Anda di halaman 1dari 9

ADEGAN 1

Disebuah kampung terpencil di Pulau Sumatera hiduplah seorang pemuda yang


gagah nan soleh yang bernama Hamid. Hamid adalah pemuda minangkabau yang
dibesarkan di suatu kampung berlafaskan islam tanpa sosok seorang ayah. Hamid
dan ibunya yang miskin banyak ditolong oleh keluarga Haji Jafar yaitu orang terkaya
di tanah minangkabau.
(Hamid, Rosna, Soleh, dan Zainab sedang mengaji di surau)
Haji Jafar
: Assalamualaikum..
Semua
: Waalaikumsalam..
Haji Jafar
: Zainab (menepuk pundak Zainab) bacalah yang betul!
Rosna
: Betul itu Haji Jafar, sedari tadi Zainab hanya memperhatikan
Hamid saja.
Zainab
: Kau ini Rosna, urus saja calon suamimu si soleh itu!
Haji Jafar
: Sudah.. Sudah.. Kalian ini bergurau saja. Jum teruskan bacaan
kalian!
(semua pemain keluar dari pementasan)
ADEGAN 2
Zainab adalah putri semata wayang Haji Zafar dan Amak Aisyah. Zainab adalah
gadis yang lembut dan patuh pada kedua orang tuanya. Sampai skenario itupun
dimulai.
(Amak Aisyah, Haji Jafar, dan Zainab sedang makan bersama)
Amak Aisyah : Zainab, kau itu sudah cukup umur untuk menikah (melihat manja
pada Zainab)kalau begini terus kapan lengan amak mu ini menimang-nimang cucu
dari kau?
Haji Jafar
: Betul yang dikatakan amak kau. Abah ini sudah tua, abah takut
kalau abah tak bisa melihat pernikahan putri semata wayang abah.
Zainab
: Hush, abah tak boleh bercakap macam itu. (memandang pada Haji
Jafar)Bukankah abah sendiri yang ucap bahwa ucapan yang keluar dari mulut
kita adalah doa kepada Allah swt. (nada sedih) Abah tak boleh berucap macam itu
lagi!
Haji Jafar
: Iya Zainab anak abah yang terpandai.
Amak Aisyah : (nada gembira) Zainab sebenarnya kau sudah amak dan abah
jodohkan dengan sahabat abah kau yang berasal dari Pasundan.
Zainab
: (membentak) Amak, abah, Zainab tak setuju! Zainab hanya akan
menikah dengan pria yang Zainab cintai. Bukan dengan pria yang bahkan Zainab
tak tahu namanya.
Amak Aisyah : Kau berteriak pada amak Zainab? (menangis) Sakit hati amak
mendengar kau berteriak pada amak. (terisak-isak) Padahal amak hanya ingin
Zainab menikah dengan pria yang bisa menjadi imam di keluarga kau Zainab.
Apa amak salah mengkhawatirkan jadoh dari putri semata wayang amak?

