Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN NEKROPSI KUCING

Rabu, 24 Februari 2016

Disusun oleh:
Kelompok A
PPDH Gelombang I Tahun 2015/2016

Dosen Penanggung Jawab:


Dr. Drh. Sri Estuningsih, MSi, APVet
Dosen Tentor:
Drh. Drh. Wiwin Winarsih, MSi, APVet

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016

No. Protokol

: P/06/16

Hari/Tanggal

: Rabu/24 Februari 2016

Dosen PJ

: Dr. Drh. Sri Estuningsih, MSi, APVet

Anamnesa

: Urin berwarna kuning pekat dan muntah cairan


bening

Signalement
Nama Hewan
Jenis Hewan
Bangsa
Jenis Kelamin
Umur
Warna Kulit
Tanggal Nekropsi

: Onyet
: Kucing
: Domestic short hair
: Betina steril
: 3 tahun
: Rose
: 24 Februari 2016
Hasil Pemeriksaan Nekropsi

Organ
Keadaan Umum Luar

Epikrise

Diagnosa PA

Kulit dan rambut

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Mukosa

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Mata

Keluar discharge darah

Hemoragi

Mulut

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Telinga

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Anus

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Vagina
Subkutis

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Warna

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Perlemakan

Banyak

Obesitas

Otot

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Kulit

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Kelenjar saliva
Rongga Abdomen

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Situs Viscerum

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Ada

Tidak ada kelainan

Rongga Thorax
Tekanan negatif

Situs viserum

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Hidung

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Laring

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Trakhea

Terdapat cairan berbusa

Edema pulmonum

Paru-paru

Warna tidak homogen

Kongesti hipostatik

Traktus Respiratorius

Hiperemi (pneumonia akut)


Lobus cranial dextra uji

Pneumonia alveolar

apung (+): tenggelam


Bronkhus
Traktus Digestivus

Terdapat cairan berbusa

Edema pulmonum

Rongga mulut

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Lidah

Ada perlukaan di bagian

Glossitis ulceratif

tengah permukaan atas


Esofagus

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Lambung

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Usus halus

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Usus besar

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Sekum

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Pankreas

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Hati

Warna tidak homogen

Degenerasi hati

(merah gelap dan jaundice)


Empedu
Traktus Sirkulatorius

Tidak ada kelainan

Jantung

Pericardium berwarna merah Hiperemia


Terdapat apex di ventikel kiri

Tidak ada kelainan

Double apex

dan kanan
Ventrikel kiri: lumen

Hipertofi konsentris

menyempit, dinding menebal,


m. papillaris menonjol
Ventrikel kanan: lumen

Dilatasi ventrikel

meluas, dinding menipis


Pembuluh darah

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Sistem Limforetikuler
Limpa

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Limfonodus

Ln. Submandibularis

Tidak ada kelainan

Ln. Retropharyngeal

Tidak ada kelainan

Ln. Axillaris

Tidak ada kelainan

Ln. Prescapularis

Tidak ada kelainan

Ln. Poplitea

Tidak ada kelainan

Ginjal

Medula berwarna gelap

Kongesti ginjal

Ureter

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

VU
Sistem syaraf pusat

Dinding hemoragi

Cystitis

Otak

Dilatasi pembuluh darah

Vasa injectio

Korda Spinalis

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Saraf Perifer
Sistem lokomosi

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Otot

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Tulang

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Sumsum tulang

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Persendian

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Traktus Urogenitalia

dan perifer

Causa mortis : Edema pulmonum


Atrial mortis : Paru-paru
PEMBAHASAN
Kucing yang dinekropsi adalah kucing betina steril berjenis Domestic Short
Hair dengan usia 3 tahun. Nekropsi diawali dengan pemeriksaan keadaan umum
pada luar tubuh yang menunjukkan kucing tidak mengalami kelainan. Tidak
ditemukan parasit pada kulit, rambut, telinga dan bagian tubuh lain kucing.
Mukosa kucing berwarna pink rose dan tidak terdapat perlukaan. Lubang kumlah
tidak mengalami kelainan. Tidak ditemukan feses pada daerah sekitar anus. Mata

