Anda di halaman 1dari 17

I PENDAHULUAN

A Latar Belakang
Massa skrotum merupakan salah satu dari banyak penyakit dari bagian urologi. Massa
skrotum adalah masalah pada isi skrotum yang bermanifestasi pada pembengkakan skrotum
yang dimana itu adalah keluhan utama pada massa scrotum. Masalah pada isi skrotum
bermacam-macam mulai dari infeksi, tumor, hingga cairan. Ini adalah masalah yang sering
dijumpai pada laki-laki disamping masalah urologi lainnya. Massa skrotum ini menjadi
penting karena seorang laki-laki bisa menjadi infertil apabila massa skrotum ini tidak
tertangani dengan baik dan cepat. Adapun prevalensi massa skrotum juga cukup banyak.
Sebagai contoh pada torsio testis mempengaruhi 3,8 dari 100.000 laki-laki dibawah usia 18
tahun per tahun. Tentu ini menjadi perhatian agar segera ditangani dengan cepat dan tepat
agar komplikasi seperti infertilitas tidak terjadi.(1)
B. Tujuan
Umum : Untuk menambah pengetahuan dibidang urologi terutama massa skrotum
Khusus : Dapat mendiagnosis serta memberi tatalaksana yang tepat pada kasus massa
skrotum
II. PEMBAHASAN
A. Definisi
Massa skrotum ialah kelainan pada isi skrotum yang bermanifestasi pada
pembengkakan skrotum. Kelainan isi skrotum dapat berupa infeksi, massa, maupun cairan.
B. Anatomi
Testis terdiri dari dua organ kelenjar berbentuk oval yang mensekresikan semen.
Testis digantung oleh funikulus spermatikus dan terbungkus di dalam skrotum. Ukuran
volume normal dari testis orang dewasa kurang lebih 25 ml. Saat awal perkembang
kehidupan janin, testis terdapat di dalam rongga perut, di belakang peritoneum. Sebelum
kelahiran testis turun melewati kanalis inguinalis, bersamaan dengan funikulus spermatikus
melewati annulus inguinalis dan menempati rongga skrotum dan dilapisi oleh lapisan serosa,
muskularis, dan fibrosa dari skrotum itu sendiri. Pembungkus testis sendiri di antaranya
adalah kulit, muskulus kremaster, tunika dartos, fascia infundibuliform, fascia intercrural, dan
1

tunika vaginalis. Lamina parietalis tunika vaginalis berbatasan langsung pada fascia
spermatica interna dan lamina visceralis tunica vaginalis melekat pada testis dan epididymis.
Sedikit cairan dalam rongga tunica vaginalis memisahkan lamina visceralis terhadap lamina
parietalis dan memungkinkan testis bergerak secara bebas dalam skrotum. Arteri yang
mendarahi kedua testis berasal dari anastomosis tiga arteri, yaitu arteri testikularis yang
dicabangkan dari Aorta abdominalis, arteri deferentialis merupakan cabang dari arteri
vesikularis inferior, dan arteri cremasterica yang merupakan cabang dari arteri epegastrika
inferior.
Epididymis adalah gulungan pipa yang berbelit-belit dan terletak pada permukaan
kranial dan permukaan dorsolateral testis.
Bagian kranial yang melebar, yakni caput epididymis, terdiri dari lobul-lobul yang dibentuk
oleh gulungan sejumlah ductuli efferentes.
Ductuli efferentes membawa spermatozoon dari testis ke epididymis untuk ditimbun.
Corpus epididymis terdiri dari ductus epididymis yang berbelit-belit.
Cauda epididymis bersinambung dengan ductus deferens yang mengangkut spermatozoon
dari epididymis ke ductus ejaculatorius untuk dicurahkan ke dalam pars prostatica urethrae.