Haji Jafar
: Mohon maaf pada amak kau sekarang!
Zainab
: Astagfirullahaladzim. Amak, Zainab mohon maaf yang sebesarbesarnya atas ucapan Zainab tadi. Zainab tak ada maksud menyakiti hati
amak. (menggenggam tangan Amak Aisyah)
Haji Jafar
: Nah, seharusnya seperti ini amak dan anak. Kalau begitu abah
pergi tidur sajalah.(keluar dari pementasan)
Zainab
: Amak, Zainab mohon jangan usik masalah perjodohan itu dekatdekat ini.Sebab penatlah kepala Zainab.
Amak Aisyah : Baiklah esok saja kita bahas perjodohan ini.
(semua pemain keluar dari pementasan)
ADEGAN 3
Mentari pun telah menyongsong pagi, menandakan hari hendak merangkak siang.
Haji Jafar pulang dari surau selepas shalat subuh berjamaah.
Haji Jafar
: Assalamualaikum..
Amak Aisyah : Waalaikumsalam..
Haji Jafar
: Sepertinya badan abah ini sedang tak enak.
Amak Aisyah : Yasudah abah istirahatlah di bilik. Nanti amak bawakan teh manis
hangat.
Haji Jafar
: Baiklah abah istirahat dulu. (berbaring diatas kasur)
Zainab
: Amak, abah sudah pulang dari surau?
Amak Aisyah : Sudah, tapi abah kau sedang istirahat di bilik. Tak enak badan
katanya.
Rosna
: Assalamualaikum..
Semua
: Waalaikumsalam..
Rosna
: (salim pada Amak Aisyah) Amak nasi uduk ini masih hangat lho.
Amak Aisyah : Alhamdulillah, enak sangat pasti ini. Ini duitnya. (memberi uang
pada Rosna)
Rosna
: Tapi ini lebih sangat amak. Awak tak ada kembaliannyo.
Amak Aisyah : Tak apalah Rosna. Untuk kau saja duit itu.
Rosna
: Terimakasih amak.
Amak Aisyah : Sama-sama. Amak nak ke dapur dulu yo. (keluar dari
pementasan)
Rosna
: Zainab kenapa mata kau sendu sangat?
Zainab
: Awak nak dijodohkan oleh orang tua awak.
Rosna
: Dengan siapa Zainab?
Zainab
: Jangankan namanya, rupanya pun tak pernah awak lihat.
Rosna
: Kau pasti bisa melewati ini Zainab. Ingatlah Allah tak pernah
memberikan cobaan yang tak bisa dilewati oleh hambanya. Tawakalah, seringlah
memuji nama Allah.
Zainab
: Kau enak bicara macam itu. Sebentara lagi kau kan nak menikah
dengan Soleh. Walaupun dia jelek sangat, tapi kau mencintainya kan?
Rosna
: Dipandangan awak, Soleh adalah pria yang rupawan. Memang

betul Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita
inginkan. (senyum-senyum sendiri)
Zainab
: Centil sangat kawan awak.
Rosna
: Lalu bagaimana hubungan kau dengan Hamid?
Zainab
: Entahlah, awak tak yakin Hamid mencintai awak.
Rosna
: Bagaimana bisa yakin, kau ungkapkan perasaan kau juga tak.
Zainab
: Malulah awak ungkapkan dahulu.
Rosna
: Kau ini sungguh aneh.
Zainab
: Tapi bagaimana cara awak ungkapkannya?
Rosna
: Tulislah surat pada Hamid.
Zainab
: Terimakasih kau telah dengarkan curahan hati awak.
Rosna
: Sama-sama. Kalau begitu awak pulang yo, sampaikan salam awak
pada Amak Aisyah.
Zainab
: Iya, insya allah awak sampaikan.
Rosna
: Assalamualaikum..
Zainab
: Waalaikumsalam..
(semua pemain keluar dari pementasan)
ADEGAN 4
Setiap harinya Hamid bekerja di ladang milik Haji Jafar. Namun, hari ini mentari
sudah mulai bergulir tapi Haji Jafar belum juga datang ke ladang. Hamid pun
menengok Haji Jafar ke rumahnya.
(Amak Aisyah sedang mengaduk-ngaduk teh manis)
Hamid
: Assalamualaikum Amak Aisyah.
Amak Aisyah : Waalaikumsalam (Hamid salim pada Amak Aisyah)
Hamid
: Abah ada amak?
Amak Aisyah : Abah ada. Tapi sepertinya abah tak ke ladang hari ini. Abah tengah
tak enak badan.
Hamid
: Yasudahlah terimakasih amak. Awak hendak ke ladang dulu.
Amak Aisyah : Kau ini buru-buru sangat. Disini sajalah dulu.
Hamid
: Tapi amak..
Amak Aisyah : Ayo wang makan dulu.
Hamid
: Tak usah repot-repot amak, Hamid sudah makan tadi.
Amak Aisyah : Pasti amak wang yang masakan beliau itu memang pandai betul
memasak.
Hamid
: Amak awak memang hebat ternyata.
Amak Aisyah : Hamid wang kan sudah amak anggap keluarga sendiri. Amak boleh
minta tolong sesuatu?
Hamid
: Selama hal itu bisa Hamid lakukan, Hamid akan lakukan.
Amak Aisyah : Wang bujuklah Zainab agar mau dijodohkan dengan pria yang
sudah amak pilih.
Hamid
: Tapi bagaimana kalau Zainab tetap tak mau?
Amak Aisyah : Wang itu kan sahabatnya sedari kecil, wang pasti bisa.

