Anda di halaman 1dari 18

SKILLS LAB ILMU PENYAKIT MULUT

Eritroplakia

Dosen Pembimbing :
drg. Tyas Hestiningsih
drg. Siti Rusdiana Puspa Dewi, M.Kes

Kelompok E :
1. Sinta Ramadhani
(04031381419053)
2. Dani Septama Syahrial
(04031381419054)
3. Andika Kresna Bayu (04031381419055)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Allah SWT karena limpahan karunia-Nya, penyusun
dapat menyelesaikan makalah berjudul Eritroplakia tepat pada waktunya.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
menyelesaikan tugas ini, oleh sebab itu dalam kesempatan ini penyusn menyampaikan
terimakasih kepada:
1. Allah swt. yang telah memberikan limpahan karunia-Nya
2. drg. Tyas Hestiningsih sebagai pembimbing dalam menyelesaikan makalah ini
3. drg. Siti Rusdiana Puspa Dewi, M.Kes sebagai pembimbing dalam
menyelesaikan makalah ini
4. Orangtuayang telah membantu baik dalam melakukan pembuatan makalah ini
maupun motivasi
5. Teman teman yang telah memberi motivasi dan tidak bisa penyusun
sebutkan satu persatu
Penyusun menyadari sebagai manusia biasa masih banyak kekurangan dalam
makalah ini. Untuk kesempurnaan maka saran dan kritik dari pembaca sangat
penyusun harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun, pembaca,
dan masyarakat luas, terutama dalam menambah wawasan dan pengetahuan.

Palembang, 31 Agustus 2016

Kelompok E

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................2
DAFTAR ISI........................................................................ 3
ERITROPLAKIA..................................................................3
1. Definisi.............................................................................4
3. Prevalensi.........................................................................4
4. Faktor Etiologi dan Predisposisi..........................................5
5. Gambaran Klinis................................................................5
6. Gambaran histopatologi.....................................................7
7. Diagnosis Eritroplakia........................................................8
8. Cara Penegakkan Diagnosis...............................................8
a. Anamnesa....................................................................................... 8
b. Pemeriksaan Klinis..........................................................................8
c. Pemeriksaan Penunjang..................................................................9
d. Pengambilan Spesimen melalui biopsi..........................................10
e. Swab............................................................................................. 13
9. Diagnosis Banding...........................................................14
10. Penatalaksanaan.............................................................15
11. Prognosis........................................................................16

DAFTAR PUSTAKA............................................................18

ERITROPLAKIA

1.

Definisi
Eritroplakia berasal dari bahasa yunani, yaitu erythros adalah merah dan

plakia adalah plak. World Health Organization (WHO) menjelaskan eritroplakia


merupakan lesi pada mukosa mulut yang menunjukkan plak bertekstur beludru,
berwarna merah terang yang tidak dapat dicirikan secara klinis atau secara patologis
sebagai kondisi yang dapat dikenali.1 Eritroplakia atau eritroplasia merupakan istilah
yang digunakan untuk menggambarkan noda atau plak berwarna merah pada mukosa
mulut yang tidak dapat dikerok dan tidak dapat dicirikan secara klinis sebagai
penyakit spesifik.2
2.

Klasifikasi

3.

Homogen, biasa terjadi pada mukosa bukal dengan batas yang jelas
Eritroleukoplakia, eritroplakia yang diselingi dengan bercak leukoplakia
Granula atau speckled, lesi yang berat. 3

Prevalensi
Eritroplakia jauh lebih sedikit terjadi dibandingkan leukoplakia. Gambaran

prevalensi banyak diperoleh pada daerah Asia Selatan dan Asia Tenggara dan tidak
banyak gambaran yang diumumkan dari wilayah geografis lainnya.
Dalam sebuah survei terhadap 50.195 penduduk india, Mehta et al
menemukan hanya sembilan kasus eritroplakia dengan prevalensi 0.02%. Pada tahun
1975 Shafer dan Waldron menjelaskan terdapat 58 kasus yang dianggap mewakili
eritroplakia mulut antara 64.345 biopsi dengan prevalensi 0.09%. Dua survei
epidemiologi mengenai lesi BuAmukosa mulut di Malaysia menunjukkan prevalensi
sebesar 0.02% untuk kedua survei tersebut. Dalam sebuah survei dari rumah ke rumah
di Burma antara 6.000 penduduk desa yang berusia diatas 15 tahun, terdapat 5 kasus
yang didiagnosis eritroplakia mulut dengan prevalensi 0.83%. Feller et al melakukan
penelitian di Afrika Selatan

