Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH PENYAKIT MULUT 1

Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG)

Disusun Oleh :
Indah Octantia

(04031181419019)

Fauziah Qodrrine S. (04031181419020)


Felianda Thalia R.

(04031181419021)

Dosen Pembimbing :
drg. Tyas Hestiningsih
drg. Siti Rusdiana Puspa Dewi, M.Kes

Program Studi Pendidikan Dokter Gigi


[Type text]

Page 1

Fakultas KedokteranUniversitas Sriwijaya


2016
Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG)
I.

DEFINISI
Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG) adalah penyakit inflamatoris
destruktif pada gingiva dengan tanda simtom yang khas.

ANUG ditandai dengan

ulserasi progresif cepat dengan adanya area nekrosis yang tertutup oleh
pseudomembran berwarna keabu-abuan, biasanya dimulai di ujung papilla
interdental, menyebar sepanjang margin gingiva, dan terjadi kerusakan akut yang
mengenai jaringan periodontal.1 ANUG ini memiliki nama lain seperti Vincent's
disease, trench mouth (parit mulut), dan gingivitis fusospirochetal.2 Istilah Vincents
disease berasal dari dokter asal Prancis yang bernama Henri Vincent (1862-1950).
II.

EPIDEMIOLOGI
ANUG banyak dijumpai di negara-negara berkembang dengan status nutrisi yang
buruk, kondisi hidup yang stres, oral hygiene yang buruk dan kondisi tubuh yang
lemah akibat penyakit menular endemik.1 Biasanya dapat mengenai remaja dan
dewasa muda usia 15-35 tahun dan laki-laki lebih sering menderita penyakit ini
dibandingkan perempuan.3 Tekanan profesi seperti calon tentara cenderung lebih
sering terkena (7%) dari penyakit dibandingkan populasi normal (1%) dan pada lakilaki dengan kebiasaan merokok infeksi ini lebih sering terjadi.3 Pasien anak jarang
ditemukan kecuali apabila disertai dengan malnutrisi.4
Penyakit ini masih sering terlihat di negara-negara berkembang, khususnya di
Sub-Saharan Afrika di mana itu terjadi hampir secara eksklusif di kalangan anak-anak
miskin biasanya antara usia 3 tahun dan 10 tahun dengan tingkat sosio-ekonomi yang
rendah. Pengamatan serupa juga telah dilaporkan di India. Di Nigeria, penelitian yang
dilakukan oleh Rumah Sakit dalam dekade terakhir menunjukkan kejadian ANUG
meningkat di kalangan anak-anak dengan prevalensi setinggi 23% pada anak di
bawah usia 10 tahun.5
Namun, dengan infeksi HIV begitu luas, ANUG menjadi dikenal luas sebagai lesi
infeksi yang sangat patognomonik, terutama jika dilihat pada dewasa muda yang

[Type text]

Page 2

tampak sehat. Laporan dari prevalensi ANUG di antara pasien yang terinfeksi HIV
bervariasi antara 4,3% sampai 16,0%.5
III.

FAKTOR ETIOLOGI
Mikroba yang berperan dalam menyebabkan ANUG kebanyakan adalah bakteri
anaerob seperti spesies Treponema, Prevotella intermedia, Fusobacterium nucleatum,
mikro Peptostreptococcus, Porphyromonas gingivalis, spesies Selenomonas, dan
Campylobacter. Pada pasien HIV, candida dan virus herpes juga sering hadir.4

Gambar 1. Mikroorganisme Penyebab ANUG5


IV.

FAKTOR PREDISPOSISI
Faktor predisposisi adalah stres emosional, merokok, oral hygiene yang buruk,
trauma lokal, defek imun, malnutrisi dan infeksi HIV.3,6
a. Sistem Imun
Aspek lainnya dari etiologi ANUG berhubungan dengan malnutrisi yang telah
diteliti yaitu fungsi dari leukosit dan pengaturan dari sistem imun. Menunjukkan :
Tabel 1. Hubungan antara sistem imun dan ANUG5
No
1

Penelitian
Cogen et al.

Menunjukkan
Pada pasien ANUG menunjukan penurunan kemampuan
reaksi

polymorphonuclear

leukocytes

(PMN)

terhadap

Courtois et

kemotaksis dan fagositosis.


Dominasi sel-sel plasma dan limfosit pada daerah lesi

al.
Listgarens

dibandingkan jumlah PMN


Dominasi PMN pada lesi ANUG

et al.
Rowland et

Peningkatan kadar serum IgG dan IgM pada pasien ANUG

al.
Dennison et

menunjukkan lemahnya fungsi imun.


