Anda di halaman 1dari 15

1

BAB 2. TINJAUAN TEORI

2.1 Anatomi Hidung


Rongga hidung dan nasal terdiri dari bagian-bagian yaitu:
2.1.1 Hidung Eksternal
Hidung eksternal berbentuk piramid disertai dengan suatu akar dan dasar.
Bagian ini tersusun dari kerangka kerja tulang, kartilago hialin, dan jaringan
fibroareolar.
a. Septum nasal
b. Naris (nostril) eksternal
c. Tulang hidung
d. Empat pasang sinus paranasal
2.1.2 Membran Mukosa Nasal

Gambar 1. Anatomi hidung manusia (Sumber: Encylopedia Britannica, Inc.,2003)

2.2 Pengertian
Polip hidung adalah massa lunak yang tumbuh di dalam rongga hidung.
Polip hidung merupakan daging tumbuh seperti tumor yang timbul di dalam salah
satu rongga hidung atau keduanya. Polip hidung tersebut dapat dilihat dari luar,
tampak seperti lendir berwarna keabua-abuan (Wijayakusuma, 2008:179).
Polip hidung adalah tumor bertangkai yang timbul dari mukosa sinus
hidung. Polip ini menyebabkan obstruksi hidung, rinorea, bersin, dan penurunan

atau hilangnya kemampuan menghirup. Terapi dengan kortikosteroid topikal dapat


dilakukan. Terapi bedah mencakup polipektomi dan etmoidektomi (Brooker,
2009: 190)
Kebanyakan polip berwarna putih bening atau keabu-abuan, mengkilat,
lunak karena banyak mengandung cairan (polip edematosa). Polip yang sudah
lama dapat berubah menjadi kekuning-kuningan atau kemerah-merahan dan
menjadi lebih kenyal (polip fibrosa). Polip berasal dari pembengkakan mukosa
hidung yang banyak berisi cairan interseluler dan kemudian terdorong ke dalam
rongga hidung oleh gaya berat.
Polip berupa massa polypoidal yang timbul terutama dari selaput lendir
hidung dan sinus paranasal. Polip hidung bukanlah penyakit yang murni berdiri
sendiri. Pembentukannya berkaitan erat dengan berbagai masalah kesehatan THT
(Telinga, Hidung, Tenggorokan) lainnya seperti rinitis alergika, asma, radang
kronis pada mukosa hidung-sinus paranasal, fibrosis kistik, dan lainnya.
Polip hidung merupakan suatu pertumbuhan dari selaput lendir hidung
yang bersifat jinak. Polip kebanyakan berasal dari mukosa sinus etmoid, biasanya
multipel dan dapat bilateral. Polip dapat timbul dari tiap bagian mukosa hidung
atau sinus paranasal atau sering kali bilateral. Polip hidung sering berasal dari
sinus maksilaris (antrum) yang dapat keluar melalui ostium sinus maksilaris, lalu
masuk ke rongga hidung dan membesar di koana dan nasofaring. Polip ini disebut
dengan polip koana ( Antro Koana ).

Gambar 2. Polip hidung

2.3 Epidemiologi
Polip biasanya ditemukan pada orang dewasa dan jarang terjadi pada anakanak. Pada anak-anak, polip mungkin merupakan gejala dari kistik fibrosis. Polip
hidung banyak ditemukan pada penderita asma nonalergi (13%) dibanding
penderita asma alergi (5%). Polip hidung terutama ditemukan pada usia dewasa
dan lebih sering pada laki-laki, di mana rasio antara laki-laki dan perempuan 2:1
atau 3:1. Penyakit ini ditemukan pada seluruh kelompok ras.

