Anda di halaman 1dari 2

Perilaku Penggunaan Media Televisi pada Remaja di Medan

Pasca reformasi 1998, Indonesia mengalami perubahan konfigurasi sosial,


budaya, ekonomi, politik, dan sendi kehidupan lainnya. Tidak terkecuali media
massa, terhitung ada 16 stasiun televisi dan puluhan televisi lokal yang
mengudara (data LSM KIDIA).
Persaingan antar-televisi menjadikan anak-anak dan remaja sebagai salah satu
segmentasi yang harus disasar. Tak pelak televisi sekarang menggantikan peran
orang tua dalam pengasuhan remaja, serta mengubah relasi diantara keduanya.
Jam menonton remaja juga lebih panjang dibanding jam belajar di rumah.
Televisi telah menjadi teman bagi remaja untuk menghabiskan waktu. Kebebasan
akses televisi ini juga semakin mengkhawatirkan karena remaja juga telah bebas
dalam mengakses tontonan yang tidak layak sekalipun.
Secara garis besar, remaja yang menonton televisi dibagi menjadi dua golongan,
yaitu light viewer dan heavy viewer. Penggolongan didasarkan pada asumsi
frekuensi dan intensitas menonton televisi remaja.

Light Viewer
Memperoleh pelajaran tentang

media.
Tahu tayangan

yang

boleh

Heavy Viewer
Tidak mendapat pendidikan

media.
Menganggap semua tontonan

televisi adalah sama.


Bebas
menonton

seharian

(bahkan

kegiatan

ditonton dan yang tidak boleh


-

ditonton.
Memiliki jadwal tetap menonton

(biasanya 1 jam per hari).


Didampingi orang tua dalam
menonton.

menjadi

utama harian.
Tidak
adanya

pengawasan

orang tua.

Perbedaan mencolok antara kedua terletak pada ada atau tidaknya peran
pengawasan dari orang tua. Light viewer yang menonton dengan didampingi
orang tua akan mendapatkan pencerahan ketika menonton. Saat melihat
tayangan tidak layak, orang tua akan menjelaskan bahwa hal tersebut tidak
pantas untuk ditiru.
Faktanya, ada 90% remaja yang termasuk heavy viewer yang memiliki rata-rata
waktu menonton televisi selama 5 jam sehari. Dan tayangan yang ditonton
biasanya sinetron, film lepas, dan acara hiburan lainnya. Kebanyakan dari

mereka beralasan bahwa mereka tidak menemukan kegiatan lain yang lebih
menarik dibanding menonton televisi.
Kenyataan ini tentu menjadi perhatian besar mengingat Teori Belajar yang
dikemukakan oleh Prof. Bandura, Manusia cenderung meniru, mereplikasi, dan
menganggap apa yang dilihat di media massa adalah sebuah kebenaran.
Dalam hal inilah diperlukan literasi media dengan memberi pengawasan dan
disiplin yang tegas dari orang tua terhadap anaknya. Dengan demikian
diharapkan terjadi perubahan afektif, behavioral, dan kognitif remaja dalam
menggunakan fasilitas televisi.