Anda di halaman 1dari 14

TUGAS ORAL MEDICINE

CANDIDIASIS ORAL

Disusun Oleh :
1. Ahdiat Sukmawan (04031181419023)
2. Deratih Putri Utami.AF (04031181419026)
3. Rahma Fernita Aprilia (04031181419027)
Dosen pembimbing :
Drg. Siti Rusdiana Puspa Dewi, M.Kes

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016

CANDIDIASIS ORAL
1.1. Defenisi, Etiologi, Epidemiologi
Candidiasis Oral merupakan salah satu penyakit infeksi oportunistik pada rongga mulut
berupa lesi merah dan lesi putih yang disebabkan oleh jamur jenis Candidia sp, dimana Candidia
albican merupakan jenis jamur yang menjadi penyebab utama. Candidiasis oral ini menyerang
mukosa ronnga mulut yang mengakibatkan terjadinya infeksi superfisial yang biasanya
menyebabkan gejala nyeri dan terbakar
Candidiasis Oral dapat menyerang semua umur, baik pria maupun wanita. Meningkatnya
prevalensi infeksi Candidia albican ini dihubungkan dengan kelompok penderita HIV/AIDS,
penderita yang menjalani transplantasi dan kemoterapi maligna. Odds dkk ( 1990 ) dalam
penelitiannya mengemukakan bahwa dari 6.545 penderita HIV/AIDS, sekitar 44.8% adalah
penderita kandidiasis.

Gambaran klinis candidiasis oral & jamur candidia sp

1.2. Faktor Resiko


Pada orang yang sehat, Candidia albican umumnya tidak menyebabkan masalah apapun
dalam rongga mulut, namun karena berbagai faktor, jamur tersebut
dapat tumbuh secara berlebihan dan menginfeksi rongga mulut. Faktor-faktor tersebut dibagi
menjadi dua, yaitu :
A. Patogenitas Jamur
Beberapa faktor yang berpengaruh pada patogenitas dan proses infeksi Candidia adalah
adhesi, perubahan dari bentuk ragi ke bentuk hifa, dan produksi enzim ekstraseluler. Adhesi
merupakan proses melekatnya sel Candidia ke dinding sel epitel host. Perubahan bentuk dari
ragi ke hifa diketahui berhubungan dengan patogenitas dan proses penyerangan Candidia
terhadap sel host. Produksi enzim hidrolitik ekstraseluler seperti aspartyc proteinase juga sering
dihubungkan dengan patogenitas Candidia albican.
B. Faktor Host
Faktor host dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor lokal dan faktor sistemik.
Termasuk faktor lokal adalah adanya gangguan fungsi kelenjar ludah yang dapat menurunkan

jumlah saliva. Saliva penting dalam mencegah timbulnya Candidiasis Oral karena efek self
cleansing dan antimikrobial protein yang terkandung dalam saliva dapat mencegah pertumbuhan
berlebih dari Candidia, itu sebabnya Candidiasis Oral dapat terjadi pada kondisi Sjogren
syndrome, radioterapi kepala dan leher, dan obat-obatan yang dapat mengurangi sekresi
saliva.Pemakaian protesa lepasan juga dapat menjadi faktor resiko timbulnya Candidiasis Oral.
1.3. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi berperan dalam meningkatkan pertumbuhan Candida albicans serta
memudahkan invasi jamur ke dalam jaringan tubuh manusia karena adanya perubahan dalam
sistem pertahanan tubuh. Faktor predisposisi terjadinya infeksi ini adalah sebagai berikut:
Faktor sistemik
Gangguan hormonal
Gangguan psikologis
Gangguan kelenjar endokrin
Gangguan imunologi
xerostomia
Terapi obat
Pecandu alkohol

Faktor lokal
Perubahan sel epitel mukosa
Oral hygiene yang buruk
Pemasangan protesa yang buruk
Merokok

1.4. Klasifikasi Candidiasis Oral


Candidiasis oral diklasifikaikan ke dalam beberapa kelompok, diantaranya :
1. Candidiasis Pseudomembran

Bentuk
akut
kandidiasis
pseudomembran
(thrush) dikelompokkan dengan Candidiasis Oral primer dan diakui sebagai infeksi candida
klasik. Infeksi dominan dipengaruhi oleh konsumsi antibiotik, obat imunosupresan, atau pasien
yang memiliki penyakit immunosupresif.