C. Fisiologi
Pengaturan suhu testis di dalam skrotum dilakukan oleh kontraksi musculus dartos
dan cremaster yang apabila berkontraksi akan mengangkat testis mendekat ke tubuh. Bila suhu
testis akan diturunkan, otot cremaster akan berelaksasi dan testis akan menjauhi tubuh. Selama
masa pubertas, testis berkembang untuk memulai spermatogenesis. Testis berperan pada sistem
reproduksi dan sistem endokrin.
Fungsi testis:
Spermatogenesis terjadi dalam tubulus seminiferus, diatur FSH
Sekresi testosterone oleh sel Leydig, diatur oleh LH
D. Jenis-Jenis Massa Skrotum
1. Orchitis
Merupakan suatu reaksi inflamasi akut pada testis yang disebabkan bakteri atau virus.
A. Etiologi
Infeksi seksual : Chlamidia trachomatis, Neisseria gonorrhoeae, gram negatif
Infeksi non-seksual : Mumps, TB
Non infeksi : Amiodarone, Behcets disease (2)
B. Gejala
a. Onset akut, unilateral, nyeri dan bengkak pada sisi yang terkena
b. Gejala uretritis : discharge uretra, dysuria
c. Gejala infeksi saluran kemih : dysuria, frekuensi, urgensi (2)
C. Pemeriksaan Fisik
a. Terdapat bengkak unilateral, nyeri
b. Discharge uretra
c. Eritema pada skrotum
3

d. Pyrexia
e. Hydrocele
f. Apabila didahului mumps dapat disertai demam, sakit kepala, serta bengkak pada
uni/bilateral parotis
g. Prehns sign positif. Rasa nyeri tidak bertambah atau bahkan berkurang saat testis
diangkat
h. Apabila terdapat TB, maka onset menjadi subakut/kronik, disertai gejala sistemik
(2)
D. Pemeriksaan Penunjang
a. Swab uretra untuk kultur N. Gonorrhoeae
b. Urin midstream untuk lab dan kultur (2)
E. Tatalaksana
a. Untuk infeksi seksual dapat diberi ceftriaxon 500mg IM, doxycycline 100mg bd
untuk 10-14 hari
b. Untuk enteric organism dapat diberikan ofloxacin 200mg bd untuk 14 hari atau
ciprofloxacin 500mg bd untuk 10 hari (2)
F. Komplikasi
a. Hidrokel
b. Abses dan infark testis, karena infeksi sehingga menghasilkan nanah
c. Infertilitas (2)
2. Torsio Testis
Terpuntirnya funikulus spermatika yang mengakibatkan aliran darah menuju penis
menjadi terputus. Paling banyak diderita pada usia pubertas.
A. Etiologi
a. Trauma (terjatuh, tertendang, terbentur sesuatu)
4

b. Aktifitas fisik yang berat (1)


B. Gejala
a. Onset mendadak dan nyeri hebat pada testis unilateral
b. Mual dan muntah
c. Demam
d. Masalah berkemih (1)
C. Pemeriksaan Fisik
a. Indurasi, eritema, dan teraba hangat pada testis ipsilateral
b. Testis ipsilateral lebih tinggi
c. Refleks kremaster berkurang atau hilang. Refleks kremaster dipicu dengan
menggores atau mencubit bagian medial paha, yang menyebabkan kontraksi otot
kremaster dan mengangkat testis. Refleks kremaster positif jika testis terangkat
minimal 0,5 cm (1)
D. Pemeriksaan Penunjang
a. USG Doppler dapat membedakan kondisi iskemia dan inflamasi. Pada kondisi
iskemia, seperti torsio testis, aliran darah berkurang atau menghilang, sedangkan
pada inflamasi alirab darah meningkat (1)
E. Tatalaksana
a. Detorsi manual. Pada pasien dengan torsio testis, testis yang terkena umumnya
dipelintir ke dalam (medial). Pada torsio testis kiri, memegang testis dengan ibu
jari kanan dan jari telunjuk, seperti membuka buku, dan kemudian memutar testis
searah jarum jam 180 derajat. Manipulasi ini mungkin perlu diulang 2-3 kali,
karena torsio testis mungkin melibatkan rotasi 180-720 derajat. Sebelumnya sudah
diberi analgetik terlebih dahulu. (3)
b. Eksplorasi bedah 4-8 jam pertama. Orkidopeksi dilakukan bila testis masih baik.
F. Komplikasi
5

