Anda di halaman 1dari 5

.

Aneurisma aorta abdominalis


Aorta abdominalis merupakan bagian dari aorta yang sering mengalami aneurisma.
Sebagian besar (95%) aneurisma aorta abdominalis terjadi infrarenal, hanya sebagian
kecil (5%) yang di suprarenal. Pada
keadaan tertentu bagian proksimal aneurisma aorta abdominalis meluas ke atas diafragma
sampai ke aorta torakalis desendens dan untuk keadaan ini disebut aneurisma torakoabdominal. (Sjamsuhidajat, 2010)
A. Etiologi
Penyebab utama aneurisma aorta abdominalis adalah ateriosklerosis sehingga
secara

lengkap

disebut

aneurisma

aorta

abdominalis

arteriosklerotikum.

Arteriosklerosis merusak tunika intima dan tunika media dinding aorta, yang
kemudian menyebabkan dilatasi bentuk fusiform. Penyebab lainnya, seperti sifilis,
peradangan, atau trauma sangat jarang ditemukan. (Sjamsuhidajat, 2010)
B. Gambaran klinis.
Kelainan ini biasanya tanpa keluhan, kecuali adanya massa di abdomen yang
ditemukan secara kebetulan. Kalaupun ada keluhan, paling sering berupa nyeri
pinggang intermiten dan terasanya denyutan di abdomen. Nyeri ini sering disebabkan
oleh ruptur kecil atau kebocoran aneurisma di retroperitoneum yang menyebabkan
perdarahan sedikit sedikit atau berangsur. Bila demikian, aneurisma dikelilingi oleh
hematom besar yang mengandung banyak bekuan darah. Nyeri dapat juga timbul di
perut, di epigastrium, atau di bagian dalam abdomen. Bila nyeri bersifat kolik dan
hebat, sering diduga berasal dari batu saluran kencing, batu kandung empedu, atau
pancreatitis akut. (Sjamsuhidajat, 2010)
Nyeri sekoyong koyong yang hebat dan disertai dengan syok mendadak
merupakan pertanda

adanya ruptur aneurisma bebas di rongga perut yang

menyebabkan mati mendadak . Selanjutnya, terdapat pula keluhan yang berhubungan


dengan sistem pencernaan, seperti konstipasi kronik, nausea, muntah, nafsu makan
berkurang, malaise atau melena. Tanda obstruksi arteri perifer dapat
karena

terjadi

tromboemboli. Emboli arteri perifer dapat terjadi karena tromboemboli. Emboli arteri
perifer tidak selalu disebabkan oleh kelainan pada jantung, tetapi harus
dipertimbangkan bahwa adanya aneurisma arteri, misalnya di sebelah proksimal aorta.
(Sjamsuhidajat, 2010)
C. Diagnosis
Diagnosis aneurisma aorta abdominalis ditegakkan berdasarkan keluhan, gejala
klinis, dan pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan perut ditemukan massa yang
berdenyut dan letaknya di tengah abdomen. Terdengar bising yang selaras dengan
denyut jantung di atas massa tersebut. Pemeriksaan foto polos abdomen tidak
banyak

membantu

membuat diagnosis, kecuali untuk melihat klasifikasi pada

dinding aneurisma. Pemeriksaan penunjang yang perlu adalah ultrasonografi karena


ketepatannya tinggi, aman, noninvansif, cepat, dan tidak terlalu mahal. (Sjamsuhidajat,
2010)
D. Diagnosis Banding
Sebagai diagnosis banding perlu dipikirkan tumor di retroperitoneal seperti
lipoma, limfoma, dan limfosarkoma yang melekat pada aorta. Kelainan ini dapat
dibedakan dengan pemeriksaan fisik yang teliti. Aneurisma ini menimbulkan denyut
yang terasa di setiap bagian massa, sedangkan tumor tidak demikian. Bila terjadi
ruptur aneurisma aorta abdominalis, diagnosis ditegakkan berdasarkan nyeri abdomen
yang persisten akut atau subakut di bagian tengah abdomen. Nyeri juga mungkin
terasa di kiri daerah ginjal dan seringkali mulai di pinggang. Tampak atau teraba
denyutan pada massa di tengah abdomen, menjalar ke lateral karena terjadi hematom
sekunder pada retroperitoneal. Perdarahan intraabdomen ditandai dengan syok
hemoragik dengan anemia. (Sjamsuhidajat, 2010)

