Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH HIPERTENSI

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Farmakoterapi dan Terminologi Medik

Disusun oleh :
Meiditha Dwi Arini

1061611074

Meka Rahayuningtyas

1061611075

Nindia Eva Lasari

1061611081

Putri Intan Pratiwi

1061611095

Zena Lutvina Oviyanti

1061611130

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI YAYASAN PHARMASI
SEMARANG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Pendahuluan
Penyakit kardiovaskuler secara tipikal menyerang usia pertengahan keatas.
Namun penyakit kardiovaskuler adalah hasil dari sebuah proses sepanjang hidup
manusia. Kejadian penyakit kardiovaskuler pada usia dewasa tersebut tidak lepas
dari interaksi terus menerus dari masa kanak kanak hingga remaja. Beberapa
faktor resiko yang memungkinkan menjadi penyebab penyakit kardiovaskuler
pada remaja secara pasti belum diketahui, meskipun demikian secara umum
dikenal berbagai faktor resiko seseorang untuk menderita penyakit kardiovaskuler
contohnya hipertensi ditentukan melalui interaksi dua atau lebih faktor risiko
(Brian, dkk. 2005).
Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama mortalitas - morbiditas di
Indonesia sehingga tatalaksana penyakit ini merupakan intervensi yang sangat
umum dilakukan di berbagai tingkat fasilitas kesehatan (PERKI, 2015). Hipertensi
didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg,
merupakan silent killer dan perannya terhadap gangguan jantung serta otak tidak
diragukan lagi. Gejala dari hipertensi dapat bervariasi pada masing masing
individu dan hampir sama dengan gejala penyakit lainnya. Gejala gejalanya
adalah sakit kepala / rasa berat di tengkuk, vertigo, jantung berdebar debar,
mudah lelah, penglihatan kabur, telinga berdenging (tinnitus) serta mimisan
(INFODATIN).
1.2 Epidemiologi
Di Indonesia prevalensi hipertensi berkisar antara 8,6% - 10%. Saat ini
jumlah penderita hipertensi di Indonesia diperkirakan 15 juta orang. Prevalensi
pada daerah urban dan rural berkisar antara 17 21% dan hanya 4% yang
merupakan hipertensi terkontrol. Prevalensi pada dewasa sebesar 6 15%, 50% di
antara orang dewasa yang menderita hipertensi tidak menyadari sebagai penderita
hipertensi sehingga mereka cenderung untuk menjadi hipertensi berat karena
tidak menghindari dan tidak mengetahui faktor risikonya sedangkan 90%
merupakan hipertensi esensial (Syahrini, 2013). Sedangkan di Amerika,
berdasarkan American Heart Association (AHA), penduduk Amerika yang berusia

diatas 20 tahun penderita hipertensi telah mencapai angka hingga 64,5 juta jiwa
dengan 90 95% diantaranya belum diketahui pasti penyebabnya (INFODATIN).
Tekanan darah tinggi merupakan penyakit degenerative yang umumnya
tekanan darah bertambah secara perlahan dengan bertambahnya umur. Risiko
penderita hipertensi yang tadinya tekanan darahnya normal pada populasi 55
tahun adalah 90%.2. Kebanyakan orang mempunyai tekanan darah prehipertensi
sebelum mereka didiagnosis menderita hipertensi, dan kebanyakan terjadi pada
umur diantara dekade ketiga dan dekade kelima. Sampai dengan umur 55 tahun,
laki-laki lebih banyak menderita hipertensi dibanding perempuan. Dari umur 55
s/d 74 tahun, sedikit lebih banyak perempuan dibanding laki-laki yang menderita
hipertensi. Pada populasi lansia (umur 60 tahun), prevalensi untuk hipertensi
sebesar 65.4 % (Hajjar, 2003).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 PATOFISIOLOGI
2.1.1

Definisi Hipertensi

Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi adalah suatu gangguan pada
pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi, yang dibawa
oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya dimana
tekanan darah persisten

diatas 140/90 mmHg. Pada manula hipertensi

didefinisikan sebagai tekanan sistoliknya 160 mmHg dan tekanan diastoliknya 90


mmHg (Brunner dan Suddarth, 2002).
Hipertensi merupakan suatu penyakit kronis yang sering disebut silent killer
karena pada umumnya pasien tidak mengetahui bahwa mereka menderita penyakit
hipertensi sebelum memeriksakan tekanan darahnya. Selain itu penderita
hipertensi umumnya tidak mengalami suatu tanda atau gejala sebelum terjadi
komplikasi. Kalaupun muncul gejala, seringkali dianggap sebagai gangguan biasa,
sehingga penderita terlambat menyadari penyakit hipertensi tersebut (Chobanian
dkk., 2004).
2.1.2 Etiologi
Hipertensi berdasarkan etiologinya dibagi menjadi dua yaitu hipertensi
primer (esensial) dan hipertensi sekunder.
a) Hipertensi primer
Sekitar 95% pasien dengan hipertensi merupakan hipertensi esensial
(primer). Penyebab hipertensi esensial ini masih belum diketahui, tetapi factor
genetik dan lingkungan diyakini memegang peranan dalam menyebabkan
hipertensi esensial (Weber dkk., 2014). Faktor genetik dapat menyebabkan
kenaikan aktivitas dari sistem renin-angiotensin-aldosteron dan sistem saraf
simpatik serta sensitivitas garam terhadap tekanan darah. Selain faktor genetik,
faktor lingkungan yang mempengaruhi antara lain yaitu konsumsi garam, obesitas
dan gaya hidup yang tidak sehat serta konsumsi alkohol dan merokok (Weber
dkk., 2014).