Hamid
: Tapi amak..
Amak Aisya : Amak mohon.
Hamid
: Baiklah amak, Hamid akan temui Zainab dan bicara padanya.
Amak Aisyah : Terimakasih banyak Hamid.
Hamid
: Tak usah sungkan-sungkan pada Hamid amak.
(semua pemain keluar dari pementasan)
ADEGAN 5
Dengan berat hati Hamid membujuk Zainab, walaupun sebenarnya ia sangat
mencintai Zainab. Namun, karena Zainab orang terkaya di kampung itu Hamid jadi
tak berani mengutarakan rasa cintanya.
(Zainab sedang melipat pakaian)
Hamid
: Zainab sedang apa kau?
Zainab
: Memangnya wang tak lihat?!
Hamid
: Habisnya kau melipat pakaian sambil melipat wajah.
Zainab
: Memangnya wajah bisa dilipat?!
Hamid
: Maksud awak kau murung sangat. Ada masalah apa Zainab?
Zainab
: Tak ada apa-apa.
Hamid
: Tapi muka kau yang jelek itu menunjukan apa-apa.
Zainab
: Sok tahu.
Hamid
: Awak tahu kau dijodohkan. Mengapa tak kau setujui saja?
Zainab
: Awak tak akan menikah dengan orang yang tak awak cintai.
Hamid
: Memangnya ada oang yang kau cintai?
Zainab
: Emm, emm.
Amak Aisyah : (berteriak) Abahhh!
Zainab
: Ada apa amak? Kenapa amak berteriak?
Amak Aisyah : Abah Zainab!
Zainab
: Kenapa abah?
Amak Aisyah : Abah sedari tadi tidak bergerak-gerak.
Hamid
: Biar awak periksa denyut nadi abah. (memeriksa sambil
menggelenggelengkan kepala)
Amak Aisyah : Kenapa Hamid? Kenapa?
Hamid
: Abah sudah tidak bersama kita lagi.
Zainab
: Apa? Abah sudah pergi meninggalkan kita?
Amak Aisyah : Ini tidak mungkin. Abah bangu abah! (sambil menangis)
Hamid
: Innalillahi wainnalillahi rajiun. (sambil menutup Haji Jafar dengan
kain)
(semua pemain keluar dari pementasan)
ADEGAN 6
Setelah Haji Jafar orang yag selama ini banyak menolongnya berpulang ke
rahmatullah, tak lama kemudian ibu kandung yang Hamid cintai menyusul pula ke

alam baka. Tanpa memberi tahu siapapun Hamid meninggalkan kampungnya


menuju Siantar, Medan. Setibanya di Medan, Hamid sempat menulis surat kepada
Zainab. Isi surat Hamid mengandung arti yang sangat dalam tentang perasaan
hatinya. Namun apa mau dikata ibarat bumi dan langit, rasanya tak mungkin
keduanya dapat bersatu. Meninggalkan kampung halamannya beserta orang yang
dicintainya adalah salah satu jalan terbaik. Begitu menurut pikiran Hamid.
(Amak Aisyah dan Zainab sedang mengobrol di teras rumah)
Amak Aisyah : Zainab rencananya pria dari pasundan itu akan datang sebelum
bulan dzulhijah nanti.
Zainab
: Amak jadi menjodohkanku dengan pria itu? Asal amak tahu saja
hati Zainab hanya untuk Hamid seorang.
Amak Aisyah : Hamid itu hanya orang miskin Zainab! Kau tak akan bahagia jika
hidup bersamanya.
Zainab
: Tapi Zainab hanya mencintai Hamid amak.
Amak Aisyah : Memangnya cinta itu bisa dimakan Zainab!
Zainab
: Tapi Zainab hanya ingin menikah dengan Hamid amak. Tak ada
negosiasi lagi diantara kita amak. Ini adalah keputusan Zainab yang tak bisa
diganggu gugat lagi.
Amak Aisyah : Lancang kamu Zainab! (menampar Zainab) Kamu ini anak amak!
Amak yang berhak mengatur hidupmu! Anak durhaka kau Zainab!
Zainab
: Maafkan Zainab amak. Tapi Zainab benar-benar tidak bisa menikah
dengan orang yang tak Zainab cintai.
Amak Aisyah : Amak sangat kecewa dengan keputusanmu Zainab. (keluar
dari pementasan)
Zainab
: Apa yang awak lakukan selalu salah di mata amak. Bukankah Allah
telah menciptakan manusia berpasang-pasagan? Tapi kenapa Allah tidak adil pada
awak?
(Rosna memasuki pementasan)
Rosna
: Zainab!
Zainab
: Ada apa Rosna?
Rosna
: Hamid Zainab, Hamid.
Zainab
: Ada apa dengan Hamid?
Rosna
: Hamid pergi meninggalkan desa.
Zainab
: Astagfirullah, cobaan apa lagi ini ya Allah? Kenapa disaat
awak memperjuangkan cinta awak orang yang awak cintai malah pergi.
Rosna
: Hamid menitipkan sepucuk bunga mawar dan surat padaku untuk
kau.
(Zainab membuka surat Hamid)
Hai Nab, maafkan aku pergi tanpa pamit secara pantas kepadamu. Maafkan
aku karena baru berkirim kabar setelah melalui perjalanan yang panjang. Dan saat
ini akhirnya aku bisa berada di Tanah Suci Mekah. Selama perjalanan panjang
kemarin Zainab, kau memang tak hadir secara kasat mata didekatku. Tapi aku tak
perlu mata untuk merasakan kehadiranmu dalam jiwaku.