E. Tatalaksana

Tindakan terpilih adalah reseksi aneurisma dan rekonstruksi bagian tersebut


dengan prosthesis secara interposisi atau bedah pintas. Kemungkinan lain adalah
melakukan pintas dalam aneurisma yang dipasang transluminal melalui arteri
femoralis. (Sjamsuhidajat, 2010)
. Aneurisma aorta abdominalis
Aorta abdominalis merupakan bagian dari aorta yang sering mengalami aneurisma.
Sebagian besar (95%) aneurisma aorta abdominalis terjadi infrarenal, hanya sebagian
kecil (5%) yang di suprarenal. Pada
keadaan tertentu bagian proksimal aneurisma aorta abdominalis meluas ke atas diafragma
sampai ke aorta torakalis desendens dan untuk keadaan ini disebut aneurisma torakoabdominal. (Sjamsuhidajat, 2010)
F. Etiologi
Penyebab utama aneurisma aorta abdominalis adalah ateriosklerosis sehingga
secara

lengkap

disebut

aneurisma

aorta

abdominalis

arteriosklerotikum.

Arteriosklerosis merusak tunika intima dan tunika media dinding aorta, yang
kemudian menyebabkan dilatasi bentuk fusiform. Penyebab lainnya, seperti sifilis,
peradangan, atau trauma sangat jarang ditemukan. (Sjamsuhidajat, 2010)
G. Gambaran klinis.
Kelainan ini biasanya tanpa keluhan, kecuali adanya massa di abdomen yang
ditemukan secara kebetulan. Kalaupun ada keluhan, paling sering berupa nyeri
pinggang intermiten dan terasanya denyutan di abdomen. Nyeri ini sering disebabkan
oleh ruptur kecil atau kebocoran aneurisma di retroperitoneum yang menyebabkan
perdarahan sedikit sedikit atau berangsur. Bila demikian, aneurisma dikelilingi oleh
hematom besar yang mengandung banyak bekuan darah. Nyeri dapat juga timbul di
perut, di epigastrium, atau di bagian dalam abdomen. Bila nyeri bersifat kolik dan
hebat, sering diduga berasal dari batu saluran kencing, batu kandung empedu, atau
pancreatitis akut. (Sjamsuhidajat, 2010)
Nyeri sekoyong koyong yang hebat dan disertai dengan syok mendadak
merupakan pertanda

adanya ruptur aneurisma bebas di rongga perut yang

menyebabkan mati mendadak . Selanjutnya, terdapat pula keluhan yang berhubungan


dengan sistem pencernaan, seperti konstipasi kronik, nausea, muntah, nafsu makan
berkurang, malaise atau melena. Tanda obstruksi arteri perifer dapat

terjadi

karena
tromboemboli. Emboli arteri perifer dapat terjadi karena tromboemboli. Emboli arteri
perifer tidak selalu disebabkan oleh kelainan pada jantung, tetapi harus
dipertimbangkan bahwa adanya aneurisma arteri, misalnya di sebelah proksimal aorta.
(Sjamsuhidajat, 2010)
H. Diagnosis
Diagnosis aneurisma aorta abdominalis ditegakkan berdasarkan keluhan, gejala
klinis, dan pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan perut ditemukan massa yang
berdenyut dan letaknya di tengah abdomen. Terdengar bising yang selaras dengan
denyut jantung di atas massa tersebut. Pemeriksaan foto polos abdomen tidak
banyak

membantu

membuat diagnosis, kecuali untuk melihat klasifikasi pada

dinding aneurisma. Pemeriksaan penunjang yang perlu adalah ultrasonografi karena


ketepatannya tinggi, aman, noninvansif, cepat, dan tidak terlalu mahal. (Sjamsuhidajat,
2010)
I.

Diagnosis Banding
Sebagai diagnosis banding perlu dipikirkan tumor di retroperitoneal seperti
lipoma, limfoma, dan limfosarkoma yang melekat pada aorta. Kelainan ini dapat
dibedakan dengan pemeriksaan fisik yang teliti. Aneurisma ini menimbulkan denyut
yang terasa di setiap bagian massa, sedangkan tumor tidak demikian. Bila terjadi
ruptur aneurisma aorta abdominalis, diagnosis ditegakkan berdasarkan nyeri abdomen
yang persisten akut atau subakut di bagian tengah abdomen. Nyeri juga mungkin
terasa di kiri daerah ginjal dan seringkali mulai di pinggang. Tampak atau teraba
denyutan pada massa di tengah abdomen, menjalar ke lateral karena terjadi hematom
sekunder pada retroperitoneal. Perdarahan intraabdomen ditandai dengan syok
hemoragik dengan anemia. (Sjamsuhidajat, 2010)

J.

Tatalaksana
Tindakan terpilih adalah reseksi aneurisma dan rekonstruksi bagian tersebut
dengan prosthesis secara interposisi atau bedah pintas. Kemungkinan lain adalah
melakukan pintas dalam aneurisma yang dipasang transluminal melalui arteri
femoralis. (Sjamsuhidajat, 2010)

Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta.