Anda di halaman 1dari 4

1.

Tipologi Bangunan Desa Bayung Gede Kintamani


1.1 Sakanem
Bangunan Sakaenem dalam rumah tradisional Desa Bayung Gede tergolong sederhana dilihat
dari bahan dan penyelesaiannya. Bentuk sakanem berupa segiempat panjang, dengan panjang
sekitar tigakali lebar. Luas bangunan terdiri atas 6 berjajar tiga-tiga pada ke duan sisi panjang.
Keenam tiang disatukan oleh satu bale-bale atau empat tiang pada satu bale-bale, dan dua tiang
diteben pada satu bale-bale dengan dua saka pandak. Hubungan bale-bale dengan konstruksi
perangkai sunduk waton, likah, dan galar .
Bangunan Sakanem pada rumah tradisional Desa Bayung Gede difungsikan sebagai Paon dan
Bale Sumanggen yang ditempatkan dibelakang atau di sebelah timur dari Bale Sumanggen.
Konstruksi atap bangunan ini terbuat dari bambu dengan bentuk atap pelana dengan kemiringan
atap 45.
1.2 Lumbung
Lumbung adalah bangunan tradisional Desa Bayung Gede yang berfungsi sebagai tempat untuk
menyimpan padi. Lumbung tradisional Desa Bayung Gede dapat dibedakan menjadi beberapa
jenis menurut bentuknya, yaitu :

Kelumpu
Bangunan dengan denah berbentuk segiempat dengan empat atau enam saka, dengan atap
pelana. Hasil panen dimasukkan ke ruang penyimpanan dari sisi samping bangunan.
Namun, terdapat juga kelumpu yang memiliki pintu diatas bangunan, dan untuk
memasukan hasil panenn ke dalam ruang harus menggunakan bantuan tangga. Dinding
dan selasar ruang penyimpanan terbuat dari bahan gedeg anyaman bamboo atau papan

kayu. Atap bangunan umumnya terbuat dari bambu.


Kelingking
Merupakan lumbung padi yang menggandakan dimensi atau luas ruang kelumou. Pola
ruang, bentuk, dan struktur serupa denga Kulumpu. Sesuai dengan fungsinya sebagai
tempat menyimpan hasil panen dengan beban yang cukup berat, maka dimensinya
disesuaikan dengan pembebanan, stabilitas, dn estetika. Batu sendi dan pondasi jongkok

asu ukurannya lebih besar bila dibandingkan dengan lumbung Tradisionla Bali tipe

lainnya.
Jineng
Bangunan dengan denah persegi empat dengan empat saka dengan atap pelana
melengkung. Jineng dilhat dari struktur dan konstruksinya merupakan bangunan
bertingkat dengan ruang penyimpanan padi di atas. Langki kepala tiang dengan lantai
selasar berbatas sisi dalam bentuk atap lengkung , dan balai di bagian bawah untuk
tempat duduk, istirahat, atau tempat bekerja.

1.3 Bale Sumanggen


Bale sumanggen adalah bangunan tradisional Desa Bayung Gede. Bangunan ini memiliki denah
berbentuk segiempat panjang dengan 6 buah saka (sakanem). Bale ini merupakan bale serbaguna
yang bisa digunakan untuk menerima tamu, tempat tidur, serta kegiatan-kegiatan lainnya. Bale
ini biasnya tertutup dengan menggunakan konstruksi dinding yang terbuat dari anyaman bambu.
Bale ini terletak dibelakang/disebelah timur lumbung. Atap bale sumanggen menggunakan
struktur atap pelana dengan bahan penutup atap berupa bambu.
2. Orientasi-Orientasi
2.1 Tri Angga
Konsep Tri Angga memiliki arti, Tri berarti tiga, dan Angga berarti badan, dimana Tri Angga ini
lebih menekankan pada tiga nilai fisik yaitu
1. Utama Angga (kepala)
2. Madya Angga (badan)
3. Nista Angga (kaki)
Pada Perumahan Tradisional Desa Bayung Gede, salah satu nilai Tri angga yang digunakan
adalah Hulu-Teben. Konsep Hulu-Teben yang digunakan adalah orientasi dengan Konsep sumbu
ritual Kangin-Kauh. Konsep ini menggunakan jalur peredaran matahari sebagai sumbu utama
dengan Kangin (matahari terbit)-luan, sebagai nilai utama dan Kauh (matahari terbenam)-teba,
menjadi nilai nista.
2.2 Sanga Mandala