sebanyak 138 kasus lesi prekanker mulut, dimana

terdapat 8 yang didiagnosis eritroplakia mulut. Baru-baru ini diumumkan penelitian


kontrol-kasus dari daerah Kerala, India terdapat 100 kasus eritroplakia diantara
47.773 kontrol, dengan prevalensi 0.2%. Dengan beberapa data yang tersedia dapat
diamati bahwa eritroplakia menunjukkan prevalensi antara 0.02% dan 0.83%.3

Tingkat prevalensi dari eritroplakia terjadi pada populasi dewasa dan lansia
yang diperkirakan 1 per 2.500 orang. Insiden tersebut tidak diketahui. Tetapi kejadian
tahunan rata-rata untuk karsinoma in situ secara mikroskopis, yang mewakili sebagian
besar eritroplakia, telah diperkirakan 1,2 per 100.000 penduduk (perbandingan pada
laki-laki dan perempuan 4:1) di Amerika Serikat. Eritroplakia terjadi lebih dominan
pada pria yang lebih tua, antara usia 60-70.4

4.

Faktor Etiologi dan Predisposisi


Faktor etiologi dari eritroplakia ini belum diketahui. Namun, kebanyakan

eritroplakia berhubungan dengan kebiasaan merokok, mengonsumsi alkohol, infeksi


Candida, defisiensi hematinik (Syndrom Plummer Vinsion) dan trauma kronis juga
ikut berperan.2

5.

Gambaran Klinis

Eritroplakia terjadi pada seluruh permukaan mukosa daerah leher dan


kepala. Bagian yang sering terlibat, yaitu lateral dan ventral lidah, dasar

mulut, vestibula bukal dan palatum lunak.


Eritroplakia bersifat asimptomatis
Tampilan eritoplakia berupa bercak merah pada permukaan epitel.
Penyebab yang pasti mengenai tampilan merah belum diketahui, tetapi
dapat dihubungkan dengan peningkatan aliran darah, dimana hal ini
terjadinya lokalisasi inflamasi sekunder atau respon imunologi yang
disebabkan displasia, sel epitel asing. Dalam beberapa kasus, warna
tersebut dihasilkan dari kekurangan keratin pada permukaan atau epitel

yang sangat tipis.


Tidak seperti leukoplakia, eritroplakia jarang yang bersifat multipel dan

jarang juga menutupi hingga meluas area mulut.


Eritroplakia tipe homogen, menunjukkan gambaran merah terang, lunak,
tekstur beludru dengan lesi lurus atau scalloped dan batas yang jelas.
Diameter lesi ini biasanya kurang dari 1.5 cm dan sebagian kurang dari 1
cm, namun lesi lebih dari 4 cm dapat juga terlihat.

Gambar 1. Eritroplakia tipe homogen


dengan lesi merah terang dan batas
yang jelas terlihat pada vesbula bukal

Eritroplakia tipe granula atau speckled, menunjukkan gambaran lesi lunak,


kondisi merah yang sedikit berat dengan batas yang tidak beraturan dan
berbintik atau permukaan speckled berupa nodula dengan plak putih yang
tipis.

Gambar 2. Eritroplakia jenis


granula/speckled menunjukkan batas
yang tidak beraturan

Eritroplakia

pada saat di palpasi terasa lunak dan terasa seperti beludru. Eritroplakia
tidak pernah mengeras hingga terdapat perkembangan invasif karsinoma

didalamnya.
Eritroleukoplakia, cukup umum terjadi eritroplakia yang bercampur atau
berdekatan dengan leukoplakia didalam mulut. Lesi seperti, daerah merah
merupakan bagian yang memungkinkan adanya atau untuk perkembangan
sel displasia. Oleh karena itu merupakan daerah yang harus segera di
biopsi dan paling hati-hati diperiksa secara klinis. Eritroplakia diselingi
fengan bercak leukoplakia dimana area eritematosa tidak beraturan dan
kadang-kadang warnanya tidak terang seperti tipe homogen, sering

