Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN

TEKNIK JARINGAN KOMPUTER III

Jobsheet 3
WDS (Wireless Distribution System)

Disusun Oleh :
Catur Mei Rahayu
TE-4A / 06
NIM 4.31.13.0.08

PROGRAM STUDI D4 TEKNIK TELEKOMUNIKASI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
2016

JOBSHEET 3
WDS (Wireless Distribution System)

I.

DASAR TEORI
Sebuah Access Point yang dihubungkan secara Wireless dan Wired ke Access
Point (AP) yang lain disebut Distribution system. Sistem distribusi sepesrti ini
adalah ciri dari standar koneksi ethernet cat5.
Sebagai ganti sistem wired, muncul ide untuk menghubungkan beberapa AP
secara bersama sama vua link wireless. Cara ini menggantikan ethernet
Distribution System dengan Wireless Distribution System (WDS).
Konfigurasi Wireless Distribution System (WDS) seting disebut konfigurasi
Wireless bridge karena mengijinkan admin untuk menghubungkan 2 LAN di layer
link. Wireless Bridge dapat digunakan untuk menghubungkan dengan cepat dua lokasi
yang berbeda dan cocok untuk penggunaan oleh access provider.
Pada jaringan WDS, AP dapat berkomunikasi dengan AP lain dan sejuga dapat
berkomunikasi dengan klien dalam waktu yang bersamaa. Tidak semua AP
mempunyai fitur WDS. Dengan WDS, kita tidak perlu menggunakan kabel ethernet
untuk menghubungkan antar AP.
Kerugian menggunakan sistem WDS adalah bandwidth dibagi menjadi
separuhya setiap kali frame melewati WDS AP (hop). Ini terjadi karena semua WDS
harus beroperasi pada channel yang sama. Karena itu, WDS AP menerima dan dan
kemudian men-transmisikan frame di channel yang sama.
WDS merupakan solusi yang bagus untuk memperlebar jaringan nirkabel 1
atau 2 hop dalam lingkup kecil. Contohnya, jika kamu mempunyai rumah besar dan
tidak memdai jika hanya dicover oleh sebuha AP, untuk memperluas wilayah jaringan
gunakan WDS yang ditempat pada lantai 1 dan lantai 2.

II.

TOPOLOGI JARINGAN

Router 1
192.168.10.1

WDS Link

Router 2
192.168.10.4

PC 1

PC 2

Gambar 2.1 Topologi jaringan WDS apkita


III.

METODE UJI COBA (FLOWCHART)

Gambar 3.1 Flowchart WDS

LANGKAH KERJA
1. Membuat bridge dengan nama bridge1 pada Router Mikrotik yang digunakan

Gambar 4.1 Interface bridge1

2. Setelah interface bridge1 telah dibuat, buat interface baru yaitu wlan1 dan
binding kedalam bridge 1 dengan langkah seperti berikut:
Bridge Tab Ports - New

Gambar 4.2 Membuat Interface Wlan1


3. Melihat pada daftar port di bridge, wlan telah ditambahkan

Gambar 4.3 Daftar Interface yang telah dibuat


4. Menambahkan konfigurasi pada interface wlan1.

Gambar 4.4 (a) Mengkonfigurasi Interface Wlan1

Gambar 4.4 (b) Mensetting mode yang akan digunakan pada WDS
5. Setting semua Router Mikrotik yang akan dihubungkan seperti langkah- langkah
diatas. Sebagai catatan, semua router yang akan dihubungkan harus memiliki
SSID yang sama, pada percobaan kali ini menggunakan SSID dengan nama
apkita

6. Setelah semua router yang ingin dihubungkan selesai disetting, cek pada interface
list. Apakah router yang ingin dihubungkan sudah masuk pada list.

Gambar 4.5 Tampilan list interface pada router


7. Melakukan tes ping antar router dan antar perangkat laptop yang terhubung.

IV.

HASIL PERCOBAAN
1. Uji Koneksi Pada Klien

Ping
Router 1

Ping Router
2

Ping PC 1

Ping PC 2

Gambar 5.1 Uji koneksi pada klien

2. Uji Throughput Jaringan


Tabel Hasil Troughput pada jaringan WDS apkita
Router 1 (192.168.10.1)
Router 2 (192.168.10.4)
N
o
1

Lokasi

Data Rate
Teori
(Mbps)

Time
Teori
(s)

RSSI
Router
Tx/Rx
(dBm)

RSS
Peng
m
(dBm

25

72,2

0,346

-37/-36

-41

3,74

72,2

0,052

-54/-50

-44

4,23

72,2

0,059

-54/-50

-44

10,3

72,2

0,143

-54/-51

-58

4,7

72,2

0,065

-69/-74

-54

7,54

72,2

0,104

-74/-76

-37

Router 1 dan 2 berdekatan


PC 1 (Penerima) dan PC 2 (Pengirim)
berdekatan

Besar
File
(Mb)