kanan kucing terdapat darah pada bagian konjungtiva. Adanya darah


kemungkinkan disebabkan oleh trauma, sehingga mukosa mengalami perlukaan.
Subkutis kucing mempunyai permukaan yang halus tanpa perlukaan dan
berwarna putih dengan perlemakan yang cukup banyak. Perlemakan ini
menandakan bahwa hewan gemuk. Kucing yang dinekropsi telah dioperasi ovario
histerektomi (OH). Kucing yang telah di OH biasanya akan lebih mudah gemuk
karena tidak lagi memproduksi hormon reproduksi. Rongga tubuh seperti rongga
thorak dan abdomen pada kucing tidak berisi cairan yang menandakan tidak
adanya kelainan pada kedua rongga tersebut.
Pemeriksaan traktus respiratorius dilakukan pada hidung, laring, trakhea,
bronkus, dan paru-paru. Hasil pengamatan hidung dan laring menunjukkan tidak
ada kelainan. Terdapat busa pada trakhea yang mengindikasikan adanya edema
pulmonum (Zachary dan McGavin 2007). Normalnya paru-paru berwarna pink
homogen. Hasil pemeriksaan warna paru-paru tampak berwarna merah tidak
homogen. Paru-paru yang berwarna merah pada beberapa bagian tertentu dapat
mengindikasikan adanya kongesti hipostatik, hiperemi (pneumonia akut), dan
hemoragi sesuai dengan pendapat Zachary dan McGavin (2007). Permukaan paruparu tampak basah, rata dan tidak keriput meskipun telah lama di suhu ruang.
Pada bronkhus terdapat cairan berbusa yang mengindikasikan adanya edema
pulmonum.
Hasil uji apung pada paru-paru lobus cranial dextra tenggelam, sedangkan
pada lobus yang lain terapung. Lobus yang tenggelam diindikasikan mengalami
pneumonia alveolar. Diafragma tampak cekung ke arah rongga thorax. Hal ini
menandakan bahwa rongga thorax bertekanan negatif dan tidak ada kelainan.
Setelah diberikan udara melalui tusukan pada intercostae, diafragma menjadi
lebih datar akibat hilangnya tekanan negatif rongga thorax. Berdasarkan hasil
pemeriksaan patologi anatomi traktus respiratorius anjing diindikasikan menderita
edema pulmonum. Edema pulmonum terjadi karena perpindahan cairan dari
vaskuler ke dalam alveol akibat tingginya tekanan osmotik cairan vaskuler pada
gangguan jantung. Adanya edema pulmonum menyebabkan berkurangnya fungsi
alveol sebagai tempat bertukarnya oksigen dan karbondioksida (Zachary dan

McGavin 2012). Selain itu, edema pulmonum juga terjadi karena penyakit jantung
(Nendrastuti dan Soetomo 2010).
Pemeriksaan traktus digestivus terdiri dari pemeriksaan rongga mulut, lidah,
esofagus, lambung, usus halus, usus besar, sekum, pankreas, hati, dan empedu.
Lidah diinspeksi dengan teliti dan ditemukan ada perlukaan di bagian tengah
permukaan atas lidah. Pemeriksaan inspeksi dan palpasi pada organ esofagus,
lambung, pankreas, usus halus, usus besar, dan sekum dilakukan. Didapati tidak
ada kelainan pada organ tersebut. Namun pada bagian kolon masih ada feses. Hati
kucing ini dipalpasi dan diinspeksi. Warna hati tidak homogen yaitu ada beberapa
bagian yang berwarna merah kehitaman dan ada bagian yang berwarna
kekuningan. Hati kucing ini juga mengalami degenerasi pada lobus kiri.
Ulser pada lidah merupakan suatu lesi yang disebabkan oleh luka traumatik.
Terbentuknya luka dapat dipengaruhi faktor mekanis, kimia, elektris, maupun
termal. Trauma fisik lain dapat disebabkan oleh lidah yang tergigit. Ulser pada
lidah kucing merupakan simptom dari alergi, kanker, atau penyakit serius lain
seperti Feline Calicivirus (FCV) dan Feline Herpes Virus. Pada FCV, rute infeksi
biasanya berasal dari nasal, oral, dan konjungtiva. Setelah masuk ke dalam tubuh,
virus akan segera bereplikasi di jaringan target, yaitu konjungtiva, mukosa mulut,
mukosa hidung, dan paru-paru (Subronto 2006). Adanya ulser di mulut (palatum),
gusi, dan lidah merupakan satu di antara gejala klinis dari FCV.
Pada patologi anatomi (PA), hati ditemukan kelainan berupa degenerasi hati,
warna tidak homogen, dan kekuningan. Warna kekuningan pada hati dapat
dikarenakan adanya degenerasi lemak yang berkaitan dengan fungsi hati. Fungsi
hati dalam metabolisme lipid adalah memecah asam lemak, mensintesis
triglisarida terutama dari karbohidrat dan mensintesis lipid lain dari asam lemak
(Guyton dan Hall 2007). Degenerasi lemak merupakan perubahan morfologi dan
penurunan fungsi organ hati yang disebabkan oleh akumulasi lemak dalam
hepatosit. Degenerasi lemak pada hati menunjukkan bahwa di dalam tubuh
terdapat ketidakseimbangan proses metabolisme sehingga mempengaruhi kadar
lemak sel. Akumulasi lemak ke dalam sel hati biasanya terjadi bila terlalu banyak
asupan asam lemak bebas ke dalam sel hati dan adanya peningkatan mobilisasi
lemak dari jaringan adiposa. Degenerasi lemak dapat disebabkan oleh defisiensi