terlihat pada lidah dan dasar mulut. Batas lesinya dapat secara jelas atau

berbaur dengan sekitar mukosa mulut.3


Eritroplakia dapat berpotensi menjadi ganas, karena terdapat daerah mulai
dari displasia sampai karsinoma in situ bahkan invasif karsinoma hampir
disetiap kasus eritroplakia. Karsinoma terlihat 17 kali lebih sering pada
eritroplakia daripada di leukoplakia, oleh karena itu eritroplakia yang
paling berpotensi menjadi ganas dibandingkan lesi mukosa mulut lainnya.
Tetapi eritroplakia jarang terjadi daripada leukoplakia dan lichen planus.5

6.

Gambaran histopatologi
Berdasarkan pemeriksaan patologi klinik, secara histopatologis 90% lesi

eritroplakia menunjukkan salah satu tingkat keparahan displasia epitel (gambar 3),
karsinoma in situ (gambar 4), atau invasif karsinoma sel skuamosa (gambar 5). Pada
epitel menunjukkan kurangnya produksi keratin dan sering mengalami atrofi hal itu
kemungkinan terjadi hiperplasi. Kurangnya keratinisasi terutama jika berkombinasi
dengan epitel yang tipis memungkinkan terjadinya mikrovaskulatur, sehingga
menjelaskan warna merah. Jaringan ikat sering menunjukan peradangan kronis.4

Gambar 3. Displasia epitel ringan.


hiperkromatik dan sedikit inti
pleomorfik terdapat dalam lapisan
sel basal dan parabasal pada
epitel skuamosa berlapis.

Gambar 4. Karsinoma in situ.


perubahan displatik yang meluas
seluruh ketebalan epitel

Gambar 5. Diferensiasi karsinoma sel


skuamosa.
Fotomikrograf daya rendah
menunjukkan terdapat pulau-pulau dari
epitel skuamosa ganas yang menginvasi
lamina propria

7.

Diagnosis Eritroplakia

Diagnosis klinis, merah berbatas jelas tanpa tanda-tanda infeksi dan

peradangan dapat menimbulkan diagnosis eritroplakia


Uji Toluidine Blue, Untuk membedakan eritroplakia dengan perubahan
keganasan dan karsinoma sel skuamosa awal, dari lesi inflamasi jinak mukosa
mulut dapat ditingkatkan menggunakan uji toluidine blue diterapkan secara
lokal oleh swab atau dikumurkan. Tipe lesi ganas mempertahankan toluidine

blue, karena peningkatan nuclear DNA yang terdapat pada sel tumor.
Diagnosis laboratorium, biopsi menunjukkan perubahan epitel mulai dari
displasia ringan sampai karsinoma in situ bahkan invasif karsinoma.3

8.

Cara Penegakkan Diagnosis


a

Anamnesa

Sebelum melakukan pemeriksaan fisik pada pasien, dokter gigi sebaiknya


melakukan anamnesis yang meliputi : Keluhan pasien, keluhan-keluhan gigi
sebelumnya, riwayat medis umum yang lalu dan sekarang, gaya hidup dan kebiasaan,
riwayat keluarga, status sosioekonomi dan pekerjaan (Bolden,1982). Sambil
melakukan anamnesa dokter gigi dapat juga melihat keadaan ekstra oral pasien,
seperti bibir dan asimetri wajah.
a. Pemeriksaan Klinis
Pada pemeriksaan klinis, dokter gigi boleh memiliki teknik yang berbeda
antara pemeriksa yang satu dengan yang lainnya, tetapi prinsip dasarnya adalah sama.
Setiap pasien berhak mendapatkan pemeriksaan yang lengkap dari jaringan mulut dan
para oral. Pemeriksaan ini meliputi :
8

1. Perubahan warna, apakah mukosa mulut berwarna abnormal, misalnya putih,


merah atau hitam.
2. Konsistensi,apakah jaringan keras, kenyal, lunak, fIuktuan atau nodular.
3. Kontur,

apakah

permukaan

mukosa

kasar,

ulserasi,

asimetri

atau

pembengkakan.
4. Temperatur.
5. Fungsi,apakah pasien dapat membuka mulut dengan sempurna.
b. Pemeriksaan Penunjang
1. Toluidine Blue
Dilakukan pengolesan lesi dengan toluidine blue 1% topikal dengan
swab atau dikumurkan.6 Metode ini berperan untuk membantu pemilihan daerah
biopsi pada pasien dengan lesi mukosa yang menyebar.2

Gambar 6. Pengaplikasian toluidene


blue

Gambar 7.Toluidene blue

2.

