Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hubungan dua tulang disebut persendian (artikulasi). Sendi merupakan
hubungan antar tulang sehingga tulang dapat digerakkan. Beberapa komponen
penunjang sendi antara lain

kapsula sendi, ligamen (ligamentum), tulang

rawan hialin (kartilago hialin), cairan sinovial atau cairan sendi. Cairan sendi
adalah cairan pelumas yang terdapat pada sendi yang dihasilkan dari
ultrafiltrasi plasma dan mengandung asam hialuronat. Asam hialuronat ini
menyebabkan cairan sendi bersifat kental sehingga cairan sendi dapat berfungsi
sebagai pelumas (Ema, 2011).
Cairan synovial akan memberikan nutrisi bagi tulang rawan sehingga tidak
terjadi gesekan dalam pergerakan sendi. Pemeriksaan cairan sendi dilakukan
untuk

membantu

mendiagnosis

penyebab

peradangan,

nyeri,

dan

pembengkakan pada sendi. Cairan sendi diambil menggunakan jarum yang


ditusuk kedalam cairan itu berada diarea antara tulang pada sendi tersebut
(Kadir. A, 2012)
Indikasi memeriksa cairan sendi diberikan oleh bertambah banyaknya
cairan itu dan pemeriksaan laboratorium membantu diagnosis kelainan.
Aspirasi cairan sendi haus mengindahkan syarat-syarat asepsis dan aspirat
ditampung dalam 3 tabung steril. Dua tabung diisi heparin steril untuk
bermacam-macam pemeriksaan, sedangkan tabung ketiga tidak diberikan
antikoagulan.

Masing-masing

tabung

diisi

1-3

mL

cairan

(Gandasoebrata,2006).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari cairan sendi?
2. Bagaimana proses pengambilan cairan sendi?
3. Bagaimana proses pembentukan dan jenis-jenis cairan sendi?
4. Bagaimana cara pemeriksaan pra analitik, analitik, dan pasca analitik di
dalam pemeriksaan cairan sendi.
1.3 Tujuan

1. Apa pengertian dari cairan sendi?


2. Bagaimana proses pengambilan cairan sendi?
3. Bagaimana proses pembentukan dan jenis-jenis cairan sendi?
4. Bagaimana cara pemeriksaan pra analitik, analitik, dan pasca analitik di
dalam pemeriksaan cairan sendi?

BAB II
PENBAHASAN
2.1 Pengertian Cairan Sendi
Sendi merupakan suatu engsel yang membuat anggota tubuh dapat
bergerakdengan baik, juga merupakan suatu penghubung antara ruas tulang
yang satudengan ruas tulang lainnya, sehingga kedua tulang tersebut dapat
digerakkansesuai

dengan

jenis

persendian

yang

diperantarainya.Sendi

merupakan tempat pertemuan dua atau lebih tulang. Sendi dapat dibagi
menjadi tiga tipe, yaitu:
1. sendi fibrosa dimana tidak terdapat lapisan kartilago, antara tulang
dihubungkan dengan jaringan ikat fibrosa, dan dibagi menjadi dua
subtipe yaitu sutura dan sindemosis;
2. sendi kartilaginosa dimana ujungnya dibungkus oleh kartilago
hialin, disokong oleh ligament, sedikit pergerakan, dan dibagi
menjadi subtipe yaitu sinkondrosis dan simpisis; dan
3. sendi sinovial. Sendi sinovial merupakan sendi yang dapat
mengalami pergerakkan, memiliki rongga sendi dan permukaan
sendinya dilapisi oleh kartilago hialin. Kapsul sendi membungkus
tendon-tendon yang melintasi sendi, tidak meluas tetapi terlipat
sehingga dapat bergerak penuh. Sinovium menghasilkan cairan
sinovial yang berwarna kekuningan, bening, tidak membeku, dan
mengandung leukosit. Asam hialuronidase bertanggung jawab atas
viskositas cairan sinovial dan disintesis oleh pembungkus sinovial.
Cairan sinovial mempunyai fungsi sebagai sumber nutrisi bagi
rawan sendi.
Jenis sendi sinovial :
(1) Ginglimus : fleksi dan ekstensi, monoaxis ;
(2) Selaris : fleksi dan ekstensi, abd & add, biaxila ;
(3) Globoid : fleksi dan ekstensi, abd & add; rotasi sinkond multi
axial ;
(4) Trochoid : rotasi, mono aksis ;
(5) Elipsoid : fleksi, ekstensi, lateral fleksi, sirkumfleksi, multi
axis.

