Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN NEKROPSI UNGGAS

Senin, 23 Februari 2016

Disusun oleh;
Kelompok A
PPDH Gelombang I Tahun 2015/2016

Anizza Dyah Kartika Maharani, SKH


Nina Herlina, SKH
Ansenora Bekris Br Siburian, SKH
Fitri Hardiani Fathonah, SKH
Diba Mahargia Tantary, SKH
Santa Nova Aprilina Siburian, SKH
Arlita Sariningrum, SKH
Prista Ayu Nurjanah, SKH
Nur Hasreena Nadia Ahlun, SKH
Zulfi Nadhirul Hikmah, SKH
Heru Wirzal Kesatria, SKH
Grady Priasdhika, SKH
Zul Fikhiran Bin Asli, SKH
Kenda Adhitya Nugraha, SKH
Noor Rohman Setiawan, SKH
Cucu Sutrisna, SKH
Faizal Rafiq, SKH
Halim Bakti Harjo

B94154105
B94154131
B94154106
B94154120
B94154113
B94154146
B94154107
B94154136
B94154135
B94154150
B94154124
B94154121
B94154149
B94154125
B94154133
B94154109
B94154116
B94144320

Dosen Penanggung Jawab:

Dr Drh Sri Estuningsih, MSi, APVet


Dosen Tentor:

Drh Vetnizah Juniatito, PhD, APVet

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016

No. Protokol

: U/76/16

Hari/Tanggal

: Selasa, 23 Februari 2016

Dosen Piket

: Drh Vetnizah Juniatito, PhD, APVet

Anamnesa

: Ayam broiler berusia 25 hari mengalami pertumbuhan badan


yang terhambat, diare, lemas, namun masih memiliki nafsu
makan yang cukup baik. Populasi awal 4000 ekor dan sampai
saat ini tingkst kematian 6% dari total populasi. Diambil
sampel 5 ekor ayam dari peternakan.

Signalement
Nama Hewan

: Anonim

Jenis Hewan

: Ayam

Bangsa

: Broiler

Jenis Kelamin

: Jantan 4 ekor, Betina 1 ekor

Umur

: 25 hari

Warna Bulu

: Putih

Tanggal Nekropsi

: 23 Februari 2016

Peternakan

: Bapak Agung Tegal Waru

Hasil Pemeriksaan Nekropsi

Organ
Keadaan Umum Luar
Kulit dan bulu

Epikrise

Diagnosa PA

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Mata

Konjuntiva berair

Konjuntivitis

Lain-lain

-Pad foot keras dan menghitam

Iritasi akibat ammonia

(5/5)
-Pertumbuhan badan terhambat

kekerdilan

Perlemakan

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Otot

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Kulit

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Subkutis

Organ

Epikrise

Diagnosa PA

Rongga Tubuh
Situs Viscerum

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Lain-lain

-Eksudat kuning bening, pada Hidrops Ascites


rongga perut (1/5)
-Eksudat fibrin pada

Peritonitis fibrinous

peritonium (4/5)
Traktus Respiratorius
Kantung udara

Keruh, terdapat eksudat

Air sacculitis fibrinous

fibrin pada kantung udara


(4/5)
Sinus hidung

Mukosa kemerahan (2/5)

Sinusitis kataralis akut

terdapat eksudat kental


berwarna bening (3/5)
Khoanae

Hiperemia (1/5) terdapat

Hiperemia dan

eksudat kental berwarna

peradangan

bening (4/5)
Laring

Terdapat eksudat kental

Laringitis kataralis

berwarna bening (1/5)


Trakhea

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Bronkhus

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Paru-paru

Hasil uji apung : paru-paru

Pneumonia

tenggelam (3/5)
Pleura keruh dan menebal

Pleuritis

Rongga mulut

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Lidah

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Esofagus

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Tembolok

Terdapat eksudat kataral,

Inglufitis

Traktus Digestivus

permukaan kasar (1/5)


Proventrikulus

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Gizzard

Terdapat bagian yang

Erosi gizzard

berwarna gelap (2/5) dan


hiperemi (1/5)
Usus Halus

Mukosa ptechie (2/5) pada

Enteritis hemoragi

beberapa bagian, terdapat


eksudat kataral (4/5),
hemorhagi (1/5)
Usus Besar

Mukosa ekimosa pada

Enteritis hemoragi

beberapa bagian usus besar


(1/5) dan hemorhagi (2/5)
seka tonsil tidak ada kelainan
Sekum

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan


Empedu

Eksudat fibrin pada selaput

Tidak ada kelainan

Pankreas

hati, warna hati tidak

Tidak ada kelainan

Hati

homogen (4/5), bengkak (2/5)

Perihepatitis dan

dan kongesti (1/5)

kongesti hati

Eksudat fibrin pada

Pericarditis, hipertropy

pericardium, berwarna pucat

dan myopathy

(4/5), bengkak (5/5)

Tidak ada kelainan

Traktus Sirkulatorius
Jantung

Pembuluh darah
Sistem Limforetikuler

Tidak ada kelainan

Thymus

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Limpa

Bengkak (3/5)

Splenitis

Bursa Fabricious

Plika bengkak (3/5), atrophy

Bursitis

(5/5)
Traktus Urogenitalia
Ginjal

Ginjal membengkak (2/5)

Nefrosis

Ureter

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Ovarium

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Oviduct

Terdapat eksudat fibrin (1/5)

Salphingitis

Tidak ada kelainan


Testis
Sistem syaraf pusat dan

Tidak ada kelainan

perifer
Otak

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Korda Spinalis

Tidak teramati

Tidak teramati

Saraf Perifer

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Otot

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Tulang

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Sumsum tulang

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Persendian

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Sistem lokomosi

Diagnosa

: CRD kompleks

Diagnosa banding

: IB

PEMBAHASAN
Pengamatan hasil nekropsi dilakukan pada lima ayam broiler berumur 25 hari yang
mengalami pertumbuhan badan yang terhambat, diare, lemas, namun masih memiliki nafsu
makan yang cukup baik. Pada pemeriksaan keadaan luar, Pemeriksaan inspeksi dan palpasi
dilakukan pada saat ayam masih hidup dan satu ekor ayam mati sebelum dilakukan nekropsi.
Pemeriksaan menunjukkan kelainan, seperti ayam mengalami hiperkeratosis, pertumbuhan
badan terhambat, dan dehidrasi. Pemeriksaan dilakukan mulai dari inspeksi dan palpasi pada
ayam. Terdapat kelainan pada kulit kaki, yang menunjukkan adanya perlukan. Perlukaan
tersebut berwarna hitam kemungkinan dikarenakan adanya pergesekan yang menyebabkan
luka serta iritasi akibat kadar ammonia yang tinggi dalam kandang.
Tiga ekor ayam dari lima ekor ayam menunjukkan mata yang berair menunjukkan
konjungtivitis. Konjungtivitis merupakan peradangan pada konjungtiva (lapisan luar mata
dan lapisan dalam kelopak mata) yang disebabkan oleh mikroorganisme, alergi, dan iritasi
bahan kimia (Vaughan 2000). Tingginya kadar ammonia pada kandang juga dapat
menyebabkan konjungtivitis.
Pertumbuhan terhambat pada tubuh ayam terlihat dari kelima ayam dengan umur
yang sama, memilki ukuran tubuh yang berbeda. Gangguan pertumbuhan dapat disebabkan
oleh banyak agen yang mengakibatkan perubahan patologi pada traktus digestivus, kelenjar
tiroid dan sepitikemia. Kerusakan organ interna yang disebabkan oleh agen multifaktorial

mengganggu pencernaan dan penyerapan pakan sehingga mengakibatkan secara klinis


terjadinya pertumbuhan berat badan (Wahyuwardani et al. 2000).
Pemeriksaan selanjutnya adalah pemeriksaan pada organ-organ yang mengalami lesio
patologis sehingga nantinya dapat menetukan dignosa. Pemeriksaan dilakukan dimulai dari
traktus respiratorius. Pada sinus, khoane dan laryng ditemukan eksudat kataral dan
mengalami hiperemi. Keadaan ini dapat disebabkan adanya peradangan akut (sinusitis
kataralis dan laryngitis). Adanya eksudat kataral pada sinus, khoane dan laryng merupakan
gejala klinis yang jelas pada CRD kompleks (Medion 2006). Menurut Tabbu (2002), CRD
jika dilakukan pengamatan secara PA maka akan ditemukan eksudat mukus sampai kaseus
pada saluran pernafasannya. Eksudat katharal yang terdapat pada sinus hidung merupakan
suatu proses tubuh dalam melawan antigen infeksius.
Selanjutnya pada pemeriksaan situs viscerum ditemukan kantung udara ditemukan lesio
berupa penebalan dan keruh yang menandakan adanya air sacculitis. Kantung hawa sangat
mudah mengalami peradangan karena terdapat banyak kapiler darah. Air sacculitis dapat
disebabkan oleh infeksi bakteri E. coli yang biasa disebut collibasilosis. Dalam keadaan
normal, kantong hawa seharusnya tipis, bening dan transparan. Di lapangan, kasus CRD
murni jarang ditemui, umumnya sudah ada komplikasi dengan penyakit lain terutama E. coli
sehingga disebut CRD kompleks (Medion 2006).
Pada pemeriksaan paru-paru diperoleh warna paru-paru pucat ( 3/5) dan uji apung
pada sampel paru-paru yang tenggelam sebanyak 3 dari 5 ekor. Hal ini menunjukkan bahwa
ayam mengalami pneumonia. Pleura pada ayam mengalami kekeruhan dan tebal. Hal ini
menunjukkan bahwa ayam tersebut mengalami pleuritis. Pleuritis terjadi akibat agen virus
atau bakteri yang mengiritasi pleura (Tabbu 2002).
Pemeriksaan traktus digestivus ditemukan bahwa ayam mengalami hidrops ascites
(1/5) dan mengalami peritonitis fibrinous (4/5). Ayam yang di nekropsi berumur 25 hari
seharusnya penyerapan kuning telurnya sudah sempurna tetapi pada ayam ini kuning telur
tidak diabsorbsi (1/5) (Calnek, 1997). Hal ini menyebabkan penyerapan maternal antibodi
tidak sempurna yang menyebabkan ayam mudah mengalami infeksi, salah satunya infeksi
pada tali pusar (omphalitis), omphalitis dapat berlanjut menjadi peritonitis, perihepatitis dan
menyebar ke organ lain. Omphalitis yang terjadi dapat disebakbkan oleh banyak agen, namun
yang paling umum disebabkan oleh E. coli. Faktor yang menunjang terjadinya penyakit ini
adalah sanitasi yang buruk pada mesin tetas.
Pemeriksaan traktus digestivus tidak ditemukan kelainan pada rongga mulut,
esophagus, dan proventrikulus. Sedangkan pada tembolok ditemukan adanya eksudat kataral

