depan
suami maupun di belakang nya dan ini merupakan salah
satu ciri istri yang shalihah.




Artinya: kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh
karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas
sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah
menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita
yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri
ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara

(mereka). wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka


nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur
mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu,
Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.
Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.
2. Kewajiban Suami terhadap Istri
Dalam kompilasi hukum Islam, kewajiban suami terhadap istri
dijelaskan secara rinci sebagai berikut:
Pasal 80
1. Suami adalah pembimbing terhadap istri dan rumah tangganya.
2. Memberi nafakah.
3. Saumi wajin memberi pendidikan agama kepada istrinya.
4. Suami menanggung sesuai dengan penghasilannya:
a. Nafakah, maskawin, dan tempat kediaman bagi istri.
b. Biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan
bagi istri dan anaknya.
c. Biaya bagi pendidikan anaknya.
5. Kewajiban suami terhadap istrinya seperti tersebut pada ayat (4)
huruf a dan b.
6. Istri dapat membebaskan suaminya dari kewajiban terhadap
dirinya tersebut pada ayat (4).
7. Kewajiban saumi sebagaimana tersebut pada ayat (2).

E. KEWAJIBAN ISTRI TERHADAP SUAMI


Diantara beberapa kewajiban istri terhadap suami adalah sebagai
berikut:
1. Taat dan patuh kepada suami.
2. Istri dapat melayani suami baik secara lahir maupun secara batin
dan begitu juga sebaliknya.
3. Mengatur rumah dengan baik.
4. Menghormati keluarga suami.
5. Bersikap sopan, penuh senyum kepada suami.
6. Tidak mempersulit suami, dan selalu mendorong suami untuk maju.
7. Ridha dan syukur terhadap apa yang diberikan suami.
8. Selalu berhemat dan suka menabung.
9. Selalu berhias, bersolek untuk atau di hadapan suami.
10.
Jangan selalu cemburu buta.
Dalam kompilasi hukum Islam, kewajiban istri terhadap suami
dijelaskan sebagai berikut:
Pasal 83
Kewajiban istri
1. Kewajiban utama bagi seorang isrti ialah berbakti lahir dan batin
kepada suami di dalam batas-batas yang dibenarkan oleh hukum
islam.

2. Istri menyelenggarakan dan mengatur keperluan rumah tangga


sehari-hari dengan sebaik-baiknya.
Pasal 84
1. Istri dapat dianggap nusyuz jakia ia tidak mau melaksakan
kewajiban-kewajiabn, sebgaimana dimaksud dalam pasal 83 ayat
(1), kecuali alasan yang sah.
2. Selama isrti dalam nusyuz, kewajiban suami terhadap istrinya
tersebut pada pasal 80 ayat (4) huruf a dan b tidak berlaku
kecuali hal-hal untuk kepentingan anaknya.
3. Kewajiban suami tersebut pada ayat (2) di atas berlaku kembali
sesudah istri tidak nusyuz.
4. Ketentuan ada atau tidak adanya nusyuz dari istri harus
didasarkan atas bukti yamh sah.
F. TALAK SUNNI