Penurunan ekskresi natrium pada keadaan tekanan arteri normal merupakan


peristiwa awal dalam hipertensi esensial. Penurunan ekskresi natrium dapat
menyebabkan meningkatnya volume cairan, curah jantung, dan vasokonstriksi
perifer sehingga tekanan darah meningkat. Faktor lingkungan dapat memodifikasi
ekspresi gen pada peningkatan tekanan. Stres, kegemukan, merokok, aktivitas
fisik yang kurang, dan konsumsi garam dalam jumlah besar dianggap sebagai
faktor eksogen dalam hipertensi (Robbins dkk., 2007).
b) Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder diderita sekitar 5% pasien hipertensi (Weber dkk.,
2014). Hipertensi sekunder disebabkan oleh adanya penyakit komorbid atau
penggunaan obat-obat tertentu yang dapat meningkatkan tekanan darah. Obat-obat
tertentu, baik secara langsung ataupun tidak, dapat menyebabkan hipertensi atau
memperberat hipertensi. Penghentian penggunaan obat tersebut atau mengobati
kondisi komorbid yang menyertainya merupakan tahap pertama dalam
penanganan hipertensi sekunder (Depkes RI, 2006). Beberapa penyebab hipertensi
sekunder .
Tabel 1. Penyebab hipertensi yang dapat diidentifikasi (Depkes RI, 2006)

2.1.3

Tanda dan Gejala

Gejala-gejala hipertensi bervariasi pada masing-masing individu dan hampir


sama dengan gejala penyakit lainnya. Gejala-gejalanya adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Sakit kepala
Nyeri dada
Mudah lelah
Palpitasi (jantung berdebar)
Hidung berdarah
Sering buang air kecil (terutama malam hari)
Tinnitus (telinga berdenging)
Dunia terasa berputar (vertigo)

Gejala-gejala tersebut berbahaya jika diabaikan, tetapi bukan merupakan


tolak ukur keparahan dari penyakit hipertensi (WHO, 2013).
2.1.4

Klasifikasi Hipertensi

Hipertensi didefinisikan dengan meningkatnya tekanan darah arteri yang


persisten. Peningkatan tekanan darah sistolik pada umumnya >140 mmHg atau
tekanan darah diastolik >90 mmHg, kecuali bila tekanan darah sistolik 210
mmHg atau tekanan darah diastolik 120 mmHg (Depkes RI, 2006).
Tabel 2. Klasifikasi Hipertensi (Chobanian dkk., 2004)
Klasifikasi Tekanan

Tekanan Darah Sistolik

Tekanan Darah diastolic

Darah
Normal
Prehipertensi
Hipertensi Tingkat 1
Hipertensi Tingkat 2

(mmHg)
<120
120-139
140-159
160

(mmHg)
dan <80
atau 80-89
atau 90-99
atau 100

2.1.5

Komplikasi

Tekanan darah tinggi dalam jangka waktu lama akan merusak endothel
arteri dan mempercepat atherosklerosis. Komplikasi dari hipertensi termasuk
rusaknya organ tubuh seperti jantung, mata, ginjal, otak, dan pembuluh darah
besar. Hipertensi adalah faktor resiko utama untuk penyakit serebrovaskular
(stroke, transient ischemic attack), penyakit arteri koroner (infark miokard,
angina), gagal ginjal, dementia, dan atrial fibrilasi. Bila penderita hipertensi
memiliki faktor-faktor resiko kardiovaskular lain, maka akan meningkatkan
mortalitas dan morbiditas akibat gangguan kardiovaskularnya. Menurut Studi
Framingham, pasien dengan hipertensi mempunyai peningkatan resiko yang
bermakna untuk penyakit koroner, stroke, penyakit arteri perifer, dan gagal
jantung (Dosh,2001).

2.2 TUJUAN TERAPI

Secara keseluruhan, tujuan penanganan hipertensi adalah mengurangi


morbiditas dan kematian.
Target nilai tekanan darahnya adalah kurang dari 140/90 untuk hipertensi
tidak komplikasi dan kurang dari 130/80 untuk penderita diabetes mellitus
serta ginjal kronik.
TDS merupakan indikasi yang baik untuk risiko kardiovaskuler daripada
TDD dan seharusnya dijadikan tanda klinik primer dalam mengontrol
hipertensi (Priyanto, 2009 : 184)

2.3 PENATALAKSANAAN TERAPI


Penatalaksanaan terapi hipertensi terdiri atas terapi non farmakologi dan
terapi farmakologi sebagai berikut:
2.3.1

Terapi Non Farmakologi

Terapi Non Farmakologi bagi penderita hipertensi dianjurkan untuk


mengatur pola hidup dengan memantau

penurunan berat badan jika kelebihan berat badan,

melakukan diet makanan sesuai dengan DASH (Dietary Approaches to Stop


Hypertension),

mengurangi asupan natrium tidak lebih dari 100 mmol tiap hari (2,4 gram
natrium atau 6 gram natrium klorida),

melakukan aktivitas fisik seperti aerobik,

mengurangi konsumsi alkohol dan

menghentikan kebiasaan merokok (Chobanian et.al., 2003 : 26).

2.3.2

Terapi Farmakologi
Pengobatan hipertensi bertujuan mengurangi kesakitan (morbiditas),

kematian (mortalitas), dan menurunkan tekanan darah. Algoritma hipertensi dapat


dilihat pada gambar berikut :

Tabel Rekomendasi obat hipertensi untuk penyakit penyerta


Penyakit
Rekomendasi obat hipertensi
penyerta
Diuretik
-B
ACEI
ARB
CCB
Gagal jantung

Pasca infark

miokard
Risiko tinggi

penyakit
coroner
Diabetes

mellitus
Penyakit ginjal

kronik
Pencegahan

stroke berulang
(Sumber : Chobanian et.al., 2003 : 33)

Aldo Ant

Keterangan : BB = Beta blocker, ACEI = Angiotensin converting enzyme


inhibitor, ARB = Angiotensin II receptor blocker, CCB = Calcium
channel blocker, Aldo Ant = Aldosteron antagonist
Pemilihan obat hipertensi tergantung pada derajat meningkatnya tekanan
darah dan keberadaan penyakit penyerta. Terapi farmakologi untuk hipertensi
tahap 1 sebaiknya terapi diawali dengan diuretik tiazid. Penderita hipertensi tahap

2 pada umumnya diberikan terapi kombinasi, salah satu obatnya diuretik tiazid
kecuali terdapat kontraindikasi (Chobanian et.al., 2003 : 30).
Obat hipertensi berdasarkan mekanisme kerjanya dapat dibagi menjadi
beberapa jenis, yaitu (Tjay dan Rahardja, 2007 : 544):
1.

Meningkatkan pengeluaran air dari tubuh: diuretik.

2.

Memperlambat kerja jantung: -blocker.

3.

Memperlebar pembuluh: vasodilator langsung (di/hidralazin, minoxidil),


antagonis kalsium, penghambat ACE, dan angiotensin II receptor blocker.

