Anda di halaman 1dari 7

HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DENGAN PRESTASI BELAJAR ANAK

KELAS 4 DAN 5 SEKOLAH DASAR DI KELURAHAN MAASING


KECAMATANTUMINTINGKOTA MANADO
Creisye Cynthia Agustini*, Nancy S.H. Malonda*, Rudolf B. Purba**
*Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sam Ratulangi
**Akademi Gizi, Poltekes Kemenkes Manado

ABSTRAK
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar anak adalah status gizi. Anak-anak yang stunting
(pendek) karena kurang gizi ternyata lebih banyak yang terlambat masuk sekolah, lebih sering absen, dan tidak
naik kelas . Lebih dari sepertiga (36,1 %) anak di Indonesia tergolong pendek ketika memasuki usia sekolah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan prestasi belajar anak kelas 4 dan 5
Sekolah Dasar di Kelurahan Maasing Kecamatan Tuminting Kota Manado.
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain penelitian Cross sectional
study, dilaksanakan bulan Januari sampai bulan Agustus 2013. Populasi anak kelas 4 dan 5 SD yang berjumlah
86 anak. Jumlah sampel penelitian 61 anak yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengambilan data
dilakukan dengan wawancara, pengukuran berat dan tinggi badan, pengumpulan data nilai semester akhir mata
pelajaran matematika dari masing-masing wali kelas. Analisis data menggunakan uji Korelasi Spearman dengan
bantuan aplikasi SPSS.
Hasil analisis statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara status gizi dengan
prestasi belajar. Disarankan pada orang tua dan guru untuk memberi pengetahuan tentang gizi pada anak agar
selalu mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi seimbang dan memberikan motivasi belajar demi
peningkatan prestasi belajar anak.
Kata Kunci: Prestasi Belajar, Status Gizi, Anak Sekolah Dasar Kelas 4 dan 5.

ABSTRACT
One of the factorsthatcaninfluence thelearning achievement of childrenisnutritionalstatus. Children who
arestunted(short) due to malnutritionwere morewho are lateto school, moreoftenabsent, andnotthe next grade.
More than a third(36.1%) childreninIndonesiais short whenenteringschoolage. This study aimstodetermine the
relationshipbetweennutritionalstatusand the learning achievementof elementary school childrengrade 4and5in the
VillageDistrictMaasingTumintingManadoCity.
This study isobservationalanalyticstudy designCross-sectional study, conductedfrom January toAugust
2013. Populations4and5gradersSDtotaling86 children. Total sample61 childrenwhomeet theinclusion and
exclusion criteria. Data were collected byinterview, weight and heightmeasurements, data collectionfinalsemester
grademath
subjectsfromeachhomeroom.
Data
analysisusingSpearmancorrelationtestwiththe
help
ofSPSSapplications.
Statistical analysisshowed nosignificant associationbetweennutritionalstatuswithacademic achievement.
Advisedtheparents
andteacherstogiveknowledgeabout
nutritionin
childrento
alwayseating
healthy
foodsandnutritionally balancedandprovidemotivation to learnin order to improvechildren's learningachievement.

Key word :

Learned achievement, Nutrient state, Elementary School child brazes 4 and 5.