Infeksi pseudomembran kadang-kadang memiliki gambaran klinis yang sulit untuk


dibedakan dengan sisa-sisa makanan seperti telur dan yoghurt. Presentasi klinis kandidiasis
pseudomembran bisa dibedakan menjadi akut dan kronis. Bentuk kronis dapat muncul sebagai
akibat dari human immunodeficiency virus infeksi (HIV) sebagai pasien dengan penyakit ini
dapat dipengaruhi oleh infeksi candida pseudomembran untuk jangka waktu yang panjang.
Pasien yang diobati dengan inhaler steroid juga dapat menunjukkan lesi pseudomembran yang
bersifat kronis. Pasien jarang melaporkan gejala dari lesi, meskipun muncul hal yang membuat
pasien tersebut merasa tidak nyaman.
1. Erythematous Candidiasis

Bentuk eritematosa kandidiasis sebelumnya disebut candidiasis oral atrofi. Namun,


permukaan eritematosa tidak mungkin hanya mencerminkan atrofi tetapi juga dapat dijelaskan
dengan peningkatan vaskularisasi. Lesi ini memiliki batas yang bersifat difus, yang membantu
membedakannya dari eritroplakia, yang biasanya memiliki demarkasi yang lebih tajam dan
sering muncul sebagai lesi yang sedikit terendam. kandidiasis eritematosa dapat dianggap
sebagai kelanjutan dari kandidiasis pseudomembran tetapi juga dapat muncul de novo. Tidak ada
perbedaan kuantitatif ada di antara isolat C. albicans dari individu dengan mukosa mulut yang
sehat dan pasien dengan infeksi candidasis eritematosa. Infeksi ini biasanya terlihat di langitlangit dan dorsum lidah pasien yang menggunakan steroid inhalasi. faktor predisposisi lain yang
dapat menyebabkan kandidiasis eritematosa merokok dan pengobatan dengan antibiotik
spektrum luas. Bentuk akut dan kronis hadir dengan fitur klinis yang identik.

2. Tipe Kronis Plak dan Nodular Candidiasis

Jenis plak kronis Candidiasis Oral menggantikan istilah yang lebih tua, kandidiasis
leukoplakia. Sebuah karakteristik yang tidak dapat dipindahkan putih ciri klinis yang khas, yang
dapat dibedakan dari leukoplakia oral. Sebuah korelasi positif antara Candidiasis Oral dan
moderat untuk displasia epitel yang parah telah diamati, dan kedua tipe plak yang kronis dan
jenis nodular Candidiasis Oral telah dikaitkan dengan transformasi maligna, namun
kemungkinan peran ragi dalam karsinogenesis lisan tidak jelas. Telah dihipotesiskan bahwa
mungkin bertindak melalui kapasitasnya untuk mengkatalisis produksi nitrosamine.
3. Denture Stomatitis

Tempat yang paling umum untuk denture stomatitis adalah bantalan palatal mukosa.
Denture stomatitis diklasifikasikan menjadi tiga types. Berbeda Tipe I terbatas situs eritematosa
kecil yang disebabkan oleh trauma dari gigi tiruan. Tipe II mempengaruhi bagian utama dari
mukosa gigi tiruan yang tertutup. Selain fitur tipe II, tipe III memiliki mukosa granular. gigi
tiruan berfungsi sebagai media yang menumpuk sel epitel terkelupas dan melindungi
mikroorganisme dari pengaruh fisik seperti aliran saliva. mikroflora yang kompleks dan dapat,
sebagai tambahan C. albicans mengandung bakteri dari beberapa genera, seperti Streptococcus-,
Veillonella-, Lactobacillus-, Prevotella- (sebelumnya Bacteroides), dan strain Actinomyces-. Hal
ini yang masih diketahui adalah sampai sejauh mana bakteri ini berpartisipasi dalam patogenesis
denture stomatitis

