Anda di halaman 1dari 8

BAB 23

PERUBAHAN DALAM EKUITAS PEMEGANG SAHAM


TINJAUAN UMUM
Penambahan dalam modal yang ditanam
Modal yang ditanam, atau disetor (contributed), merupakan investasi dalam
sebuah badan usaha oleh para pemiliknya. Dalam hal perseroan, modal yang ditanam
meliputi jumlah total yang dibayarkan untuk sahamsaham, ditambah laba ditahan yang
dikapitalisasi.
Pengurangan dalam modal yang ditanam
Modal yang ditanam dapat berkurang karena pembelian kembali saham- saham ,
dan sebagai akibatnya, penciptaan saham yang diperoleh kembali.
Penggabungan Usaha
Pembelian saham perusahaan lain atau dengan aktiva lain tidak menimbulkan
kenaikan dalam modal yang ditanam.
Laba per Saham
Manipulasi laba per saham selama masa naiknya harga saham.
I.

PENAMBAHAN DALAM MODAL YANG DITANAM


Modal yang ditanam, atau disetor (contributed), merupakan investasi
dalam sebuah badan usaha oleh para pemiliknya. Dalam hal perseroan, modal
yang ditanam meliputi jumlah total yang dibayarkan untuk sahamsaham,
ditambah laba ditahan yang dikapitalisasi. Jumlah ini mungkin bertambah oleh
adanya penempatan atau penjualan lembarlembar saham tambahan, oleh
perolehan dan penjualan kembali saham yang diperoleh kembali, oleh konversi
utang menjadi ekuitas pemegang saham, dan oleh pemindahan laba ditahan ke
modal yang ditanam. Namun, prinsip dasar yang banyak dianut paling tidak sejak
awal tahun 1930-an adalah bahwa laba ditahan tidak boleh mencakup

pengkreditan dari transaksi-transaksi dalam akun saham perusahaan sendiri atau


pemindahan dari akun modal disetor atau akun-akun modal lainnya.
A. Penempatan Saham Modal
Bila lembar-lembar saham yang sebelumnya tidak diterbitkan dijual secara
tunai atau dengan imbalan lain, kenaikan total dalam ekuitas dimasukkan
dalam modal yang ditanam. Di beberapa negara bagian, peraturan yang
mengatur perseroan memperlakukan saham yang sudah dipesan, tetapi belum
diterbitkan, sebagai bagian dari modal legal. Akan tetapi, Model Business
Corporation Act hanya memasukkan dalam modal yang ditetapkan ini saham
yang sudah diterbitkan. Tetapi, apakah saham yang sudah dipesan dianggap
modal legal atau bukan, praktik akuntansinya memasukkan pesanan ini dalam
modal yang ditanam jika:
1. Pemesanan itu menunjukkan klaim legal terhadap pemesan.
2. Perseroan bermaksud menagih pesanan ini dalam periode waktu yang
wajar dan pasti.
Jika pesanan itu tidak dimaksudkan untuk ditagih, atau jika waktu
penagihan tidak pasti, pesanan itu tidak benar-benar menunjukkan modal yang
ditanam. Bila obligasi konvertibel ditukar dengan saham, selama ini ada dua
metode yang disarankan untuk memperlakukan konversi ini:
1. Metode nilai buku
Dalam metode ini nilai buku utang jangka panjang hanya direklasifikasi,
saat saham baru diterbitkan, menjadi saham modal dan tambahan modal
disetor.
2. Metode nilai pasar
Dalam metode ini harga pasar masa berjalan obligasi itu dikapitalisasi
sebagai ekuitas pemegang saham.
B. Konversi Utang
Bila obligasi konvertibel ditukar dengan saham, selama ini ada dua
metode yang disarankan untuk memperlakukan konversi
C. Konversi Saham Preferen

Untuk

konversi saham preferen menjadi saham biasa, prosedur yang

konvensional adalah mengikuti metode nilai buku untuk konversi obligasi.


Berarti, nilai pari saham preferen ditambah bagian pro rata dari agio saham
preferen dipindahkan ke saham biasa dan agio saham biasa. Penjumlahan nilai
pari saham preferen dan bagian pro rata dari tambahan modal disetor dari
penjualan semula saham preferen itu menunjukkan sumber modal yang
ditanam semula.
Cara lainnya adalah memindahkan ke dalam saham biasa suatu jumlah
sebesar nilai pasar masa berjalan saham preferen yang ditarik atau saham
biasa baru yang diterbitkan, walaupun jumlah-jumlah ini seharusnya cukup
dekat. Jika jumlah ini melebihi modal yang disetor dari saham preferen yang
ditarik, kelebihan itu harus dipindahkan dari laba ditahan. Hasilnya adalah
hilangnya klasifikasi menurut sumber semula. Prosedur ini juga mempunyai
beberapa implikasi yang menarik. Pertama, prosedur ini menyiratkan
diterimanya teori entitas yang kaku ini, karena prosedur ini menafsirkan laba
ditahan itu sendiri sebagai ekuitas perusahaan. Kedua, prosedur ini
menyiratkan

bahwa

nilai

pasar

masa

berjalan

saham

biasa

tidak

mencerminkan suatu kepentingan dalam laba ditahan.


