Anda di halaman 1dari 9

No.

Protokol

: P/07/16

Hari/Tanggal

: Kamis, 25 Februari 2016

Dosen PJ

: Dr Drh Sri Estuningsih, MSi, APVet

Anamnesa

: tidak ada keterangan

Signalement
Nama Hewan

: Bilbo

Jenis Hewan

: Kucing

Bangsa

: Domestic short hair

Jenis Kelamin

: Jantan steril

Umur

: 2.5 tahun

Warna Kulit

: Putih hitam

Tanggal Nekropsi

: 25 Februari 2016

Hasil Pemeriksaan Nekropsi

Organ

Epikrise

Diagnosa PA

Keadaan Umum Luar


Kulit dan rambut

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Mukosa

Pucat

Anemia

Mata

Lensa mata kanan keruh

Katarak

Mulut

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Telinga

Kotor

Tidak ada kelainan

Anus

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Hidung

Hemorhagi

Epistaksis

Persendian

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Apek

Hemorhagi

Perlemakan

Banyak

Obesitas

Otot

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Kulit

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Kelenjar saliva

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Subkutis

Rongga Abdomen
Situs Viscerum

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Diafragma

Berwarna merah kehitaman

Hiperemi diafragma

Lain-lain

Ada cairan berwarna

Hemoperitoneum

merah
Rongga Thorax
Tekanan negatif

Ada

Tidak ada kelainan

Situs viserum

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Lain-lain

Ada cairan berwarna

Hemothorax

merah
Traktus Respiratorius
Hidung
Laring

Hemorhagi

Epistaksis

Trakhea

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Paru-paru

Terdapat darah dan cairan

Bronkhus

berbusa

Edema pulmonum

Warna merah kehitaman

Kongesti pulmonum

Permukaan tetap halus


sesudah lama dibuka

Pneumoni interstitialis

Terdapat cairan berbusa

Edema pulmonum

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Rongga mulut

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Lidah

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Esofagus

Hiperemia

Lambung

Hiperemia

Usus halus

Mukosa hiperemia, ada cairan

Pluera
Traktus Digestivus

hijau mengental
Usus besar

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Sekum

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Pankreas

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Hati

Warna menghitam, bagian

Empedu

medial pucat

Degenerasi hati

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Traktus Sirkulatorius
Pericardium

Ada eksudat darah

Jantung

Warna jantung menghitam,

Hemoperikardium

M.trabekula cordis dan


m.papillaris ventrikel kanan
menipis

Dilatasi ventrikel kanan

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Ln. Submandibularis

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Ln. Retropharyngeal

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Ln. Axillaris

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Ln. Prescapularis

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Ln. Poplitea

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Ginjal

Medula kongesti

Kongesti ginjal

Ureter

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Vesika urinaria

Berisi darah

Hematuria

Penis

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Otak

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Korda Spinalis

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Saraf Perifer

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Otot

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Tulang

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Sumsum tulang

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Persendian

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Pembuluh darah
Sistem Limforetikuler
Limpa
Limfonodus

Traktus Urogenitalia

Sistem syaraf pusat dan


perifer

Sistem lokomosi

Causa mortis : Pneumonia interstitialis


Atrial mortis : Paru-paru

PEMBAHASAN

Keadaan Umum Luar Kucing


Kucing yang dinekropsi merupakan kucing domestik berusia lebih dari 1
tahun, berwarna rambut hitam-putih. Pemeriksaan keadaan umum luar pada
kucing menunjukkan adanya kelainan, yaitu mukosa pucat yang mengindikasikan
kucing mengalami anemia. Lensa mata tampak keruh yang mengiindikasikan
kucing mengalami katarak. Katarak dapat terjadi akibat hidrasi lensa, denaturasi
protein lensa, atu akibat keduanya (Ilyas 2009). Adapun penyebab utama katarak
antara lain usia, trauma, toksin, penyakit sistemik, merokok, dan herediter
(Vaughan dan Asbury 2007). Dari lubang hidung kucing keluar darah (epistaksis).
Infeksi organ pernafasan dapat menjadi penyebab dari epistaksis (Munir 2006).
Pemeriksaan limfoglandula ditemukan ketidak simetrisan pada Ln.
poplitea. Ln. poplitea kanan lebih besar dari kiri. Hal tersebut terjadi diduga
karena adanya respon infeksi dari dalam tubuh (Ayudhitya dan Tjuatja 2013).
Diafragma mengalami hiperemi, rongga abdomen mengalami perdarahan,
begitupun rongga thorax terdapat hemothorax. Hemothorax adalah akumulasi
darah dalam rongga thorax. Sumber darah dari dinding dada, paru-paru, jantung,
atau pembuluh darah, dan kompikasi dari beberapa penyakit lain.