nutrisi sehingga dapat menjadi pemicu lemak tidak mampu untuk diekspor keluar
hepatosit (Jones et al. 2006).
Sistem sirkulasi terdiri dari jantung dan pembuluh darah. Jantung mamalia
terdiri dari empat ruang yaitu atrium kanan, ventrikel kanan, atrium kiri dan
ventrikel kiri. Setelah di nekropsi pericardium terlihat berwarna merah, setelah
pericardium disayat, jantung terlihat membesar, terlihat double apex. Ventrikel
kanan mengalami perluasan lumen ventrikel dan penipisan dinding ventrikel hal
tersebut menandakan terjadinya dilatasi ventrikel kanan. Dilatasi pada ventrikel
kanan disebabkan karena gangguan pengisian ventrikel karena gangguan aliran
masuk ke dalam ventrikel atau pada aliran balik vena akan output ventrikel
berkurang dan curah jantung menurun (McGavin 2012).
Ventrikel kiri mengalami penebalan dinding ventrikel dan penyempitan
lumen ventrikel yang menandakan adanya hipertrofi ventrikel kiri, Hipertrofi yang
terjadi adalah hipertrofi konsentris. Hipertrofi terjadi karena peningkatan ukuran
sel jantung yang menyebabkan peningkatan masa otot jantung. Hipertrofi dapat
merupakan efek sekunder akibat kompensasi untuk meningkatkan cardiac output,
biasanya bersifat reversible. Hipertrofi juga dapat terjadi secara primer akibat
idiopathic hyperthrofi cardiomyopathy dan bersifat irreversible. Hipertrofi terdiri
dari dua jenis yaitu hipertrofi eksentris dan hipertrofi konsentris. Hipertrofi
eksentris ditandai dengan penebalan dinding ventrikel jantung dan perluasan
lumen ventrikel. Hipertrofi konsentris ditandai dengan adanya penebalan dinding
ventrikel dan penyempitan lumen ventrikel. Hipertrofi konsentris dapat terjadi
karena peningkatan tekanan seperti adanya stenosis, hipertensi dan penyakit paru
seperti edema pulmonum (McGavin 2012). Kelainan jantung ini diduga yang
menyebabkan terjadinya edema pulmonum.
Sistem limforetikuler yang ditemukan pada kucing setelah nekropsi adalah
sepasang ln. submandibularis, ln.retropharingealis, ln. axillaris, ln. prescapularis, dan ln. poplitea. Bagian kiri ln. submandibularis tidak ada kelainan,
namun bagian kanan ukurannya lebih besar, berwarna hitam, dan bengkak.
Sedangkan untuk ln. axillaris, ln. retropharingealis, ln. pre-scapularis, dan ln.
popliteal tidak ada kelainan. Pada keadaan normal warna limfoglandula seperti
otot disekitarnya dan ukurannya sama seperti limfoglandula pasangannya.

