Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

LANDASAN ILMIAH PENYELENGGARAAN


PENDIDIKAN

ABSTRAK
Tulisan ini mengkaji tentang Landasan ilmiah penyelenggara pendidikan.
Landasan ilmiah pendidikan itu sendiri adalah asumsi asumsi yang bersumber
dari disiplin ilmu tertentu yang dijadikan titik tolak pendidikan. Landasan ilmiah

pendidikan antara lain : landasan psikologi pendidikan, landasan sosiologi


pendidikan, landasan antropologi pendidikan, landasan ekonomi pendidikan,
landasan biologi pendidikan, landasan politik pendidikan, landasan histori
pendidikan, landasan fisiologi pendidikan. Landasan psikologi adalah asumsiasumsi yang bersumber dari kaidah kaidah psikologi yang dijadikan titik tolak
pendidikan. Landasan sosiologi adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari
kaidahkaidah sosiologi yang dijadikan titik tolak pendidikan. Landasan
antropologi adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah
antropologi yang dijadikan titik tolak pendidikan. Landasan ekonomi adalah
suatu hal yang membahas peran ekonomi, fungsi adalah suatu hal yang
membahas peran ekonomi, fungsi produksi , efisiensi, dan efektivitas biaya
dalam pendidikan. Landasan biologi adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari
kaidah kaidah biologi yang dijadikan titik tolak pendidikan. Landasan politik
adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidahkaidah politik yang dijadikan
titik tolak pendidikan. Landasan histori adalah sumsi-asumsi pendidikan yang
bersumber dari konsep dan praktek pendidikan masa lampau (sejarah) yang
menjadi titik tolak perkembangan pendidikan masa kini dan masa datang.
Landasan fisiologi adalah asumsi-asumsi pendidikan yang bersumber dari kaidahkaidah fisiologi tentang manusia yang dijadikan titik tolak pendidikan.

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pendidikan telah berlangsung sejak awal peradaban dan budaya manusia.
Bentuk dan cara pendidikan itupun telah mengalami perubahan, sesuai dengan
perubahan zaman dan tututan kebutuhan. Pendidikan sebagai usaha sadar yang
sestematik-sistemik memiliki sejumlah landasan ilmiah. Landasan ilmiah
pendidikan sangat penting karna, sebagai fondasi suatu pendidikan terhadap
pengembangan manusia dan masyarakat suatu bangsa tertentu. Beberapa diantaranya
yaitu : landasan psikologi pendidikan, sosiologi, antropologi,ekonomi, dan

sebagainya.
Dalam bab III akan dipusatkan pada pemaparan mengenai landasan ilmiah
pendidikan dan pembagiannya serta contoh contohnya.

B. RUMUSAN MASALAH
Dari beberapa hal yang telah diungkapkan dalam latar belakang di atas
didapatkan suatu rumusan masalah:
1. Apa yang dimaksud dengan landasan ilmiah penyelenggaraan pendidikan?
2. Apa sajakah yang menjadi bagian dari landasan ilmiah penyelenggaraan
pendidikan?
C. TUJUAN
Dalam pembahasan kali ini pemakalah mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui landasan ilmiah penyelenggaraan pendidikan.
2. Untuk mengetahui pembagian landasan ilmiah pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN
Landasan Ilmiah Penyelenggaraan Pendidikan.
Landasan ilmiah pendidikan adalah asumsi asumsi yang bersumber dari disiplin
ilmu tertentu yang dijadikan titik tolak pendidikan. Sebagaimana Anda ketahui
terdapat berbagai disiplin ilmu, seperti: psikologi, sosiologi, ekonomi,
antropologi, sejarah, dsb. Sebab itu, ada berbagai jenis landasan ilmiah
pendidikan, antara lain: landasan psikologi pendidikan, landasan sosiologi
pendidikan, landasan antropologi pendidikan, landasan histori pendidikan, dsb.
1. Landasan psikologi pendidikan
adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah kaidah psikologi yang
dijadikan titik tolak pendidikan. Contoh: Setiap individu mengalami
perkembangan secara bertahap, dan pada setiap tahap perkembangannya
setiap

individu

memiliki

tugas-tugas

perkembangan

yang

harus

diselesaikannya. Implikasinya, pendidikan mesti dilaksanakan secara


bertahap; tujuan dan isi pendidikan mesti disesuaikan dengan tahapan dan
tugas perkembangan peserta didik. Landasan psikologi pendidikan
merupakan salah satu landasan yang penting dalam pelaksanaan pendidikan
karena keberhasilan pendidik dalam menjalankan tugasnya sangat
dipengaruhi oleh pemahamannya tentang peserta didik. Oleh karena itu
pendidik harus mengetahui apa yang harus dilakukan kepada peserta didik
dalam setiap tahap perkembangan yang berbeda dari bayi hingga dewasa
Keadaan anak yang tadinya belum dewasa hingga menjadi dewasa berarti
mengalami

perubahan,karena

dibimbing,

dan

kegiatan

bimbingan

merupakan usaha atau kegiatan berinteraksi antara pendidik,anak didik dan


lingkungan. Perubahan tersebut adalah merupakan gejala yang timbul secara
psikologis. Di dalam hubungan inilah kiranya pendidik harus mampu