Traktus Respiratori Kucing


Pengamatan traktus respiratori, dimulai dari sinus hidung, laring, trakhea,
bronkhus, bronkeolus, pleura dan paru-paru. Sinus hidung kucing mengeluarkan
discharge berwarna merah yang disebut dengan epistaksis. Epistaksis adalah
perdarahan yang keluar dari lubang hidung, rongga hidung dan nasofaring
(Abelson 1998). Epistaksis dapat terjadi setelah trauma ringan misalnya
mengeluarkan ingus dengan kuat, bersin, mengorek hidung atau akibat trauma
yang hebat seperti kecelakaan lalulintas. Infeksi hidung dan sinus paranasal
seperti rinitis, sinusitis serta granuloma spesifik seperti lupus, sifilis dan lepra
dapat juga menimbulkan epistaksis (Nuty dan Endang 1998).
Saluran pernapasan adalah saluran yang hanya berisi udara dan tidak boleh
berisi cairan. Penemuan cairan berbusa pada trakhea dan bronkhus merupakan

salah satu kelainan pada saluran pernafasan. Kelainan seperti ini disebut oedema
pulmonum. Oedema pulmonum terjadi ketika alveoli dipenuhi dengan kelebihan
cairan yang merembes keluar dari pembuluh-pembuluh darah dalam paru sebagai
gantinya udara. Paru-paru kucing saat diinspeksi berwana kehitaman yang
menandakan adanya kongesti pada paru. Permukaan paru pada keadaan normal
akan berubah menjadi keriput setelah dibuka dalam waktu lama. Pada kasus ini,
permukaan paru kucing tetap halus meskipun telah lama di keluarkan dari tubuh.
Hal ini menandakan adanya pneumonia pada paru. Pneumonia adalah peradangan
akut pada parenkim paru, bronkiolus respiratorius dan alveoli, menimbulkan
konsolidasi jaringan paru sehingga dapat mengganggu pertukaran oksigen dan
karbon dioksida di paru-paru (Dahlan 2000).
Selanjutnya dilakukan uji apung pada beberapa bagian paru-paru dari
setiap lobus paru. Semua bagian yang dilakukan uji apung tidak tenggelam. Pada
keadaan normal, paru akan terapung karena alveolar hanya berisi udara. Namun
saat terjadi pneumonia, paru yang terapung menunjukan adanya pneumonia
interstitialis.

Sistem Digestivus Kucing


Setelah dibuka rongga abdomennya terdapat penimbunan darah di sekitar
organ-organ viscera. Akumulasi darah di rongga abdomen dapat disebabkan oleh
adanya hemo ascites atau imbibisi hemoglobin Hemo ascites merupakan
akumulasi darah di rongga abdomen yang disebabkan oleh sirosis hati, gagal
jantung, dan gangguan pada ginjal, yang menyebabkan sirkulasi darah terganggu
(Wedro 2014). Sedangkan imbibisi hemoglobin terjadi akibat merembesnya darah
dari vascular masing-masing organ yang mengalami kerusakan fungsi, sehingga
darah tersebut akan menggenangi rongga abdomen (Wakley 1838).
Pada pemeriksaan traktus digestive ini tidak ditemukan kelainan patologi
anatomi pada mulut, lidah, dan laryng, seedangkan pada esophagus dan lambung
ditemukan perdarahan berupa hiperemi. Lesio hiperemi pada esofagus bisa karena
asam lambung masuk ke lumen esofagus akibat gerakan anti peristaltik pada saat
terjadi muntah Pendarahan berupa hemoragi terjadi pada sebagan kecil usus halus
(duodenum) sebaga tanda enteritis hemorhagica ringan. Lesio berupa enteritis