a. Infertilitas
b. Orchidectomy, karena nekrosis jaringan sekitar akibat terputusnya aliran darah (1)
3. Epididimitis
Epididimitis adalah reaksi inflamasi yang terjadi pada epididimis. Reaksi inflamasi
ini dapat terjadi secara akut atau kronis. Dengan pengobatan yang tepat penyakit ini dapat
sembuh sempurna. Tetapi jika tidak ditangani dapat menular ke testis sehingga menimbulkan
orkitis, abses pada testis, nyeri kronis pada skrotum yang berkepanjangan, dan infertilitas
A. Etiologi
Diduga reaksi inflamasi ini berasal dari bakteri yang berada didalam vesika urinaria,
prostat, uretra, yang secara ascending menjalar ke epididimis. Dapat pula terjadi refluks
urine melalui duktus ejakulatorius atau penyebaran bakteri secara hematogen atau
langsung ke epididimitis seperti penyebaran kuman tuberkulosis.
Mikroba penyebab infeksi pada pria dewasa muda yang tersering adalah chlamidia
trachomatis atau neiserria gonorhoika, sedangkan pada anak-anak dan orang tua yang
tersering adalah E.coli atau ureoplasma ureolitikum.
B. Gejala
a. Nyeri mendadak pada skrotum
b. Demam, malaise
c. Nyeri dirasakan hingga pinggang
d. Skrotum mengalami pembengkakan
C. Pemeriksaan Fisik
a. Kadang pada palpasi sulit untuk memisahkan antara epididimis dengan testis
b. Kulit skrotum teraba hangat dan eritematous
c. Funikulus spermatikus membengkak
d. Refleks kremaster pada epididimis normal

e. Phrens sign (elevasi testis) positif (nyeri berkurang)


D. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan lab : leukosit meningkat (10-30rb)
b. Pemeriksaan urinalisa ditemukan adanya tanda infeksi
c. USG doppler melihat peningkatan aliran darah di daerah epididimis
E. Tatalaksana
a. Pada pasien dengan usia < 35 tahun,

chlamidia trachomatis atau neiserria

gonorhoika antibiotik yang dipilih adalah amoksisilin dengan disertai probenesid


atau ceftriakson yang diberikan secara intravena. Selanjutnya dilanjutkan dengan
pemberian doksisiklin atau eritomisin peroral selama 10 hari.
b. Mengurangi aktivitas
c. Elevasi testis
d. Kompres dengan es
F. Komplikasi
a. Atrofi pada testis
b. Infark pada testis

4. Hidrokel

Koleksi abnormal cairan serous antara lapisan visceral dan parietal dari tunika
vaginalis. Ini adalah alasan paling umum untuk massa skrotum tanpa rasa sakit dan
mempengaruhi sekitar 1% dari pria, sebagian besar di atas empat puluh tahun, dan 4,7%
neonatus. Skrotum normal dapat menampung 2-3 ml cairan. (4)

A. Etiologi
a. Kongenital, idiopatik
b. Post varicocelectomy
c. Infeksi daerah skrotum
d. Trauma
e. Terlambat atau tidak sempurna penutupan dari prosesus vaginalis (4)
B. Gejala
a. Asimptomatik, pembesaran testis (4)
C. Pemeriksaan Fisik
a. Teraba tegang, lembut
b. Tidak nyeri
c. Pada hidrokel testis, kantong hidrokel seolah-olah mengelilingi testis sehingga
testis tak dapat diraba
d. Pada hidrokel funikulus, kantong hidrokel berada di funikulus yaitu terletak di
sebelah kranial dari testis, sehingga pada palpasi, testis dapat diraba dan berada di
luar kantong hidrokel