4. Menstimulasi Susunan Saraf Pusat: agonis alfa-2 sentral seperti klonidin dan
moxonidin, metildopa, guanfasin, dan reserpin.
5. Mengurangi pengaruh Susunan Saraf Otonom tehadap jantung dan pembuluh,
yaitu:
a. Alfa-1 blocker: derivat quinazolin (prazosin, doxazosin, alfuzosin,
tamsulosin), dan ketanserin (ketansin).
b. Alfa-1 blocker dan alfa-2 blocker: fentolamin.
c. Beta blocker: propranolol, atenolol, metoprolol, pindolol, bisoprolol,
timolol, dan lain-lain.
d. Alfa blocker atau beta blocker: labetolol dan carvedilol.
Obat yang lazim digunakan untuk pengobatan awal lini pertama (first line
drug) hipertensi terbagi menjadi 5 kelompok yaitu, diuretik, penyekat reseptor
beta adrenergik (-blocker), penghambat angiotensin-converting enzyme (ACEinhibitor), penghambat reseptor angiotensin (Angiotensin II receptor blocker,
ARB), antagonis kalsium (CCB). Selain itu obat yang digunakan untuk
pengobatan lini kedua dikenal 4 kelompok obat yaitu, penyekat reseptor alfa
adrenergik (-blocker), penghambat saraf adrenergik, agonis alfa-2 sentral dan
vasodilator (Mardjono, 2007 : 343).
Obat hipertensi yang digunakan untuk terapi hipertensi dapat dibagi dalam
beberapa kelompok:
1. Diuretik
Mekanisme kerja obat golongan diuretik meningkatkan ekskresi natrium, air,
dan klorida sehingga menurunkan volume darah dan cairan ekstraseluler. Akibat

dari efek diuretik tersebut adalah penurunan curah jantung dan tekanan darah.
Penelitian-penelitian besar membuktikan bahwa efek proteksi kardiovaskular
diuretik belum terkalahkan oleh obat lain sehingga diuretik dianjurkan untuk
sebagian besar kasus hipertensi ringan dan sedang.
Pada umumnya diuretik dibagi menjadi beberapa kelompok:
a. Diuretik kuat (Loop diuretic)
Mekanisme kerja diuretik kuat bekerja di ansa henle asenden bagian epitel
tebal dengan cara merintangi transport Cl-, menghambat reabsorpsi Na+,
memperbanyak pengeluaran K+ dan air. Mula kerja diuretik kuat lebih cepat dan
efek diuretiknya lebih kuat daripada golongan tiazid sehingga jarang digunakan
sebagai antihipertensi, kecuali pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal
(kreatinin serum lebih dari 2,5 mg/dL) atau gagal jantung. Waktu paruh diuretik
kuat umumnya pendek sehingga diperlukan pemberian 2 atau 3 kali sehari.
Efek samping diuretik kuat adalah menurunkan kalsium darah.
Contoh obat golongan diuretik kuat: furosemid, torasemid, bumetanid dan
asam etakrinat (Mardjono, 2007 : 345).
Kontraindikasi diuretik kuat antara lain: defisiensi elektrolit, anuria, koma
hepatik, kehamilan muda, hipokalemia, terapi bersama litium ( MIMS, 2007 : 54).
b. Golongan Tiazid
Mekanisme kerja diuretik tiazid adalah mengeluarkan natrium dari ginjal.
Tiazid dapat digunakan sebagai obat tunggal pada hipertensi ringan sampai
sedang, atau dalam kombinasi dengan antihipertensi lain bila tekanan darah tidak
berhasil diturunkan dengan diuretik saja.
Tiazid seringkali dikombinasi dengan antihipertensi lain karena:
1) Dapat meningkatkan efektivitas antihipertensi lain dengan mekanisme kerja
yang berbeda sehingga dosisnya dapat dikurangi.
2) Tiazid mencegah retensi cairan oleh antihipertensi lain sehingga efek obatobat tersebut dapat bertahan.
Pada pasien gagal ginjal, tiazid kehilangan efektivitas diuretik dan
antihipertensinya. Tiazid efektif untuk pasien hipertensi dengan kadar renin yang

rendah, misalnya pada orang tua. Pada kebanyakan pasien, efek antihipertensi
mulai terlihat dengan dosis hidroklorotiazid 12,5 mg/hari.
Efek antihipertensi tiazid mengalami antagonisme oleh antiinflamasi non
steroid

(AINS)

karena

antiinflamasi

non

steroid

menghambat

sintesis

prostaglandin yang berperan penting dalam pengaturan aliran darah ginjal,


transport air dan garam. Akibatnya terjadi retensi natrium dan air yang akan
mengurangi efek hampir semua obat hipertensi.
Efek samping tiazid dalam dosis tinggi dapat menyebabkan hipokalemia
yang dapat berbahaya pada pasien yang mendapat digitalis. Efek samping ini
dapat dihindari bila tiazid diberikan dalam dosis rendah atau dikombinasi dengan
obat lain seperti diuretik hemat kalium, atau penghambat enzim konversi
angiotensin (ACE-inhibitor), karena tiazid dapat menyebabkan hiponatremia,
hipomagnesemia serta hiperkalsemia. Pada penderita diabetes mellitus, tiazid
dapat menyebabkan hiperglikemia karena dapat mengurangi sekresi insulin.
Contoh

obat

golongan

tiazid:

hidroklorotiazid,

bendroflumetiazid,

klorotiazid dan diuretik yang memiliki gugus aryl-sulfonamida (indapamid dan


klortalidon) (Mardjono, 2007 : 344).
Kontraindikasi hidroklorotiazid antara lain: anuria, terapi bersama litium,
dekompensasi ginjal ( MIMS, 2007 : 54).
c. Diuretik hemat kalium
Mekanisme kerja diuretik hemat kalium adalah menahan kalium yang
diperlukan oleh tubuh. Penggunaan diuretik hemat kalium dengan diuretik lain
untuk mencegah hipokalemia. Diuretik hemat kalium dapat menimbulkan
hiperkalemia bila diberikan pada pasien dengan gagal ginjal, atau bila
dikombinasi dengan penghambat ACE, penyekat reseptor angiotensin II, penyekat
adrenoreseptor, antiinflamasi non steroid atau dengan suplemen kalium.
Penggunaan diuretik hemat kalium harus dihindarkan bila kreatinin serum lebih
dari 2,5 mg/dL.
Spironolakton merupakan antagonis aldosteron sehingga merupakan obat
yang terpilih pada hiperaldosteronisme primer. Obat ini sangat berguna pada
pasien

dengan

hiperurisemia,

hipokalemia

dengan

intoleransi

glukosa.

