Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH ORAL MEDICINE 1

FRICTIONAL KERATOSIS

Disusun oleh:

Thalya Khansaleta (04031181419001)


Brigita Nicken (04031181419002)
Rahma Yunita (04031181419003)

Dosen Pembimbing:
drg. Siti Rusdiana Puspa Dewi, M.KES

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS SRIWIJAYA
TAHUN AJARAN 2016/2017

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan berkah dan
hidayah- Nya kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah
ini dengan judul, FRICTIONAL KERATOSIS tugas dari mata kuliah Oral
Medicine oleh drg.Siti Rusdiana Puspa Dewi, M.KES.
Adapun makalah ini berisi 3 Bab yakni Bab 1 berupa pendahuluan
dari

pembuatan makalah, Bab 1 berupa pembahasan darilesi frictional

keratosis dimulai dari definisi, prevalensi, gambaran klinis, gambaran


histologis, penegakan diagnosa, diagnosa banding dan juga prognosis
serta

penatalaksanaannya.

Bab

yang

berisi

kesimpulan

berupa

ringkasan dari makalah ini. Kami sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun untuk makalah ini. Akhir kata, semoga segala informasi
yang terdapat di dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Palembang, 11 September 2016

Penulis

KATA
PENGANTAR..................................................................
...................2
DAFTAR
ISI.................................................................................
.....................................3
BAB

PENDAHULUAN..............................................................
..................4
BAB

II

PEMBAHASAN................................................................
.................5
2.1
Definisi.........................................................................
................6
2.2
Prevalensi.....................................................................
...............6
2.3 Faktor

Etiologi

dan

Predisposisi...............................................7
2.4 Gambaran
Histopatologis..........................................................8
2.5 Gambaran
Klinis........................................................................9
3

2.6 Cara

Penegakan

Diagnosa.........................................................9
a.
Anamnesa.............................................................................
..........9
b.

Pemeriksaan

klinis.........................................................................9
c.

Pemeriksaan

Penunjang.................................................................10

2.7 Diagnosa
Banding......................................................................1
0
2.8 Pengobatan

dan

Prognosis........................................................11
BAB

III

KESIMPULAN.................................................................
...............12
DAFTAR
PUSTAKA ...........................................................................
..............13

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 PENDAHULUAN
Munculnya

lesi

putih

pada

mukosa

disebabkan

karena

hiperkeratosis, kelebihan keratin serta penyerapan saliva yang


akhirnya menunjukkan lesi putih. Selain dari lingual filiform papila,
keratinisasi dapat juga terlihat dari derajat keabnormalan mulut.
Plak putih kronis pada mukosa sering didiagnosis sebagai
leukoplakia. Namun dari beberapa lesi yang dapat ditemukan salah
satunya adalah frictional keratosis yang merupakan salah satu lesi
oral

ringan

yang

sering

terjadi

pada

kebanyakan

pasien.

Dikarenakan hal tersebut kami bermaksud untuk menjelaskan apa


itu frictional keratosis.
1.2

Rumusan Masalah
Dalam perumusan masalah makalah ini, saya mencoba memberikan

jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut ini:


1. Apa itu frictional keratosis?
2. Bagaimana gambaran klisnya?
3. Apa penyebab dari penyakit ini?
4. Apa diagnosa banding dari penyakit ini?
5. Apa gejala klinis dari penyakit ini?
1.3

Tujuan
Adapun masalah yang saya bahas dalam makalah ini akan menjawab

semua hal dalam frictional keratosis.