e. Pada hidrokel komunikan terdapat hubungan antara prosesus vaginalis dengan


rongga peritoneum sehingga prosesus vaginalis dapat terisi cairan peritoneum.
Pada palpasi, kantong hidrokel terpisah dari testis dan dapat dimasukkan ke dalam
rongga abdomen (4)
D. Pemeriksaan Penunjang
a. Transiluminasi positif. Dilakukan dengan meletakkan senter yang menyala
dibelakang skrotum. Ruangan dalam keadaan gelap. Positif bila cahaya berpendar
berwarna merah (hidrokel) pada skrotum dan negatif bila cahaya tidak berpancar
pada skrotum karena terhalang oleh massa (karsinoma, hernia inguinalis). (5)

b. USG scrotum
E. Tatalaksana
a. Kebanyakan hidrokel akan hilang dalam 2 tahun pertama kehidupan, tetapi jika
hidrokel masih tetap ada atau bertambah besar perlu dipikirkan untuk dilakukan
koreksi. Beberapa indikasi untuk melakukan operasi pada hidrokel adalah hidrokel
yang besar sehingga dapat menekan pembuluh darah, indikasi kosmetik, dan
hidrokel permagna yang dirasakan terlalu berat dan mengganggu pasien dalam
melakukan aktivitasnya sehari-hari.
b. Surgery (high ligation of ppv) (6)
F. Komplikasi
Tidak ada komplikasi yang berarti pada hidrokel
5. Hernia Inguinalis

suatu kondisi di mana sebagian dari usus mendorong melalui sebuah lubang atau titik
lemah dalam dinding abdomen yang memisahkan perut dan pangkal paha. Hernia inguinalis
mungkin muncul sebagai massa di skrotum atau lebih tinggi di pangkal paha.
A. Etiologi
a. Riwayat pekerjaan mengangkat berat/mengejan
b. Batuk kronis (10)
B. Gejala
a. Pasien mengeluh ada benjolan disekitar lipat paha, baik itu bisa masuk kembali
atau menetap (10)
b. Pasien mengeluh nyeri bila sudah dalam grade inkarserata atau strangulata
C. Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan dilakukan dalam keadaan berdiri
b. Lakukan finger tip test dengan cara memasukkan telunjuk melalui skrotum ke atas
lateral dari tuberkulum pubikum. Ikuti fasikulus spermatikus sampai ke anulus
inguinalis interna. Pasien diminta mengejan. Bila massa teraba diujung jari maka
itu adalah hernia inguinalis lateralis sedangkan bila teraba pada sisi jari maka itu
adalah hernia inguinalis medialis. (10)
D. Pemeriksaan Penunjang
a. Anamnesis dan pemeriksaan fisik lebih berperan dalam mendiagnosis hernia
b. Transiluminasi bila hernia sudah masuk ke skrotum. Hasilnya negatif. Cahaya pada
senter tidak berpendar pada skrotum karena terhalang oleh massa. Tujuannya untuk
membedakan skrotum berisi massa atau cairan. (10)
E. Tatalaksana
a. Herniotomy
b. Hernioraphy
F. Komplikasi
10

a. Infeksi
b. Nekrosis usus (10)
6. Varikokel
Varikokel adalah sebuah dilatasi vena abnormal pada pleksus pampiniformis yang
disebabkan oleh berbagai etiologi. Sering disebut juga sebagai kantung cacing. (7)

A. Etiologi
a. Perbedaan antara kanan dan kiri pada anatomy drainage vena testis. Vena
spermatika interna kiri memiliki tekanan lebih tinggi dan aliran yang lebih lambat
daripada sebelah kanan. Lalu vena spermatika interna kiri bermuara pada vena
renalis kiri dengan arah tegak lurus, sedangkan yang kanan bermuara pada vena
kava dengan arah miring. Di samping itu vena spermatika interna kiri lebih panjang
daripada yang kanan dan katupnya lebih sedikit dan inkompeten.
b. Venous refluks
c. Obstruksi parsial pada vena testis (7)
B. Gejala
a. Testis bengkak
b. Tidak ada nyeri, asimptomatik (7)
11

C. Pemeriksaan Fisik
a. Dilakukan dalam posisi berdiri
b. Konsistensi seperti kantung cacing
c. Grading : 1. Dilatasi vena teraba dengan melakukan manuver valsava
2. Dilatasi vena terlihat dan teraba dengan manuver valsava
3. Dilatasi vena dan kelokan terlihat tanpa manuver valsava (7)
D. Pemeriksaan Penunjang
a. USG doppler, dapat melihat aliran darah dan refluks.
Grade refluks : 1. Venous refluks tidak spontan
2. Venous refluks spontan intermitten
3. Venous refluks spontan continuous
b. Venography (7)
E. Tatalaksana
a. Pembedahan, angiography
b. Varicocelectomy (7)
F. Komplikasi
a. Rekurensi/kekambuhan kembali
b. Hidrokel (7)
7. Spermatokel
spermatokel adalah akumulasi kistik jinak dari sperma yang timbul dari kepala
epididimis. Meskipun sering membingungkan untuk pasien ketika melihat, lesi ini bersifat
jinak. Spermatokel dapat berkembang di berbagai lokasi, mulai dari testis sendiri sampai
lokasi di sepanjang jalannya vas deferens. (8)
A. Etiologi
12

Idiopatik. Belum ada penyebab yang jelas untuk kelainan ini.(8)


B. Gejala
a. Asimptomatik
b. Bila membesar mungkin dapat dirasakan :
1. Nyeri dan rasa tidak nyaman pada skrotum
2. Rasa berat pada skrotum (8)
C. Pemeriksaan Fisik
a. Unilateral (hanya pada salah satu testis)
b. Soft/lunak
c. Berfluktuasi, berbatas tegas (8)
D. Pemeriksaan Penunjang
a. Transiluminasi positif. Cahaya pada senter berpendar pada skrotum
b. Scrotal USG. Tampak lesi cistic, hipoechoic
c. Pemeriksaan mikroskopis, tampak dinding fibromuskular yang dilapisi epitel
kuboid (8)
E. Tatalaksana
a. Spermatocelectomy via transscrotal adalah tindakan operatif yang utama pada
kasus spermatokel.
b. Hindari aktivitas berat selama 2 minggu setelah operasi (8)
F. Komplikasi
a. Gross injury pada epididimis pada pasien spermatocelectomy
b. Superficial wound infection (8)

13

8. Hematokel
Hematocele terjadi di mana ada darah di antara lapisan kantung yang mengelilingi
setiap testis. Darah berada pada tunika vaginalis. Darah biasanya berasal akibat dari trauma
tumpul, namun beberapa dapat berasal dari trauma penetrasi. (9)
A. Etiologi
a. Sport injury (pada sepakbola, baseball, gulat, dll )
b. Kecelakaan motor (testis terbentur motor atau jatuh terduduk)
c. Skrotum tertendang (saat berkelahi atau bercanda)
d. Gunshot (9)
B. Gejala
a. Scrotal pain
b. Nausea
c. Muntah (9)
C. Pemeriksaan Fisik
a. Terdapat pembengkakan
b. Tender testicles dengan hematoma yang terlihat
c. Scrotal atau peineal ekimosis mungkin ada (9)
D. Pemeriksaan Penunjang
a. USG doppler skrotum. Acute bleeding akan menunjukkan gambaran hyperechoic
sedangkan perdarahan lama akan menunjukkan gambaran hypoechoic. (9)
E. Tatalaksana
a. Dilakukan eksplorasi pada testis untuk membuang perdarahan
F. Komplikasi
a. Infertilitas
14

b. Testis infark (9)