Cairan sendi adalah cairan yang terdapat dalam sendi yang


memiliki kekentalan dan berat molekul tertentu yang dihasilkan oleh
membran sinovial sendi. Cairan akan keluar melumasi
Secara fisiologis sendi yang dilumasi cairan sinovial pada saat
bergerak terjadi tekanan yang mengakibatkan cairan bergeser ke tekanan
yang lebih kecil. Sejalan dengan gerakan ke depan, cairan bergeser
mendahului beban ketika tekanan berkurang cairan kembali ke belakang.
Tulang rawan merupakan jaringan pengikat padat khusus yang
terdiri atas sel kondrosit, dan matriks.Matrriks tulang rawan terdiri atas
sabut-sabut protein yang terbenam di dalam bahan dasar amorf.
Berdasarkan atas komposisi matriksnya ada 3 macam tulang rawan, yaitu :
1. tulang rawan hialin, yang terdapat terutama pada dinding saluran
pernafasan dan ujung-ujung persendian;
2. Tulang rawan elastis misalnya pada epiglotis, aurikulam dan tuba
auditiva; dan
3. tulang rawan fibrosa yang terdapat pada anulus fibrosus, diskus
intervertebralis, simfisis pubis dan insersio tendo-tulang. Kartilago
hialin menutupi bagian tulang yang menanggung beban pada sendi
sinovial. Rawan sendi tersusun oleh kolagen tipe II dan proteoglikan
yang sangat hidrofilik sehingga memungkinkan rawan tersebut mampu
menahan kerusakan sewaktu sendi menerima beban yang kuat.
Perubahan susunan kolagen dan pembentukan
proteoglikan dapat terjadi setelah cedera atau penambahan usia
Sebagian besar sendi kita adalah sendi sinovial.Permukaan tulang yang
bersendi diselubungi oleh tulang rawan yang lunak dan licin.Keseluruhan
daerah sendi dikelilingi sejenis kantong, terbentuk dari jaringan berserat
yang disebut kapsul.Jaringan ini dilapisi membran sinovial yang
menghasilkan cairan sinovial untuk meminyaki sendi.Bagian luar kapsul
diperkuat oleh ligamen berserat yang melekat pada tulang, menahannya
kuat-kuat di tempatnya dan membatasi gerakan yang dapat dilakukan.
Rawan sendi yang melapisi ujung-ujung tulang mempunyai mempunyai
fungsi ganda yaitu untuk melindungi ujung tulang agar tidak aus dan
4

memungkinkan pergerakan sendi menjadi mulus/licin, serta sebagai


penahan beban dan peredam benturan.Agar rawan berfungsi baik, maka
diperlukan matriks rawan yang baik pula.
Matriks terdiri dari 2 tipe makromolekul, yaitu :
a. Proteoglikan : yang meliputi 10% berat kering rawan sendi,
mengandung 70-80% air, hal inilah yang menyebabkan tahan
terhadap tekanan dan memungkinkan rawan sendi elastic
b. Kolagen : komponen ini meliputi 50% berat kering rawan sendi,
sangat tahan terhadap tarikan. Makin kearah ujung rawan sendi
makin tebal, sehingga rawan sendi yang tebal kolagennya akan
tahan terhadap tarikanDisamping itu matriks juga mengandung
mineral, air, dan zat organik lain seperti enzim.
2.2 Proses Pembentukan Dan Pemeriksaan Cairan Sendi
Sinovium merupakan bagian penting dari sendi diartrosis dan secara fisiologis
berfungsi dalam transpor nutrien ke dalam rongga sendi serta mengeluarkan sisa
metabolismenya,

membantu stabilitas sendi dan bersifat

low-friction lining.

Sinovium merupakan jaringan avaskular yang melapisi permukaan dalam kapsul


sendi, tetapi tidak melapisi permukaan rawan sendi. Membran ini licin dan lunak,
berlipat-lipat sehingga dapat menyesuaikan diri pada setiap gerakan sendi atau
perubahan tekanan intra artikular(3,7).
Sinovium tersusun atas 1-3 lapis sel-sel sinoviosit yang menutupi jaringan s
Ubsinovial dibawahnya, sel ini merupakan salah satu sel yang memiliki
peran utama pada sinovium disamping sel-sel lain seperti fibroblast, makrofag,
sel mast, sel vaskular dan sel limfatik
Walaupun banyak pembuluh darah dan limfe di dalam jaringan sinovial, tetapi
tidak satupun mencapai lapisan sinviosit. Jaringan pembuluh darah ini berperan
dalam transfer konstituen darah kedalam rongga sendi dan pembentukan cairan
sendi.