4. Angular Cheilitis

Cheilitis angular menyajikan sebagai celah yang terinfeksi dari commisures mulut, sering
dikelilingi oleh eritema. Lesi ini sering koinfeksi dengan Candida albicans dan Staphylococcus
aureus. Defisiensi vitaminB12, kekurangan zat besi, dan hilangnya dimensi vertikal sering
dikaitkan dengan keberadaan lesi ini. Atopi juga telah dikaitkan dengan pembentukan cheilitis
angular. Kulit kering dapat menyebabkan terjadinya pengembangan celah di komisura, yang
memungkinkan invasi oleh mikroorganisme. Tiga puluh persen pasien dengan gigi tiruan
stomatitis juga memiliki cheilitis angular, tetapi infeksi ini hanya terlihat pada 10% dari
gigitiruan-mengenakan pasien tanpa gigi tiruan stomatitis
5. Median Rhomboid Glossitis

Median rhomboid glossitis secara klinis ditandai oleh lesi eritematosa di tengah bagian
posterior dari dorsum lidah. Seperti namanya lesi ini memiliki konfigurasi oval. Etiologi Median
rhomboid glossitis tidak sepenuhnya diketahui secara pasti, namun lesi ini menunjukkan adanya
bakteri mikroflora campuran / jamur. Biopsi menghasilkan hifa candida di lebih dari 85% dari
perokok lesions.19 dan gigi tiruan-pemakai memiliki peningkatan risiko mengembangkan
median rhomboid glossitis serta pasien yang menggunakan steroid inhalasi. Kadang-kadang lesi
eritematosa bersamaan dapat diamati pada mukosa palatal. Median rhomboid glossitis
asimtomatik, dan manajemen dibatasi pada pengurangan faktor predisposisi. lesi tidak berarti ada
risiko untuk bertransformasi menjadi ganas.
1.5.

Diagnosis Banding
1. Oral thrush

Diagnosis banding dari oral thrush bercak dari susu, food debris lain antacid yang
menempel pada mukosa mulut khususnya pada bayi yang masih menyusui atau lanjut usia
dengan kondisi tubuh yang lemah akibat penyakit yang disebut fdengan intera thrush.
Lesi putih pseudomembranous yang mirip ini disebabkan oleh agen microbial lain yang
biasanya tidak spesifik, kebiaasan buruk cheek bitting dan kadang kadang juga abnormalitas
epitel ya ng ditentukan secara genetic seperti nevus sponge putih. Selain gambaran tersebut,
different diagnostic dari oral thrush adalah lichen planus, reaksi lichenoid, dan leukoplakia
yang menimbulkan bercak putih seperti oral thrush.
Lichen planus memiliki gambaran klinis sebagai garis keratotik putih yang disebut striae
Wickham dengan batas eritematosa. Striae ini biasanya terletak pada bilateral mukosa
bukal, mucobuccal fold, gingiva dan jarang terdapat pada lidah, palatum dan bibir.
Gambaran Leukoplakia yang mirip dengan oral thrush berupa plak putih pada dorsal lidah
yang secara klinis memiliki gambaran klinis yang halus, tidak teratur dan terdapat
peninggian di daerah berwarna putih. .Varian ini umumnya ditemukan pada dorsum lidah
dan pada mukosa bukal.
2. Acute atropic candidiasis
Diagnosa banding dari acute tropic candidiasis yang memliki gambaran kemerahan dan
bercak putih memliki kemiripan dengan penyakit lupus eritematosus, eritema multiforme,
anemia pernisiosa. Gambaran ketiganya yang mirip ini menyulitkan operator dalam
menentukan diagnose, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan penunjang untuk mentukan
faktor etiologi dari lesi tersebut.
3. Chronic Hiperplastik candidiasis
Diagnosa banding pada hiperplastik candidiasis adalah leukoplakia dan pseudomembran
candidiasis (oral thrush). Chronic Hyperplastic candidadiasis yang memiliki gambaran klinis
yang mirip dengan leukoplakia disebabkan adanya lesi putih yang tidak dapat diangkat.
Operator untuk membedakan atara Chronic hiperplastic candidiasis dengan leukoplakia
dapat melakukan tekink pewarnaan khusus untuk memperlihatkan miselia yang merupakan
bagian dari tubuh jamur.
4. Chronic Atropic Candidiasis
Kronik atrpik candidiasis memliki diagnosis banding yaitu acute atropic candidiasis dan
lupus eritematous. Chronic atropic candidiasis , acute atropic candidiasis ,dan lupus
eritematous dapat dibedakan dengan melihat faktor penyebabnya seperti chronic atrpoic
candididasis diseabkan oleh gigi tiruan yang longgar atau adanya perlekatan jamur di gigi
tiruan.
Dalam penalatalksanaan candidiasis, hal yang dilakukan adalah menghilangkan faktor
etiologi dan predisposisi yang menyebabkan terjadinya candidiasis. Hal yang dapat
dilakukan adalah :
a. pemeliharaan oral hygiene