PENDAHULUAN
1

Gizi merupakan salah satu faktor penentu utama


kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).Upaya
peningkatan SDM yang berkualitas dimulai
dengan cara penanganan pertumbuhan anak
sebagai bagian dari keluarga dengan asupan gizi
dan perawatan yang baik (Adisasmito, 2012).
Pemberian gizi yang kurang baik terutama
terhadap anak-anak, akan menurunkan potensi
sumber
daya
pembangunan
masyarakat
(Cakrawati& Mustika, 2012).
Rendahnya status gizi anak akan
membawa dampak negatif pada peningkatan
kualitas sumber daya manusia. Belum
sepenuhnya konklusif, namun diyakini bahwa
kurang gizi kronis berhubungan erat dengan
pencapaian akademik murid sekolah yang
semakin rendah.Anak-anak yang stunting
(pendek) karena kurang gizi ternyata lebih
banyak yang terlambat masuk sekolah, lebih
sering absen, dan tidak naik kelas (Khomsan,
2012). Lebih dari sepertiga (36,1 %) anak di
Indonesia tergolong pendek ketika memasuki
usia sekolah. Di Sulawesi Utara angka kejadian
stunting berdasarkan Riskesdas 2007 yaitu 31,2%
dan berdasarkan Riskesdas 2010 menurun
menjadi 27,7% .
Prestasi belajar siswa bukan semata-mata
karena kecerdasan siswa saja tetapi ada faktor
lain yang dapat mempengaruhi prestasi belajar
tersebut.Faktor-faktor
yang
mempengaruhi
prestasi belajar siswa adalah faktor internal yang
meliputi faktor fisiologis dan psikologis, dimana
status gizi termasuk faktor fisiologis tersebut,
faktor eksternal, dan faktor pendekatan belajar.
(Syah, 2010)
Status gizi terbagi atas gizi baik, gizi
kurang, dan gizi lebih. Status gizi masyarakat
ditentukan oleh makanan yang dimakan, hal
tersebut dipengaruhi oleh ketersediaan pangan di
masyarakat, serta faktor lain yang mempengaruhi
status gizi yaitu pelayanan kesehatan,
kemiskinan, pendidikan, sosial budaya, dan gaya
hidup (Cakrawati& Mustikia,2012).Antropometri
adalah pengukuran yang paling sering digunakan
sebagai metode penilaian status gizi. Beberapa
indeks antropometri antara lain BB/U, TB/U,
BB/TB, IMT/U (Supariasa dkk, 2002).
Banyak penelitian menunjukan bahwa
status
gizi
anak sekolah
yang
baik
akanmenghasilkan derajat kesehatan yang baik
dan tingkat kecerdasannya yang baik pula.

Sebaliknya, status gizi yang buruk menghasilkan


derajat kesehatan yang buruk, mudah terserang
penyakit, dan tingkat kecerdasan yang kurang
sehingga prestasi anak di sekolah juga kurang
(Devi, 2012).Penelitian yang dilakukan oleh
Krisnawati dkk tentang hubungan status gizi
dengan prestasi belajar anak kelas 1 Sekolah
Dasar Negeri Trosobo II Sidoarjo menyimpulkan
bahwa terdapat hubungan antara status gizi
dengan prestasi belajar siswa kelas 1 SDN
Trosobo II Sidoarjo. Fithia dkk juga
menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang
bermakna antara status gizi anak dengan
kemampuan kognitif anak Sekolah Dasar di
daerah endemik GAKI dalam penelitiannya
tentang hubungan antara status gizi dan faktor
sosiodemografi dengan kemampuan kognitif
anak Sekolah Dasar di daerah endemis GAKI.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas
peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan
antara status gizi dengan prestasi belajar
anakkelas 4 dan 5 Sekolah Dasar di Kelurahan
Maasing Kecamatan Tuminting Kota Manado.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian observasional
analitik dengan rancangan cross sectional, untuk
menganalisis hubungan antara status gizi dengan
prestasi belajar pada anak Sekolah Dasar kelas 4
dan 5 di Kelurahan MaasingKecamatan
Tuminting Kota Manado, inidilaksanakan pada
bulan Januari sampai bulan Mei 2013 di Sekolah
Dasar yang ada di Kelurahan Maasing
Kecamatan Tuminting Kota Manado. Populasi
berjumlah 86 orang dan jumlah sampel adalah 61
orang. Adapun responden yang diambil untuk
memenuhi kriteria inklusi, yaituaktif bersekolah
di Sekolah Dasar yang ada di Kelurahan Maasing
Kecamatan Tuminting Kota Manado dan siswa
kelas 4 dan 5 Sekolah Dasar. Selanjutnya kriteria
eksklusi dalam penelitian ini adalah tidak hadir
saat dilakukan penelitian dan sakit saat dilakukan
penelitian.
Penelitian
ini
menggunakan
kuesioner, alat ukur tinggi badan (microtoice),
timbangan digital merek seca, standar baku
rujukan
National Centre Health Statistic
(NCHS),
dan
program
SPSS
versi
19.00instrumen penelitian. Analisis data dalam
penelitian ini dilakukan dalam dua macam
analisis, yaitu analisis univariat mengenai
karakteristik responden dan variabel penelitian
2