A. Pemeriksaan Cairan Sendi

Pemeriksaan ini dikenal dengan nama formal yaitu: analisis cairan


sinovial, tetapi mempunyai nama lain berupa analisis cairan sendi.
Pemeriksaan cairan sendi dilakukan untuk membantu mendiagnosis penyebab
peradangan, nyeri, dan pembengkakan pada sendi.Cairan sendi diambil
menggunakan jarum yang ditusuk ke dalam cairan itu berada (area diantara
tulang pada sendi tersebut). Cairan sinovial menjadi pelumas dalam sendi.
Cairan sinovial akan memberikan nutrisi bagi tulang rawan sehingga tidak
dapat aus selama penggunaan (gesekan dalam pergerakan sendi).
Analisis cairan sendi terdiri dari serangkaian uji yang dilakukan untuk
mendeteksi perubahan yang terjadi akibat dari penyakit tertentu. Ada
beberapa karakteristik cairan sinovial yang patut dikaji antara lain:
1. Karakteristik fisik: evaluasi dari penampilan secara umum dari
cairan sinovial, meliputi kekentalan (viskositas). Karakteristik
fisik yang normal berupa: cairan bening, berwarna jernih
hingga kekuningan, dan kental (viskositas tinggi akibat
kandungan asam hialuronat, ketika mengambilnya dengan
jarum membentuk string beberapa inchi layaknya cairan
kental pada umumnya). Perubahan yang terkait pada aspek fisik
ini yaitu: cairan keputihan (berawan) disebabkan oleh hadirnya
mikroorganisme dan sel darah putih) dan berwarna kemerahan
akibat hadirnya sel darah merah. Antara cairan sinovial
berawan dan kemerahan dapat terjadi dalam satu spesimen.
2. Karakteristik kimia: mendeteksi perubahan zat kimia tertentu
pada cairan sinovial, meliputi: glukosa (level glukosa di dalam
cairan ini lebih rendah daripada level glukosa darah dan dapat
menurun lebih signifikan lagi pada inflamasi dan infeksi sendi,
protein (kandungan protein meningkat akibat peradangan
infeksi), asam urat yang meningkat (pada Gout).
3. Karakteristik mikroskopik: menghitung sel-sel yang terdapat
pada cairan sinovial (terutama untuk menghitung leukosit)
meliputi: hitung leukosit (batas normal yaitu <200 sel / mm 3,
leukosit yang berlebihan menandakan adanya inflamasi seperti

pada Gout dan rheumatoid artritis, neutrofilia menandakan


infeksi bakteri, dan eosinifilia menandakan penyakit Lyme),
dan melewati cairan sinovial ke sinar polarisasi untuk melihat
adanya kristal asam urat (kristal jarum) pada penyakit Gout.
4. Karakteristik infeksius1: menemukan agen infeksius (bakteri
atau jamur) dalam cairan sinovial meliputi: pewarnaan gram
(untuk melihat tipe agen infeksius), pembiakan, uji kerentanan
terhadap
antibiotik),

antibiotik
dan

(sebagai
uji

BTA

panduan
jika

dalam

dikhatirkan

memilih
adanya

mikrobakterium.
Analisis cairan sendi dilakukan jika menemukan sesuatu yang
mencurigakan di daerah persendian, berupa:
(1) nyeri di daerah persendian
(2) eritema meliputi daerah persendian dan sekitarnya
(3) inflamasi di daerah persendian
(4) akumulasi cairan sinovial.
Prosedur dalam pengambilan cairan sinovial

dikenal

dengan

arthrocentesis. Setelah dianastesi lokal, dokter akan melakukan penyuntikan


hinga masuk ke tempat cairan sinovial berada (area diantara tulang). Selain
untuk mengambil spesimen cairan sinovial, prosedur ini dilakukan juga
dalam:
1. Pengambilan cairan sinovial berlebihan untuk mengurangi tekanan
yang berlebihan.
2. Injeksi kortikosteroid ke dalam cairan sinovial yang mengalami
inflamasi.
2.3 Proses Pengambilan Sampel Cairan Sendi
Arthrocentesis dilakukan oleh dokter atau paramedik terlatih dengan
mengunakan alat yang steril dan tepat.
1. Pra Analitik
Spuit yang digunakan (19/21 untuk sendi besar, 23/25 untuk sendi kecil).
a.
b.
c.
d.
2. Analitik

Digunakan sarung tangan steril.