Kebersihan mulut yang melibatkan gigi, rongga bukal, lidah, dan gigi tiruan harus
dilakukan setiap hari. Gigi tiruan harus dibersihkan dan diberikan larutan desinfeksi setiap
malam atau minimal enam jam per hari. Gigi tiruan harus direndam dalam larutan
pembersih protesa seperti klorheksidin karena ini lebih efektif dalam menghilangkan
candida daripada penyikatan. Hal ini dilakukan karena gigi tiruan memiliki permukaan yang
tidak teratur dan berpori yang memudahkan candida melekat serta tidak dapat menghapus
dengan maksimal hanya dengan penyikatan. Ketika berkumur dengan antijamur topikal,
gigi tiruan harus dilepas terlebih dahulu sehingga memungkinkan antijamur berkontak
dengan mukosa. Pasien harus memastikan bahwa seluruh bagian mukosa dapat dijangkau
oleh antijamur dan mampu bertahan di dalam mulut selama beberapa menit.
Penggabungan antijamur gigi tiruan telah direkomendasikan untuk pasien dengan
antijamur yang sulit bertahan pada gigi tiruan keitka didalam mulut selama beberapa menit.
Permukaan mukosa harus dibersihkan secara teratur dengan sikat lembut. Setelah
disinfeksi,gigi tiruan harus dibiarkan pada udara kering untuk membunuh perlekatan
candida pada gigi tiruan. Chlorexidine dapat mengubah warna gigi itruan dan gigi alami
jika tidak dibersihkan dengan baik. Setelah disinfeksi, rujukan kepada dokter gigi
diperlukan untuk pasien dengan gigi tiruan yang longgar Metode lain yang jarang digunakan
untuk membersihkan gigi tiruan yang efektif seperti alat pembersih ultrasonik dengan
cairan yang cocok.
b. Terapi untuk meningkatkan sisitem imunitas tubuh
Sistem kekebalan tubuh memiliki kemampuan dalam mencegah microbial masuk
kedalam tubuh. Pada penderita AIDS atau mengkonsumsi obat imunosupresif, sistem
kekebalan tubuh berpengaruh yang menyebabkan pertumbuhan C. albicans berlebih. Ini
menunjukkan bahwa kekuatan fungsi kekebalan tubuh sangat penting dalam menghambat
candidiasis.
Pemicu utama kerusakan kekebalan dan meningkatnya pertumbuhan C. albicans berlebih
adalah antibiotik, kortikosteroid dan obat lain yang menekan sistem kekebalan tubuh, serta
kekurangan gizi, alergi makanan dan stres
Dengan demikian, pemulihan fungsi kekebalan tubuh merupakan salah satu tujuan utama
dalampengobatan candidiasis kronis. Untuk mencapai tujuan ini, beberapa strategi dapat
lakukan seperti manajemen stres, pembatasan diet,, suplemen gizi, terapi kelenjar, latihan
dan penggunaan obat alami.
Pada penyakit kandidiasis, sistem kekebalan tubuh ini secara langsung tergantung pada
fungsi T-sel untuk meningkatkan fungsi kelenjar timus. Untuk mencapai hal ini, perlu untuk
mendapatkan asupan yang memadai antioksidan melalui suplementasi gizi, seperti karoten,
vitamin A, Cdan E, zink dan selenium. Beberapa tanaman dapat digunakan untuk membantu
penyembuhan seperti Echinacea angustifolia, Hydrastis canadensis dan Glycyrrhiza glabra
c. Hiposalivasi
Mengobati hiposalivasi merupakan bagian dari mengobati infeksi jamur. Pilocarpine dan
cevimeline dapat diresepkan karena mampu meningkatkan aliran saliva. Jika hiposalivasi