Bukti lebih lanjut yang mendukung perubahan fungsi sistem

[Type text] al.

imun sebagaiPage
etiologi
ANUG adalah tingginya insiden
3
ANUG pada pasien HIV.

b. Malnutrisi
Pada orang yang mengalami malnutrisi terjadi reduksi jumlah dan kandungan saliva
serta ada penurunan IGg A. Pada malnutrisi kelenjar saliva mengalami reduksi
arginase (enzim yang memecah arginin) sehingga pertumbuhan bakteri meningkat
dan terjadi peningkatan pH.5
c. Stress
Stres diyakini sebagai predisposisi ANUG dengan menyebabkan peningkatan pada
sekresi adrenokortikal. Hal ini juga menyebabkan pelepasan zat P, hormon peptida
yang menekan kedua imunitas spesifik dan non spesifik. Hal ini juga
mempengaruhi suasana hati (mood) pasien mengakibatkan kondisi pasien berubah
dalam asupan nutrisi dan kebersihan rongga mulut.5
d. Oral Hygiene
Oral hygiene yang buruk merupakan faktor pemicu terjadinya penyakit periodontal,
plak dan kalkulus yang terbentuk tersebut lama kelamaan dapat mengiritasi gingiva
sehingga terinfeksi, gingiva yang berbatasan dengan gigi menjadi lebih merah dan
bengkak, serta tampak mengkilap dan apabila kurang mendapat perawatan maka
akan menjadi lebih parah.5

Skema 1. Faktor Predisposisi Terjadinya ANUG.1

[Type text]

Page 4

V.

KELUHAN UTAMA
ANUG memiliki onset yang cepat dan akut. Gejala awal berupa saliva yang
berlebih, metallic taste, dan sensitivitas gingiva. Kejadian ini berkembang dengan
cepat menyebabkan rasa sakit dan kemerahan pada gingiva dengan ulserasi yang
tersebar, Rasa sakit itulah yang merupakan keluhan utama pasien untuk datang
berobat ke dokter gigi. Papila interdental mengalami ulserasi dengan rawa nekrotik,
terkadang pada gingiva margin juga dapat terkena.3 Selain itu juga dijumpai bau
mulut (halitosis) dan perdarahan gingiva. Karena rasa sakit yang berhubungan dengan
gingivitis, biasanya terdapat penumpukan plak yang banyak di sekitar gigi karena
mungkin sulit untuk membersihkan mulut dengan efektif akibat adanya rasa sakit.4

VI.

RIWAYAT SISTEMIK DAN RIWAYAT SOSIAL


Pada pasien yang menderita defek imun dan HIV/AIDS, penyakit ANUG sangat
mudah terjadi karena didukung oleh sistem kekebalan tubuh yang rendah dan infeksi
virus. Kemudian pada pasien dengan status pendidikan, sosial dan ekonomi yang
rendah, biasanya tidak terlalu mementingkan oral hygiene sehingga rentan terjadi
infeksi pada rongga mulut. Populasi mereka juga sering mengalami malnutrisi yang
menyebabkan rendahnya proteksi terhadap bakteri patogen.

[Type text]

Page 5

VII.

GAMBARAN KLINIS
Gambaran klinis khas adalah nekrosis yang menyakitkan pada papila interdental
dan margin gingiva, dan pembentukan kawah yang tertutup oleh pseudomembran
abu-abu (Gambar 141.). Perdarahan spontan gingiva, halitosis, dan hipersalivasi
adalah hal yang umum pada pasien ini.
Pada pasien dengan penyakit imun seperti HIV, lesi yang ditemukan bersifat lebih
destruktif dibandingkan dengan pada pasien tanpa gangguan imun.

VIII. DIAGNOSIS DAN DIAGNOSIS DIFERENSIAL


Diagnosis ANUG dapat langsung diketahui dari pemeriksaan klinis3, dengan ciri
khas berupa kawah yang tertutup oleh pseudomembran yang mengenai papilla
interdental bahkan bisa sampai ke margin gingiva.
Beberapa penyakit yang menjadi diagnosis diferensial ANUG6 :

[Type text]

Primary herpetic gingivostomatitis


Page 6

Desquamative gingivitis

Agranulocytosis

Cyclic neutropenia

Leukemia

Ascorbic acid deficiency dan gingivitis

Onset akut eritematosa dan ulserasi gingiva dari ANUG mirip dengan
gingivostomatitis herpetik primer, dengan demikian apusan bakteri fusospirochaetal
dan gambaran darah sangat membantu.3 Desquamative gingivitis (yang disebabkan
lichen planus, mucous membran pemphigoid, pemphigus vulgaris dan reaksi
hipersensitivitas) dapat hadir terutama pada gingiva, tanpa adanya temuan kulit.
Namun, kondisi ini bukan merupakan onset akut melainkan bersifat kronis atau
progresive selama beberapa bulan dan tahun dan ditandai dengan terjadinya
inflamasi, bukan nekrosis.4
Ulkus neutropenia pada pasien kemoterapi kanker tampak mirip dengan ANUG,
yang mengarah ke ulserasi luas dan nekrosis pada margin gingiva dan permukaan
mukosa lainnya. Pada pasien dengan gangguan imun, dapat sulit dibedakan dengan
squamous sel karsninoma.4

IX.