1. Mengetahui frictional kerratosis.
2. Mengetahui gambaran klnis frictional keratosis..

3. Mengetahu penyebab dari frictional keratosis.


4. Mengetahui diagnosa banding dari frictional keratosis.
5. Mengetahui gejala klinis dari frictional keratosis.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI
Frictional keratosis adalah lesi putih yang berhubungan dengan
gesekan kronis atau gesekan yang terjadi pada permukaan mukosa mulut.
Hal ini menyebabkan lesi putih hiperkeratosis sebagai pelindung yang
sesuai dengan kalus pada mukosa. Frictional keratosis dari mukosa mulut
ini umum terjadi dan biasanya merupakan respon terhadap iritasi ringan
oleh penyebab seperti tepi tajam dari gigi atau restorasi, protesa gigi,
makanan abrasif, menyikat gigi yang terlalu kuat dan memainkan alat
musik tiup. Biasanya secara klinis ditandai dengan lesi putih tanpa unsur
merah.

2.2 PREVALENSI
Survei yang paling komprehensif tentang prevalensi lesi mukosa
mulut adalah National Health dan Nutrition Examination Survey Ketiga
(NHANES III). Pemeriksaan oral dilakukan pada 17.235 orang dewasa.
Cheek and lip biting memiliki prevalensi 3.05% dan peringkat ketiga
dalam prevalensi lesi oral, sementara frictional keratosis memiliki nilai
prevalensi 2.67% dan peringkat keempat. Pada survei yang sama, ketika
10.030 anak-anak yang berumur 2-17 tahun dievaluasi, nilai prevalensi
untuk frictional keratosis adalah 0.26%.
Dalam sebuah penelitian di Denmark dari 20.333 orang yang
berusia 15 tahun dan lebih tua, prevalensi dari frictional keratosis adalah
5.5%. Demikian pula, prevalensi untuk frictional keratosis dari penelitian
yang lebih kecil dari orang dewasa Kenya adalah 5.5%. Di Slovenia,
prevalensi untuk frictional keratosis adalah 2.2%.
6

Ketika penelitian terbatas pada individu yang mencari perawatan di


klinik oral medicine, frekuensi yang lebih luas dan kejadiannya telah
dicatat. Dalam penelitian yang terbatas pada pasien yang dirawat di
sekola dental di Spanyol, prevalensi 11.5% untuk frictional keratosis,
10.7% untuk linea alba, dan 6.8% untuk cheek biting. Dalam penelitian
sekolah dental India, frictional keratosis merupakan lesi oral yang paling
umum ditemukan terjadi pada 5.8% pasien. Ketika pasien yang dirawat di
rumah sakit dan klinik dievaluasi pada klinik oral medicine Australia, lesi
hyperkeratosis, termasuk lesi karena tembakau, tercatat 11.6% untuk
pasien yang dirawat di rumah sakit dan 10.3% untuk pasien klinik.
Penelitian terbesar dari 23.785 pasien, ada pada klinik sekolah
dental Meksiko, ditemukan bahwa frictional keratosis merupakan temuan
mukosa mulut yang paling umum ketiga, dengan tingkat prevalensi 32
kasus dari 1000 pasien, sementara lesi cheek-biting menduduki peringkat
kelima, atau 21.7 kasus per 1000 pasien.
2.2.1 Mortalitas / Morbiditas
Frictional keratosis dan variannya tidak menimbulkan gejala dan lesi
mukosa jinak yang tetap terlokalisasi tanpa hubungan dengan mortalitas
atau morbiditas.
2.2.2

Ras

Tidak ada predileksi rasial yang tampak untuk oral frictional keratosis.
2.2.3 Jenis Kelamin
Secara umum, frictional keratosis tidak memiliki predileksi jenis
kelamin, kecuali untuk cheek biting dan lip biting, yang dua kali lebih
umum pada wanita dibandingkan dengan laki-laki.
2.2.4 Usia
Oral frictional keratosis mempengaruhi berbagai usia, dan faktor yang
terlibat menentukan kelompok usia yang lebih sering terkena, misalnya
pada

individu

yang

merokok

dan

mengonsumsi

alkohol

akan

meningkatkan prevalensi. Secara umum, lesi oral frictional keratosis lebih


sering terjadi pada orang dewasa.