Router 1 dan
berdekatan

PC

(Penerima)

Router 2 dan
berdekatan

PC

(Pengirim)

Jarak antar Router 1, PC 1 dan


Router 2, PC 2 adalah 5 m
dipisahkan oleh dinding
3

Router 1 dan
berdekatan

PC

(Penerima)

Router 2 dan
berdekatan

PC

(Pengirim)

Jarak antar Router 1, PC 1 dan


Router 2, PC 2 adalah 5 m
dipisahkan oleh dinding
4

Router 1 dan
berdekatan

PC

(Penerima)

Router 1 dan Router 2 berjarak 5 m


dipisahkan oleh dinding
PC 2 (Pengirim) berjarak 7,8 m dari
Router 1
5

Router 1 dan PC 1 (Penerima)


berdekatan berada dilantai 2
Router 2 dan PC 2 (Pengirim)
berdekatan berada dilantai 1

Router 1 dan PC 2 (Pengirim)


berdekatan berada dilantai 2

Router 2 dan PC 1 (Penerima)


berjauhan berada dilantai 1
7

Router
1
PC
1
(Penerima)
berdekatan berada dilantai 2
Router 2 PC 2 (Pengirim) berjauhan
berada dilantai 1

0,98

72,2

0,014

-72/-70

Tabel 2.1 hasil troughput pada jaringan WDS


V.

ANALISIS
Berdasarkan praktik WDS (Wireless Distribution System) yang telah
dilakukan, telah didapatkan hasil untuk konfigurasi dynamic pada WDS. Pada mode
ini, admin tidak perlu memasukkan mac address wlan yang ingin dihubungkan,
karena pada mode ini router akan otomatis mencari router lain yang memiliki SSID
sama yaitu apkita. Setelah router saling terhubung, maka secara otomatis pada list
interface akan bertambah list interface WDS dengan status DRS yang berarti interface
tersebut telah enable dan muncul nilai Tx dan Rx yang didapat.
Pada pengaturan WDS menggunakan static mesh admin harus memasukkan
sendiri mac address dari wlan yang ingin dihubungkan. WDS static mesh sendiri
adalah mode WDS yang interface WDS nya dibuat secara manual namun
menggunakan protocol HWMP+. Hybrid Wireless Mesh Protocol (HWMP) adalah
protocol untuk mengimplementasikan topologi mesh dijaringan wireless yang didasari
dari AODV (Adhoc On Demand Distance Vector) dan tree-based routing.
Pada percobaan ini, pembagian IP pada client dilakukan secara otomatis oleh
IP DHCP sehingga pengguna tidak perlu me-setting manual laptopnya. Setelah router
saling terhubung, melakukan uji konektivitas melalui tes ping yang dilakukan antara
router ke router, router ke PC dan sebaliknya serta PC dengan PC yang terhubung
pada jaringan yang sama.
Pada percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa praktik
pembuatan WDS (Wireless Distribution System) berhasil karena tes ping yang
dilakukan pada router ke router, router ke PC dan sebaliknya serta PC dengan PC
menunjukkan hasil Reply from dengan detail dikirim 4 diterima 4 packet loss 0.
HASIL TROUGHPUT JARINGAN WDS

-40

Pengumpulan data RSSI (Received Signal Strenght Indicator) jaringan WDS


(Wireless Distribution System) menggunkan 2 buah router mikrotik. router 1
(192.168.10.1) dan router 2 (192.168.10.4) menghasilkan data seperti pada tabel 2.1.
Data RSSI yang telah didapatkan menjadi salah satu patokan pada pengujian hasil
troughput. Pengujian Troughput dilakukan dengan cara Sharing File dari klien satu ke
klien yang lain dengan berbagai kondisi.
Pada router Miktrotik, Nilai RSSI ditunjukkan pada gambar dibawah ini :

Gambar 6.1 Nilai RSSI saat Router 1 dan PC 1 (Penerima) berdekatan berada dilantai 2,
Router 2 dan PC 2 (Pengirim) berdekatan berada dilantai 1
Keterangan gambar:
1. Pada tabel, baris pertama terlihat tulisan AP (no) W (no) hal ini mendakan bahwa
perangkat yang terhubung dengan router adalah PC. Sedangkan pada baris kedua
tertulis AP (yes) W (yes) hal menunjukkan bahwa perangkat yang terhubung
dengan router adalah router yang lain dalam jaringan WDS.
2. Pada tabel, kolom delapan menunjukkan nilai RSSI yang dikirm dan diterima
router maupun perangkat yang terhubung dalam satuan dBm. Pada baris dua
kolom delapan tertulis -69/-74 yang merupakan nilai RSSI Tx/Rx pada router lain
yang terhubung dengan router yang sedang diremote. Sedangkan pada baris
pertama kolom delapan tertulis -54 angka tersebut menunjukkan RSSI komputer
yang terhubung dengan router.
Pada percobaan kondisi pertama (LOS=+-1m) Router 1 dan 2 berdekatan PC 1
(Penerima) dan PC 2 (Pengirim) berdekatan, dengan RSSI sebesar -37/-36 dBm
mengirim file video sebesar 25 MB memerlukan waktu 70,4 detik sehingga dapat
dihitung troughputnya dengan rumus sebagai berikut:
Besar Paket dikirim (Mb)
Troughput=
Waktu diterima

25 MB
70,4

= 0,355 Mbps

Sedangkan secara teori, dengan besar paket adalah 25 MB dan dengan data
rate

72,2

Mbps

(dapat dilihat pada

gambar 6.5),waktu

paket

diterima

oleh PC penerima

seharusnya adalah

0,346 detik.