D. Dividen Saham dan Pemecahan Saham
Baik dividen saham maupun pemecahan saham pada dasarnya merupakan
manuver-manuver keuangan yang tidak ada hubungannya dengan prinsip
akuntansi mengenai penentuan penghasilan dan penilaian neraca. Sebenarnya,
jika para akuntan berpegang teguh pada klasifikasi ekuitas menurut sumber
aslinya, tidak perlu ada reklasifikasi ekuitas sebagai akibat dari jenis-jenis
transaksi ini. Satu-satunya yang akan diisyaratkan adalah pengungkapan
perubahan dalam jumlah lembar saham beredar dan perubahan dalam nilai
pari atau nilai yang ditetapkan. Akan perlu juga menghitung kembali laba
perusahaan yang dilaporkan untuk periode berjalan dan periode-periode
terdahulu.

Jumlah yang paling umum disarankan untuk dikapitalisasi adalah:


1. Nilai pari, atau nilai yang ditetapkan (atau jumlah modal legal
lainnya), saham yang diterbitkan sebagai dividen
2. Nilai pasar masa berjalan saham yang diterbitkan
3. Modal disetor per saham sebelum dividen dikali jumlah lembar saham
yang diterbitkan
E. Sifat Dividen Saham
Sebagian besar akuntan setuju bahwa dividen saham bukanlah
menghasilan bagi penerimanya, tetapi mereka berbeda pendapat mengenai
dasar pemikiran yang menghasilkan simpulan ini. Committee on Accounting
Procedure (CAP) AICPA mendasarkan keyakinannya, bahwa dividen saham
bukan penghasilan bagi penerimanya, pada teori entitas. CAP berpendapat
bahwa perseroan perupakan satuan usaha yang terpisah dan tidak mungkin ada
penghasilan bagi pemegang saham sampai ada pemisahan (severance) aktiva
perseroan. Penghasilan bagi perseroan adalah penghasilan perseroan, bukan
penghasilan bagi pemegang saham.
F. Kapitalisasi Nilai Pari atau Nilai yang Ditetapkan
Dengan penafsiran teori entitas yang lazim, bahwa dividen saham bukan
penghasilan bagi penghasilan bagi penerimanya, masalahnya menjadi masalah
penentuan seberapa besar, jika ada, ekuitas perseroan yang harus
direklasifikasi. CAP merekomendasikan bahwa tidak perlu mengkapitalisasi
jumlah yang lebih besar daripada yang diperlukan untuk memenuhi
persyaratan legal dalam dua kasus khusus:
1. Bila jumlah lembar saham tambahan yang diterbitkan begitu besarnya
sehingga secara wajar dapat diperkirakan bahwa harga pasar per saham
akan berkurang secara material
2. Dalam hal perusahaan tertutuo dimana dapat diperkirakan bahwa
pengetahuan yang mendalam tentang urusan-urusan perseroan akan
mencegah timbulnya implikasi oleh pemegang saham bahwa dividen
saham merupakan distribusi penghasilan perseroan

G. Kapitalisasi Harga Pasar


Walaupun CAP tidak mengakui bahwa dividen saham adalah penghasilan
bagi penerimanya, CAP merekomendasikan agar jumlah yang dikapitalisasi
(yang dipindahkan ke saham modal dan tambahan modal disetor) seharusnya
adalah suatu jumlah yang sama besar dengan nilai wajar (nilai pasar) saham
yang diterbitkan dalam semua kasus dimana jumlah saham yang diterbitkan
begitu kecilnya jika dibandingkan dengan total saham yang beredar sehingga
tidak mempunyai dampak yang nyata pada harga pasar per saham.
H. Program Opsi Saham Sebagai Kompensasi
Masalah utama yang diperselisihkan adalah penilaian jasa dan penentuan
kenaikan yang timbul dalam modal yang ditanam akibat pemberian opsi
saham. Metode penilaian yang paling umum diusulkan adalah:
1. Selisih lebih nilai wajar saham diatas harga opsi pada tanggal opsi
diberikan
2. Selisih lebih pada tanggal opsi itu menjadi milik karyawan
3. Selisih lebih nilai wajar diatas harga opsi pada tanggal opsi itu pertama
kali dapat digunakan
4. Selisih lebih pada tanggal opsi itu benar-benar digunakan
5. Biaya bagi perseroan pada tanggal penggunaan, setelah disesuaikan untuk
memperhitungkan dampak pajak penghasilan pada perusahaan
6. Kemungkinan nilai opsi bagi penerima pada tanggal pemberian
I. Pengurangan Dalam Modal yang Ditanam
Biasanya, modal yang ditanam suatu perusahaan dianggap menunjukkan
modal permanen badan usaha. Pengurangan yang disengaja dalam modal yang
ditanam ini tidak boleh dilakukan dengan membayar kepada pemegang saham
kecuali jika pembayaran itu secara spesifik diungkapkan sebagai dividen
likuidasi. Tetapi likuidasi parsial juga terjadi bila kelompok saham tertentu
ditarik dan ditebus. Pembelian saham yang diperoleh kembali dengan
penebusan saham preferen, dengan pengecualian bahwa yang terlibat adalah