Limfoglandula berbentuk kecil lonjong terdapat di sepanjang pembuluh


limfe, dan dijumpai di tempat-tempat terbentuknya limfosit (Sanjaya et.al 2009).
Limfoglandula merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh yang membantu
dalam memerangi infeksi penyakit (Indrajati 2013). Pembengkakan limfoglandula
terjadi karena adanya respon infeksi dari dalam tubuh (Ayudhitya dan Tjuatja
2013). Diantaranya infeksi bakteri seperti radang tenggorokan, adanya perlukaan
di mulut, infeksi pada gigi, infeksi pada telinga, dan infeksi pada kulit (Indrajati
2013). Dalam kasus ini, kelaianan pada limfoglandula disebabkan karena adanya
infeksi pada lidah sampai menjadikannya ulser.
Pada pemeriksaan traktus urogenital kucing terlihat medula ginjal lebih
gelap. Hal ini dapat disebabkan karena adanya kongesti. Kongesti merupakan
peningkatan jumlah darah di vena dari sistem pembuluh darah karena adanya
halangan aliran darah dari salah satu organ atau pada salah satu regio (Vegad
2007). Fungsi utama dari ginjal adalah sebagai organ eliminasi penting bagi
tubuh. Beberapa zat kimia yang beredar dalam sirkulasi sistemik akan dibawa ke
ginjal dalam kadar yang cukup tinggi. Sebagai akibatnya akan terjadi proses
perubahan struktur dari ginjal terutama di tubulus ginjal, karena pada tubulus
ginjal terjadi proses reabsorpsi dan eksresi dari zat-zat toksik tersebut. Glomerulus
dan tubulus adalah bagian dari ginjal yang mudah mengalami kelainan sehingga
akan berdampak secara morfologis dan fungsional jika terjadi kerusakan.
Kerusakan dapat berupa nekrosis, proliferasi sel, infiltrasi sel radang, lolosnya
protein, dan makromolekul lain dalam jumlah yang besar, serta dapat terjadi
atrofi, fibrosis, edema, vakuolisasi (Adinata et al. 2012).
Saat insisi bagian vesika urinaria didapatkan hemoragi atau pendarahan
pada mukosa vesika urinaria. Hal ini, diduga bahawa kucing tersebut mengalami
peradangan pada mukosa vesika urinaria. Dibuktikan dengan adanya hemoragi
seperti titik titik yang hampir memenuhi permukaan mukosa vesika urinaria.
Menurut Confer AW et al. 1995 peradangan dari vesika urinaria atau cystitis
biasanya diderita oleh hewan domestik. Penyebab dari peradangan pada ureter dan
atau urethra merupakan adanya peradangan pada vesika urinaria. Peradangan pada
vesika urinaria atau cystitis hadir akibat adanya bahan-bahan kimia. Aktivasi dari
metabolisme cyclophosphamide, sebuah obat yang digunakan untuk pengoabatan

tumor dan penyakit sistem imun dari anjing dan kucing, merupakan penyebab
pendarahan pada vesika urinaria. Cystitits hadir ketika kehadiran bakteria yang
berlebih dari normal yang masuk ke dalam mukosa vesika urinaria.
Pada otak ditemukan dilatasi pembuluh darah otak atau vasa injectio. Vasa
injectio pada organ otak terjadi oleh adanya dilatasi pembuluh darah otak. Dilatasi
yang terjadi di pembuluh darah otak dapat disebabkan oleh emboli ataupun
thrombus yang menutupi pembuluh darah sehingga menyebabkan penyumbatan.
Penyumbatan pada pembuluh darah otak akan menyebabkan tertahannya aliran
darah, sehingga menyebabkan dilatasi pembuluh darah akibatnya otak tidak
mendapatkan suplai darah yang cukup.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil nekropsi diketahui bahwa kematian pada kucing
disebabkan karena edema pulmonum dengan atrial mortis pada paru-paru.

DAFTAR PUSTAKA
Adinata MO, Sudira WI, Berata KI. 2012. Efek ekstrak daun ashitaba (angelica
keiskei) terhadap gambaran histopatologi ginjal mencit (mus musculus)
jantan. Buletin Veteriner Udayana. 4(2):55-62.
Ayudhitya D, Tjuatja I. 2013. Healthy is Easy. Jakarta (ID): Penerbit Plus.
Confer WA, Panciera RJ. 1995. The urinary system dalam Carton WW, McGavin
MD 1995. Special Veterinary Pathology (2): 243
Guyton AC, Hall JE. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta (ID):
EGC.
Indrajati V. 2013. Herbal Ahli Atasi Penyakit. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
Jones, Thomas C, Ronald DH, Norval WK. 2006. Veterinary Pathology. Edisi ke6. USA: Blackwell Publishing.
McCloskey, Bulechek GM. 2007. Nursing intervention classification (NIC).
Second edition. Missouri: Mosby-yearbook Inc.
McGavin MD dan Zachary JF. 2012. Pathology Basis of Veterinary Disease. Ed
ke-5. USA: Mosby Elsevier.

Nendrastuti H, Soetomo M. 2010. Edema Paru Akut Kardiogenik dan Non


Kardiogenik. Majalah Kedokteran Respirasi. 1(3): 10.
Sanjaya AWK, Yusnani, Wibawan IWT. 2009. Manfaat homeopathy bagi
pertahanan tubuh sapi. J.Veteriner. 10(2): 97-103.
Soeharsono. 2007. Penyakit Zoonotik pada Anjing dan Kucing. Jakarta (ID):
Kanisius.
Subronto. 2006. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing.
Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Pr.
Zachary JF dan McGavin MD. 2007. Pathologic Basis of Veterinary Disease. Ed
ke-4. St. Louis : Elsevier
Zachary JF dan McGavin MD. 2012. Pathologic Basis of Veterinary Disease. Ed
ke-5. St. Louis : Elsevier.