Bio
si.

Biopsi daerah eritroplakia harus dilakukan karena lesi dengan


kemiripan gambaran klinis yang mirip dapat mempunyai diagnosis histologis
bermacam-macam, termasuk karsinoma.3
Biopsi merupakan pengambilan spesimen baik total maupun sebagian
untuk pemeriksaan mikroskopis dan diagnosis (Pedersen,1996; Coleman dan
Nelson,1993). Cara ini merupakan cara yang penting dan dapat dipercaya untuk
menegakkan diagnosa defenitif dari lesi-lesi mulut yang dicurigai (Bolden, 1982).
Teknik biopsi memerlukan bagian dari lesi yang mewakili dan tepi
jaringan yang normal. Biopsi dapat dilakukan dengan cara insisional atau eksisional.
Biopsi insisional dipilih apabila lesi permukaan besar (lebih dari 1 cm) dan biopsi
eksisional yaitu insisi secara intoto dilakukan apabila lesi kecil (Pedersen,1996;
Bolden;1982; Coleman dan Nelson,1993). Hasil interpretasi mikroskopis dari suatu
biopsi dapat menunjukkan suatu rentang yang luas. Hasil-hasil seperti parakeratosis,

ortokeratosis, akantosis, hiperplasia pseudoepiteliomatus, peradangan akut dan kronis


menunjukkan golongan jinak. Untuk karsinoma gel skuamus, hasil pemeriksaan
mikroskopis biasanya meliputi adanya abnormalitas seluler, terputusnya kontinuitas
membran basalis oleh sarang gel-gel abnormal yang meluas sampai ke dalam jaringan
ikat, ukuran gel yang berubah, peningkatan kecepatan mitosis perubahan ukuran dan
bentuk nukleus, gangguan dalam proses maturasi dan hiperkromatin (Lynch,1994).
Untuk

memenuhi

kebutuhan

yang

lebih

seksama

dalam

mengidentifikasi kanker rongga mulut pada tahap dini, telah dikembangkan suatu cara
biopsi dengan menggunakan sikat (Oral CDx). Pada penelitian yang dilakukan oleh
Sciubba (1999) dengan menggunakan biopsi dengan cara sikat menunjukkan bahwa
cara ini dapat memberikan bantuan yang tidak terhingga nilainya dalam memeriksa
lesi di rongga mulut. Pada penelitian tersebut, biopsi dengan memakai sikat
merupakan alat deteksi yang sepadan dengan biopsi memakai skalpel. Walaupun
begitu, harus ditekankan bahwa Oral CDx bukanlah pengganti untuk biopsi dengan
memakai skalpel (Sciubba,1999).
c. Pengambilan Spesimen melalui biopsi
Prosedur biopsi dibagi dalam beberapa tahapan sebagai berikut :
1. Mula-mula dilakukan pengulasan permukaan lesi dengan zat antiseptik
2. Kemudian dilakukan anestesi lokal. Pada biopsi jaringan lunak, suntikan
anestesi dilakukan dibagian tepi lesi
3. Cara potong beku (frozen section, vriescoupe), banyak digunakan untuk
tindakan operasi cepat. Jaringan segar atau yang telah di fiksasi, setelah
dibekukan dengan CO2, dipotong dengan mikrotom atau kriostat.
Selanjutnya sediaan dapat diperiksa dalam waktu beberapa menit.
Ketepatan diagnosis berkisar 50-95%.7
Biopsi eksisi
Biopsi eksisi adalah pengambilan jaringan yang dilakukan untuk pemeriksaan
histopatologi lebih lanjut. Biopsi dilakukan bila ditemukan lesi yang mencurigakan
atau bila diagnosis tetap belum dapat ditentukan. Biasanya tindakan ini dilakukan
pada lesi yang berdiri sendiri, dan spesimen harus cukup besar (lebih dari 1 x 0,5 cm)
untuk keperluan pemeriksaan histopatologi. Cara ini dilakukan bila operator yakin
bahwa lesi tersebut jinak. Ada risiko terlepasnya sel ganas bila diagnosis kerja berupa
lesi jinak ternyata salah. Meskipun demikian, nilai klinis suatu biopsi jauh lebih besar