(ingluvitis kataralis). Pada pemeriksaan gizzard ditemukan adanya perubahan warna menjadi
lebih gelap yang menandakan ayam mengalami erosi gizzard, ulkus dan hiperemi gizzard
yang menandakan adanya ventrikulitis. Pada pemeriksaan usus halus ditemukan adanya lesio
ptechieae dan eksudat kataral yang menandakan enteritis kataralis akut dan ditemukan
adanya hemoragi. Usus besar mengalami hemorhagi dan echimosa.
Hati mengalami pembengkakan (2/5) dan kongesti (1/5), pemeriksaan pada hati juga
menunjukkan adanya perihepatitis fibrinous (4/5). Pada ayam yang mengalami CRD
kompleks menyebabkan kantung hawa menjadi keruh yang kemudian menyebar ke jaringan
sekitarnya menjadi pleuritis, pneumonia, perikarditis dan perihepatitis. Pada kasus yang
parah, dapat ditemukan lesio perihepatitis fibrinous atau fibrinopurulenta (Yoder 2012).
Peradangan pada saluran telur (oviduct) juga ditemukan berupa eksudat fibrin
(salphyngitis). Penyakit CRD yang disebabkan oleh M. gallisepticum mudah mencapai aliran
darah dan tersebar ke seluruh tubuh, termasuk ovarium dan oviduct (Medion 2006). Pada
pemeriksaa traktus urinarius, ginjal mengalami nefrosis, terlihat warna lebih pucat dan tidak
homogen. Nefrosis dapat disebabkan dari manifestasi berkepanjangan imunosupresi pada
ayam yang terinfeksi pada usia dini (Cosgrove 1962).
Thymus apada ayam tidak mengalami kelainan, sedangkan hampir semua ayam
mengalami atrofi pada bursa fabricius. Atrofi bursa fabricius dapat disebabkan karena adanya
infeksi virus atau bakteri. Perkembangan organ limfoid yang subobtimal akan menyebabkan
terjadinya imunosupresi. Imunosupresi adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan reaksi
pembentukan zat kebal tubuh atau antibodi akibat kerusakan organ limfoid. Dengan adanya
penurunan jumlah antibodi dalam tubuh, maka penyakit-penyakit akan lebih leluasa masuk
dalam tubuh ayam dan terjadilah infeksi. Hal tersebut akan menyebabkan adanya gangguan
pertumbuhan dan produksi (Riddel 1987).

DAFTAR PUSTAKA

Barnes JH. 1997. Viral Enteric Infectious: Introduction. In Calnek, John Barnes, C.W. Beard,
L.R. McDougald, and Y.M Saif (eds). Disease of Poultry, 10th ed. Pp. 685-686. Lowa
(US): Lowa State University Press.
Calnek BW. 1997. Disease of Poultry. 10th edition. Pp 179-185. Lowa (US): Lowa State
University Press.
Cosgrove AS. 1962. An apparently new disease of chickensavian nephrosis. Avian Dis
6:385389.
Dharma DN, Darmadi P, Suharsono, Santhia K, Sudana G. 1985. Studi Penyakit Helikopter
pada Ayam Pedaging. Prosiding Seminar Peternakan dan Forum Peternakan Unggas
dan Aneka Ternak. Bogor (ID). 19-20 Maret 1985. Pp. 305-331.
Ley, D.H. 2003. Mycoplasma galisepticum infection. In: Diseases of Poultry. 11th Ed. Saif
YM, HJ Barnes, AM Fadly, JR Glisson, LR Mac Douglad and DE Swayne (Eds.). CD
Rom version produced and distributed by Iowa State Press. Lowa(US): Blackwell
Publishing Company. pp. 722 744.
McGavin MD dan Zachary JF. 2007. Pathology Basis of Veterinary Disease. Ed ke-4. USA:
Mosby Elsevier.
Musa IB, Lawal SL, Yunusa KB, Abdu PA. 2011. Common causes of traumatic ventriculitis
in free range and intensively managed poultry in Zaria.
Nunoya T, Yagihashi T, Tajima M, Nagasawa. 1995. Occurence of keratoconjunctivitis
apparently caused by Mycoplasma gallisepticum in layer chickens. Veterinary Pathol.
32: 11-18.
Riddel C. 1987. Avian histopathology. Inc. Pennsylvania: American Association of Avian
Pathologist
Saif YM, Fadly AM, Glisoon JR, McDougald LR, Nolan LK, Swayne DE. 2008. Diseases of
Poultry Twelfth Edition. Oxford (US). Lowa (US): Blackwell Publishing Ltd.
Vaughan, Daniel G. 2000. Oftamologi Umum. Jakarta (ID): Widya Medika.
Wahyuwardani S, Sani Y, Parede L, Syafriati T, Poeloengan. 2000. Gambaran Patologi Uji
Coba Reinfeksi Sindroma Kekerdilan pada Ayam Pedaging. Prosiding Seminar
Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor (ID). 18-19 September 2000. Pp. 504-511
Yoder HW. 2012. Mycoplasmosis. Di dalam: Diseases of Poultry. Edisi ke-13. Swayne DE,
editor. Iowa (US): Wiley-Blackwell.