dan analisis bivariat melihat hubungan antara


status gizi dengan prestasi belajar pada anak
kelas 4 dan 5 Sekolah Dasar di Kelurahan
Maasing Kecamatan Tuminting Kota Manado,
menggunakan uji Korelasi Spearman dengan
=0,05 dan skala pengukuran yaitu skala Ordinal.

Status Gizi
Status
Gizi
BB/U

Gizi Lebih
Gizi Baik
Gizi Kurang
Gizi Buruk
Status Tinggi
Gizi
Normal
TB/U
Pendek
Sangat Pendek
Status Gemuk
Gizi
Normal
BB/TB
Kurus
Sangat Kurus
Status Obesitas
Gizi
Gemuk
IMT/U
Normal
Kurus
Sangat Kurus

HASIL DAN PEMBAHASAN


Responden dalam penelitian ini adalah
anak kelas 4 dan 5 Sekolah Dasar di Kelurahan
Maasing. Jumlah populasi dalam penelitian ini
sebanyak 86 anak, namun yang menjadi subjek
dalam penelitian sebanyak 61 anak. Responden
dengan usia 10 tahun paling banyak yaitu 22
anak (36,1 %), sedangkan responden dengan usia
8 tahun paling sedikit yaitu 4 anak (6,6 %).
Karakteristik responden
menurut
tingkat
pendidikan orang tua, paling banyak anak
memiliki ayah dengan tingkat pendidikan SD (41
%) dan paling sedikit anak memiliki ayah
dengan tingkat pendidikan SMA (14,8 %),
sedangkan tingkat pendidikan ibu yangpaling
banyak adalah tidak sekolah (44,3 %) dan tingkat
pendidikan SMP yang paling sedikit yaitu (9,8
%).Pekerjaan orang tua yang paling banyak
adalah pedagang kecil yaitu (49,2 %) dan yang
paling sedikit yaitu PNS sebanyak (3,3 %),
sedangkan penghasilan orang tua per Bulan
kurang dari Rp 1.550.000 sebanyak (96,7 %) dan
penghasilan orang tua lebih dari Rp 1.550.000
adalah (3,3 %).
Status gizi responden berdasarkan BB/U
paling banyak adalah gizi baik sebanyak 51 anak
(83,6 %), sedangkan paling sedikit yaitu gizi
lebih sebanyak 2 anak (3,3 %).Kemudian Status
gizi responden berdasarkan TB/U paling banyak
adalah status gizi normal sebanyak 54 anak (88,5
%), sedangkan paling sedikit yaitu sangat pendek
sebanyak 3 anak (4,9 %). Selanjutnya, Status gizi
responden berdasarkan BB/TB paling banyak
adalah status gizi normal yaitu 56 anak (91,8 %),
sedangkan paling sedikit adalah gemuk yaitu 2
anak (3,3 %). Kemudian, Status gizi responden
berdasarkan IMT/U paling banyak adalah status
gizi normal yaitu 46 anak (75,4 %), sedangkan
paling sedikit adalah sangat kurus yaitu 2 anak
(3,3 %), lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.