disebabkan oleh obat-obatan, maka sebelum dilakukan tindakan, pasien dirujuk kepada
dokter yang menangani penyakit tersebut.
d. Steroid Inhaler
Jika penggunaan inhaler steroid merupakan penyebab dari infeksi, pasien harus berkumur
setelah menggunakan inhaler atau menggunakan perangkat spacer alternatif yang lebih
efektif digunakan.
5. Chronic Hyperplastic Leukoplakia
Merokok terbukti memiliki hubungan dengan terjadinya leukoplakia dan kandidiasis
Leukoplakia. Menghilangkan kebiasaan merokok merupakan hal yang penting dalam
perawatan Chronic hiperplastic candidiasis. Hal ini juga berlaku pada kebiasaan mengunyah
tembakau yang lazim di beberapa bagian dunia. Protesa, terutama gigi tiruan rahang atas,
bertindak sebagai reservoir candida dan telah terbukti dihubungkan dengan tinggi prevalensi
terjadinya penyakit ini. Meskipun meminta pasien untuk meninggalkan gigi tiruan mereka
bukanlah pilihan yang realistis, langkah-langkah pencegahan seperti tidak memakai protesa
di malam hari, menjaga kebersihan dengan antifungal yang mampu mencegah kolonisasi
pada permukaan gigi tiruan.

1.6. Hubungan Penyakit Sistemik Terhadap Candidiasis Oral


a. HIV/AIDS
Virus human immunodeficiency (HIV) merupakan virus penyebab AIDS, yang dapat
menimbulkan kerusakan atau menghancurkan sel-sel sistem kekebalan tubuh. Sehingga
membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi oportunistik yang biasanya tubuh akan
menolak. Serangan berulang dari oral trush mungkin merupakan tanda pertama dari
infeksi HIV.
b. Kanker
Jika seseorang menderita kanker, sistem kekebalan tubuhnya mungkin akan
melemah oleh karena penyakit kanker tersebut dan karena perawatan penyakit, seperti
kemoterapi dan radiasi. Penyakit kanker dan perawatan penyakit ini dapat meningkatkan
risiko infeksi Candida seperti oral thrush
c. Diabetes mellitus
Jika seseorang menderita diabetes yang tidak diobati atau diabetes yang tidak
terkontrol dengan baik, air liur (saliva) mungkin akan mengandung sejumlah besar gula,
sehingga dapat mendorong pertumbuhan candida
d. Xerostomia

Saliva mengandung IgA yang mampu menghambat pengikatan Candida albicans


pada permukaan mukosa. Hal ini juga memberikan tindakan pembilasan yang
menghilangkan Candida albicans dari rongga mulut. Dalam kasus xerostomia kedua
tindakan ini tidak terjadi karena kurangnya produksi air liur, sehingga kemungkinan
terjadinya kandidiasis pada rongga mulut menjadi tinggi. Xerostomia juga terlihat dalam
kasus pengobatan antikanker dan radiasi yang meningkatkan proliferasi sel candida dan
ketahanan sel Candida untuk obat anti jamur. Xerostomia juga terlihat dalam kasus
sindrom Sjogren karena infiltrasi limfositik dan perusakan kelenjar ludah.Diabetes
mellitus. Pertumbuhan Candida albicans berkembang pada peningkatan kadar glukosa
dalam air liur yang meningkatkan kemampuan Candida albicans untuk menempel pada
membran mukosa mulut.
e. Pemakaian kortikosteroid atau terapi imunosupresan pasca pencangkokan organ.
Kedua hal ini bisa menurunkan pertahanan tubuh terhadap infeksi jamur.
Kortikosteroid (sejenis hormon steroid) dihirup/dihisap untuk perawatan pada paru-paru
(misalnya asma) bisa berdampak pada kandidiasis mulut.
1.7. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis kandidiasis oral ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan mikologi, dan
pengambilan spesimen dengan cara swab pada permukaan lesi yang diduga telah terinfeksi
Candida. Pemeriksaan kandidiasis dapat dilakukan secara direct atau indirect. Pemeriksaan direct
adalah pemeriksaan yang paling mudah dan murah untuk melihat keberadaan Candida.
Pelaksanaannya dapat menggunakan KOH, pengecatan toluen blue dan Gram. Yang paling sering
dilakukan adalah dengan menggunakan KOH 10% dengan prosedur sebagai berikut :