2.4 Etiologi
Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat dari reaksi hipersensitivitas
atau reaksi alergi di dalam selaput mukosa hidung. Di mana kerusakan jaringan
setempat dalam mukosa menimbulkan produksi berlebihan cairan interseluler dan
cenderung membentuk polip. Peranan infeksi terhadap kejadian polip hidung
belum diketahui secara pasti tetapi infeksi dalam hidung atau sinus paranasal
seringkali ditemukan bersamaan dengan adanya polip.
Polip merupakan gejala dari fibrosis kistik (mucoviscidosis) yang biasanya
tumbuh di daerah di mana selaput lendir membengkak akibat penimbunan cairan,
seperti daerah di sekitar lubang sinus pada rongga hidung. Beberapa faktor lain
(dapat menjadi faktor predisposisi) yang meningkatkan kemungkinan kejadian
polip hidung antara lain sinusitis (radang sinus) yang menahun, iritasi, sumbatan
hidung karena kelainan anatomi seperti deviasi septum dan adanya pembesaran
pada konka.

Polip hidung sering ditemukan pada penderita rinitis alergika, asma,


sinusitis kronis, dan fibrosis kistik. Polip berasal dari pembengkakan lapisan
permukaan mukosa hidung atau sinus, yang kemudian menonjol dan turun ke
dalam rongga hidung. Polip banyak mengandung cairan interseluler dan sel
radang (neutrofil dan eosinofil) dan tidak mempunyai ujung saraf atau pembuluh
darah.
Polip hidung, yang terlihat seperti balon intranasal kecil biasanya
berhubungan dengan alergi hidung yang telah berlangsung lama (rinitis alergika
abadi). Merupakan jaringan edema berwarna abu-abu-biru sampai kuningkecoklatan, lembut, dan tidak sensitif terhadap sentuhan. Kadang-kadang tampak
seperti anggur. Polip berasal dari sel-sel udara etmoid juga dapat terjadi pada
sinusitis etmoidalis kronis. Yang lain berkembang dari sinus maksilaris dan dapat
menonjol ke depan masuk ke dalam hidung sebagai polip antronasal atau ke
belakang melalui orifisium posterior hidung, koana, ke dalam nasofaring. Polip
hidung, kadang ditemukan dalam trias dengan alergi aspirin dan asma. Diagnosis
banding utama dari polip adalah konka yang edema, tetapi mukosa konka
biasanya sangat halus dan sensitif ketika disentuh dengan setiap alat (Willms,
Schneiderman, Algranati, 2005:144)

2.5 Tanda dan Gejala


Ketika baru terbentuk, sebuah polip tampak seperti air mata dan jika telah
matang, bentuknya menyerupai buah anggur yang berwarna keabu-abuan.
Penderita biasanya mengeluhkan hidung tersumbat, penurunan indra penciuman,
dan gangguan pernafasan. Karena indera perasa berhubungan dengan indera
penciuman, maka penderita juga dapat mengalami penurunan fungsi indera
perasa. Gejala lainnya yaitu hiposmia/anosmia (hilangnya daya penciuman),

sinusitis, nyeri kepala, alergi berupa bersin-bersin dan iritasi. Polip hidung,
biasanya bilateral, juga menyebabkan obstruksi dan merupakan penyebab
tersering anosmia, atau hilangnya daya penciuman. Polip hidung biasanya
dijumpai pada pasien dengan rinitis alergika (Swartz, 1995:125)
Gejala utama yang ditimbulkan oleh polip hidung adalah rasa sumbatan di
hidung. Sumbatan ini tidak hilang timbul dan makin lama semakin berat
keluhannya. Pada sumbatan yang hebat dapat menyebabkan gejala hiposmia atau
anosmia. Bila polip ini menyumbat sinus paranasal, maka sebagai komplikasinya
akan terjadi sinusitis dengan keluhan nyeri kepala dan rinore.
Bila penyebabnya adalah alergi, maka gejala yang utama ialah bersin dan
iritasi di hidung. Pasien dengan polip yang masif biasanya mengalami sumbatan
hidung yang meningkat, hiposmia sampai anosmia, perubahan pengecapan, dan
drainase post nasal persisten. Sakit kepala dan nyeri pada wajah jarang ditemukan
dan biasanya pada daerah periorbita dan sinus maksila. Pasien polip dengan
sumbatan total rongga hidung atau polip tunggal yang besar memperlihatkan
gejala sleep apnea obstruktif dan pernafasan lewat mulut yang kronik.
Pasien dengan polip soliter seringkali hanya memperlihatkan gejala
obstruktif hidung yang dapat berubah dengan perubahan posisi. Walaupun satu
atau lebih polip yang muncul, pasien mungkin memperlihatkan gejala akut,
rekuren, atau rinosinusitis bila polip menyumbat ostium sinus.
Beberapa polip dapat timbul berdekatan dengan muara sinus, sehingga
aliran udara tidak terganggu, tetapi mukus bisa terperangkap dalam sinus. Dalam
hal ini dapat timbul perasaan penuh di kepala, penurunan penciuman, dan
mungkin sakit kepala. Mukus yang terperangkap tadi cenderung terinfeksi,
sehingga menimbulkan nyeri, demam, dan mungkin perdarahan pada hidung.
Manifestasi klinis polip hidung tergantung pada ukuran polip. Polip yang
kecil mungkin tidak menimbulkan gejala dan mungkin teridentifikasi sewaktu
pemeriksaan rutin. Polip yang terletak pada posterior biasanya tidak teridenfikasi