memahami perubahan yang terjadi pada diri individu, baik perkembangan


maupun pertumbuhannya. Atas dasar itu pula pendidik perlu memahami
landasan pendidikan dari sudut psikologis.
Dengan demikian, psikologi adalah salah satu landasan pokok dari
pendidikan. Antara psikologi dengan pendidikan merupakan satu kesatuan
yang sangat sulit dipisahkan. Subyek dan obyek pendidikan adalah manusia,
sedangkan psikologi menelaah gejala-gejala psikologis dari manusia.
Dengan demikian keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Dalam proses dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan pendidikan peranan
psikologi menjadi sangat mutlak. Analisis psikologi akan membantu para
pendidik memahami struktur psikologis anak didik dan kegiatankegiatannya,

sehingga

kita

dapat

melaksanakan

kegiatan-kegiatan

pendidikan secara efektif.


Lumsdaine (dalam Miarso, 2009: 111) berpendapat bahwa ilmu perilaku,
khususnya teori belajar, merupakan ilmu yang utama untuk mengembangkan
teknologi pembelajaran. Bahkan Deterline (dalam Miarso, 2009: 111)
menyatakan bahwa teknologi pembelajaran merupakan aplikasi teknologi
perilaku yaitu untuk menghasilkan perilaku tertentu secara sistematik guna
keperluan pembelajaran.
Tujuan perilaku perlu ditetapkan terlebih dahulu sebelum mengembangkan
pembelajaran agar dapat dijadikan bukti bahwa seseorang telah belajar.
Tujuan perilaku ini merupakan ciri yang harus ada dalam setiap model
pengembangan pembelajaran yang merupakan salah satu bentuk konsepsi
teknologi pendidikan.
2. Landasan sosiologi pendidikan
adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidahkaidah sosiologi yang
dijadikan titik tolak pendidikan. Contoh: Di dalam masyarakat yang
menganut stratifikasi sosial terbuka, terdapat peluang besar untuk terjadinya
mobilitas sosial. Adapun faktor yang memungkinkan terjadinya mobilitas
sosial itu antara lain bakat dan pendidikan. Implikasinya, para orang tua

rela berkorban membiayai pendidikan anak-anaknya (dengan menyisihkan


kebutuhan hidup sekunder lainnya) agar kedudukan status sosial anak
mereka dapat naik dalam tingkatan anak tangga sosialnya. Landasan
sosiologis mengandung norma dasar pendidikan yang bersumber dari norma
kehidupan masyarakat yang dianut oleh suatu bangsa. Untuk memahami
kehidupan bermasyarakat suatu bangsa, kita harus memusatkan perhatian
pada pola hubungan antar pribadi dan antar kelompok dalam masyarakat
tersebut. Untuk terciptanya kehidupan bermasyarakat yang rukun dan damai,
terciptalah nilai-nilai sosial yang dalam perkembangannya menjadi normanorma sosial yang mengikat kehidupan bermasyarakat dan harus dipatuhi
oleh masing-masing anggota masyarakat.
Sosiologi pendidikan dituntut untuk melakukan tiga fungsi, yaitu: (1)
fungsi eksplanasi, (2) fungsi prediksi, (3) fungsi utilisasi. Secara umum,
sosiologi pendidikan bertujuan untuk mengembangkan fungsi-fungsinya
tersebut melalui pengkajian fenomena-fenomena sosial dan pendidikan,
dalam rangka mencari model-model pendidikan yang lebih fungsional dalam
kehidupan masyarakat.
Perkembangan masyarakat Indonesia dari masa ke masa telah
mempengaruhi sistem pendidikan nasional. Hal tersebut sangatlah wajar,
mengingat kebutuhan akan pendidikan semakin meningkat dan kompleks.
Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk menyesuaikan pendidikan
dengan

perkembangan

masyarakat

terutama

dalam

hal

menumbuhkembangkan ke-Bhineka tunggal ika-an, baik melalui kegiatan


jalur sekolah maupun jalur pendidikan luar sekolah.
3. Landasan antropologi pendidikan
adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah antropologi
yang dijadikan titik tolak pendidikan. Contoh: perbedaan kebudayaan
masyarakat di berbagai daerah (misalnya: sistem mata pencaharian, bahasa,
kesenian, dsb) mengimplikasikan perlu diberlakukannya kurikulum muatan
lokal. Antropologi adalah studi tentang umat manusia, yang berusaha

menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya,


dan untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman
manusia. Objek kajian antropologi adalah budaya.
Kebudayaan adalah totalitas kompleks yang mencangkup pengetahuan,
kepercayaan, seni, hukum, moral, adat, dan kemampuan-kemampuan serta
kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh orang sebagai anggota masyarakat.
Pendidikan dan kebudayaan mempunyai pengaruh timbal balik. Bila
kebudayaan berubah maka pendidikan juga bisa ikut berubah dan bila
pendidikan berubah akan akan dapat mengubah kebudayaan. Disini tampak
bahwa peranan pendidikan dalam mengembangkan kebudayaan adalah
sangat besar. Semakin potensi seseorang dikembangkan semakin mampu ia
menciptakan

atau

mengembangkan

kebudayaan.