10

dibandingkan risiko tersebut. Biopsi eksisi dapat membantu menentukan perawatan


yang tepat bila diagnosis lesi jinak ternyata benar. Untuk spesimen tersebut, perlu
diperhatikan supaya terhindar dari tekanan, robekan ataupun terbakar (Birnbaum dan
Dunee, 2000).
Biopsi insisi
Biopsi insisi dilakukan untuk lesi yang besar atau bila diduga ada keganasan.
Cara ini memiliki risiko berupa terlepasnya sel ganas. Biopsi insisi tidak dilakukan
pada lesi pigmentasi ataupun vaskular, karena melanoma sangat metastatik dan lesi
vaskular akan menimbulkan perdarahan berlebihan. Di dalam status pasien sebaiknya
dicatat letak lesi, ukurannya dan bentuknya.
Pada biopsi insisi ini hanya sebagian kecil dari lesi yang diambil beserta
jaringan sehat di dekatnya. Pengambilan lesi dapat dilakukan dengan menggunakan
scalpel, menggunakan alat punch (punchbiopsy), menggunakan jarum suntik (needle
biopsy), dan biopsi aspirasi.

Gambar 8. Biopsi
Insisi

Punch biopsy
Pada punch biopsy ini instrumen operasi digunakan untuk mendorong keluar
sebagian jaringan yang dapat mewakili lesi. Oleh karena spesimen yang dihasilkan
seringkali rusak akibat prosedur ini, maka biopsi yang menggunakan scalpel lebih
disukai.

11

Gb 9. Brush diletakkan dan diputar


untuk mendapatkan sel-sel epitel
(Marx dan Stern, 2003)

Needle biopsy

Gb 10. Brush yang kaku dapat


masuk ke sel yang lebih dalam
hingga membran basalis (Marx
dan Stern, 2003).

Teknik ini telah digunakan untuk biopsi pada lesi fibro-osseous yang letaknya
dalam. Spesimen yang dihasilkan kecil, sehingga tidak dapat mewakili lesi yang
terlibat dan dapat rusak akibat prosedur yang digunakan, karena itu tidak banyak
digunakan.

Biopsi aspirasi
Biopsi aspirasi digunakan untuk lesi berupa kista dan mengandung cairan.
Cara ini lebih disukai dibandingkan biopsi insisi pada lesi vaskular karena adanya
risiko terjadi perdarahan berlebihan. Aspirasi udara yang terjadi di daerah molar
rahang atas menunjukkan bahwa jarum berada di dalam sinus maksilaris. Aspirasi
darah menunjukkan adanya suatu hematoma, hemangioma ataupun pembuluh darah.
Aspirasi pus menunjukkan adanya suatu abses atau kista yang terinfeksi (Birnbaum
dan Dunne, 2000).

Gb 11. Biopsi aspirasi untuk pus


(Lameydan Lewis, 1991).

12

Media transport
Spesimen yang diambil saat dilakukan biopsi diletakkan di dalam botol
tertutup berisi cairan formalin (formol saline) 10% untuk fiksasi. Volume cairan
fiksasi yang digunakan adalah sepuluh kali lebih banyak dibandingkan volume
spesimen.

d. Swab

Gambar 12. Swab

Prosedur pengambilan spesimen


dengan

cara swab sebagai berikut:

1)

Kapas lidi yang digunakan untuk


melakukan swab harus steril dan
dilakukan dengan teknik yang

aseptik, agar spesimen tidak terkontaminasi dengan flora normal di sekitar rongga
mulut.
2) Kapas lidi yang telah mengandung spesimen kemudian dimasukkan ke dalam
tabung reaksi
3) Segera kirim spesimen tersebut ke laboratorium mikrobiologi klinik dalam 1 jam.
Bila spesimen tidak dapat sampai di laboratorium mikrobiologi klinik dalam 1 jam
maka spesimen harus dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi medium
transport seperti amies, carry-blair dan stuart, dan disimpan dalam suhu ruang.