9. Ca Testis
Tumor testis merupakan keganasan terbanyak pada pria berusia diantara 15-35
tahun dan merupakan 1-2% dari semua neoplasma pada pria.
A. Etiologi
a. Penyebab tumor testis belum diketahui dengan pasti, tetapi terdapat beberapa
faktor yang erat kaitannya dengan peningkatan kejadian tumor testis, antara lain
maldesensus testis, trauma testis, atrofi atau infeksi testis.
B. Gejala
a. Pembesaran testis
b. Tidak terasa nyeri
c. Terasa berat pada skrotum
C. Pemeriksaan Fisik
a. Simptomatologi dari tumor primer :
Permulaan akut
Permulaan yang diskret seperti pembengkakan tanpa nyeri testikal atau pengerasan
lokal atau deformasi testikel.
Nyeri lokal, sering menyebar di sisi yang sama ke krista iliaka.
Kadang-kadang sama sekali tanpa keluhan atau kelainan ; metastasis merupakan
manifestasi pertama penyakitnya
b. Simtomatologi mengenai metastasis :
Nyeri punggung yang samar akibat metastasis kelenjar retroperitoneal.
Kolik ginjal sebagai akibat bendungan atau penutupan ureter oleh metastasis
kelenjar retroperitoneal.
Nyeri yang menyebar ke tungkai.
15

Tumor yang palpabel di perut sebagai akibat metastasis kelenjar limfe.


Pembengkakan subklavikular, terutama kiri.
Dispnoe, hemoptoe, iritasi pleura oleh metastasis paru.
Malaise umum dengan anemia dan laju enap darah yang tinggi
D. Pemeriksaan Penunjang
a. Transiluminasi negatif karena cahaya terhalang oleh massa. Hal ini dilakukan
untuk menyingkirkan kemungkinan adanya hidrokel
b. Pada penderita dengan non-seminoma zat-zat penanda tumor spesifik dapat
ditunjukkan dalam serum yaitu Human Chorion Gonadotropin (HCG) dan -1fetoprotein (AFP). Pada penderita dengan seminoma kadar HCG dapat naik sedikit,
sering juga terdapat kenaikan Placenta Like Alkaline Phosphatase (PLAP). Pada
semua penderita tumor sel embrional Laktat Dehidrogenase (LDH) dapat naik.
E. Tatalaksana
a. Orkidektomi dilakukan melalui pendekatan inguinal setelah mengangkat testis dan
funikulus spermatikus sampai anulus inguinalis internus.
b. Kemoterapi
F. Komplikasi
a. Metastasis ke jaringan lain

16

DAFTAR PUSTAKA
1. Sharp VJ, Arlen AM. Testicular Torsion : Diagnosis, Evaluation, and Management.
American Family Physician. Vol. 88, United States, 2013 : 835-40.
2. Street EJ, Portman MD, Kopa Z, Brendish NJ, Skerlev M, et al. 2012 European Guideline
On The Management of Epididymo-orchitis. IUSTI EO Guideline vol 1. 2012.
3. Saxena AK, Kim ED. Manual Detorsion of the Testes. United States. 2016.
4. Dave J. Cause and Management of Hydrocele : A Review Article. Department of Surgery.
Gujarat Adani Institute of Medical Science, Bhuj, Gujarat. Indian Journal of Applied
Research. Vol. 5, India, 2015 : 117-18.
5. Junnila J, Lassen P. Testicular Masses. Am Fam Phycisian. 1998;57(4):685-92.
6. Ryu DS. Surgical Treatment of Hydrocele and Hernia. Department of Urology , Masan
Samsung Hospital, Sungkyunkwan Univ. School of Medicine. The 11th Catholic
International Urology Simposium, 2009.
7. Sener NC, Nalbant I, Ozturk U. Varicocele : A Review. EMJ Repro Health. 2015;1(1):5458.
8. Pais VM. Spermatocele. Department of Surgery, Section of Urology, Dartmouth Medical
School. United States. 2015.
9. Terlecki RP. Testicular Trauma. United States. 2015.
10. Wibisono E, Jeo WS. Hernia. Dalam : Kapita Selekta Kedokteran Essentials of Medicine.
Universitas Indonesia. Edisi ke-4. Jakarta.2014.

17