pada waktu pemeriksaan rutin rinoskopi posterior. Polip yang kecil pada daerah di
mana polip biasanya tumbuh dapat menimbulkan gejala dan menghambat aliran
saluran sinus, menyebabkan gejala-gejala sinusitis akut atau rekuren.
Gejala subjektif yaitu:
1. Hidung terasa tersumbat
2. Hiposmia atau Anosmia (gangguan penciuman)
3. Nyeri kepala
4. Rhinore
5. Bersin
6. Iritasi di hidung (terasa gatal)
7. Post nasal drip
8. Nyeri muka
9. Suara bindeng
10. Telinga terasa penuh
11. Mendengkur
12. Gangguan tidur
13. Penurunan kualitas hidup
Gejala objektif yaitu:
1. Edema mukosa hidung

2. Submukosa hipertropi dan tampak sembab


3. Terlihat masa lunak yang berwarna putih atau kebiruan bertangkai
4. Keluar lendir dari hidung
5. Adanya lendir yang bertambah banyak dan terasa ada tekanan di dalam
hidung
Sinusitis terjadi karena polip hidung menyebabkan penyumbatan pada
drainase lendir dari sinus ke hidung. Penyumbatan ini menyebabkan tertimbunnya
lendir di dalam sinus. Lendir yang terlalu lama berada di dalam sinus bisa
mengalami infeksi dan akhirnya terjadi sinusitis. Penderita anak-anak sering
bersuara sengau dan bernafas melalui mulutnya.
Polip biasanya tumbuh di daerah di mana selaput lendir membengkak
akibat penimbunan cairan, seperti daerah di sekitar lubang sinus pada rongga
hidung. Gejala yang ditimbulkan oleh polip hidung adalah rasa sumbatan di
hidung. Sumbatan ini menetap, tidak hilang timbul dan makin lama semakin berat
keluhannya. Sumbatan yang berat ini dapat menyebabkan hilangnya indra
penciuman. Gangguan drainase sinus dapat menyebabkan nyeri kepala dan
keluarnya sekret hidung. Bila penyebabnya alergi, penderita mengeluh adanya
iritasi hidung yang disertai bersin-bersin. Pada rinoskopi anterior polip hidung
sering kali harus dibedakan dengan konka hidung yang menyerupai polip (Konka
Polipoid).
Perbedaan antara polip dan konka yaitu:
1. Polip bertangkai sehingga mudah digerakkan, konsistensinya lunak, tidak nyeri
bila ditekan, tidak mudah berdarah dan pada pemakaian vasokonstriktor
(adrenalin) tidak mengecil.
2. Konka polipoid tidak bertangkai sehingga sukar digerakkan, konsistensinya
keras, nyeri bila ditekan dengan pinset, mudah berdarah dan dapat mengecil
pada pemakaian vasokonstriktor.