Kelas
4
5
1
1
24 27
4
4
0
0
0
0
25 29
3
1
1
2
1
1
26 30
2
1
0
0
0
0
2
3
24 22
2
6
1
1

2
51
8
0
0
54
4
3
2
56
3
0
0
5
46
8
2

3,3
83,6
13,1
0
0
88,5
6,6
4,9
3,3
91,8
4,9
0
0
8,2
75,4
13,1
3,3

Prestasi belajar responden baik yaitu


sebanyak 50 anak (81,96 %), sedangkan yang
kurang adalah sebanyak 11 anak (18,04 %), lebih
jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Prestasi BelajarResponden Penelitian
Prestasi Belajar
n
%
Kurang
Baik
Total

11
50
61

18,04
81,96
100

Hasil uji menunjukan bahwa tidak terdapat


hubungan antara status gizi berdasarkan BB/U
dengan prestasi belajar, dengan melihat nilai
signifikansi diperoleh nilai >0,05 (0,489)
dengan kekuatan korelasi sangat lemah dan arah
korelasi negatif, lebih jelasnya dapat dilihat pada
Tabel 3.

Tabel 3. Hubungan antara status gizi berdasarkan


BB/U dengan prestasi belajar

Tabel 1. Status Gizi Responden Penelitian


3

Status
Gizi
BB/U
Gizi
Kurang
Gizi Baik
Gizi
Lebih

Prestasi Belajar
Kurang
Baik
n %
n
%
1

12,5

17,6 42 82,4

50

-0,09

0,489

Anak yang menderita (pendek) stunting


berdampak tidak hanya pada fisik yang lebih
pendek saja, tetapi juga pada kecerdasan,
produktivitas dan prestasinya. Selain itu, Stunting
akan sangat mempengaruhi kesehatan dan
perkembangan anak. Faktor dasar yang
menyebabkan stunting dapat mengganggu
pertumbuhan dan perkembangan intelektual
(Unicef Indonesia, 2012). Sementara dalam
penelitian ini terdapat anak yang pendek yaitu
11,5 %. Hasil penelitian ini sama dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Mohamad (2011)
tentang
hubungan
kesegaran
jasmani,
hemoglobin, status gizi, dan makan pagi terhadap
prestasi belajar yang menyimpulkan bahwa tidak
ada hubungan yang bermakna antara status gizi
dengan prestasi belajar siswa kelas VIII MTs Al
Asror Kecamatan Gunungpati Kota Semarang.
Selanjutnya hasil uji menunjukan bahwa
Tidak terdapat hubungan antara status gizi
berdasarkan BB/TB dengan prestasi belajar,
dengan melihat nilai signifikansi diperoleh nilai
>0,05 (0,220) dengan kekuatan korelasi sangat
lemah dan arah korelasi negatif, lebih jelasnya
dapat dilihat pada Tabel 5.

87,5

50

Menurut Supariasa (2002) indeks BB/U


lebih menggambarkan status gizi seseorang saat
ini (current nutrition status), sedangkan teori lain
mengatakan bahwa hampir 70% pembentukan sel
otak terjadi sejak janin masih dalam kandungan
sampai anak berusia 2 tahun. Jika otak
mengalami hambatan pertumbuhan, jumlah sel
otak, serabut sel otak, dan penghubung sel otak
berkurang (Dirjen Bina Gizi dan Kia,
2011).Menurut Willis (2012) Perkembangan
intelektual anak juga dapat dipengaruhi oleh
stimulasi dan sarana, dimana yang dimaksud
stimulasi yaitu pemberian pendidikan yang baik
kepada anak oleh orang tua dan tersedianya
sarana yaitu alat - alat yang dapat mendukung
pendidikan anak. Hasil penelitian ini sama
dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Tumondo (2006) bahwa tidak ada hubungan
antara status gizi berdasarkan BB/U dengan
prestasi belajar siswa di SD Negeri Tetey dan SD
Advent Kolongan.
Selanjutnya hasil uji menunjukan bahwa
tidak terdapat hubungan antara status gizi
berdasarkan BB/U dengan prestasi belajar,
dengan melihat nilai signifikansi diperoleh nilai
>0,05 (0,489) dengan kekuatan korelasi sangat
lemah dan arah korelasi negatif, lebih jelasnya
dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 5. Hubungan status gizi berdasarkan


BB/TB dengan prestasi belajar
Prestasi Belajar
Status
Gizi
BB/TB
Kurus
Normal
Gemuk