2.3 FAKTOR ETIOLOGI DAN PRESDIPOSISI


7

Frictional keratosis terlihat di daerah dengan peningkatan abrasi,


yang menstimulasi epitel untuk merespon dengan meningkatkan produksi
keratin. Reaksi dapat dianggap sebagai respon fisiologis terhadap trauma
minor. Iritasi seperti gigi yang tajam, cheek biting, dan memakai gigi palsu
yang tidak pas dalam waktu lama merupakan contoh dari penyebab
gesekan kronis. Merokok dan konsumsi alkohol telah dilaporkan sebagai
faktor predisposisi. Dengan demikian, perkembangan frictional keratosis
terjadi ketika mukosa mulut terkena faktor-faktor ini. Lesi putih adalah
sebagai akibat dari sel-sel lainnya yang diatur oleh tubuh karena bereaksi
terhadap iritasi yang disebabkan oleh gesekan.
Pada pasien dengan frictional keratosis, penyebabnya mudah
diidentifikasi.
1. Kebiasaan oral dari menggigit pipi, mengunyah pipi, menjulurkan
lidah, atau mengisap mukosa sering dapat diidentifikasi sebagai
penyebab jika daerah lesi diperiksa hati-hati dalam hubungannya
dengan bidang oklusal.
2. Gigi palsu lepasan yang tidak pas, kasar, atau rusak atau alat
ortodontik atau fraktur atau permukaan gigi yang tidak teratur
sering mempengaruhi jaringan-jaringan lunak yang berdekatan.
3. Kadang-kadang, lesi frictional keratosis dapat berkembang sebagai
akibat dari gosokan konstan suatu benda eksternal, seperti pipa
tembakau; instrumen musik; atau, mungkin, alat pekerja, yang
untuk kenyamanan, diletakkan di mulut untuk waktu yang lama.
4. Penyebab lain mungkin adanya manipulasi jaringan dengan kuku
yang panjang, yang mungkin dapat merusak mukosa.
5. Menyikat gigi yang tidak benar dan alat bantu kebersihan mulut
lainnya mempengaruhi jaringan attached gingiva.
6. Iritasi dari fungsi pengunyahan dapat menyebabkan frictional
keratosis ketika mukosa alveolar dan retromolar menanggung
tekanan makan. Ketika lesi terjadi pada daerah tersebut, mereka
disebut sebagai kalus alveolar ridge.
7. Kehamilan dapat secara signifikan meningkatkan risiko menggigit
pipi.
8

8. Dalam kasus yang jarang terjadi, disebakan kerena terlalu sering


menggunakan anestesi topikal, terlalu sering menggunakan obat
kumur antiseptik, atau pemberian obat oromucosal (misalnya,
ganja) yang menyebabkan keratosis dari iritasi kimia.
9. Identifikasi kebiasaan tersebut tergantung pada riwayat keseluruhan
yang didapatkan.

2.4 GAMBARAN HISTOPATOLOGIS


Seperti yang ditunjukkan namanya, perubahan mikroskopis yang
utama adalah hiperkeratosis. Dalam hiperkeratosis, kelebihan keratin
terlihat di permukaan, dan sel-sel inflamasi bisa ada atau tidak ada dalam
jaringan ikat yang mendasari. Dalam mikroskop frictional keratosis khas
biasanya menunjukkan lapisan tebal orthokeratinise dengan lapisan sel
granular yang menonjol. Tidak ada dysplasia signifikan dan radang dari
corium dasar mungkin minimal dengan tidak adanya ulserasi. Pada
keratosis karena kebiasaan mengunyah sering ada acanthosis dan
permukaan

biasanya

tidak

teratur

dan

parakeratinised.

Sering

menunjukkan tudung dari kokus basophilic adheren atau kumpulan bakteri


yang lebih padat.