2.6 Patofisiologi
Polip berasal dari pembengkakan mukosa hidung yang terdiri atas cairan
interseluler dan kemudian terdorong ke dalam rongga hidung dan gaya berat.
Polip dapat timbul dari bagian mukosa hidung atau sinus paranasal dan seringkali
bilateral. Polip hidung paling sering berasal dari sinus maksilaris (antrum) dan
dapat keluar melalui ostium sinus maksilla dan masuk ke rongga hidung dan
membesar di koana dan nasofaring. Polip ini disebut polip koana.
Secara makroskopik polip terlihat sebagai massa yang lunak berwarna
putih atau keabu-abuan. Sedangkan secara mikroskopik tampak submukosa
hipertrofi dan sembab. Sel tidak bertambah banyak dan terutama terdiri dari sel
eosinofil, limfosit dan sel plasma, letaknya berjauhan dan dipisahkan oleh cairan
interseluler. Pembuluh darah, saraf dan kelenjar sedikit dalam polip dan polip
dilapisi oleh epitel thorak berlapis semu.
Pada tingkat permulaan ditemukan edema mukosa yang kebanyakan
terdapat di daerah meatus medius. Kemudian stroma akan terisi oleh cairan
interseluler, sehingga mukosa yang sembab menjadi polipoid. Bila proses terus
berlanjut, mukosa yang sembab makin membesar dan kemudian akan turun ke
dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai sehingga terbentuk polip.
Polip di rongga hidung terbentuk akibat proses peradangan yang lama.
Penyebab tersering adalah sinusitis kronik dan rinitis alergi. Dalam jangka waktu
yang lama, vasodilatasi terjadi dengan lama dari pembuluh darah submukosa dan
menyebabkan edema mukosa. Mukosa akan menjadi irreguler dan terdorong ke
sinus dan pada akhirnya membentuk suatu struktur bernama polip. Biasanya
terjadi di sinus maksila, kemudian di sinus etmoid. Setelah polip terus membesar
di antrum, polip akan turun ke rongga hidung. Hal ini terjadi karena bersin dan
pengeluaran sekret yang berulang yang sering dialami oleh orang yang
mempunyai riwayat rinitis alergi karena pada rinitis alergi terutama rinitis alergi
perennial yang banyak terdapat di Indonesia karena tidak adanya variasi musim
sehingga alergen terdapat sepanjang tahun. Begitu sampai dalam rongga hidung,
polip akan terus membesar dan bisa menyebabkan obstruksi di meatus media.

2.7 Komplikasi dan Prognosis


Polip atau tonjolan daging yang jinak pada rongga hidung ternyata
memiliki cukup banyak penyakit komplikasi yang mengikutinya. Tidak hanya
akan mengakibatkan peradangan sinus atau sinusitis, polip juga bisa merusak
struktur tulang penderitanya. Bila polip ini menyumbat sinus paranasal, maka
sebagai komplikasinya akan terjadi sinusitis dengan keluhan nyeri kepala dan
rinore.
Keberadaan polip yang tidak segera diatasi dapat mengakibatkan sinusitis
atau peradangan sinus yakni rongga pada area hidung dan sekitar mata.
Peradangan tersebut cukup berbahaya dan dapat berdampak pada kerusakan mata
serta radang otak atau meningitis. Sinusitis sebagai akibat munculnya polip pada
hidung itu sendiri terjadi karena sekret atau cairan tidak bisa keluar dari rongga
hidung dan justru tertahan di dalamnya.
Endapan sekret itu kemudian menjadi area berkembangnya kuman-kuman
patogen. Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya peradangan pada sinus atau
sinusitis. Tidak hanya akan berdampak pada kerusakan mata dan peradangan otak,
saat diikuti sinusitis, keberadaan polip juga akan menyebabkan kerusakan struktur
tulang penderitanya. Hal ini merupakan dampak tekanan tonjolan pada tulang
penderitanya. Jika tekanan terjadi secara terus menerus, lama kelamaan akan
merusak struktur tulang.
Prognosis dan perjalanan alamiah dari polip hidung sulit dipastikan. Terapi
medis untuk polip hidung biasanya diberikan pada pasien yang tidak memerlukan
tindakan operasi atau yang membutuhkan waktu lama untuk mengurangi gejala.
Dengan terapi medikamentosa, jarang polip hidung yang dapat hilang dengan
sempurna. Tetapi hanya akan mengalami pengecilan yang cukup sehingga dapat

10

mengurangi keluhan pasien. Polip yang rekuren biasanya terjadi setelah


pengobatan dengan terapi medikamentosa maupun pembedahan.