Penelitian ini tidak sejalan dengan


penelitian yang dilakukan oleh Hamid dkk (2011)
yang menyimpulkan bahwa ada hubungan antara
faktor jenis kelamin, umur, dan status gizi dengan
kemampuan akademik dan fungsi kognitif anak
Sekolah Dasar di Malaysia. Demikian juga
dengan penelitian yang dilakukan oleh karina dkk
(2001) tentang hubungan jumlah asupan
karbohidrat dan protein dalam makanan dengan
kemampuan kognitif dimana status gizi sebagai
variabel antara sebab status gizi dipengaruhi oleh
asupan, disimpulkan bahwa sarapan pagi yang
mengandung karbohidrat dan protein yang cukup
akan membantu fungsi kognitif yang lebih baik.

Tabel 4. Hubungan status gizi berdasarkan TB/U


dengan prestasi belajar
Prestasi Belajar
Status
Gizi
TB/U
Sangat
Pendek
Pendek
Normal

Kurang
n
%

Baik
n
%

3
8

Kurang
Baik
r

n
%
n
%
0
0
3 100
10 17,9 46 82,1 -0,159 0,220
1
50
1
50

100

75
1
25 0,075 0,565
14,8 46 85,2

Intelegensi siswa juga dipengaruhi oleh


faktor siswa sendiri yaitu keluarganya, sekolah,
dan
tempat
dia
bermain
(Willis,
2012).Selanjutnya, yang termasuk lingkungan
sosial siswa adalah masyarakat dan tetangga juga
teman teman sepermainan dari siswa tersebut
(Syah, 2010). Kondisi masyarakat di lingkungan
kumuh, serba kekurangan, dan tingkat pendidikan
orang tua yang rendah, akan sangat
mempengaruhi aktivitas belajar siswa. Siswa
tersebut akan menemukan kesulitan ketika
memerlukan teman belajar atau berdiskusi dan
ketika akan meminjam alat alat belajar tertentu
yang kebetulan belum dimilikinya.
Berdasarkan
hasil
penelitian
menyimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan
antara status gizi berdasarkan IMT/U dengan
prestasi belajar, dengan melihat nilai signifikansi
diperoleh nilai >0,05 (0,258), lebih jelasnya
dapat dilihat pada Tabel 6.

pendekatan belajar yang sederhana dan tidak


mendalam. Sebaliknya, seorang siswa yang
berintelegensi tinggi dan mendapat dorongan
positif dari orang tuanya, mungkin akan memilih
pendekatan belajar yang lebih mementingkan
kualitas hasil pembelajaran (Syah, 2010).
Hasil penelitian ini juga tidak sesuai
dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Krisnawati dkk (2009) bahwa ada hubungan
antara status gizi dengan prestasi belajar
siswa.Hal ini disebabkan terdapat perbedaan
dalam penelitian ini dengan penelitian yang
dilakukan oleh Krisnawati yaitu dalam hal
instrumen yang digunakan untuk pengambilan
data, dimana peneliti dalam penelitian ini
menggunakan indeks antropometri IMT/U untuk
menentukan status gizi sedangkan pada penelitian
yang dilakukan oleh Krisnawati menggunakan
KMS (kartu menuju sehat). Menurut Arisman
(2010) kartu menuju sehat berfungsi sebagai alat
bantu pemantauan gerak pertumbuhan, bukan
penilaian status gizi.
Peneliti menduga bahwa faktor lingkungan
yang paling berpengaruh terhadap prestasi belajar
siswa, terutama lingkungan keluarga siswa itu
sendiri. Dimana dari hasil penelitian yang
dilakukan bahwa pekerjaan orang tua sebagian
besar adalah pedagang kecil (49,2%) yang
berjualan di pasar tentu mengakibatkan terbatas
waktu anak bersama-sama dengan orang tuanya.
Ditambah lagi latar belakang pendidikan orang
tua yang masih rendah, apabila orang tua juga
tidak menyadari pentingnya pendidikan bagi anak
maka akan mengurangi motivasi dan dukungan
bagi siswa itu sendiri dalam proses belajar.