Dilakukan anastesi lokal (lidokain atau etiklorida spray).
Kapas alkohol dan betadine.
Empat tabung penampungan tanpa antikoagulan.

a. Ditentukan lokasi penusukan, daerah ektensor lebih aman (bebas


saraf) dan beri tanda.
b. Dilakukan tindakan aseptik pada lokasi.
c. Dilakukan anastesi lokal (inflamasi lidokain/prokain dengan jarum
halus atau etiklorida spray).
d. Ditusuk daerah yang sudah ditandai dengan spuit yang berisi 25
sodium heparin (dibilas) dan gunakan jarum yang sesuai hingga
terasa jarum menembus membran sinovia (seperti menusuk kertas).
e. Dilakukan aspirasi perlahan-lahan (untuk meminimalisasi nyeri).
f. Spesimen ditampung (sesuai urutan tabung pertama kali diisi).
- Tabung I (tabung heparin ) steril untuk pemeriksaan
-

mikrobiologis (gram dan biakan).


Tabung II (tabung EDTA) untuk pemeriksaan mikroskopis,

memeriksa kristal, dan hitung jenis sel.


Tabung III (tanpa EDTA) untuk pemeriksaan kimia atau
imunologi dan untuk pemeriksaan makroskopis

2.4 Macam-Macam Pemeriksaan


A. Tes makroskopik
1. Volume
Dalam keadaan normal cairan sendi susah didapat dan biasanya
volume normal tidak melebihi 2 ml. Volume yang melebihi 2 ml
menandakan adanya kelainan, makin besar volume itu, maka makin
luas juga kelainan yang ada.
2. Warna dan kejernihan :
a. Warna
Cairan sendi normal tidak berwarna atau mempunyai warna
kekuning-kuningan yang sangat muda.Jika terjadi warna merah
karena adanya darah biasanya disebabkan oleh trauma pungsi.
b. Kejernihan
Dalam keadaan normal cairan sendi jernih.Proses patologis
seperti radang dapat mengubah ciri-ciri itu menjadi agak keruh
sampai keruh sekali. Selain oleh peradangan kekeruhan mungkin
juga disebabkan proses-proses lain, yakni oleh adanya beberapa
macam Kristal atau oleh sel-sel synovia yang terlepas.

Pre Analitik
Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan khusus.
Persiapan sampel : tidak ada persiapan khusus.
Prinsip tes : setiap kelainan memberi warna dan kejernihan yang
berbeda.
Alat : tabung yang steril.
Analitik
Cara kerja :
1. Sampel dimasukan kedalam tabung steril
2. Dilihat warna dan kejernihan sampel .
3. Nilai rujukan : tidak berwarna dan jernih.
Pasca Analitik
Interpretasi :
-

Kuning jernih : artritis traumatik, osteoartritis dan artritis

rematoid ringan.
Kuning keruh : inflamasi spesifik dan non spesifik, karena

bertambahnya lekosit.
Seperti susu (chyloid) : artritis rematoid dengan efusi
kronik, pirai dengan efusi akut dan obstruksi limfatik

dengan efusi.
Seperti nanah atau purulent : artritis septik yang lanjut.
Seperti darah : pada trauma, hemofilia dan sinovisitis
vilonodularis hemoragik. Bila darah terjadi karena trauma
pada waktu aspirasi maka warna merahnya akan berkurang
bila aspirasi diteruskan, sedangkan jika bukan oleh trauma

maka warna merah akan menetap.


Kuning kecoklatan : pada perdarahan yang telah lama

(Gandasoebrata,2006).
c. Bekuan
Cairan sendi normal tidak membeku karena tidak berisi
fibrinogen. Proses peradangan dapat menyebabkan menyusupnya
fibrinogen ke dalam cairan sendi. Kalau ada bekuan laporkanlah
besarnya bekuan itu, semakin besar bekuan itu, maka semakin
berat proses inflamasi
Pre analitik
9

Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan khusus.


Persiapan sampel : tidak ada persiapan khusus.
Prinsip tes : fibrinogen menyebabkan sampel membeku.
Alat : tabung yang steril.
Analitik
1.
2.
3.
4.

Cara kerja :
Sampel dimasukan kedalam tabung steril
Dibiarkan sampel selama 1 jam
Dilihat ada tidaknya bekuan.
Nilai rujukan : tidak membeku.
Pasca analitik
Interpretasi :
Bekuan + : ada proses peradangan (Gandasoebrata,2006).
d. Viskositas
Cairan sendi mempunyai nilai viskositas tertentu, beberapa
keadaan patologis dapat mengurangi viskositas sehingga cairan
itu seolah-olah menjadi encer.Untuk menguji viskositas isaplah
cairan sendi kedalam semprit 2 ml, kemudian biarkan cairan itu
mengalir keluar dari semprit (tanpa jarum) dan perhatikan
panjangnya benang lendir yang dapat dibentuk sampai saat
cairan itu jatuh. Dalam keadaan normal panjangnya paling
sedikit 5 cm. Makin pendek benang itu, maka makin abnormal,
kadang-kadang viskositas itu rendah sekali sehingga menetesnya
seperti air saja.
Pre analitik
Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan khusus.
Persiapan sampel : tidak ada persiapan khusus.
Prinsip tes : asam hialuronat dalam cairan sendi menentukan
viskositas cairan.
Alat : spuit atau semprit tanpa jarum.
Analitik

Cara kerja :
1. Dihisap sampel ke dalam spuit atau semprit tanpa jarum.
2. Diteteskan sampel ke luar dari spuit tersebut.
3. Diukur panjang tetesan. Atau diambil sampel dengan jari telunjuk,
direntangkan antara jari telunjuk dan ibu jari.
4. Hitung panjang rentangan.
5. Nilai rujukan : panjangnya tanpa putus 4-6 cm disebut viskositas
tinggi.

10

Pasca analitik
Interpretasi :
non inflamatorik Viskositas tinggi.Viskositas menurun

(<

inflamatorik akut dan septik) hemoragik Viskositas bervariasi


(Gandasoebrata,2006).
B. Makroskopik
1. Menghitung jumlah sel
Upaya ini dilakukan seperti menghitung leukosit dalam
darah tepi.Akan tetapi cairan pengencer Turk tidak dapat dipakai
karena asam acetat membekukan mucin yang terdapat dalam cairan
sendi. Pakailah larutan NaCl 0,85 % sebagai pengganti cairan Turk
untuk menghitung jumlah sel dan kamar hitung Fuchs-Rosenthal
seperti diterangkan dalam bab mengenai cairan otak.Dalam keadaan
normal jumlah sel dalam cairan sendi kurang dari 200 per l.
Pertambahan cairan sendi oleh causa bukan radang dapat
meningkatkan jumlah itu sampai 2.000 per l, sedangkan adanya
radang mendorong angka itu sampai lebih dari 2.000 per l.
a. Jumlah lekosit
Hasil hitung lekosit total maupun hitung jenis lekosit pada
sendi

dapat

membedakan

inflammatory

arthritis,

non

inflammatory arthritis dan infectious arthrtis.


Pre analitik
Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan khusus.
Persiapan sampel :
- Sampel diencerkan dengan NaCl 0,9% atau metilen biru
-

dalam NaCl 0,9% untuk cairan yang jernih.


Jika cairan sendi terlalu kental kemungkinan sulit untuk
dipipet, maka sampel harus diencerkan dengan buffer

hialuronidase.
Bila cairan sendi banyak mengandung eritrosit, maka
digunakan HCl 0,1% atau saponin 1%, karena cairan ini

dapat melisiskan eritrosit.


Prinsip tes : Sampel diencerkan dan dimasukkan ke dalam
kamar hitung (hemositometer). Dengan memperhitungkan faktor
pengenceran, jumlah lekosit dalam darah dapat diketahui.
11

Analitik
Cara kerja :
1. Dipipet sampel ke dalam pipet lekosit sampai tanda 0,5.
2. Dipipet NaCl 0,9% sampai tanda 11, kocok isi pipet beberapa
3.
4.
5.
6.

menit agar isi pipet bercampur baik.


Kemudian dibuang 4 5 tetes isi pipet.
Disiapkan kamar hitung dengan cover glass di atasnya.
Diteteskan isi pipet pelahan-lahan ke dalam kamar hitung
Dihitung jumlah lekosit yang tampak dalam 4 kotak lekosit
dengan menggunakan perbesaran lensa objektif 10 x dan hasilnya

dikali 50 (pengenceran).
7. Nilai rujukan: jumlah lekosit < 200/mm3.
Pasca analitik
Interpretasi :
- Jumlah lekosit 200-500/mm3 penyakit non inflamatorik
-

(penyakit degeneratif).
Jumlah
lekosit
2.000-100.000/mm3

menandakan

inflamatorik akut.
~ Artritis gout akut : jumlah lekosit 750-45.000/mm3, ratarata 13.500/mm3.
~ Faktor rematoid : jumlah lekosit 300-98.000/mm3, ratarata 17.800/mm3
~ Artritis rematoid : jumlah lekosit 300-75.000/mm3, ratarata 15.500/mm3.
~ Septik (infeksi) : jumlah lekosit 20.000-200.000/mm3
~ Artritis TB : jumlah lekosit 2.500-105.000/mm3, rata-rata
23.500/mm3.
~ Atritis gonore : jumlah lekosit 1.500-108.000/mm3, ratarata 14.000/mm3.
~ Atritis septik : jumlah lekosit 15.600-213.000/mm3, ratarata 65.400/mm3.
~ Hemoragik : jumlah lekosit 200-10.000/mm3
2. Menghitung jenis sel
Cairan sendi diperiksa seperti cairan tubuh yang lain
dengan cara membuat sediaan apus yang dipulas Giemsa atau
Wright. Dalam keadaan normal leukosit berinti segment kurang dari