Konsep Sanga Mandala lahir dari Sembilan manifestasi Tuhan, yaitu Dewata Nawa Sanga yang
menyebar di delapan arah mata angin dengan satu di tengah dalam menjaga keseimbangan alam
semesta. Konsep Sanga Mandala menjadi pertimbangan dalam pernzoningan kegiatan dan tata
letak bangunan Tradisional Bali. Konsep Sanga Mandala memiliki zoning Utama Mandala,
Madya Mandala dan Nista Mandala.
Pada Perumahan Tradisional Desa Bayung Gede. Konsep Sanga Mandala digunakan sebagai
zoning yang digabungkan dengan konsep Hulu Teben (kangin-kauh).

Terbit

Terbena
m
Nista

Mady
a

Utam
a

Pada bagian Nista Mandala, bangunan yang diletakkan pada zona ini adalah Lumbung. Pada
Bagian Madya Mandala, bangunan yang diletakkan adalah bangunan yang bersifat social,
ekonomi yaitu Bale Sumanggen, Natah dan Paon. Pada bagian Utama Mandala adalah tempat
dari bangunan suci dan tempat diselenggarakannya kegiatan yang bersifat sakral.

Perubahan Bentuk Bangunan Tradisional Desa Bayung Gede yang dipengaruhi Arsitektur Masa
Kini.
Arsitektur Tradisional Bali tidak luput dari perubahan yang diakibatkan perubahan jaman dan
globalisasi dan perkembangan arsitektur masa kini. Perubahan yang terjadi pada bentuk
Bangunan Tradisional Desa Bayung gede tidak terlalu besar, mengingat desa ini merupakan desa
tradisional yang masih sangat kental dengan tradisi yang diturunkan dari leluhur mereka. Adapun
beberapa perubahan bentuk yang terjadi adalah pada bangunan:

Bale Sumanggen
Bale Sumanggen pada Umah Desa Bayung Gede yang digunakan sebagai bale serbaguna
kini telah mengalami beberapa perubahan. Salah satu perubahan yang terjadi adalah
dimensi dari denah bale ini. Bale yang umumnya berukuran 3 x 4 m ini sekarang telah
memiliki ukuran yang bervariasi, yang terdapat pada beberapa umah. Dimensi denah
cenderung berubah menjadi lebih luas, dikarenakan keperluan akan tempat yang didesak
oleh kegiatan-kegiatan yang sudah tidak lagi sederhana seperti masa lampau.
Perubahan lainnya adalah perubahan bentuk atap dari atap pelana menjadi limas .
Perubahan bentuk atap diakibatkan dari perubahan dimensi denah yang dulunya relative
sempit menjadi lebih luas. Bentuk atap pelana dengan sudut kemiringan 45 yang curam
sudah tidak lagi cukup untuk mengatasi tritis air hujan, sehingga digunakanlah atap
limasan dengan sudut kemiringan 38, sehingga terdapat overstek yang cuku untuk

mengatasi tritis air hujan.


Paon
Paon pada Umah Desa Bayung gede digunakan sebagai tempat melakukan kegiatan
masak memasak. Paon Tradisional ini mengalami beberapa perubahan yang mirip dengan
Bale Sumanggen. Beberapa umah yang terdapat di Desa Tradisional Bayung Gede
mengalami perubahan yang mencolok pada bagian atap. Bentuk atap yang dulunya
berbentuk limasan sekarang berubah menjadi bentuk limasan yang dikarenakan
perubahan dimensi paon dan pengaruh tritis air hujan.