Tuhan memberikanku kekuatan luar biasa untuk terus mencintai. Bahkan


disaat-saat ku kalah. Cintaku tak dibiarkannya lekang dan hilang. Maka disinilah aku
berada Zainab. Di negeri dimana impian kita berpusat. Kubawa jiwamu, cintamu
dan cintaNya bersamaku. Teruslah memohon Zainab, agar cinta kita menuju jalan
terindah milik Allah semata.
(Zainab pingsan)
Rosna
: Zainab bangun, Zainab. Amak Zainab pingsan amak!
Amak Aisyah : Ada apa Rosna? Mengapa Zainab pingsan?
Rosna
: Dia pingsan karena mengetahui Hamid telah pergi meninggalkan
desa.
Amak Aisyah : Onde mande. Mengapa dia pergi meninggalkan desa?
Rosna
: Hamid itu mencintai Zainab amak.
Amak Aisyah : Sungguh bersalahnya awak pada Allah. Awak telah memisahkan
dua insan yang telah engkau takdirkan bersatu. Tapi mau bagaimana lagi
perjanjian perjodohan telah dibuat almarhum suamiku. Apa yang harus
awak perbuat?
(semua pemain keluar dari pementasan)
ADEGAN 7
Setelah Hamid pergi meninggalkan desa, tak ada satupun kabar tentangnya. Pada
saat itu pula kesehatan Zainab terus menurun.
(Amak Aisyah dan Zainab menunggu kedatangan pria pasundan di teras rumah)
Amak Aisyah : Onde mande betapa cantiknya anak amak. Kemana ini pria
pasundan itu?
Rosna
: Amak, amak. Ada kabar dari kota.
Amak Aisyah : Kabar apa Rosna?
Rosna
: Kapal yang membawa pria pasundan itu tenggelam di Selat Sunda
kemarin. Kabarnya tak ada yang selamat.
Semua
: Innalillahi wainnalillahi rajiun.
Amak Aisyah : Masya Allah. Memang benar anakku berjodoh dengan Hamid.
Zainab
: Kau tak bohong Rosna? Ini sungguhan?
Rosna
: Wallahi demi Allah aku tak berbohong.
Zainab
: Ternyata memang benar aku berjodoh dengan Hamid. Atas nama
Allah aku
mencintai Hamid di seluruh hembusan nafasku.
(semua pemain keluar dari pementasan)
ADEGAN 8
Beberapa tahun pun berlalu. Tak ada satu kabar pun tentang Hamid. Zainab sangat
merindukan sosok Hamid. Zainab pun terserang penyakit TBC dan kesehatannya
terus menurun.
(Zainab berbaring di atas kasur)
Amak Aisyah : Zainab kenapa penyakitmu semakin parah.