Spironolakton tidak mempengaruhi kadar Ca++ dan gula darah. Efek samping
spironolakton antara lain gangguan menstruasi dan penurunan libido pada pria.
Contoh obat golongan diuretik hemat kalium: amilorid, triamteren dan
spironolakton (Mardjono, 2007: 345).
Kontraindikasi diuretik hemat kalium antara lain : insufisiensi ginjal akut,
anuria, hiperkalemia, hamil (MIMS, 2007 : 53).
2.

Penyekat adrenoreseptor (Beta blocker)


Zat-zat ini memiliki sifat kimia yang sangat mirip dengan zat beta-

adrenergik isoprenalin. Khasiat utamanya adalah anti-adrenergik dengan jalan


menempati secara bersaing reseptor adrenergik. Blokade reseptor ini
mengakibatkan peniadaan atau penurunan kuat aktivitas adrenalin dan
noradrenalin (NA). Reseptor- terdapat dalam dua jenis, yaitu (Tjay dan Rahardja,
2007 : 546) :
a.

Reseptor -1
Reseptor -1 terdapat di jantung, Susunan Saraf Pusat, ginjal. Blokade

reseptor ini mengakibatkan pelemahan daya kontraksi (efek inotrop negatif),


penurunan frekuensi jantung (efek kronotrop negatif, bradikardi), perlambatan
penyaluran impuls di jantung (simpuls AV = atrioventrikuler).
b.

Reseptor -2.
Reseptor -2 terdapat di bronchia, dinding pembuluh darah, usus. Blokade

reseptor ini menimbulkan penciutan bronchia dan vasokonstriksi perifer agak


ringan yang bersifat sementara (beberapa minggu), mengganggu mekanisme
homeostatis untuk memelihara kadar glukosa dalam darah (efek hipoglikemia).
Mekanisme kerja penyekat adrenoreseptor terhadap penurunan tekanan
darah dapat dikaitkan dengan hambatan reseptor -1, antara lain (Mardjono,
2007 : 346):
a. Penurunan frekuensi denyut jantung dan kontraktilitas miokard sehingga
menurunkan curah jantung.
b. Hambatan sekresi renin di sel-sel jukstaglomeruler ginjal akibat penurunan
produksi angiotensin II.

c. Efek sentral yang mempengaruhi aktivitas saraf simpatis, perubahan reseptor


pada sensitivitas baroreseptor, perubahan aktivitas neuron adrenergik perifer
dan peningkatan biosintesis prostasiklin.
Penyekat adrenoreseptor dapat memiliki sifat-sifat khusus berikut ini (Tjay
dan Rahardja, 2007 : 547):
a. Kardioselektivitas
Kardioselektivitas, yaitu menghambat terutama reseptor -1 dengan
penurunan tekanan darah tanpa menimbulkan penciutan bronchia dan pembuluh
perifer. Sifat ini terikat pada dosis, selektivitas berkurang dengan dosis meningkat.
Pasien asma, bronchitis dan diabetes sebaiknya menggunakan dengan berhati-hati
obat-obat kardioselektif seperti asebutolol, atenolol, betaxolol (kerlon), bisoprolol,
celiprolol, esmolol, dan metoprolol.
b. Efek adrenergik intrinsik
Efek adrenergik intrinsik (ISA = Intrinsic Sympathicomimetic Activity)
dimiliki oleh pindolol, asebutolol, alprenolol, celiprolol, dan oxyprenolol. Sifat ini
berhubungan dengan keasaman struktur kimianya dengan beta adrenergik.
c. Efek stabilisasi membran
Efek stabilisasi membran juga disebut efek lokal anastetis yang terjadi pada
dosis tinggi. Efek ini dimiliki oleh propranolol, alprenolol, oxprenolol, dan
asebutolol. Beta bloker dengan khasiat lokal anastetik tidak layak digunakan
topikal pada mata.
Penyekat adrenoreseptor digunakan sebagai obat tahap pertama pada
pasien hipertensi ringan sampai sedang terutama pada pasien dengan penyakit
jantung koroner (khususnya sesudah infark miokard akut), pasien dengan aritmia
supraventrikel (tachycardia), pasien muda dengan sirkulasi hiperdinamik dan pada
pasien yang memerlukan antidepresan trisiklik atau antipsikotik (karena efek
antihipertensi beta bloker tidak dihambat oleh obat-obat tersebut). Pendapat
terbaru membuktikan bahwa beta bloker, terutama carvedilol dan bisoprolol
terbukti bermanfaat dan telah direkomendasikan dalam JNC VI dan VII untuk
pengobatan gagal jantung dalam kombinasi dengan ACE inhibitor. Penyekat

adrenoreseptor lebih efektif pada pasien usia muda dan kurang efektif pada pasien
usia lanjut.
Penurunan tekanan darah oleh penyekat adrenoreseptor yang diberikan per
oral berlangsung lambat. Efek ini mulai terlihat dalam 24 jam sampai 1 minggu
setelah terapi dimulai dan tidak diperoleh penurunan tekanan darah lebih lanjut
setelah 2 minggu bila dosisnya tetap. Obat ini tidak menimbulkan retensi air dan
garam.
Kontraindikasi penyekat adrenoreseptor adalah pada pasien dengan asma
bronchial. Penyekat adrenoreseptor dapat menyebabkan bradikardia, blokade
AV, menurunkan kekuatan kontraksi miokard. Oleh karena itu obat penyekat
adrenoreseptor dikontraindikasikan pada keadaan asma, bradikardi, blokade AV
(atrioventrikuler) derajat 2 dan 3, sick sinus syndrome. Penyekat adrenoreseptor
dengan aktivitas simpatomimetik intrinsik kurang efektif untuk penyakit jantung
koroner dan belum terbukti efektif untuk pasca infark miokard. Pada pasien
dengan gangguan fungsi ginjal kronik, pemakaian penyekat adrenoreseptor
dapat memperburuk fungsi ginjal karena penurunan aliran darah ginjal. Bila harus
diberikan pada pasien dengan diabetes atau dengan gangguan sirkulasi perifer,
maka penghambat selektif -1 (asebutolol, atenolol, betaxolol (kerlon), bisoprolol,
celiprolol, esmolol, dan metoprolol) adalah lebih baik dibandingkan dengan beta
bloker non selektif, karena efek hipoglikemia relatif ringan serta tidak
menghambat reseptor -2 yang memperantarai vasodilatasi di otot rangka.
Efek samping penyekat adrenoreseptor merupakan bronkospasme pada
pasien dengan riwayat asma bronkial atau penyakit paru obstruktif kronik
(PPOK), sehingga pemakaian beta bloker termasuk yang kardioselektif
merupakan kontraindikasi untuk keadaan ini. Efek sentral berupa depresi, mimpi
buruk, halusinasi dapat terjadi dengan beta bloker yang lipofilik seperti
propranolol dan oksprenolol. Gangguan fungsi seksual sering terjadi akibat
pemakaian penyekat adrenoreseptor, terutama yang tidak selektif (Mardjono,
2007 : 346-347).
Interaksi obat penyekat adrenoreseptor dengan obat lain dapat terjadi bila
digunakan secara bersamaan, antara lain (Tjay dan Rahardja, 2007 : 550):