Gambar 6.2 Nilai Data rate Teori


Komputer yang terhubung dengan jaringan WDS apkita mendapat data rate
sebesar 72,2 Mbps. Hal ini disebabkan oleh pengaturan Wifi yang telah diatur oleh
Admin pada band b/g/n. IEEE 802.11 b/g/n sendiri beroperasi di 2.4 GHz band. IEEE
802.11 b/g/n membagi band 2.4 GHz kedalam 14 channel dengan bandwidth sekitar
20 MHz. Tingkat transmisi pada IEEE 802.11 b/g/n bergantung pada kondisi radio.
Untuk IEEE 802.11b range nya antara 1 Mbps sampi 11 Mbps, untuk IEEE 802.11g
up to 54 Mbps, dan untuk 802.11n diatas 54 Mbps. Wireless band diatur pada b/g/n
karena untuk mengantisipasi wifi yang hanya support 1 band. Umunya saat wireless
disetting b/g/n kecepatan transmit akan mengikuti band teratas dalam hal ini n, seperti
ditunjukkan pada gambar 6.5
Pada percobaan ke tujuh, Router 1 PC 1 (Penerima) berdekatan berada dilantai
2, Router 2 PC 2 (Pengirim) berjauhan berada dilantai 1 (NLOS) dengan RSSI Tx/Rx

-72/-70. Mengirim paket sebesar 0,98 MB dengan waktu diterimanya paket adalah 19
detik, hal ini menunjukkan real bandwidth (troughput) nya sebesar 0,0135 Mbps.
Maksimum throughput pada jaringan WDS yang dibuat pada praktik ini
dengan kondisi, dua router dihubungkan dengan jaringan WDS, PC 1 terhubung
dengan router 1 secara nirkabel begitu pula PC 2 terhubung dengan router 2 secara
nirkabel adalah seperempat dari 72.2 Mbps yaitu 18.05 Mbps. Pada router 1, router
harus menerima dan mentransmit ulang data yang didapat dari PC 1 ke router 2 pada
tahap ini maksimum bandwidth menjadi setengahnya yaitu 32.1 Mbps. Dan pada
router 2, router 2 harus menerima data dari router 1 dan mentransmit ulang data
tersebut kepada PC 2, pada tahap ini maksimum bandwidth menjadi separuhnya lagi
yaitu 18.05 Mbps. Hal ini terjadi karena WDS bekerja channel yang sama.
Dilihat dari data yang telah diperoleh, hubungan jarak dengan RSSI dan RSSI
dengan troughput dapat dilihat pada grafik dibawah ini:

Hubungan Jarak dengan RSSI


80
60
40

RSSI (-dBm)

20
0
1 m (LOS)

5 m (NLOS) NLOS (beda lantai)


Jarak antar router
Column2

Grafik 6.3 Grafik hubungan jarak dengan RSSI

Hubungan RSSI dengan Troughput


0.4
0.3
troughput 0.2
0.1
0
-36

-50
RSSI (dBm)
Column2

-76

Grafik 6.4 Grafik hubungan RSSI dengan Troughput


VI.

KESIMPULAN
1. Semakin jauh jarak router maupun perangkat yang terhubung secara nirkabel
maka nilai redaman akan semakin besar (menjauhi nol) dan jaringan yang
terhubung dengan perangkat menjadi tidak stabil.
2. Nilai redaman berbanding terbalik dengan troughput, jadi semakin besar nilai
redaman maka nilai troughput akan semakin kecil.
3. Maksimum troughput pada jaringan WDS terbagi menjadi dua setelah transmisi
pertama, karena router harus re-transmit informasi selama komunikasi antara
kedua belah sisi berjalan.

VII.

DAFTAR PUSTAKA
Barken, Lee, dkk. 2004. Wireless Hacking : Project for Wi Fi Enthusiasts. USA:
OReilly.
Gast, Matthew S. 2005. 802.11 Wireless Networks: The Definitive Guide. USA:
OReilly.
Wilamowski, Bogdan M dan J. David irwin. 2011. The Indutrial Electronics
Handbook: Industrial Communications Systems. USA.
Wozniak, Jozef, dkk. 2009. Wireless and Mobile Networking.Poland: Springer.