12

25% dari semua jenis sel yang ada dalam cairan sendi.Semakin
tinggi angka itu, maka semakin akut keadaan patologis.
a. Hitung Jenis
Hitung jenis lekosit pada sendi dapat membedakan
inflammatory arthritis, non inflammatory arthritis dan infectious
arthrtis.
Pre Analitik
Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan khusus.
Persiapan sampel :
- Sampel harus diperiksa < 1 jam setelah pengambilan.
- Sampel dapat langsung dari cairan aspirasi atau dari
sedimen cairan sendi yang telah disentrifus (paling baik).
Prinsip tes : cairan sendi diapuskan di atas obyek glass
kemudian diwarnai.
Analitik
Cara kerja pewarnaan MGG :
1. Diambil cairan sendi yang telah disentrifuge
2. Diteteskan 1-2 tetes cairan sendi diatas objek glas, kemudian
dibuat hapusan di atas objek glass, dibiarkan mengering.
3. Difiksasi apusan tersebut dengan metanol selama 5 menit lalu
dibilas dengan air mengalir.
4. Diteteskan sediaan apusan dengan larutan May Grunwald 1
2 menit.
5. Digenangi dengan larutan buffer pH 6,4 dan diamkan selama 3
menit.
6. Diwarnai dengan larutan Giemsa yang sudah diencerkan
dengan buffer pH 6,4 dan dibiarkan 5 10 menit, cuci dengan
air mengalir lalu keringkan.
7. Diamati apusan di bawah mikroskop dengan pembesaran 100
x menggunakan oil emersi.
8. Nilai rujukan : jumlah netrofil < 25 %.
Pasca analitik
Interpretasi :
Jumlah netrofil < normal atau non inflamatorik25%
Jumlah netrofil pada kelompok akut inflamatorik :
- Artritis gout akut : jumlah netrofil 48 94%, rata-rata 83%.
- Faktor rematoid : jumlah netrofil 8 89%, rata-rata 46%.
- Artritis rematoid : jumlah netrofil 5 96%, rata-rata 65%.

13

Artritis tuberkulosa : jumlah netrofil 29 96%, rata-rata

67%.
Artritis gonore : jumlah netrofil 2 - 96% , rata-rata 64%.
Artritis septik : jumlah netrofil 75 100%, rata-rata 95%.
Jumlah netrofil pada kelompok hemoragik : <50 o:p="">

(Gandasoebrata,2006).
b. Kristal-kristal
Pre analitik
Persiapan pasien : tidak diperlukan persiapan khusus.
Persiapan sampel : sampel disentrifus terlebih dahulu.
Prinsip tes : jenis kristal tergantung jenis kelainan.
Analitik
Cara kerja :
1. Diteteskan satu sampai dua tetes cairan sendi yang telah
disentrifus diatas objek glass dan ditutup dengan cover
glass.
2. Diperiksa dengan mikroskop lensa objektif 10x dan 40x.
3. Nilai rujukan : tidak ditemukan kristal dalam cairan sendi.
Pasca analitik
Interpretasi :
- Kristal monosodium urat (MSU) ditemukan pada artritis
-

gout.
Calcium pyrophosphate dihydrate (CPPD) yang ditemukan

pada kondro-kalsinosis (pseudogout).


Calcium hydroxyapatite (HA) terdapat pada calcific

periarthritis dan tendenitis.


Kristal kolesterol ditemukan pada artritis rematoid.

C. Kimia
1. Test Bekuan Mucin
Test ini menguji kualitas mucin yang ada dalam cairan sendi.Mucin
adalah satu komplex yang tersusun dari asam hialuronat dan protein,
mucin itu membeku oleh pengarah asam acetat.Dalam keadaan normal
dan pada proses non-radang :
- Mucin berkualitas baik : terlihat satu bekuan kenyal
-

dalam cairan jernih.


Mucin berkualitas lumayan : menyusun bekuan yang
kurang kuat,bekuan itu tidak mempunyai batas-batas tegas
dalam cairan jernih.

14

Mucin berkualitas buruk : seperti pada proses-proses


radang teristimewa pada radang oleh infeksi, bekuan yang
terjadi itu berkeping-keping dalam cairan keruh.

Pre analitik
Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan khusus.
Persiapan sampel : tidak ada persiapan khusus.
Prinsip tes : asam asetat dapat membekukan asam hialuronat dan
protein.
Alat dan bahan :
1.
2.
3.
4.
5.