a. Penggunaan bersama dengan antagonis kalsium (verapamil secara intravena,


ditiazem, nifedipin, lidokain, fenothiazin, glafenin, dan floctafenin) dapat
menyebabkan hipotensi.
b. Penggunaan bersama dengan barbital dapat mempercepat perombakan beta
bloker di hati sehingga memperlemah efek beta bloker.
c. Penggunaan bersama dengan antiinflamasi non steroid (indometasin dan lainlain) dapat menurunkan absorpsi beta bloker sehingga memperlemah efek beta
bloker.
d. Penggunaan bersama dengan klonidin dapat memperbesar risiko hipertensi
rebound, maka terapi dengan penyekat adrenoreseptor perlu dihentikan
sebelum menggunakan klonidin.
3. Penghambat angiotensin converting enzyme (Penghambat ACE)
Mekanisme kerja penghambat ACE menghambat perubahan angiotensin I
menjadi angiotensin II sehingga terjadi vasodilatasi dan penurunan sekresi
aldosteron.

Berkurangnya produksi angiotensin II oleh ACE inhibitor akan

mengurangi sekresi aldosteron di korteks adrenal yang mengakibatkan terjadi


ekskresi air dan natrium, sedangkan kalium mengalami retensi sehingga ada
tendensi terjadinya hiperkalemia terutama pada gangguan fungsi ginjal.
Merintangi enzim ACE dapat mempertahankan keberadaan zat lain yang disebut
bradikinin. Kerja bradikinin adalah melebarkan pembuluh darah.
Efek penghambat ACE pada gagal jantung akan sangat mengurangi beban
jantung dan akan memperbaiki keadaan pasien. Pemberian penghambat ACE
jangka panjang tidak menimbulkan toleransi dan penghentian obat ini biasanya
tidak menimbulkan hipertensi rebound. Penghambat ACE tidak mempunyai efek
terhadap metabolisme lipid atau glukosa dan mengurangi resistensi insulin
sehingga sangat baik untuk hipertensi pada diabetes, dislipidemia, dan obesitas.
Secara umum penghambat ACE dibedakan atas dua kelompok (Mardjono,
2007 : 354):
a. Yang bekerja langsung, contohnya: kaptopril dan lisinopril.
b. Prodrug, contohnya: enalapril, kuinapril, perindopril, ramipril, silazapril,
benazepril, dan fosinopril. Obat ini dalam tubuh diubah menjadi bentuk aktif

yaitu:

enalaprilat,

kuinaprilat,

perindoprilat,

ramiprilat,

silazaprilat,

benazeprilat, dan fosinoprilat.


Kontraindikasi penghambat ACE pada wanita hamil karena bersifat
teratogenik. Pemberian pada ibu menyusui juga kontraindikasi karena
penghambat ACE diekskresi melalui ASI dan berakibat buruk terhadap fungsi
ginjal bayi. Dalam JNC VII, penghambat ACE diindikasikan untuk hipertensi
dengan penyakit ginjal kronik. Namun harus hati-hati terutama bila ada
hiperkalemia, karena penghambat ACE akan memperberat hiperkalemia. Kadar
kreatinin darah perlu dipantau selama pemberian penghambat ACE. Bila terjadi
peningkatan

kreatinin,

maka

obat harus dihentikan.

Penghambat ACE

dikontraindikasikan pada stenosis arteri renalis bilateral atau unilateral pada


keadaan ginjal tunggal (Mardjono, 2007 : 356).
Efek samping penghambat ACE, antara lain (Mardjono, 2007 : 355):
a. Hipotensi dapat terjadi pada awal pemberian penghambat ACE, terutama pada
hipertensi dengan aktivitas renin yang tinggi. Pemberian harus berhati-hati
pada pasien dengan deplesi cairan dan natrium, gagal jantung atau yang
mendapat kombinasi beberapa antihipertensi.
b. Batuk kering merupakan efek samping yang paling sering terjadi dengan
insiden 5 - 20 %, lebih sering pada wanita dan lebih sering terjadi pada malam
hari. Diduga efek samping ini ada kaitannya dengan peningkatan kadar
bradikinin dan prostaglandin. Efek samping ini bergantung pada besarnya
dosis dan bersifat reversibel bila obat dihentikan.
c. Hiperkalemia dapat terjadi pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau
pada pasien yang juga mendapat diuretik hemat kalium, AINS, suplemen
kalium atau beta bloker.
d. Rash dan gangguan pengecapan lebih sering terjadi dengan kaptopril, tapi juga
terjadi dengan penghambat ACE yang lain. Diduga karena adanya gugus
sulfhifril (SH) pada kaptopril yang tidak dimiliki oleh penghambat ACE yang
lain. Gangguan pengecapan (disgeusia) terjadi pada kira-kira 7 % pasien yang
mendapat kaptopril.