hemorhagika dapat ditemukan pada kasus panleukopenia dan FIP. Enteritis pada
kasus panleukopenia disertai dengan dilatasi usus yang berisi akumulasi cairan.
Selain itu, panleukopenia menyebabkan kerusakan pada sumsum tulang sehingga
tulang menjadi mudah dipatahkan(McGavin dan Zachary 2007).
Kantung empedu tidak mengalami kelainanan cairan empedu berwarna
hijau tanpa pengentalan. Hati kucing terlihat menghitam dan sebagian besar
medial lobulus hati terdapat bagian warna sedikit tidak homogen sebagai bentuk
adanya degenerasi sel hati, sedangkan pancreas, sekum dan kolon tidak ada
kelainan. Pernah dilaporkan pada kucing yang mengalami hepatocutaneus atau
sindroma hepatokutaneus lebih dari 2/3 bagian lobus hati megalami degenerasi sel
parenkima hati (sel

hepatosit) yang disebabkan

oleh hiperglukanomas

dikombinasikan dengan ketidakseimbangan nutrisi (Dermatlogy of Animals


2015). Feses yang dibentuk oleh kolon konsitensinya padat.

Sistem Sirkulasi Kucing


Pemeriksaan pada sistem sirkulasi meliputi pemeriksaan perikardium dan
jantung. Keduanya diinspeksi, palpasi dan diinsisi. Terdapat eksudat darah pada
perikardium. Hemoperikardium mungkin disebabkan oleh lubang jantung, atrial
pecah di kedua endocardiosis dan ulseratif atria1 endokarditis dari uremik anjing,
pecahnya arteri koroner atau aorta intrapericardial, dan atrial hemangiosarcoma.
Di pengisian secara mendadak kantong pericardial dengan hasil darah tamponade
jantung dan membutuhkan pericardiocentesis darurat. Bentuk jantung tidak ada
kelainan tetapi warnanya menghitam. Pada ventrikel kanan ditemukan adanya
penipisan m. trabekula cordis dan m. papillaris yang menandakan adanya dilatasi
ventrikel kanan. Menurut Carlton & McGavin (1995), meluasnya lumen
merupakan tanda dari terjadinya dilatasi jantung. Dilatasi ventrikel kanan dapat
terjadi ketika darah yang dialirkan menuju paru-paru mengalami gangguan
sehingga darah yang terpompa tidak maksimal dan otot jantung akan meregang
sebagai reaksi kompensasi. Menurut Van Vlett dan Ferrans (1995), dilatasi
jantung merupakan suatu respon kompensasi peregangan dari otot jantung dengan
cara meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung sehingga memacu peningkatan
daya pompa jantung.

Sistem Urogenitalia Kucing


Sistem urogenital terdiri dari sistem urinary dan genital. Sistem urinary
terdiri dari ginjal, ureter, vesika urinaria, dan urethra. Sistem genital kucing jantan
terdiri dari testis, scrotum, tunica vaginalis, spermatic cord, epididymis, vas
deverens, ampulla, seminal vesicle, penis, dan preputium. Kucing yang dinekropsi
merupakan kucing jantan yang telah mengalami kastrasi. Pada nekropsi yang
pertama kali dilihat adalah situs viscerum. Situs viscerum organ-organ pada
sistem urogenital kucing ini tidak mengalami kelainan. Kedua ginjal pada kucing
ini tidak simetris, ginjal kiri lebih besar dai ginjal kanan, memiliki permukaan
yang licin, dan tidak mengalami kelainan bentuk. Kapsula ginjal tidak mengalami
perlekatan sehingga mudah dikelupas dari permukaan ginjal. Permukaan ginjal
setelah diinsisi Nampak tidak ada perbedaan yang jelas antara bagian korteks dan
medulla, warna ginjal tampak lebih merah yang menandakan adanya kongesti
pada ginjal. Kongesti ginjal adalah peningkatan pengisian darah pada vena ginjal
yang ditandai dengan warna ginjal terlihat dark purple, yang merupakan
akumulasi darah yang tidak teroksigenasi. Kongesti pada ginjal dapat terjadi
akibat fisiologis, pasif kongestif, efek shock hipovolemik, efek kelemahan jantung
dan hipostatik. Vesika urinaria pada kucing berisi darah (hematuria) dan mukosa
terlihat hiperemi yang menandakan terjadinya peradangan pada vesika urinaria
atau cystitis akut. Cystitis dapat terjadi akibat bakteri menyerang mekanisme
pertahanan dan melekat pada permukaan mukosa vesika urinaria. Bakteri dapat
masuk sampai ke dalam lamina propia yang akan menyebabkan kerusakan
vascular dan inflamasi. Cystitis akut biasanya ditandai dengan hemoragi,
fibrinopurulent nekrotik atupun ulseratif nekrotik. Secara klinis cystitis ditandai
dengan dysuria, stranguria dan hematuria (McGavin 2012).