Zainab
: Hamid, Hamid.
Amak Aisyah : Zainab maafkan amak.
Zainab
: Ini bukan salah amak, berhentilah menyalahkan diri sendiri. Ini
hanyalah
penyakit biasa, sebentar lagi pun sembuh.
Amak Aisyah : Kau ini. Sudah jelas-jelas tabib mengatakan kau ini terserang
penyakit TBCdan amak tahu selain TBC kau juga merindu akan sosok Hamid. Kau
terlalu memikirkannya.
Zainab
: Awak terlanjur cinta pada Hamid. Satu penyesalan awak karena
tidak mengungkapkan perasaan awak pada Hamid.
Amak Aisyah : Sudahlah Zainab jangan dipikirkan terus, nanti penyakit kau
bertambah parah. Kalau jodoh kelak pasti bisa bertemu.
(semua pemain keluar dari pementasan)
ADEGAN 9
Dari Medan, Hamid meneruskan perjalanan ke Singapura dan tak lama kemudian
sampailah ia di Kota Suci Mekah. Di Mekah ia tinggal bersama seorang syekh. Tanpa
diduga setahun kemudian teman sekampungnya menyewa pula tempat syekh itu.
Orang itu ialah Soleh suami dari Rosna, sahabat dekat Zainab. Dari pertemuan itu
banyak sekali berita tentang kampung halamannya, terutama berita tentang
Zainab.
Hamid
: Akhirnya tiba juga awak di Mekah. Andaikan Zainab ada disini
bersama awak pasti awak akan lebih bahagia.
Soleh
: Hamid wang tinggal disini?
Hamid
: Awak hanya bersinggah disini. Soleh lama sekali kita tak berjumpa.
Bagaimana kabar engkau?
Soleh
: Alhamdulillah, baik. Awak sudah menikah dengan Rosna. Tau tak
banyak kejadian di kampung semenjak wang tak ada.
Hamid
: Pasti tentang Zainab. Zainab sudah menikah?
Soleh
: Tidak, Zainab belum menikah. Kapal yang mengangkut calon
suaminya tenggelam. Ia sangat kehilangan wang. Bahkan sekarang ia
menderita penyakit TBC.
Hamid
: Apa?
Soleh
: Iya, sejak wang pergi kesehatannya terus menurun.
Hamid
: Astagfirullah, setelah haji ini aku kan pulang dan melamar Zainab.
Soleh
: Memang begitu yang seharusnya wang lakukan sejak awal. Awak
akan mengirimkan surat pada Rosna mengenai dirimu.
Hamid
: Wang memang sahabat yang bisa diandalkan.
(semua pemain keluar dari pementasan)
ADEGAN 10

Kesehatan Zainab hari demi hari semakin memburuk. Rasa penyesalan terus
bergulir di benak Amak Aisyah. Zainab sudah seperti mayat hidup yang menunggu
hari kematiannya tiba.
(Amak Aisyah menjaga Zainab yang berbaring di kasur)
Rosna
: Assalamualaikum, assalamualaikum.
Amak Aisyah : Waalaikumsalam. Ada apa Rosna?
Rosna
: Ada kabar tentang Hamid. Hamid ada di Mekah dan ia akan pulang
setelah menunaikan ibadah haji.
Amak Aisyah : Kau tahu dari mana Rosna?
Rosna
: Dari suamiku, Soleh.
Zainab
: (tersenyum) Alhamdulillah jika Hamid bisa melihat Kota Mekah
dan berlindung di bawah lindungan Kabah. Amak, bisa tolong ambilkan
pena
dan kertas.
(Amak Aisyah keluar dari pementasan)
(Amak Aisyah memasuki pementasan membawa pena dan kertas)
Alangkah senang hati Zainab mengetahui orang yang dicintainya masih ada.
Namun penyakit yang diderita Zainab makin hari makin parah. Dengan segala
kekuatan tenaganya ia menulis surat untuk orang yang dicintainya.
Rosna
: Kau harus bertahan Zaianab. Sebentar lagi Hamid akan datang.
Zainab
: Kurasa awak hanya bisa bertahan sampai sini. Semua hal yang
terbendung dalam hati awak telah awak curahkan dalam surat ini.
Amak Aisyah : Zainab kau harus bertahan. Apa kau tak kasihan pada amak kau?
Amak minta maaf karena amak telah memaksa kau perihal perjodohan kau.
Kalau saja amak tidak keras kepala tidak akan begini jadinya. Amak janji jika Hamid
pulang akan merestui bahkan membuatkan pesta pernikahan untuk kau dan Hamid,
Zainab.
Zainab
: Ini semua bukan salah amak. Zainablah yang harusnya meminta
maaf pada amak. Zainab banyak menyusahkan amak.
Amak Aisyah : Jangan tinggalkan amak, Zainab.
Zainab
: Amak harus berjanji tidak menyalahkan diri amak sendiri. Dan
Rosna tolong sampaikan surat ini pada Hamid. Karena surat ini sangat penting
bagi awak.
Rosna
: Tentu akan awak sampaikan.
Zainab
: Amak, genggam tangan Zainab amak. Zainab kedingingan. Zainab
ingin ada di dekat amak untuk yang terakhir kalinya. Amak, Zainab
kedinginan. Amak, amak.
Amak Aisyah : (menggenggam tangan Zainab) Sebut dua kalimat syahadat
Zainab.
Zainab
: Ass.. Ha.. Du.. Alla.. Illaha.. Illahlah.. (memejamkan mata)
Amak Aisyah : Zainab bangun Zainab! (menangis)
Rosna
: Innalillahi wainnalillahi rajiun.
(semua pemain keluar dari pementasan)