Lakukan persiapan operator dan pasien


Tentukan lokasi swab
Meminta pasien untuk berkumur
Usap atau kerok lesi pada mukosa mulut dengan scalpel dengan arah dari atas ke bawah
( scalpel digunakan harus miring membentuk sudut 45 derajat)
Kemudian letakkan swab ke dalam objek glass diberikan label dan telah diteteskan KOH
10 %
Tutup objek glass dan hangatkan diatas nyala api selama beberapa detik untuk
mempercepat proses lisis
Amati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x kemudian dilanjutkan dengan
perbesaran 40x

1.8. Pengambilan Spesimen

Berikut merupakan metode dan prosedur pengambilan spesimen yang diperlukan pada
kasus Candidiasis Oral :

Metode
Smear
Swab
Imprint culture

Impression culture

Salivary culture

Oral rinse

Langkah
Menggoresi, mengolesi langsung
onto slide
Diambil dengan menggosok
kapas swabs ke jaringan lesi.
Plastik pad steril dicelupkan ke
dalam cairan Sabouraud (Sab),
ditempatkan pada lesi selama 60
s; pad ditekan pada Sab agar
piringan
dan
diinkubasi;
digunakan untuk koloni counter
Rahang atas dan rahang bawah
immperesion
alginat;
pengecoran di agar dilapisi
dengan cairan Sab; inkubasi
Pasien expectorates 2 mL air liur
ke dalam wadah steril; getaran;
budaya pada Sab agar dengan
pelapisan
spiral;
dilakukan
perhitungan
Subjek untuk 60 s dengan PBS
pada pH 7,2, 0,1 M, dan kembali
ke wadah aslinya; dipekatkan
dengan sentrifugasi; culture dan
dihitung
sebagai
metode
sebelumnya

Keuntungan
Simpel dan cepat

Kerugian
Sensitivitas rendah

Relatively simpel

Seleksi sample dari situs


penting
Membaca di atas 50 CFU /
cm2 dapat tidak akurat;
pemilihan lokasi sulit jika
tidak ada tanda-tanda
klinis

Sensitif dan
diandalkan;
membedakan
infeksi dan
states

dapat
dapat
yang
carier

Berguna
untuk
menentukan distribusi
relatif dari ragi pada
permukaan mulut
Berguna
sebagai
budaya imprint

Sebanding
dalam
sensitivitas
dengan
metode imprint; hasil
yang lebih baik jika
CFU> 50 / cm2;
metode sederhana

Berguna terutama sebagai


alat penelitian

Waktu chairside yang


cukup; tidak berguna
untuk xerostomics; tidak
dapat
mengidentifikasi
lokasi infeksi
Direkomendasikan untuk
budaya
pengawasan
dengan tidak adanya lesi
fokal;
tidak
dapat
mengidentifikasi
lokasi
infeksi

1.8. Pengobatan Candidiasis Oral


Pengobatan untuk penyakit candidiasis oral secara sederhana dapat dilakukan dengan
cara membersihkan gigi dan mulut secara teratur serta melakukan control ke dokter gigi secara
teratur dapat mencegah sebagian besar kasus kandidiasis oral pada pasien terutama dengan
pasien yang menggunakan protesa.
Terapi anti jamur topikal dianjurkan pada pengobatan pertama untuk kandidiasis oral. Ini
dianjurkan karena penggunaan topical tidak rumit dan dimana penggunaan pengobatan sistemik

dibutuhkan dalam terapi berkelanjutan untuk mengurangi dosis dan durasi pemakaian obat
sistemik.
Obat-obatan yang dapat digunakan sebagai upaya terapi untuk kasus kandidiasis oral ini
dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Obat
Anfotericin b