13

Jangan lupa spesimen tersebut harus di beri label yang berisi identitas pasien, lokasi
pengambilan dan tanggal pengambilan spesimen. Surat permintaan pemeriksaan juga
harus disertakan. Pada surat permintaan pemeriksaan, jangan lupa untuk
mencantumkan identitas pasien, identitas spesimen, permintaan pemeriksaan dan
diagnosis klinis yang mungkin ditegakkan.

9.

Diagnosis Banding
Pada signifikansi klinis eritroplakia, perbedaan eritroplakia dengan lesi

inflamasi merah pada mukosa mulut sangat penting. Secara klinis lesi yang mirip
diantaranya erythmatous candidiasis, daerah iritasi mekanis, denture stomatitis, lesi
vaskular, dan variasi lesi inflamasi nonspesifik. Karena daerah lokal kemerahan yang
tidak biasa dalam rongga mulut, daerah eritroplakia cenderung diabaikan oleh
pemeriksa, dan mereka sering salah menentukan menjadi respon inflamasi transien
pada iritasi lokal. Perbedaan eritroplakia dengan lesi inflamasi jinak pada mukosa
mulut yaitu dapat ditingkatkan menggunakan 1% larutan toluidine blue, diaplikasinya
secara topikal menggunakan swab atau dikumurkan. Walaupun teknik ini sebelumnya
ditemukan memiliki keterbatasan dalam penggunaan pada evaluasi lesi keratotik,
penelitian prospektif pada spesifikasi toluidine blue pada pewarnaan daerah
karsinoma awal termasuk eritroplakia dan gabungan lesi leukoplakia-eritroplakia
melaporkan hasil yang sangat baik, dengan false-negative (underdiagnosis) dan falsepositive (overdiagnosis) dibawah 10%.8 Diagnosis banding dapat menambahkan
Karposis sarcoma, ecchymosis, reaksi alergi, kelainan vaskular, dan psoriasis.
riwayat klinis dan pemeriksaan harus membedakan lesi-lesi tersebut. Biopsi
merupakan jawaban yang tepat pada lesi tersebut.

10.

Erythematous candidiasis,
lichen planus,
discoid lupus erythematous,
early squamous-cell carcinoma,
iritasi lokal.9
Penatalaksanaan

14

Diagnosis klinis
sementara

Menghilangkan
faktor
penyebab

Respon baik

Tidak ada
faktor
penyebab

Tidak ada
respon

Biopsi

Lesi dapat
ditentukan

Lesi tidak dapat


ditentukan

Lesi dapat
ditentukan

Penatalaksanaa
n berdasarkan
lesi

Displasia /
Bukan displasia

Penatalaksanaa
n berdasarkan
lesi

Perawatan /
observasi dan
follow up

Menghilangkan faktor penyebab, menghilangkan faktor iritan harus dilakukan


Biopsi insisi metode yang lebih disukai untuk mentapkan diagnosis secara
mikroskopis lesi intraoral. Eritroplakia yang berhubungan dengan displasia
yang parah, karsinoma in situ, dan invasif karsinoma lebih diindikasikan untuk
biopsi insisi. Biopsi eksisi pada lesi yang berpotensi menjadi ganas dapat
menyebabkan kegagalan pada saat perawatan dan pelanggaran terhadap

prinsip pembedahan.
Pengobatan pasti lesi eritroplakia masih menjadi kontroversi. Prosedur
pembedahan konservatif seperti stripping mukosa sering dilakukan, dengan
kerusakan minimal pada jaringan ikat yang dalam. Hal ini memiliki
keuntungan dalam mempertahankan jaringan untuk dievaluasi secara

mikroskopis dari daerah invasi


Teknik destruktif seperti ablasi laser, elektrokoagulasi dan krioterapi juga

terbukti efektif
follow up klinis, kunci perawatan pada eritroplakia yaitu jangka panjang
follow up klinis. Pasien harus diperiksa setiap 3 bulan untuk tahun pertama