Tabel 6. Hubungan status gizi berdasarkan


IMT/U dengan prestasi belajar
Prestasi Belajar
Status
Gizi
IMT/U
Sangat
Kurus
Kurus
Normal
Gemuk

Kurang
n
%

Baik
n
%

100

0
0
8 100 -0,147 0,258
10 21,7 36 78,3
1
20
4
80

Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil


penelitian yang dilakukan oleh Zulaihah dan
Widajanti (2006) tentang hubungan kecukupan
asam
Eikosapentanoat
(EPA),
asam
Dokosaheksanoat (DHA) ikan dan status gizi
dengan
prestasi
belajar
siswa
yang
menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang
signifikansi antara status gizi dengan prestasi
belajar. Hal ini menyatakan bahwa status gizi
berdasarkan IMT/U bukan satu-satunya faktor
yang mempengaruhi prestasi belajar anak, karena
masih banyak faktor lain yang tidak diteliti dalam
penelitian ini yang dapat mempengaruhi prestasi
belajar seperti lingkungan, aspek psikologis dan
faktor pendekatan belajar. Seorang siswa yang
bersikap conserving(apatis) terhadap ilmu
pengetahuan biasanya cenderung mengambil

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada
anak kelas 4 dan 5 Sekolah Dasar di Kelurahan
Maasing Kecamatan Tuminting Kota Manado,
dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar anak
baik yaitu sebanyak 50 anak (81,96 %),
sedangkan yang kurang sebanyak 11 anak (18,04
%), status gizi anak berdasarkan BB/U paling
banyak adalah gizi baik sebanyak 51 anak (83,6
%), sedangkan paling sedikit yaitu gizi lebih
sebanyak 2 anak (3,3 %), status gizi anak
berdasarkan TB/U paling banyak adalah status
gizi normal sebanyak 54 anak (88,5 %),
sedangkan paling sedikit yaitu sangat pendek
sebanyak 3 anak (4,9 %), status gizi anak
5

berdasarkan BB/TB paling banyak adalah status


gizi normal yaitu 56 anak (91,8 %), sedangkan
paling sedikit adalah gemuk yaitu 2 anak (3,3 %),
selanjutnya status gizi anak berdasarkan IMT/U
paling banyak adalah status gizi normal yaitu 46
anak (75,4 %), sedangkan paling sedikit adalah
sangat kurus yaitu 2 anak (3,3 %).Selanjutnya
hasil penelitian menunjukan bahwa, tidak
terdapat hubungan yang bermakna antara status
gizi berdasarkan BB/U dengan prestasi belajar
anak kelas 4 dan 5 Sekolah Dasar di Kelurahan
Maasing Kecamatan Tuminting Kota Manado.
Kemudian, tidak terdapat hubungan yang
bermakna antara status gizi berdasarkan TB/U
dengan prestasi belajar anak kelas 4 dan 5
Sekolah Dasar di Kelurahan Maasing Kecamatan
Tuminting Kota Manado, selanjutnya tidak
terdapat hubungan yang bermakna antara status
gizi berdasarkan BB/TB dengan prestasi belajar
anak kelas 4 dan 5 Sekolah Dasar di Kelurahan
Maasing Kecamatan Tuminting Kota Manado,
selanjutnya tidak terdapat hubungan yang
bermakna antara status gizi berdasarkan IMT/U
dengan prestasi belajar anak kelas 4 dan 5
Sekolah Dasar di Kelurahan Maasing Kecamatan
Tuminting Kota Manado.