Sediaan
50 mg dalam bentuk
infus

dosis
100-200mg/6h

Nystatin

Suspensi 60ml
Salep 30g
Tablet
Gel 1 %
Tablet 10mg
Gel
Gel 2%
Tablets
Suspensi 30 atau
10cc
Tablet
suspensi

4-6 ml / 6 jam
2 sampai 4 aplikasi /
hari 2 tablet/8 jam
3 kali aplikasi/hari
5 kali/hari
100mg /6 jam
3 kali/ hari
200mg 1-2 kali/hari

Kapsul

100-200mg/hari

Clotrimazole
Miconazole
Ketoconazole

Fluconazole

Itraconazole

50 - 100mg/hari
10mg/ml

Efek samping
Ginjal, jantung,
tulang belakang dan
saraf
Mual, muntah,
mempengaruhi
gastrointestinal
Iritasi kulit dan
sensasi terbakar
iritasi, mual, diare,
Mual, nyeri pada
bagian abdomen,
muntah
Mual, muntah, diare,
nyeri bagian
abdomen
Mual, muntah, diare,
nyeri bagian
abdomen

1.9. Prognosis
Prognosis yang baik pada kandidiasis oral didapatkan dengan cara menghilangkan faktor
etiologi dan predisposisi dengan pengobatan yang tepat dan efektif. Candidiasis yang rekuren
dapat terjadi akibat pasien tidak mengikuti saran dari dokter terhadap terapi yang diberikan
seperti ketidakpatuhan daam melepaskan gigi tiruan dan membersihkannya atau
ketidakmampuan untuk menghilangkan faktor predisposisi yang menyebabkan infeksi.

Referensi
Chi AC, Neville BW, Krayer JW. Oral Manifestation of Systemic Disease. Medical University of
South Corolina. 2010:82(11): 1382-1390
Cuesta C, Gracia M. Current Treatment of Oral Candidiasis: A Literature Review. J Clint Exp
Dent. 2014: 2(5): 213-221
Davis Company. Nystatin. Davis Company. 2015. Nystatin. Nystatin-nystatin suspension. Taro
Pharmaceutical.2015
Edwards PC, Kelsch R. Oral Lichen Planus: Clinical Presentation and Management. Journal of
the Canadian Dental Association. 2002:68(8):494-499
Greenberg M, Glick M, Ship J. 2008.Burkets Oral Medicine Eleventh Edition. Hamilton :
decker inc
Klein M. Chronic Candidiasis- Pathogenesis, Symtoms, Diagnosis and Treatment. Budapest.
2009:116:267-274
Laniado R, Vargas MN. Ampotericin B: Side Effect amd Toxicity. Review Iberoam Micol.
2009:26(4):223-227
Lynch MA, Brighman, VJ, Greenberg MS. Ilmu Penyakit Mulut: Diagnosis & Terapi Edisi
kedelapan jilid 1. Burket.1993:267-286
Marr KA, Crippa F, Leisenring W, Hoyle M, Boeckh M, Balajee SA, dkk. Itraconazole versus
fluconazole for prevention of fungal infections in patients receiving allogeneic stem cell transplants
Pantziarka P, Sukhatme V, Bouche G, Meheus L, Sukhatme VP. Repurposing Drugs in Oncology
(ReDO)Itraconazole as an anti-cancer agent. Ecancer Medical Science. 2015:9:521
RAMartins N, Ferreira IC, Barros L, Silva S, Mariana H. Candidiasis: Predisosing Factor,
Prevention, Diagnosis and alternative Treatment. Mountain Research Cetre (SMO). 2008: 1-43
Rao P. Oral Candidiasis A Review. Scholar journal. 2012: 3(2): 12-15
Sharma V, Bhatia R. Triazole in Antifungal Therapy: A Review. International Journal Research in
Pharmaceutical and Biomedical. 2011:2(2):417-427

Tarcin BG. Oral Candidiasis: Aetology, Clinical Manifestation, Diagnosis and Management.
MUSBED. 2011:1(2):140-148
Thappa DM. Textbook of Dermatology, Venereology, and Leprology. Elsevier. 2009:248
Vikholt KJ. Oral Candidiasis and Molecular epidemiology of Candida glabrata. University of
Oslo Faculty of Dentistry. 2012:1-33