15

pasca operasi dan setiap 6 bulan setelah 4 tahun pasca operasi. Setelah itu

dianjurkan reevaluasi tahunan pemeriksaan kepala dan leher.3


Tata laksana eritroplakia bergantung pada diagnosis yang tepat dari hasil
pemeriksaan histologis. Jika tidak ada displasia, tidak diperlukan perawatan
hanya dilakukan pengamatan periodik tiap enam bulan sekali untuk
mengetahui perubahan klinis yang menunjukkan perlunya rebiopsi. Perawatan
lesi dengan lesi displasia bergantung pada keparahan displasia epitel. Pada
leukoplakia dengan displasia ringan dilakukan perawatan konservatif dengan
penekanan pada menghilangkan kebiasaan menggunakan tembakau dan
alkohol. Infeksi Candida diatasi dengan terapi antijamur. Pemberian terapi
retinoid jangka panjang diduga mempunyai peran penting pada displasia
ringan. Namun, bukti terbaru menunjukkan bahwa meskipun terapi retinoid
memperbaiki penampakan klinis lesi, kelainan genetis tetap tidak berubah.
Oleh karena itu, kemanjuran terapi ini patut dipertanyakan. Biopsi ulang harus
dilakukan setelah tiga bulan untuk menilai pengaruh tindakan yang bertujuan
mengoreksi faktor etiologi. 2

11.

Prognosis
Eritroplakia telah dianggap sebagai tanda awal perkembangan sel karsinoma

skuamosa intraoral, baik invasif atau "in situ". Ide ini didukung oleh temuan bahwa
sebagian besar erythroplakia baik histopatologi sel karsinoma skuamosa atau displasia
epitel yang parah pada saat diagnosis.
Dasar mulut adalah lokasi yang berisiko tinggi untuk lesi mengalami
transformasi ganas. telah diterima secara luas eritroplakia dengan displasia berat atau
karsinoma "in situ" tanpa pengobatan yang tepat akan menjadi kanker invasif. periode
waktu yang dibutuhkan untuk mencapai transformasi beragam antara bulan dan
beberapa tahun. Dengan demikian, perlu untuk merangsang karsinogenesis. hal
pertama yang harus dihilangkan ialah menghilangkan faktor - faktor yang terlibat
pada patogenesisnya.
Biopsi insisi adalah langkah wajib untuk mengkonfirmasi diagnosis klinis dan
menilai tingkat displasia. ada kemungkinan beberapa perubahan focal karsinomatosa
dapat terjawab dengan teknik, dan sikap terapi akan dikondisikan oleh hasil penelitian

16

patologis.
Erythroplakia displastik menuntut sikap terutama intervensionis, sesuai
dengan kriteria dan prosedur yang sudah dijelaskan untuk leukoplakia. Namun,
kebutuhan untuk sampel bedah serial untuk studi histopatologis kontraindikasi
penguapan menggunakan laser Co2. Karena kemungkinan adanya beberapa focci
displastik dan kecenderungan untuk kambuh, sebuah tindak lanjut pasca-operasi
berkepanjangan dari pasien adalah wajib.

17

DAFTAR PUSTAKA

1. Scully C. Oral and Maxillofacial medicine : the Basis of Diagnosis and


Treatment. 3rd rev. ed. New York : Elsevier, 2013. 184 p.
2. Lewis MAO. Penyakit Mulut : Diagnosis dan Terapi. 2nd rev. ed. Purwanto,
editor. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2015. 101 p.
3. Ghom AG. Textbook of Oral Medicine. 2nd rev. ed. New Delhi : Jaypee
Brothers Medical Publishers, 2010. 169-205 p.
4. McKinley L. Oral and Maxillofacial Pathology. 2nd rev. ed. Rudolph P, editor.
Pennsylvania : W.B. Saunders Company, 2002. 346 p.
5. Duntz M. Handbook of Oral Diseases : Diagnosis and Management. 1 st ed.
United Kingdom : Martin Dunitz Ltd, 1999. 127 p.
6. Ali S, Bansal P, Bhargava D. Oral Leukoerythroplakia a Case Report.
American Journal of Pharmacology and Pharmacotherapeutics. 1-3-2014 :
134-139
7. Sudiono J. Pemeriksaan Patologi untuk Diagnosis Neoplasma Mulut. 1 st ed.
Juwono L, editor. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2008. 63-64 p.
8. Greenberg MS. Burckets Oral Medicine : Diagnosis and Treatment. 10 th rev.
ed. Glick M, Hamilton : BC Decker Inc, 2003. 106 p.
9. Laskaris G. Pocket Atlas of Oral Diseases. 2nd rev. ed. Hurler R, typesetting.
Germany : George Thieme V, 2006. 54 p.

18