Tabung reaksi
Pengaduk
Aquades
Asam asetat glacial
Asam asetat 7 N

Analitik
Cara kerja :
1.
2.
3.
4.
5.

Kedalam 1 tabung reaksi dimasukan 4mL aquadest.


Dimasukan sebanyak 1 mL cairan sendi.
Diteteskan 1 tetes larutan asam asetat 7 N.
Diaduk kuat-kuat dengan batang pengaduk.
Kemudian diperiksa hasil reaksi segera setelah diaduk dan setelah
2 jam.

Nilai rujukan
Terlihat satu bekuan kenyal dalam cairan jernih Mucin baik :
normal.
Pasca analitik
Interpretasi :
-

Mucin sedang : jika bekuan

kurang kuat dan tidak

mempunyai batas tegas dalam cairan jernih. Misalnya


-

pada RA.
Mucin buruk : jika bekuan yang terjadi berkeping-keping
dalam cairan keruh, misalnya karena infeksi.

15

2.Test Glukosa
Pre analitik
Persiapan pasien : pasien harus berpuasa 6-12 jam sebelum
pengambilan sampel.
Persiapan sampel : tidak hemolisis, cairan sendi disentrifus terlebih
dahulu.
Analitik
Cara Kerja:
Tes Glukosa menggunakan alat Cobas Mira
1. Masukkan 50 l sampel cairan sendi ke dalam tabung mikro
2. Kemudian letakkan dalam rak sampel sesuai dengan nomor
pemeriksaan
3. Tempatkan reagen pada rak reagen sesuai program tes (protein,
glukosa, LDH)
4. Masukkan nomor identitas penderita dan program tes
5. Pengukuran akan dilakukan secara otomatis
6. Hasil tes akan keluar pada print out
Nilai rujukan: Perbedaan antara glukosa serum dan glukosa cairan
sendi adalah < 10 mg%.
Pasca analitik
Interpretasi :
Kelompok non inflamatorik : perbedaannya <10 mg="" o:p="">
Kelompok inflamatorik :
-

arthritis gout akut perbedaannya 0 41 mg%, rata-rata

12 mg%.
faktor rematoid perbedaannya 6 mg%.
artritis rematoid perbedaannya 0 88 mg%, rata-rata 31
mg%.

Kelompok septik :
~ artritis tuberkulosa perbedaannya 0 108 mg%, rata-rata 57
mg%.
~ artritis gonore perbedaannya 0 97 mg%, rata-rata 26 mg
%.
-

artritis septik perbedaannya 40 122 mg%, rata-rata


71 mg%.
16

- Kelompok hemoragik perbedaannya < 25 mg% (


3. Test Laktat dehidrogenase (LDH)
Pre analitik
Persiapan pasien : tidak ada persiapan khusus.
Persiapan sample : tidak ada persiapan khusus.
Analitik
Tes Laktat dehidrogenase (LDH) menggunakan alat Cobas Mira
1. Masukkan 50 l sampel cairan sendi ke dalam tabung mikro.
2. Kemudian letakkan dalam rak sampel sesuai dengan nomor
pemeriksaan.
3. Tempatkan reagen pada rak reagen sesuai program tes (protein,
glukosa, LDH).
4. Masukkan nomor identitas penderita dan program tes.
5. Pengukuran akan dilakukan secara otomatis.
6. Hasil tes akan keluar pada print out.
Nilai rujukan : 100-190 U/L
Pasca analitik
Interpretasi : LDH meningkat pada RA, gout dan artritis karena
infeksi, tetapi tetap normal pada penyakit sendi generative (Kadir. A,
2012).
4. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi sebagai pemeriksaan penunjang
dibutuhkan untuk melihat struktur yang dicurigai mengalami
kelainan.Pemeriksaan rontgen merupakan modalitas utama (sekitar
60-70% kelainan muskuloskeletal dapat ditegakkan diagnosis).
Berikut penjelasan dari temuan radiologik yang meliputi penyakit
pada sendi:
a. Celah sendi
Pada sendi normal, tulang yang berhubungan tidak bertemu
secara langsung.Adanya tulang rawan dan cairan sinovial
memberikan gambaran adanya celah di rontgen (tulang rawan dan
cairan tidak terlihat pada foto polos).Adanya masalah di dalam
tulang rawan dan cairan sinovial berakibat salah satunya hubungan