Sebab

kebudayaan

dikembangkan oleh manusia.


Antropologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang berusaha
memahami dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis
berdasarkan konsep-konsep dan pendekatan Antropologi.
4. Landasan ekonomi pendidikan
Ekonomi adalah sistem aktivitas manusia yang berhubungan dengan
produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi barang dan jasa. Kata
"ekonomi" sendiri berasal dari kata Yunani (oikos) yang berarti "keluarga,
rumah tangga" dan (nomos), atau "peraturan, aturan, hukum," dan secara
garis besar diartikan sebagai "aturan rumah tangga" atau "manajemen rumah
tangga. Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia
dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Inti masalah ekonomi adalah
adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas
dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas.
Landasan ekonomi adalah suatu hal yang membahas peran ekonomi, fungsi
adalah suatu hal yang membahas peran ekonomi, fungsi produksi, efisiensi,
dan efektivitas biaya dalam pendidikan. Ekonomi merupakan salah satu
faktor yang cukup berpengaruh dalam mengembangkan pendidikan.

Landasan ekonomi adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidahkaidah ekonomi yang dijadikan titik tolak pendidikan. Contoh: Kalkulasi
ekonomi selalu berkenaan dengan modal, produksi, distribusi, persaingan,
untung atau laba dan rugi. Implikasinya, pendidikan dipandang sebagai
penanaman

modal

pada

diri

manusia

(human

investment)

untuk

mempertinggi mutu tenaga kerja sehingga dapat meningkatkan produksi.


Selain itu, pemilihan sekolah atau jurusan oleh seseorang akan ditentukan
dengan mempertimbangkan kemampuan biaya/modal yang dimilikinya,
prospek pekerjaan serta gaji yang mungkin diperolehnya setelah lulus dan
bekerja. Jika sekolah ingin laku (banyak memperoleh siswa), maka harus
mempunyai daya saing tinggi dalam hal prestasi.
5. Landasan biologi pendidikan
adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah kaidah biologi yang
dijadikan titik tolak pendidikan. Contoh: Dibanding dengan khewan,
manusia memiliki otak yang lebih besar sehingga ia mampu berpikir.
Implikasinya, manusia memungkinkan untuk dididik.
6. Landasan politik pendidikan
adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidahkaidah politik yang
dijadikan

titik

tolak

pendidikan.

Contoh:

Pemerintahan

otokrasi

mengimplikasikan manajemen pendidikan yang sentralistik.


7. Landasan histori pendidikan
adalah asumsi-asumsi pendidikan yang bersumber dari konsep dan
praktek pendidikan masa lampau (sejarah) yang menjadi titik tolak
perkembangan pendidikan masa kini dan masa datang. Contoh: Semboyan
tut wuri handayani sebagai salah satu peranan yang harus dilaksanakan
oleh para pendidik, dan dijadikan semboyan pada logo Kementerian
Pendidikan Nasional, adalah semboyan dari Ki Hadjar Dewantara (Pendiri
Perguruan Nasional Taman Siswa pada tgl 3 Juli 1922 di Yogyakarta) yang

disetujui hingga masa kini dan untuk masa datang karena dinilai berharga.
8. Landasan fisiologi pendidikan
adalah asumsi-asumsi pendidikan yang bersumber dari kaidah-kaidah
fisiologi tentang manusia yang dijadikan titik tolak pendidikan. Contoh:
kematangan organ-organ tubuh seperti fungsi otak, susunan syaraf, alat
indra, otot-otot, dsb. mendahului perkembangan kemampuan berpikir
sebagai fungsi jiwa. Implikasinya, isi pendidikan harus disesuaikan dengan
masa peka, yaitu masa kematangan organ-organ tubuh untuk dapat
menerima pengaruh-pengaruh dari luar secara efektif dalam meningkatkan
kemampuan-kemampuan berpikir sebagai fungsi kejiwaan.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Landasan ilmiah pendidikan merupakan asumsi-asumsi yang
bersumber dari berbagai cabang atau disiplin ilmu yang menjadi titik tolak
dalam rangka praktek pendidikan dan atau studi pendidikan. Tergolong ke
dalam landasan ilmiah pendidikan antara lain: landasan psikologis
pendidikan,

landasan

sosiologis

pendidikan,

landasan

antropologis

pendidikan, landasan historis pendidikan, dsb. Landasan ilmiah pendidikan


dikenal pula sebagai landasan empiris pendidikan atau landasan faktual
pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Tatang Sy. File 2010


Langeveld,
M.J.,
(1980),
Beknopte
(Terj.:Simajuntak), Jemmars, Bandung.

Theoritische

Paedagogiek,

Frost Jr., S.E., (1957), Basic Teaching of.The. Great Philosophers, Barnes &
Nobles, New York.
Muchtar, O, (Penyunting), (1991), Dasar-Dasar Kependidikan, IKIP Bandung.