Sistem Lokomosi dan Syaraf


Pada bagian lokomosi dan persyarafan tidak mengalami kelainan. Hal ini
terlihat dari keutuhan kaki depan, kaki belakang, dan tidak adanya kelainan pada
persendian serta syaraf. Bagian lain yang diamati adalah kepala. Pada bagian ini
yang akan diamati otak, dimana dilakukan pengeluaran otak secara hati-hati dari
tulang tengkorak. Otak yang telah dikeluarkan dilakukan inspeksi dan palpasi.

Normalnya, pada otak terdapat bagian gyrus dan sulcus dan diselaputi oleh
meningen, namun pada otak kucing yang dinekropsi konsistensinya lembek. Hal
ini disebabkan otak mengalami autolisis, dimana otak merupakan salah satu organ
yang mudah mengalami autolisis. Autolisis dapat terjadi pada organ yang
mengandung banyak suplai darah.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil nekropsi diketahui bahwa kematian pada kucing
disebabkan karena pneumonia interstitial.

DAFTAR PUSTAKA
Abelson TI. 1998. Epistaksis dalam: Scaefer, SD. Rhinology and Sinus Disease
AproblemOriented Aproach. St. Louis, Mosby Inc: 43 9.
Ayudhitya D, Tjuatja I. 2013. Healthy is Easy. Jakarta (ID): Penerbit Plus.
Carlton WW, McGavin MD. 1995. Thomsons Special Veterinary Pathology
Second Edition. Missouri (USA): Mosby.
Dahlan Zul. 2000. Ilmu Penyakit Dalam. Edisi II, Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Dermatology of Animals. 2015. Hepatocutaneous Syndrome. [internet] tersedia
pada: http://www.dermatlogyforanimals.co./fag-25/. Diakses pada 2016
Februari 25.
Ilyas S. 2009. Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta (ID): Balai
Penerbit FKUI.
McGavin MD dan Zachary JF. 2012. Pathology Basis of Veterinary Disease. Ed
ke-5. USA: Mosby Elsevier.
McGavin MD, Zachary JF. 2007. Pathologic Basis Veterinary Disease Fourth
Edition. Missouri (US): Mosby.
Munir D, Haryono Y, Rambe AYM. 2006. Epistaksis. Majalah Kedokteran
Nusantara. Vol 39 (3): 275-278.

Nuty WN, Endang M. 1998. Perdarahan hidung dan gangguan penghidu,


Epistaksis. Dalam: Buku ajar ilmu penyakit telinga hidung tenggorok. Edisi
3. Jakarta, Balai Penerbit FK UI: 127 31.
Van Vleet JF, Ferrans V. 1995. The Cardiovascular System. 2nd Edition. St.
Louis (US): Mosby.
Vaughan dan Asbury. 2007. General Ophthalmology 17th edition.
Wakley T. 1838. The Lancet. London (GB): George Churcill.
Wedro B. 2014. Asites. [internet]. Diunduh pada 2016 Februari 2016. Tersedia
pada http://www.emedicinehealth.com/ascites/page2_em.htm#ascites_causes.

Anda mungkin juga menyukai