Anda di halaman 1dari 17

Herbal Medicine

Obat tradisional Sebagai antiinflamasi


Ade pitra 22161001
Aditya Purwanti 22161002
Faris Fajar Wibawa 22161017
Indri mardianti 22161024
Yayan Hadiansyah 22161042

PENGERTIAN
Radang (bahasa Inggris: inflammation) adalah respon dari suatu organisme terhadap

patogen dan alterasi mekanis dalam jaringan, berupa rangkaian reaksi yang terjadi
pada tempat jaringan yang mengalami cedera, seperti karena terbakar, atau
terinfeksi. Radang atau inflamasi adalah satu dari respon utama reaksi defensif
(pertahanan diri) terhadap infeksi dan iritasi.

ETIOLOGI
2 tipe radang :
Akut (eksudatif): merupakan respon awal terhadap gangguan, merupakan
reaksi non spesifik dan mungkin menimbulkan pengaruh yang fatal. Durasi
biasanya pendek, umumnya terjadi sebelum respon immun menjadi jelas dan
ditujukan terutama untuk menghilangkan agen penyebab gangguan dan
membatasi jumlah jaringan yang rusak menyebabkan Perubahan vascular pada
radang akut

Urutan peristiwa yang terjadi adalah sebagai berikut :


Mula- mulakan terjadi vasokonstriksi yaitu penyempitan pembuluh darah terutama
pembuluh darah kecil (arteriol).
Kemudain akan terjadi vasodilatasi yang dimulai dari pembuluh arteriol yang
tadinya menyempit lalu diikuti oleh bagian lain pembuluh darah itu. Akibat dilatesi
itu,maka aliran darah akan bertambah sehingga pembuluh darah itu penuh berisi
darah dan tekanan hidrostatiknya meningkat, yang selanjutnya dapat menyebabkan
keluarnya cairan plasma dari pembuluh darah itu.
Aliran darah menjadi lambat. Karena permeabilitas kapiler juga bertambah, maka
cairan darah dan protein akan keluar dari pembuluh darah dan mengakibatkan
darah menjadi kental.
Marginasi leukosit.

2 tipe radang :
Kronis (proliferatif): Berlangsung selama berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan
bisa bertahuntahun. Radang kronis bisa merupakan hasil perkembangan radang akut.
Ciri radang kronis adalah adanya infiltrasi sel mononuklear (makrofag). limfosit dan
proliferasi fibroblas. Agen penyebab biasanya merupakan iritan yang mengganggu
secara persisten namun tidak mampu melakukan penetrasi lebih dalam atau menyebar
secara cepat. Contoh konkret penyebab radang kronis antara lain : benda asing, talk,
silikon, asbes dan benang jahit operasi.

Proses terjadinya radang kronis dapat terjadi


setelah radang akut, baik karena rangsang pencetus yang terus-menerus ada,
maupun karena gangguan penyembuhan.
Adanya radang akut yang berulang
Radang kronik yg mulai secara perlahan tanpa didahului radang akut klasik akibat
dari
Infeksi persisten oleh mikroba interseluler yang mempunyai toksisitas rendah tapi
sudah mencetuskan reaksi imunologik. Selain itu dapat terjadi karena kontak
dengan bahan yang tidak dapat hancur. Dan dapat terjadi karena reaksi imun
terhadap jaringan tubuh itu sendiri (autoimun)

MANIFESTASI KLINIS
Fenomena inflamasi meliputi kerusakan mikrovaskular, meningkatnya permeabilitas

kapiler dan migrasi leukosit ke jaringan radang. Gejala umum proses inflamasi yang
sudah dikenal yaitu, kolor, rubor,tumor, dolor, dan function laesa. Selama proses
inflamasi terjadi banyak mediator kimia yang dilepaskan secara local antara lain
histamine, 5-hidroksitriptamin (5-HT), factor kemotatik, bradikinin, leukotrien,
dan PG
Dengan migrasi sel fagosit kedaerah inflamasi terjadi lisis membrane lisozim dan
lepasnya enzim pemecah.PG hanya berperan pada nyeri yang terkait dengan
kerusakan jaringan atau inflamasi.PG menimbulkan keadaan hiperalgesia, kemudian
mediator kimia seperti bradikinin dan histamine merangsangnya dan menimbulkan
nyeri yang nyata.