17

antara tulang mendekat sehingga celah sendi menyempit.Hal ini


bisa diakibatkan degenerasi tulang rawan atau cairan sinovial.
b. Osteofit
Osteofit merupakan penulangan baru akibat kompensasi
denerasi tulang rawan. Karena penulangan ini di luar kebiasaan,
hasil dari penulangan ini menjadi tidak teratur, osteofit ini bisa
menyebabkan nyeri jika tumbuh dan berinteraksi dengan tulang
lain dalam bergerak.
c. Sclerosis subchondral
Subchondral merupakan lapisan yang berada di bawah
tulang rawan.Karena aliran darah yang meningkat menyebabkan
penebalan lapisan ini dan bisa membentuk kista subchondral dan
meningkatkan tekanan pada tulang dan menyebabkan nyeri.
Dapat dilihat foto polos articulatio genu yang normal (atas: AP, bawah: lateral)

Berikut foto polos dari gambaran penyempitan sendi, osteofit


(multipel), dan sclerosis subcohndral.

18

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Cairan sendi adalah cairan pelumas yang terdapat pada sendi.Pemeriksaan
cairan sendi dilakukan untuk membantu mendiagnosis penyebab peradangan,
nyeri, dan pembengkakan pada sendi. Dalam proses pengambilan sampel
cairan sendi yang perlu diperhatikan yaitu sterilitas dalam proses pengambilan
dan menggunakan teknik pengambilan yang benar. Jenis pemeriksaan dari
cairan sendi diawali dengan pemeriksaan makroskopi, pemeriksaan mikroskopi
dan pemeriksaan kimia.

19

3.2 Saran
Dari penyususnan makalah ini, masih banyak kekurangan yang ada maka
saran dan kritikan dari pembaca (Dosen dan teman-teman Mahasiswa) sangat
di harapkan untuk penulis demi penyempurnaan makalah berikutnya atau masa
yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA
Zier, B., Erb, G., Berman A., Snyder S. 2004. Buku Ajar Keperawatan Klinis Eds
5.Jakarta : EGC.
Potter perry. 2006. Fundamental keperawatan ed 2. Jakarta: EGC.
Sloane et all. (2004). Anatomi dan fisiologi untuk pemula.Jakarta : EGC.
Smeltzer, C.S., Bare, G.B., (2001). Buku ajar keperawatan medical bedah
Brunner& Suddarth, Edisi 8, Volume 3, Penerbit EGC, Jakarta.
Syarifuddin.(2006). Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan, Edisi 3.
Jakarta: EGC.
Ringsrud M.K inne JJ. synovial Fluid Analysis and Body Fluids, Mosby A
Hartcourt Health Sciences Company, 1995
20

Smith P-G, Kjeldsberg R C. Cerebrospiral, synovial and Serous Body Fluids in


Henry's Clinical Diagnosis and Management by Laboratory 467 471.
Mukherjee K-L.,

Narang B-S,

Reynolds T.

Laboratory Examination of

Miscellaneous Body Fluid in Medical Laboratory Technology, vol II,


1998 865-569.
Young S.D,

Bermes E.

Specimen Coldection and Processing sources of

Biological variation in Tietz Fundamentals of Clinical Chemistry, 2 nd


ed, B- Saunders Company, 1996 4.
Cairan Tubuh Diktat Kuliah Cairan Sinovia, Bagian Patologi Klinik. Fakultas
Kedokteran UNHAS, 1999:14-23.
Gandasoebrata R.

Penuntun Laboratoriumn Klinik,

Penerbit Dian Rakyat,

Jakarta, 1999 154-157 7. Albar Z. Teknik Penyuntikan Intra Artikuler


dalam Temu Imiah. Reumatologi 2000, 2000 27-29
Hoffman s G., Regina to J.A. .Artritis akibat pengendapan kristal kalsium dalam
Harrison's Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Ed 13, Vol 4, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, 1999 1892-1895.
Wallach J. Diseases of Joints in Interpretation of Diagnostic Test Lippincott
Raven Publisher, 1998, ppo 164 166
Kasi mmir Y. Diagnosis dan Penatalaksanaan Artropati Kristal dalam Temu
Ilmiah Reumatologi 1999, 1999 62-63.
Lakare C.H., Paka si R. Pemeriksaan Patologi Klinik sebagai Suplemen Bagi
Diagnosis Kainik Penyakit Rematik dalam Lontara Majalah Universitas
Hasanuddin, No.14, 1983, 3649
Manual Roche Diagnostic System,

Unimate Giukosa 13 Manual Roche

Diagnostic System, Unimate LIDH 14- Antec Diagnostic Laboratory,


RA LATEX Test Kit.
Antec Diagnostic Laboratory, CRP LATEX Test Kit.

21

Microplate Autoimmune. ANA Screen. Bio-Rad Laboratories


Standard Operating Procedure in Microbiology, Labaratorium
Kesehatan, 2000 : hal 148.

22

Anda mungkin juga menyukai