2.8 Pengobatan
Terapi polip hidung dapat terbagi atas terapi medikamentosa dan terapi
pembedahan. Terapi medikamentosa bertujuan untuk mengurangi gejala dan
ukuran polip, menunda selama mungkin perjalanan penyakit, mencegah
pembedahan, dan mencegah kekambuhan setelah prosedur pembedahan. Terapi
pembedahan

bertujuan

menghilangkan

obstruksi

hidung

dan

mencegah

kekambuhan. Oleh karena sifatnya yang rekuren, kadang-kadang terapi


pembedahan juga mengalami kegagalan dimana 7-50% pasien yang menjalani
pembedahan akan mengalami kekambuhan.
Terapi medikamentosa ditujukan pada polip yang masih kecil yaitu
pemberian kortikosteroid sistemik yang diberikan dalam jangka waktu singkat,
dapat juga diberikan kortikosteroid hidung atau kombinasi keduanya. Penggunaan
kortikosteroid pada pasien polip hidung dapat terbagi atas pemberian topikal dan
sistemik. Obat semprot hidung yang mengandung kortikosteroid kadang bisa
memperkecil ukuran polip atau bahkan menghilangkan polip.
Penggunaan kortikosteroid sistemik jangka pendek merupakan metode
alternatif untuk menginduksi remisi dan mengontrol polip. Berbeda dengan
steroid topikal, steroid sistemik dapat mencapai seluruh bagian hidung dan sinus,
termasuk celah olfaktorius dan meatus media dan memperbaiki daya penciuman
secara lebih baik dari steroid topikal. Penggunaan steroid sistemik juga dapat
menjadi pendahulu dari penggunaan steroid topikal di mana pemberian awal
steroid sistemik bertujuan untuk membuka obstruksi nasal sehingga pemberian
steroid topikal sprai selanjutnya menjadi lebih sempurna.
Antibiotik polip hidung dapat menyebabkan obstruksi dari sinus yang
berakibat timbulnya infeksi. Pengobatan infeksi dengan antibiotik akan mencegah
perkembangan polip lebih lanjut dan mengurangi perdarahan selama pembedahan.
Pemilihan antibiotik dilakukan berdasarkan kekuatan daya bunuh dan hambat

11

terhadap spesies Staphylococcus, Streptococcus, dan golongan anaerob yang


merupakan mikroorganisme tersering yang ditemukan pada sinusitis kronik.
Tujuan utama pengobatan adalah mengatasi polip dan menghindari
penyebab atau faktor pemicu terjadinya polip. Obat semprot hidung yang
mengandung kortikosteroid terkadang dapat memperkecil ukuran polip hidung
atau bahkan menghilangkan polip. Operasi dilakukan jika polip mengganggu
pernafasan atau berhubungan dengan tumor.
Polip yang masih kecil dapat diobati dengan secara konservatif dengan
pemberian kortikosteroid per oral baik lokal (disuntikkan dalam polip), topikal
sebagai semprotan hidung, maupun secara sistemik. Pada polip yang cukup besar
dan persisten dilakukan tindakan operatif berupa ekstraksi polip atau
pengangkatan polip (polipectomy) serta menggunakan senar polip. Apabila terjadi
infeksi sinus, irigasi perlu dilakukan dan cara ini dilakukan dengan perlindungan
antibiotik
Salah satu obat yang dapat dijadikan rujukan untuk mengobati polip
hidung adalah Beklometason (beclovent, beconase, beconas AQ nasal, vancenase,
vancenase AQ nasal, vanceril). Berikut adalah keterangan lebih lanjut mengenai
obat ini yaitu:
1. Indikasinya yaitu intranasal: digunakan pada penatalaksanaan rinitis dan
alergika penyakit inflamasi hidung kronis lainnya termasuk polip hidung.
2. Kerja obat
Antiinflamasi dan permodifikasi imun yang kuat dan bekerja setempat.
3. Farmakokinetik
a. Absorpsi: kerja obat sebagian besar bersifat setempat. Obat tambahan dapat
ditelan, namun absorpsi sistemik minimal pada dosis yang dianjurkan
b. Distribusi: kerja obat bersifat setempat; 10-25% dosis inhalasi terdeposisi di
tempat kerja obat dalam saluran pernapasan
c. Metabolisme dan ekskresi: elimihidungnya terutama melalui feses, sisanya
dimetabolisme dengan cepat. Menembus plasenta.
d. Waktu paruh: 15 jam
4. Kontraindikasi dan perhatian
Dikontraindikasikan pada alergi terhadap propelan fluorokarbon. Gunakan
secara hati-hati pada