PENGOBATAN INFLAMASI SECARA EMPIRIS

Beberapa tanaman yang dapat meringankan peradangan adalah kencur, jahe,


daun okra, daun teh dan asam jawa.Masing-masing tanaman tersebut memiliki
perlakuan yang berbeda untuk penggunaannya.Ada yang ditumbuk, di rendam
dengan air, dioleskan langsung pada yang luka atau di parut. Semua tahap yang
dilakukan bisa berbeda-beda, hal tersebut karena dibuat dengan cara turun temuru.
Baik jumlah tanaman maupun lama perendaman atau hal teknis lainnya belum
diketahui secara pasti dan menggunakan metode kira-kira.

PERBANDINGAN PENGGUNAAN SECARA EMPIRIS


DAN DATA KLINIS

Kencur
TRADISIONAL

DATA KLINIS

Penggunaan kencur sebagai


antinflamasi dilakukan dengan cara
ditumbuk dan dicampurkan
dengan beras, kemudian hasil dari
tumbukan tersebut di oleskan
kebagian yang sakit dan dibiarkan
mengering sampai kurang lebih
satu malam.

Flavonoid kaempferol yang terkandung dalam kencur memiliki aktifitas anti


inflamasi. Dimana mekanisme kerjanya adalah menghambat iNOS (inducible
Nitric Oxide Synthase) dan cyclooxygenase-2 (COX-2).
Penelitian terhadap tanaman ini sudah dilakukan oleh peneliti di Thailand
tentang efektifitas antiinflamasi pada plester yang mengandung ekstrak
kencur. Hasil studi tersebut menghasilkan efek yang positif dimana
pengobatan dengan plester tersebut menghasilkan efektifitas anti inflamasi
yang cukup baik.
Uji dosis terapi dari ekstrak etanol kencur dapat menghambat produksi
prostaglandin E2 pada dosis IC50 senilai 9.2 g/mL.

JAHE ( Zingiber officinale)


TRADISIONAL

DATA KLINIS

Pengunaan jahe sebagai anti inflamasi secara empiris


dilakukan dengan cara menumbuk atau memarut atau
merendam jahe dalam air. Jahe yang ditumbuk atau
diparut kemudian di oleskan pada bagian yang luka
dan di diamkan semalam, sedangkan jahe yang
direndam dengan air diakukan perendaman selama
semalam kemudian dengan menggunakan kain
dibalutkan ke bagian yang terkena radang.Selain itu
jahe yang dilakukan perendaman dapat juga diminum.

Jahe terbukti dapat menunjukan aktifitas farmakologi


NSAID karena dapat menekan sintesis prostaglandin
melalui penghambatan cyclooxygenase-1 dan
cyclooxygenase-2. Namun jahe dapat dibedakan
dengan NSAID dilihat dari kemampuan penekanan 5lipoxygenase, perbedaan ini berpengaruh terhadap
penigkatan efek terapinya dan efek sampingnya.
Ditemukan pula ekstrak dari derivate zingiber
officinale yang dapat menghambat beberapa respon
inflamasi lainnya seperti gen yang mengkode sitokin,
semokin, dan induksi enzim COX-2. Penelitian
lainnya ditemukan bahwa jahe dapat memodulasi jalur
biocemikal yang mengaktivasi inflamasi kronik.(3)

OKRA
TRADISIONAL

DATA KLINIS

Penggunaannya sebagai empiris digunakan dengan cara


merendam dengan segelas air tanaman okra yang sudah
dipotong-potong, kemudan di simpan selama 3 jam
lalu disaring. Setelah itu airnya dapat diminum.Setelah
3 kali digunakan, tanaman okra tersebut harus diganti
dengan yang baru.

Aktifitas antiinflamasi pada tanaman okra sudah


dibuktikan pada beberapa penelitian.Salah satunya
adalah penelitian yang dilakukan dengan metode
carrageenan dan induksi histamine uji edema kaki.
Dengan menggunakan ekstrak eter dan methanol dari
tanaman okra dimana hasilnya membuktikan adanya
efek potensial terhadap penghambatan efek
inflamasi.(6)
Penelitian lainnya menunjukan efek anti inflamasi
tanaman okra dengan dosis 200 mg kg-1 yang di
induksikan ke tikus menghasilkan efek yang sebanding
dengan control, dimana control yang digunakan adalah
indometasin dengan dosis yang sama.(7)

DAUN TEH
TRADISIONAL

DATA KLINIS

Teh bisa digunakan untuk mengatasi kantung mata yang


bengkak/sembab
Penggunaan: Letakan dua 2 kantong teh ke dalam cangkir
air panas, biarkan mendingin.Tempatkan kantong teh
pada mata Anda selama sekitar 15-30 menit. Bilas noda
teh pada wajah Anda. Lakukan 1-2 kali seminggu jika
Anda ingin mengencangkan kulit bawah dan di sekitar
mata Anda