Gambar 1. Terdapat hiperplasia pada sel basal dan lapisan tebal dari
orthokeratin pada bagian permukaan

2.5 GAMBARAN KLINIS


Secara klinis, lesi cenderung membentuk plak keratotik yang
tersebar. Pada tahap awal, lesi ini pucat dan translusen dan menyatu jelas
ke mukosa normal di sekitarnya. Kemudian akan menjadi lebih padat,
9

putih dan memiliki permukaan yang kasar dan tidak teratur. Lesi putih
dapat ditemukan pada jaringan lunak yang berdekatan dengan permukan
yang teriritasi. Frictional keratosis terjadi pada daerah yang terkena
trauma, seperti bibir, tepi lateral lidah, mukosa bukal sepanjang garis
oklusal dan edentulous ridge.
Frictional keratosis pada area edentulous dapat disebabkan karena
pengunyahan atau makanan yang kasar. Jika sumber iritasi dihilangkan,
maka lesi akan sembuh dengan sendirinya. Lesi ini asimtomatik tapi dapat
menyebabkan kecemasan pada pasien karena dapat dianggap sebagai
lesi ganas.

2.6 CARA PENEGAKAN DIAGNOSA


2.6.1 Anamnesis
Pada pemeriksaan anamnesis keluhan pasien serta penyebab lesi dapat berupa :
Rasa tebal dan kasar pada permukaan mukosa yang mengalami keratosis.
Beberapa dari pasien akan mengatakan bahwa mereka dapat membuang sendiri lesi ini,
yang merupakan bagian mukosa yang menebal pada daerah trauma.
Pasien menyadari bahwa mereka memiliki kebiasaan seperti mengisap bagian mukosa
mulut atau menjulur-julurkan lidah mereka ke gigi.
Beberapa pasien juga akan mengeluhkan bahwa pipi dan lidah mereka bengkak.
Terkadang pada beberapa pasien lesi akan terjadi pada papila fungiform yaitu pada
pasien yang memiliki kebiasaan menggigit dan menjulur-julurkan lidah, sehingga lidah
akan terasa perih dan terkadang diikuti rasa terbakar.
Jika lesi ini terjadi pada daerah gingiva, pasien biasanya menggunakan sikat gigi yang
keras atau peratan kebersihan gigi lainnya yang keras atau kasar.
10

Pada beberapa kasus, penggunaan aplikasi ortodontik ataupun protesa dapat


menyebabkan trauma pada jaringan lunak. Biasanya

mouthguards yang tidak

pas

ataupun penggunaan splinting oklusal, sering menyebabkan friksional keratosis.


Kebiasaan pasien seperti menghisap pipi, bibir atau lateral lidah juga dapat disebabkan
oleh adanya gangguan pada TMJ ataupun burning mouth sydrome.
2.6.2 Pemerikaan klinis
Kebanyakan pasien yang mengalami friksional keratosis bebas dari gejala, dengan
pengecualian pada pasien yang memiliki kebiasaan menggigit bibir dan pip yang parah. Pada
beberapa pasien yang mengalami trauma kembali akan mendapatkan gejala berupa sensitif
pada bagian yang trauma, bengkak dan rasa membakar.
Adapun tahapan pemeriksaan klinis yang dapat dilakukan adalah:
1. Untuk mengidentifikasi pewarnaan putih yang berkaitan dengan faktor trauma,
diperlukan kassa steril berukuran 2 x 2-inch untuk membersihkan lesi. Jika lesi tidak
mudah untuk dibersihkan, hal ini menunjukkan adanya hiperkeratinisasi.
2. Lesi terlihat jelas, bewarna translusen sampai opak dan merupakan lesi asimtomatik
dengan gambaran batas yang jelas.
3. Gambaran klinis tergantung dengan sumber trauma tersebut terjadi.
4. Gambaran yang sering terlihat pada friksional keratosis adalah adanya line alba (white
line). Hal ini dapat terjadi karena terdapat penebalan horizontal pada mukosa bukal
sepanjang garis oklusal dari gigi. Linea alba disebabkan karena kebiasaan menggigit dan
mengisap pipi pada area ini.