12

a. pengobatan kronis dengan dosis yang lebih tinggi dari yang dianjurkan
karena dapat menyebabkan supresi adrenal
b. terapi glukokortikoid sistemik (tidak boleh dihentikan mendadak pada saat
terapi inhalasi atau intranasal dimulai)
5. Reaksi merugikan dan efek samping
Mata dan THT: rasa terbakar pada hidung, iritasi hidung, mimisan, serangan
bersin (setelah pemberian intranasal).
6. Rute dan dosis
Intranasal anak-anak 6-11 tahun: 1 semprotan pada setiap lubang hidung 3 kali
sehari
7. Sediaan
Aerosol untuk inhalasi nasal: memberikan 42 mcg/aktivasi, 200 dosis
terukur/16,8 gr canister. Larutan aerosol untuk inhalasi nasal 0,042% larutan, 200
dosis terukur/25 gr botolTindakan pengangkatan polip dapat digunakan
menggunakan senar polip dan anestesi lokal. Untuk polip yang besar dan
menyebabkan kelainan pada hidung, memerlukan jenis operasi yang lebih besar
dan anestesi umum.
Pada kasus polip yang kejadiannya berulang-ulang, perlu dilakukan
operasi etmoidektomi karena umumnya polip berasal dari sinus etmoid.
Etmoidektomi ada 2 cara, yaitu intra nasal dan ekstra nasal.
Tindakan pembedahan dilakukan jika polip menghalangi saluran
pernafasan, polip menghalangi drainase dari sinus sehingga sering terjadi infeksi
sinus, polip berhubungan dengan tumor. Polip cenderung tumbuh kembali jika
penyebabnya (alergi maupun infeksi) tidak terkontrol. Pemakaian obat semprot
hidung yang mengandung kortikosteroid bisa memperlambat atau mencegah
kekambuhan. Tetapi jika kekambuhan ini sifatnya berat, sebaiknya dilakukan
pembedahan untuk memperbaiki drainase sinus dan membuang bahan-bahan yang
terinfeksi.
Akan tetapi bila faktor yang menyebabkan terjadinya polip tidak teratasi
maka polip hidung ini rawan untuk kambuh kembali. Oleh sebab itu sangat
diharapkan kepatuhan dari pasien untuk menghindari hal-hal yang menyebabkan
alergi yang bisa menyebabkan kekambuhan untuk terjadinya polip hidung

13

kemudian. Polip bisa tumbuh kembali oleh karena itu pada pengobatan perlu
ditujukan pada penyebabnya, misalnya alergi.
Polip diangkat dengan operasi. Operasi dilakukan dengan sangat hati-hati.
Jika polip terjadi akibat adanya alergi hidung dan alerginya tidak disembuhkan,
polip akan tumbuh lagi. Indikasi pembedahan yaitu:
1. Polip berhubungan dengan tumor
2. Polip menghalangi saluran pernafasan
3. Polip menghalangi drainase dari sinus sehingga sering terjadi infeksi sinus

2.9 Pencegahan
Seorang

penderita

polip

hidung

dapat

membantu

mengurangi

kemungkinan untuk mengalami polip hidung atau kambuhnya polip hidung


setelah perawatan dengan strategi pencegahan seperti berikut yaitu:
1. Mengatur alergi dan asma
Mengikuti pengobatan dan rekomendasi untuk mengelola asma dan alergi dari
dokter, menjalani perawatan.
2. Hindari iritasi
Sebisa mungkin, hindari hal-hal yang mungkin untuk memberikan kontribusi
untuk peradangan atau iritasi sinus, seperti alergen, polusi udara dan bahanbahan kimia.
3. Pola hidup bersih dan sehat (PHBS)
Cuci tangan secara teratur dan menyeluruh. Hal ini adalah salah satu cara
terbaik untuk melindungi tubuh dari infeksi bakteri, virus, dan mikroorganisme
lainnya yang dapat menyebabkan peradangan pada hidung dan sinus.
4. Melembabkan rumah
Gunakan pelembab ruangan jika terdapat udara kering di rumah. Hal ini dapat
membantu meningkatkan aliran lendir dari sinus dan dapat membantu
mencegah sumbatan dan peradangan.
5. Gunakan bilasan hidung atau nasal lavage
Gunakan air garam (saline) spray atau nasal lavage untuk membilas hidung.
Hal ini dapat meningkatkan aliran dan menghilangkan lendir penyebab alergi
dan iritasi. Pasien dapat membeli semprotan saline atau nasal lavage dengan
perangkat, seperti sedotan, untuk mengantarkan bilasan. Pasien dapat membuat

14

sendiri yaitu dengan mencampurkan 1/4 sendok teh (1,2 ml) garam dengan 2
cangkir (0,5 liter) air hangat.

2.10 Pemeriksaan Penunjang


2.10.1 Tes Alergi
Melalui tes ini dapat diketahui kemungkinan pasien memiliki riwayat
alergi.
2.10.2 Naso-endoskopi
Naso-endoskopi memberikan gambaran yang baik dari polip, khususnya
polip berukuran kecil di meatus media. Polip stadium 1 dan 2 kadang-kadang
tidak terlihat pada pemeriksaan rinoskopi anterior tetapi tampak dengan
pemeriksan naso-endoskopi. Pada kasus polip koanal juga dapat dilihat tangkai
polip yang berasal dari ostium asesorius sinus maksila. Dengan naso-endoskopi
dapat juga dilakukan biopsi pada pasien rawat jalan tanpa harus dioperasi.
2.10.3 Radiologik
Radiologi dengan posisi Waters dapat menunjukkan opasitas sinus. CT
scan potongan koronal merupakan pemeriksaan yang terbaik untuk mengevaluasi
pasien dengan polip hidung. CT scan koronal dari sinus paranasal sangat baik
untuk mengetahui jaringan yang mengalami kerusakan, luasnya penyakit dan
kemungkinan adanya destruksi tulang.
Foto polos sinus paranasal (posisi water, AP, caldwell, dan lateral) dapat
memperlihatkan penebalan mukosa dan adanya batas udara dan cairan di dalam
sinus tetapi pemeriksaan ini kurang bermanfaat pada pada kasus polip.
Pemeriksaan CT scan sangat bermanfaat untuk melihat dengan jelas keadaan di
hidung dan sinus paranasal apakah ada kelainan anatomi, polip, atau sumbatan
pada komplek osteomeatal. CT scan terutama diindikasikan pada kasus polip yang
gagal diterapi dengan medikamentosa.
Karena polip menyebabkan sumbatan hidung, maka harus dikeluarkan,
tetapi sumbatan karena polip tidak hanya ke dalam rongga hidung yang
menghalangi aliran udara , tetapi juga aliran sinus paranasal sehingga infeksi di

15

dalam sinus mudah terjadi. Apabila sewaktu polip dikeluarkan terjadi infeksi yang
tidak diketahui, maka dapat terjadi perdarahan sekunder. Atas alasan ini maka
sebelum setiap operasi dilaksanakan, perlu diadakan pemeriksaan rontgen sinus
dan pembuatan biakan hapus dari hidung.

Gambar 3. CT scan polip hidung