DAFTAR PUSTAKA
Adisasmito, W. (2012) Sistem Kesehatan. Jakarta
: PT. Raja Grafindo Persada.
Arisman, MB. (2010) Gizi Dala Daur Kehidupan.
Jakarta : EGC
Cakrawati, D dan Mustika, NH. (2012) Bahan
Pangan, Gizi, dan Kesehatan. Bandung :
Alfabeta.
Devi, N. (2012) Gizi Anak Sekolah. Jakarta:
Kompas.
Dirjen Bina Gizi dan KIA. (2011)Umur Sama,
Tinggi Badan Berbeda, [Internet]. Tersedia
dalam<http://www.gizikia.depkes.go.id/archi
ves/terbitan/umur-samatinggi-badanberbeda# more-3143>[diakses 19 April 2013]
Fathia, DP, Sudargo, T, Gamayanti, IL.(2011)
Hubungan antara Status Gizi dan Faktor
Sosiodemografi
dengan
Kemampuan
Kognitif Anak Sekolah Dasar di Daerah
Endemis GAKY.Jurnal Gizi Indonesia,
[Internet] Vol.34 (1) hal 52-60. Tersedia
dalam
<http://www.persagi.org/document/makalah/
192_makalah.pdf> [di akses pada 14 Juli
2013]

SARAN
Disarankan pada orang tua dan guru untuk
memberi pengetahuan tentang gizi pada anak
agar selalu mengkonsumsi makanan yang sehat
dan bergizi seimbang.Selanjutnya, perlu adanya
kerjasama dari orang tua dan pihak sekolah untuk
terus mengontrol dan memberikan motivasi
belajar pada anak dan menjadikan prestasi belajar
anak sebagai tanggung jawab bersama.
Kemudian, sebaiknya dilakukan penelitian lebih
lanjut dengan penambahan jumlah sampel dan
variabel lain yang mempengaruhi prestasi belajar
yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Hamid, J, Akmal, KM, Hasmiza, H, Pim, CD,


Ng, LO, & Wan Manan, WM. (2011) Effect
Of Gender and Nutritional Status on
Academic Achievement and Cognitive
Funcsion Among Primary School Children in
a Rular District in Malaysia. Mal J Nutr,
[Internet] Vol.17 (2) pp 189-200. Avaible
from
<http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2230
3573> [Accessed 14 July 2013]
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
(2010)
Riset
Kesehatan
Dasar
(RISKESDAS), [Internet] tersedia dalam
<http://www.riskesdas.litbang.depkes.go.id/d
ownload/TabelRiskesdas2010.pdf > [diakses
27 Maret 2013]

Khomsan, A. (2012) Ekologi Masalah Gizi,


Pangan,
dan
Kemiskinan.Bandung
:
Alfabeta.
Krisnawati, Soelistyowati, E, Itiyati, A. (2009)
Hubungan Status Gizi dengan Prestasi
Belajar Anak Kelas 1 Sekolah Dasar Negeri
Trisobo II Sidoarjo .Jurnal Keperawatan
Vol. II No. 3, [Internet] trsedia dalam
<http://digilib.poltekkesdepkessby.ac.id/view.php?id=255> [diakses 14 Juli
2013]
Mohamad, A. (2011) Hubungan Kesegaran
Jasmani, Hemoglobin, Status Gizi, dan
Makan Pagi terhadap Prestasi Belajar.Jurnal
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol. I
Edisi
2,
[Internet]
tersedia
dalam
<http://www.google.com/url?q=http://journal
.unnes.ac.id/nju/index.php/miki/article>
[diakses 14 Juli 2013]
Supariasa, IDN, Bakri, B, Fajar, I. (2002)
Penilaian Status Gizi.Jakarta: EGC.
Syah, M. (2010) Psikologi Belajar.Jakarta : PT
Raja Grafindo Persada.
Tumondo, D. (2006) Hubungan status gizi
dengan prestasi belajar anak sekolah di SD
Negeri
Tetey
dan
SD
Advent
Kolongan.Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Manado
Unicef Indonesia. (2012) Ringkasan Kajian Gizi
Ibu dan Anak.[Internet] tersedia dalam
<http://www.unicef.or.id> [diakses 19 April
2013]
Willis, S. (2012) Psikologi Pendidikan. Bandung
: Alfabeta