ADEGAN 11
Sejak hari dimana Hamid bertemu dengan Soleh keadaan Hamid menjadi melemah.
Sudah seminggu ia tak menyentuh makanan sedikit pun. Ia terus menerus
memikirkan Zainab. Wajah Hamid pucat susu, badannya kurus seperti bilah tongkat,
hanya satu yang tak pernah lepas dari genggamannya yaitu tasbih yang selalu
menguatkan hati dan imannya. Ia yakin waktu pasti bisa menjawab pertanyaan
yang selama ini berkecambuk dalam pikirannya.
Soleh
: Hamid, wang harus kuat. Ini tawaf terakhir.
Hamid
: Awak tahu sebenarnya wang telah mendapatkan surat dari
kampung kan?
Soleh
: Awak takut jika awak berikan surat itu kondisi wang akan semakin
melemah.
Hamid
: Tak akan.
Soleh
: Tapi..
Hamid
: Awak mohon!
Soleh
: Zainab sudah tiada, ini surat dari Zainab untuk wang.
(Hamid membuka surat Zainab)
Tiap pagi aku terbagun dengan air dimata. Bukan karena aku menderita
dicinta, bukan karena hidup yang tak berpihak pada kita. Tapi karena rasa syukur
bahwa Dia masih memberiku napas untuk kembali menunggumu.
Dan disinilah aku Hamid. Menunggumu. Satu-satunya lelaki yang aku
bayangkan akan menjadi imamku kelak. Lelaki yang mencintaiku dan aku cintai.
Biarkan Allah membukakan pintu lain untuk kita ke tempat dimana segala
sesuatu menjadi abadi. Dan semoga ketika dunia tidak merestui cinta kita, kita
punya Allah yang akan merestuinya.
Hamid
: (berdoa di depan Kabah)
Doa Hamid
:
Ya Rabbi ya Tuhanku...
Engkau yang Maha Tahu ya Allah...
Engkau yang telah memilih jalan mana yang harus ku tempuh...
Engkau tak pernah membiarkan diriku sendirian menempuh...
Kau juga yang telah menanamkan cinta dalam jiwa ini...
Tak ada seutas tali pun tempat aku bergantung selain taliMu ya Allah...
Tak ada satu pun pintu yang akan ku ketuk selain pintuMu...
Ya Rabbi Ya Tuhanku yang Maha Pengasih dan Penyanyang...
Di bawah lindungan Kabah aku serahkan cinta ini dan jiwa ini kembali kepadaMu..
(Hamid terjatuh dan memejakamkan mata)
Soleh
: (memeriksa denyut nadi Hamid) Innalillahi wainnalillah rajiun.
Betapa suci cinta Hamid dan Zainab ya Allah.