-Penelitian aktifitas teh dilakukan pada tikus putih dengan


metode carrageen menghasilkan bahwa teh hijau telah
terbukti memiliki sifat analgesik dan anti-inflamasi dan
mungkin merupakan pengobatan alami pilihan dalam
gangguan inflamasi kronis.
- Penelitian farmakologi yang dilakukan pada pelarut
methanol-air (1:1) dr ekstrak teh kering (camellia
sinensis) ditemukan adanya efek antiinflamasi, analgesic,
dan antipiretik pada 1/10 dari LD50 100mg/kg. teh dapat
menghambat induksi asam aracidonat pada edema kaki
dari tikus dan memproduksi anti-inflamasi dengan
menghambat jalur cyclooxygenase dan lypooxygenase
pada metabolism asam arasidonat.

ASAM JAWA
TRADISIONAL
penggunaan secara empirisnya dilakukan dengan cara
mengambil asam jawa secukupnya lalu dicampur
dengan minyak tanah. Setelah itu ditempelkan pada
bagian yang bengkak.

DATA KLINIS
pengujian yang dilakukan pada biji asam jawa
menunjukan bahwa tanaman ini memiliki aktifitas antiinflamasi (12).Uji toksisitas akut untuk oral pada daging
buah asam jawa adalah 5000mg/kg berat badan dan
tidak menghasilkan mortality. Itu menunjukan bahwa
LD50 nya lebih besar dari 500 mg/kg berat badan dan
ini termasuk kedalam kategori tidak beracun dan
dipastikan aman menurut rekomendasi dari WHO
(World Health Organization) dan OECD
(Organization for Economic and Cultural
Development)

Terima kasih

DAFTAR PUSTAKA

Sae-Wong, Cutha; Tansakul, P; Tewtrakul S, 2009, Anti-inflammatory mechanism of Kaemferia parviflora in murine macrophage cells (RAW 264.7) and in
experimental animals. Thailand : Journal of Etnopharmacology

Febriani, Y; Rachmaniar R; Riasari H, 2015, Effectiveness of Anti-inflamatory Plaster from Kencur (Kaempferia Galanga L.) Rizhome Ethanol Extract. Indonesia :
IJPSR 2016 Vol 7 (4)

Mishra, K. R; Kumar, Anil; Kumar, Ashok, 2012, Pharmacological Activity of Zingiberis Officinale. India : International Journal of Pharmaceutical and Chemical
Sciences Vol 1 (3) 2012

Anosike A. C; et al, 2009, Anti-inflammatory and Anti-ulcerogenic Activity of The Etanol Extract of Ginger (Zingiber officinale). Nigeria : African journal of
Biochemistery Research Vol 3 (12)

Shammi, S.J; et al, 2014, Comparative Pharmacological Studies of Abelmoschuse sculentus Linn. Fruits and Seeds. South Korea : Global Journal of Pharmacology 8

Jain, P.S; Bari, S.B, 2010, Anti-Inflammatory Activity of Abelmoschus manihot Extract. India: International Journal of Pharmacology 6

Nesa, Luthfun Mst et al, 2014, Analgesic; Anti-Inflammatory and CNS Depressant Activities of Methanolic Extract of Abelmoschus esculentus Linn. Seed in Mice.
Bangladesh: British Journal of Pharmaceutical Research 4

Lima Mota de M, A; et al, 2015, Evaluation of Anti-Inflammatory and Analgesic Effects of Green Tea (Camellia sinensis) in mice. Brazil : Acta Cirurgica Brsileira vol 30

Chattopadhyay, P et al, 2003, Anti-Inflammatory Activity of Tea (camellia sinensis) root Extract. India:
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0024320503011111

De Caluwe, E; et al, 2009, Tamarind (Tamarindus indica L.): A Review of Traditional Uses, Phytochemistry and
Pharmacology.http://pubs.acs.org/doi/pdfplus/10.1021/bk-2009-1021.ch005

Abubakar MB, et al, 2010, Acute Toxicity and Antifungal Studies of Ethanolic Leaves, Stem and Pulp Extract of Tamarindus indica. Aliero: Research Journal of
Pharmaceutical, Biological and Chemical Sciences

Suralkar, A.A, et al, 2012, Evaluation of Anti-Inflammatory and Analgesic Activities of Tamarindus indica Seeds. India : International Journal of Pharmaceutical
Sciences and Drug Research