Gambar 2. Frictional Keratosis


2.6.3 Pemeriksaan Penunjang

11

Frictional keratosis dapat didiagnosis dengan anamnesis dan pemeriksaan secara


kinis, namun jika diagnosis dirasa meragukan maka biopsi disarankan untuk membuang lesi
premalignant.

2.7 DIAGNOSA BANDING


Jenis Lesi
Leukodema

Perbedaan antar lesi


warna pada mukosa oral menjadi keputihan,
abu-keputihan, opaq, dan seperti susu. Pada
saat palpasi, memiliki struktur licin atau pun
keriput.

Stomatitis nicotina

Ditemukan pada daerah palatum,


warna putih keabu-abuan, opaq.
Pada saat palpasi permukaan kasar
disebabkan

oleh

kebiasaan

merokok pasien.

Thrush

Ditemukan pada daerah lidah, dan


kerongkongan. Lesi dapat dihapus
bewarna

keputihan

disebabkan

oleh bakteri Candida albicans.

White sponge nevus

Terlihat plak berbentuk spons, berlipat,


berwarna putih, dan tidak bergejala. Pola
pada lesi simetris.

12

2.8 PENATALAKSANAAN DAN PROGNOSIS


Prognosis pada frictional keratosis sangatlah baik, selama pasien
koperatif dan menghilangkan kebiasaan yang menyebabkan trauma maka
lesi ini dapat hilang setelah 1-3 minggu setelah lesi dibuang,.
Penatalaksanaan :
1. Dignosis ditegakkan
2. Pastikan setiap iritan frictional dibuang, Kebiasaan menggigigit,
menghisap atau menguyah harus dihentikanm dan permukaan gigi
yang fraktur atau tajam harus diperbaiki.
3. Periksa dan amati penyembuhan lesi frictional pada pasien. Pada
umumnya pasien harus

dievaluasi lagi setelah 2-3 minggu untuk

mellihat bekas keadaan lesi.

BAB III
KESIMPULAN
3.1 KESIMPULAN
Friksional keratosis merupakan lesi putih yang tidak berbahaya. Lesi
ini deisebabkan oleh faktor taruma seperti menggigit dan menghisap
mukosa pipi serta menjulur-julurkan lidah. Lesi ini memiliki gambaran
13

klinis berupa penebaan dari dinding mukosa yang bewarna opak dan
apabila dilakukan palpasi maka didapatkan daerah lesi kasar.
Pada beberapa pasien lesi ini mudah dikelupas dari bagian dalam
rongga mulut pasien. Kasus lesi ini pada umumnya tidak terdapat gejala,
namun pada beberapa pasien dapat menyebakan rasa perih serta
terbakar pada lesi.
Untuk prognosis penyakit sangat baik, dengan pasien yang koperatif
dan pasien dapat menghiangkan kebiasaan yang menyebabkan trauma
pada pasien yang merupakan epidemilogi dari lesi ini.

DAFTAR PUSTAKA
1. M. Glick and C. William M. Feagans. 2015. Burkets Oral Medicine.
Diagnosis and Treatment. 12th Edition. Hamilton: BC Decker Inc.

14

2. R. A. Cawson and E. W. Odell.2008.Cawsons Essentials of Oral


Pathology and Oral Medicine. 7th ed. Elsevier
3. Regezi, J.A. J.J. Sciubba and R.C.K. Jordan. 2003. Oral Pathology.
Clinical Pathology Correlations. Fourth Edition. USA: SAUNDERS.
4. Langlais, R.P. C.S. Miller dan

J.s.N. Gehrig. 2014. Atlas Berwarna

Lesi Mulut yang Sering Ditemukan. Edisi Empat. Jakarta: EGC.


5. Shaver, Line, Levy. 2012. Shafers Textbook of Oral Pathology. 6th Ed. Elsevier.

15