beberapa pemegang saham dari setiap kelas dan harga pembelian biasanya
tidak diatur sebelumnya.
J. Saham yang Diperoleh Kembali
Dua pertanyaan mendasar yang berhubungan dengan kontroversi ini
adalah:
1. Berapa banyak dari pembayaran kepada pemegang saham yang harus
diperlakukan sebagai pengembalian modal yang ditanam, dan berapa
banyak yang harus dianggap sebagai distribusi laba ditahan?
2. Bagaimana dampaknya pada modal legal harus diungkapkan?
K. Konsep Transaksi Tunggal
Jika perusahaan memperoleh sahamnya sendiri dan kemudian menjual
saham itu kepada pemegang saham lain dengan harga sebesar harga
perolehan, tampaknya tidak logis bila klasifikasi ekuitas pemegang saham
harus terganggu hanya karena perseroan memegang saham itu.
L. Konsep Transaksi Ganda
Perolehan saham perusahaan sendiri diasumsikan menunjukkan kontraksi
dalam struktur modal perusahaan. Jika saham itu kemudian diterbitkan
kembali,

penerbitan

saham

yang

diperoleh

kembali

itu

dipertanggungjawabkan dengan cara yang sama seperti penerbitan saham


yang belum pernah diterbitkan sebelumnya.
M. Evaluasi Atas Konsep Transaksi Tunggal dan Transaksi Ganda
Yang pertama didasarkan pada premis bahwa makna (substansi) lebih
penting daripada bentuk dan bahwa suatu perseroan tidak boleh memindahkan
jumlah-jumlah dari laba ditahan ke modal yang ditanam hanya karena
pemindahan itu terjadi untuk menangani perpindahan saham dari suatu
pemegang saham ke pemegang saham lainnya.
N. Penggabungan Usaha

1. Penggabungan yang diperlakukan sebagai pembelian


Bilamana aktiva diperoleh dalam pertukaran dengan saham modal, nilai
aktiva itu diasumsikan sama dengan nilai saham yang diberikan dalam
pertukaran, kecuali jika nilai masa berjalan aktiva itu dapat diperoleh
dengan cara lain yang dapat diuji.
2. Penyatuan kepentingan
Suatu penyatuan kepentingan diasumsikan terjadi bila dua atau
lebih perusahaan bergabung untuk melaksanakan fungsi-fungsi usaha
mereka sebagai satu badan usaha ekonomi tunggal.
3. Evaluasi atas pembelian dan penyatuan kepentingan
Perbedaan antara pembelian dan penyatuan kepentingan terletak
pada pemilihan dan penafsiran satuan usaha yang bertahan. Dalam
pembelian, satu dari badan usaha-badan usaha yang bergabung itu yang
bertahan; yang lainnya mati baik bentuk maupun jiwanya. Akan tetapi,
dalam penyatuan kepentingan, perseroan yang bertahan dengan benar
merupakan gabungan dari dua atau lebih badan usaha ekonomi yang terus
berjalan.
O. Laba per Saham
Rasio laba per saham mungkin merupakan ikhtisar data akuntansi yang
paling sering dipublikasikan karena dianggap mengandung informasi yang
berguna dalam membuat prediksi mengenai dividen per saham di masa depan
dan harga saham di masa depan. Laba per saham juga dianggap relevan dalam
evaluasi atas efektivitas manajemen dan kebijakan dividen
P. Perhitungan Jumlah Saham
Perhitungan rasio laba per saham memerlukan perhitungan dengan laba
bersih bagi pemegang saham biasa sebagai pembilang dan jumlah saham biasa
yang terkait sebagai penyebut. Penjelasan perhitungannya adalah sebagai
berikut:

1. Laba per saham primer


Mencakup jumlah rata-rata tertimbang saham yang beredar selama
tahun tersebut ditambah jumlah saham yang mewakili sekuritas yang
dianggap sebagai setara saham biasa dan mempunyai efek dilutive.
2. Laba per saham yang didilusi sepenuhnya
Dihitung dengan memasukkan semua sekuritas konvertibel yang
berpotensi dilutif, baik yang diklasifikasikan sebagai setara saham
biasa ataupun tidak
Q. Perhitungan Laba
Karena laba hanya berkaitan dengans sekuritas saham biasa dengan hak
residual, dividen yang dibayarkan atau yang terutang untuk sekuritas-sekuritas
senior harus dikurangkan dari angka laba bersih yang diperlihatkan dalam
laporan laba rugi. Jika ada penambahan pada lembar saham biasa dalam
penyebut untuk menunjukkan utang konvertibel yang beredar, beban bunga
untuk tahun tersebut, setelah disesuaikan untuk memperhitungkan pengaruh
pajak penghasilan, harus ditambahkan pada laba bersih yang dilaporkan.