e. Edema angioneurotenik terjadi pada 0,1 - 0,2 % pasien berupa pembengkakan


di dinding, bibir, tenggorokan, laring dan sumbatan jalan napas yang bisa
berakibat fatal. Efek samping ini terjadi dalam beberapa jam pertama setelah
pemberian penghambat ACE.
f. Gagal ginjal yang akut yang reversibel dapat terjadi pada pasien dengan
stenosis arteri renalis bilateral atau pada satu-satunya ginjal yang berfungsi.
Hal ini disebabkan dominasi efek penghambat ACE pada arteriol eferen yang
menyebabkan tekanan filtrasi glomerulus semakin rendah sehingga filtrasi
glomerulus semakin berkurang.
g. Efek teratogenik terutama terjadi pada pemberian selama trisemester 2 dan 3
kehamilan yang dapat menimbulkan gagal ginjal fetus atau kematian fetus.
Interaksi obat penghambat ACE dengan obat lain dapat terjadi bila
digunakan secara bersamaan dengan (Mardjono, 2007 : 356):
a) Kombinasi

dengan

diuretik

hemat

kalium

dapat

menimbulkan

hiperkalemia.
b) Kombinasi dengan antasida akan mengurangi absorpsi penghambat ACE.
c) Kombinasi dengan antiinflamasi non stroid akan mengurangi efek
antihipertensi dan menambah risiko hiperkalemia.
4. Penghambat adrenoseptor alfa (Alfa blocker)
Mekanisme kerja zat-zat ini memblok reseptor penghambat adrenoseptor
alfa yang terdapat di otot polos pembuluh, khususnya di pembuluh kulit dan
mukosa.
Penghambat adrenoseptor alfa dibagi dalam 3 kelompok, yaitu (Tjay dan
Rahardja, 2007 : 545):
a. Penghambat adrenoseptor alfa tidak selektif: fentolamin yang hanya
digunakan intravena pada krisis hipertensi.
b. Penghambat adrenoseptor alfa-1 selektif: derivate quinazolin (prazosin,
terazosin, dan tamsulosin) serta uradipil yang digunakan sebagai obat
hipertensi dan pada hiperplasia prostat.
c. Penghambat adrenoseptor alfa-2 selektif: yohimbin yang digunakan sebagai
obat perangsang syahwat (aphrodisiacum).

Penghambat adrenoseptor alfa yang selektif menghambat reseptor alfa-1


yang digunakan sebagai antihipertensi. Penghambat adrenoseptor alfa tidak
selektif kurang efektif sebagai antihipertensi karena hambatan reseptor alfa-2 di
ujung saraf adrenergik akan meningkatkan pelepasan norepinefrin dan
meningkatkan aktivitas simpatis. Hambatan reseptor alfa-1 menyebabkan
vasodilatasi di arteriol dan venula sehingga menurunkan resistensi perifer.
Penghambat adrenoseptor alfa memiliki beberapa keunggulan : efek positif
terhadap lipid darah (menurunkan LDL dan trigliserida, meningkatkan HDL) dan
mengurangi resistensi insulin, sehingga cocok untuk pasien hipertensi dengan
dislipidemia dan diabetes mellitus. Penghambat adrenoseptor alfa juga sangat baik
untuk pasien hipertensi dengan hipertrofi prostat karena hambatan reseptor alfa-1
akan merelaksasi otot polos prostate dan sfingter uretra sehingga mengurangi
retensi urin (Mardjono, 2007 : 348).
Efek samping penghambat adrenoseptor alfa-1, yaitu hipotensi orthostatis
yang terjadi khusus pada permulaan terapi dan setelah peningkatan dosis. Efek
samping ini dapat dihindari bila dimulai dengan dosis rendah , menaikkan dosis
secara berangsur-angsur dan minum dosis pertama sebelum tidur. Efek lain yang
dapat terjadi berupa pusing, nyeri kepala, pilek, gangguan tidur, udema, debar
jantung dan perasaan lemah. Kombinasi dengan beta bloker dan antagonis
kalsium meningkatkan risiko hipotensi, sedangkan kombinasi dengan diuretik dan
penghambat ACE lebih sering menimbulkan pusing (Tjay dan Rahardja, 2007 :
545).
Kontraindikasi alfa bloker antara lain: gangguan fungsi ginjal, insufisiensi
hati berat ( MIMS, 2007 : 262).
5. Antagonis kalsium (CCB)
Mekanisme kerja antagonis kalsium adalah menghambat pemasukan ion
kalsium ekstrasel ke dalam sel vaskuler otot polos sehingga tegangan vaskuler
menurun dan terjadi vasodilatasi perifer (Goodman dan Gilman, 2008 : 865).
Penggolongan antagonis kalsium secara kimiawi dapat dibagi dalam 2
kelompok, yaitu:

a. Derivat dihidropiridin: efek vasodilatasinya amat kuat, maka digunakan


sebagai obat hipertensi. Contoh: nifedipin, nisoldipin, amlodipin, felodipin,
nicardipin, nimodipin, nitrendipin, lercanidipin, lacidipin, dan isradipin.
b. Obat-obat lain: verapamil, diltiazem, dan bepridil. Verapamil bekerja terhadap
jantung (menurunkan frekuensi dan daya kontraksi, memperlambat penyaluran
atrioventrikuler) dan terhadap sistem pembuluh (vasodilatasi). Diltiazem dapat
disamakan khasiatnya dengan verapamil, tetapi efek inotrop negatifnya lebih
ringan. Daya vasodilatasi kedua zat ini lebih lemah daripada zat
dihidropiridin, maka lebih banyak digunakan pada angina daripada sebagai
obat hipertensi. Bepridil tidak bekerja antihipertensi dan khusus digunakan
pada angina stabil.
Efek samping antagonis kalsium: pusing, nyeri kepala, dan rasa panas di
muka (flushing). Derivat dihidropiridin dapat menyebabkan takikardi dan udema
pergelangan kaki (akibat vasodilatasi perifer) yang bersifat sementara. Derivat
obat bukan dihidropiridin dapat menyebabkan bradikardi, atrioventrikuler block,
hipotensi, obstipasi, menghambat agregasi trombosit, gangguan penglihatan, dan
reaksi kulit alergis (Tjay dan Rahardja, 2007 : 556).
Kontraindikasi antagonis kalsium: wanita hamil dan menyusui, hipersensitif,
gagal jantung, hipotensi, bradikardi, infark miokard akut, dan penyakit ginjal
kronik ( MIMS, 2007 : 46).
6. Penghambat reseptor angiotensin II (Angiotensin II reseptor bloker, ARB)
Penghambat reseptor angiotensin II menduduki reseptor angiotensin II yang
terdapat di dalam tubuh, antara lain: di miokard, dinding pembuluh, susunan saraf
pusat, ginjal, anak ginjal, dan hati. Efek-efek angiotensin II diblokir seperti
peningkatan tekanan darah dan ekskresi kalium, retensi natrium, dan air. Efek lain
dari penekanan aktivitas sistem renin angiotensin aldosteron adalah penurunan
produksi aldosteron, yang mengakibatkan bertambahnya ekskresi natrium dan air
serta berkurangnya ekskresi kalium. Kombinasi dari kedua jenis obat kini mulai
digunakan untuk lebih efektif menurunkan tekanan darah (efek aditif ringan).
Penghambat reseptor angiotensin II sangat efektif menurunkan tekanan
darah pada pasien hipertensi dengan kadar renin yang tinggi seperti renovaskuler

dan hipertensi genetik, tapi kurang efektif pada hipertensi dengan aktivitas renin
yang rendah. Pada pasien dengan hipovolemia, maka dosis penghambat reseptor
angiotensin II perlu diturunkan.
Pemberian penghambat reseptor angiotensin II menurunkan tekanan darah
tanpa mempengaruhi frekuensi denyut jantung. Penghentian mendadak tidak
menimbulkan hipertensi rebound. Pemberian jangka panjang tidak mempengaruhi
lipid dan glukosa darah.
Contoh obat ini terdiri dari: losartan, valsartan, irbesartan, candesartan,
eprosartan, telmisartan dan olmesartan (Tjay dan Rahardja, 2007 : 560).
Losartan merupakan protipe obat golongan penghambat reseptor angiotensin
II yang bekerja selektif pada reseptor angiotensin I. Pemberian obat ini akan
menghambat semua efek angiotensin II, seperti: vasokonstriksi, sekresi
aldosteron, rangsangan saraf simpatis, efek sentral angiotensin II (sekresi
vasopresin, rangsangan haus), stimulasi jantung, efek renal serta efek jangka
panjang berupa hipertrofi otot polos pembuluh darah dan miokard. Penghambat
reseptor angiotensin II menimbulkan efek yang mirip dengan pemberian
penghambat ACE. Tapi karena tidak mempengaruhi metabolisme bradikinin,
maka obat ini dilaporkan tidak memiliki efek samping batuk kering dan
angiodema seperti yang sering terjadi dengan penghambat ACE.
Kontraindikasi penghambat reseptor angiotensin II pada kehamilan
trisemester 2 dan 3, wanita menyusui, stenosis arteri renalis bilateral atau stenosis
pada satu-satunya ginjal yang masih berfungsi. Penghambat reseptor angiotensin
II bersifat fetotoksik sehingga harus dihentikan bila pemakainya ternyata hamil.
Efek samping penghambat reseptor angiotensin II berupa hipotensi yang
dapat terjadi pada pasien dengan kadar renin yang tinggi seperti hipovolemia,
gagal jantung, hipertensi renovaskular, dan sirosis hepatis. Hiperkalemia biasanya
terjadi dalam keadaan tertentu, seperti: insufisiensi ginjal, atau bila dikombinasi
dengan obat-obat yang cenderung meretensi kalium seperti diuretik hemat kalium,
antiinflamasi non steroid dan juga bila asupan kalium berlebihan (Mardjono, 2007
: 356-357).
7. Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat.

Mekanisme kerja agonis alfa-2 adrenergik menstimulasi reseptor alfa-2


adrenergik yang banyak sekali terdapat di susunan saraf pusat (otak dan medulla).
Akibat perangsangan ini terjadi penurunan aktivitas saraf adrenergik perifer.
Pelepasan noradrenalin menurun dengan efek menurunnya resistensi perifer dan
tekanan darah. Agonis alfa-2 adrenergik digunakan pada semua bentuk hipertensi
dan biasanya dikombinasi dengan diuretik. Zat ini bukan merupakan pilihan
pertama, melainkan hanya sebagai obat cadangan bila obat-obat hipertensi lainnya
kurang efektif.
Efek samping yang sering terjadi berupa efek sentral, antara lain: sedasi,
mulut kering, sukar tidur, hidung mampat, pusing, penglihatan kurang, bradikardi,
impotensi, depresi, dan gelisah. Pada umumnya efek ini sering terjadi pada
klonidin dan jarang pada moxonidin, metildopa, dan guanfasin. Hipertensi
rebound dapat terjadi pada penghentian mendadak, terutama pada klonidin dan
reserpin.
Metildopa dapat digunakan oleh wanita hamil dengan hipertensi, sedangkan
obat-obat lainnya belum memiliki cukup data. Klonidin, moxonidin, dan
metildopa dikontraindikasikan pada wanita menyusui karena obat dapat masuk ke
dalam air susu ibu (Tjay dan Rahardja, 2007 : 553).
8. Vasodilator.
Mekanisme kerja vasodilator adalah dengan terjadinya vasodilatasi terhadap
arteri dan dengan demikian menurunkan tekanan darah tinggi. Vasodilator
digunakan sebagai obat hipertensi pilihan ketiga bersama dengan penyekat
adrenoreseptor dan diuretik, bila kombinasi kedua obat penyekat adrenoreseptor
dan diuretik kurang memberikan hasil. Kombinasi tersebut menguntungkan
karena efek samping vasodilator berupa takikardi dan retensi garam dan air
ditiadakan oleh masing-masing beta bloker dan diuretik.
Efek samping vasodilator adalah pusing, nyeri kepala, muka merah, hidung
mampat, debar jantung dan gangguan lambung. Biasanya efek ini bersifat
sementara.
Hanya hidralazin dapat digunakan oleh wanita hamil dengan aman,
sedangkan dari dihidralazin dan minoxidil belum tersedia cukup data. Hidralazin,

dihidralazin dan minoxidil dikontraindikasikan pada wanita menyusui karena


dapat mencapai air susu ibu (Tjay dan Rahardja, 2007 : 562).

BAB III
KASUS DAN PENYELESAIAN
3.1 KASUS
Seorang pasien bernama Bapak Aan usia 55 tahun (berat 85 kg), komisaris
sebuah perusahaan nasional yang terkenal datang ke RS dengan keluhan pusing,
leher terasa kaku, mata berkunang-kunang. Bapak Aan juga mengeluh batuk
produktif dan sakit tenggorokan. Bapak Aan juga mengeluh sulit sekali
mengeluarkan dahaknya. Diketahui bahwa pasien merupakan perokok aktif dan
sering tidur larut malam. Setelah dilakukan pemeriksaan, didapatkan hasil sbb :
Tekanan darah
Heart rate
Kolesterol
Trigliserida
Gula darah
Asam Urat

: 142 / 91
: 70 kali per menit
: 214 mg/dl
: 100 mg/dl
: 120 mg/dl
: 4,7

Dari data tersebut dokter mendiagnosa Bapak Aan menderita hipertensi G 1


disertai kolesterol dan batuk produktif. Bapak Aan mendapatkan resep sebagai
berikut:
R/

Amlodipin
S 1 x 10 mg

No. XXX

Levofloxacin
S 1 x 500 mg

No.VI

Valsartan
S 1 x 160 mg

No. XXX

N Acetilsystein
S3 x 200 mg

No. XV

Fenofibrat
S 3 x 300 mg

No. XC

Metilprednisolon

No. X

S 3 x 4 mg

3.2 ANALISIS SOAP


Subjektif :
Bapak Aan berusia 60 tahun (BB 65 kg) mengeluh pusing, leher kaku, mata
berkunang-kunang, batuk produktif dan sakit tenggorokan.
Objektif :
Tekanan darah
Heart rate
Kolesterol
Trigliserida
Gula darah
Asam Urat

: 142 / 91
: 70 kali per menit
: 210 mg/dl
: 150 mg/dl
: 120 mg/dl
: 4,7

Asessment :

Amlodipin merupakan obat golongan Calsium antagonis, digunakan

sebagai lini pertama terapi antihipertensi.


Levofloxacin merupakan antibiotik golongan Quinolon. Pada kasus ini

tidak terdapat data pendukung adanya infeksi bakteri.


Valsartan merupakan obat golongan Angiotensin Reseptor Bloker,

digunakan sebagai pengobatan hipertensi.


N-acetylsistein tergolong kedalam obat obat mukolitik, berfungsi untuk
menghancurkan atau melarutkan mukus atau lendir. Pada kasus ini,
digunakan untuk mengatasi keluhan pasien terkait batuk berdahak dimana

dahak sulit diekskresikan.


Fenofibrat digunakan untuk mengatasi hiperlipidemia atau kolesterol
tinggi dan kadar trigliserida berlebih, digunakan untuk mengatasi kadar

kolesterol dan trigliserida yang berlebih.


Methylprednisolon merupakan obat golongan kortikosteroid untuk
mengurangi gejala peradangan seperti pembengkakan, nyeri dan ruam.
Pada kasus ini digunakan untuk mengatasi keluhan sakit tenggorokan yang

dialami oleh bapak Aan.


DRP butuh obat
DRP terapi tidak tepat
DRP gagal menerima obat
DRP dosis terlalu tinggi

::::-

DRP dosis terlalu rendah


:DRP obat tanpa indikasi
: Levofloxacin sebagai antibiotik
DRP efek samping
:Fenofibrat memiliki efek samping gangguan pernafasan.
DRP interaksi obat
:
Terjadi interaksi obat antara methylprednisolon dan amlodipine,
methylprednisolon akan menurunkan kadar / efek dari amlodipin sehingga
efek antihipertensi amlodipin akan menurun.

Plan :

Disarankan pada pasien untuk diet rendah garam dan tinggi kolesterol.
Disarankan Pengontrolan rutin tekanan darah dan kolestrol.
Metilprednisolon yang menurunkan kadar dan efek dari amlodipin,

diantisipasi dengan memberikan dosis amlodipin yang tinggi yaitu 10 mg.


Disarankan kepada dokter untuk tidak menggunakan Levofloxacin karena
tidak ada data yang mengindikasikan pasien mengalami infeksi.

3.3 KIE
Konseling mengenai komunikasi, informasi dan edukasi untuk penderita
hipertensi antara lain :
Sebisa mungkin kurangi atau hindari merokok
Diinformasikan kepada pasien untuk rutin mengecek tekanan darah dan

kadar kolesterol
Hindari stress
Menyarankan untuk melakukan pola hidup sehat.
Mengenalkan metode diet DASH kepada pasien dan menyarankan untuk

melakukan metode diet tersebut.


Penggunaan Amlodipine diminum satu kali sehari satu tablet pada malam

hari
Penggunaan Valsartan diminum satu kali sehari satu tablet pada malam

hari
Penggunaan N-acetylsistein diminum tiga kali sehari satu tablet tiap 8 jam
Penggunaan Fenofibrat diminum tiga kali sehari satu tablet tiap 8 jam
Penggunaan Metilprednisolon diminum tiga kali sehari satu tablet tiap 8
jam

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi. Edisi 7 2007/2008.
Jakarta : CMP Medica.
Brian, H., Golbout, M. D., Michael, H., Davidson, M. D. 2005. Cardiovascular
Disease Practical Application of the NCEP ATP III Update Patient Care.
The Journal of Best Clinical Practices for Todys Pyhsicians.
Kementrian Kesehatan RI. 2014. Info DATIN Pusat Data dan Informasi
Kementrian Kesehatan RI. KEMENKES RI : Jakarta
Chobanian, A.V., Bakris, J.L., Black, H.R., Cushman, W.C., Green, L.A., Izzo, Jr,
J.L., Jones, DW., et al., 2003. The seventh report of The Joint National
Committee on prevention, detection, evaluation and treatment of high
blood pressure. http://hyper.ahajournals.org/cgi/content/full/42/6/1206,
diakses 28 April 2009.
Goodman dan Gilman. 2008. Dasar Farmakologi Terapi Vol 1. Edisi 10. Jakarta :
Buku Kedokteran EGC.
ISFI. 2007. Pembekalan Tenaga Farmasi Rumah Sakit Tentang Penyakit Jantung,
Diabetes Mellitus, dan Hipertensi. Media Informasi Farmasi Indonesia.
MEDISINA. 1. (3) : 57.
Mardjono, M. 2007. Departemen Farmakologi Klinik dan Terapetik. Edisi ke-5.
Fakultas Kedokteran. Jakarta : Universitas Indonesia.
PERKI. 2015. Pedoman Tatalaksana Hipertensi Pada Penyakit Kardiovaskular
Edisi Pertama. Jakarta : PERKI
Robbins, S.L., Cotran, R.S., Kumar, V. 2007. Buku Ajar Patologi Vol 2. Edisi 7.
Diterjemahkan oleh Pendit, B.U. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.
Syahrini, Erlyna Nur. 2012. Faktor Faktor Risiko Hipertensi Primer di
Puskesmas Tlogosari Kulon Kota Semarang. Thesis. Universitas
Diponegoro Semarang.
Tjay, T.H, dan Rahardja, K. 2007. Obat-Obat Penting. Edisi VI. Cetakan Pertama.
Jakarta : PT Elex Media Komputindo Gramedia.