PENATALAKSANAAN DAN OBAT-OBATAN


Perawatan Awal umum8 :

Lakukan debridement dengan anestesi lokal


Hapus pseudomembran menggunakan cotton pellet yang dicelupkan ke dalam

chlorhexidine
Menyediakan pasien dengan spesifik petunjuk kebersihan mulut menggunakan

obat kumur antibakteri resep: chlorhexidine 0,12% dua kali sehari


Kontrol nyeri dengan analgesik: ibuprofen 400-600 mg 3 kali sehari

[Type text]

Page 7

konseling pasien harus mencakup instruksi pada nutrisi yang tepat, perawatan

mulut, asupan cairan yang tepat, dan berhenti merokok


Meresepkan antibiotik jika pasien immunocompromised (misalnya, AIDS,
leukemia, siklik neutropenia) atau dalam hal keterlibatan sistemik seperti demam,

malaise dan limfadenopati


Menindaklanjuti dengan evaluasi periodontal komprehensif setelah resolusi

kondisi akut
Untuk tanda-tanda keterlibatan sistemik, antibiotik yang direkomendasikan
adalah:
Amoxicillin, 250 mg 3 x sehari selama 7 hari dan / atau
Metronidazol, 250 mg 3 x sehari selama 7 hari
Mengkaji hasil pengobatan dalam 24 jam, lalu setiap hari sampai tanda dan gejala
hilang dan kesehatan gingiva dan fungsinya pulih kembali (Gambar 3 dan 4).

Sisa kawah interdental jaringan lunak lebih rentan terhadap kehilangan perlekatan
klinis lebih lanjut; perlu dilakukan evaluasi perawatan bedah yang mungkin di
daerah ini.
Daerah yang tidak responsif terhadap pengobatan dapat terjadi dan dapat ditandai
dengan rekurensi dan / atau kerusakan progresif dari gingiva dan perlekatan
periodontal..
Terapi tambahan dan / atau medis / konsultasi dental juga dapat diindikasikan
untuk pasien nonresponding. Kondisi ini mungkin memiliki kecenderungan untuk
kambuh; Oleh karena itu, pasien harus sering berkunjung untuk pemeliharaan
periodontal dan kebersihan mulut dengan teliti.

[Type text]

Page 8

X.

PROGNOSIS
Jika tidak segera diobati, infeksi dapat menyebabkan kerusakan yang cepat pada
periodonsium (necrotizing periodontitis ulseratif) dan bahkan dapat menyebar, seperti
necrotizing stomatitis atau noma, ke jaringan tetangga di pipi, bibir atau tulang
rahang. Dengan pengobatan, bahkan jika kehilangan perlekatan secara klinis
dikaitkan dengan NUG, resolusi setelah pengobatan (skala periodik, root planing dan
bilasan antimikroba), berlangsung cepat dan memungkinkan terjadinya regenerasi
interdental jaringan lunak yang terkena.8 Selain itu, pada pasien dengan penyakit
imun, seperti HIV, memiliki prognosis keberhasilan perawatan yang lebih buruk
dibandingkan dengan individu normal.
Kegagalan perawatan dapat dikarenakan kegagalan menghilangkan penyebab
iritasi, debridement tidak lengkap, diagnosis tidak akurat, ketidakpatuhan pasien,
dan / atau kondisi sistemik yang mendasarinya.

REFERENSI
1. Singh A, Sinha A, Jithendra, Sharma S, Garg M. Case report on anug. Int Journ of Res in
Dent. 2015 Oct 5; 5(5): 29-34.
2. Fatima Z, Bey A, Gupta ND. Conservative Management of Acute Necrotizing Ulcerative
Gingivitis in Lactating Female. Int Dent Journ of Stud Res. 2013; 1(4): 42-46.
3. Scully, C., Flint, S.R., Bagan, J.V, Porter, S.R., dan Moos, K.F. Oral and Maxillofacial
Diseases 4th edition. 2010. London: Informa Healthcare.
4. Glick M, Chair WMF. Burkets Oral Medicine; Diagnosis and Treatment 12th edition.
2015. Hamilton: BC Decker Inc.
[Type text]

Page 9

5. Folayan M O.

The Epidemiology, Etiology, Pathophysiology of Acute Necrotizing

Ulceratuve Gingivitis Associated with Malnutrition. The Journal of Contemporary Dental


Practice. 2004; 5(3) ; 028-041.
6. Laskaris, G. Pocket Atlas of Oral Diseases 2nd Edition. 2006. New York : Stuttgart.
7. M Diana Mirna, Oktavianti Linda D, Kurniawati Nia, Subita Gus Permana. Kontribusi
Higiene Mulut Terhadap Timbulnya Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG)
(Survei Epidemiologi di Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur Jawa Barat). Indonesian
Journal of Dentistry. 2005; 12(2) : 46-49.
8. Todescan S, Atout RN. Managing Patients with Necrotizing Ulcerative Gingivitis. J Can
Dent Assoc. 2013 April 8; 79:d46.

[Type text]

Page 10